Hanya Sebatas Suami Sewaan

Hanya Sebatas Suami Sewaan
Penyusup


__ADS_3

Tak terasa usia kandungan Caesa sudah memasuki bulan ke-8. Segala perhatian penuh wanita itu dapatkan dari ayah sang bayi. Arga selalu menguruskan dengan baik tanpa melibatkan pelayan untuk mengabulkan apapun yang Ia inginkan. Bahkan sekarang Arga sedikit demi sedikit meninggalkan bisnis haramnya itu. Walaupun keputusan pria itu memilih mundur dalam bisnis tersebut menimbulkan masalah besar yang harus Ia tanggung, contohnya mengalami kerugian yang cukup besar dan beberapa pengusaha yang terjun dalam bisnis yang sama langsung memutuskan kartelnya dengan Arga.


Sekarang Arga harus lebih ekstra mengembangkan perusahaannya yang sekarang meskipun pendapatannya tidak sebesar saat Ia berbisnis narkotika dulu. Dan Ia juga melakukan ini demi anaknya nanti yang di perkiraan berjenis kelamin laki-laki. Ia tak ingin putranya mengikuti langkahnya salah. Mungkin ini karna kekuatan cinta yang membuat Ia berani mengambil keputusan besar ini.


Arga menghela napas panjang ketika sudah selesai dengan lembaran kertas yang ada di meja kerjanya. Ia mengusap kasar wajahnya yang tampak kelelahan. Beberapa hari ini Ia lebih banyak menghabiskan waktu di ruang kerja pribadinya. Apalagi satu minggu lagi Ia akan membuka perusahaan cabang di Bali dan mengharuskan Ia terbang ke pulau dewata dan terpaksa meninggalkan Caesa.


"Mas..." Suara Caesa menarik perhatian Arga yang mengukir senyum di balik wajah lelahnya.


"Kenapa belum tidur? Ini sudah sangat malam," ucap Arga seraya merentangkan kedua tangannya menyambut sang istri.


Caesa langsung memeluk suaminya hingga perut besarnya menekan perut Arga.


"Aku tidak bisa tidur. Di luar hujan deras, aku takut," balas Caesa dengan nada manjanya.


Arga mencium bibir ranum Caesa sekilas lalu membawa wanita itu agar duduk di pangkuannya."Tunggu sebentar ya, sedikit lagi selesai," ucap Arga seraya mengusap punggung Caesa lembut.


Pria itu kembali membuka laptop, memeriksa e-mail yang di kirimkan oleh Hendrik. Caesa menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya sambil menatap layar laptop. Sesekali Ia menguap karna kantuk yang tak tertahankan.


"Mas, sudah selesai?" tanya Caesa menatap sayu Arga.


"Kalau sudah sangat mengantuk, kau ke kamar duluan, nanti aku menyusul," jawab Arga seraya tersenyum tipis, tangannya bergerak mengusap wajah sang istri lembut.


"Ya sudah, aku ke kamar duluan. Jangan lama-lama kerjanya."


Arga mengangguk. Ia membantu Caesa turun dari pangkuannya dan mengantarkan wanita itu sampai di pintu. Baru beberapa langkah Arga hendak kembali mendudukkan dirinya di kursi, suara keributan tiba-tiba terdengar dari luar. Suara teriakan pelayan.

__ADS_1


Arga bergegas keluar dari ruangannya dengan jantung yang berdegup tak karuan. pikirannya langsung terotasi pada sang istri, Caesa.


"Jangan berani mendekat, atau dia akan mati!" bentak seorang pria yang mengenakan masker hitam. Tangan kanannya semakin erat melingkar di leher Caesa dan tangan yang lain menodongkan pistol di kepala Caesa. Entah dari mana pria asing itu bisa masuk ke dalam mansion yang di jaga ketat oleh beberapa penjaga.


Badan wanita itu bergetar ketakutan. Ia baru saja keluar dari ruangan suaminya dan tiba-tiba seseorang dari samping langsung menariknya.


"Caesa...!!" Suara teriakan Arga membuat perhatian orang-orang di ruangan itu teralihkan. Termasuk Caesa dan pria yang menatap penuh dendam pada Arga.


"Jangan mendekat, atau dia akan aku tembak."


Arga yang hendak menyelamatkan sang istri langsung menghentikan langkahnya. Rahangnya mengeras dengan kedua tangan yang terkepal kuat. Melihat raut kesakitan dari wajah Caesa membuat hati Arga memanas.


"Jika kau memiliki dendam dengan ku jangan istriku menjadi sasaran mu!" sentak Arga penuh penekanan.


Kening Arga mengernyit, Ia sedikit familiar dengan suara pria itu.


"Akh..."


Caesa memekik ketika pistol semakin di tekan ke kepalanya hingga menimbulkan rasa sakit dan pria itu siap menarik pelatuknya.


"Siapa kau sebenarnya?!"


Arga menatap khawatir pada Caesa dan perlahan rasa takut mulai merayap dalam benaknya. Mata Arga menatap pelatuk yang siap di tarik.


"Apa kau benar-benar tidak mengenaliku Arga, apa kau melupakan orang yang sudah menolongmu?"

__ADS_1


"Alex..." gumam Arga kala pria itu membuka maskernya.


Semua orang yang ada di sana hanya diam, tidak bisa melakukan apapun. Ini semua demi keselamatan Caesa.


"Gara-gara kau, hidupku hancur. Dan gara-gara kau aku harus kehilangan Caesa. Tapi, sekarang aku yang memegang kendali. Jika aku tidak bisa mendapat Caesa, maka kau juga tidak bisa. Akan sangat menyakitkan jika wanita yang dicintai bahagia dengan pria lain," ucap Alex dengan suara yang bergetar dan tersirat kesakitan di dalamnya.


Caesa menangis terisak-isak dalam tawanan Alex. Ia tidak menyangka mantan suaminya akan kembali lagi untuk membalaskan dendamnya. Ia kira hidupnya sudah bahagia tapi nyatanya tidak.


"Aku mohon, lepaskan Caesa..." Kini, tidak ada cara lain yang bisa Arga lakukan kecuali memohon, setidaknya membuat Alex melepasnya istrinya.


"Mau kau berlutut sekalipun tidak akan kulepaskan dia. Lebih baik dia mati dan itu adil."


Arga menggelengkan kepalanya. Melihat raut wajah ketakutan pria itu membuat senyuman Alex semakin mengembang. Namun, ada kepedihan dalam benaknya.


Dor!


Suara tembakkan yang sangat keras terdengar dari ruangan itu bersamaan dengan meluruhnya badan Caesa ke lantai. Percikan darah memenuhi lantai dan aroma amis darah menyeruak. Wajah Arga mendadak langsung pucat, kedua kakinya melemas.


Air mata menetes dari pelupuk mata Alex. Ia langsung menjatuhkan pistolnya ke lantai.


"Caesa..." lirih Arga


__________


Maaf baru bisa update sekarang ya🙏

__ADS_1


__ADS_2