
"Caesa..." Arga mengguncang pelan tubuh sang istri yang tak merespon sama sekali. Wanita itu hanya menggeliat kecil dalam dekapan suaminya. Ia begitu nyenyak dalam tidurnya meski saat ini keadaan masih di dalam hutan.
"Pasti dia kelelahan," gumam Arga seraya mengusap punggung Caesa dengan sayang. Senyuman terpatri di wajahnya menatap wajah polosnya istri. Tangannya yang terdapat sisa-sisa bercak darah mengusap pipi Caesa.
Sorot cahaya lampu yang menyilaukan membuat Arga menyipitkan matanya. Cahaya itu mengarah padanya dan terdengar sayup-sayup langkah kaki orang-orang yang menginjak daun dan ranting kering. Badan Arga menegang, Ia semakin erat memeluk tubuh istrinya dan mengeluarkan pistol dari celananya. Bisa saja itu anak buah Martin yang masih mencari keberadaannya.
"Akhirnya kalian ketemu juga," ucap Hendrik yang tiba-tiba muncul dari kegelapan dan ada anak buah Arga yang membawa senter dan beberapa senjata api.
Arga bernapas lega ketika yang datang adalah Hendrik dan anak buahnya.
"Kenapa kalian datang lama sekali?" Arga menatap mereka bersungut-sungut.
"Kenapa kami yang salah? Yang salah itu kau tiba-tiba pergi begitu saja dari mansion. Seharusnya kau tidak sendirian ke tempat itu beruntung masih hidup," sahut Hendrik dengan kesal.
Arga hanya berdecih merespon ucapan Hendrik. Dan Ia memang salah karna tidak memberitahu Hendrik lebih dulu, tapi apa boleh buat Ia sudah sangat mengkhawatirkan keadaan Caesa saat itu.
"Kalian lewat mana?" tanya Arga dan menghentikan perdebatannya dengan Hendrik yang tak akan berkesudahan bila terus di tanggapi.
"Kami lewat gerbang markas si Martin. Mereka sudah habis ku bom dan di pastikan semuanya sudah mati. Paling-paling besok sudah masuk berita," jawab Hendrik disertai tawa ringan. Arga memutar bola matanya malas.
"Hey, sebaiknya Caesa mereka saja yang menggendongnya. Lihatlah, bahumu terluka."
Sedangkan Arga langsung memberikan pelototan tajam pada tangan kanannya yang langsung menciut.
"Lebih baik aku yang menggendong Caesa meski bahu ku terluka, karna itu lebih baik. Cepatlah menikah agar kau tahu bagaimana rasanya ketika wanita yang kau cintai di sentuh pria lain!"
Sementara Hendrik merasa tersindir dan mencibir balik ucapan Arga dengan suara pelan. Pria itu selalu menggunakan kelemahannya yaitu status lajang.
__ADS_1
Salah satu anak buah memberikan kain tebal untuk menutupi tubuh telanjang Arga bagian atas. Dengan sekuat tenaga Arga mengangkat badan istrinya yang lumayan berat, mendadak bahunya yang terluka terasa semakin ngilu dan nyeri. Sedangkan Hendrik meringis melihatnya.
Kini, semuanya melangkah keluar dari hutan tersebut. Beruntung Arga dan Caesa tidak terlalu masuk ke dalam hutan yang bisa saja membuat mereka tersesat di sana. Mata Arga menatap mayat-mayat berkelimpahan di tanah dan ada beberapa anggota tubuh yang terpisah dari tubuhnya. Ia menatap gedung tua yang menjadi tempat Ia membunuh Martin.
Arga dengan hati-hati memasukkan Caesa ke dalam mobil setelahnya di susul olehnya masuk ke dalam. Mobil yang di tumpangi Arga dan di sopiri oleh Hendrik mulai meninggalkan tempat itu diikuti dua mobil anak buahnya dari belakang.
"Lebih perketat lagi penjagaan di mansion. Letakkan CCTV pada bagian titik dan suruh anak buah kita menjaga di luar gerbang," ucap Arga membuka suara yang sebelumnya hening.
Hendrik yang fokus menyetir mobil melirik sekilas pada Arga melalui kaca spion dalam.
"Baik, besok semua yang kau minta akan selesai," balasnya.
"Bagus." Arga mengangguk samar.
•
•
Arga menahan rasa perih dan sakit ketika Hendrik sedikit menumpahkan cairan pada bagian lukanya yang cukup dalam. Setelah menumpahkan cairan itu, Hendrik mendiamkan beberapa saat setelah itu memberikan serbuk pada bagian luka Arga akan cepat mengering dan tentu rasanya sangat perih.
Sedangkan Caesa mendorong pelan pintu kamar suaminya. Ia sudah membersihkan badannya dan lukanya sudah di obati oleh pelayan dan sekarang ingin melihat keadaan pria itu.
"Arga..." Suara parau Caesa membuat Arga dan Hendrik kompak menatap sosok wanita yang kini berdiri di ambang pintu.
Senyuman langsung melengkung di bibir Arga melihat Caesa. Tangannya bergerak meminta sang istri untuk mendekat. Tanpa ragu wanita itu berlari kecil ke arah suaminya dan melebur dalam pelukan. Sepertinya memeluk Arga akan menjadi hobi wanita yang tengah mengandung itu. Arga mencium gemas pipi Caesa yang merona. Entah sejak kapan hubungan mereka menjadi sedekat ini.
Sementara Hendrik merasa terpojokkan melihat kemesraan keduanya. Rasa iri membumbung tinggi dalam benak pria bermata sipit itu.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa semuanya baik-baik saja termasuk anak kita?" tanya Arga seraya mengusap perut Caesa yang mendadak hatinya menghangat mendapatkan sentuhan dari Arga di perutnya.
"Iya, semuanya baik-baik saja."
Arga mengusap-ngusap bibir tipis Caesa dengan gerakkan sensual, jakun pria itu turun naik menatap bibir ranum itu, mendadak gairahnya langsung tersulut. Dengan perlahan Ia mengecup bibir istrinya yang langsung membulatkan matanya dan menjauhkan dirinya dari pria itu. Sedangkan Hendrik menutup matanya melihat pemandangan di depannya.
"Sebaiknya aku keluar saja, tidak baik untuk mataku," gumam Hendrik yang segera membereskan peralatan P3K nya dan beranjak dari sana.
Mendadak suasana menjadi canggung bagi Caesa setelah Hendrik meninggalkan mereka berdua di kamar yang di dominasi warna hitam dan abu-abu.
"Aku boleh bertanya?" ucap Caesa menahan dada telanjang Arga ketika hendak meraup bibirnya.
"Bertanya apa?"
Wanita itu meneguk ludahnya kasar. Ia sedikit ragu tapi bila Ia pendam maka akan membuat Ia sulit tidur malam ini. Dan ini akan menjadi jawaban rasa penasarannya tentang pekerjaan suaminya yang sebenarnya.
"Apa benar kau bandar narkoba?"
Raut wajah Arga mendadak mendatar.
________
Hei girl! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen.
See you di part selanjutnya:)
__ADS_1