Hati Zamrud

Hati Zamrud
Pangeran Alendril


__ADS_3

Saat Frank menggenggam tombak Neolathnya, tombak itu berpendar sangat kuat, lebih kuat dari biasanya. Dan tiba-tiba lelaki paruh baya itu merasakan sensasi kuat menyentak dari dalam perutnya, bumi yang diinjaknya tiba-tiba seperti menyedotnya, menariknya dalam pusara putih, dan memperlihatkan visualisasi sangat menyeramkan di depan matanya.


Perempuan muda dengan rambut panjang berwarna cokelat madu itu terkulai lemah, tak lagi bernyawa. Dan bayi merah yang baru dilahirkannya menangis kencang, memanggil-manggil Sang Ibu, yang kematiannya ditangisi oleh Suaminya, pemuda berambut hitam dengan iris jade.


Frank tersentak kaget saat mendapati dirinya kembali ada di dalam kamarnya, menatap hujan lebat yang telah turun mengguyur Tanah Tan, lengkap dengan kilat dan petirnya yang menakutkan.


Keringat membanjiri tubuh Frank, dengan wajah pucat dia bergumam, “Aku telah membuat kesalahan fatal…”.



Sam yang telah siap dengan mantel dan pedangnya bersiap naik ke punggung Teshra saat kemudian Lily datang bersama Putri Eloys, Eriez, dan kelima serigala itu. Lily menatapnya dengan tatapan penuh kekhawatiran.


Frei menyentuh bahu si Gadis, menenangkannya. Namun Lily justru tak mampu menahan tangisnya saat petir dan hujan yang semakin deras menjadi latar belakang dari kondisi Tanah Tan pasca kebakaran hebat yang terjadi di Gunung Tannosi tadi.


Sam melangkah maju, menggenggam kedua tangan Lily dan berbisik, “Aku akan kembali. Aku janji. Aku tak akan mati sekarang.”. Lily mengangguk, lalu melingkarkan lengannya ke bahu pemuda itu, meraihnya dalam pelukan yang erat.


Setelah melepaskan pelukan Lily, Sam segera naik ke punggung Teshra dan mengajak naga itu terbang. Lily menatap kepergian Sam dan Teshra sambil menangis dalam pelukan Putri Eloys. Kemudian Frei mengajak kedua gadis itu, Eriez, dan kelima serigala untuk ikut dalam pertemuan akbar bersama Para Nefendril, membahas tentang kondisi sekarang dan apa yang akan mereka lakukan nanti setelahnya.



Hujan yang turun dengan deras membuat badan Sam dan Teshra basah kuyup. Namun mereka tetap terbang bersama menuju Bukit Vixy, untuk menemukan siapa dalang dari kekacauan yang terjadi di Gunung Tannosi tersebut.


“Kau sudah mengatakan padanya?”, Teshra tiba-tiba bertanya. Tentu saja Sam mendengus, karena di saat sedang tegang seperti ini mengapa naga itu justru menanyainya hal yang kurang perlu.


Namun toh dia tetap menjawabnya, “Sudah.”, membuat naga itu tersenyum, dan menambah kecepatan terbangnya.


Dan sebentar kemudian mereka telah tiba di Bukit Vixy, tepat di atas persemayaman terakhir Pertapa Tan. Seorang lelaki telah berdiri dengan menggenggam pedang, tersenyum menyambut kedatangan Teshra dan Sam. Si Naga Merah, Sirina, berdiri di samping pemuda itu.


“Selamat datang, Sam Putra Frank, dan Teshra Yang Agung.”, lelaki bernama Alendril itu menunduk dengan hormat. Dia adalah lelaki yang sopan, dengan wajah rupawan hampir sempurna tanpa cela meskipun dengan perawakan tubuh berusia sudah hampir setengah abad, kulit putih seperti porselen, dan rambut hitam serta mata beriris biru laut yang indah.


“Alendril Putra Visius…”, gumam Teshra sambil mendarat. Sam langsung turun dari punggung Teshra, menghunus pedangnya. Meskipun dia tahu bahwa yang ada di depannya adalah musuh, namun dia tetap berusaha tenang dan tak ingin langsung menyerang.


“Oh sudah kuduga, kau masih ingat denganku, Teshra. Senang sekali bertemu denganmu lagi. Dan kau…”, Pangeran Alendril menatap Sam, tersenyum sangat menawan, “…kau benar-benar tak berubah, hanya iris matamu saja yang berbeda, iris mata Nefendril.”. Sam kaget mendengar kata-kata lelaki itu, seakan mereka telah mengenal lama, padahal saat ini dia baru pertama kali bertemu dengan putra pertama Raja Visius Yang Agung itu.


“Jadi Jadze telah membangkitkanmu?”, Teshra menggeram.


Pangeran Alendril tertawa kecil, lalu menggeleng, “Terbalik, Teshra. Aku berhasil bangun lagi dari tidur panjangku setelah Jadze berhasil kubangkitkan.”, jawabnya. Teshra dan Sam sama-sama tersentak kaget.


“Apa maksudnya?”, Sam bertanya.


Namun belum sempat dia menyadari apa yang terjadi, Pangeran Alendril telah berada satu langkah di depannya, menarik tangannya, dan tersenyum, “Aku akan menunjukkan padamu sesuatu, yang telah dihapus dari Tanah ini.”.


Lalu Sam merasakan sensasi berputar hebat, seperti bumi telah menyedotnya ke dalam tanah menuju intinya. Semua serba putih, namun terasa sangat dingin dan menyesakkan dada. Mata Sam terbuka, dan dia mendapati visualisasi yang tiba-tiba terlihat sangat nyata di depan matanya. Seorang pemuda berambut cokleat tanah dan beriris biru laut, dengan mahkota bertahtakan intan di kepalanya, memegang pedang hitam dengan batu berwarna amber di bagian ujung pegangannya, tengah duduk bersama seorang wanita cantik berambut hitam, dengan iris mata amaber cerah, dan kulit putih seperti porselen.


Raja Visius Yang Agung menikahi perempuan dari kaum Sementy bernama Kristelle. Kaum Sementy yang menikah dengan makhluk apapun, bahkan pun dewa, akan kehilangan umur abadinya, dan menjadi manusia. Kristelle dan Visius jatuh cinta. Mereka menikah. Sama seperti Dewa Tan yang kemudian dikenal sebagai Pertapa Tan, pendiri Tanah Tan ini, yang menikah dengan seorang Sementy bernama Clement, dan melahirkan satu orang putra, bernama Visius Putra Tan.


Visius muda naik tahta, dengan Kristelle sebagai Ratunya. Di saat yang sama, Kaum Nefendril dan Sementy telah lama berselisih paham, tentang siapa yang lebih pantas menjadi penjaga Gua Nefrisa, serta pemimpin di Tanah Oppresoi. Pada akhirnya Olexa dari Nefendril terpilih sebagai pemimpin di Tanah Oppresoi, namun mereka masih tak setuju jika kaum Sementy yang menjadi penjaga Gua Nefrisa.


Visius muda dan Kristelle dikaruniai putra yang sangat rupawan bernama Alendril Putra Visius, yang memiliki kecerdasan seperti Ayahnya, dan kerupawanan fisik seperti Ibunya. Saat Alendril kecil tak sengaja memegang pedang hitam Ayahnya dengan Naga Amber di bagian pegangan pedang tersebut, batu mulia itu berpendar, dan seluruh kerajaan percaya bahwa Alendril yang saat itu masih berusia 2 tahun adalah Raja Masa Depan Tanah Tan.


Lalu Sam kembali berputar, dia merasakan kakinya ditarik menuju ke tanah semakin dalam. Dadanya semakin sesak, dan kini dia berada di sebuah ruangan sangat gelap, namun ada seberkas cahaya yang memantulkan visualisasi memilukan di depan matanya.


Perempuan bernama Kristelle itu dalam keadaan lemah, dimasukkan ke dalam penjara yang gelap di bawah tanah. Dia sendirian, dia kesepian, dia menangis tanpa ditemani siapapun.


Dan kemudian seorang setengah Nefendril dan setengah manusia bernama Kon, Perdana Menteri Visius yang baru, berjalan menghampiri Rajanya yang terlihat sedih, dengan seorang Nefendril cantik, berambut perak panjang, dengan iris mata auburn, dan berkulit putih seperti porselen.


“Yang Mulia, kuharap Anda tak berlama-lama meratapi kesedihan dalam diri Anda, karena itu dapat mempengaruhi stabilitas negeri ini. Jika Anda berkenan, saya perkenalkan saudari saya ini, Liya, yang akan menjaga Anda dan membantu Anda pulih dari rasa kesedihan atas pengkhianatan Yang Mulia Ratu Kristelle. Raja Visius menatap Nefendril bernama Liya itu, lalu tersenyum.


Sam lalu berputar lagi. Kali ini dia merasakan mual hebat dan ingin muntah. Namun lagi-lagi matanya kembali dipaksa melihat visualisasi yang menyakitkan.


Visius muda berlutut di depan Alendril kecil dan mengatakan bahwa dia akan menikahi Liya, serta mengangkat perempuan itu menjadi Ratu Tanah Tan yang baru. Alendril sedih, dia merindukan Ibunya. Lalu dia meminta izin Ayahnya untuk bertemu Ibunya, Ayahnya mengizinkan, namun itu untuk terakhir kalinya.


Alendril kecil akhirnya bertemu Ibunya di penjara. Kristelle yang dulu adalah Ratu Tanah Tan yang sangat dihormati, dipuja, disanjung, disayang…kini berubah menjadi perempuan hina, perempuan kotor, dengan kondisi fisik yang memprihatinkan.


“Alendril Anakku…Ibu tak pernah mengkhianati Ayahmu. Ibu mencintai Ayahmu, mencintaimu, mencintai Tanah ini. Ibu hanya berlatih bela diri diam-diam, untuk bisa mempertahankan diri sendiri, tanpa tergantung orang lain. Ibu juga diam-diam mengajarkan bela diri untuk para Perempuan Sementy karena Ibu ingin mereka juga bisa mandiri dan tak menggantungkan diri pada kaum Lelaki. Ibu tak seperti yang dituduhkan oleh mereka, ini hanya salah paham Alendril. Percayalah pada Ibu!”, Kristelle menangis, sambil memegang kedua pipi Alendril kecil. Mereka terhalang oleh jeruji besi.


Kini, Alendril kecil tahu, bahwa persangkaan tentang Ibunya yang hendak bersekongkol dengan kaum Sementy dalam upaya melakukan sebuah tindakan makar dengan diam-diam berlatih bela diri, adalah salah!


Sam merasakan perutnya semakin mulas, dia kembali berputar dan kini seperti ditendang menuju dalam sebuah gua. Dia kembali dipaksa melihat pemandangan menyakitkan.


Kristelle mati dalam penjara. Tak ada tangisan atau pelukan dari Visius. Dan jasadnya diserahkan begitu saja pada Tanus, Pemimpin Sementy, untuk dikuburkan di antara kaum itu. Alendril kecil tak bisa lagi bertemu Ibunya. Dia sakit, dia terluka. Dan luka itu semakin dalam, saat melihat Ayahnya, Visius Yang Agung bersama Ratu barunya, Liya, dengan penuh kebahagiaan menciumi putra mereka yang baru lahir. Bayi dengan rambut kecokelatan dan mata beriris auburn, bernama Voctorius.


Sam kini berhasil mengambil nafasnya lagi, dia bergerak berusaha berdiri, dan kini dapat menatap visualisasi lain yang muncul di depan matanya, dengan nafas sedikit lebih tenang.


Alendril kecil berusia 8 tahun tengah mengajari Voctorius kecil berusia 3 tahun bela diri. Bela diri khas kaum Sementy. Kemudian Sang Ayah, Visius, muncul dan meminta Voctorius ikut dengannya karena Perdana Menteri Kon akan mengajarinya bela diri kaum Nefendril. Alendril menatap kepergian Ayah dan Adiknya dengan wajah kecewa.


Sam menggigit bibirnya, hatinya ikut kecewa melihat kekecewaan di wajah Alendril kecil itu.


Alendril remaja berusia 20 tahun sibuk membaca buku di dalam perpustakaan. Dari balik jendela kaca, dia melihat adiknya, Voctorius berusia 15 tahun, tengah bermain bersama kedua adiknya yang lain, Jerzzen dan Tarren. Alendril merasa adiknya terlalu santai, tak mau belajar, dan tak suka sesuatu berbau perang dan bela diri, padahal dia membutuhkan itu untuk menjaga Tanah Tan kelak.


Sam kemudian kembali ditarik menuju tanah yang semakin dalam, dia tersentak, namun telah bisa mengendalikan diri, dan kemudian mendapati Voctorius tengan bertatap muka dengan Alendril, di depan matanya.


“Voctorius, jika kau tak mau belajar, dan berlatih memanah atau berkuda dengan benar, kau tak akan mampu menjaga Tanah ini dengan baik.”, sang Kakak menatapnya dengan kesal. Namun di balik kekesalannya itu ada rasa sayang yang teramat dalam pada adiknya.

__ADS_1


Sang Adik tersenyum, dengan penuh kasih sayang juga, dia menjawab, “Aku akan membantu Kakak dari belakang saja, dalam pimpinan Kakak sebagai Raja Tan kelak, aku yakin kerajaan ini, tanah ini, akan menemukan kemakmuran dan kedamaiannya. Selama-lamanya.”. Mereka kemudian tertawa bersama.


Alendril hanya menyayangi Voctorius, meskipun mereka berbeda ibu. Karena hanya Voctorius yang bersedia ada di sampingnya, membantunya, menemani kesendirian dan kesepiannya, serta memahami dirinya. Kedua adiknya yang lain, Jerzzen dan Tarren, sama sekali tak ada dalam hatinya.


Sam lalu seperti ditampar, dipaksa menengok ke arah lain, dan melihat visualisasi yang baru.


Alendril berusia 35 tahun menatap kecewa saat Raja Visius menyematkan medali Putra Mahkota kepada Voctorius tepat di depan matanya. Dan semua orang, rakyat, dan siapapun menyanjungnya, sebagai calon Raja Tan.


Dengan hati yang terluka, Alendril berkuda di malam hari menuju Tanah Oppresoi Selatan, tempat kaum Sementy berada. Dia ingin bertemu mereka, kaum Ibunya.


Tanus menyambutnya, dan Alendril menghambur dalam pelukannya. Dia menemukan jasad Ibunya masih utuh, tanpa cela, tanpa goresan, dan seperti sedang tertidur. Alendril tinggal disana semalaman, dan esoknya kembali ke istana.


Raja Visius menyambutnya dalam amarah. Mengatakan Alendril telah mengecewakannya karena pergi diam-diam dari Istana setelah pelantikan Voctorius. Visius mengatakan Alendril egois, harusnya mampu mendukung keputusannya, dan kelak bisa membantu adiknya memimpin Tan dari belakang.


Alendril marah. Dia kembali mengungkit kejadian yang menimpa Ibunya. Semua yang dikatakan Ibunya disampaikan kepada Visius. Membuat Visius terluka, dan tumbang dengan serangan jantung. Tak bernyawa.


Alendril tertuduh. Dia dituduh membunuh Visius, Padahal Ratu Liya tahu bahwa Visius telah lama sakit, dan dia meninggal karena sakit, bahkan Alendril tak menyentuh Visius sama sekali. Namun Ratu Liya hanya diam, dan membiarkan mereka menyeret Alendril ke penjara gelap, tempat dulu Kristelle, Ibunya, berada dan mati di sana.


Sam menatap visualisasi itu. Ada rasa marah menjalar dalam hatinya, saat melihat Alendril ditendang, dan diperlakukan tak beradab oleh para Penjaga Tahanan itu di dalam penjara. Alendril menangis, dia memanggil-manggil nama Ibunya. Dia terluka. Dia dikhianati.


Voctorius yang baru saja naik tahta, dengan Naga Amber di dadanya, menemui Alendril di penjara. Meminta semua orang pergi, meninggalkannya berdua hanya dengan Sang Kakak. Voctorius menangis, meraih Alendril dengan tubuh semakin kurus, pucat, dan rambut berantakan seperti gelandangan, ke dalam pelukannya. Mereka berpelukan, melepaskan rasa sakit, kerinduan, dan kasih sayang antara adik dan kakak yang telah dipisahkan oleh kebencian dan pengkhianatan.


“Kakak, pergilah. Aku akan memberikanmu jalan, memberikanmu kuda, dan pergilah menuju mereka, keluargamu. Sampaikan salamku pada mereka. Salam hormat untuk jasad Ibunda Kristelle meskipun dia tak mengenalku.”, Voctorius membuka pintu penjara dengan kunci yang diam-diam diambilnya dari Penjaga.


Alendril kaget, dia menatap adiknya tak percaya, “Bagaimana jika aku melakukan pembalasan kepada mereka, yang telah melukaiku, melukai kaumku, melukai Ibuku?”, Alendril bertanya.


“Apakah kau bertanya dimana aku akan berdiri, Kakak? Di sisimu atau di sisi mereka?”, Voctorius balik bertanya. Alendril mengagguk.


Dengan wajah teramat sedih dan air mata mengalir, Voctorius menjawab, “Aku akan berada di sisi Tanah Tan, membelanya sampai mati.”, membuat Alendril terluka.


“Baiklah. Sampai bertemu di medan perang, Adikku Tercinta.”, Alendril meraih Voctorius dalam pelukannya, mereka menangis bersama, dalam rasa sakit, rasa sedih, rasa terkhianati yang luar biasa.


Sam merasakan matanya memanas, dia seperti tertuntun untuk ikut merasakan kesedihan dan sakit hati yang dirasakan oleh Kakak-Beradik itu. Sampai kemudian dia merasakan tendangan hebat lagi, membuatnya jatuh makin dalam ke bagian bawah Bumi.


Alendril yang berusia 47 tahun, bersama kaum Sementy mengadakan protes, tanpa ada niat melawan. Mereka hanya ingin keadilan. Karena Kaum Nefendril telah menguasai Tanah Oppresoi, dan meminta Kaum Sementy pindah ke tanah bagian selatan yang bernama Tryda. Tanah paling tandus di seluruh wilayah Tan.


Alendril juga melayangkan protes tentang apa yang menimpanya dan Ibunya dulu. Mereka menuju istana. Perdana Menteri Kon mengira mereka akan melakukan pemberontakan di bawah pimpinan Alendril yang sakit hati karena tak bisa naik tahta.


Raja Voctorius mengirimkan pasukan, bukan untuk saling menyerang dengan pasukan Alendril, tapi ingin mengadakan sebuah diplomasi, tanpa pertumpahan darah. Kon memimpin langsung pasukan diplomasi Kerajaan Tan.


Namun Kon dalam pembicaraan itu justru mengungkit kesalahan Ratu Kristelle yang telah melanggar peraturan ‘bahwa perempuan dilarang berlatih bela diri’. Alendril yang tersulut emosi kemudian mencekik Kon, membuat pasukan Tan ikut tersulut dan berusaha menyerang Alendril, namun berhasil digagalkan oleh pasukan Sementy.


Akhirnya pertumpahan darah tak bisa dihindari. Kon mati di tangan Alendril, oleh pedang yang miliknya, yang diberikan Ayahnya, Visius, saat dia berhasil menguasai tehnik pedang di usia 7 tahun dulu.


Alendril marah, semua Sementy marah. Apalagi saat Voctorius juga tersulut emosi, karena kematian Kon. Dia kemudian memerintahkan Sam, Panglima Perangnya, yang juga adalah keponakannya, untuk menyiapkan semua pasukan yang akan diberangkatkan ke medan perang melawan Alendril, Kakaknya.


Alendril kehilangan Tanus yang tiba-tiba raib setelah pertemuan diplomasi itu. Namun dia tak terlalu tertarik untuk memperhatikan kondisi itu. Dia kemudian mendatangi Olexa yang tergiur dengan bujuk rayunya memiliki harta karun kaum Sementy, untuk bergabung bersamanya. Bersama dengan pengikutnya, Olexa setuju menjadi sekutu Alendril.


Perang pun terjadi. Pasukan Alendril kalah jumlah dan kekuatan. Meskipun pasukannya adalah Sementy dan sebagian Nefendril pengkhianat yang abadi, namun mereka kelelahan tak berdaya melawan pasukan Kerajaan yang kuat dan berjumlah banyak.


Alendril sendiri terluka parah. Di bawah hujan deras, Voctorius mendatanginya, menangisinya. Mereka berpelukan. Voctorius tak bisa membunuh Kakaknya. Kakak yang selalu menjaganya, menemaninya, mengajarinya bela diri, berkuda, memanah, dan membantunya belajar taktik perang.


“Pergilah Kak…pergilah…tolong, jangan muncul lagi. Demi kebaikanmu, dan Tanah Tan.”, Voctorius mendorong tubuh Alendril pergi. Lalu dia mengumumkan pada pasukannya, bahwa Alendril telah mati.


Alendril menangis, dengan kebaikan hati adiknya, namun dia terlanjur jatuh dalam dendam, kepada semuanya, Tanah Tan ini dan semua penduduknya. Dia berlari masuk hutan, menggenggam Naga Amber yang dicurinya saat berpelukan dengan Voctorius tadi. Batu mulia itu berpendar kuat di tangannya, seperti saat pertama kali dia menggenggamnya 45 tahun lalu.


Lalu Alendril menemui Olexa dan pengikutnya, mereka membangkitkan kekuatan gelap yang telah dikhianati oleh Hati Zamrud. Alendril membagi jiwanya menjadi tiga, dua jiwa menuju ke tubuh-tubuh kaum Sementy dengan rela menyerahkan diri untuk Alendril gunakan sebagai pasukan baru melawan pasukan Tan, dan satu jiwa lagi masuk ke dalam tubuh Olexa.


Jiwa yang masuk ke tubuh-tubuh kaum Sementy itu bangkit menjadi Orb dan Illio. Dan dengan bangkitnya dua makhluk kegelapan itu, kaum Sementy telah punah seutuhnya.


Jiwa Alendril dalam tubuh Olexa kemudian memperdaya otak Nefendril itu untuk menghasut Nefendril lain agar ikut berkhianat pada pemimpin Tan, dan ikut pasukan mereka.


Sebelum membelah jiwanya, Alendril sempat mengambil sebagian kekuatan dalam Naga Amber untuk diletakkan di dalam jantung jasad Kristelle, dan menanamkan mantra kebangkitan saat waktunya tiba nanti, yaitu dimana jiwa murni dapat masuk ke dalam jasad itu, dan bisa menyempurnakan bentuk kekuatan gelap yang tersembunyi dalam dasar Tanah Tan.


Sam merasakan cengkeraman kuat di dadanya. Dia menatap Kristelle yang telah terbujur kaku itu lekat-lekat, dan menyadari bahwa dia pernah bertemu wanita itu. Dengan rambut panjangnya yang hitam legam, kulitnya yang semulus porselen. Sam terhenyak kaget. Wanita itu….Jadze!


Wanita berusia 17 tahun berambut cokelat madu itu tergopoh menemui suaminya, lelaki berambut cokelat tua, yang tengah bersama dengan Raja Voctorius, dan naga mereka, Teshra. Setelah menunduk hormat, Sam, Sang Suami yang baru berusia 18 tahun itu, memperkenalkan Istrinya yang bernama Lily pada Teshra.


Lily menceritakan mimpinya, bahwa dia menggenggam batu hijau zamrud. Teshra langsung mengenali batu itu. Hati Zamrud.


Dan visualisasi Sam beralih kepada seorang laki-laki dengan rambut emas serta wajah tampan sempurnanya. Dia berdiri bersama Teshra dan sesosok Dewi yang dia kenali sebagai Nefrisa, meskipun hanya lewat penggambaran Putri Eloys dan Lily yang diceritakan padanya.


Mereka bertiga menyatukan kekuatan dalam Dunia Nefrisa yang putih dan hangat. Membuat Hati Zamrud berpendar kuat dan semakin kuat, lalu menghilang. Laki-laki berambut emas yang ternyata adalah Pertapa Tan kemudian berbisik pelan seperti menyesal,


“Kita telah salah, Teshra, Nefrisa. Tak seharusnya kita terlalu fokus pada kekuatan terang sehingga menyingkirkan kekuatan gelap dalam Tanah Tan ini. Kita tak seharusnya menganaktirikan kegelapan, dan membuat Hati Zamrud lebih condong pada kekuatan terang, padahal seharusnya dia bisa mengontrol, menyeimbangkan dua kekuatan tersebut.”.


Teshra mendekat dan bertanya, “Apa yang terjadi selanjutnya, Tan?”.


Pertapa Tan menatap naga itu, dengan lemah menjawab, “Akan ada perang besar, kesedihan, pengkhianatan, dan darah yang mengalir di masa depan. Sampai hadir masa dimana semua akan berakhir. Entah kekuatan terang atau gelap yang memenangkannya.”.


Nefrisa menangis, “Jika kekuatan terang yang menang maka Bumi akan kembali damai, tapi bagaimana jika kekuatan gelap yang menang?”.


Tan menunduk sedih, “Maka Bumi dan seisinya akan hancur.”.

__ADS_1


Sam dipaksa kembali berputar dan terlempar. Kali ini sangat jauh. Dan ketika membuka mata dia mendapati Olexa tengah berhadapan dengan Sam Sang Panglima dan Raja Voctorius.


Alendril dalam tubuh Olexa telah terluka parah dan terdesak. Saat Panglima Sam hendak memenggal lehernya, Raja Voctorius mencegah. Dia menunduk dan menangisi Olexa, mengenali bahwa jiwa yang ada di tubuh Nefendril pengkhianat itu adalah sebagian jiwa kakaknya, Alendril.


Namun melihat Voctorius lengah, Olexa langsung berusaha menyerang. Hatinya, jiwanya, tubuhnya, semua…telah penuh dengan dendam, dan melupakan semua kasih sayang dan cintanya pada Voctorius. Tapi sebelum Olexa sempat mencelakai Rajanya, Sam terlebih dulu menggorok leher Olexa. Membuat Olexa sekarat.


“Kalian terkutuk. Terkutuk dengan dendam sangat dalam dari kekuatan gelap paling dasar di bumi. Kalian akan mengalami kesedihan, kegelisahan, sampai kematian. Dan kita akan berjumpa lagi kelak. Di masa dimana kekuatan gelap menemukan bentuk sempurnanya. Selamat tinggal Voctorius, Adikku. Dan juga kau, Panglima Sam dan sampaikan salamku ‘sampai jumpa lagi’, pada Istrimu.”, lalu Olexa mati.


Sam menatap visualisasi di depannya dengan mulut ternganga. Raja Voctorius, Panglima Sam, dan Perempuan Adil Lily dikutuk oleh kekuatan hitam. Mengalami kesedihan, kegelisahan, dan kematian…kemudian kembali lagi ke dunia, bertemu Alendril di masa ketika kekuatan gelap menemukan wujud sempurnanya?


Sam menggigit bibirnya, tepat ketika dia kembali merasakan tubuhnya berputar. Tampilan di depan matanya makin menyakitkan.


Raja Voctorius yang mengalami kesedihan hebat, trauma peperangan, dan kehilangan kakaknya. Dia jatuh sakit. Dia kemudian meninggal di usia 45 tahun, meninggalkan Ratu dan kedua putranya.


Lily, istri Panglima Sam, meninggal setelah melahirkan anak keduanya, saat usianya baru menginjak 20 tahun. Membuat Panglima Sam jatuh dalam kesedihan paling dalam di hidupnya. Kehilangan Raja yang juga adalah paman sekaligus mentornya, dan istri tercinta, membuat fokus hidupnya terganggu. Dan sepulang dari perjalanan mengawal tamu kerajaan, kudanya menginjak bebatuan pinggir jurang, Panglima Sam tak mampu mengendalikan kudanya, dia jatuh, dan meninggal dunia di usia 21 tahun.


Sam kemudian merasakan hentakan kuat, kepalanya sakit, mual, dan seluruh tubuhnya seperti ditusuki ribuan pisau. Kemudian dia menyadari bahwa kini dia ada di ruangan putih yang pertama kali didatanginya saat terlempar ke dalam sensasi bervisualisasi ini.


Matanya terbuka lebar saat Ayahnya, Frank Putra Rennet, ada di depan matanya. Tampak juga Raja Julius yang terlihat lebih muda, seumuran dengan Frank saat itu, sedang menangis.


“Apa yang harus kulakukan, Frank? Dengan kegaluan hatiku, dengan ketakutanku kehilangan Istri dan Anakku dalam kendungannya, aku tak sengaja…aku khilaf…aku begitu saja mudah terpedaya, dan menyetujui permintaan perempuan berambut hitam dalam mimpiku itu.”,


Raja Julius menggenggam Naga Amber. Namun batu mulia itu tak bersinar sama sekali. Sinarnya padam, “Harusnya memang Theodorus saja yang memimpin Negeri ini. Batu ini bersinar sangat redup di tanganku, tak seperti saat Theodorus yang menggenggamnya, dia berpendar sangat terang. Namun kenapa Ayah justru memilihku?”, Raja Julius masih menangis.


Frank hanya diam, tangannya yang memegang Neolath sedikit gemetar.


Visualisasi Sam secepat kilat berganti ke kamar Frank, dia sedang bersama Istrinya, Yessa. Sam tersenyum, tanpa sadar air matanya mengalir. Ada rindu yang menjalar hebat dalam dirinya, saat menatap wanita yang telah melahirkannya itu.


“Suamiku, apakah kau juga menyadarinya? Kekuatan itu bangkit, dan wanita dalam mimpi Raja itu adalah wanita itu, Ratu Kristelle yang jasadnya telah ditanam kekuatan Naga Amber oleh Pangeran Alendril. Apa yang akan terjadi kini?”, Yessa menatap Frank dengan sorot mata ketakutan.


Lalu Frank menatap Sam kecil, berusia setahun, yang tidur di samping istrinya. Matanya terlihat sendu, “Apakah ini berarti, masa yang diramalkan akan tiba? Dan benarkah anak kita, bayi yang kau lahirkan ini adalah dia? Dia yang telah berada jauh di masa lalu, dan diajak kembali ke masa kini…”, Frank menatap Neolathnya. Lalu menatap istrinya.


“Raja mengatakan bahwa wanita itu menukar nyawa Ratu Marry yang harusnya ditakdirkan meninggal, dengan suara dan pendengaran bayi dalam kandungannya. Namun itu salah, Yessa! Nyawa tak mungkin hanya dibayar dengan hal remeh seperti itu, itu hanya tipu muslihatnya saja. Wanita itu pasti meminta pertukaran nyawa.”,


“Tapi Raja bilang kalau wanita itu meminta bayi perempuan Raja saat dia berusia 22 tahun nanti, bukankah begitu?”, Yessa bertanya.


Frank menggigit bibirnya, “Kemungkinan ada suatu kekuatan yang dimiliki bayi perempuan Raja Julius sehingga wanita jahat itu menginginkannya. Dan tentang mengambilnya di usia 22 tahun, bisa jadi saat itulah kekuatan yang kemungkinan dimiliki bayi perempuan Raja telah berkembang atau bangkit dengan sempurna. Namun balasan nyawa yang ditukar nyawa itu biasanya hanya terjadi dalam waktu yang bersamaan, atau dalam waktu yang berdekatan. Mungkin setelah ini.”.


Mata Yessa membulat, “Apakah…apakah akan ada kematian di dalam Istana ini?”, tanya perempuan Nefendril itu takut-takut.


Frank mengangguk. Lalu dia duduk di samping istrinya, mengelus dahi Sam bayi, dan berkata pelan, “Setidaknya, jika ada kematian bahkan pun diriku atau dari keluargaku, itu tak masalah. Asalkan Ratu tetap hidup. Karena dengan meninggalnya Ratu, akan semakin melemahkan hati Raja Julius. Kau ingat kan kesedihan Raja Brian saat Ratu Floin meninggal dulu? Itu membuat kekuatan Naga Amber melemah, dan stabilitas Negara terganggu.”.


Yessa mengangguk. Lalu menatap suaminya yang terlihat sedih, dan sedikit ketakutan. Yessa mengerutkan kening, lalu bertanya, “Suamiku, apakah kau baru saja melakukan sesuatu dengan kekuatan Neolath?”.


Frank langsung menghentikan elusan tangannya di dahi Sam, terdiam cukup lama, lalu menatap istrinya. Dia menangis, “Maafkan aku…sungguh maafkan aku, Yessa…aku…aku hanya melempar saja, menggunakan cahaya Neolath…melempar kutukan pertukaran nyawa itu kepada orang lain…sungguh…sungguh aku tak mau kehilangan anak kita, Putra kita.”.


Yessa tersentak kaget, dengan gemetar dia bertanya, “Dan…siapa…siapa orang itu?”.


Frank menggeleng, “Entahlah.”.


Sam tak sempat merasakan kekagetan karena kemudian Alendril muncul di depan wajahnya, tersenyum, dan menarik tangannya. Dia berputar dan terlempar masuk ke dalam sebuah ruangan, tepatnya kamar di sebuah rumah kayu sederhana. Di sana ada seorang pria berusia 26 tahun, dengan iris jade yang sangat dikenalinya, menangis tersedu. Remedy.


Seorang wanita muda berambut cokelat madu, terbaring kaku, dengan wajah pucat tak bernyawa. Sedangkan bayi perempuan berambut dengan warna senada seperti wanita itu, menangis kencang, seolah memanggil-manggil Ibunya yang telah tiada.


Sam menatap pemandangan memilukan itu, dan hatinya langsung terasa sakit bagaikan dihujam oleh ribuan belati, saat melihat iris jade bayi perempuan itu. Dia mengenalinya, dia tahu siapa bayi itu. Bayi itu, adalah perempuan yang kini dicintainya. Berharga, dan sangat dilindunginya.


Tiba-tiba ada bisikan di telinga kanannya, suara Alendril, “Apa kau terluka menyaksikan ini, Panglima Sam? Ya. Bayi itu adalah istrimu di masa lalu, kekasihmu di masa kini, Perempuan Adil yang mendampingimu, menggenggamkan untukmu kekuatan Hati Zamrud. Di masa lalu dia meninggal setelah melahirkan anak keduamu. Di masa kini, dia harus kehilangan ibunya saat melahirkannya. Kau tahu karena apa?”,


Bisikan itu berpindah di kuping kirinya, “Karena Ayahmu, Frank yang memiliki kekuatan supranatural yang menjadi kelebihannya sejak dilahirkan, dibantu kekuatan Neolath, melemparkan pertukaran nyawa Ratu Marry yang harusnya dibayar dengan nyawamu, karena permintaan kekuatan gelap kami adalah nyawamu. Kenapa pada akhirnya bukan kau yang mati? Sebab…lemparan Neolath itu berhasil memindahkan pertukaran nyawa darimu ke orang lain. Yaitu istri Pelayan Remedy, Ibu kekasihmu.”,


“Dan kau tahu…karena kematian Ibunya, yang tak pernah dilihatnya seumur hidup, kekasihmu menderita. Kehilangan sosok Ibu, kerinduan yang dalam, dan rasa iri melihat Putri Eloys yang tumbuh dengan penuh cinta dari Ratu Marry.”.


Sam menatap kekosongan yang ada di depan matanya. Tubuhnya kaku, hatinya mencelos. Air matanya mengalir perlahan. Kini di depan matanya hanya ada ruangan putih, dan Alendril yang berjalan mendekatinya. Mengangkat dagunya. Mata mereka bertemu.


“Itulah…beberapa kebenaran yang tersembunyi dari Tanah ini. Yang disembunyikan, dilupakan, dibuang. Kau boleh membenciku, membenci kami, menghinakan kami, memerangi kami. Tapi jangan lupakan tentang kesedihan, pengkhianatan, kesakitan…yang pernah ditorehkan oleh orang-orang yang kau anggap baik, mulia, dan penuh kasih sayang di sekitarmu pada kami, padaku, pada yang kalian benci ini.”,


Alendril tersenyum, lalu meraih Sam dalam pelukannya, “Aku merasakan kekuatan batu itu dalam tubuhmu. Meledak-ledak dengan kuat. Kau memang benar dia, pemuda itu, Panglima yang dengan gagah bertarung mendampingi Adikku, Voctorius, dan mengirimku ke Neraka saat itu. Panglima Sam, ucapkan selamat datang kembali juga pada Istrimu di masa lalu dan kekasihmu di masa kini, Lily. Serta untuk Adikku di masa lalu, dan Raja Leon di masa kini.”.


Lalu Sam merasakan tendangan kuat, membuat tubuhnya terpental jauh. Berputar, menggelinding, dan akhirnya jatuh.


Sam membuka mata dan mendapati Teshra basah kuyup di depannya, dengan nada khawatir berteriak-teriak, “Hei…sadarlah…kau tak apa-apa?? Sam???”.


Sam memalingkan wajahnya, menatap Sirina yang telah terbang tinggi, dengan Alendril di punggungnya.


Teshra menundukkan kepalanya lebih rendah, “SAM????”, teriaknya.


Sam menatap naga hitam itu, diam. Tatapannya tiba-tiba berubah, menjadi kecewa, kemudian sakit hati. Teshra kaget melihat tatapan mata Sam itu.


“Apa yang dilakukannya padamu?”, Teshra menggeram. Namun Sam diam. Dia bangkit, lalu menatap Sirina dan Alendril lagi, yang sudah tak terlihat di kejauhan.


“Sam?”, Teshra bertanya lagi.


Sam memilih tak menjawab, naik ke punggung naga itu, dan meminta, “Ayo kembali.”, dengan nada pelan dan datar.

__ADS_1


__ADS_2