Hati Zamrud

Hati Zamrud
Yang Terkutuk


__ADS_3

Hujan masih turun dengan deras, dan petir tetap menyambar-nyambar di luar sana. Sam dan Teshra yang basah kuyup telah sampai di gua, mereka melihat Para Nefendril, Eriez, Putri Eloys, dan Lily yang menunggu dengan kekhawatiran, langsung tersenyum lega.


Lily dan Putri Eloys berlari kecil menuju mereka, Eriez dan kelima serigalanya menyusul, serta Frei yang paling belakang. Teshra masih melirik Sam yang tetap diam dengan aneh, setelah pemuda itu turun dari punggungnya. Teshra yakin, sesuatu telah dilakukan Alendril padanya, dan kini dia pasti tengah mengalami sebuah kegalauan hebat. Teshra mendesah, dia merasa harus melakukan sesuatu.


“Dengar, Frei. Sampaikan pada semua Nefendril, kita akan melakukan pertemuan malam ini, membahas sudah sejauh mana kekuatan kita dan kekuatan gelap berkembang. Eriez, aku minta kau dan Yang Mulia Eloys ikut juga dalam pertemuan kami.”, Teshra lalu melirik Sam yang masih diam, kemudian ke Lily, “Dan kau, Putriku, tolong bantu dia. Dia ‘terluka’, jadi rawat dia saja, dan tak usah ikut pertemuan kami.”.


Teshra lalu melangkah, membimbing yang lainnya pergi meninggalkan Sam dan Lily. Putri Eloys menatap Lily dan Sam dengan khawatir, hatinya merasakan sedikit sensasi tak biasa, dia yakin ada sesuatu dan Nefrisa juga pasti mengetahuinya. Namun Eriez menepuk bahunya lembut, mengajaknya segera pergi untuk meninggalkan kedua teman mereka tersebut.


Setelah semua pergi, Lily menutup pintu kamar Teshra dan berjalan menuju Sam yang masih berdiri mematung. Mereka saling menatap. Lily mendesah lirih, dia melihat tak ada luka sedikit pun di tubuh Sam, pasti luka yang dimaksud Teshra ada di dalam jiwa pemuda itu.


“Bagaimana kalau kuambilkan baju ganti?”, Lily tersenyum padanya. Tatapan mata Sam yang semula menegang berubah melembut. Dia mengangguk.


Lily mengambil mantel yang sudah dilepas Sam, dan pergi menuju tas Sam untuk mengambil beberapa baju ganti pemuda itu. Setelah memberikan baju tersebut, Lily duduk menunggu di kursi beludru dan Sam pergi ke belakang bilik untuk berganti pakaian.



Pangeran Alendril menatap Jadze yang membuka lebar tangan untuk menyambut kedatangannya kembali. Mereka berpelukan hangat.


“Aku sudah memberitahukan semua yang dia perlu ketahui, Ibu.”, bisik Alendril. Jadze dengan tubuh Ratu Kristelle itu lalu melepas pelukannya dan menatap lelaki tampan di depannya itu sambil tersenyum puas.


“Apa menurutmu, jika kita sudah mendapatkan Batu Zamrud itu, maka kita masih membutuhkan Putri Eloys dan pemuda bernama Sam tersebut?”, Jadze bertanya. Alendril mengangguk.


Dia melepaskan mantelnya yang basah, dan Jadze membawakan mantel itu untuknya. Mereka berjalan menuju singgasana.


“Untuk membangkitkan kekuatan Hati Zamrud dengan sempurna, kita membutuhkan kekuatan Teshra, kekuatan bangsawan Visius yang mengalir dalam darah pemuda itu, serta kekuatan Roh Nefrisa yang ada di dalam hati Putri Eloys.”, Alendril berbalik dan menatap Jadze.


Jadze menyipit, “Berarti kedua orang yang lainnya…”,


Alendril menggeleng, “Tidak! Kita tetap tak bisa membunuhnya dulu sebelum aku menemukan fakta yang mungkin saja tersembunyi tentang siapa mereka. Karena, mereka berdua tak akan bersama dalam rombongan itu jika tidak memiliki ‘sesuatu’ yang ada pada diri mereka.”.


Jadze tersenyum licik, ada kilatan jahat di matanya. Dia tertawa menyetujui apa yang Alendril rencanakan, lalu duduk di singgasananya. Alendril sendiri menatap wanita itu dalam diam.


Dia tak bisa membohongi hatinya, bahwa meskipun wanita itu memiliki badan Ibunya, namun jiwanya adalah jiwa berkekuatan jahat. Sedangkan Ibunya, Ratu Kristelle, adalah perempuan berjiwa mulia.



Lily meletakkan secangkir teh hangat di meja dekat Sam duduk. Lalu dia mengambil tempat untuk duduk di sisi pemuda itu. Meraka saling diam untuk sesaat, sampai akhirnya Sam bersuara, “Boleh aku bertanya sesuatu?”, dia menatap ke dalam iris jade Lily. Lily mengangguk.


“Bagaimana perasaanmu padaku? Kau belum mengatakannya.”, pertanyaan itu membuat pipi Lily bersemu merah, dia menunduk sebentar, berusaha mengatur nafas, lalu kembali mendongak menatap pemuda itu.


“Aku…yah…yah bagaimana ya, kau tahu kan?”, gadis itu bingung sendiri, lalu bergumam pelan, “..ya aku, sama sepertimu.”. Suasana kembali hening.


Tiba-tiba Lily merasakan tangan Sam menggenggam tangan kanannya, “Kau mencintaiku?”, tanyanya. Lily menatap pemuda itu sesaat, lalu mengangguk malu-malu.


“Boleh aku bertanya lagi?”, Sam mengeratkan genggaman tangannya. Lily mengangguk, namun dia sama sekali belum melihat senyum pemuda itu. Ekspresinya juga masih datar.


“Apa jika aku tak mau berperang bersama mereka, kau akan pergi dari sisiku?”, pertanyaan Sam spontan membuat jantung Lily seperti berhenti berdetak. Ada sensasi cemas dan sedikit kemarahan di dalam hatinya.

__ADS_1


“Maksudmu?”, tanya gadis itu. Sam diam, dia masih menatap ke dalam iris jade Lily.


“Aku…takut kehilanganmu.”, jawab pemuda itu lirih. Lalu dia menunduk. Air mata mulai mengalir lembut di pipinya. Lily tak tahu, kenapa tiba-tiba lelaki setangguh Sam menangis. Ini pertama kalinya dia melihat pemuda yang dicintainya itu dalam keadaan teramat lemah.


Lily meraih Sam dalam pelukannya, mengelus lembut punggung pemuda itu, lalu berbisik, “Ada sesuatu yang terjadi, dan kau tak bercerita padaku.”.


Sam menggigit bibir bawahnya, dia teringat semua visualisasi yang tergambar di matanya saat di Bukit Vixy tadi. Semuanya.


Rasa sakit, sedih, marah, penyesalan, luka…semua merasuk membelenggu hatinya kini. Dia tak tahu, entah mengapa tiba-tiba ia ingin lari dari semua ini. Hanya ingin hidup bahagia bersama Lily. Itu saja.


“Ceritalah. Atau aku akan mencari tahunya lewat orang lain…”, Lily berbisik lagi, sedikit mengancam. Sam melepaskan pelukan gadis itu, ditatapnya lekat-lekat wajah Lily, dan dia merasakan kedua tangan Lily menghapus air mata di pipinya dengan lembut.


“Apa jika aku bercerita…semuanya…dan ada hal yang membuatmu terluka…kau tak akan membenciku, atau berhenti mencintaiku?”, tanya Sam pelan.


Lily mengangguk, “Kau harus tahu, aku orang yang sangat kuat dalam menepati janji.”, senyumnya.


“Aku akan menceritakanmu sesuatu terlebih dahulu.”, Sam menatap langit-langit, “Saat pertama menjalankan perintah Raja Julius dan Raja Leon kala itu, aku pernah takut. Takut bahwa aku akan mati dalam pertempuran yang mungkin akan kujalani nanti. Namun…”, dia lalu menatap Lily, “..ketika perjalanan kita semakin jauh, ketakutanku berubah menjadi ketakutan tak mampu memenangkan peperangan atau gagal menjalankan amanah kedua Raja tersebut untuk menjaga Putri Eloys dan membawanya kembali ke Istana. Karena ada banyak amanah baru yang kudapatkan. Menyegel kekuatan jahat, membangkitkan Hati Zamrud, menjadi pemimpin perang, dan sebagainya itu.”,


Sam kini menunduk menatap tanah di bawah kedua kakinya, “Namun kini, ketakutan itu berubah lagi.”, dia diam sesaat. Lily menatapnya dengan sabar, menunggu pemuda itu kembali melanjutkan ceritanya.


Sam menatap gadis itu lagi, “Aku takut kita akan terpisah, dan aku kehilanganmu.”.


Lily merasakan hatinya menghangat mendengar kata-kata Sam tersebut. Dia tak pernah menyangka ada pemuda yang mengatakan hal itu padanya. Seumur hidupnya, dia hanya memikirkan Ayahnya, serta Putri Eloys. Baginya mereka berdua adalah segalanya. Ayahnya adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki, dan Putri Eloys adalah sahabat terbaiknya, tak ada satupun yang menyayanginya seperti saudara sendiri melebihi Sang Putri.


Dia pernah berpikir bahwa dia cukup bahagia jika dia hidup di dalam istana sampai menutup mata selama-lamanya kelak, meskipun tak bertemu lelaki yang akan menikahinya, jika dia masih bersama Ayah dan Putri Eloys di sana.


Sam bukan lelaki yang menjadi idamannya, dia tak pernah memimpikan pria seperti Sam hadir dalam hidupnya. Dia pernah sekali berharap bertemu pemuda baik, ramah, lembut, dengan keluarga yang baik, sederhana, dan mereka akan hidup bahagia di desa, atau pria itu akan ikut bersamanya menjadi pelayan di Istana.


Dia tak menyangka lelaki yang akan mengambil hatinya justru salah satu pejabat Istana, yang memiliki darah bangsawan Visius dalam dirinya, seorang calon Panglima Perang Kerajaan, yang sedikit temperamen, kasar, dan sama sekali tak ramah.


Dari sini dia sadar, bahwa hati itu bekerja kadang tak sesuai dengan kehendak otak. Itulah mengapa, keberadaan Perempuan Adil pun tak bisa dideteksi oleh siapapun kecuali kata hati itu telah berhasil disadari oleh Sang Ksatria sendiri.


Lily tersenyum, disibakkannya poni yang menutupi kening Sam, lalu berkata lembut, “Ketika kau berjanji padaku bahwa kau tak akan mati sekarang, aku selalu bersumpah pada diriku sendiri bahwa aku juga tak akan mati sekarang, karena aku ingin terus bersamamu.”,


“Meskipun keadaan semakin mencekam, dan perang mungkin akan kita hadapi sebentar lagi, namun aku masih berusaha membangun impianku. Kau tahu? Aku membayangkan kembali ke Istana, bersamamu, bersama Putri Eloys, bersama Eriez juga jika dia mau. Melihat Putri Eloys menikah dengan Eriez dan hidup bahagia. Lalu kita menikah, memiliki anak, dan…”, Lily tak mampu menahan air matanya, “…kita menua bersama, dan aku mati dalam pelukanmu, atau aku memelukmu di akhir hayatmu.”.


Sam memeluk gadis itu, dia juga tak mampu membendung lagi tangisnya. Mereka menumpahkan semua kesedihan, kemarahan, keputus-asaan, bahkan cinta, dan kasih sayang dalam pelukan itu.


“Aku baru saja melihat apa yang tak pernah kita tahu selama ini…tentang Tanah Tan ini.”, Sam berbisik. Membuat Lily melepaskan pelukannya. Mereka saling menatap, Sam mendesah lemah.


“Pangeran Alendril orang yang sangat rupawan, dia sopan, ramah, dan cerdas. Aku melihat semua kehidupan yang pernah dijalaninya. Dia pernah dikhianati, disakiti, Ibunya direnggut paksa darinya, tahta yang harusnya menjadi miliknya diberikan pada adiknya.”, Sam menggigit bibir bawahnya, entah kenapa rasa sakit kembali merayapi hatinya.


“Dia tidak dipercaya, dia dibuang, dia dihina. Dan dia marah. Marah kepada Ayahnya, marah kepada semua penduduk Tan, pada Para Dewa penjaga Bumi dan Nefrisa, pada Teshra, pada Tanah Tan…pada dunia ini…kecuali..”, Sam menatap Lily, matanya meredup sendu, “…pada adiknya, Voctorius. Dia sangat mencintainya, menyayanginya. Mereka saling menyayangi, melindungi, mencintai.”. Suasana hening. Sam mengatur nafasnya, Lily mengelus lembut bahunya menenangkan.


“Dan kau tahu, mereka bertemu di medan perang, saling berusaha membunuh, mereka terpaksa melakukannya. Karena mereka berdiri di sisi yang berbeda. Mereka berperang dengan hati sakit, terluka, dan penuh kekecewaan. Dahulu mereka belajar bersama, berbagi kasih sayang dari Ayah yang sama, makan di meja yang sama, berbagi selimut, buku, dan bahkan baju.”,


“Naga Amber berpendar kuat di tangan mereka berdua. Mereka sama-sama bisa menjadi Raja yang besar bagi Tanah Tan. Namun satunya adalah Putra kaum Sementy, dan satu lagi Putra kaum Nefendril. Sementy dan Nefendril saling bersitegang dari dulu, bahkan sebelum Pertapa Tan turun ke bumi. Karena mereka saling menganggap, saling merasa lebih pantas, lebih mampu menjaga bumi, menjaga Gua Nefrisa.”,

__ADS_1


“Lalu kaum Sementy punah, karena mengorbankan diri pada Alendril untuk dibangkitkan menjadi pasukan kegelapan, Orb dan Illio. Alendril telah jatuh sangat dalam di kegelapan. Dan Voctorius semakin bersinar terang. Semua orang memuja Voctorius, namun menghinakan Alendril. Alendril tak pernah membunuh Ayahnya. Ibunya, Ratu Kristelle tak pernah berkhianat atau mencoba melakukan makar. Perempuan itu hanya ingin memiliki bekal jika diperlukan untuk melakukan perlawanan, sama sepertimu, juga seperti Ibuku, Yessa.”,


Sam semakin sesenggukan, “Pertapa Tan, Teshra, bahkan Nefrisa telah melakukan kesalahan besar. Mereka menggabungkan kekuatan untuk memaksimalkan kekuatan Hati Zamrud, namun justru itu membuat kekuatan gelap tersegel. Dan memberikan ruang besar bagi kekuatan terang. Harusnya batu zamrud itu mampu menjaga keseimbangan, bukan justru melindungi satu kekuatan saja, dan melemparkan kekuatan lainnya ke dasar bumi.”,


“Kekuatan yang terbuang marah, merasa disingkirkan, dan menghantui kehidupan di Tanah Tan. Mengganggu Alendril yang sedang tersakiti, terkhianati, dan menjadikannya sekutu. Melepaskan jiwanya demi membangkitkan kekuatan gelap, pada masa itu, dan membangunnya dengan kekuatan dahsyat, sampai bisa menjadi wujud sempurnanya sekarang ini.”,


“Alendril yang terkutuk menarik mereka dalam kutukan, dengan kutukan kekuatan hitam yang dahsyat, untuk ikut merasakan kesakitan, penderitaan, kesedihan, dan kematian seperti dirinya. Lalu kembali bertemu saat kekuatan hitam sudah dalam wujud sempurnanya, sekarang ini.”,


Sam terdiam sesaat, menghapus air matanya, menatap Lily, “Mereka bukan Yang Terpilih, karena sebenarnya mereka adalah Yang Terkutuk. Perang masa lalu, mengobarkan kemarahan sehingga muncul perang masa kini. Hati Zamrud bangkit di masa dulu, kemudian sempat akan terampas di masa setelahnya, namun kini dia benar-benar bangkit saat mereka Sang Terkutuk kembali bertemu. Mengulang cerita yang sama, perang yang sama, dan mungkin…”, Sam meremas kuat dadanya, menahan sakit, “…akan merasakan penderitaan yang sama sesudahnya, sebelum merasakan kematian. Meskipun…meskipun kita menang pun, dalam pertempuran melawan mereka, kita…akan kembali lagi merasakan itu. Kutukan itu…kutukan yang tak tahu bagaimana bisa dipatahkan.”.


Lily menatap Sam dengan wajah menegang. Hatinya ikut merasakan berbagai macam kesedihan, kesakitan, kesepian…seperti yang dirasakan Sam saat menceritakan semuanya tadi. Jantungnya seakan melemah, dan tubuhnya menjadi lebih lemas.


“Lily…”, untuk pertama kalinya, Sam memanggil nama gadis itu, “…mereka Yang Terkutuk adalah Alendril, dan kita bertiga.”. Mata Lily membulat sempurna.


“Kita? Bertiga?”, tanyanya.


Sam mengangguk, “Aku, kau, dan…Raja Leon.”.



Putri Eloys merasakan sentakan hebat di dalam dadanya. ‘Nefrisa!’, pikirnya. Dia langsung meremas tangan Eriez yang ada di sampingnya, membuat pemuda itu menatap ke arahnya dengan khawatir.


“Ada sesuatu…sesuatu yang buruk dan kejam, menuju Istana…”, Putri Eloys berbisik. Mata Eriez membulat sempurna, dengan sigap dia berdiri, memotong Frei yang sedang berpidato di depan kaumnya.


“Eloys mendapat peringatan dari Nefrisa, sesuatu sedang menuju Istana. Sesuatu yang buruk!”, teriak pemuda itu. Spontan suasana di ruangan menjadi hiruk pikuk penuh kecemasan dan ketakutan. Teshra menatap Frei, dan mengangguk.


Lalu Pemimpin Nefendril itu memejamkan mata dan menggenggam erat-erat Neolathnya. Tombak perak itu berpendar kuat, permatanya menyala menyilaukan mata.


“Sampaikan padanya.”, bisik Frei.


Jauh di dalam Istana, Frank menatap Neolathnya yang berpendar kuat. Dia segera meraih tombak perak itu, memejamkan mata dan merasakan bisikan kuat masuk ke dalam kedua kupingnya.


Frank membuka mata, segera berlari menuju ruang Raja Leon. Mengabarkan bahwa sesuatu yang buruk sedang menuju Istana, dan mereka harus bersiap.



Sam menatap Lily lekat-lekat, “Dan cerita terakhir ini, adalah kenyataan yang paling menyakitkan. Sebelum aku menceritakannya, maukah kau kembali mengulangi janjimu untuk tak akan membenci atau meninggalkanku?”.


Lily diam sejenak, menelan ludah dengan berat. Entah kenapa dia merasa, apa yang akan Sam ceritakan padanya nanti adalah sesuatu yang sepertinya akan membuat hatinya sangat sakit. Namun dia mengangguk, apapun itu, dia siap mendengarnya, dan siap menerimanya dengan lapang dada.


Sam menghembuskan nafas dengan berat, lalu mulai menceritakan tentang kekuatan gelap yang telah masuk ke dalam jasad Ratu Kristelle sehingga membuat Jadze terbentuk sempurna dalam dunia mimpi, mengganggu kehamilan Ratu Marry, berusaha mengambil nyawa Ratu Marry untuk diisikan ke dalam jasad Ratu Kristelle yang akan bangkit menjadi Jadze di dunia nyata, membuat Raja Julius gundah hingga Naga Amber melemah, menemui Raja Julius lewat mimpi, menawarkan jasa pertukaran nyawa, membohongi Raja Julius bahwa nyawa Ratu Marry bisa ditukar dengan pendengaran dan suara Putri Eloys, meminta Putri Eloys di usianya yang ke-22, Frank yang menyadari bahwa Raja Julius telah tertipu, Frank yang mengetahui bahwa pertukaran nyawa Ratu Marry adalah dengan nyawa anaknya Sam yang baru berusia 1 tahun, dan Frank yang menggunakan kekatan spiritual dibantu Neolathnya untuk melempar pertukaran nyawa pada putranya itu ke orang lain.


Sam berhenti sejenak dari bercerita, air matanya kembali mengalir. Lily yang sudah mulai merasakan ketakutan menjalar dalam tubuhnya, meraih pemuda itu dalam pelukannya.


Sam melanjutkan lagi ceritanya, tentang Frank yang tak tahu bahwa pertukaran nyawa itu jatuh pada seorang wanita di dalam Istana, dimana jiwa murni itulah yang akhirnya dikorbankan untuk membangkitkan kekuatan gelap yang akan mengisi jasad Ratu Kristelle dan menjadi Jadze di dunia nyata. Wanita malang itu adalah wanita yang baru saja melahirkan bayi perempuannya, dan dia adalah istri dari Remedy, Sang Kepala Pelayan Istana saat ini.


Lily menjerit tertahan, air matanya tak bisa berhenti membanjiri wajahnya. Rasa sakit itu, dalam tubuhnya, seakan membuatnya mati mendadak.

__ADS_1


__ADS_2