Hanya Sebatas Suami Sewaan

Hanya Sebatas Suami Sewaan
Lari dari kejaran


__ADS_3

"Mati kau!!" Martin semakin kuat menekan benda itu.


"Singkirkan tangan mu itu Caesa," peringat Arga ketika istrinya menahan belati semakin masuk ke dalam tubuhnya.


Arga mengeluarkan pisau kecil dalam celananya, seringai muncul di wajah tampannya. Ia mendorong tubuh Caesa hingga wanita itu jatuh terjengkang ke belakang dan dengan cepat mengarahkan pisau kecil itu ke mata Martin.


Cipratan darah segar langsung mengenai wajah Arga. Sementara Martin memekik kesakitan dengan mata kanannya yang sudah tertancap pisau begitu dalam. Sebelum anak buah Martin menodongkan sengaja padanya, Arga meraih pistol miliknya di lantai dan mengarahkan pada kepala Martin. Senyuman kemenangan terpatri di wajah tampan yang penuh bercak darah.


"Letakkan sengaja kalian atau dia akan mati?" kecam Arga semakin menekan pistolnya pada kepala Martin yang menjerit kesakitan.


"Apa yang ingin kau lakukan?" Caesa menatap ngeri pada kondisi Martin sekarang. Rasakan Ia ingin muntah melihat darah mengalir dari mata paruh baya itu dan bau amis yang menyeruak.


"Sebaiknya kau keluar dari sini Caesa. Tunggu aku di gerbang," titah Arga tanpa mengalihkan tatapannya mata dari anak buah Martin yang menatap dirinya penuh emosi membara.


Wanita itu menggeleng."Aku tidak mau, aku ingin tetap di sini. Kita keluar bersama-sama."


Arga memejamkan matanya sejenak, Ia menggeram kesal dengan Caesa yang tak menuruti perintahnya.


"Keluar Caesa!" bentak Arga dengan suara yang melengking dan tatapan tajam yang menghunus. Wanita itu tersentak mendapat tatapan mengerikan dari suaminya.


Caesa melangkah menjauh dari Arga dan berlari keluar dari bangunan tua itu sekuat tenaga dan mengabaikan rasa nyeri di perutnya. Air mata berderai membasahi wajah Caesa ketika sudah sampai di gerbang. Tidak ada tanda-tanda suaminya akan keluar.


"Arga..." Isak tangis Caesa semakin menjadi-jadi. Ia menatap sekitar yang gelap gulita. Tempat ini sangat mengerikan, Ia takut.


Dor!!


Suara tembakkan dua kali terdengar dari gedung tua itu dan tak lama sosok Arga muncul dan berlari ke arah Caesa. Di belakang pria itu sudah banyak anak buah Martin yang mengejar.

__ADS_1


"Arga!" Caesa berhambur dalam pelukan suaminya hingga aroma bensin yang menyengat merasuk ke indra penciuman pria itu.


"Ayo..."


Arga melepaskan pelukan istrinya dan menarik pergelangan tangan Caesa untuk berlari menghindari kejaran anak buah Martin. Mereka berdua masuk ke dalam hutan yang di selimuti kegelapan malam, mengabaikan rasa takut tentang binatang buas yang terpenting mereka berdua selamat.


"Perutku sakit..." Caesa menghentikan langkah kakinya dan napas yang tersengal-sengal. Arga ikut memberhentikan langkah.


"Tahan, sebentar lagi kita sampai," ucap Arga. Tampak jelas kekhawatiran dari raut wajah pria itu. Apalagi Caesa sedang hamil, membuat rasa kekhawatiran itu semakin menjadi-jadi.


Beruntung malam ini bulan bersinar terang, membuat mereka bisa melihat keadaan sekitar.


"Kita istirahat dulu."


"Tidak, nanti mereka datang."


Pria itu menggiring sang istri menuju ke pohon yang sudah tumbang dan mendudukkan Caesa di sana.


"Kita istirahat dulu di sini," ucap Arga mengusap pucuk kepala Caesa yang lembab karna cairan bensin masih melekat di badannya.


"Apa kau membunuhnya?"


Tatapan Caesa mengarah pada baju Arga yang sudah berlumuran darah. Ia jadi meringis melihatnya.


"Lalu aku harus bagaimana? Jika tidak di bunuh aku tidak mungkin bersamamu sekarang."


Caesa melengkungkan bibirnya ke bawah mendengar itu. Arga melepaskan bajunya, membuat tubuh kekarnya yang penuh keringat terekspos. Wanita itu tak berkedip memandangi tubuh suaminya. Beberapa sesaat kemudian Ia bangkit dari tempat duduknya dan mendekat pada Arga yang membelakanginya.

__ADS_1


"Akh..."


Pria itu menjerit kesakitan kala Caesa menyentuh luka di bagian punggungnya yang berlobang dan masih mengeluarkan cairan merah.


"Caesa!" sentak Arga menatap kesal pada sang istri."Sakit, jangan di sentuh."


"Lukanya harus cepat di obati nanti semakin parah," sarannya.


"Tidak perlu, sebentar lagi kita akan pulang."


"Tapi bagaimana pulangnya? Sekarang kita terjebak di hutan ini, kalau balik arah ke tempat yang tadi sama saja menyerahkan nyawa."


"Kita cari jalan yang lain."


"Memangnya kau tahu jalan keluar dari hutan ini selain jalan yang tadi?"


"Kita cari dulu." Arga geleng-geleng kepala menghadapi pertanyaan bertubi-tubi istrinya.


"Dingin," gumam Caesa memeluk dirinya sendiri. Angin malam saat ini sangat dingin dan menusuk ke pori-pori.


"Kemarilah," titah Arga menggerakkan tangannya agar Caesa mendekat padanya.


Wanita itu menurut dan mendekat pada Arga yang langsung memeluknya. Pelukan yang suaminya berikan membuat tubuhnya perlahan merasakan kehangatan.


________


Hei girl! Terima kasih sudah mampir

__ADS_1


See you di part selanjutnya:)


__ADS_2