Hati Zamrud

Hati Zamrud
Ksatria Yang Agung dan Perempuan Adil


__ADS_3

Pangeran Theo menatap langit dari kaca kamarnya dengan wajah yang sendu. Dia teringat peristiwa mengerikan malam itu, yang merenggut nyawa Ayahnya dan hampir sebagian besar penghuni Istananya.


Kini dia serta beberapa penghuni Istana yang selamat dan berhasil melarikan diri telah ditampung di dalam Istana Tan. Sebagian lagi dirawat di Desa Jurg, desa paling aman di Kerajaan Tan, karena letaknya yang dekat dengan Istana, sekaligus berisi orang-orang yang pandai bela diri.


Frank masuk, dan menunduk hormat pada Sang Pangeran. Setelah Pangeran Theo mempersilahkannya, Frank duduk di kursi dekat kasur tempat Pangeran Theo duduk.


“Yang Mulia, Raja Leon telah mengevakuasi seluruh penduduk Cha ke wilayah Tan. Kini semua penduduk Tan dan Cha tinggal dalam satu camp di wilayah desa Jurg, Ressian, dan Torne. Kami membentuk tempat tersebut sebagai camp pengamanan penduduk, agar nanti ketika perang terjadi, mereka tetap aman. Para Bangsawan Tanah Kressia telah mengirimkan bala perwira dan pasukan terbaik untuk kita. Mereka sedang dalam perjalanan.”.


Pangeran Theo tersenyum, “Terima kasih, Frank. Sampaikan juga terima kasihku pada Yang Mulia Raja Leon. Aku akan berada di sini, dan berperang bersamanya nanti.”. Frank mengangguk, dan membalas senyumnya.



Lily menatap Sam yang tengah berlatih duel pedang dengan Eriez yang mulai kewalahan dengan kegesitan temannya tersebut. Lily lalu mendesah. Sebenarnya dia ingin sekali menyampaikan mimpinya semalam pada Sam, tapi dia antara takut dan malu. Takut jika dikira berbohong, dan malu…entah kenapa merasa malu jika menceritakannya.


Namun dia juga merasa bersalah jika terlalu lama memendam cerita tentang mimpi itu. Apalagi mereka saat ini benar-benar membutuhkan batu mulia tersebut. Jika mimpi itu benar, maka dia akan menjadi orang yang paling bersalah jika tak menceritakannya pada Sam, atau Teshra, atau Eriez, dan tentunya Putri Eloys.


Putri Eloys melirik Lily yang masih menatap Sam dengan tatapan tercabik antara bingung, sedih, dan takut. Putri ingin bertanya ada apa, namun mengurungkan keinginannya tersebut.


Sedangkan Teshra yang mulanya asyik melihat latihan Sam dan Eriez, pelan-pelan mengalihkan tatapan matanya kepada Lily. Menatap gadis itu dengan tatapan penuh arti.


“Oh sudahlah, Sam. Aku tak kuat lagi…”, Eriez tiba-tiba berteriak. Dia kemudian duduk dan meletakkan pedangnya. Nafasnya terengah dan keringatnya membanjir.


Sam menyeringai dan berjalan mendekat padanya sambil menyarungkan lagi pedangnya, “Padahal ini semakin menyenangkan.”, dia mengulurkan tangan, menawarkan bantuan pada Eriez untuk berdiri. Eriez membalas seringaiannya dengan senyum kecut, lalu menerima uluran tangan sahabatnya itu dan berdiri.


“Baik, saatnya makan siang.”, Putri Eloys berdiri dan mengajak teman-temannya segera turun dari bukit dan bergabung dengan Para Nefendril untuk makan siang bersama. Sam dan Eriez terlihat ceria dan segera berjalan beriringan menuju Sang Putri.


Namun kemudian Teshra bersuara, “Kau tetap disini dulu.”, matanya menatap Sam. Sam membalas tatapannya dengan ekspresi memprotes.


Teshra mengabaikan Sam dan memutar kepalanya untuk bertemu pandang dengan Lily, “Kau juga.”, membuat Lily terkejut.


Eriez yang kebingungan saling tatap dengan Putri Eloys. Teshra menunduk hormat pada Sang Putri, “Kumohon tinggalkan kami bertiga dulu, Yang Mulia.”. Putri Eloys menatap khawatir Lily yang terlihat agak ketakutan, lalu akhirnya mengangguk pada Teshra.


Setelah Eriez dan Putri Eloys pergi, Teshra menatap Sam dan Lily bergantian, “Aku akan pergi ke Bukit Vixy, di Gunung Tannosi. Bukit itu adalah Bukit tempat Pertapa Tan disemayamkan. Sejak aku tertidur, aku belum mengunjunginya lagi. Jika kalian sudah selesai berbicara, panggil aku.”, dia lalu mengembangkan sayapnya bersiap terbang,


Namun Sam berteriak padanya, “Hei Naga Aneh, apa maksudmu? Kau meminta kami berdua tinggal disini bersamamu, lalu sekarang kau akan meninggalkan kami?”, wajahnya memprotes.


Teshra mendesah malas, “Yang butuh mengobrol itu kalian berdua, aku hanya memberikan fasilitas saja. Sudah ya, aku pergi dulu.”, dan naga itu dalam sekejap sudah terbang meninggalkan Sam dan Lily yang masih menatapnya semakin meninggi dengan wajah bingung.


“Huh!”, Sam mendengus sebal. Dia lalu melirik Lily yang kemudian mengalihkan tatapannya ke tanah. Entah kenapa tiba-tiba suasana menjadi canggung. Namun Sam menyadari sesuatu. Ada yang aneh pada gadis itu. Sam berjalan mendekat, sedangkan Lily merasakan degupan jantungnya sedikit tidak karuan.


“Ada yang kau sembunyikan dariku?”, tanya Sam. Tatapan matanya tajam, dan Lily hanya bisa menunduk semakin dalam.


Putri Eloys menatap ke arah pintu bagian atas gua, yang menghubungkan dengan bukit tempat Sam dan Lily berada, dengan wajah khawatir. Dia tengah membantu Luisa dan beberapa Nefendril yang menyiapkan makan siang di meja makan utama Kamar Teshra. Meja itu biasa digunakan makan oleh tamu agung, dan kali ini tamu agungnya adalah Sam, Putri Eloys, dan otomatis Eriez serta Lily yang membersamai mereka.


“Mereka akan baik-baik saja, Yang Mulia.”, Eriez yang tiba-tiba sudah ada di samping Sang Putri, berbisik padanya dengan lembut.

__ADS_1


Putri Eloys menatap pemuda itu, lalu tersenyum, “Kuharap begitu.”, gumamnya.


Lily masih diam membisu. Sedangkan Sam semakin tak sabar melihat gadis itu hanya menunduk dan menghindari tatapan matanya.


“Oh ayolah, aku sudah lapar. Jadi katakan saja apa yang kau sembunyikan itu?”, Sam menggerutu. Namun Lily masih diam.


Melihat Lily masih tak bereaksi, Sam lalu duduk kesal dan meletakkan pedangnya sembarangan, “Baiklah. Kita akan kelaparan sampai mati.”, gerutunya sambil menyilangkan lengan di depan dadanya.


Lily pelan-pelan mengangkat wajahnya, melirik pemuda itu. Pemuda yang temperamen, dengan emosi yang cukup meledak-ledak, namun memiliki hati yang baik dan setia kawan. Lily entah kenapa, merasa sesak melihat Sam. Dia sendiri tak tahu rasa sesak itu karena apa. Namun terasa menekan dadanya.


Tanpa disadarinya, saat dia masih menatap pemuda itu, Sam sudah berbalik kepadanya dan mereka bertemu pandang. Lily langsung kembali menunduk dengan gugup. Sam bangkit, mengambil pedangnya lagi dan berjalan menuju hadapan Lily.


“Katakan…atau kupaksa?!”, Sam melakukan posisi seperti hendak menarik pedangnya. Lily yang terkejut refleks menarik pisau pemberian Sam dan menatap tajam pemuda itu. Sam tersenyum padanya.


“Ternyata refleksmu bagus sekali dalam pertahanan diri.”, Sam memujinya. Membuat Lily menjadi malu, wajahnya memerah. Dia lalu memasukkan pisaunya kembali ke dalam mantel.


“Jadi apa itu? Yang kau sembunyikan.”, Sam kembali menanyainya.


Lily diam sesaat, lalu menatap iris auburn Sam. Dengan bibir sedikit bergetar dia bersuara, “Aku…aku semalam bermimpi.”. Sam mengerutkan kening, namun dia tak bertanya, membiarkan Lily meneruskan ceritanya.


Lily mendesah, “Tapi, aku pikir pasti kau dan yang lainnya akan menganggapku berbohong.”.


Sam tersenyum kecut, “Kau bahkan belum menceritakan isi mimpi itu.”, dengusnya. Lily melemparkan pandangan sebal pada pemuda itu.


“Sebab…”, Lily berhenti sejenak, “…aku bertemu Nefrisa…di mimpi itu.”. Suasana hening. Angin siang hari berdesir, menggoyangkan rambut mereka.


“Tapi Nefrisa hanya…”, kata-kata Sam dipotong oleh Lily, “Menemui Raja Tan, atau pemilik kekuatan pemanggil Roh Nefrisa yang adalah keturunan Bangsawan Visius. Aku tahu.”.


Sam merasa bersalah, “Ah maaf, maksudku…yah aku hanya heran, sedikit aneh.”, dia menggaruk rambutnya yang memang sudah berantakan.


Lily menatap langit, menarik nafas dalam, menghembuskannya pelan lalu melanjutkan, “Dalam mimpiku Nefrisa menunjukkan sebongkah cahaya hijau yang indah dan memintaku menggenggamnya. Ketika aku menggenggamnya, cahaya itu berubah menjadi batu kristal berwarna zamrud. Dan ketika aku bangun, benda itu sudah tak ada. Terdengar seperti suatu kebohongan bukan?”, Lily tersenyum kecut.


Sam berpikir sebentar, “Apa Nefrisa mengatakan apa nama benda itu?”.


Lily menatapnya, lalu mengangguk, “Namanya…Hati Zamrud.”, gumamnya lirih. Sam tiba-tiba menepuk kedua bahu Lily dengan semangat, membuat gadis itu kaget dan menatapnya.


“Itu dia! Kita menemukannya! Kita harus segera memberi tahu Teshra dan lainnya!”, Sam hendak bersiap memanggil Teshra ketika kemudian Lily mencekal lengannya,


“Kau yakin dengan mimpi itu?”, tanyanya.


Sam mengerutkan kening, “Memangnya kenapa?”.


Lily menggeleng, “Aku sendiri tak yakin tentang kebenarannya kau tahu…”, namun Sam kembali menepuk kedua bahunya, kali ini menatap gadis itu lebih dalam, iris auburnnya terlihat bersinar indah karena pantulan sinar matahari.


“Dengar! Benar atau tidak mimpi itu, kita tetap harus menyampaikannya pada Teshra dan kedua teman kita. Kita akan tahu juga dari Teshra, apakah itu benar benda yang sedang kita cari atau bukan. Dan lagi…”, kata-kata Sam dipotong oleh Lily dengan suara cukup keras, “Tapi Hati Zamrud hanya bisa digenggam oleh Perempuan itu…kau tahu kan? Perempuan Adil atau apalah itu!”.

__ADS_1


Sam terhenyak, namun bertanya kepada gadis itu dengan nada lebih lembut, “Memangnya kenapa?”.


Lily menunduk lagi, entah kenapa hatinya kembali sakit, dia juga tak tahu apa alasannya, “Tidak ada apa-apa…hanya saja…”, Lily tak melanjutkan kata-katanya.


Sam lalu tersenyum padanya, “Kau takut jika Perempuan itu adalah dirimu?”. Lily menatap Sam sejenak, lalu mengangguk pelan.


Sam tertawa kecil, lalu menyandang kembali pedangnya di punggung, “Siapapun Perempuan itu tak penting sekarang, yang penting benda sialan itu sudah ditemukan. Aku lapar.”, pemuda itu menatap langit dan membentangkan kedua tangannya, meneriakkan nama Teshra.


Lily duduk di atas kasurnya dengan gugup, menghindari tatapan mata Putri Eloys yang seperti terus meminta penjelasan padanya. Dia akhirnya menyerah, dan menatap ke arah sahabatnya itu, “Oh Yang Mulia sudahlah…”, wajahnya memelas.


Putri Eloys berdiri di depannya sambil berkacak pinggang, “Kenapa tak menceritakannya padaku semalam?”, protesnya.


Lily mendesah, “Kan sudah kujelaskan semua di meja makan tadi. Semuanya, Yang Mulia. Dari isi mimpi sampai kenapa aku ragu menyampaikannya kepada kalian. Yah, aku lelah mengulanginya...”.


Putri gusar, dia duduk dengan kasar di samping Lily. Lily menatapnya, “Kumohon, maafkan aku…”. Melihat tatapan mata Lily yang memelas, Putri tersenyum.


“Menurutku, kau bukan hanya takut dikira berbohong, tapi ada satu alasan lain kenapa kau ragu menceritakannya kepada kami.”, mendengar perkataan Putri Eloys, Lily sedikit terkejut, namun dia diam saja, membiarkan Putri melanjutkan perkataannya.


“Kau takut kan…jika perasaan terdalammu diketahui orang lain?”, dan pertanyaan terakhir Putri Eloys itu membuat jantung Lily serasa berhenti.


Eriez masih menatap Sam yang berusaha menghindari tatapannya dengan pura-pura sibuk membaca buku yang dipinjamnya dari Frei. Namun karena Eriez tak berhenti menatapnya, Sam jengah.


“Sudahlah! Berhenti menatapku seperti penjahat!”, dia melayangkan wajah protes kepada sahabatnya itu. Eriez kemudian berjalan mendekat padanya, dia berdiri di depan Sam dan berkacak pinggang,


“Sesuatu terjadi padamu dan Lily…dan kami tak mengetahuinya.”, gumamnya dengan seringai menggoda.



Malam semakin larut. Saat para Nefendril telah terlelap, keempat anak muda, diikuti Frei dan Luisa, justru keluar dari kamar diam-diam dan menuju ke kamar Teshra Yang Agung. Teshra telah menunggu mereka berenam di atas singgasananya.


“Putriku, kau sudah siap?”, Teshra menatap Lily, yang dibalas anggukan oleh gadis itu. Mereka akan melakukan ritual penyatuan kekuatan Hati Zamrud dengan kekuatan Nefrisa serta Teshra dan Ksatria.


“Yang Mulia, berikan energi kekuatanmu pada Perempuan Adil dan Frei berikan energi Nefrisamu pada Ksatria Yang Agung.”, perintah Teshra. Frei segera menggenggam tangan Sam, dan Putri Eloys menggenggam tangan Lily. Sedangkan Eriez dan Luisa berjaga di pintu kamar, menatap mereka.


“Kita akan menuju Dunia Nefrisa sebentar lagi, dengan tubuh kalian, bukan lagi sebatas lewat mimpi. Aku telah ke Bukit Vixy hari ini dan meminta izin Para Dewa melakukan ritual ini. Ini akan menjadi penyempurna kekuatan kita, untuk melawan Jadze nanti. Kuharap, setelah ini, Hati Zamrud akan bisa berwujud nyata di dunia manusia. Sehingga kita bisa menyegel Jadze selamanya.”, Teshra lalu menutup mereka berempat dengan sayapnya.


Cahaya amber keemasan berpendar melingkupi Sang Naga, membuat Eriez dan Luisa menutup mata mereka karena silau. Tak berapa lama, cahaya itu memudar, menyisakan Teshra, Putri Eloys, dan Frei.


Putri Eloys kebingungan, “Teshra, kenapa kau masih disini?”, tanyanya.


Teshra menunduk dan melenguh pelan, “Apa aku pernah berkata akan membersamai mereka disana? Aku hanya akan mengantar saja.”.


Raut wajah Putri berubah pucat karena khawatir. Eriez segera mendekatinya, dan mengelus bahunya pelan.


“Tenanglah, Yang Mulia. Ritual ini memang hanya bisa dilakukan mereka berdua. Setelah kekuatan Hati Zamrud masuk ke dalam tubuh Ksatria, Ksatria bisa membangkitkannya dengan kekuatan Nefrisa dan Teshra.”, Frei tersenyum.

__ADS_1


Eriez menatap Putri lembut, “Mereka akan kembali.”, bisiknya.


__ADS_2