
Dengan hati-hati Caesa memutar tuas pintu. Mata coklat berairnya langsung mengarah pada sosok suaminya yang kini duduk membelakanginya. Ia masuk ke dalam kembali menutup pintu pelan-pelan.
"Arga..." Caesa menyentuh pundak Arga yang tampak terkejut mendapati sang istri sudah berdiri di sampingnya.
"Kenapa kau ada di sini? Ini sudah malam, istirahatlah," titah Arga yang langsung di balas gelengan wanita tersebut.
Caesa ikut mendudukkan dirinya di sampingnya suaminya. Tanpa ragu Ia meletakkan kepalanya di bahu Arga.
"Apa kau marah dengan ku? Apa ucapan ku tadi menyakiti perasaan mu, Ar?" ucap Caesa. Ia merasa Arga tersinggung dengan ucapannya di mobil tadi tentang perasaannya pada Alex. Tapi Ia juga tidak mungkin berbohong.
Arga tidak menjawab tapi memalingkan wajahnya ke arah lain. Menulikan pendengarannya. Caesa menghela napas berat. Saat ini Arga tidak ingin membahas perihal itu. Kepalanya sedikit pening dengan masalah yang saat ini Ia hadapi.
"Lima tahun aku menjalani pernikahan dengan Alex. Kami berdua saling mencintai, dia selalu memberikan apapun yang aku inginkan. Walaupun mommy Merlin tidak merestui pernikahan kami berdua karna perbedaan status, statusku hanya wanita biasa dari panti asuhan. Tapi sekarang Alex bersikap egois dan memaksaku menikah dengan mu. Untuk menggapai keinginannya dan menutupi kekurangannya demi reputasi dan harga diri. Tanpa tahu harga diri istrinya menjadi taruhan. Apa kau kira aku senang dengan keputusan ini? Tidak," tutur Caesa panjang lebar seolah menarik atensi dan perhatian Arga padanya.
Caesa meremas kedua tangannya, seolah melampiaskan rasa perih yang merambat dalam dadanya. Arga menatap lekat wanita tersebut, mendengarkan setiap kata yang terlontar dari bibir tipis itu. Setiap kata yang terlontar memberikan rasa perih bagi Caesa.
"Sekarang kau ke sini hanya ingin membicarakan itu?"
Caesa menggeleng.
__ADS_1
"Aku tidak bisa tidur. A-ku ingin tidur dengan mu." Caesa tampak ragu-ragu mengucapkan itu. Pipi wanita itu langsung bersemu.
"Ya sudah, ayo kita ke kamar." Arga membereskan laptop dan beberapa kertas yang tergeletak di atas meja. Kening Caesa mengernyit bingung.
"Kau sedang mengerjakan apa?"
Arga mengulas senyum tipis.
"Hanya beberapa dokumen dan surat perjanjian yang harus aku tandatangani. Besok aku harus kembali bekerja."
"Memangnya kau bekerja apa?" Caesa masih penasaran dan terus melontarkan pertanyaannya. Wanita ikut bangkit dari sofa ketika Arga sudah melangkah kakinya keluar dari ruangan tersebut.
"Menurutmu aku cocoknya bekerja sebagai apa?" Arga balik bertanya dan menyelipkan candaan di dalamnya.
Raut wajah Arga langsung mendatar, namun sedetik kemudian Ia tersenyum dan mengusap pucuk kepala Caesa.
Saat sudah sampai Caesa langsung membaringkan badannya di kasur. Matanya tak lepas menatap Arga yang meletakkan laptopnya di atas meja dan kini berjalan ke arahnya.
"Sekarang tidurlah, jika kau membutuhkan apapun langsung bangunkan aku," ucap Arga yang kini membaringkan dirinya di samping Caesa.
__ADS_1
Wanita itu langsung menyusupkan dirinya dalam pelukan hangat Arga. Memeluk erat tubuh besar yang menguarkan aroma memabukkan dan namun membuat candu.
Sedangkan di dalam hutan yang gelap Alex berdiri menatap mansion yang berdiri kokoh di sana. Senyuman terukir di bibir pucatnya. Akhirnya Ia menemukan di mana Caesa berada sekarang.
"Ternyata dia bukan orang biasa," gumam Alex setelahnya menyesap rokok untuk mengurangi nyamuk mengigit tubuhnya.
Alex sudah menyiapkan sebuah paviliun di luar kota, di mana saat Ia sudah mendapatkan Caesa Ia akan membawa wanita itu ke sana. Pria itu masih berdiri di tempat yang tidak jauh dari mansion tersebut, mencari-cari bagian mana yang bisa Ia lewati tanpa ketahuan oleh para penjaga. Mengingat mereka membawa senjata api.
•
•
Matahari belum menampakkan dirinya, namun Arga tampak mondar-mandir menyiapkan perlengkapan pakaian formalnya. Sesekali pria itu melirik ke arah Caesa yang masih nyenyak tidurnya dalam balutan selimut tebal.
Baru saja membuka pintu Arga sudah di sambut oleh Hendrik yang sudah rapi.
"Sepertinya kita harus semakin hati-hati lagi. Polisi semakin gencar melacak keberadaan kita," ucap Hendrik yang menyamakan langkah kakinya dengan Arga yang kini memasuki lift.
"Untuk apa kita takut. Sudah lima tahun kita melakukan pekerjaan ini dan tidak pernah tertangkap. Lagipula mereka tidak pernah melihat wajahku," balas Arga yang begitu santai menanggapinya.
__ADS_1
Hendrik berdecak."Oke, mungkin kau bisa lepas dari para polisi, tapi tidak dengan musuh-musuhmu. Mereka memiliki banyak cara untuk menghancurkan dan membunuhmu. Sekarang kau memiliki Caesa!"
Arga langsung terdiam bungkam. Ucapan terakhir Hendrik membuat Ia berpikir dua kali.