
"Aku tidak akan menyerahkan kikoin itu!" sentak Shena, kekeh tidak ingin menyerah barang yang akan Arga kirimkan ke Amerika. Tentu, Arga akan mengalami kerugian besar bila tidak mendapatkan barang itu.
"Akh...sakit," Shena merintih kesakitan kala lehernya dicekik oleh Arga. Pria itu mendorong wanita itu hingga tubuhnya membentur tembok sangat keras.
Hendrik meringis melihatnya. Tapi bila tidak melakukan kekerasan seperti ini Shena akan semakin menjadi-jadi.
"Sakit, lepaskan tanganmu di leherku..."
"Tidak, sebelum kau menyerahkan barang milikku. Aku bisa saja membunuhmu saat ini juga."
Arga sengaja menekan kuku-kukunya hingga menancap dileher Shena. Tatapan yang menusuk dengan senyuman yang menyeringai menghiasi wajah pria berparas tampan tersebut. Kikoin itu sangat penting untuknya, Ia tidak ingin rugi sedikitpun.
"I-iya, akan aku ke kembalikan..." ucap Shena yang hampir kehabisan napas dan suara yang hampir tidak terdengar lagi.
Arga langsung melepaskan cekikannya pada Shena yang langsung jatuh ke lantai dengan tubuh yang lemas. Wanita itu memegangi lehernya yang terdapat memar kemerahan yang ditinggalkan oleh pria kejam itu. Setelah mendapatkan apa yang Ia mau, Arga langsung beranjak dari hadapan Shena yang mengepalkan kedua tangannya. Arga adalah pria yang tidak tahu cara berterima kasih atas kebaikan yang ayahnya berikan. Seharusnya pria itu membalas kebaikan ayahnya dengan menikah dirinya.
"Awas saja kau."
Shena bangkit dari lantai dengan perasaan yang membara oleh kemarahan. Wanita itu juga meringis merasakan punggungnya yang di dorong sangat kuat oleh pria itu ke tembok.
•
•
"Sial!" Alex mengumpat kesal ketika sambungan telponnya tidak di angkat oleh Caesa tapi malah dimatikan.
Yang membuatnya semakin kesal, Ia tidak bisa melacak keberadaan Caesa melalui ponsel meski Ia bisa menghubungi wanita itu. Seolah seseorang sengaja menciptakan sebuah jaringan yang mempersulit aksesnya untuk melacak keberadaan Caesa melalui digital.
__ADS_1
"Kau kenapa?" tanya Merlin yang saat ini duduk di samping sang putra.
Saat ini mereka berdua sedang di dalam mobil dan sekarang dalam perjalanan pulang ke mansion.
"Tidak apa-apa," jawab Alex, Ia tidak ingin sang mommy ikut campur dalam urusannya kali ini.
"Sebaiknya kau lepaskan saja Caesa. Untuk apa mencari-cari dan mempertahankan wanita itu meski dia tidak salah dalam hal ini," celetuk Merlin tanpa menatap Alex, pandangan matanya lurus ke depan.
Walaupun Alex tidak mengatakan sejujurnya, Ia sudah tahu putranya akan tetap mencari-cari wanita dari panti asuhan itu. Sejak awal Ia tidak pernah setuju Caesa menjadi menantunya, bukan hanya beda kasta tapi juga asal-usul wanita itu tidak jelas. Dan dengan kejadian ini membuat kepalanya pusing dan merasa apa yang putranya alami begitu pelik dan rumit.
"Aku tidak akan melepaskan, Caesa. Dia milikku, Mom. Mungkin Mommy mudah memintaku melepaskannya, tapi bagiku sangat menyakitkan bila melepaskan dia!"
Merlin memutar bola matanya malas.
"Mommy dengar perusahaan mu ada sedikit masalah?" Merlin mengubah topik pembicaraan. Kali ini pembahasan yang tidak membuat mereka harus bersitegang lagi.
Alex begitu tak berminat dengan obrolannya sekarang dengan Merlin. Hati dan pikirannya lebih condong memikirkan tentang Caesa. Satu hari tak berjumpa membuat Ia sangat merindukan wanita bernetra coklat itu.
Sedangkan wanita yang memenuhi pikiran Alex saat ini, tengah melangkahkan kakinya menyusuri setiap sudut ruangan di mansion tersebut. Ia sangat bosan bila harus berkurung dalam kamar. Manik indah itu terfokus pada satu ruangan berbentuk seperti terowongan, sedikit ragu Caesa melangkahkan kakinya ke dalam terowongan itu dengan cahaya yang remang-remang.
Wanita itu meraba-raba tembok di sampingnya agar menuntunnya sampai ke ujung terowongan itu. Senyuman terbit di bibir Caesa ketika melihat cahaya terang dari ujung terowongan. Ia semakin mempercepat langkah kakinya. Kedua kakinya hampir sampai ke sana tapi suara geraman yang sangat mengerikan terdengar jelas di kedua telinganya. Suara itu sangat jelas terdengar dari ujung terowongan itu.
"Suara apa itu?"
Mendadak bulu kuduk Caesa merinding. Ia berbalik badan hendak kembali ke kamar saja, tempat ini sangat menakutkan. Baru saja berbalik badan Ia sudah menubruk sesuatu yang cukup keras dan hampir terjungkal ke belakang bila pinggangnya tidak ditahan oleh seseorang.
"Sedang apa kau di sini?" Suara yang sangat familiar membuat Caesa mendongak dan mendapati Arga berdiri di hadapannya.
__ADS_1
Wanita itu langsung memeluk tubuh besar nan hangat itu. Menghirup dalam aroma tubuh suaminya.
"Aku hanya penasaran dengan tempat ini," jawab Caesar setelah mengalihkan pandangan mata dari suaminya.
"Lain kali jangan ke tempat ini. Aku takut kau jatuh terpeleset di sini," peringat Arga. Mengingat lantai di terowongan ini cukup licin.
Caesa mengangguk. Arga menuntun sang istri keluar dari terowongan yang tidak terlalu panjang ini. Tangan kanannya masih setia merengkuh pinggang Caesa hingga mereka berdua kembali masuk ke dalam kamar.
"Kau ingin sesuatu?" tawar Arga ketika mereka berdua sudah masuk ke dalam kamar.
Caesa menggeleng."Aku hanya ingin kau jujur. Aku masih belum paham dan mengerti kenapa kau membawaku ke sini. Bukannya aku merendahkanmu, tapi kau hanya sopir tapi kenapa bisa memiliki ini semua? Bahkan mansion ini lebih besar dibanding milik Alex," ucap Caesa.
Wanita itu menatap lekat netra hitam pekat Arga, berharap kali ini pria itu menjawab semua pertanyaan yang benar-benar membuat Ia penasaran. Arga menundukkan kepalanya sejenak.
"Sebenarnya, menjadi sopir Alex hanya sebuah menyamarkan ku saja," Arga menatap Caesa yang menunggu kelanjutan ucapan suaminya.
"Aku melakukan ini semua karna satu alasan yang tidak bisa aku katakan padamu. Tapi yang terpenting apakah kau bahagia menikah dengan ku? Jika tidak aku akan mengembalikanmu dengan Alex."
Raut wajah Caesa langsung berubah seketika mendengar ucapan terakhir suaminya tersebut.
_________
Hei girl! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen
Jangan lupa mampir ke akun tik tok @khazana_va Di sana aku banyak mengupdate visual Arga dan Caesa.
__ADS_1
See you di part selanjutnya:)