Hati Zamrud

Hati Zamrud
Reuni


__ADS_3

“Tetap di dekatku!!”, Eriez merentangkan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sudah siap dengan pedang. Lisa dengan ketakutan berdiri gemetar di belakang pemuda itu. Merdy dan kelima serigalanya menggeram di samping Eriez. Di depan mereka, kawanan Illio sudah siap dengan anak panah yang akan mereka lepaskan.


Lisa menjerit dalam hati, ‘Kenapa…kenapa aku tak bisa merasakan kehadiran mereka lebih awal? Apakah karena kekuatan Nefrisaku melemah sebab aku baru saja menggunakannya untuk bertemu Ayah? Atau…atau kekuatan hitam itu berkembang makin besar?’.


Kawanan Illio itu merangsek makin maju ke arah mereka, namun tak seperti kawanan Illio sebelumnya yang langsung menyerang, mereka terlihat sedikit lebih hati-hati untuk mengambil serangan.


“Tuanku, sebaiknya Yang Mulia Putri ditemani kelima serigalaku segera pergi dari sini. Saya akan menemani Anda untuk menghabisi mereka.”, tiba-tiba Merdy berkata kepada Eriez. Eriez mengerutkan keningnya, lalu menatap kelima serigala Merdy tersebut.


“Kenapa aku harus mempercayakan Tuan Putri pada kelima serigalamu?”, Eriez masih belum mempercayai Merdy.


Merdy tersenyum dan mendekat padanya, “Mereka bukan serigala sembarangan. Mereka telah mengenalimu dengan baik sejak pertama kita bertemu.”, Eriez agak kebingungan dengan kata-kata Merdy itu, namun Pria Tua tersebut kembali berkata padanya, “Kumohon Tuanku, percayalah padaku. Mereka akan membawa Putri ke tempat yang aman, disini Putri dalam bahaya. Saya tahu siapa Jadze, dia…dia pernah menyuruh saya menangkap Putri hidup-hidup namun saya menolak. Yang Jadze inginkan adalah Putri!”.


Eriez tak sempat memprotes apa yang dikatakan Merdy tentang Jadze yang sempat menyuruhnya menangkap Putri Eloys, dia melihat kawanan Illio makin dekat. Dia tak punya pilihan lain.


“Yang Mulia, pergilah bersama serigala-serigala itu. Aku dan Merdy akan mengurus mereka.”, Eriez berbisik pada Putri Eloys yang langsung menolaknya, “Tidak…aku tak mau pergi…aku..aku tak mungkin meninggalkanmu…”, namun serigala-serigala itu langsung menarik mantel Putri dengan rahangnya, menjauh dari tempat itu, meninggalkan Eriez yang menatapnya dengan tatapan sedih, “Aku mencintaimu, Yang Mulia.”, bisiknya penuh penyesalan.


Kemudian Eriez menatap Merdy, “Kau siap?”, tanyanya. Merdy mengangguk. Dan mereka berdua kemudian maju menerjang kawanan Illio.


Teshra terbang lebih rendah lagi, dan mereka berdua akhirnya berhasil melihat kondisi Istana Cha yang sudha porak-poranda. Tak ada kehidupan di puing-puing bangunan itu. Rupanya mereka benar-benar tidak siap akan kedatangan bahaya, dan tak mampu membendung kekuatan jutaan Orb raksasa yang mengamuk.


Sam menggeram marah, hatinya perih melihat banyak mayat bergelimpangan di Istana yang pernah di datanginya 8 tahun lalu itu. Tiba-tiba dia teringat dua orang yang harus diselamatkannya, Raja Gareth dan Pangeran Theo.


“Teshra, lebih rendah lagi!”, Sam memerintah naga itu, dan menarik keluar pedangnya dari punggung. Teshra menukik lembut, dan berputar di atas gedung utama istana. Sam menyipitkan mata, kemudian terbelalak kaget saat melihat mayat Raja Gareth bersimbah darah di sana. Hatinya seperti ditusuk ribuan tombak.


“Apa kita perlu mendekat?”, Teshra bertanya padanya.


Sam menggeleng, “Tidak. Kita pergi mencari Pangeran Theo. Aku yakin dia masih hidup.”. Teshra lalu mengepakkan sayapnya dan mereka terbang lebih tinggi menuju timur.


Dalam perjalanannya, Sam termenung. Dia merasa menyesal, andai saja dia bisa datang lebih cepat, mungkin dia bisa membantu. Setidaknya dia sudah tahu kelemahan kawanan Orb itu ada pada sosok pemimpinnya. Dia mempelajari dari pertempurannya bersama ketiga temannya dulu, dan bagaimana Roh Nefrisa memberitahu lewat Putri Eloys tentang kelemahan Para Orb.


“Apakah kau merasakan sesuatu?”, pertanyaan Teshra membuyarkan lamunan Sam. Sam langsung menatap kepala Naga itu.


“Kawanan Illio dan sebuah pertempuran.”, Teshra menggeram, “Pegangan yang benar!”, dia lalu menukik, menembus pepohonan dan terbang lebih cepat.


Benar saja, di depan mereka ada pertempuran tak seimbang antara puluhan Illio melawan dua orang manusia. Yang tua terluka parah dengan bekas panah di tubuhnya yang mengalirkan darah segar, sedangkan si pemuda masih berusaha menerjang kawanan makhluk iblis itu dengan pedangnya.


“ERIEZ..!!”, Sam memekik. Teshra terbang semakin rendah, dia dapat melihat sosok yang tak asing ada di samping pemuda teman Sam itu, Merdy, salah satu keturunan terakhir para kaum terkutuk. Teshra menggeram dan menukik menuju area pertempuran.


“Eriez menjauh dari mereka!”, Sam berteriak dari atas punggung Teshra. Eriez mendongak dan mendapati sahabatnya itu menunggang Raja Naga dengan gagah, pedang bergagang perak itu sudah terhunus di tangannya. Tak membiarkan diri terlalu lama terkejut, Eriez segera menarik Merdy yang terluka parah menjauh dari Para Illio.


Teshra langsung menghujani kawanan Illio itu dengan kobaran api merah kejinggaan dari mulutnya. Dalam sekejap mereka hangus terpanggang, tak bernyawa lagi. Kemudian kaki Teshra menapak di tanah, Sam segera turun dari punggung naga itu dan menghampiri Eriez yang tengah memeluk Merdy.

__ADS_1


“Tuanku…segeralah…temukan Putri…”, Merdy terbata-bata di antara rasa sakit yang menjalari seluruh tubuhnya. Racun dari panah Para Illio itu telah bekerja merusak seluruh organ-organnya.


“Tidak. Aku tak bisa membiarkanmu mati disini…”, Eriez mendesis. Ada rasa sakit dan penyesalan hebat dalam dirinya, melihat tubuh tua dalam pelukannya yang sedang diambang maut itu.


Sam berlutut di dekat Eriez, “Siapa ini?”, tanyanya.


Eriez menatap Sam, lalu menatap Teshra yang berdiri anggun di dekat mereka. Eriez tersenyum, “Kau telah berhasil membangunkannya…”, bisiknya lirih.


Sam tersenyum kecut, dan membalas, “Ya, dan ternyata dia sangat menyebalkan.”,


“Aku bisa mendengarmu, Anak Aneh!”, Teshra melenguh menggelegar. Merdy menatap naga tersebut, ada sorot ketakutan di matanya. Teshra lalu berjalan mendekat dan menatap lelaki tua itu.


“Kau mendapat pengampunan karena kesetiaanmu pada Putri, dan Tanah Tan. Ketika kau sampai di alam sana, kau akan disambut oleh segala kebaikan yang tak pernah kau dapatkan di Bumi ini.”, Teshra menunduk memberi hormat pada Merdy, “Kau adalah pahlawan Tanah Tan.”, lanjutnya. Lalu dia mengeluarkan lengkingan nyaring, membuat pohon-pohon bergoyang dan burung-burung terbang ke langit. Merdy menutup matanya, dengan senyum manis tersungging di wajahnya.


Eriez menatap kepergian lelaki tua itu dengan air mata yang mengalir di pipinya. Sam pun ikut merasakan kesedihan yang dialami sahabatnya itu, meskipun dia tak mengenal siapa Merdy ini.


“Aku akan merawat kelima sahabatmu dengan baik, Merdy.”, bisik Eriez.


Sam menepuk bahunya, “Kita kuburkan dia sekarang, dan segera mencari Putri Eloys.”. Eriez mengangguk.


Kelima serigala itu mendadak berhenti, mereka terlihat gelisah dan saling pandang. Putri Eloys kebingungan dengan tingkah mereka. Dia juga bisa merasakan perasaan tak enak dalam hatinya, jantungnya berdetak tak beraturan.


Tiba-tiba ada sentakan kuat dalam dadanya. Putri kemudian jatuh terduduk sambil meremas dadanya. Dia segera menengok ke arah kanan. Menatap pepohonan lebat di arah tersebut. Melihat Sang Putri terdiam, Para Serigala itu segera mendekat dan mengikuti arah pandangnya.


“Kita kesana. Disana…Gua Nefrisa.”, Putri Eloys bangkit, dan menuntun Para Serigala menuju arah yang ditunjuknya.


Eriez memanggil kembali kedua kuda yang disuruhnya bersembunyi saat pertempuran dengan Illio tadi. Sepasang kuda berwarna hitam dan cokelat itu mendekat patuh. Eriez menatap Sam, “Pangeran Theo bertemu kami, dan menghadiahkan mereka.”, sambil tersenyum.


Mendengar nama Pangeran Theo disebut, Sam langsung menunduk sedih. Eriez menatapnya, “Ada apa?”.


Sam mengangkat kepalanya dan menatap wajah sahabatnya itu, “Istana Kerajaan Cha dihancurkan oleh jutaan Orb raksasa…dan Raja Gareth meninggal.”. Wajah Eriez berubah pucat pasi dalam sekejap.


“Tapi aku yakin Pangeran Theo masih hidup dan saat ini pasti dalam pelarian. Aku dan Teshra dalam perjalanan mencarinya, sampai kemudian kami menemukanmu dalam pertempuran tadi.”.


Eriez masih diam, tak percaya dengan apa yang dikabarkan oleh Sam barusan. Sam menepuk bahunya, “Aku akan menemanimu berkuda, kita ke Gua Nefrisa sekarang.”.


“Tapi bagaimana dengan Putri Eloys?”, Eriez bertanya.


Sam menatap Teshra yang masih bergaya sok keren menatap langit, seolah tak mau ikut dalam pembicaraan kedua pemuda itu.


“Naga Aneh itu mengatakan padaku bahwa Tuan Putri sudah berada di depan Gua. Jadi kita langsung kesana saja.”, Sam tersenyum pada Eriez.

__ADS_1


“Aku mendengarmu, Ksatria Bodoh!”, Teshra menggeram tanpa melihat ke arah Sam. Membuat Eriez tertawa kecil, dengan hubungan unik Sam dan Teshra itu.



Frank membungkuk kepada Raja Leon dengan keringat dingin membanjir di wajahnya. Raja Leon langsung berdiri menghampiri Perdana Menterinya itu.


“Ada apa, Frank?”, tanya Raja khawatir.


Iris cokelat tua Frank menatap iris orchid Raja Leon. Dengan gemetar dia membuka mulutnya, “Pangeran Theo terluka, dan sekarang dia ada disini.”.


Raja Leon bagai disambar petir, “Apa maksudnya???”, tanyanya dengan suara menggelegar.


Frank menunduk, “Mohon ampun menyampaikan kabar duka, Yang Mulia. Jutaan Orb raksasa atas perintah Jadze Yang Terkutuk menyerang dan menghancurkan Istana Kerajaan Cha. Membuat Raja Gareth meninggal dunia.”.


Raja Leon langsung lemas, dia meraih pinggiran meja pualamnya dan bersandar pada benda itu. Rasanya ada batu besar yang sedang menindih tubuhnya. Terasa berat.


“Dimana Pangeran Theo sekarang?”, tanyanya lemah.


“Ada di ruang perawatan bersama Tabib Guiss, Yang Mulia.”, jawab Frank.


Raja Leon lalu menatap Perdana Menterinya itu, “Kirim semua utusan kita untuk berlayar ke Tanah Kressia. Kita minta Bangsawan-Bangsawan mereka mengirimkan semua pasukan dan perwira perang terhebat. Karena perang akan segera kita lakukan. Perang ini….bukan hanya perang Tanah Tan. Karena jika Jadze menang, dia akan meluluhlantakkan seluruh kehidupan di Bumi ini.”.


Frank mengangguk, dan segera menjalankan perintah Rajanya tersebut.



Lily segera berlari mengikuti Luisa menuju ke pintu gerbang Kaum Nefendril. Kabar yang didengarnya sungguh membuat hatinya seperti akan melompat keluar. Luisa menyebut nama sahabat terkasihnya, ada di depan gerbang tempat mereka tinggal sekarang.


Dan benar, seorang gadis yang memiliki paras luar biasa cantik, dengan rambut hitam panjang serta mata beriris orchid indah, tengah tersenyum padanya. Lily berlari dan segera menghambur dalam pelukan gadis itu.


“Astaga Yang Mulia….aku pikir aku sudah kehilanganmu selama-lamanya…”, Lily mulai terisak dalam pelukan Putri Eloys. Sang Putri tersenyum lembut dan mengelus rambut cokelat madu sahabatnya itu.


“Aku tak akan mati dengan mudah sebelum Jadze dikalahkan, Lily.”, bisiknya.


Lily kemudian melepaskan pelukannya, “Dimana Eriez?”, tanyanya. Putri Eloys menunduk sedih, lalu tatapan mata Lily beralih kepada kelima serigala jinak yang berdiri di belakang Tuan Putrinya.


“Siapa mereka?”, tanya Lily lagi.


“Ceritanya panjang, Putriku. Sebaiknya kalian berempat segera ikut ke kamarku.”, tiba-tiba Teshra sudah terbang menukik pelan dari bagian pintu di atap gua menuju ke tengah ruangan.


Putri Eloys dan Lily lalu menatap ke arah mulut gua, diikuti oleh kelima serigala, Frei, Luisa, dan semua Nefendril yang ada di sana. Terdengar derap langkah dua kuda, semakin mendekat, dan terlihat Sam serta Eriez yang tengah menuju ke arah mereka.

__ADS_1


__ADS_2