
Sam, Lily, dan Putri Eloys kembali merasakan sensasi berputar yang cukup cepat. Sam meraih tangan kedua gadis itu dan menarik mereka mendekat ke tubuhnya. Kini mereka terpelanting ke sebuah tempat yang empuk dan beraroma buah ceri, namun tampak sangat suram.
Kristelle berjalan mendekati Nefrisa. Iris matanya yang berwarna amber bersinar cerah, “Aku ingin hidup bersama kaum Sementy. Mereka memiliki belas kasih dan perhatian lebih tinggi daripada kaum Nefendril yang cerdas. Karena darah manusia yang mengalir di dalam tubuh Sementy mampu mengontrol kesombongan mereka.
“Kenapa kau memilih jalan ini, Sayangku?”, tanya Nefrisa.
Kristelle tersenyum, “Aku ingin menemukan seorang pemuda yang mau menikahiku dan hidup bahagia dengannya. Namun, tak ada yang akan mau menikah dengan Elf di masa kini. Karena mereka takut dikuasai oleh kekuatan Elf yang sangat besar dan dapat mengendalikan pikiran mereka.”,
“Kau tahu kan bahwa di masa lalu kami hidup bahagia dalam kaum kami, sampai keturunan manusia dan beberapa Dewa datang untuk menikahi kami satu per satu. Beberapa yang tidak menikah, memilih kembali ke alam sana. Hingga kami habis tanpa sisa, kecuali aku dan saudara perempuanku, Joline, yang memilih tinggal bersama para Nefendril. Dan kini aku pikir sudah saatnya aku melepas kesendirian dan menikah, namun aku memilih manusia daripada Dewa. Manusia lebih hangat dan penuh kasih sayang.”, Kristelle tersenyum.
Lalu visualisasi berubah secara cepat, memperlihatkan kaum Sementy dan Nefendril yang walaupun secara nyata tidak terlibat perang fisik, namun mereka saling memendam kekesalan antar satu dengan lainnya. Mereka berusaha merebut Gua Nefrisa dan Tanah Oppresoi agar menjadi wilayah mereka.
Visualisasi berubah cepat. Memperlihatkan pertemuan pertama Visius dengan Kristelle yang cantik. Tak ada yang mengetahui Kristelle adalah Elf, meskipun dia tinggal di dalam kaum Sementy. Bahkan Tanus pun awalnya tak tahu. Hanya Nefrisa, dan Nefrisa telah berjanji merahasiakannya, dan itu juga demi kebaikan dan keamanan Kristelle maupun Joline.
Lalu ketiga anak muda itu kembali di lempar ke sebuah tempat. Kali ini mereka ada di tempat yang terang sekali dengan cahaya berwarna amber di sekitar mereka.
Visius menatap Naga Amber di tangannya, lalu menyerahkan pada Voctorius muda. Batu itu berpendar kuat. Visius tersenyum melihatnya.
“Kau akan jadi Raja yang hebat anakku.”, bisiknya. Namun Voctorius segera menggeleng cepat dan menyerahkan kembali batu amber itu kepada Ayahnya.
“Tidak, Ayah. Kakak lah yang akan menjadi Raja Tanah Tan ini. Bukan aku.”,
“Tapi mereka memilihmu, kau yang akan membawa Tanah Tan ini pada kedamaian.”, Visius terlihat sedikit kecewa dengan anak keduanya tersebut.
Voctorius kembali menggeleng, “Ayah, bukankah Ayah tahu bahwa aku memiliki kekuatan Roh Nefrisa? Dan aku ditemui oleh Dewi itu semalam.”.
Visius terkejut, “Apa yang dia katakan padamu?”, tanyanya.
Voctorius menatap Ayahnya, “Sama seperti yang dikatakan kepada Ayah bahwa jika Kakak yang naik tahta maka Tanah Tan akan mengalami kehancuran. Tapi aku tak percaya itu!”.
Visius mulai kesal, “Nefrisa adalah Dewi yang menjaga tanah ini dan dia adalah bagian dari Para Dewa penjaga Bumi!”, teriaknya. Voctorius berdiri, badannya agak gemetar.
“Tapi hatiku mengatakan ini akan membangun sebuah tembok besar dalam diri Kakak. Ayah…”, Voctorius membungkuk, “…kumohon kembalilah percaya pada Kakak dan beri dia kasih sayang yang sama besar seperti sebelum aku dan adik-adik lahir.”, air bening keluar dari kedua mata beriris auburn milik Voctorius.
Jauh dari jangkauan mata dan sepengetahuan mereka, Liya menatap pemandangan itu dengan sedih. Lalu perempuan Nefendril yang telah menjadi Ratu itu berjalan pergi.
Dengan gaun indahnya yang berkibar dia berjalan cepat menuju perpustakaan Istana. Saat berada di halaman perpustakaan, dia menemukan Alendril remaja yang tengah membaca.
Dia berjalan mendekat, ingin menyapa, ingin lebih dekat, ingin berbagi cerita, dan memeluk Pangeran malang itu. Namun begitu menyadari kehadiran Sang Ratu, Alendril segera berdiri, mengemasi buku-bukunya, dan meninggalkan Liya yang menatapnya dengan sedih.
Lily menatap pemandangan itu dengan rasa sakit di hatinya. Dia tahu pasti Liya ingin memberikan kasih sayang pada Alendril yang kesepian. Namun Alendril selalu menjaga jarak darinya, dan menatapnya dengan pandangan tak suka.
“Apa sebenarnya yang telah kacau di masa lalu ini?! Sialan!”, Sam mengepalkan tangannya dengan geram.
Putri Eloys mengelus lembut bahu pemuda itu. Namun dia juga tak memungkiri bahwa rasa sedih mulai menjalar di dalam hatinya melihat pemandangan tersebut.
Raja Visius terlihat sedih, duduk sendiri di dalam kamarnya. Ratu Liya datang dan melihat raut kesedihan itu dengan khawatir.
“Ada yang mengganggumu, Yang Mulia?”, tanyanya lembut, sembari duduk di samping suaminya tersebut.
Raja Visius mendesah pelan, “Tadi pagi aku membawa Alendril dan Voctorius untuk melatih mereka menjadi pemimpin dari pasukan kerajaan. Membiarkan mereka membaur dan berlatih bersama mereka. Aku membagi dua kelompok, dengan masing-masing dipimpin Alendril dan Voctorius.”, dia diam sejenak.
“Aku sama seperti Voctorius yang tak percaya pada ramalan visualisasi Nefrisa yang mengatakan bahwa masa depan Tanah Tan akan suram di bawah kepemimpinan Alendril. Memang Nefrisa tak memaksaku untuk tak mengangkat Alendril sebagai penerusku, namun aku merasa itu perlu untuk dipertimbangkan. Karena itulah aku membawa mereka kesana, kupikir mereka yang telah memasuki usia remaja pasti telah mampu memimpin pasukan militer.”,
“Lalu aku melihat kelompok pasukan yang dipimpin Alendril dan hatiku sedih. Alendril sangat keras pada mereka. Padahal kau tahu kan bahwa di keseharian dia sangat pendiam dan sopan serta murah senyum. Alendril memaksa mereka terus berlatih dan tak memberikan mereka kesempatan untuk istirahat sebentar saja sebelum waktu istirahat tiba. Pasukan itu sangat ketakutan pada Alendril dan latihan mereka menjadi sangat kacau karena tak fokus.”,
“Kemudian aku pergi ke kelompok yang dipimpin Voctorius. Ternyata mereka sedang bersantai di sana. Voctorius menawari mereka minuman dan makanan. Awalnya mereka menolak karena sungkan, namun Voctorius bergabung dengan mereka. Tertawa bersama, berlatih dalam suasana yang hangat dan menyenangkan.”, Visius diam sejenak.
“Lalu siang harinya setelah berlatih bersama pasukan aku mengajak mereka membaca bersama di dalam Perpustakaan Istana. Alendril langsung mengambil buku-buku tentang peperangan, sejarah, dan ketatanegaraan. Sedangkan Voctorius memilih buku psikologi dan sosiologi. Alendril membaca tanpa istirahat, bahkan tak menyentuh minumannya sama sekali. Sedangkan Voctorius membaca dengan santai, sesekali dia meletakkan kepala ke meja untuk tidur sejenak.”.
__ADS_1
Raja Visius menatap Ratu Liya dengan tatapan sendu. Dia lalu meraih Naga Amber di dalam mantelnya, mengeluarkannya, dan batu itu tampak berpendar kuat.
“Nefrisa tahu, bahwa batu ini berpendar kuat di genggaman mereka berdua. Namun aku harus memilih salah satu yang terbaik, demi masa depan Tanah Tan.”.
Sam, Lily, dan Putri Eloys kembali merasakan tubuh mereka berputar cepat. Mereka bertiga saling berpegangan erat. Dan kemudian tanpa mereka duga, mereka di jatuhkan di tempat yang gelap dan sangat dingin. Hutan.
Alendril dengan air mata mengalir memacu kudanya dengan kencang menuju kegelapan. Dia merasakan sakit hati, kecewa, sedih, dan terluka. Jikalau tahta tak turun ke tangannya, setidaknya Ayahnya memberikannya sedikit kehormatan menempatkan pada posisi Panglima Perang atau Perdana Menteri atau selayaknya. Namun tidak! Dia bahkan tak diajak bicara, tak diberikan kesempatan bicara, dalam pertemuan tersebut. Dia hanya dibiarkan berdiri, menatap mereka yang selalu membicarakan Vovtorius…Voctorius…Voctorius…dan semua kehebatan anak itu.
Dia sadar bahwa sejak Voctorius lahir, Ayahnya telah berubah padanya. Mulai jauh darinya, jarang menemaninya belajar dan berlatih, serta mulai membiarkannya sendirian. Padahal Alendril masih menyimpan kepercayaan besar pada Ayahnya itu, dia masih mengharapkan perhatian dan kasih sayang Ayahnya, dia haus cinta, haus belaian Sang Ayah.
Karena tidak fokus berkuda, Alendril menabrak seseorang di depannya yang tengah berlari. Seseorang berlari malam-malam di tengah hutan? Alendril kaget dengan kenyataan itu dan segera menghampiri perempuan yang sedang merintih tersebut.
“Kau tak apa-apa?”, tanya Alendril sembari membantu perempuan itu berdiri. Perempuan dengan iris mata amber cerah seperti mendiang Ibunya, dan rambut keperakan panjang di balik tudung mantelnya. Nefendril, pikir Alendril. Dia bisa mengenali dari rambut perempuan itu. Dia sempat berpikir meninggalkan perempuan tersebut karena masih menyimpan rasa kesal pada kaum Nefendril, namun dia iba padanya, dan mengurungkan niat itu.
Perempuan tersebut menatap Alendril dengan kagum, akan ketampanan Pangeran itu. Dia mengangguk, dan berusaha bangun dengan malu karena memiliki jarak yang sangat dekat dengan Alendril.
Tiba-tiba perempuan itu merasakan sesuatu menyentak dalam dadanya, dia merasakan getaran hebat saat iris ambernya bertemu secara intens dengan iris biru laut Alendril. Kemudian perempuan itu menutup mulutnya dengan tangan karena tak percaya. Tangannya yang lain terangkat dan dengan lembut menyentuh pipi dingin Alendril yang kaget.
“Kau….putra Kristelle.”, desis perempuan itu.
Alendril tersentak, “Darimana kau tahu?!”, tanyanya setengah berteriak.
Tiba-tiba perempuan itu memeluk Alendril dan menangis, “Aku adalah saudara Ibumu, kami tumbuh bersama sejak dimana Bumi ini terlahir. Kami bahagia bersama kaum kami, keluarga kami. Lalu mereka memilih hidup bersama orang-orang atau Dewa-dewa kecintaan mereka. Mereka yang memilih sendiri hidup dalam kesepian dan akhirnya memutuskan kembali ke alam sana. Satu per satu mereka pergi. Tinggalah aku dan Ibumu. Kami berpisah, dia hidup bahagia bersama Sementy yang penuh kasih sayang, namun akhirnya berakhir tragis setelah menikah dengan keturunan Dewa Tan dan Sementy Clement. Aku..aku menolak menikahi pria itu, dan dia mengejarku, hendak menyegelku dalam kekuatan sihirnya dan menggunakan kekuatanku demi kepentingannya.”.
Alendril bingung, dia melepaskan pelukan perempuan itu, “Apa maksudmu?? Aku tak paham!”.
Perempuan itu semakin sesenggukan, “Aku dan Ibumu adalah Elf terakhir. Kami berdiam selama ratusan tahun di dalam Gua Tryda. Kemudian kami mencoba keluar dan bergabung dan keturunan kaum kami. Nefendril yang cerdas menjadi tujuanku, dan Sementy yang penuh kasih sayang menjadi tujuan Kristelle. Kami berpisah. Aku hidup bahagia dengan para Nefendril sampai suatu hari Olexa yang tergiur tawaran seorang laki-laki untuk membantunya mendapatkan Tanah Oppresoi seutuhnya, memilihku yang menurutnya paling cantik untuk menikah dengan laki-laki itu. Awalnya dia mengira aku adalah Nefendril, karena aku memiliki rambut serupa dengan mereka.”,
“Kemudian aku dibawa lelaki itu ke rumahnya, aku dipaksa menikah dengannya. Aku menolak, aku tak mau umur fanaku hilang. Dan tanpa sadar aku mengeluarkan kekuatan Elf ku yang mampu menyerang visualisasinya. Saat aku sadar akan kesalahanku, aku segera melarikan diri. Namun orang itu rupanya ikut sadar dan sekarang mengejarku. Ternyata dia adalah penyihir yang datang dari Tanah Kressia untuk mencari kekuatan di sini, bersama tiga pengikutnya.”, perempuan itu meringkuk kembali di pelukan Alendril.
Terdengar suara derap kaki dan kuda. Alendril segera mengajak perempuan itu berdiri, “Bersembunyilah disana!”, dia mendorong perempuan itu ke arah pepohonan. Dia sempat ragu, namun Alendril mendorongnya makin kuat, membuat perempuan itu mau tak mau segera berlari menuruti perintah lelaki itu.
Alendril duduk terengah-engah, dia masih terkejut dengan apa yang baru saja dilakukannya. Perempuan yang disembunyikannya tadi segera berlari menghampiri dan menghambur ke pelukannya. Dia menangis.
“Kau memang…memang putra Saudariku…”, ada haru dalam suaranya. Alendril menunduk menatap perempuan itu, lalu tersenyum. Senyum tertulus yang pernah di tampakkan wajahnya, selain pada Ayah dan Ibunya.
“Siapa namamu?”, tanya Alendril lembut.
Perempuan itu mendongak menatap Alendril lalu membalas senyumnya, “Joline.”. Mereka saling terdiam beberapa saat sampai kemudian Alendril sadar dia harus segera ke tempat kaum Sementy.
“Untuk apa kau ke sana? Kau pergi diam-diam dari Istana?”, tanya Joline.
Alendril mengangguk, wajahnya berubah sendu, “Aku membutuhkan kasih sayang mereka, membutuhkan dukungan mereka saat ini. Aku sedang dalam keadaan terpuruk.”.
Joline menatapnya iba, lalu dia memegang kedua pipi Alendril yang semakin dingin karena angin malam. Mata mereka bertemu. Joline mendekatkan wajahnya ke Alendril dan berbisik, “Lupakan pertemuan kita malam ini. Aku telah memutuskan hidup dalam hatimu, dan memberikan seluruh kekuatan Elf-ku padamu sebagai rasa terima kasihku.”, lalu mengecup lembut kening Alendril yang masih diam membisu, “Meskipun ini pertama dan menjadi akhir dari pertemuan kita, aku senang bisa menyerahkan seluruh kekuatan dan hidupku padamu yang telah membuatku pertama kali merasakannya…aku jatuh cinta padamu.”.
Lalu cahaya terang berwarna keemasan melingkari mereka, menyilaukan, dan membuat pohon-pohon bergoyang. Cahaya itu membesar dan mengeluarkan percikan seperti nyala api selama sesaat, kemudian pelan-pelan mengecil, dan menghilang. Menyisakan Alendril yang duduk sendiri dan kebingungan nenatap keempat mayat di depannya.
“Apa yang kulakukan?!”, dia lalu segera berdiri, “Aku harus bergegas…!”, dan berjalan pergi meninggalkan empat mayat itu dengan sedikit ketakutan untuk menuju kudanya.
Alendril lupa akan Joline yang telah memberikan seluruh kekuatan padanya hingga dia hilang tak berbekas dari dunia ini. Lupa pada pertemuannya dengan Joline malam itu.
Sam bertukar pandang dengan Lily. Mereka terkejut dengan kenyataan bahwa Alendril pernah bertemu dan mengalami kisah romansa dengan seorang perempuan, tepatnya sesosok Elf. Yang kemudian Elf itu memberikan seluruh kekuatan padanya tanpa pikir panjang, membuat Pangeran itu melupakan semua tentangnya demi keamanan dirinya, hanya karena cinta kilat perempuan Elf itu.
“Aku tak tahu jika jatuh cinta bisa secepat itu.”, gumam Sam.
Lily hendak menjawab tapi Putri Eloys sudah mengeluarkan suaranya terlebih dulu, “Aku merasakannya, hal yang sama, seperti saat pertama kali bertemu Eriez…”,
Sam terkejut, memotongnya dengan kaget, “Yang…Yang Mulia sudah menyukai Eriez sejak awal bertemu?”.
__ADS_1
Putri Eloys mengangguk dengan wajah memerah, lalu berbisik lirih, “Itulah mengapa aku tahu apa yang dirasakan Elf perempuan tersebut.”.
“Dan apakah sampai detik ini Alendril masih tak ingat tentang Elf bernama Joline dan kekuatan Elf nya itu?”, Lily bertanya-tanya.
Belum sempat mereka menyadari apa yang akan terjadi, tiba-tiba sentakan kuat kembali datang dan menerbangkan mereka untuk kemudian menjatuhkan ketiga anak muda itu dengan keras ke sebuah tempat yang gelap, dan visualisasi baru kembali hadir.
Panglima Sam terlibat adu perang dengan Pangeran Alendril di Gua Tryda. Sang Panglima berhasil menemukan tempat persembunyian Alendril yang sedang berada dalam keadaan terlemahnya setelah berhasil menanamkan sebagian kekuatan Naga Amber yang dicurinya dari Voctorius di perang pertama pada jantung jasad Ibunya.
Saat dia menanamkan kekuatan Naga Amber di jantung jasad Ibunya itu, dia mendapatkan visualisasi tentang apa yang terjadi malam itu antara dirinya dan Joline. Dan dia menyadari, dia ingat, dalam dirinya ada kekuatan Elf yang merupakan warisan Ibunya dan juga pemberian Joline. Itulah yang membuat Naga Amber terus berpendar hebat di genggamannya.
Setelah berhasil dikalahkan Panglima Sam, Alendril tersungkur dan tak mampu mengejar pemuda itu. Dia menyadari Naga Amber telah diambil darinya. Dan dia yakin Naga Amber akan dipakai lagi oleh Voctorius yang saat itu telah menjadi raja.
Visualisasi berganti cepat, dimana mereka bertiga melihat Alendril membangkitkan kekuatan gelap dengan Joulath Ibunya dan membelah jiwanya menjadi tiga. Dua jiwanya untuk membangkitkan Orb dan Illio dari tubuh-tubuh para Sementy, dan satu jiwanya merasuk, mengambil alih tubuh Olexa. Otomatis jiwa Olexa mati dan hilang tak bersisa karena terampas oleh jiwa Alendril yang masuk di dalamnya.
Dalam tubuh Olexanya, Alendril berhasil mencuri informasi dengan menggunakan kekuatan visualisasi yang sudah benar-benar berhasil dikuasai dan berhasil dikendalikannya dengan baik, bahwa Hati Teshra yang disegel dalam Naga Amber hanya bisa dirusak oleh kekuatan Dewa dan Peri. Dia telah berencana mengambil Naga Amber dari Voctorius saat perang dan akan menghancurkannya, namun dia kalah di peperangan itu. Tenaga dan kekuatannya sudah terkuras dan melemah karena membangkitkan dua makhluk kegelapan dan mencuri tubuh Olexa untuk menjadi inang jiwanya dalam melawan Voctorius di peperangan.
Sam dan kedua gadis terlempar kembali di tempat serba putih yang sudah sangat mereka kenali. Dunia Nefrisa.
Nefrisa berjalan menghampiri mereka, air matanya menetes, “Tak ada seseorang yang jauh lebih mencintai Tanah ini dan keluarganya lebih daripada Alendril, namun cinta yang dimilikinya menuntun lelaki itu menuju kesakitan yang teramat parah, dan menyisakan dendam dalam hidupnya. Membuatnya hidup dalam keadaan terhina, terkutuk, terbuang.”.
Sam maju dan menatap tajam Nefrisa, “Jika saja kau tak menyampaikan tentang visualisasi masa depan Tanah Tan di bawah kekuasaannya…”,
Nefrisa memotong, “Itu tugasku. Aku Dewi yang bersumpah melindungi tanah ini. Jika aku tak mengatakan pada Visius, aku bisa melanggar sumpahku karena tak mampu melakukan pencegahan jika hal tersebut benar-benar terbukti. Dan benar…meskipun hidup Voctorius diliputi kesedihan setelah perang itu, tapi Tanah Tan tetap berada dalam kedamaian, kesejahteraan, dan aman di bawah kepemimpinannya.”,
Lily maju dan bersuara, “Lalu jika memang kalian tahu bahwa Alendril memiliki kekuatan untuk menghancurkan Naga Amber, kenapa tak peringatkan kami dari awal? Dia mengetahui bahwa dia bisa menghancurkan Naga Amber dan mencari kesempatan melakukan itu pada perang kali ini…jika saja kami tahu kami bisa…”, Lily menunduk sedih, tak mampu melanjutkan kata-katanya.
Nefrisa menatap gadis itu lembut, “Kami tak mengira Alendril tahu tentang kekuatannya itu setelah mencuri informasi dari kekuatan visualisasi Elf-nya.”.
“Setidaknya kau harusnya mengatakan pada kami! Mengantisipasi apapun bukankah lebih baik?!”, Sam menatap Nefrisa sengit.
Nefrisa menatapnya sendu, “Kami tak bisa mengatakannya. Karena…”, dia terdiam sejenak, lalu menatap Putri Eloys.
“Jika kalian kami beri tahu, kalian akan fokus pada Naga Amber, padahal tugas utama kalian adalah menyegel kekuatan jahat selama-lamanya. Sebab musuh kalian yang utama saat ini adalah kekuatan jahat yang telah masuk membentuk kekuatan sempurnanya dalam wujud Jadze itu.”,
“Alasan apa itu?! Kami bisa menjaganya dalam waktu bersamaan, setidaknya tak segegabah itu sampai dia bisa merebutnya dari Raja Leon!”, Sam masih tidak bisa menerima.
Nefrisa menggeleng, “Tidak…”, jawabnya lemah, “…harusnya memang batu itu tak bisa digenggamnya kembali karena dia telah kehilangan jiwanya yang ikut mati bersama Olexa di masa lalu. Karena Alendril yang sekarang harusnya hanyalah perasaan dendam yang dia tanamkan bersamaan dengan pecahan kekuatan Naga Amber di jantung jasad Kristelle. Karena harusnya Tanah Tan tak lagi menerimanya sebagai Bangsawan Visius, sebagai Putra Elf, sebagai keturunan Sementy, sebagai keturunan Dewa Tan.”,
“Tapi…entah kenapa dia masih bisa menggenggam batu itu dengan erat bahkan cahayanya masih begitu kuat saat batu itu ada di tangannya…”, Nefrisa menatap ke atas.
“Apakah…”, Putri Eloys akhirnya bersuara, “…itu artinya, dia masih diterima oleh Tanah Tan dan Alam Semesta ini sebagai salah satu Ksatria yang berpeluang memimpin di tanah ini? Atau apakah…jiwanya sebenarnya belum mati?”. Semua mata menatap Putri Eloys.
“Aku berpikir sejak awal, Alendril bukan orang jahat. Dia hanya mencintai apa yang berharga baginya. Dia selalu mengatakan keadilan..keadilan…dan keadilan. Dia tersingkirkan sejak kecil, kehilangan kasih sayang, dan merasa dianaktirikan. Dan perasaannya itu dimanfaatkan oleh kekuatan gelap untuk dikendalikan.”, Putri Eloys menangkupkan kedua tangannya sambil berjalan maju menghampiri Nefrisa.
“Itulah mengapa aku ingin memanggil seseorang dari alam sana yang bisa mengajak Pangeran Alendril untuk kembali pulang dan menemukan lagi rasa cinta yang hangat dalam dirinya. Karena hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang…”, dia menunduk, “…kita sudah kehilangan Teshra, dan Naga Amber selamanya. Jangan sampai kita kehilangan siapapun lagi.”.
Lily berjalan mendekat ke gadis itu dan mengelus bahunya lembut. Sam masih menatap Nefrisa. Kemudian Nefrisa membungkuk hormat kepada mereka bertiga.
“Kalian memanglah manusia-manusia berhati besar yang benar-benar datang ke dunia ini seperti ramalan Tan dulu. Kalian orangnya. Dan aku yakin kalian yang bisa mengakhiri ini. Jika ini semua berakhir, dan Tanah Tan kembali kekedamaiannya, aku akan kembali ke Kerajaan Dewa karena tugasku menjaga tanah ini telah selesai.”,
“Aku ditempatkan di tanah ini untuk menjaga keseimbangan kekuatan gelap dan terang. Dimana meskipun kami bertiga dulu tak menyatukan kekuatan pun, kekuatan gelap akan terus berusaha memberontak dan mengambil alih apa yang ada di Tanah dan Bumi ini. Kekuatan itu semakin besar jika mereka menemukan sekutunya, dan selama ini sekutu terbesar mereka adalah Alendril. Kekuatan itu memang berhasil membelenggu Alendril dalam kegelapan dan dendam selama beratus tahun, bahkan ketika aku menanamkan kekuatanku pada Voctorius, Sawn, dan Eloys…namun tetap tak bisa mengimbangi kekuatan gelap yang telah membesar dalam tubuh dan jiwa Alendril yang terus berusaha menghantui Tanah Tan ini.”,
“Namun sepertinya tanah ini masih mencintainya, meskipun dia telah menjadi Yang Terkutuk, tapi Para Dewa sepertinya masih memberikannya kesempatan pulang ke alam sana. Tempat di mana seharusnya dia berada, dalam kedamaian.”, Nefrisa menatap ketiga anak muda itu bergantian.
“Aku minta maaf, atas kelemahanku, dan Teshra, serta ketidakberdayaan Tan, menjaga tanah ini bersama-sama. Setelah ini aku akan membantu Eloys memanggil dia yang kalian harapkan datang dari alam sana untuk menjemput Alendril pulang. Dan untuk itu, kita membutuhkan kekuatan Hati Zamrud serta seluruh kekuatan yang kutanam di dalam diri Eloys.”,
“Jika ini berhasil, maka selanjutnya Eloys maupun Raja-Raja Tan kelak tak akan memiliki kekuatan Rohku, karena Naga Amber juga telah hancur, dan Hati Zamrud yang saat ini ada pada Lily juga akan ikut bersamaku kembali ke Kerajaan Dewa. Apa kalian siap?”, Nefrisa merentangkan tangannya.
Ketiga anak muda itu saling tatap sejenak, lalu mengangguk dan berjalan menuju pelukan Nefrisa.
__ADS_1