Hanya Sebatas Suami Sewaan

Hanya Sebatas Suami Sewaan
Pembantaian


__ADS_3

Di sebuah ruangan dengan pencahayaan yang remang-remang dan lembab terdapat seorang wanita tergeletak di lantai yang kotor dan penuh debu dengan keadaan tubuh yang terikat. Aroma amis darah dan bau busuk begitu tercium dalam ruangan itu.


Byur!


Siraman air mengguyur seluruh badan Caesa yang perlahan membuka matanya dan tersentak kaget ketika air yang terasa dingin itu membalut seluruh badannya yang kini basah. Mata coklatnya langsung menatap pada beberapa pria yang kini berdiri di hadapannya.


"Apa kau yakin ini wanitanya?" ucap salah satu pria paruh baya yang merupakan pimpinan dari gerombolan yang menculik Caesa.


"Saya yakin Tuan. Sudah beberapa kali saya melihat Andreas bersama wanita ini. Dan saya yakin dia akan datang untuk menyelamatkan wanita ini," balas salah satu pria yang mengenakan masker hitam.


"Ka-kalian siapa?" Caesa menatap ketakutan pada gerombolan pria yang terlihat menyeramkan baginya.


"Kau tidak perlu tahu siapa kami. Yang jelas Andreas harus membayar semuanya. Dia sudah membunuh putriku!" jawab Martin menatap tajam Caesa dengan siratan amarah yang menguak.


Caesa menggeleng."Arga bukan pembunuh. Kalian pasti salah orang."


Semua orang yang ada di sana langsung tertawa mendengar ucapan Caesa. Bagaimana tidak, Andreas dengan tingkat kriminal yang sudah banyak pria itu lakukan. Bahkan sudah tak terhitung pria itu membunuh korbannya.


"Tidak usah pura-pura tidak tahu apalagi menutupi keburukan pria itu. Aku yakin kau tahu semuanya tentang Andreas termasuk kejahatan yang dia lakukan. Entah sudah berapa gadis yang sudah dia tidurin lalu langsung di bunuh dengan keji termasuk putriku!"


Caesa menggelengkan kepalanya, membantah segala tuduhan yang Martin layangkan pada suaminya.

__ADS_1


"Itu tidak benar. Kalian semua bohong!" sentak Caesa. Entah kenapa Ia benar-benar tidak bisa terima dengan segala tuduhan yang Ia dengar tentang Arga.


"Cepat kau hubungi bandar narkoba itu. Katakan wanitanya ada di sini, dan katakan padanya untuk tidak membawa anak buah karna dengan begitu kita akan mudah membunuhnya." Martin tertawa di akhir kalimatnya dan tak sabar membantai dan membunuh Andreas. Jika bisa Ia ingin merebut kekuasaan pria itu.


Sementara Caesa kembali terkejut dan terperangah dengan apa yang kembali Ia dengar. Arga bandar narkoba? Sebuah fakta yang membuat wanita itu shock.


"Bagaimana, apa kau sudah menghubunginya?"


"Sudah Tuan, sebentar lagi dia akan datang ke sini."


Senyuman miring tersungging di bibir pria paruh baya itu. Ia menatap ke arah Caesa yang tampak melamun dan guratan-guratan di wajahnya seolah tengah berpikir keras.


Lagi, Caesa kembali tersentak kaget ketika Martin menyiramkan bensin ke seluruh badannya. Pria itu menyiramkan dua teng kecil pada seluruh badan Caesa. Tentu, saat Andreas datang Ia ingin menyambut dengan terbakarnya wanita ini.


Dor!


Suara tembakkan melesat dan mengenai bahu Martin yang langsung menjatuhkan teng yang Ia pegang sekarang, tetesan darah segar merembes dari bahu pria itu. Seluruh anak buah Martin langsung menodongkan senjata pada Arga yang kini berdiri tegap dengan pakaian sama persis yang dikenakan anak buah Martin.


"Arga..." Air mata Caesa langsung tumpah kala sosok suaminya muncul.


"Serahkan senjatamu itu, atau dia akan aku bakar!" kecam Martin dengan suara yang keras dan tatapan yang penuh dendam.

__ADS_1


Pria baruh baya itu mengeluarkan pemantik api dan mengarahkan pada Caesa. Sekali gerakkan wanita ini akan terbakar. Darah menetes dan membasahi pakaian yang membalut tubuh Martin. Rasa sakit yang Ia rasakan tak sebanding dengan rasa sakit atas kematian putrinya.


Arga melangkah mendekat pada Martin dengan todongan sengaja yang mengarah padanya. Raut wajah tenang dan santai yang Arga tampilkan membuat Martin semakin meradang, seharusnya pria itu memohon-mohon padanya.


"Serahkan senjatamu itu!" perintah Martin.


"Kau pria pengecut, menjadikan wanita sebagai pancingan," desis Arga.


Senyuman miring tersungging di bibir Martin."Tapi pancingan ku berhasil bukan?"


"Cepat serahkan senjata mu. Jangan sampai wanita ini menjadi abu."


Arga melirik Caesa yang menangis ketakutan dan badan yang sudah berlumuran bensin. Ia melempar senjatanya ke atas dan membuat perhatian Martin lengah, dengan cepat Arga menendang tulang kering Martin yang langsung jatuh tersungkur. Ia langsung mendekat ke arah Caesa, saat ini pikirannya hanya tertuju pada keselamatan wanita itu. Arga berusaha melepaskan ikatan pada bagian tangan Caesa.


Anak buah Martin sudah hendak menarik pelatuknya ke arah Arga, namun langsung di tahan oleh Martin. Pria itu mengeluarkan sebuah belati dan langsung menancapkan di bahu Arga.


"Akh...arrgg...." Arga menggeram kesakitan ketika benda itu menembus masuk ke dalam tubuhnya.


"Mati kau!!" Martin semakin kuat menekan benda itu.


"Singkirkan tangan mu itu Caesa," peringat Arga ketika istrinya menahan belati semakin masuk ke dalam tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2