Hati Zamrud

Hati Zamrud
Sang Ksatria dan Raja Naga


__ADS_3

Lisa dan Eriez berkuda beriringan. Namun sejak keluar dari perkemahan Pangeran Theo dan pasukannya tadi pagi sampai sekarang menjelang matahari semakin menunggu, mereka belum saling berbicara. Ada rasa sungkan di hati Eriez, sedangkan Lisa sengaja menunggu pemuda itu membuka obrolan terlebih dahulu.


“A..anu..”, akhirnya Eriez bersuara. Lisa menatap pemuda itu dengan senyum, wajah Eriez terlihat memerah, namun dia membalas senyum Lisa, “Sebentar lagi kita akan melewati lembah terakhir desa Klob.”.


Lisa mengangguk, “Semoga kita bisa segera menemukan Sam dan Lily dalam keadaan selamat.”, lalu dia tiba-tiba menunduk. Tangan kanannya memegang dadanya erat. Perasaan ini…ada sesuatu di depan sana. Sesuatu yang asing dan sedikit mengganggu, namun bukan sesuatu yang berbahaya.


Eriez melihat Lisa dan bertanya, “Ada yang mengganggumu, Yang Mulia?”.


Lisa menatapnya, lalu telunjuknya mengarah ke dalam sesemakan belukar di depan mereka, “Ada yang tengah menuju ke arah kita.”.


Eriez terbelalak dan langsung memegang pedang di pinggangnya, namun Lisa mengisyaratkan ‘jangan’ dengan tangannya, “Sepertinya bukan bahaya.”, dia berbisik.


Eriez melonggarkan pegangannya pada pedang dan menatap Lisa. Gadis itu masih terus menatap depan, memimpin mereka terus berjalan maju menuju ‘sesuatu’ itu. Melihat sorot mata beriris orchid milik Lisa, ada perasaan aneh yang membuat Eriez sedikit kebingungan dan perutnya bergejolak aneh. ‘Apakah ini?’, bisik pemuda itu dalam hati.



Kakakku, Yang Mulia Raja Leon Putra Julius. Izinkan aku adikmu, Eloys, menyapamu pagi ini. Semoga surat ini bisa sampai di tanganmu dengan selamat. Sebuah keberuntunganku bisa bertemu dengan Pangeran Theo yang kurasa memang terlahir dengan hati yang mulia dan penuh kelembutan. Sambil kuserahkan surat ini kepadanya untuk disampaikan padamu, kuhantarkan sebuah do’a untuknya semoga hidupnya akan penuh dengan kebaikan.


Kakakku, terima kasih atas do’a dan dukunganmu, aku baik-baik saja bahkan jauh lebih baik saat ini. Aku telah menemukan kembali suara dan pendengaranku, Roh Nefrisa kini tertidur dalam hatiku, membantuku menyadari bahaya, kekuatan, dan jalan menuju tujuan utama kami untuk menghancurkan kekuatan sihir jahat.


Kakakku, tak perlu khawatir. Aku ada di tangan yang aman. Sam, mungkin kau sedikit tak menyukai sifatnya yang agak temperamen dan terlalu cuek, namun dia pantas terpilih menjadi Ksatria yang Diramalkan itu. Dia hebat, dia pemimpin yang cekatan dan dia sangat setia kawan.


Sahabatku Lily Putri Kepala Pelayan Remedy, adalah gadis yang sangat kukagumi dari dulu. Selain kebaikan hatinya, dia juga adalah gadis yang cerdas, mampu menguasai bela diri yang sangat indah, serta memiliki loyalitas tinggi padaku yang tak dapat ditandingi siapapun.


Namun kini mereka berdua terpisah dariku, dan dengan kerendahan hatiku, kumohon engkau mau mendoakan keselamatan mereka, agar aku bisa segera bertemu dengan mereka dan kami bisa berjuang bersama membinasakan penyihir jahat itu.


Kakakku, kau tak perlu khawatir meskipun aku terpisah dari kedua sahabatku, aku tak sendiri. Saat ini ada pemuda hebat, bernama Eriez, seorang Arkeolog, cucu Paramal Harold, dengan kemampuan memanah dan bela dirinya yang hampir setara Sam, ada di sampingku. Dia akan selalu menjagaku, dan bersumpah setia melindungiku dengan seluruh nyawanya.


Dia adalah orang yang sangat kupercayai, dan sangat berharga bagiku. Kuharap, meskipun aku tak mampu terlalu banyak menceritakannya di dalam surat ini, Kakak dapat memahami kondisiku dan apa yang kurasakan sekarang padanya.

__ADS_1


Jagalah Ibu dengan baik, sampaikan salam hormatku padanya. Dan aku akan terus berjuang, agar bisa membantu Sam dan teman-temanku untuk membinasakan penyihir jahat itu, melepaskan kutukan hitam Tanah Tan kita, kepada Ayah kita, dan seluruh rakyat Tan, selama-lamanya.


Salam sayang dan hormat selalu. Adikmu, Eloys Putri Julius.


Raja Leon melipat kembali surat dari Putri Eloys dan meletakkannya di meja. Matanya menerawang, dan memikirkan bagaimana menjelaskan kondisi Eloys sekarang pada Ibunya, serta tentang pemuda bernama Eriez ini. Dia bahkan tak tahu bagaimana sosok pemuda itu, yang dia tahu saat ini bahwa pasti adiknya memiliki suatu perasaan khusus pada pemuda tersebut.


Raja Leon mendesah. Ia yakin bahwa jika Ratu Marry mengetahui hal tersebut maka Ibunya itu pasti akan sangat kecewa. Sebab, dia tahu benar bahwa Ratu Marry sudah sangat mengharapkan Sam-lah yang akan menjadi menantunya kelak, bukan orang lain.



Sesosok lelaki tua, dengan hidung pesek dan tubuh pendek, serta pakaian compang-camping, diikuti 5 serigala yang sepertinya jinak, kini berdiri dengan gemetar di hadapan Lisa dan Eriez. Eriez segera meraih gagang pedangnya, siap menariknya keluar dari sarung pedang namun Sang Putri mencegahnya.


“Siapa kamu?”, tanya Lisa anggun dari atas kuda hitamnya.


Lelaki tua itu masih gemetar, lalu merosot ke tanah, terduduk lemah, dan menjawab dengan terbata, “Na..nama saya..Me..Merdy…”. Kelima serigala temannya diam dan terlihat agak ketakutan juga melihat Tuannya tersebut gemetar.


Lisa menatap lelaki tua itu iba. Merdy sendiri tak berani menatap Putri yang dicarinya atas suruhan Jadze tersebut. Apalagi teman lelaki Sang Putri yang terlihat seperti bukan pemuda biasa, dia pasti seorang ahli bela diri dan ilmu berperang yang tangguh.


Lisa berlutut di depan Merdy dan mengambil tangan kanan lelaki tua itu, menggenggamnya, “Tak apa. Angkatlah wajahmu kepadaku.”.


Merdy sendiri terkejut dengan apa yang dilakukan Putri Eloys itu padanya. Dengan takut-takut dia mengangkat wajahnya, dimana matanya kemudian bertemu iris orchid Sang Putri yang teramat teduh, lembut dan menenangkan.


Ada sensasi luar biasa hangat dan nyaman yang tak pernah dirasakan Merdy selama hidupnya. Dia selalu ketakutan di bawah bayang-bayang kejahatan masa lalu kaumnya yang terkutuk, ketakutan jika Nefendril menemukan dan menghabisinya, ketakutan jika Jadze meluluhlantakkan tanah dan keluarganya, serta ketakutan jika Jadze berhasil melenyapkan Tanah Tan dengan sihir hitamnya.


Sensasi hangat itu seolah melenyapkan semua ketakutan dan penderitaan dalam hidupnya selama ini. Dia tak tahu, apakah memang kekuatan itu berasal dari Roh Nefrisa dalam diri Sang Putri, ataukah kekuatan itu memang milik Sang Putri sendiri. Namun itu membuat Merdy tak peduli lagi, apapun yang akan Jadze lakukan padanya atau desanya dan sisa kaumnya, dia ingin keluar dari kehidupan dan kaumnya yang terkutuk selamanya. Hidup bahagia di Tanah Tan, menjadi makhluk yang berharga sebelum mati.


Mulut Merdy dengan gugup bergerak menjawab, “Sa…saya Merdy, bersumpah setia, menjadi sekutu Yang Mulia Putri…sampai mati.”.


Bersamaan dengan itu, sebuah cahaya terang mendadak bersinar di kedua iris mata Merdy, tubuhnya bergetar hebat, dan kelima serigala temannya itu meringkuk sambil mendengkur jinak. Putri Eloys terpesona menatap keindahan mata Merdy tua itu, lalu tersenyum dan menyambutnya dengan anggukan.

__ADS_1


Sesosok naga besar dengan warna sisik hitam legam, mendengkur lembut di sebuah kamar indah bertirai sutera berwarna amber keemasan. Sam dan Lily menatap naga itu dengan kekaguman.


Frei kemudian melihat ke arah Sam, “Panggilah namanya. Dia hanya akan bangun ketika Kstaria Terpilih yang memanggilnya.”.


Sam menatap Frei, lalu mengalihkan pandangannya pada naga hitam itu dengan ragu. Entah, sampai sekarang dia masih tak yakin apakah benar Ksatria yang diramalkan itu adalah dirinya yang menurutnya tak seberapa hebat ini. Pemuda temperamen yang terlalu mencintai buku serta latihan perang dan berkuda daripada hal-hal lainnya.


Tiba-tiba dia merasakan tangan Lily mengelus lembut bahunya. Sam melihat ke arahnya, dan Lily berbisik lirih kepada pemuda itu, “Tak ada salahnya mencoba, lagipula mencobanya tak mengeluarkan uang kan?”, gadis tersebut tersenyum usil padanya.


Sam tahu, bahwa Lily tak sedang menggodanya, gadis itu sedang berusaha menguatkannya. Sam mengangguk, lalu menatap naga raksasa itu. Menguatkan nyali dan hatinya untuk pelan-pelan dengan sedikit gemetar membuka mulutnya,


“Teshra Yang Agung, Sam Putra Frank disini menjawab panggilanmu.”, Sam memamnggil Teshra dengan suaranya yang berat dan berwibawa. Seluruh Nefendril, dan juga Lily menahan nafas menanti apa yang akan terjadi.


Namun Teshra tetap diam, tak ada reaksi apapun darinya. Frei bertukar pandang dengan Luisa, lalu Pemimpin Nefendril itu mengalihkan tatapannya pada Sam yang terlihat sedikit kecewa.


Tiba-tiba Lily memekik, dia melihat ekor Teshra bergerak perlahan, membuat semua Nefendril termasuk Frei dan Luisa segera berlutut dalam posisi hormat. Lily bingung dan memutuskan ikut-ikutan berlutut juga. Sedangkan Sam dengan wajah tercengang tetap berdiri, dan sekarang dia menatap kepala naga itu bergerak kepadanya, matanya terbuka, dan warna semerah darah menatap lurus ke dalam iris auburn-nya.


“Selamat datang, Sam Putra Frank!”, sambut naga itu dengan suara berat yang menggelegar.


Frei kemudian menyentakkan tombaknya masih dalam keadaan berlutut dan berteriak kepada seluruh Nefendril, “Hormat kami kepada Teshra Yang Agung, Pelindung Tanah Tan, dan Sam Putra Frank, Ksatria Terpilih Tanah Tan!!”, dan semua Nefendril mengikutinya.


Lily diam saja, dia merasa sensasi ini begitu mengharukan dan membuatnya tak mampu berkata-kata. Dia mendongakkan kepala dan menatap Sam yang terlihat tersenyum menatap Teshra yang kemudian berdiri juga memberi hormat pada pemuda itu. Lily kemudian menunduk menatap tanah, dia merasakan sesuatu yang aneh telah terjadi padanya setelah menatap wajah Sam tadi. Sesuatu yang tak biasa, dan selama ini tak pernah diperkirakan olehnya akan terjadi.



Ratu Marry tergopoh-gopoh mendatangi ruang pribadi Raja Leon. Dia berjalan dengan cepat didampingi 5 pelayan pribadi dan 3 pengawalnya. Setelah penjaga ruang Raja Leon membukakan pintu dan mengantar Sang Ratu secara pribadi masuk menghadap, Sang Raja segera bangkit dari singgasananya dan memeluk Ibunya tersebut.


“Anakku. Kudengar utusan pribadi Pangeran Theo dari Kerajaan Cha menyerahkan surat dari Putri Eloys kepadamu. Apakah itu benar?”, tanyanya dengan mata dan wajah yang berbinar. Raja Leon tersenyum dan mengangguk.


“Boleh aku membacanya, Nak?”, Ratu Marry meminta dengan penuh harap. Sedangkan Raja Leon termenung, dia memikirkan apa yang akan Ibunya rasakan setelah mengetahui isi surat tersebut tak sesuai harapan Sang Ratu.

__ADS_1


Ratu Marry kemudian meraih tangan anak petamanya itu, “Aku berharap bisa membaca sebuah kabar baik, bahwa Eloys dan Sam akan segera menemukan Hati Zamrud itu. Dan kabar mereka berdua tentunya…apakah…apakah…”, Ratu Marry tersenyum sendiri.


Raja Leon menatap Ibunya, ada sedikit rasa sedih yang menjalar di hatinya. Dia tak tega mengatakan, atau membiarkan Ibunya mengetahui, bahwa dua nama yang disebutkan Ibunya tersebut sepertinya…tak akan bisa hidup bersama…seperti harapan mereka semua sebelumnya.


__ADS_2