Hati Zamrud

Hati Zamrud
Kisah Pangeran Brian dan Putri Floin


__ADS_3

Lily terengah-engah, akhirnya masuk kamar dan menutupnya pelan. Tak ingin membuat Putri Eloys yang sudah berbaring dengan lelap di atas kasur terganggu. Lily melepas mantelnya, dan dia baru sadar saat akan menggantungkan mantel itu di gantungan dekat dinding, “Astaga! Pisau itu masih di tangannya…dasar bodoh!”, Lily menepuk jidatnya sendiri.


Dengan gontai gadis itu segera naik ke kasur, menarik selimutnya dan akan bersiap tidur saat dia kemudian mendengar suara lembut di sampingnya menyapa, “Apa Sam sudah mengatakannya?”. Lily segera memalingkan wajahnya, menemukan Putri Eloys menatapnya, dengan senyum manis tersungging di wajahnya. Lily mendesah.


Mereka berdua kini tidur dengan posisi berhadapan. Putri Eloys menatap ke dalam iris jade Lily dengan lembut, “Pasti kau yang tak memberinya kesempatan.”. Lily masih diam saja. Entah mengapa, dia tak mau mendengar penjelasan apapun tentang masalah yang sedang dihadapainya sekarang, dari mulut pemuda itu.


“Kau mencintainya…”, Putri Eloys berbisik, lalu tangannya membelai poni sahabatnya itu, “…dan kau takut dia mengatakan hal sebaliknya.”. Lily masih diam, namun sebentar kemudian air matanya menetes.


Iya. Dia menyadari, dia mencintai pemuda itu. Dia belum pernah memiliki perasaan seperti ini sebelumnya pada pemuda manapun, dan awalnya dia sedikit marah kepada dirinya sendiri, kenapa harus Sam? Sam bukan pemuda yang selama ini menjadi ekspektasi pria idamannya. Lily berharap menemukan pemuda sabar yang akan tulus mencintainya, memperlakukannya lembut dan penuh penghormatan. Meskipun semua itu ada pada Eriez, entah mengapa hatinya justru memilih Sam yang selalu mengajaknya berdebat, tak sopan, dan tidak bisa berlaku lembut padanya.


Putri Eloys membelai pucuk kepala Lily dengan sayang, “Aku pernah merasakan itu, sebelum akhirnya aku merasakan bahwa aku harus mengatakannya. Aku tak tahu apakah hari ini atau besok adalah hari terakhirku melihatnya, merasakan keberadaannya di sampingku. Bisa jadi, aku lebih dulu mati kan daripada dia? Jadi itulah, pada akhirnya kenapa aku memberikan diri menyatakan perasaanku pada Eriez. Meskipun sampai sekarang aku belum mendengar jawabannya, setidaknya aku lega sudah jujur kepadanya. Jika pun aku mati, aku sudah tak memiliki beban dalam hatiku.”.


Mendengar hal itu, membuat tangis Lily makin menjadi, dia merapat dan memeluk Sang Putri. Putri Eloys membelai punggungnya dengan sayang, “Lily, setidaknya berilah kesempatan dia berbicara padamu, apapun itu, dan terimalah. Karena masalah hati, hati seseorang, siapapun bahkan tak bisa menebaknya bukan?”.


Teshra menatap ke langit, melalui pintu gua di bagian atas langit-langit kamarnya. Ada kilatan-kilatan aneh yang bermuatan kekuatan jahat, menyambar langit, seolah hendak menjatuhkan bulan purnama ke bumi.


Menyadari Sam sudah ada di sampingnya, dan menatapnya dengan tatapan bingung, Teshra kemudian berjalan menghampiri pemuda itu. Dia merendahkan kepalanya dan setengah berbisik, “Jadze membangkitkan kekuatan gelap terlarang dari dalam Neraka.”. Sam terhenyak, matanya membulat kaget.


“Kita harus segera menghimpun kekuatan, dari para Nefendril di sini, dan menyampaikan pada Raja Tan untuk menyiapkan pasukan manusianya dari Istana sana. Perang sudah ada di depan mata.”, mata merah darah Teshra menatap ke dalam iris auburn Sam, “Persiapkan fisik dan mentalmu, Sam. Kita akan melawan Jadze dan Naganya, Sirina. Kali ini Sirina akan berusaha mengganggu fokusku, sehingga kita tak mampu terus berada di dekat pasukan kita, karena bisa membahayakan mereka. Jadi, aku berharap Raja Tan yang sekarang mampu segera membangkitkan kekuatan Naga Ambernya dengan penuh, yakin bahwa dia adalah pemimpin Tan yang terpilih saat ini. Agar dia bisa memanggil sebagian Roh Nefrisa untuk masuk ke dalam hatinya, karena dia akan melawan kekuatan jahat yang dibangkitkan Jadze saat ini.”.


“Apa sebenarnya kekuatan itu?”, Sam duduk di dekatnya, bertanya dengan wajah sedikit tegang.


Teshra kembali menatap langit, lalu mendesah, “Dia membangkitkan Pangeran Alendril. Tubuhnya memang tak ditemukan dimanapun, dan kemungkinan memang sebelum membelah jiwanya, Pangeran Alendril melindungi tubuhnya dengan kekuatan gaib yang dibangkitkannya dari Naga Amber yang dulu sempat dicurinya.”.


Sam mengernyitkan kening, “Jadi, yang bisa melawan Pangeran Alendril saat perang nanti adalah…”.


Teshra mengangguk, “Ya, pemegang Naga Amber saat ini, Raja Leon.”.


Suasana sarapan di meja makan tamu agung dalam Kamar Teshra sedikit canggung pagi ini. Putri Eloys saling lirik dengan Eriez yang merasakan ada suasana tak enak antara Lily dan Sam. Teshra sendiri masa bodoh dan masih asyik menyantap sapi asap favoritnya.


Sam meletakkan pisau dan garpunya dengan sedikit keras di meja, lalu mengambil lap dan mengusap mulutnya. Setelah meneguk air putih dia berdiri, tanpa mengatakan sepatah kata apapun, berjalan pergi meninggalkan ketiga temannya dan Teshra.


Lily mendesah. Entah kenapa dia merasakan sebuah rasa menyakitkan dan menyiksa di dalam dadanya. Putri Eloys mendekat padanya, menyentuh bahunya. Lily menatapnya sambil tersenyum.


“Terima kasih atas makanannya. Aku akan menemani Sam berlatih dulu,”, Eriez sudah berdiri dan hendak pergi, namun Teshra mencegahnya, “Biar aku yang berlatih dengannya pagi ini. Kau bersama Frei melatih mereka memanah saja.”, lirik naga itu pada kedua gadis. Eriez tersenyum dan mengangguk patuh pada Sang Naga.


Sam menatap pisau yang ada di tangannya dengan ekspresi tak terbaca. Pikirannya melayang ke Ibunya. Nefendril yang mengorbankan umur fana dan meninggalkan kaumnya untuk selama-lamanya demi mendampingi lelaki yang dicintainya. Ibunya berlatih bela diri dan memanah diam-diam di Istana, karena perempuan tak diizinkan berlatih bela diri dan macam-macam ilmu berperang lainnya, kecuali berkuda di Kerajaan mereka.


“Sepertinya barang itu begitu berharga…”, Teshra berjalan dengan gaya pongah khasnya menuju ke arah pemuda berambut cokelat tanah itu berdiri. Sam menatapnya sebentar, lalu mengalihkan pandangannya lagi ke pisau tersebut. Kemudian dia mendesah, dan memasukkan benda itu ke dalam saku celananya lagi.


“Kau tak mengajaknya bicara pagi ini.”, Teshra sudah ada di sampingnya.


Sam tak melihat ke arahnya, menjawab acuh, “Aku tak mengajak bicara siapapun pagi ini.”.

__ADS_1


Teshra tertawa menggelegar, “Memang yang kumaksud ‘dia’ itu siapa?”, godanya. Membuat kedua kuping pemuda itu spontan memerah karena malu.


Lalu Sam menatap Teshra sambil berkacak pinggang, “Kau kesini untuk berlatih denganku atau menggodaku? Kalau hanya menggodaku, sebaiknya aku berlatih sendiri saja!”.


Teshra kembali terbahak, namun kali ini dia merendahkan kepalanya kepada pemuda itu, tatapan matanya melembut, “Kau hanya perlu jujur padanya, dan kau tak akan semakin tersiksa. Aku tak mau fokusmu pada perang terganggu oleh hal remeh seperti ini…”,


Sam melotot, “Remeh???”.


Teshra menegakkan kembali kepalanya, “Iya, remeh sekali! Karena sebenarnya ini bisa segera diselesaikan hanya dengan saling jujur antara kalian. Dengar…”, naga itu menatap ke langit, “…dulu pemuda itu pernah menyesal karena kehilangan orang yang sangat dicintainya, serta menyia-nyiakan cinta orang tersebut padanya. Dia menangis di hadapanku kala itu.”.


Sam mengernyitkan dahinya, “Pemuda…itu?”. Teshra mengangguk, menatapnya.


“Pemuda bernama Brian yang kemudian menjadi Raja Tan sesudah perang berakhir. Dia berhasil menyegel kekuatan jahat yang dibangkitkan oleh kaum terhina anak keturunan Olexa yang ingin balas dendam atas kejadian perang masa lalu di zaman Raja Voctorius. Hati Zamrud yang dicarinya ternyata berada di dalam genggaman wanita yang pernah ditolaknya menjadi istri. Ya, untuk mengeratkan hubungan Kerajaan Tan dan salah satu Bangsawan Tanah Kressia, Pangeran Brian kala itu dijodohkan dengan Putri Floin dari Kressia.”.


Sam bertanya lagi, “Kau mau menceritakan tentang kisah itu?”.


Teshra tertawa kecil, kedua sayapnya mengembang, “Mau terbang bersama? Kita ke Bukit Vixy sekarang.”.


Sam menatapnya dengan tatapan protes, “Hei, kau belum menjawabnya.”.


“Aku akan menjawabnya di sana nanti. Ayo!”, ujar naga itu sedikit bersungut-sungut.



“Kemarilah, Pangeranku!”, teriaknya dengan suara menggelegar. Pangeran Alendril berjalan maju dan menaiki tangga menuju singgasana Jadze. Setelah berada di depannya, Jadze berdiri dan memeluk lelaki itu.


“Kau tahu, apa yang akan kita lakukan sebentar lagi?”, bisiknya. Pangeran Alendril mengangguk. Jadze tersenyum puas.



Putri Eloys melepaskan anak panahnya, namun meleset dan hanya menancap di bagian pinggir bundaran. Ekspresi kecewa nampak terpampang di wajah cantiknya. Eriez hanya melihatnya dari jauh.


Namun kemudian pemuda itu merasakan ada tepukan halus di bahunya. Frei tersenyum padanya, “Kau boleh mengajarinya. Aku akan mengajari Lily.”, Frei menawarkan pada Eriez.


Eriez sempat ragu, namun kemudian Frei berbisik padanya, “Itu akan membuatnya semakin semangat dalam berlatih.”. Eriez menatap Nefendril itu sejenak, lalu tersenyum dan mengangguk.


Putri Eloys kembali mengambil satu anak panah dan akan melakukan posisi memanah dengan busurnya, sampai kemudian tiba-tiba sepasang tangan besar membantunya. Satu tangan menggenggam tangan kanannya yang memegang ekor anak panah, dan satu tangan lainnya menggenggam tangan kirinya yang memegang busur.


Putri Eloys berbalik dan mendapati Eriez berdiri sangat dekat di belakangnya, menatap lurus ke arah papan sasaran. Wajah Sang Putri memerah.


“Tetap fokus, dan perkencang posisi.”, bisik Eriez. Putri Eloys mengangguk. Eriez sedikit membantunya mengatur posisi, lalu berbisik lagi, “Sekarang lepaskan!”.


Anak panah itu melesat dengan cepat dan menancap di bagian tengah papan sasaran. Eriez tersenyum lalu menunduk menatap Putri Eloys yang masih kagum dengan hasil memanahnya kali ini.

__ADS_1


“Yang penting fokus, dan posisikan tubuh dengan benar.”, bisik Eriez. Putri mendongak menatapnya, tersenyum dan mengangguk.


“Apa Yang Mulia siap untuk memanah lagi?”, tanya Eriez. Putri Eloys mengangguk, mengambil satu anak panah lagi dan menariknya di busur. Kali ini Eriez tak membantunya, dan memilih berdiri di sampingnya.


Sebelum menembakkan anak panahnya, Putri menatap ke Eriez, “Boleh aku meminta satu hal?”, tanyanya. Eriez mengangguk.


“Berhenti memanggilku ‘Yang Mulia’…”, lalu dia melepaskan anak panahnya, yang kemudian melesak dan menancap hampir di bagian tengah papan sasaran, “…dan panggil aku Eloys saja.”.


Eriez menatap gadis itu dengan terkejut, berpikir sebentar, lalu mengangguk, “Apapun untuk gadis yang kucintai, akan kupenuhi permintaan itu.”, senyumnya, sambil meraih Putri Eloys yang terperanjat kaget, ke dalam pelukannya.


Lily menatap kedua sahabatnya yang sedang berpelukan itu sambil tersenyum. Dia lalu meraih lagi satu anak panah dan siap menarik busurnya, namun tiba-tiba Frei berdeham di sampingnya.


Lily menatap Pemimpin Nefendril yang juga adalah guru memanahnya itu dengan tatapan tanya. Frei tersenyum, “Melihat mereka, sungguh bahagia bukan?”, tanyanya. Lily mengangguk. Lalu dia menunduk, merasakan ada ganjalan dalam hatinya.


Frei mendekat, dan mengelus bahunya, “Aku harap kau juga bisa merasakan kebahagiaan seperti itu, Anakku.”, bisiknya lembut.



Sam terduduk di tanah dengan nafas terengah-engah. Dia melempar pedangnya sembarangan, dan menunjuk ke arah naga hitam yang masih berdiri pongah di depannya.


“Dan sampai latihan ini selesai, kau belum menepati janjimu!”, bentaknya sinis.


Teshra tertawa menggelegar, lalu dia menekuk kakinya dan menyamankan tubuhnya dalam posisi istrirahat. Kepalanya menengok ke Sam, “Oke. Akan aku jawab, tapi..”,


Sam memotong dengan gusar, “Apa lagi???”, membuat Teshra kembali terbahak.


“Yah…setelah aku ceritakan semuanya, kau janji tak akan mengulangi ketololan pemuda bernama Brian itu. Mengerti?”, kini mata Teshra menatap lekat ke dalam iris auburn Sam. Sam menatapnya bingung, ragu, namun kemudian mengangguk.


“Jadi…”, Teshra memulai, sambil menatap langit, “…Brian itu seorang pemuda yang sama angkuhnya denganmu, pun denganku. Kami juga sering bertengkar dan berdebat, membuat kami kurang kompak dalam melakukan sesuatu. Dalam otak Brian hanya ada perang dan kemenangan untuk bisa mengembalikan lagi kedamaian negeri ini. Perang kemudian terjadi, namun kami selalu mengalami kekalahan, baik jumlah maupun kekuatan. Bahkan dengan hadirnya aku dan kekuatan Nefrisa pun, tak cukup membantu. Kemudian Putri Floin datang padaku, dia mengatakan bahwa Nefrisa menemuinya dan menunjukkan Hati Zamrud padanya. Dia bilang, dia bisa menggenggam batu mulia itu. Aku menyampaikannya pada Brian. Namun bahkan pun setelah mereka berdua melakukan ritual penyatuan kekuatan, Brian masih dingin dan tak mengindahkan perasaan Putri Floin padanya. Aku tahu, bahwa sebenarnya Brian juga mencintai perempuan itu. Namun dalam benaknya, masalah romantisme seperti itu hanya akan menghalangi jalannya meraih kemenangan.”, Teshra diam sejenak. Dia membiarkan Sam mencermati ceritanya tersebut.


“Akhirnya perang berakhir dan kami menang. Aku masih khawatir dengan keadaan pemuda itu, sehingga memutuskan untuk masih membersamainya, sampai dia naik tahta dan menikah. Meskipun telah menikahi Putri Floin, Brian masih saja acuh padanya. Dia terlalu sibuk dengan buku-buku, taktik peperangan, dan mengurus pemerintahan.”,


“Hingga suatu malam, Pangeran Sawn, anak ketiga mereka yang masih berusia 3 tahun jatuh sakit dan kejang-kejang. Ternyata kekuatan gaib hendak merebut kekuatan Roh Nefrisa yang ada di dalam diri Sang Pangeran. Kekuatan yang sama dengan yang dimiliki Putri Eloys saat ini. Floin yang saat itu telah menjadi Ratu, kembali mendatangiku dan Frei, dengan air mata berlinang. Dia mengatakan, ingin menyegel kekuatan itu agar tak mengganggu Sawn maupun keluarganya, selama-lamanya. Aku dan Frei ragu, karena kekuatan Hati Zamrud yang ada padanya sedang melemah, sebab dia tengah hamil anak keempatnya. Sehingga hal itu bisa membahayakan nyawanya. Namun Floin bersikeras.”,


“Kami kemudian melakukan ritual, Nefrisa berhasil dibebaskan dari jeratan kekuatan hitam yang hampir berada di bentuknya yang sempurna saat itu, namun Hati Zamrud menghilang. Tanpa adanya dukungan kekuatan dari Ksatria Terpilih, kekuatan Hati Zamrud juga tak bisa maksimal. Karena komponen kekuatan sempurna adalah kekutanku, kekuatan Nefrisa, Hati Zamrud, dan kekuatan Ksatria Terpilih.”,


“Brian terlalu sibuk dengan urusan kerajaannya.”, Teshra menunduk sedih, “Kutukan berhasil diambil dari Sawn, namun…nyawa Floin dan janin dalam kandungannya melayang.”.


Suasana menjadi hening. Hingga kemudian Teshra bangkit dan mendekatkan kepalanya ke Sam, “Setelah kepergian Istrinya, Brian baru sadar bahwa dia sangat mencintai wanita itu.”.


Sam merasakan sensasi hebat mendesak kuat di dadanya. Ada rasa marah, benci, dan kesal yang besar pada dirinya sendiri. Entah mengapa. Dia menunduk dan menatap kedua tangannya yang kotor akibat latihan tadi. Kemudian tangan kanannya merogoh saku celananya dan menarik keluar pisau milik Ibunya.


“Kau akan mengembalikan barang itu lagi padanya kan?”, tanya Teshra. Sam menatap naga itu, seolah meminta saran. Teshra tertawa kecil, lalu mengembangkan sayapnya,

__ADS_1


“Ayo kita kembali. Dan ingat…jangan sampai kau ulangi kesalahan yang pernah dilakukan Brian!”.


__ADS_2