
Kevin hanya tertunduk mendengar deretan ucapan Alex yang penuh emosi dan amarah. Ucapan yang selalu merujuk pada status Arga yang merupakan orang biasa dan miskin. Sedangkan Alex hanya tahu sisi yang Arga perlihatkan bukan apa yang pria itu sembunyikan.
"Aku ingin kau lebih berusaha lagi mencari Caesa. Bila perlu kau sewa dektetif terkenal di kota ini untuk melacak keberadaan Caesa!" titah Alex tegas dengan sorot mata yang tajam.
Kevin mengangguk merespon perintah atasannya tersebut. Setelah tidak ada lagi yang ingin Alex bicarakan, Kevin pamit undur diri untuk kembali melanjutkan tugasnya.
Setelah kepergian asistennya tersebut, sorot mata Alex yang awalnya terdapat percikan amarah, kini mulai meredup dan tergantikan dengan raut kesedihan dari wajahnya. Ia menghela napas panjang.
"Andai aku tidak mementingkan ego dan harga diriku, ini tidak mungkin terjadi..." lirih Alex seraya mengusap kasar wajahnya.
Pria itu semakin menekan punggungnya bersandar pada brankar dengan mata yang terpejam. Pikirannya saat ini di penuhi oleh Caesa.
•
•
Caesa kembali masuk ke kamarnya setelah Arga mengantarkannya sampai depan pintu kamar. Suaminya meminta Ia tetap berada di dalam kamar sampai pria itu kembali pulang ke sini. Ia melangkah mendekat pada ranjang yang dibalut sprei sutra putih dan mendudukkan dirinya di sisi ranjang.
Bola mata indah wanita itu menelisik menatap setiap sudut ruangan yang terdapat beberapa perabotan guci kuno dan terpajang lukisan hewan dan tumbuhan. Netra coklat Caesa tak sengaja menatap tas kecil hitam miliknya yang tergeletak di atas meja samping ranjang.
"Tas ku," gumamnya seraya mengambil tas kecil itu. Ia mengambil ponsel miliknya dalam tas tersebut.
Caesa mengaktifkan kembali benda pipih tersebut yang memang sengaja Arga nonaktifkan. Notifikasi pesan beruntun masuk ke dalam ponsel milik Caesa. Ia dengan ragu-ragu membuka pesan yang Alex kirimkan.
Caesa, kau di mana Sayang?
Tolong kembalilah, aku sangat membutuhkanmu.
__ADS_1
Maafkan aku. Aku menyesal memintamu menikah dengan Arga.
Beritahu aku di mana sekarang kau berada? Aku akan menjemputmu.
Arga bukan pria yang baik. Dia tidak mencintaimu. Hanya aku yang mencintaimu, sayang.
Caesa mengigit bibir bawahnya kelu membaca beberapa pesan yang mantan suaminya kirimkan. Ada rasa perih merambat dalam benaknya. Kenapa baru sekarang Alex sadar dan menyesali keputusannya? Sekarang percuma pria itu meminta maaf sebanyak apapun, Ia sudah terikat dengan Arga. Dan sekarang mengandung anak dari suami keduanya.
Darrt...
Caesa terperanjat kaget dan langsung menjatuhkan ponsel miliknya ke lantai ketika sebuah sambungan telpon masuk. Wanita itu meraih kembali ponselnya yang tergeletak di lantai, matanya menatap layar ponsel yang menampilkan nama Alex.
Caesa langsung mematikan ponselnya dan melemparkannya ke ranjang. Rasa kecewa dan marah pada Alex membuat Ia benci pria itu. Semenjak Alex memintanya menikah dan memaksa berhubungan intim dengan Arga, itu sudah membuat percikan kebencian tersebut perlahan muncul.
Sementara di sebuah apartemen mewah yang terletak di pusat kota, Arga melangkah lebar menuju ke salah satu unit apartemen yang menjadi tujuannya. Dengan mengenakan rompi tuxedo hitam dan kemeja putih membuat pria itu terlihat gagah dan tampan. Dan anting bulat berwarna hitam yang terpasang di telinga kanannya.
Arga membuka kasar pintu unit salah satu apartemen hingga menciptakan suara bantingan yang sangat keras. Sorot tajam pria itu langsung mengarah pada seorang wanita cantik nan sexy dengan lingerie transparannya yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang begitu menggiurkan.
Shena, wanita itu tersenyum sensual menatap Arga. Perkiraannya sangat tepat sekali bila pria itu akan datang. Kaki jenjang Shena melangkah mendekat pada Arga dengan ekpresi wajah menggodanya. Menggigit bibir bawahnya sensual dan menatap mendamba pada pria di hadapannya sekarang.
"Akhirnya kau datang, aku sudah lama menunggumu, Andreas," ucap Shena dengan suara yang mendayu-dayu.
"Kembalikan kikoin milikku!"
Kedua tangan Shena langsung terhenti ketika hendak menyentuh dada kokoh Arga.
"Aku tidak akan mengembalikannya, kecuali kau menikahiku. Mudah, kan?"
__ADS_1
Arga mendorong kasar tubuh mungil Shena hingga jatuh ke atas sofa. Wanita itu tersenyum lebar, Ia sangat menyukai pria kasar seperti Arga apalagi bila di atas ranjang pasti akan sangat nikmat. Pria itu mendekat pada Shena yang semakin mengembangkan senyumannya seolah berpikir pria itu akan menyentuhnya.
"Lebih baik aku kehilangan kikoinku dibanding menikahi wanita liar sepertimu!" sarkas Arga menatap jijik pada Shena.
Wanita itu mendengus marah mendengarnya dan bangkit dari sofa.
"Kau harus ingat, kau tidak mungkin ada di posisi ini bila ayahku tidak membantumu. Sangat mudah bagi ayahku menghancurkanmu!" sentak Shena penuh ancaman.
Wanita itu tersenyum smirk melihat ke terdiaman Arga.
"Terserah kau saja. Lebih baik aku mati di tangan ayahmu dibanding harus menikahimu. Tidak semua yang kau inginkan harus kau dapatkan dan aku yakin ayahmu lebih membela ku," balasnya.
Shena mengepalkan kedua tangannya dengan geraham yang bergemelutuk menahan amarah. Sedangkan Hendrik yang entah sejak kapan berdiri di ambang pintu geleng-geleng kepala mendengar ucapan Shena.
Wanita itu memang keras kepala dan nekat. Shena sendiri merupakan anak dari pria yang juga terjun di bisnis yang sama seperti Arga. Dan kakel mereka saling bekerja sama.
"Sudahlah Nona Shena, carilah pria yang lain. Andreas tidak tertarik denganmu. Atau kau ingin menjalin hubungan dengan ku?" gurau Hendrik seraya mengedipkan matanya pada Shena yang langsung memberikan kilatan tajam.
_________
Hei girl! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen
Jangan lupa mampir ke akun tik tok @khazana_va Di sana aku banyak mengupdate visual Arga dan Caesa.
See you di part selanjutnya:)
__ADS_1