
Alex berdiri tegap di hadapan Arga dengan senyuman angkuhnya. Pria bermata biru kecoklatan itu sedikit membungkukkan tubuhnya pada sopirnya tersebut. Dan tak memperdulikan keadaan Caesa yang semakin blingsatan menahan sakit di perutnya seolah di remas begitu kuat. Ketika amarah menguasai, seseorang itu takkan peduli dengan keadaan sekitar.
"Sebentar lagi kau akan tersingkir. Aku sudah bersikap baik memintamu untuk melepas Caesa. Kalaupun kau mencintai Caesa, aku tidak peduli karna sedari awal dia memang milikku!" ucap Alex penuh penekanan setiap kata yang terlontar dari mulutnya.
Arga tersenyum merespon ucapan Alex, seolah menantang. Sedangkan senyuman di wajah Alex langsung luntur tergantikan dengan raut wajah yang terpancar kemarahan di dalamnya. Arga bangkit dari lantai dan melangkah mendekat pada Caesa. Kedua tangannya merengkuh tubuh mungil sang istri yang langsung melingkarkan tangannya di leher Arga.
"Jika kau sudah mengklaim Caesa sebagai milikmu, tak mungkin kau dengan rela menyerahkannya pada diriku begitu saja untuk dinikmati. Cintamu terlalu murahan untuk sebatas tujuan," balas Arga yang tampak tenang. Dan kalimat yang Ia lontarkan adalah sindiran keras.
Telinga Alex terasa terbakar mendengar ucapan Arga. Ucapan yang pria itu lontarkan seolah menginjak-injak harga dirinya, tidak ada siapapun yang berani angkat suara ataupun menentang keputusannya, apalagi Arga hanya seorang sopir rendahan yang tak pantas di setarakan dengan dirinya.
Caesa hanya bisa bungkam dalam kebisuan. Tak ada gunanya ikut angkat suara bila pada akhirnya memperkeruh suasana diantara dua pria yang sama-sama penting dalam hatinya saat ini. Alex, pria yang Ia cinta tapi perlahan Arga mulai mengisi relung hatinya.
"Aku memiliki kuasa__"
Ucapan Alex terjeda ketika ponselnya berdering nyaring di kantong celana. Ia langsung merogoh saku celananya dan mengangkat panggilan telpon dari karyawannya. Namun, sorot tajam penuh kilatan amarah itu tetap mengarah pada Arga.
"Ada apa?" tanya Alex.
"Pa-pak. Da-data perusahaan bocor," jawab orang dalam sambungan telpon tersebut terbata-bata.
Badan Alex menegang, tatapannya matanya bergulir. Pria itu langsung mematikan sambungan telpon tersebut. Sudut bibir Arga melancip melihat ekpresi Alex yang terlihat tegang dan shock.
"Urusan kita belum selesai. Jangan berani-berani kau membawa Caesa pergi." Setelah mengucapkan kalimat peringatan penuh ancaman itu Alex segera beranjak pergi meninggalkan kamar itu.
Caesa menatap kepergian Alex dengan pandangan yang rumit.
"Eh..."
__ADS_1
Wanita itu tersentak ketika Arga menekan bagian lengannya seolah menyadarkan dirinya yang terlalu terpaku menatap kepergian Alex. Arga melangkah membawa kembali Caesa ke kasur, meskipun bagian kakinya terasa sedikit ngilu karna tendangan yang Alex berikan cukup kuat.
"Mana yang sakit? Apa ingin ke rumah sakit?" Deretan pertanyaan penuh kekhawatiran terlontar dari mulut Arga. Dan itu membuat gelenyar aneh timbul di benak Caesa dengan kekhawatiran suaminya tersebut.
Mata coklat indahnya terpaku pada wajah Arga. Seolah mengamati lekuk wajah tampan suaminya.
"Kenapa melihatku seperti itu, hmm?"
Caesa langsung membuang muka ketika Arga mulai menyadari tatapannya. Lagi, wanita itu tersentak terkejut ketika suaminya menyingkap kain yang menutupi perut datarnya. Dengan begitu lembut tangan berurat itu mengusap perutnya.
"A-apa kau benar-benar tidak ingin melepaskan ku? Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa bila menentang keputusan Alex," ucap Caesa memberanikan diri, Ia khawatir memberontakkan yang Arga lakukan akan menyusahkan pria itu.
Caesa sadar, perasaan aneh ini muncul karna Ia tengah mengandung anak Arga. Ia takut salah tanggap dengan perasaan yang bergejolak dalam hatinya saat ini dan akan berujung penyesalan bila menuruti percikan cinta dalam dada ini.
Arga diam tak menjawab, namun Ia membungkam Caesa dengan ciuman hangatnya. Mata wanita itu melebar menerima serangan mendadak suaminya. Namun, Caesa mulai terbuai dengan ciuman lembut tersebut dan sentuhan menggoda yang Arga berikan pada tubuhnya.
Arga menyalurkan gejolak dalam dadanya melalui sebuah ciuman.
•
•
"Kalian semua tidak becus...!!" Suara menggelegar penuh kemarahan mengisi ruang rapat saat ini.
Alex mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Rahang yang mengetat dan gigi geraham yang bergemelutuk karna emosi dan amarah sudah di ujung ubun-ubun. Di tambah masalah dengan Arga memperkeruh keadaan dalam diri Alex saat ini.
"Beberapa data dan informasi perusahaan bocor, sedangkan keamanan yang kita pasangan begitu kuat!"
__ADS_1
"Kalian tahu? Perusahaan ini bisa bangkrut dan reputasiku akan hancur karna keteledoran kalian! Dan kerugian yang saya tanggung sangat besar...!!"
Ucap Alex dengan menggebu-gebu. Tatapan pria itu sangat tajam menatap karyawannya yang bertanggungjawab dalam hal keamanan data perusahaan yang bisa saja membuat para investor tidak ingin bekerja sama dengan perusahaannya yang bergerak di bidang jasa. Entah siapa yang berani meretas data dan informasi perusahaannya. Alex takut, data dan informasi tentang perusahaannya di jual pada musuh antar perusahaannya.
Sedangkan di tempat lain, Arga menggeram nikmat ketika mencapai pelepasannya. Ia semakin menekan miliknya hingga menyentuh dinding rahim Caesa yang menahan desahannya. Pria itu mencabut miliknya dari inti tubuh Caesa.
Arga bangkit dari tubuh sang istri dengan tubuh yang begitu lemas dan rasa kantuk yang mulai menyapa. Caesa menarik selimut menutupi tubuh polosnya. Aroma cairan percintaan semerbak tercium di ruangan itu.
"Pergilah, sebentar lagi Alex akan datang," ucap Caesa memperingatkan
Ia benar-benar takut kemarahan Alex semakin meradang ketika tahu Ia bercinta dengan Arga.
"Tapi, kau harus ikut."
Napas Caesa tercekat mendengar ucapan Arga. Ia menatap bingung dengan suaminya.
"A-aku tidak mungkin ikut. Aku..."
"Hidup susah?" sambung Arga yang tahu isi pikiran Caesa, karna wanita itu sudah terbiasa hidup mewah dengan segala fasilitas yang Alex berikan.
Sedangkan Caesa memikirkan nasib anak dalam kandungannya bila memilih ikut dengan Arga. Apakah pria itu sanggup memberikan kehidupan yang layak untuknya? Sedangkan Ia hanya seorang sopir. Bukan Ia merendahkan status Arga sebagai sopir, tapi ini benar-benar pilihan yang sangat sulit Ia putuskan.
__________
Hei girl! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke akun tik tok @khazana_va Di sana aku banyak mengupdate visual Arga dan Caesa.
See you di part selanjutnya:)