
Alendril berdiri menatap hujan yang turun dari langit dengan tatapan sedih. Lengan kirinya berdarah akibat sabetan pedang Raja Leon. Sementara Sang Raja mulai kehabisan tenaga, masih menelungkup di tanah. Perutnya tergores Joulath Alendril, dan keningnya berdarah.
Alendril lalu menunduk menatap Raja Leon di bawahnya, tatapannya sendu, “Apa kau masih kuat melanjutkan? Aku belum mati, kau tahu. Dan aku tak semudah yang kau kira untuk dikalahkan.”.
Raja Leon menatap Pangeran itu, dia benar-benar sudah mencapai titik puncaknya saat ini. Darah yang mengalir dari perutnya belum berhenti juga. Dia mulai merasakan pandangan matanya mengabur.
“Kau boleh meminta tolong mereka jika mau.”, Alendril masih menatap sendu Raja Leon. Sang Raja menatap iris biru laut lelaki itu. Dia bisa merasakan kesepian luar biasa yang tersembunyi di dalamnya. Rasa kesepian yang mendorongnya pada dendam dan menjauhkannya dari cinta.
“Aku yakin mereka akan dengan senang hati menolongmu.”, Alendril mengangkat pedangnya dengan arah menghunus ke bawah, posisi hendak menusuk Raja Leon yang sudah tak berdaya. Raja Leon masih diam, tak bereaksi.
“Kenapa? Kau ragu kan?”, tiba-tiba Raja Leon bersuara, setelah mendapati keheningan dan tak ada gerakan lagi dari Alendril untuk menyerangnya. Alendril menatapnya, lalu beralih ke Naga Amber yang berpendar kuat di dada pemuda itu.
Alendril tersenyum, “Semangatmu sungguh sangat mirip seperti Voctorius saat seumuranmu. Naga Amber itu juga berpendar kuat di dadanya.”, lelaki itu menurunkan pedangnya lalu berjongkok di depan Raja Leon, “Kau tahu? Aku merindukannya.”, bisiknya.
Sam menurunkan Lily yang terluka dari gendongannya dan menyerahkannya ke tim medis, kemudian dia kembali berdiri untuk berjalan menuju Tress, namun Lily mencekal lengannya.
“Aku harus membantu Raja Leon.”, sergahnya. Lily menggeleng, dia menatap Frei yang ada di belakang Sam. Frei berjalan ke arah Sam.
“Kau harus bersama Teshra, Anakku.”, Frei menepuk bahunya, lalu menatap langit dimana Teshra menukik lembut ke arah mereka.
“Alendril bukan lawan sembarangan, Bocah!”, naga itu mendarat dengan anggun di depan mereka, dan mempersilahkan Sam naik ke punggungnya, “Ayo!”, ajaknya. Sam mengangguk lalu menyandang pedangnya di punggung.
Sebelum berjalan menuju Teshra, Sam menunduk untuk berbisik di telinga Lily, “Aku akan kembali. Jadi jangan berpikir bahwa perintahku sebelum kita berangkat perang bisa kau langgar.”.
Wajah Lily bersemu merah. Saat tangannya hendak terayun akan memukul bahu Sam, pemuda itu sudah lebih dulu berlari menuju Teshra.
“Dasar!”, gumam Lily dengan hati yang menghangat.
Raja Leon tak berdaya saat Alendril menarik Naga Amber yang menggantung di lehernya. Lelaki itu lalu menggenggam dengan kuat batu itu. Raja Leon terkejut saat Naga Amber berpendar jauh lebih kuat di tangan musuhnya tersebut. Seumur hidup dia tak pernah melihat pendaran batu mulia tersebut sehebat itu. Bahkan pun saat dipakai oleh Kakeknya, Raja Brian, yang dilihatnya waktu masih kecil dulu.
Pangeran Alendril menatapnya, “Kau kaget? Karena batu ini berpendar sangat kuat di tanganku?”, tanyanya. Raja Leon masih diam. Perutnya yang sobek masih nyeri sekali dan darahnya belum berhenti mengalir.
“Bahkan Voctorius bilang bahwa pendaran Naga Amber di tangannya tak secerah saat benda ini di tanganku.”, Alendril berdiri, “Tidak. Aku tak ingin mengambil tahtamu, Leon. Aku hanya ingin batu ini. Dan menghancurkannya bersama dengan tanah ini.”. Bulu kuduk Raja Leon berdiri, ada aliran ketakutan yang kuat saat dirinya menatap lelaki di depannya itu.
Langit kembali cerah saat hujan telah reda, matahari mulai muncul dari balik awan. Angin segar kembali bertiup. Alendril tersenyum.
“Apa kau memiliki permintaan terakhir?”, tanyanya. Raja Leon berusaha meraih pedang Visiusnya. Alendril melirik apa yang dilakukan oleh pemuda itu, masih tersenyum.
“Pedang Ayahku, dan aku dulu pernah memakainya saat berlatih. Ayah bilang akan memberikan padaku suatu hari nanti.”, Alendril berjalan dan menendang tangan Raja Leon yang berusaha meraih pedang itu, lalu memungut benda tersebut dan menatapnya.
“Masih sama. Semua masih sama.”, gumanya. Wajahnya kembali sendu.
“Yang Mulia. Apakah Anda tak lelah?”, Sam tiba-tiba datang, turun dari punggung Teshra. Alendril sedikit terkejut menatap pemuda itu, lalu mengangguk sopan padanya, “Kita berkumpul bertiga lagi…oh, ada Teshra juga rupanya.”, senyumnya merekah makin lebar.
“Apa yang akan kau lakukan?”, geram Tehsra. Alendril tersenyum, lalu mengalungkan Naga Amber di dadanya, dan menghunus pedang Visius di tangan kanannya, serta mengangkat Joulath di tangan kirinya.
“Menegakkan keadilan!”, jawabnya mantap, kemudian dengan secepat kilat melakukan gerakan akan menusuk Raja Leon dengan menggunakan pedang Visius, tapi segera tertahan oleh pedang Sam. Raja Leon terbelalak kaget.
Alendril menyipitkan mata dengan tak suka kepada Sam. Dia mengangkat Joulathnya yang mengeluarkan petir ke arah Sam dan mengayunkan pedang ke arah leher pemuda itu. Sam segera berkelit dan berhasil menangkis serangan pedangnya.
“Aku bukan Sam yang dulu kau kenal. Aku bukan dia!”, teriak Sam, sambil mengayunkan pedangnya ke kepala Alendril. Lelaki itu berkelit, namun ternyata serangan Sam berhasil menebas ujung rambutnya. Alendril terkejut, membuat Joulathnya terjatuh dari tangannya.
Raja Leon tak menyia-nyiakan kesempatan segera mengambil Joulath itu, bersamaan dengan Teshra akan mengeluarkan api zamrudnya. Namun Alendril dengan cepat menggenggam Naga Amber di dadanya, meremasnya kuat, sehingga menyebabkan batu itu pecah…berkeping-keping!
“AAAAAAKKKHHHHH…!!!!”, Teshra meraung, darah mengalir dari matanya. Sam dan Raja Leon terkejut menatap apa yang terjadi pada Raja Naga itu. Teshra meraung-raung kesakitan, dia terjatuh dan menggelepar di tanah.
Alendril tertawa. Sam segera berlari menghampiri Teshra, wajahnya pucat pasi, “Hei…HEI..!!!! APA YANG TERJADI…???!!!!”, tanyanya khawatir, ketakutan, dan sedih menjadi satu. Teshra masih mengerang kesakitan seperti akan menjemput mautnya.
Alendril menendang perut Raja Leon yang masih kaget menatap Teshra. Membuat Raja itu tersungkur kesakitan, dan memegang lukanya yang kembali mengucurkan darah segar. Alendril menghentikan tawanya.
“Apakah tak ada yang menceritakan pada kalian bahwa batu itu terbuat dari Hati Teshra? Itulah mengapa dia dinamakan NAGA AMBER. Amber adalah warna asli sisik Teshra, sebelum Pertapa Tan datang dan mengajaknya berbagi kekuatan bersama Nefrisa juga, untuk menguatkan kekuatan terang dalam genggaman Hati Zamrud. Karena hatinya tersegel dalam batu ini, maka sisik Teshra berubah menjadi hitam.”, Alendril berjalan menuju Teshra.
Sam mulai menangis melihat sahabatnya itu diujung maut, “Tolong…tolong jawab aku…Teshra, kumohon…jangan tinggalkan aku…tolong…”, Sam memeluk tubuh Teshra. Berusaha memberikan pertolongan namun dia tak mampu. Teshra sekarat.
“Oh iya aku lupa….rahasia Naga Amber hanya diketahui oleh Ayahku, selain Pertapa Tan, Teshra, dan Nefrisa. Dan bodohnya dia menceritakan padaku karena saat itu berpikir akulah yang akan menggantikannya menjadi Raja, sebelum mereka merenggut Ibu dari kehidupanku.”, Alendril telah berdiri di depan Teshra yang masih meraung kesakitan, dengan darah yang terus mengucur dari mata merah darahnya.
“Sepertinya Nefrisa dan Teshra Yang Agung tak menceritakan pada kalian karena tak ingin kalian tahu kelemahannya sehingga tak fokus pada penyegelan kekuatan gelap dan justru fokus menjaga Naga Amber tersebut. Pasti mereka berdua pikir aku tak tahu rahasia itu, jadi mereka tenang saja, dan mempercayakan keselamatan batu amber itu pada Raja bodoh tersebut.”, lanjutnya sambil melirik dengan tatapan meremehkan pada Raja Leon yang menunduk menatap tanah.
Sam mengepalkan tangannya erat, rasa marah dirinya membuncah. Marah pada Alendril tentu saja, namun dia juga kecewa pada Nefrisa bahkan Teshra. Andai saja dia tahu rahasia Naga Amber dari awal, dia pasti akan berusaha melindungi batu tersebut meskipun Alendril tahu atau tidak tentang rahasia tersebut.
‘Kalian selalu….menyembunyikan hal penting…padaku!!’, Sam menutup mata. Dia menggunakan seluruh kekuatan Hati Zamrud dalam dirinya untuk masuk menemui Nefrisa.
Lily yang tengah tertidur karena kelelahan tiba-tiba terbangun, dia merasakan getaran hebat di dadanya. Suara Sam!
Tatapan mata gadis itu lalu mengarah ke perut Bukit Vixy, tempat dimana terdengar lengkingan keras Teshra dan ada kegelapan melingkupi daerah itu. Semua mata memandang takut dan cemas ke arah tersebut.
Lily meraih batu zamrud yang menggantung di lehernya, menggenggamnya dengan erat. Dia segera bangkit, mencari Putri Eloys.
Petir kembali menyambar dengan keras. Frank menatap langit yang cerah namun terlihat mencekam. Tiba-tiba Neolathnya berpendar. Frank segera menempelkan Neolath itu di dahinya dan merasakan bisikan Frei di telinganya, ‘Teshra terluka parah.’.
Frank tersentak kaget dan membuka matanya dengan penuh ketakutan, “Ini gawat!”, gumamnya.
Lily berlari menuju Putri Eloys yang tengah membantu merawat luka Eriez. Nafasnya tersengal-sengal. Frei berada di belakang gadis itu, berlari mengikutinya.
“Ada apa, Lily?”, Putri Eloys langsung berdiri menyambutnya dengan khawatir. Lily menatap Sang Putri, lalu terkejut melihat lengan kiri Eriez yang hilang.
“Ada apa dengan…”, Lily tak mampu melanjutkan kata-katanya.
Eriez menggeleng, “Lebih dari itu, sebenarnya apa yang membuatmu setakut ini?”, tanyanya pada Lily. Lily kembali tersadar, teringat dengan sentakan hebat dalam dadanya dan suara Sam yang terdengar marah bercampur panik, lalu kembali menatap Putri Eloys.
“Apa Yang Mulia tak merasakannya?”, tanya gadis itu.
Putri Eloys terdiam sebentar, memejamkan mata, lalu membukanya kembali dengan sedih, “Sepertinya aku menggunakan kekuatan Nefrisa saat perang tadi dengan sangat besar, sehingga koneksiku dengan Nefrisa sedikit melemah. Apakah Nefrisa menemuimu?”, tanyanya.
Lily menggeleng, “Tidak, Yang Mulia. Aku tak memiliki kekuatan Nefrisa sehingga bisa dengan mudah terkoneksi dengannya sepertimu. Tadi aku merasakan sentakan hebat dalam dadaku dan menemukan Hati Zamrud ini berpendar cerah. Kekuatan batu ini mengikatku dengan Sam, sehingga aku terkoneksi kuat dengannya.”, gadis itu lalu menatap suasana gelap di perut Bukit Vixy yang masih menarik perhatian semuanya untuk melihat ke arah tersebut, “Aku khawatir…”, bisiknya lirih.
__ADS_1
Putri Eloys menatap Frei, “Apa kita perlu mengirimkan bantuan kesana?”, tanyanya.
Namun Pemimpin Nefendril itu menggeleng lemah, “Kita tak akan mampu, Yang Mulia. Yang ada justru kita akan mengganggu mereka.”.
Lily menunduk sedih. Putri Eloys meraih tangannya, “Lily, kita akan berusaha masuk ke dunia Nefrisa bersama. Apa kau mau mencoba bersamaku?”.
Lily menatap Putri Eloys dengan terkejut, “Tapi, Yang Mulia sedang tidak dalam kekuatan yang penuh…maksudku, sedang melemah…”,
Putri Eloys menggeleng lembut, lalu menunduk menatap Eriez, “Tunggu kami, kami akan kembali.”, kemudian menatap Lily, “Tak ada salahnya mencoba.”.
Sam menemukan Nefrisa berlutut menangis sambil memegangi dadanya. Dengan kesal pemuda itu membentak Sang Dewi, “Jelaskan! Apa yang harus kulakukan sekarang??!”.
Nefrisa mendongak menatapnya. Air matanya berlinang, bibirnya bergetar menjawab, “Tidak ada…Teshra…telah pergi.”, jawabnya lemah. Sam berdiri mematung, terkejut, kesal, marah, sedih, sakit menjadi satu.
“TIDAK!”, suara Lily membuat mereka kaget dan melihat ke arah dimana gadis itu berdiri. Setengah bagian Hati Zamrud miliknya berpendar kuat di tangannya. Putri Eloys ada di samping gadis itu, menangis lemah.
“Kita lakukan…sekarang!”, Lily berjalan menghampiri Sam dan Nefrisa.
Nefrisa berdiri bingung menatap Lily, “Apa maksudmu, Sayangku?”.
“Gunakan batu ini untuk menolong Teshra. Masih ada sebagian nyawa Teshra di dalam batu ini bukan?”, Lily menyodorkan batu zamrud itu pada Nefrisa.
Nefrisa menggeleng lemah, “Tidak. Batu itu tak bisa membantu apapun, dia hanya berisi separuh kekuatan Teshra saja, namun Hati Teshra semua berada dalam Naga Amber yang telah hancur…”.
“Kumohon….”, Lily menangis, dia menatap Sam, “…apa yang bisa kita lakukan untuk Teshra? Aku tak ingin Sam berpisah dari Teshra…Teshra…Teshra segalanya bagi kami, bagi Sam...”.
Sam menunduk, menatap kedua kakinya. Tiba-tiba segala kenangan kebersamaannya dengan Teshra tergambar di benaknya.
Pertemuan pertamanya dengan naga itu, pertengkaran mereka, saat mereka terbang bersama, bercanda bersama, bagaimana naga itu mampu membuatnya tersadar akan rasa cintanya pada Lily, menyemangatinya untuk semuanya, berjuang bersamanya hingga akhir, begitu percaya padanya, dan segalanya. Teshra lebih dari sekedar partner berjuang, dia adalah sahabat, saudara, bagian dari Sam yang tak terpisahkan.
Sam akhirnya menangis. Air matanya membanjir, “Kumohon…selamatkan Teshra…”, gumam Sam lemah di antara isak tangisnya, “…setidaknya kita mencoba. Jika..jika gagal dan aku mati…aku tak masalah… aku akan tenang saat menemuinya di alam sana…karena telah..telah berusaha menyelamatkannya…”.
Nefrisa tak mampu menahan isakan tangisnya makin keras, dia iba melihat Sam. Lalu dengan lembut meraih tangan Lily dan Sam, “Maafkan aku…maafkan kami..”.
“Kenapa? Kenapa kalian tidak menceritakannya dari awal?! Andai saja..andai saja…”, Sam tak mampu melanjutkan kata-katanya. Dia menarik tangannya dengan kasar dari genggaman Nefrisa, dan mengepalkan kedua tangannya sangat kencang, amarah mulai mengaliri darahnya. Nefrisa semakin terisak.
Putri Eloys yang dari tadi diam saja melihat mereka bertiga, tiba-tiba maju dan bersuara pelan, “Nefrisa, apakah aku bisa memanggil seseorang yang telah mati dan hidup di alam sana, untuk menjemput seseorang yang masih hidup di dunia?”, tanyanya.
Nefrisa menatap Putri Eloys kaget. Putri Eloys mendekat padanya, “Bukankah, kau memiliki kekuatan itu?”.
Nefrisa menggeleng, “Tidak, Sayangku! Itu membutuhkan kekuatan yang besar, itu adalah kekuatan pengalihan pikiran dengan bantuan dari orang yang sudah mati dan hidup di alam sana. Untuk mendatangkan kekuatan itu, membutuhkan tenaga yang besar dari Hati Zamrud dan juga Naga Amber. Namun karena Naga Amber telah hancur, maka kekuatan Hati Zamrud harus dimaksimalkan.”,
“Ingat kematian Ratu Floin? Dia berusaha menyegel kekuatan gelap dengan kekuatan Hati Zamrudnya yang melemah, dia memanggil kekuatan dari alam sana, sehingga membuat kekuatan Nefrisa dalam diri Pangeran Sawn hilang dan nyawanya melayang.”,
“Jika kita melakukan itu…maka nyawa si Pemilik kekuatan Nefrisa dan Hati Zamrud bisa melayang…”,
Putri Eloys memotong, “Aku tak ingin menyegel Alendril sekarang, tapi aku hanya ingin mengacaukan pikirannya dengan kekuatan Nefrisa, dengan bantuan seseorang dari alam sana, seseorang yang akan menjemputnya pulang.”.
Nefrisa diam, “Tapi sebelumnya, dari mana kau tahu, Sayangku, tentang kekuatan ini? Kekuatan ini hanya diketahui oleh orang-orang terdahulu, bahkan aku yakin Alendril juga mengetahuinya…bisa jadi dia sudah mengantisipasi hal ini…”.
Nefrisa menatap tak percaya gadis itu. Sam yang tertarik dengan pembicaraan ini kemudian bertanya kepada Putri Eloys, “Apakah ini bisa membantu nyawa Teshra terselamatkan, Yang Mulia?”.
Sayangnya Putri Eloys menggeleng sedih, “Tapi setidaknya bisa membantu Alendril melepaskan rasa dendamnya dan kembali pulang ke alam sana dengan tenang, sehingga…Teshra juga segera terlepas dari siksaan itu, dan pergi…dengan tenang pula.”, gadis itu meneteskan air matanya.
Suasana berubah hening. Ada macam-macam pikiran yang berputar di benak mereka berempat. Segala kemungkinan, segala harapan, bahkan keputus-asaan.
Nefrisa memecah keheningan tiba-tiba, “Siapa yang akan kau panggil untuk masuk ke alam pikiran Alendril, Sayang?”, tanyanya kepada Putri Eloys.
“Raja Visius. Setidaknya dia harus bertanggungjawab menjelaskan semua yang tak diketahui dan perlu diluruskan kepada Pangeran Alendril.”, Sam menjawab. Tatapan Nefrisa beralih padanya.
“Apa maksudmu?”, Lily bertanya.
“Kau ingat dengan ceritaku tentang visualisasi yang Alendril kirim ke pikiranku untuk mengganggu mental dan kekuatanku? Itu adalah kejadian masa lalu dan benar-benar terjadi. Aku bisa menyimpulkan bahwa kunci semua ini, adalah pada Raja Visius. Biarkan dia berbicara dengan anaknya itu, karena kulihat dalam visualisasi itu, dia tak begitu banyak berkomunikasi dengan Alendril kecuali hal-hal yang berkaitan dengan kerajaan, kekuatan, dan tanah ini, sampai akhir hayatnya.”, jelas Sam. Lily mengangguk paham.
“Bagaimana, Nefrisa?”, tanya Putri Eloys. Nefrisa masih diam dalam keraguan.
“Sebenarnya apa yang membuat kalian menyembunyikan rahasia tentang batu Naga Amber ini pada kami dan penerus Raja Visius. Tak ada yang menyangka bukan, bahwa Raja Visius sangat percaya pada Alendril namun tak mengangkatnya sebagai Putra Mahkota dan kemudian seperti menjauh darinya. Kepercayaan Raja Visius tak main-main jika sampai dia menceritakan tentang Naga Amber itu padanya, dan lagi…”, Sam menatap Nefrisa lebih tajam, “…saat dulu Alendril mencuri batu itu, jika dia memang sudah tau rahasianya dan tau bagaimana membunuh Teshra hanya dengan menghancurkan batu itu, kenapa dia tak melakukannya dari dulu?”.
Nefrisa menatap Sam. Dia kagum dengan kecerdasan pemuda itu. Dia tak menyangka Sam sekritis itu dan mampu memiliki analisis dan pemikiran yang sangat brilian. Dia mengakui bahwa Sam jauh lebih pintar dari Raja Visius. Kepintarannya bisa disejajarkan dengan Pertapa Tan, dan Alendril.
“Aku akan mengajak kalian masuk dalam kekuatan visualisasi Hati Zamrud. Di sana kita akan menemukan jawabannya bersama-sama, semua pertanyaan Sam, dan juga…kenapa Alendril bisa memiliki kemampuan visualisasi ini untuk mempengaruhi pikiran Sam waktu itu. Aku tak pernah menggunakan kekuatan itu karena membutuhkan bantuan dari para Manusia Terpilih yang mampu mengendalikan jalannya visualisasi itu. Apakah kalian berminat mencobanya?”, Nefrisa membuka tangannya, “Namun untuk mencobanya, membutuhkan tenaga yang besar, dan dapat menyedot kekuatan Roh Nefrisa dalam diri Eloys, serta menghancurkan Hati Zamrud jika kita tak mampu mengendalikan jalannya visualisasi itu, dan mengakibatkan…kalian tak bisa kembali ke dunia nyata.”, Nefrisa menatap sedih mereka bertiga.
“Baik. Kami siapa!”, Sam menjawab dengan mantap. Nefrisa terkejut, dia hendak mengeluarkan bantahan, namun Lily memotong,
“Kami ingin tahu apa yang harus kami lakukan selanjutnya...”,
Putri Eloys ikut menjawab, “Dan mengetahui bagaimana cara melepaskan dendam dan mengembalikan Pangeran Alendril kembali ke alam sana.”.
Mereka bertiga mendekat ke Nefrisa. Dewi itu memeluk mereka sekaligus, “Baiklah. Semoga kita berhasil melakukannya.”, dia menutup matanya.
Dan tiba-tiba ketiga anak muda itu merasakan tubuh mereka berputar. Sam sudah hafal dengan sensasi ini, sama seperti sensasi yang dirasakannya saat Alendril menarik dirinya dalam visualisasi di Bukit Vixy dulu.
Putri Eloys, Lily, dan Sam berada dalam suasana serba gelap dan sedikit dingin membuat bulu kuduk mereka berdiri. Lily yang berada di tengah meraih tangan kanan Sam dan tangan kiri Putri Eloys, kemudian menggenggamnya dengan erat.
Seorang laki-laki dengan rambut emasnya ada di depan mereka. Sam menyadari siapa dia, yaitu Pertapa Tan. Laki-laki itu menatap langit, dan seekor naga hitam menukik turun menuju arahnya. Teshra.
“Siapa kau?”, tanya Teshra, masih berputar-putar di atas Pertapa Tan muda.
“Aku adalah Tan. Anak dewa yang memutuskan keluar dari Kerajaan Dewa, menukar umur abadiku dengan umur fana untuk hidup di tanah ini.”,
“Apa yang membuatmu tertarik hidup di sini? Di sini tandus, tak ada kehidupan. Hanya ada para keturunana peri yang saling berselisih.”, jawab si Naga.
Pertapa Tan tersenyum, “Aku melihat kekuatan besar dalam tanah ini. Apakah kau adalah naga legendaris yang menunggu bumi ini, tepatnya tanah ini?”, tanyanya. Teshra menapakkan kakinya ke tanah dalam pendaratan yang indah.
Naga itu lalu menatap ke dalam iris perak Sang Dewa, dia mengangguk, “Aku adalah keturunan terakhir dan satu-satunya yang tersisa dari keluarga Naga penunggu Bumi ini. Tanah ini dulunya adalah tempat kami menyatukan kekuatan. Namun semenjak satu per satu dari kami mati, kami tak mampu lagi merawat tanah ini dengan baik. Apalagi kaum peri, Nefendril dan Sementy telah bertahun-tahun lamanya terlibat dalam perselisihan memperebutkan siapa yang paling pantas menjaga Gua suci di tanah ini.”.
__ADS_1
Pertapa Tan kemudian berjalan mendekat ke arah Teshra, membelai lembut sisik bagian kanan tubuh naga itu, “Bukankah kalian selalu terlahir dengan sisik berwarna cokelat keemasan yang indah? Ya..warna amber…”, tanyanya. Teshra menatap ke dalam sinar teduh di mata Dewa itu, lalu mengangguk.
“Aku adalah keturunan terakhir, dan sebelum mereka satu per satu mati karena umur kami yang fana tak seperti kalian para Dewa atau Peri, pemimpin kami yang bernama Gorde membungkus kekuatanku dengan kekuatan miliknya. Sehingga dia bisa menyerap kefanaan yang mengikat jantungku dan memasukkannya dalam sebuah batu mulia yang terbentuk dari kekuatan tersebut.”.
Pertapa Tan terlihat tertarik, “Batu mulia?”. Teshra membuka mulutnya, memuntahkan batu berwarna amber yang berpendar sangat cerah.
“Itu adalah umur fana yang ada dalam jantungku, bersatu dengan hati milikku, dan disegel dengan kekuatan Gorde di dalamnya. Itulah mengapa dia berwarna amber, menyerap warna asli tubuhku dan menyisakan warna hitam ini.”, jawabnya.
“Lalu apa yang akan terjadi kemudian?”, tanya Pertapa Tan.
“Aku bisa hidup sangat lama, bahkan sampai akhir dunia ini. Selama batu itu tak hancur. Tak sembarang orang bisa menghancurkannya, kecuali yang memiliki kekuatan gabungan dari para Dewa dan Peri.”,
“Para Dewa dan Peri?”, tanya Pertapa Tan.
Teshra mengangguk, “Ya. Dewa adalah mereka yang bertugas mengontrol jalannya kehidupan di alam semesta. Baik dalam dunia kehidupan maupun dunia setelah kematian. Sedangkan Peri adalah mereka yang bertugas menjaga keseimbangan kekuatan di Bumi, baik kekuatan gelap maupun terang. Sebelum kaum Peri, Elf, terpecah menjadi dua golongan, Nefendril dan Sementy, mereka adalah kaum yang hidup penuh kedamaian. Kemudian muncullah kekuatan dari dasar Bumi, tepatnya di bawah tanah ini. Sebuah kekuatan berbentuk batu zamrud yang hanya bisa dirasakan oleh para Dewa, termasuk kau.”,
“Kemudian ada Elf yang menikah dengan manusia, ada yang menikah dengan dewa. Dan sebagian lain memilih kembali ke alam sana dengan menyerahkan keabadiannya di dunia ini untuk ditukar dengan keabadian hidup di alam sana. Dua kaum yang masih di bumi tetap memiliki umur abadi mereka karena bantuan kekuatan batu zamrud itu. Namun semenjak perselisihan terjadi di antara dua kaum yang masih sedarah itu, batu zamrud tersebut menghilang dan tak bisa ditemukan dimanapun kecuali di dunia para Dewa.”, Teshra mengangkat kepalanya, “Kau tahu Nefrisa?”, tanyanya. Pertapa Tan mengangguk.
“Dewi penjaga Bumi itu berdiam di Gua suci tanah ini, dan itulah mengapa kedua kaum Peri itu berselisih untuk mendapatkan kemuliaan sebagai penjaga gua tersebut. Siapa dari mereka yang berhasil menjadi penjaga Gua itu maka mereka akan diakui sebagai kaum yang suci.”, tutup Teshra.
Pertapa Tan menatap langit. Keputusannya turun ke tanah ini, adalah untuk melindungi batu zamrud yang bisa menjadi incaran kekuatan terang maupun gelap. Selain itu, dia juga ingin bisa membangun tanah ini kembali, sebab poros kekuatan yang mengontrol keseimbangan kekuatan terang dan gelap di bumi ada di tanah ini, tepatnya di Gua suci yang dimaksud Teshra.
“Bawa aku bertemu Nefrisa!”, perintah Pertapa Tan. Dan Teshra langsung mengangguk.
Sam, Putri Eloys, dan Lily merasakan tendangan lembut di perut mereka dan itu membuat mereka merasakan sensasi seperti terbang. Mereka bertiga lalu mendarat di sebuah tempat serba putih, dunia Nefrisa.
“Salam hormat, Saudaraku Nefrisa yang diperintahkan Raja Dewa untuk berdiam di Bumi.”, Pertapa Tan membungkuk hormat, kepada Nefrisa yang membalas dengan anggukan sopan.
“Aku mendengar bahwa kau telah memutuskan pergi dari Kerajaan Dewa dan menukar umur abadimu dengan kefanaan demi menjadi manusia biasa di tanah ini?”, Nefrisa berjalan mendekati Pertapa Tan. Pria itu mengangguk.
“Aku berharap bisa mencegah kerusakan dan peperangan yang akan terjadi.”, dia lalu mengeluarkan Naga Amber dari balik mantelnya, “Teshra memberikanku ini.”, lalu menatap Teshra.
Nefrisa mengambil Naga Amber dan tersenyum, “Batu ini akan membawa kemuliaan pada seluruh keturunanmu. Siapa yang dikehendaki tanah ini menjadi raja dan pemimpinnya, maka batu ini akan berpendar kuat di dalam genggaman orang tersebut. Kau bisa menggunakannya pada keturunanmu, saat memilih siapa yang paling pantas di antara mereka untuk menjadi Raja pertama tanah ini.”, kemudian Nefrisa meniup batu itu, ada sebuah aliran berwarna keperakan yang masuk terserap dalam Naga Amber.
“Aku membersamai batu ini dengan kekuatan visualisasi yang kumiliki. Siapapun yang menjadi Raja atau pemimpin tanah ini, yang memiliki kekuatan batu ini, maka dia bisa terkoneksi denganku dalam duniaku. Dunia Nefrisa Sang Dewi Penjaga Bumi.”, Nefrisa lalu mengembalikan batu itu pada Pertapa Tan.
“Namakanlah tanah ini dengan namamu, Tan.”, usul Teshra. Pertapa Tan mengangguk, lalu menatap langit.
“Aku mendapatkan ramalan bahwa di masa depan akan ada banyak peperangan. Namun ada satu peperangan besar yang akan banyak mengorbankan nyawa. Dan salah satu kaum keturunan Peri akan musnah. Kejahatan akan merajalela.”, lalu dia menunduk sedih.
“Apa kita perlu menggabungkan kekuatan untuk melindungi tanah ini?”, tanya Teshra. Pertapa Tan menggeleng, “Belum sekarang waktunya.”.
Ketiga anak muda itu kembali merasakan dilempar seperti dadu, kali ini dengan sensasi yang agak keras. Lily mulai merasakan mual. Sam yang mengetahui ketidaknyamanan Lily itu, segera meraih gadis tersebut dalam pelukannya. Mereka kemudian tiba di sebuah tempat yang diterangi cahaya zamrud.
“Kita ada di dalam kekuatan Hati Zamrud.”, bisik Lily.
“Darimana kau tahu?”, tanya Sam. Lily lalu mengeluarkan pecahan Hati Zamrud dari genggamannya, menunjukkannya pada Sam. Batu itu bersinar sangat terang.
Pertapa Tan terlihat berjalan dengan bahagia bersama sesosok Sementy yang sangat cantik, berambut hitam dan bermata biru laut. Dia adalah istrinya, bernama Clement. Tiba-tiba ada seorang anak laki-laki berumur 11 tahun dengan rambut cokelat tanah mirip dengan Sam, dan bermata biru laut berlari ke arah mereka.
“Ayah! Ibu!”, panggil anak itu.
“Dia adalah Raja Visius.”, bisik Sam pada kedua gadis.
Pertapa Tan kemudian menunduk menatap putranya, lalu dia bertanya, “Visius, apa menurutmu kau siap jika suatu hari memimpin negeri ini? Kemungkinan beberapa orang dari Tanah Kressia akan bermigrasi kemari, dan hidup bersama kita serta kaum Peri.”.
Sang Anak terkejut, namun kemudian mengangguk mantap, “Aku siap, Ayah!”.
Ketiga anak muda itu kembali terlempar ke sebuah tempat berwarna putih. Putri Eloys yang merasakan mual hebat duduk lemas dengan nafas berat. Sam dan Lily segera membantunya untuk menyamankan diri. Lily mengelus punggungnya, dan Sam meletakkan kepala Putri Eloys di dadanya.
Visius dewasa mengantarkan jasad Ayah dan Ibunya yang meninggal dalam waktu yang bersamaan ke liang lahat. Dia ditemani oleh dua pemimpin kaum Peri, Olexa dan Tanus. Teshra terlihat baru datang dari atas langit, menukik lembut, dan mengangguk hormat pada Visius saat telah berada di depannya.
“Kau akan resmi menjadi Raja Tanah Tan mulai hari ini, Yang Mulia.”, Teshra menunduk hormat padanya, diikuti Olexa dan Tanus.
Visius mengangguk lemah, lalu mengalungkan Naga Amber ke lehernya. Batu itu berpendar sangat terang.
Sam kembali merasakan tarikan hebat. Membuatnya langsung menarik Lily dalam pelukannya juga. Pemuda itu memeluk erat kedua gadis saat mereka tersedot dalam pusaran seperti akan menuju inti bumi.
Visius yang telah menikah dengan Liya setelah kematian Kristelle mendatangi Teshra dalam Gua Nefrisa.
“Katakan padaku, sebenarnya kenapa aku tak bisa mengangkat Alendril menjadi Putra Mahkota?”, tanyanya pada Si Naga. Teshra menatap langit dengan sedih.
“Jadi Nefrisa sudah menemuimu dalam dunianya?”, tanya Teshra tanpa menurunkan pandangannya dari langit.
Visius mengangguk, “Dia mendapatkan visualisasi masa depan Tanah Tan yang porak-poranda di tangan Alendril. Padahal Alendril tidak jahat, dia sangat patuh padaku dan memiliki hati yang lembut. Juga sopan-santun yang tinggi. Dia cerdas dan terampil, disiplin, serta berpikiran maju.”.
Teshra akhirnya menatap Raja itu, “Nefrisa mengatakan padaku, apakah benar Naga Amber berpendar kuat di tangannya?”, tanyanya.
Visius mengangguk, “Dan aku…dengan bodohnya menceritakan tentang apa sebenarnya yang berada dalam batu itu padanya.”.
Mereka saling menatap, “Maafkan kelancanganku.”, Visius membungkuk pada Teshra. Teshra lalu berjalan mendekati Visius.
“Dengarkan aku, Visius. Aku dan Ayahmu serta Nefrisa telah ceroboh menyatukan kekuatan kami dalam Hati Zamrud sehingga membuat keseimbangan kekuatan terang dan gelap tanah ini menjadi terganggu. Kekuatan gelap mulai menunjukkan pergerakannya karena merasa dianaktirikan oleh kekuatan kami. Dia mulai menghantui kaum keturunan Peri yang memiliki setengah darah manusia dalam tubuh mereka. Darah manusia yang mengalir di tubuh mereka lah yang menarik kekuatan gelap untuk mempengaruhi mereka dalam persekutuan yang bisa menghancurkan dunia ini. Anda tahu kaum tersebut?”,
Visius mengangguk, “Kaum mendiang istriku, Kristelle, Sementy.”.
Teshra mengangguk, “Ya, benar. Namun pemimpin mereka yang sangat setia, Tanus, mampu membangun benteng kuat sehingga menahan kekuatan hitam agar tak dapat masuk ke wilayah mereka. Namun…”, Teshra menunduk sedih, “Ada keturunan Sementy yang tersisa di luar wilayah mereka. Yaitu kau, dan anakmu, Alendril.”,
“Mungkin kau bisa selamat dengan setengah darah dewa yang kau miliki dari Tan. Namun putramu, Alendril, memiliki kekuatan yang jauh lebih besar darimu, dan hanya dimiliki olehnya. Nefrisa mengatakan bahwa kekuatan itulah yang menarik kekuatan gelap kepadanya. Kekuatan gelap tertarik untuk bersekutu dengannya, menjadikan dia sebagai inangnya.”,
Visius kaget, “Kekuatan yang hanya dimiliki Alendril???”, tanyanya.
Teshra mengangguk, “Kekuatan yang hanya dimiliki oleh Elf, yang memiliki kekuatan visualisasi sama dengan Dewa dan mampu menggunakannya untuk menyerang atau menyembuhkan seseorang lewat pengendalian pikiran. Nefrisa sering menggunakan kekuatan itu untuk berkomunikasi dengan kita.”.
Visius masih terlihat bingung. Teshra menatap tajam mata Raja itu, “Mendiang Istrimu, Kristelle, adalah salah satu dari Elf terakhir. Dia di kaum Sementy hanya menumpang hidup saja. Itulah mengapa, iris matanya berbeda dengan mereka.”.
__ADS_1
Dan wajah Visius langsung menegang.