Hanya Sebatas Suami Sewaan

Hanya Sebatas Suami Sewaan
Hasrat terpendam


__ADS_3

Alex tampak uring-uringan, pria itu baru saja sampai di kota Medan dan sekarang hanya duduk termenung di sofa. Setelah sampai di bandara Ia langsung menuju ke penginapan dan besok akan turun langsung melihat proyek pembangunan.


"Apa Tuan membutuhkan sesuatu?" tanya Rico yang merupakan asisten Alex. Pria berpakaian formal itu masih setia berdiri di samping atasannya tersebut.


"Tidak, kau pergi saja. Aku ingin istirahat sekarang dan tak ingin diganggu," balas Alex lesu.


"Baiklah kalau begitu. Bila anda membutuhkan saya, langsung hubungani saya."


Alex hanya mengangguk samar sambil memijit pangkal hidungnya. Kepalanya begitu pusing memikirkan Caesa apalagi meninggalkan wanita itu bersama Arga. Lain lagi orang tuanya, Merlin, selalu menelponnya dan membahas tentang Laura yang akan segera pulang ke Indonesia.


"Arggh..."


Alex menggeram frustasi dengan permasalahannya saat ini. Ia tidak pernah menyesal setiap mengambil keputusan apapun dalam hidupnya, tapi sekarang Ia menyesal atas keputusannya meminta Arga menikahi mantan istrinya dan menanamkan benih dalam rahim Caesa.


Seperti pria lainnya, Ia juga takut Caesa mencintai Arga. Karna tidak menutup kemungkinan rasa itu bisa saja tumbuh. Walaupun sopirnya itu sangat jauh bila dibandingkan dengan dirinya yang memiliki segalanya termasuk paras yang rupawan.


Beberapa menit sibuk dengan lamunannya, kini Alex menghela napas panjang. Tangan kanannya merogoh kantung celananya mengambil ponsel. Ia ingin menelpon Caesa, setidaknya hatinya sedikit tenang dan resah dalam benaknya sedikit berkurang bila mendengar suara wanita itu meski hanya lewat via telpon.


Pria itu terlihat berdecak dengan raut wajah kesal ketika sambungan telponnya tidak angkat-angkat oleh Caesa. Biasanya wanita itu selalu cepat mengangkat telpon darinya.


"Sedang apa dia?" gumam Alex menatap nanar pada layar ponselnya.


"Apa aku telpon Arga saja?"


Alex kembali menggulir layar ponselnya dan mencari nama kontak sopirnya tersebut. Tapi, pergerakan tangan pria itu terhenti. Kening Alex berkerut dalam seolah tengah berpikir keras.

__ADS_1


Sedangkan di lain tempat, Caesa mendorong Arga yang hendak membawanya ke ranjang. Tautan bibir mereka berdua terlepas dan meninggalkan sisa cairan saliva yang membasahi bibir keduanya.


"Cukup! Kau sudah di luar batas," ucap Caesa dengan deru napas yang memburu sama halnya dengan Arga yang berusaha meredamkan hasratnya yang membabi buta ingin dipuaskan.


Pertama kali mencicipi tubuh mantan istri majikannya itu membuat Ia menginginkannya lagi. Meski mereka berdua melakukannya tanpa pemanasan.


"Kita hanya menikah kontrak dan jaga batasanmu untuk kembali menyentuhku." Caesa menatap tajam pada Arga yang diam membisu tanpa ada niatan membalas ucapan sang istri.


Hening.


Mendadak ruangan dalam kamar tersebut mendadak senyap. Caesa meraih tas di meja dan melangkah mendekat pada Arga yang tak teralihkan menatap wajah cantik sang istri.


Pria itu sedikit terkejut ketika Caesa merebut ponsel di tangannya. Wanita itu melengos pergi dari hadapan Arga meninggalkan aroma wangi bunga sakura.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" suara keras Caesa dengan wajah galaknya membuat dua pelayan yang tengah berdiri di depan pintu terlihat kaget.


"Dasar!" desis Caesa. Ia tentu tahu apa yang dua pelayan itu lakukan yaitu menguping pembicaraannya dengan Arga.




Di bawah lampu disko diiringi musik yang memekakkan telinga, semua orang berjoget-joget. Aroma alkohol langsung menyapa indra penciuman Caesa ketika masuk ke dalam club. Wanita itu menghindari beberapa orang yang sepertinya mabuk dan hampir menabrak dirinya.


"Caesa...!" Suara teriakan seorang wanita menembus kebisingan musik disko."Sini....!!"

__ADS_1


Ayra melambai-lambaikan tangannya pada Caesa yang segera menghampiri sahabatnya itu.


"Kau lama sekali datangnya. Aku sampai ingin di ajak tidur dengan om-om," ucap Ayra cekikikan dan tentunya ucapan wanita itu hanya gurauan saja.


Caesa yang baru mendudukkan dirinya di kursi depan pantry itu hanya memutar bola matanya malas.


"Kau ingin pesan minum apa? Wine?" tawar Ayra yang langsung dibalas gelengan oleh Caesa.


"Tidak, aku tidak ingin kesadaran ku hilang hanya karna minum itu."


Mengingat di tempat ini banyak pria hidung belang yang bisa saja memanfaatkan wanita yang tengah mabuk di bawa ke ranjang. Membayangkannya saja membuat Caesa bergidik.


"Satu cangkir kecil saja tidak membuat kau mabuk." Ayra tampak membujuk."Ayolah minum."


Wanita itu menyodorkan minuman wine tersebut pada Caesa yang menyipitkan matanya. Ada rasa curiga dalam benaknya pada Ayra. Bayangkan saja, wanita itu mengajaknya bertemu di club dan sekarang menawarkannya minuman yang sangat Ia hindari.


Tidak jauh dari tempat Caesa duduk sekarang, dua pria tengah memantau wanita itu. Tatapan mesum dengan gejolak hasrat yang menggebu-gebu.


____________


Hei girl! Terima kasih sudah mampir


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen.


Jangan lupa mampir ke akun tik tok @khazana_va Di sana aku banyak mengupdate visual Arga dan Caesa.

__ADS_1


See you di part selanjutnya:))


__ADS_2