
Tabir hitam yang melingkupi Alendril, Raja Visius, dan Joline tiba-tiba meleleh seperti es. Ketika warna hitamnya perlahan menghilang, ada cahaya putih menyilaukan namun memberikan kehangatan, yang menggantikannya.
Alendril melepaskan pelukan Ayahnya, dia merasakan getaran hebat di bawah kakinya dan takjub melihat sekelilingnya yang tiba-tiba telah berubah menjadi dunia serba putih, dengan aroma harum, dan udara hangat yang membuatnya nyaman.
“Selamat datang di Dunia Nefrisa, Yang Mulia. Setelah dari sini, Anda akan pulang ke alam dimana hanya ada kedamaian dan keabadian yang akan membuat Anda tak pernah berhenti merasakan kebahagiaan dan kasih sayang.”, Nefrisa berjalan mendatangi Alendril yang menatapnya takjub.
“Kau…?”, tanyanya. Nefrisa menunduk hormat, “Namaku Nefrisa. Meskipun Anda sering menggunakan kekuatan Elf seperti kekuatan Para Dewa, namun kita belum pernah bertemu secara langsung bukan?”, wanita itu tersenyum.
Alendril lalu menatap serombongan orang yang berjalan mendekat dari arah belakang Nefrisa. Lelaki itu menyipitkan mata, dan ketika pandangannya sudah mampu menangkap dengan jelas siapa mereka itu, air matanya tiba-tiba mengalir deras.
“Kalian…”, gumamnya terbata, tak mampu meneruskan lagi kata-katanya.
“Kemarilah, Nak!”, Kristelle membuka tangannya. Dia sangat cantik dalam balutan baju sutra putih. Rambut hitamnya halus, lurus, dan panjang semata kaki. Matanya amber cerahnya sangat menawan. Dia tak seperti wujud Jadze yang bengis, namun dia benar-benar wanita yang cantik dan memiliki inner beauty.
Alendril berjalan perlahan, mendekat ke Ibunya, dan ketika sudah berada di depan wanita itu, Alendril membiarkan dirinya jatuh di pelukannya, merasakan kehangatan dan kerinduan yang dalam, yang telah hilang darinya sejak lama. Hampir saja dia melupakan betapa hangat pelukan Kristelle padanya. Kini dia ingat, bahwa pelukan itulah yang selalu membuatnya menjadi lebih tangguh dan penuh rasa belas kasih.
“Kita pulang, Nak. Bersama-sama…”, bisik Kristelle sambil membelai lembut rambut hitam Alendril.
Setelah puas menumpahkan kerinduan dengan Ibunya, Alendril melepaskan pelukan dan menatap wanita cantik di belakang Kristelle. Wanita beriris mata auburn itu tampak menunduk tak berani menatapnya.
Alendril mendekatinya, berbisik, “Maukah kau memelukku, Ibunda Ratu?”. Ratu Liya langsung mendongakkan wajahnya tak percaya, menatap Alendril yang sudah dianggapnya anak sendiri itu. Dia selalu iba pada Alendril yang telah kehilangan Ibunya sejak kecil, selalu menyendiri, dan tampak mengurung diri.
Tangan Ratu Liya terbuka, dan Alendril segera masuk ke dalam pelukannya, “Maafkan aku, Ibunda. Atas segala kebencian dan rasa marah yang tak seharusnya kualamatkan padamu. Andai saja aku tahu…bahwa kau menyayangiku…namun semua sudah terlambat.”, bisik Alendril menyesal.
Ratu Liya mengelus punggungnya lembut, “Tidak ada yang terlambat, Nak. Kita akan memulai semuanya dari awal bersama-sama di alam sana, bersama-sama.”, bisiknya lembut.
Alendril kemudian melepaskan pelukan Ratu Liya dan menatap kedua adiknya, Jerzzen dan Tarren. Mereka berjalan maju dan memeluk Alendril secara bersamaan.
“Inilah pertama kalinya kami bisa menyentuhmu, Kak…”, bisik Tarren.
“Dan merasakan kehangatan pelukan Kakak.”, sambung Jerzzen. Alendril tak bisa menahan air matanya untuk terus jatuh.
Setelah melepas pelukan kedua adiknya, dia menatap orang-orang di depannya. Ada Kon yang tersenyum padanya sambil mengangguk hormat, dan Alendril membalasnya dengan anggukan sopan yang penuh dengan rasa penyesalan.
Senyumnya merekah saat matanya menemukan Tanus yang tersenyum padanya di belakang Kon. Alendril berjalan mendekat padanya, kemudian berkata dengan pelan tapi sangat bangga, “Putramu…sangat pemberani dan luar biasa.”.
Tanus kaget mendengarnya, namun segera membalas dengan anggukan, “Aku harap dia selalu hidup dalam kebahagiaan.”.
Alendril lalu menatap satu per satu semua orang yang ada di depannya. Dia menyeka air matanya dan dengan senyum yang masih merekah kemudian berbalik menatap Ayahnya.
“Kau siap untuk ikut kami?”, tanya Raja Visius sambil berjalan menghampirinya. Alendril mengangguk.
“Kalau begitu aku akan mengantarmu.”, Joline tiba-tiba sudah menggenggam tangan kanannya.
Alendril menatapnya, “Terima kasih.”, bisiknya. Joline tersenyum dan mengangguk.
Tiba-tiba pandangan mata Alendril memburam, dia merasakan tubuhnya berputar pelan, lalu bertambah cepat dan kini sangat cepat. Setelah merasakan tubuhnya sudah berhenti berputar, Alendril membuka matanya.
Kini dia berdiri sendirian di sebuah tempat dengan cahanya berwarna amber keemasan yang melingkupi tempat itu.
“Tunggu dulu…”, katanya tiba-tiba, “…kenapa tadi aku tak melihat Voctorius, Sam dan Istrinya?”, tanyanya pada udara kosong.
“Karena jiwa mereka dihidupkan kembali untuk menjadi jiwa yang baru di kehidupan sekarang ini.”, tiba-tiba terdengar suara menggelegar dari arah belakang Alendril. Lelaki itu segera berbalik, dan menemukan Teshra dengan anggun berdiri menatapnya. Sisik amber keemasannya bersinar sangat cerah dan menyilaukan mata.
“Kau masih memiliki niat untuk mencincangku, Alendril?”, tanya Teshra menggoda. Alendril tertawa kecil, lalu melangkah mendekat ke naga itu.
“Apa kau sudah kembali ke alam sana?”, tanya Alendril.
Teshra tertawa, “Ya. Dengan bantuanmu yang sebenarnya memaksaku kembali.”.
“Tapi memang ini sudah saatnya untukmu kembali, Teshra…”, sebuah suara muncul dari samping Alendril. Seorang lelaki dengan rambut cokelat keemasannya yang panjang sebahu serta mata beriris peraknya yang bersinar cerah.
“Kau..?”, tanya Alendril.
Pria itu tersenyum, “Aku Kakekmu, Alendril.”, lalu menepuk bahu Alendril. Alendril tersentak kaget, lalu buru-buru membungkuk hormat pada lelaki itu, Pertapa Tan.
“Aku akan mengajakmu pulang bersama Teshra, namun sebelum pulang, kau harus mengembalikan dulu apa yang kau rebut dari Tanah Tan ini secara paksa.”, Pertapa Tan menatap tajam cucunya itu. Alendril kebingungan, lalu menatap Teshra.
Teshra berjalan dengan langkah pongah khasnya ke arah Alendril, “Sebagian kekuatan Naga Amber yang sengaja kau masukkan ke jantungmu untuk membelah jiwa di masa lalu. Itu kriminal terkejam yang pernah kau lakukan dan membuatmu jadi Terkutuk.”.
Alendril menatap Teshra sejenak, lalu dia menunduk dan tangannya memegang dada kirinya, “Bagaimana caraku untuk melepaskannya?”, tanyanya sedih.
“Dia yang akan membantumu.”, Teshra menjawab, dan seorang pemuda dengan rambut hitam dan iris mata orchidnya keluar dari balik Teshra. Pedang Visius berada di genggaman tangannya.
“Leon?”, tanya Alendril.
Raja Leon mendekat, lalu menatap Teshra bingung, “Bagaimana…maksudku, apa yang terjadi? Kenapa aku disini?’, tanyanya.
Pertapa Tan lalu menghampirinya, “Anakku, jiwa yang menjadi milikmu saat ini adalah jiwa yang pernah hidup sebagai Voctorius di masa lalu. Ada kalanya dalam proses penciptaan kehidupan, beberapa jiwa berharga yang masih diberikan kepercayaan untuk menjalankan tugas di dunia, namun ternyata meninggal sebelum takdirnya, akan dikembalikan untuk hidup menjadi jiwa baru.”,
“Voctorius di masa lalu mengalami kematian yang bukan takdirnya karena Alendril mengajaknya masuk dalam lingkaran kutukan kekuatan hitamnya. Termasuk cucu buyutku, Sam dan Istrinya, Lily. Jiwa kalian bertiga kemudian dikembalikan lagi ke dunia untuk hidup sebagai jiwa baru. Bukan lagi sosok Voctorius, namun seorang Leon. Bukan lagi Sam dan Lily yang dulu, namun Sam dan Lily yang baru.”,
__ADS_1
“Ada beberapa takdir milik jiwa baru yang berjalan dengan perjalanan hidup yang sama seperti jiwa terdahulu. Namun ada juga yang tidak. Seperti halnya takdir Voctorius yang naik tahta setelah Visius meninggal, hal tersebut sama denganmu yang naik tahta setelah Julius meninggal. Namun Voctorius yang menikah berbeda denganmu yang memilih untuk hidup sendiri.”,
“Sam putra Tarren memiliki pribadi yang menyenangkan, ramah, dan sangat sopan. Berbeda dengan Sam putra Frank sekarang yang tak menyukai berteman, cenderung temperamen, dan menutup diri. Lily istri Sam adalah sosok perempuan yang sangat menurut pada aturan, tidak menyukai kekerasan dan bela diri serta lebih menyukai mengurus rumah tangga. Beda dengan Lily yang hidup sekarang, dia adalah sosok perempuan pemberani dan mandiri. Dia juga bisa mengurus pekerjaan rumah tangga namun juga lihai dalam bertarung. Secara sifat dan karakter dia benar-benar sangat mirip dengan Menantuku, Kristelle.”,
Pertapa Tan tersenyum, “Meskipun berbeda sifat dan karakter dengan kehidupan jiwa mereka di masa lalu, namun takdir yang telah ditulis sejak dulu bahwa seorang Sam akan berjodoh dengan Lily, itu tak bisa dipatahkan oleh siapapun. Sejak dulu, mereka adalah pasangan yang akan memiliki peran sentral dalam perjalanan Tanah Tan meraih kemenangan, kedamaian, dan kemakmurannya. Meskipun mereka bukan pasangan yang akan memimpin Kerajaan di tanah ini.”.
Alendril menatap Kakeknya itu, dan menyahut, “Mereka luar biasa. Aku sudah mengakui kapasitas mereka yang terdahulu, terlebih yang sekarang. Sam dan Lily yang hidup di masa sekarang ini jauh lebih kompak dan memiliki keberanian yang besar.”, lalu menatap Leon dengan sedih, “Jika memang begitu, berarti aku tak bisa bertemu Voctorius? Karena jiwanya masih berada di dunia ini sebagai Leon…”.
Pertapa Tan menepuk bahunya, “Meskipun jiwa mereka adalah satu, namun mereka memiliki roh dan kekuatan yang berbeda. Kau bisa menemui Adikmu tercinta saat kau sudah di alam sana. Dia menantimu.”.
Alendril menatap Pertapa Tan kaget, namun kemudian mengangguk mengerti. Ada kerinduan membuncah dalam hatinya, yang siap ia keluarkan ketika bertemu Voctorius nanti.
“Sekarang, lakukanlah, Yang Mulia!”, Teshra menatap Raja Leon. Pemuda itu lalu menatap pedang Visius miliknya, kemudian menatap Alendril yang mengangguk padanya.
Dengan cepat, Raja Leon menusukkan pedang itu ke jantung Alendril. Menyebabkan lelaki itu berteriak kesakitan. Namun teriakan itu tak lama, sebab Alendril perlahan-lahan menghilang, dan berganti dengan sebongkah batu kecil berwarna amber yang berkilau cemerlang di tempat lelaki itu tadi berdiri. Selain itu juga ada seberkas cahaya putih yang ikut keluar dari bongkahan batu tersebut. Itu adalah jiwa murni mendiang Ibu Lily yang telah berhasil keluar dari belenggu kekuatan hitam Alendril, dan kembali ke alam sana dengan tenang.
Teshra mendekat lalu menelan batu itu. Kemudian naga tersebut menatap Pertapa Tan, “Tugasku sudah selesai. Bisakah aku kembali?”, tanyanya. Pertapa Tan menggeleng.
“Kau melupakan orang penting yang harusnya kau sapa dulu sebelum kepergianmu dari dunia ini, Teshra.”, jawab Sang Dewa. Teshra sejenak terlihat bingung, namun setelah teringat sesuatu dia mengangguk.
“Aku akan menemui Anak Bodoh itu sebentar. Tunggu aku.”, lalu berjalan pergi meninggalkan Pertapa Tan dan Raja Leon yang masih berdiri diam.
Pertapa Tan kemudian menatap Raja Leon yang juga menatapnya, dia tersenyum, “Ini pertama kalinya Teshra bisa begitu dekat dengan seseorang, selain aku.”, gumamnya.
Sam, Lily, Putri Eloys, dan Nefrisa berdiri dalam diam di tempat serba putih yang berbau harum itu. Cahaya zamrud yang berpendar cerah berada di depan dada Lily. Mereka menantikan, apakah yang mereka lakukan bisa berjalan lancar atau justru gagal. Yaitu memanggil Raja Visius dari alam sana untuk menjemput Alendril pulang.
Putri Eloys menangkupkan tangannya dengan khawatir. Sedangkan Lily menggigit bibir bawahnya. Sam masih menatap pemandangan serba putih di depannya, menantikan sesuatu terjadi. Namun Nefrisa terlihat lebih tenang.
Tiba-tiba dari kejauhan dimana pandangan Sam berada, sosok naga dengan sisik ambernya yang cerah berkilauan datang. Dia berjalan dengan cara jalan pongah yang sudah sangat dihapal oleh Sam.
“Teshra?”, Sam bergumam pelan sambil menyipitkan matanya.
“Ya. Ini aku, Bodoh. Kau kagum?”, jawab naga itu, yang secara tiba-tiba sudah berada dengan cepat ada di depannya. Sam kaget dan mundur selangkah.
“Tapi..tapi…sisikmu..?”, tanya Sam bingung.
Teshra tertawa keras dengan suara menggelegar khasnya, “Ini sisik asliku. Bagus bukan?”, tanyanya masih tetap dengan nada penuh kepongahan.
Sam menatapnya kecut, lalu mencibir, “Seperti Naga Banci…”.
“Hei…jaga bicaramu, Bocah!”, Teshra yang kaget mendengar hinaan Sam secara refleks mengangkat kaki hendak menendang Sam, namun Lily dan Putri Eloys segera mencegahnya sambil tertawa kecil.
“Astaga…asataga…kalian ini..”, Nefrisa ikut tertawa.
“Kami bahkan belum menikah!”, jawab Lily, bersamaan dengan Sam.
Teshra dan Putri Eloys saling pandang, lalu terkikik geli. Sedangkan Sam dan Lily menunduk malu.
“Jangan-jangan kau tak ada niatan menikahinya?”, goda Teshra pada Sam. Sam melotot ke arahnya, mengisyaratkan naga itu untuk tidak meneruskan ocehannya.
“Kalau dia tak kunjung mengajakmu menikah maka tinggalkan saja dia, Nak. Kau tak boleh hidup dengan lelaki yang tak bisa memberimu kepastian…”,
Kata-kata Teshra dipotong Lily dengan gumaman pelan, “Sebenarnya dia sudah…”, namun tak meneruskannya.
“OOOOHHHH…!!!”, Teshra menjerit kegirangan. Suaranya yang menggelegar membuat Nefrisa menutup kedua kupingnya.
“Jadi kau ke sini untuk memperolokku atau bagaimana, Naga Aneh?”, Sam menunjuk hidung Teshra dengan telunjuknya, wajahnya memerah.
Teshra menghentikan tertawanya, lalu menatap Sam lekat-lekat. Setelah mata merah darahnya mampu masuk ke dalam iris auburn Sam, Teshra mendesah pelan, “Aku akan pulang.”.
Suasana hening sejenak. Lalu suara Sam terdengar pelan memecah keheningan, “Kapan?”, tanyanya.
Teshra menundukkan kepalanya hingga sejajar dengan kepala Sam, “Sekarang.”, bisiknya. Lily dan Putri Eloys yang mendengar itu, tak kuasa menahan air yang tiba-tiba mengalir dari mata mereka.
“Kenapa?”, tanya Lily. Dia maju dan hendak memegang Teshra namun mengurungkan niatnya. Sam masih menatap tajam mata merah darah sahabatnya itu.
Mata yang tiba-tiba juga tak kuasa menahan air yang perlahan jatuh membasahi sisik amber cerah di wajahnya. Nefrisa yang melihat kejadian itu terkejut, dia menutup mulutnya dengan tangan, ini pertama kalinya dalam sejarah, Teshra Sang Raja Naga Penjaga Bumi menangis.
“Aku sudah menyelesaikan tugasku di dunia. Di bumi. Di Tanah Tan.”, Teshra mengalihkan pandangannya dari Sam ke Lily, “Kini tak ada lagi kekuatan jahat yang akan mengganggu kehidupan di Tan dan Bumi ini. Tak perlu lagi mencari Hati Zamrud, tak akan ada lagi Naga Amber yang akan diwariskan turun-temurun pada Raja-Raja Tan. Kehidupan Tanah Tan dan Bumi akan berjalan normal. Tak ada lagi sihir, tak ada lagi peperangan. Akan ada kebahagian dan kedamaian. Dan kalian cukup menjaganya dengan baik, dari nafsu kalian sendiri sebagai manusia.”.
Teshra lalu berjalan mendekati Lily yang masih sesenggukan, “Aku akan mengingat kenangan indah kita terbang bersama hari itu selamanya. Itu pertama kalinya aku mengizinkan seseorang selain Ksatria Terpilih yang berada di punggungku. Bahkan Raja Voctorius pun tak pernah merasakannya.”.
Lily kaget namun kemudian tersenyum dan mengangguk, “Terima kasih, Teshra Yang Agung. Kau adalah Ksatria sejati tanah ini.”. Gadis itu mendekat dan memberanikan diri memeluk leher Teshra yang merendah di depannya.
Setelah berpamitan dengan Lily, Teshra berjalan ke depan Putri Eloys yang masih berlinang air mata juga.
“Kau adalah satu-satunya Putri Kerajaan yang paling berani dalam sejarah Tan. Kau turun dalam peperangan. Kau pemberani, tak takut mati, dan tidak manja. Aku sangat hormat kepadamu.”, Teshra menunduk kepada Putri Eloys.
Sang Putri tak kuasa menahan keinginannya untuk memeluk leher naga itu seperti yang dilakukan Lily.
Putri Eloys berbisik lembut pada naga itu, “Kau adalah semangat kami, Teshra. Tanpamu aku juga tak mampu berjalan sejauh ini.”.
__ADS_1
Lalu setelah melepaskan pelukannya, Putri Eloys menatap naga itu sambil tersenyum, “Berbahagialah di kehidupanmu yang baru. Amanahmu telah kau tunaikan dengan sangat baik. Kau akan menjadi bagian sejarah tak terlupakan tanah ini, Raja Naga Yang Agung.”, kemudian membungkuk hormat padanya.
Teshra membalas dengan merendahkan kepalanya hormat, “Suatu kehormatan mendapat penghormatan dari Anda, Yang Mulia. Satu pesanku…”, dia mengeraskan suaranya, seperti sengaja menyindir Sam, “…pastikan Putra Tanus itu menikahimu dan memberikan keturunan terbaik untuk masa depan tanah ini.”, lalu tertawa.
Putri Eloys kaget mendengarnya, pipinya memerah. Namun melihat tawa Teshra, dia ikut tertawa, dan mengangguk.
“Sampaikan salamku padanya, dan juga Frei, Luisa, Pangeran Theo, serta para Nefendril. Mereka semua telah menjagaku dengan baik. Para Pejuang Tangguh tanah ini.”. Dan Putri Eloys serta Lily mengangguk dengan senyum di wajah mereka.
Teshra lalu melirik pemuda di sebelah Putri Eloys, yang masih diam mematung, menunduk menatap kakinya. Naga itu berjalan ke arahnya.
“Kau tak ingin mengatakan sesuatu?”, tanyanya. Sam masih tak bergeming.
Teshra mendesah kesal, “Waktuku tinggal sebentar.”. Namun Sam masih diam.
Teshra gusar, lalu merendahkan kepalanya dan menyentuhkan moncongnya ke kening Sam. Membuat pemuda itu kaget dan spontan menatap mata naga itu.
Ada air mata menggantung di ujung kedua mata Teshra. Dan itu membuat Sam tak mampu menahan air yang berada di pelupuk matanya untuk akhirnya jatuh dengan lembut di pipinya.
“Terima kasih…sudah merawatku…dengan sangat baik.”, bisik Sam. Teshra terdiam.
“Maafkan aku, belum bisa menjadi…sahabat yang baik...yah, jika kau menganggapku sahabat.”, lanjut Sam, sambil menyeka air matanya. Lily yang melihat itu hendak melangkah untuk menuju ke tempat Sam berdiri, namun Putri Eloys menarik lengannya dan menggeleng kepada gadis itu. Lily mengurungkan niatnya.
“Aku…tak akan melupakanmu. Selamanya.”, tutup Sam. Lalu tersenyum kepada Teshra. Naga itu terkejut, karena itu adalah senyum termanis yang pernah dia lihat di wajah Sam yang sangat jarang tersenyum tersebut.
“Tentu. Aku akan membunuhmu saat kau berada di alam sana jika setelah ini kau melupakanku.”, Teshra menggoda. Namun Sam tak tersulut emosi, dia masih tetap tersenyum, namun dengan tatapan sendu.
“Aku menyayangimu, Sam. Hiduplah dengan bahagia. Tugasmu masih panjang di dunia. Dan nanti ketika sudah waktumu pulang, kita akan terbang bersama lagi di alam sana.”, Teshra mengangkat kepalanya lagi, menatap Sam dengan tatapan hangat.
Sam mengangguk, “Berjanjilah!”, pintanya.
Teshra mengangguk mantap, “Aku berjanji.”. Dan Sam segera melingkarkan tangannya untuk memeluk leher naga itu. Terdengar suara isakan pelan keduanya, yang membuat Nefrisa pun tak mampu menahan air matanya.
“Sudah saatnya aku dan Teshra pulang, Nak.”, Nefrisa kemudian menyentuh lembut bahu Sam. Sam segera melepaskan pelukannya ke Teshra. Teshra menatapnya.
“Setelah ini Tanah Tan ada di bawah perlindungan kalian dan keturunan kalian semua. Tak perlu lagi ada Dewi Nefrisa karena Para Dewa akan mengontrol semua dari alam sana. Tak perlu lagi ada Teshra karena kekuatan hitam sudah berhasil dimusnahkan untuk selamanya. Hati Zamrud akan kembali lagi ke alam keabadian. Dan Naga Amber tak lagi diperlukan oleh Raja-Raja Tan setelah ini.”,
“Hiduplah dengan bahagia, dan lahirkanlah keturunan-keturunan terbaik untuk Tanah Tan di masa depan.”.
Lalu Sam, Lily, dan Putri Eloys merasakan tubuh mereka berputar. Pandangan mereka meredup dan ada sentakan kuat dari dalam perut yang membuat mereka terlempar dengan sedikit keras.
Eriez menatap khawatir ke arah Putri Eloys yang berpelukan dengan Lily. Kedua gadis itu bertukar pandang, lalu menatap ke arah pemuda beriris biru laut tersebut.
“Apa yang terjadi?”, tanya Eriez. Dia beringsut bangun, namun masih kesulitan. Putri Eloys langsung melepaskan pelukan Lily dan segera membantu kekasihnya itu berdiri. Lily sendiri bingung, menatap sekelilingnya. Semua tak ada yang berubah. Luisa masih membantu Pangeran Theo menyembuhkan lukanya. Frei masih berada di sampingnya. Keempat serigala Eriez masih setia menjaga tuannya.
Lalu tatapan mata Lily tertuju ke arah Bukit Vixy. Tabir gelap yang semula menutupi tempat itu telah hilang. Matahari telah kembali ke peraduannya dan tak meninggalkan berkas cahaya sedikitpun, membuat suasana gelap hanya dibantu penerangan oleh obor-obor milik pasukan kerajaan.
Mayat-mayat bergelimpangan. Orb dan Illio yang hilang tak bersisa. Kuda hitam dan cokelat milik Putri Eloys dan Eriez yang lahap merumput bersama dan kuda-kuda lainnya yang masih hidup. Para Nefendril yang berisitirahat bersama pasukan Kerajaan yang sama-sama kelelahan. Serta pasukan medis yang masih sibuk mengobati mereka yang terluka.
“Apa kalian baru saja dari Dunia Nefrisa?”, Frei mendekati Lily. Lily menatap ke arahnya, lalu mengangguk, kemudian menunduk sedih. Frei mengerti, dia bisa mengetahui apa yang terjadi. Lalu tatapan matanya beralih dari Lily ke arah perut Bukit Vixy.
Putri Eloys menatap Eriez sambil tersenyum, “Semua sudah berakhir, Eriez.”, lalu wajahnya berubah sendu saat melihat lengan kiri Eriez yang hilang.
“Teshra menitipkan salamnya padamu. Kami baru saja dari Dunia Nefrisa.”, lanjutnya. Gadis itu lalu menatap perut Bukit Vixy, Eriez mengikuti arah pandangnya juga.
“Sekarang tanah ini menjadi tanggungjawab kita untuk kita jaga bersama-sama.”, bisiknya.
Apa yang terjadi di Dunia Nefrisa memang tak memiliki pengaruh apapun di dunia manusia. Meskipun seseorang berada di Dunia Nefrisa selama bertahun-tahun, ketika mereka kembali ke dunia manusia, maka mereka akan tetap berada di tempat dan waktu dimana mereka berada. Seperti halnya yang terjadi dengan Putri Eloys, Sam, dan Lily. Mereka bertiga pergi lama di Dunia Nefrisa, namun yang ada di dunia manusia tetap merasakan bahwa mereka tak pergi kemanapun. Waktu di dunia manusia tak bergeser meskipun seseorang menghabiskan lama di Dunia Nefrisa.
Kecuali jika portal waktu yang dijaga kuat oleh Para Dewa bergeser dari porosnya, maka keseimbangan waktu di Dunia, alam sana, dan Kerajaan Dewa bisa berantakan.
Sam bertukar pandang dengan Raja Leon yang masih terduduk lemas di atas tanah. Luka di perutnya telah mengering, dan tangan kanannya masih menggenggam pedang Visius dengan erat. Mereka hanya berdua saja. Tak ada lagi Alendril, dan Teshra.
Sam berdiri, menyarungkan pedangnya lagi ke punggung, lalu berjalan menuju Rajanya tersebut. Dia berlutut dan menawarkan bantuan kepada Raja Leon untuk berdiri. Sang Raja menerimanya.
Mereka berdua berjalan bersama menuju Tress. Sam membantu Raja Leon naik ke punggung Tress, dan dia sendiri berjalan di samping Tress yang menuruni Bukit Vixy dengan pelan. Tak ada obrolan sama sekali di antara mereka. Tak ada suka cita sedikit pun di wajah. Mereka diam dengan pikiran masing-masing.
Begitupun dengan para Pasukan Nefendril dan Kerajaan. Mereka beristirahat dalam diam, sesekali ada yang mengobrol hanya untuk berkenalan. Tim medis fokus mengobati pasukan yang terluka tanpa suara. Tak ada raut kebahagiaan yang tergambar di wajah siapapun meskipun mereka mendapatkan kemenangan.
Tak ada pekik kemenangan, tak ada sorakan kegirangan setelah perang yang begitu menguras tenaga seharian. Setelah mereka berhasil mengalahkan musuh, menyegel kekuatan jahat selamanya. Mereka tak bahagia, karena kesedihan atas rasa kehilangan kawan seperjuangan lebih besar.
Hampir 70 persen pasukan kerajaan yang ikut berperang gugur. Satu serigala Eriez yang terkena serangan Orb, akhirnya meninggal dunia. Eriez menatap keempat serigalanya dengan sedih, lalu mengelus kepala mereka satu per satu dengan penuh sayang. Dia berjanji kepada dirinya sendiri, tak akan pernah meninggalkan dan menyia-nyiakan mereka berempat selamanya.
Mereka semua kehilangan salah satu nyawa dan penyemangat terbesar mereka dalam peperangan ini. Teshra Yang Agung. Yang ikut gugur dalam peperangan ini. Meninggalkan kenangan manis bagi semuanya, bahkan yang belum pernah mengenal sosoknya sekelipun.
Sam dan Raja Leon yang ada di atas Tress terlihat datang mendekat, dimana para Pasukan Kerajaan dan Nefendril segera berdiri memberikan kedua orang itu penghormatan. Mereka berdua adalah pahlawan kebanggaan tanah ini. Mereka adalah pemimpin yang luar biasa.
Lily menatap haru Sam yang terlihat kotor dan kelelahan. Sedangkan Sam menatap gadis tercintanya itu dengan sedih, terlebih saat menatap goresan memanjang yang ada di wajah manis. Dia menyesal tak bisa melindungi kekasihnya itu dengan baik, sehingga menyebabkannya terluka.
Terlebih saat melihat sahabatnya, Eriez, yang harus kehilangan lengan kirinya. Dia merasa tak mampu menjaga orang-orang yang dicintainya. Hatinya sakit, dan lebih sakit lagi saat merasakan penyesalan atas kepergian Teshra.
Namun melihat mereka menyambut dirinya dengan senyuman lega, dengan pelukan yang hangat, dan syukur yang tak terkira, membuatnya sadar. Bahwa ini adalah perang. Ini adalah perjuangan yang tentu membutuhkan pengorbanan tak sedikit. Hidup dan mati yang dipertaruhkan. Bahkan harus siap kehilangan siapapun yang dicintai jika memang itu yang terjadi.
__ADS_1
Sam tersenyum saat Frei membantunya untuk duduk dan mendapat perawatan dari tim medis. Luka-lukanya tak banyak. Dia mensyukuri itu. Dan dia juga lega telah menepati janjinya pada Raja Julius dan Raja Leon untuk menjaga Putri Eloys dan membawanya dalam keadaan sehat dan selamat kembali ke Istana.
Raja Leon segera mendapatkan perawatan atas luka parah di perutnya, namun sebelum dia berbaring untuk diobati tim medis, dia memerintahkan pasukannya yang membawa logistik untuk membagikan makanan dan menikmati makan malam bersama-sama di tempat mereka saat ini berada.