Hati Zamrud

Hati Zamrud
Putri yang Bisu dan Tuli


__ADS_3

Ratu Marry memejamkan mata rapat-rapat dan menutup kedua kuping dengan kencang setelah mendengar Guiss, sang Tabib Istana, menyampaikan bahwa putri kecilnya yang baru seminggu lalu dilahirkan tak dapat mendengar, alias tuli. Karena itulah sang Putri tak mampu merespon suara dan lebih banyak terdiam, kemungkinan kelak juga dia bisa menjadi tuna wicara karena tak mampu merespon suara bisa membuatnya kehilangan respon bicara.


Ratu Marry kemudian menjerit dalam tangisnya, bergegas Raja Julius memeluknya erat.


"Apa tidak ada jalan untuk menyembuhkannya, Guiss? Aku akan memberimu separuh lahan di bagian selatan kerajaan jika kau mampu menyembuhkan putri kami.", Raja menatap Guiss yang menggeleng sedih.


"Meskipun Yang Mulia memberiku bulan sekalipun, aku tak akan mampu menyembuhkan penyakit ini. Mohon maafkan keterbatasan saya.".


Raja menatap Ratu yang semakin menjadi-jadi dalam tangisnya.


'Lalu siapa yang akan mau menikahimu nanti, Anakku...', batin Raja dengan hati teriris.


***


10 Tahun Kemudian


 


Seorang gadis kecil berambut gelombang warna cokelat madu sebahu berlari terburu-buru sambil mengangkat rok panjangnya ketika Putri Eloys melambaikan tangan kepadanya dari bawah pohon eastern redbud kesayangan mereka berdua. Putri Eloys tersenyum manis padanya, senyuman terindah yang pernah ditemui oleh si Gadis Berambut Cokelat Madu.


'Yang Mulia menunggu saya? Maafkan, saya tadi masih membantu di dapur.', si Gadis yang bernama Lily menggerak-gerakkan tangannya sebagai bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan majikan sekaligus sahabatnya itu. Putri Eloys menggeleng anggun, masih tersenyum.


Putri kemudian mengangkat tangannya dan menggerak-gerakkan kata, 'Tidak apa-apa, Lily. Aku senang duduk di sini sambil menunggumu. Apa kamu sudah makan?'.


Lily menggeleng, lalu mengambil duduk di samping putri cantik berambut panjang lurus dengan warna hitam legam itu.


Putri melihatnya sedih, 'Kenapa? Kau tidak membuat masalah lagi sehingga mereka menghukummu kan?'.


Lily tersenyum, mata warna jade-nya melebar ceria.


'Yang Mulia tidak perlu khawatir, aku tak ingin kehilangan waktuku bersama Yang Mulia hanya untuk menjalankan hukuman memuakkan itu. Jadi aku akan terus berusaha berbuat baik agar aku tak dihukum.'


Putri Eloys terkikik tanpa suara, rambut panjangnya bergoyang tertiup angin.


Bagi Lily, yang hanyalah anak Kepala Pelayan Istana, menjadi sahabat dekat sekaligus satu-satunya teman bermain Putri Eloys merupakan suatu kebahagiaan tersendiri dalam hidupnya.


Dia selalu mengagumi putri tersebut. Selain kecantikannya yang luar biasa bak bidadari, Putri Eloys sangat pintar menjahit dan pekerjaan rumah lainnya meskipun dia adalah anak Raja.


Meskipun memiliki kekurangan yaitu tak mampu mendengar dan berbicara, Putri Eloys tak sedih sedikitpun dalam menjalani hidup. Dia baik pada semua orang, itulah mengapa semua orang di Kerajaan sangat mencintainya, bahkan rakyat di wilayah Kerajaan Tan pun mencintainya, tak mencemooh atau mempermasalahkan kekurangannya itu sedikit pun, meskipun mereka belum sekalipun pernah bertemu Putri sejak gadis kecil itu dilahirkan. Putri Eloys memang sengaja tidak pernah diajak keluar dari Istana, mengingat kondisi kesehatannya itu.


Lily sendiri dua minggu lebih muda dari Putri Eloys. Gadis yang ceria dan selalu senang belajar apapun, termasuk belajar pengetahuan yang dimiliki putri. Dia adalah anak Kepala Pelayan, Remedy, yang menjadi kepercayaan Raja Julius sejak dia naik tahta. Remedy terkenal cekatan dan jujur, sehingga Raja menaikkan jabatannya dari pelayan pribadi Istana Pangeran Leon, kakak Putri Eloys, menjadi Kepala Pelayan Kerajaan.


Putri menatap Lily yang sedang bermain-main dengan ujung roknya, mengetahui gadis kecil itu pasti ingin mengatakan sesuatu padanya, namun dia ragu.


Putri menepuk bahunya, Lily agak kaget, namun tersenyum, 'Ada apa?', tanyanya. Putri menjawab, 'Ada yang hendak kau sampaikan?'.


Lily tertegun sesaat, mata jade-nya menatap lurus ke dalam mata orchid sang Putri.


Beberapa detik kemudian dia meneteskan air mata dan menggerak-gerakkan jarinya lembut, 'Aku ingin menjadi sahabat Yang Mulia selamanya, sampai mati. Izinkan aku menemani dan melayani Yang Mulia sampai maut memisahkan kita.'.


Putry Eloys terkejut, namun segera tersenyum lembut dan meraih Lily dalam pelukan hangatnya.


***


12 Tahun Kemudian


 


"Hei, kau tahu malam ini akan ada pesta dansa kan?", Rie menyodok rusuk Lily saat mereka sedang mengaduk adonan kue di dapur istana. Lily mengangguk sambil masih fokus pada adonan kuenya.


"Tahu tidak, aku berharap bahwa aku akan bertemu pemuda tampan di pesta dansa nanti, dan dia yang akan menikahiku kelak. Yah, mungkin aku akan mendatangi para pengawal atau pelayan-pelayan muda para tamu. Kau berminat?", Rie masih terus mengganggu Lily dengan obrolan menyebalkannya. Lily menatapnya intens, lalu menggeleng, dan fokus pada adonannya lagi.


"Dasar! Dalam pikiranmu memang hanya ada Putri Eloys saja. Asal kau tahu, Putri akan menikah dengan Pangeran Theo, kau akan ditinggalkan olehnya, karena dia akan ikut dengan sang Pangeran.".


Perkataan Rie yang terakhir menggelitik perut Lily, dia meletakkan adonannya dan menyahut, "Dengar ya, Putri sudah menolak perjodohan itu dan asal kau tahu, Putri tidak menyukai Pangetan Theo. Dia meminta kepada Yang Mulia Raja untuk menikahkannya dengan pemuda dalam istana ini saja sehingga dia bisa tetap berada di samping kita semua. Paham?', Lily berkacak pinggang pada gadis yang dua tahun lebih tua darinya itu.


Rie hanya menjulurkan lidahnya saja, lalu mulai mengaduk lagi adonannya.

__ADS_1


"Apa kalian sudah selesai bergosip? Kalian harus segera berdandan dan menuju Istana Putri untuk membantunya bersiap ke pesta dansa!", Tarine, Kepala Dapur tiba-tiba membentak mereka dari arah pintu dapur, membuat dua gadis itu tersentak kaget dan sedikit ketakutan.


Putri Eloys tersenyum cerah saat Lily dan Rie datang ke dalam kamar mewahnya, bergabung bersama ketiga gadis pelayan lainnya untuk membantunya bersiap. Putri meraih kedua tangan Lily dan menariknya masuk ke dalam ruang ganti, meninggalkan keempat gadis lainnya yang memang sudah terbiasa melihat Putri memperlakukan Lily lebih spesial dari mereka.


'Apa aku terlihat cantik?', Putri kemudian berputar dan gaun pesta warna shapphire-nya berkibar indah. Lily sangat kagum menatap baju mahal jahitan Putri sendiri itu. Tentunya gaun tersebut akan menambah kecantikan sahabatnya tersebut. Lily mengangguk mantap. Putri tersenyum senang.


'Apa Yang Mulia akan berdansa dengan Pangeran Theo?', Lily bertanya.


Putri Eloys menggeleng lalu menggerak-gerakkan jarinya, 'Bukankah sudah kubilang aku tak menyukainya meskipun dia tampan. Aku telah meminta Ayah untuk memasangkanku dengan putra tunggal Perdana Menteri Frank.'.


Lily terkejut dengan jawaban Putri. Dia tahu siapa pemuda itu, pemuda berambut cokelat tanah dan bermata auburn itu adalah kandidat utama Panglima Pasukan Perang Kerajaan Tan. Meskipun usianya masih 23 tahun namun kemampuan bela diri, bertarung, dan taktik berperangnya sudah tak diragukan lagi. Sayangnya, dalam hal kepribadian dia bisa dikatakan memiliki sifat yang cukup buruk. Keras kepala, kurang sopan, dan agak temperamen.


'Anda yakin? Apa Anda menyukainya?', Lily hati-hati bertanya. Putri terkikik tanpa suara.


'Kau lupa? Dia itu teman belajarku sejak kecil di Sekolah Istana, dan kami cukup dekat. Makanya lebih baik aku berdansa dengannya agar Pangeran Theo mengira aku telah memilih pasanganku. Aku hanya ingin berdansa dengannya saja, tak lebih.'.


Lily terdiam sesaat, 'Tapi, aku yakin Yang Mulia Raja pasti akan menjodohkan kalian setelah ini.'. Putri menghentikan tawanya dan menatap kaget Lily, kemudian menggeleng, kembali tersenyum.


'Dia bukan tipeku. Kenapa kau terlihat marah?', tanya Putri. Lily kemudian menyilangkan tangan di dadanya.


'Dia pernah membentak Putri, ingat kan? Saat kita masih berusia 9 tahun dan hanya karena Putri menghilangkan buku pemberian mendiang kakak perempuannya. Aku tak suka itu, dia tak sopan.'.


Putri Eloys tertawa geli tanpa suara, lalu meraih bahu Lily, 'Dia sudah dewasa sekarang kau tahu? Dia sudah tau bagaimana cara menghormati perempuan.', Putri mengedipkan satu matanya dengan anggun. Lily membalasnya dengan pelukan.


'Beri tahu aku kalau dia kurang ajar pada Yang Mulia.', pesan Lily sambil meringis lucu. Putri mengacungkan tanda oke dengan jarinya.


Sam, pemuda berambut cokelat tanah itu masih sibuk membaca bukunya sambil duduk santai di atas sofa ruang tamu Istana Putri, 5 anak buahnya menunggunya di luar, akan melakukan pengawalan padanya dan Putri Eloys, dalam perjalanan mereka ke Gedung Ruangan Utama tempat pesta dansa berlangsung.


Putri Eloys, didampingi kelima pelayan pribadinya termasuk Rie dan Lily kemudian keluar. Sam tak menyadarinya karena asyik membaca, Lily bergegas berdehem agar laki-laki itu sadar akan kehadiran Sang Putri. Namun Sam tidak bergeming, matanya masih asyik dengan tulisan-tulisan di bukunya.


Lily berdehem lebih keras, Putri Eloys melihatnya sambil tersenyum geli. Barulah Sam mendongak dan sedikit terkejut melihat kehadiaran Putri. Dia lalu berdiri dan sedikit membungkuk.


'Maafkan saya, Yang Mulia. Saya tak tahu Anda telah berada di sini.', jari-jarinya bergerak minta maaf.


Putri mengangguk lalu mengulurkan tangan kanannya, yang kemudian disambut oleh Sam dengan lembut. Segera, Putri berjalan berdampingan dengan Sam sambil mengamitkan tangan ke lengan pemuda itu. Mereka berjalan dengan sangat anggun.


Lily sendiri tak begitu mendegarkan apa kata Rie, si Ratu Gosip, karena pandangan matanya tertuju pada sebuah buku tebal bersampul merah marun di atas meja. Dia sengaja memelankan langkahnya dan membiarkan keempat temannya berjalan terlebih dulu, agar dia bisa meraih buku tersebut.


LEGENDA KEBANGKITAN SANG KSATRIA PENAKLUK NAGA


Judul buku itu. Kemudian di bagian bawah sampul ada tulisan 'Sam Putra Frank'. Lily meringis, buku itu milik Sam, dan dia ceroboh meninggalkannya karena terlalu gugup saat Putri muncul di depannya tadi. Lalu gadis itu memasukkan benda tersebut ke dalam tas kecil kesayangannya. Tas itu memang hampir tak pernah lepas dari badannya.


Ruang pesta dansa begitu megah dan ramai pengunjung. Mereka adalah Para Bangsawan dan keluarga Kerajaan Cha, kerajaan tetangga, yang menjadi undangan resmi di acara Ulang Tahun ke-22 Putri Eloys ini. Raja Julius didampingi Pangeran Leon, Sang Putra Mahkota, terlihat berbincang dengan Raja Gareth dan Putra Mahkotanya, Pangeran Theo. Raja Julius agak sedikit membungkuk sungkan kepada Raja Gareth, kemungkinan dia meminta maaf karena Putri Eloys menolak pinangan Pangeran Theo padanya. Namun Raja Gareth dan Pangeran Theo sepertinya tak mempermasalahkan hal tersebut. Terlihat dari wajah mereka yang tetap cerah dan bersahabat.


Beberapa menit kemudian suasana ruangan berubah dalam pencahayaan agak temaran dan menyisakan cahaya terang di bagian tengah ruangan, tempat Sam berdiri berhadapan dengan Putri Eloys. Seluruh hadirin bertepuk tangan riuh kepada pasangan itu. Musik mengalun lembut dan mereka mulai berdansa, diikuti hadirin yang lainnya. Pelan-pelan pencahayaan ruangan kembali terang. Memperlihatkan Putri Eloys dan Sam, serta Ratu Marry dan Raja Julius, yang berdansa di tengah ruangan.


Dalam dansanya, Ratu Marry berbisik lembut di telinga suaminya, "Aku berpikir untuk menikahkan putri kecil kita dengan Sam. Kau tahu kan sayang? Sam anak yang baik. Bagaimana menurutmu?".


Raja Julius mengeratkan pelukannya pada Ratu dan menjawab, "Aku sudah mengaturnya dengan Frank.". Ratu tersenyum cerah.


Lily masih asyik membolak-balik halaman demi halaman buku milik Sam tersebut, setiap kata-kata yang teruntai dalam buku tersebut membuatnya tenggelam dalam dunia lain yang menurutnya sungguh menakjubkan. Cerita seorang pemuda yang diramalkan oleh peramal tua sebuah kerajaan bahwa dia kelak akan menjadi Seorang Ksatria Penakluk Naga Jahat Jelmaan Penyihir yang telah membuat seluruh kerajaan mengalami penyakit aneh. Lily kemudian membayangkan sesosok pemuda tampan dan gagah yang memegang pedangnya menantang sang Naga untuk berduel.


Wajah Lily memerah dan dia terkikik sendiri sambil bergumam, "Ah, aku ingin menikah dengan Ksatria itu rasanya...".


Tiba-tiba pencahayaan ruangan padam dan gelap mulai membutakan pandangan semua hadirin, termasuk Putri Eloys yang langsung meraih bahu Sam. Sam sendiri memeluk Putri mencoba melindunginya sambil melihat dalam kegelapan, apa yang terjadi sebenarnya. Nihil.


Ruangan menjadi ramai karena para hadirin mulai histeris. Lily meraba tasnya dan memasukkan buku ke dalamnya. Sambil meraba-raba dinding dia berjalan, berharap bisa segera menemukan Putri Eloys.


Hingga kemudian terdengar suara dentuman keras seperti sebuah benda besar jatuh di atas tanah. Seberkas cahaya menerangi ruangan, cahaya yang berasal dari ujung tombak seseorang yang duduk di atas sebuah hewan besar. Naga!


Orang itu berambut panjang, seorang wanita cantik dengan perawakan usia sekitar 30 tahunan dan berwajah licik. Dia mengacungkan pedang yang berada di tangan kirinya pada Raja Julius yang ketakutan sambil memeluk Ratu Marry.


"Kau berjanji 22 tahun yang lalu, apa kau lupa?", suara wanita itu menggelegar. Naga yang ditungganginya menggeram. Seluruh hadirin dipenuhi rasa ketakutan.


Lily sendiri berhasil mencapai bagian tengah ruangan dan segera mendatangi Putri Eloys yang masih gemetar di dalam pelukan Sam.


Melihat Lily, Putri segera melepaskan pelukan Sam dan memeluk Liliy. Lily mengelus bagian belakang punggungnya, menenangkan. Sam yang melihat Putri telah nyaman di pelukan Lily, segera menghunus pedangnya untuk bersiap-siap jika diperlukan untuk menyerang.

__ADS_1


Wanita menakutkan itu masih melotot kepada Raja, hingga kemudian Raja berjalan maju dan dengan gemetar membuka mulutnya, "Hadirin, saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini,", dia terdiam sebentar lalu melihat ke arah si Wanita, "Aku...aku...akan menggantinya dengan nyawaku...".


Wanita itu terkejut dan ekspresinya berubah marah. Dia mengeluarkan petir dari tombaknya, membuat atap ruangan hancur dan beberapa hadirin terluka. Sebagian besar telah berlari keluar ruangan karena ketakutan.


"Aku tidak mau tahu, aku ingin putrimu!! Aku beri waktu dua hari untukmu berpikir dan aku akan datang mengambilnya, atau kau akan kehilangan nyawa istrimu!!", sang Wanita kejam kemudian menyentakkan kakinya ke tubuh Naga, membuatnya mendengus keras dan mengepakkan sayapnya yang besar untuk terbang ke langit. Petir menyambar-nyambar dan angin besar memporak-porandakan seisi ruangan.


Tangan Lily terlepas dari sang Putri, membuatnya terpental jauh. Sang Putri berlari hendak menolongnya, karena di atas Lily ada pecahan kaca jendela yang akan menimpa gadis malang itu. Namun pakaian indah berwarna shaphire itu membuat kakinya tak gesit lagi dan dia tersandung.


Menyadari dirinya dalam bahaya besar, Lily hanya pasrah dan terdiam menatap kaca besar itu mulai bergerak jatuh ke arahnya. Kakinya terlalu sakit untuk diajak melarikan diri dari bahaya itu.


BRAAAAKKKK...!!!


Sam membelah kaca itu menjadi kepingan di saat yang tepat lalu berjongkok di depan Lily, "Kau bodoh atau gila?".


Lily merengut menatapnya. Sam melihat betis Lily terluka lebar dan berdarah, dia mendesah sesaat lalu menyarungkan pedangnya dan meraih lengan Lily, membantunya berdiri. Putri tergopoh-gopoh mendatangi mereka. Melihat luka di betis Lily, Putri menjerit tanpa suara dan membantu Lily berjalan dengan mengamit lengannya yang satu lagi. Mereka bertiga berjalan bersama ke pinggir ruangan, menghindari para hadirin yang panik.


 


 


Raja Julius dan Pangeran Leon berhasil mencapai mereka bertiga, sedangkan Ratu Marry dibawa para pengawal menuju Istana Utama agar aman.


"Dengar Sam, aku minta kau membawa Putri keluar segera dari istana ini. Ini sudah tak aman baginya. Ini salahku. Aku akan mengirim pengawal segera mungkin untuk kalian, dan aku harap kau segera membawanya pergi sejauh-jauhnya, kalau perlu tak usah kembali.", Raja memegang kedua bahu Sam yang memiliki tinggi sama dengannya.


Sam bingung, terlebih Putri, matanya menatap Raja dengan protes yang besar. Raja kemudian menggerakkan jari-jari tangannya di depan Putri Eloys, 'Maafkan aku Eloys kecil sayangku, Ayah terlalu takut kehilangan Ibumu saat melahirkanmu, sehingga Ayah menyanggupi saja saat Penyihir jahat itu menawarkan ramuan selamat untuk Ibumu agar bertahan hidup, sebagai gantinya dia meminta suaramu. Dan...', Raja menangis, dan Sang Putri yang masih menatapnya tak percaya, '...ternyata dia meminta lebih dari itu. Dia... dia memintamu juga.. memintamu menjadi anaknya. Dia ingin menjadikanmu anaknya...Ayah.. Ayah tak mau itu terjadi.'.


Putri kemudian meneteskan air matanya, ia menangis sambil memeluk Ayahnya. Pangeran Leon berjalan ke depan Sam yang masih mengemit lengan Lily, sedangkan gadis itu merasakan kakinya yang sakit tak seberapa dibanding sakitnya melihat sang Sahabat dalam masalah sebesar ni.


"Sam, kau dengar apa kata Ayahku? Segera bawa pergi Eloys dan akan segera kami kirim pasukan untuk mengamankan kalian. Jangan sampai Penyihir itu menemukanmu dan Eloys. Pergi jauh dari sini, aku akan membicarakan ini dengan Ayahmu.".


Sam menatap Sang Pangeran, lalu menjawab, "Baik.".


Raja lalu melepaskan pelukannya dan Putri masih dalam linangan air mata berjalan ke samping Lily lagi.


"Aku tak bisa membiarkan kalian hanya berdua, bagaimanapun kalian belum menikah, satu pelayan setia cukup bukan?", Pangeran Leon menunjuk Lily dengan dagunya.


"Saya berjanji akan melindungi Putri dengan nyawa saya.", janji Sam, dan sang Pangeran mengangguk.


"Kalian akan baik-baik saja.", Raja Julius kemudian mengajak mereka berjalan menuju pintu samping, "Lewat sini.".


Sam dan kedua gadis mengangguk kemudian segera meninggalkan Raja dan Pangeran.


Pangeran menatap Ayahnya yang masih menangis, "Setelah ini aku siap jika Yang Mulia menjelaskan semuanya...", Raja Julius menatap mata Putra Mahkotanya yang membara karena amarah, kemudian mengangguk lemah.


 


"Kau bisa melepaskanku.", Lily berkata kepada Sam, Putri Eloys berjalan satu langkah di depan mereka. Mereka telah memakai pakaian biasa, setelah berganti baju di ruangan penyimpanan senjata, sambil membawa beberapa pakaian ganti dalam tas ransel. Mereka bertiga membalut diri dalam mantel tebal lengkap dengan penutup kepala, menyamarkan identitas mereka.


Sam kemudian melepaskan lengan Lily, betis gadis itu sudah dirawat cukup baik oleh sang Putri.


"Dengar, namaku tetap Sam, tak ada yang mengenaliku, kecuali keluarga kerajaan. Sedangkan Putri akan bernama Lisa. Paham?", Lily mengangguk. Putri melihat mereka berdua, Sam menghampirinya dan menggerak-gerakkan tangan, menyampaikan apa yang disampaikannya tadi pada Lily.


Tiba-tiba Sam berbalik pada Lily, "Aku tak tahu namamu.", gumamnya. Lily mendengus, dengan sedikit terpincang dia membentak Sam, "Lily!".


Sam mengernyit dengan ketidaksopanan Lily padanya, sedangkan Putri terkikik geli tanpa suara melihat mereka berdua.


"Oke, kita sudah berjalan jauh dalam hutan pemisah Istana dari wilayah warga. Di depan sana adalah tempat rakyat Kerajaan Tan berada. Aku sering menemani Ayahku sehingga kalian percayalah padaku bahwa aku akan membawa kalian ke tempat yang aman.", Sam menatap Putri dan menggerakkan jari-jarinya, 'Yang Mulia, mohon maafkan kelancangan saya, tapi bolehkan saya tak lagi memanggil Anda dengan Yang Mulia? Demi keamanan Anda.'. Putri mengangguk dan mengacungkan ibu jari pada pemuda itu.


"Nah, kita bertiga adalah adik kakak...", kata-kata Sam terpotong oleh Lily, "Hei bagaimana kalau kalian saja sebagai suami istri dan aku sebagai adik dari Lisa?", tawarnya. Sam mengernyitkan alisnya. Dia menggeleng.


"Kenapa? Kalian akan menikah..", Sam memotong Lily dengan ketus, "Ternyata benar kau itu bodoh! Menikah...menikah saja yang ada dalam pikiranmu! Sekarang kita harus menyelamatkan Lisa kau tahu?!".


Lily merengut menatapnya, dia membuang muka, "Baiklah. Meskipun aku tak mau memanggilmu Kakak.". Putri menatap mereka geli.


Sam mendesah lalu meraih tangan Putri menjauh dari Lily.


"Hei tunggu...", dengan terpincang-pincang Lily berusaha mengejar mereka.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2