
Bayi mungil yang beberapa jam lalu baru saja terlahir ke dunia itu tampak nyenyak dalam tidurnya dengan balutan selimut dan selang kecil sebagai bantu pernapasannya, mengingat bayi tersebut terlahir caesar. Arga berdiri di depan ruangan tempat putranya di rawat sekarang. Mata hitam pekatnya terus memandangi wajah tampan putranya dari balik kaca bening sebagai sekat. Saat ini bayi itu tengah berada di ruangan NICU dan di letakkan dalam sebuah inkubator.
Tidak ada kata yang keluar dari bibir pucat Arga yang tampak frustasi dengan keadaan Caesa sekarang. Mendengar wanita itu kritis dan mengalami koma sudah membuat rongga dadanya tercekik dalam kepedihan.
"Arga..." Hendrik menepuk bahu Arga yang terlihat tak merespon ucapan asistennya.
"Makanlah sedikit saja. Jangan sampai kau sakit, siapa yang akan menjaga istri dan anakmu nanti," ucap Hendrik membujuk Arga.
Sudah dari pagi sampai sore Arga hanya diam dalam lamunan berdiri di depan ruang rawat Caesa dan terkadang berdiri ke ruangan NICU, melihat keadaan putranya.
"Bagaimana aku bisa menelan makanan jika istriku belum sadar," balas Arga menoleh ke arah Hendrik.
"Kalau kau tidak makan, darimana kau bisa dapat tenaga untuk menjaga mereka berdua. Ayo makan lah walau beberapa suap, dan jangan terlalu khawatir, Caesa baik-baik saja. Apalagi dokter mengatakan Caesa tidak akan terlalu lama mengalami koma."
Hendrik menyodorkan bubur ayam yang Ia beli di kantin rumah sakit. Arga menghela napas berat seraya menerima makanan yang asistennya berikan. Hendrik tersenyum melihat Arga mulai memakan bubur yang Ia berikan. Pria itu mendudukkan dirinya di samping Arga yang dengan malas-malasan mengunyah potongan ayam dalam bubur itu.
__ADS_1
"Apa kau sudah mengurus bajingan itu?" Arga melontarkan pertanyaannya di sela-sela mengunyah makanan.
"Kau tenang saja, Alex sudah dibuang ke tempat yang cukup jauh. Sebenarnya jasadnya ingin kuberikan pada singa peliharaanmu itu. Tapi jika dipikirkan lagi, itu bisa saja membuat keluarganya berpikir Alex di culik. Mungkin saat jasadnya saat di temukan nanti sudah tidak utuh lagi," tutur Hendrik seraya menyandarkan punggungnya ke tembok.
Arga terdiam. Ia kira Alex masih bernyawa dan ternyata tidak. Bagaimana reaksi Caesa ketika tahu Alex sudah tidak ada di dunia ini? Bukan apa-apa Ia hanya takut masih ada rasa tersisa di hati istrinya pada Alex, hingga ada rasa tak terima ketika tahu pria itu sudah meninggal.
"Hey! Kenapa kau diam?" Hendrik menepuk bahu Arga yang tersentak kaget.
"Tidak apa-apa."
•
•
Mendadak hawa panas menyelimuti mata Arga. Dengan langkah yang berat Ia mendekat pada Caesa.
__ADS_1
"Sayang..."
Arga mengusap lembut kepala Caesa lalu memberikan kecupan basah di kening wanita itu. Ia mengenggam tangan Caesa yang terasa dingin dalam genggamannya.
"Cepat sadar sayang. Anak kita sangat membutuhkanmu." Arga tertunduk dalam setelah mengucapkan hal yang memancing air matanya hendak meluruh. Entah mengapa Ia jadi cengeng dan mudah menangis seperti ini tapi yang pasti Ia tak ingin melihat Caesa terus seperti ini.
"Kau tahu, putra kita sangat tampan sekali. Mata dan hidungnya sangat mirip denganmu. Setiap aku melihat wajahnya selalu teringat denganmu."
"Dan kau juga harus tahu, Alex sudah lenyap dari dunia ini. Aku berharap tidak ada lagi yang mengusik kehidupan kita. Aku sangat membenci pria itu dan dia memang pantas mati," ucap Arga. Ia yakin Caesa mendengar semua perkataannya dalam alam bawah sadar.
Pergerakkan jari Caesa membuat perhatian Arga langsung teralihkan. Senyuman lebar terpampang di wajah pria itu. Ia berharap istrinya cepat terbangun dari koma yang dokter perkirakan hanya berlangsung singkat. Kedua mata indah dengan bulu lentik itu perlahan terbuka, pandangan matanya masih tampak buram belum bisa melihat jelas pemandangan sekitar.
"Mas..." Suara panggilan yang serak membuat senyuman Arga semakin melebar berbalut kebahagiaan.
"Akhirnya kau sadar, Sayang..." Arga langsung memeluk wanita itu yang masih terlihat lemah.
__ADS_1