Hati Zamrud

Hati Zamrud
Penyatuan Kekuatan dan Hati


__ADS_3

Sam dan Lily saling pandang. Mereka bingung, tak ada siapapun di sekitar mereka. Meraka berada di Dunia Nefrisa yang semua serba putih dan hangat, serta berbau harum. Namun Teshra tak ada.


“Kemana Naga Bodoh itu?”, Sam menggerutu. Sedangkan Lily sedikit gugup, menyadari dia tak tahu harus berbuat apa hanya dengan berdua bersama Sam di tempat ini.


“Hei, apa yang harus kita lakukan sekarang?”, Sam tiba-tiba menanyainya, membuat gadis itu mengernyitkan keningnya, “Seharusnya aku tanya kau, ‘kan kau Ksatrianya!”, protesnya.


Sam mendengus, “Dan kau yang membawa benda itu!”. Mereka saling pandang sesaat, lalu memalingkan wajah.


Suasana kembali hening. Agak lama, hingga kemudian Sam bertanya pelan, “Benda itu…dimana?”. Lily ragu sesaat, namun mencoba merogoh ke dalam mantelnya, meraba sesuatu di dekat dadanya. Dan kemudian dia menemukan benda itu, yang terasa padat, halus, dan hangat. Dia menariknya keluar.


Hati Zamrud berkilauan indah di tangan Lily, membuat Sam menatapnya penuh kekaguman. Dia berjalan mendekati gadis itu.


“Boleh aku memegangnya?”, tanyanya. Lily mengangguk, dan menyerahkan benda itu. Namun saat Sam mengambilnya, dia tak merasakan apapun, seperti hanya menggenggam cahaya saja.


Dia terlihat kecewa, “Aku…tak mampu menggenggamnya.”, bisiknya lirih. Lily menatap benda itu, dia juga heran, kenapa benda tersebut bisa seaneh ini. Dan dia tak tahu bagaimana menyerahkan benda itu untuk menjadi kekuatan Sam dan Teshra nantinya.


Sam mengetahui Lily terlihat sedih dan tak nyaman, segera menyentuh kedua bahu gadis itu, “Ayo kita lakukan bersama.”.


Lily menatapnya bingung, “Bagaimana caranya?”.


Sam berpikir sejenak, dengan otaknya yang cerdas, dia lalu tersenyum dan mencoba menggunakan cara yang pernah dia baca dari buku ilmu pengetahuan, “Jika kau ingin memegang sesuatu, namun kau tak mampu memegangnya, dan hanya orang lain yang bisa memegang benda itu, maka kau hanya perlu memegang tangan orang itu.”. Sam tersenyum, lalu meraih kedua tangan Lily yang memegang erat Hati Zamrud.


“Letakkan di sini.”, Sam menarik tangan Lily yang digenggamnya menuju dadanya. Sedetik kemudian cahaya terang berwarna hijau zamrud keluar melingkupi mereka berdua, memberikan sensasi hangat dan nyaman, yang membuat iris auburn Sam dan iris jade Lily bersinar cerah. Tatapan mereka bertemu, dan mereka bertukar senyuman.


“Kurasa…”, Lily berbisik, “…aku tahu tentang perasaan ini.”. Namun Sam tak mendengarnya.



Frank menatap langit malam. Ada cahaya hijau berkilauan di atas sana. Kemudian dia melirik tombak perak pusaka Nefendril milik istrinya, Yessa, yang juga ikut berpendar cerah. Frank tersenyum.


“Yessa, Putra kita, telah menyatu dengan Hati Zamrud…”, bisiknya pada kekosongan.



Sam dan Lily membuka matanya. Mereka telah kembali di dalam Kamar Teshra, mendapati naga hitam itu, bersama Putri Eloys, Eriez, Luisa, dan Frei di dekat mereka. Cahaya hijau zamrud berkilauan tertimpa cahaya bulan purnama, liontin berbentuk hati yang menggantung di dada Sam.


Menyadari Hati Zamrud telah hadir di dunia manusia, Teshra mengeluarkan lenguhan keras, lenguhan kebahagiaan. Yang langsung membangunkan seluruh Nefendril, hewan-hewan dan pepohonan di Tanah Tan, dan membuat langit malam seolah bersinar cerah menyambut kejadian luar biasa itu.


Sam menggenggam batu yang kini ada di dadanya itu, menatapnya penuh kekaguman, lalu matanya segera mencari Lily, dimana gadis itu menatapnya dari balik pelukan Putri Eloys dengan mata yang berkaca-kaca.


Sam tersenyum padanya.



Sirina, naga merah itu, menggeram keras. Dia melebarkan sayapnya penuh amarah. Sedangkan Jadze menggeretakkan gigi-giginya. Dia merasakan langit dan seisi bumi yang tengah bersuka-cita atas hadirnya batu mulia itu di genggaman Sang Ksatria.


“Harusnya, kubunuh saja gadis itu! Kenapa sampai aku luput darinya?!”, Jadze menggeram dengan mata berkilat-kilat penuh kebencian.

__ADS_1



Raja Leon, Ratu Marry, dan Pangeran Theo menatap Frank yang tengah memunggungi mereka. Mereka berkumpul di dalam ruang pribadi Raja Leon setelah merasakan sensasi kuat yang menggetarkan langit malam ini.


Frank menggenggam tombak peraknya, lalu berlutut, meletakkan tombak itu pada dahinya, “Terimalah panggilanku, Sekutu Setia. Aku, Frank Putra Rennet, bersumpah menjadi bagian dari Sekutu ini.”, Frank berbisik pelan.


Tiba-tiba angin lembut berdesir dan membentuk lingkaran mengelilingi Frank. Tombak yang ada di genggaman lelaki tua itu berpendar sangat cerah, membuat ketiga orang di belakangnya menutup mata karena silau.


Sensasi hebat kembali muncul di dekat mereka, seakan bumi bergetar, namun getaran itu memberikan rasa nyaman, dan menghantarkan mereka pada sebuah rasa tenang.


Setelah pusaran angin dan cahaya di tombak perak menghilang, Frank bangkit, lalu menatap Raja Leon,  “Hati Zamrud telah bangkit di dalam diri Ksatria Yang Agung, dan saya telah memberikan panggilan kepada kaum Nefendril. Yang Mulia, perang sudah di depan mata kita.”.


Raja Leon mengangguk, lalu menatap Pangeran Theo, “Apa Yang Mulia siap?”. Pangeran Theo mengangguk mantap.


Namun, sebelum mereka memutuskan segera kembali ke tempat masing-masing, Ratu Marry memanggil Frank dengan sedikit gugup, Frank mengangguk dengan hormat.


“Apakah…itu berarti…Perempuan Adil sudah ditemukan?”, Ratu Marry menatap Frank. Frank terdiam sejenak, lalu mengangguk.


“Siapa dia? Apakah dia…Putriku?”, Ratu Marry bertanya pelan, dan ragu-ragu. Raja Leon dan Frank bertukar pandang.


Sambil menghembuskan nafas Raja Leon menjawab pelan, “Bukan, Ibu.”, membuat Ratu Marry menatapnya kecewa. Entah kenapa, mata Ratu terlihat mulai berkaca-kaca.


“Dia…Putri tunggal Remedy, Kepala Pelayan Istana.”, Frank menjawabnya, dengan suara pelan.



“Kita sudah semakin dekat dengan peperangan yang nyata. Aku baru saja menerima panggilan dari saudaraku, Frank Putra Rennet, dan kita akan bergabung dengan pasukan manusia, untuk bersama-sama melawan Jadze dan pasukannya. Apa kalian siap?”, Frei mengangkat tinggi-tinggi tombak peraknya, diikuti suara teriakan ‘siap’ dari semua Nefendril sambil mengacungkan tombak masing-masing.


Sam berjengit, “Frank Putra Rennet?”, bisiknya pada Frei.


Frei tersenyum padanya, “Ya. Dia berhasil menghidupkan ‘nyawa’ Neolath milik Yessa untuk memanggil kami dalam sumpah setia.”. Sam tersenyum dan mengangguk.


Frei kemudian berjalan perlahan untuk memeluk Sam, dan si Pemuda membalas pelukan itu dengan lebih erat.


“Kita perlu bicara.”, Sam mencekal lengan Lily, saat gadis itu akan kembali ke kamarnya. Setelah suasana pertemuan malam tadi yang begitu meriah dan mengharu-biru, semuanya merasa capek dan hendak beristirahat di kamar masing-masing.


Putri Eloys dan Luisa telah berjalan terlebih dulu, sedangkan Frei tengah berbincang dengan Teshra, dan Eriez yang merasa sangat mengantuk sudah berada di kamarnya.


Lily menatap iris auburn Sam, “Apa?”.


Sam menarik lengannya, “Ikut aku.”, lalu dia mengajak gadis itu berjalan, melewati lorong, melewati kelima serigala yang tengah tidur mendengkur di depan pintu gerbang emas, dan kini mereka berjalan menuju mulut gua.


“Kita mau kemana?”, Lily protes, berusaha menarik lengannya, namun Sam tak membiarkan genggamannya pada lengan gadis itu lepas. Lily bisa melihat rambut cokelat tua pemuda itu sedikit bersinar tertimpa cahaya bulan purnama, mulut gua sudah ada di depan mereka.


Mereka kini ada di mulut gua. Sam menatap ke arah bulan yang membulat sempurna, lalu melepaskan lengan Lily dan menatap gadis itu, “Katakan…apa yang masih kau sembunyikan?!’, perintahnya, sedikit mekasa.


Lily mendengus, “Oh ayolah, jangan melakukan itu lagi,”, lalu berbalik hendak masuk ke dalam gua, namun Sam segera menarik lagi lengannya.

__ADS_1


“Kau tinggal memilih, aku memaksamu dengan pedang atau…”, Sam menarik sesuatu dari saku mantel Lily, “…ini?”, mengacungkan pisau pemberiannya di depan wajah gadis itu. Wajah Lily langsung memucat,


“Kau..? Kau mengancamku atau hendak mengajakku berduel?!”, teriaknya marah.


Sam mendekat ke arahnya, menatap tajam ke dalam iris jade gadis itu, tanpa senyum, “Tinggal kau memilih yang mana!”. Lily mendesah. Dia melengos dengan kesal, menjauhkan pandangan dari Sam.


“Sayang sekali aku tak pernah mengenal kata kompromi sejak aku dilahirkan. Jadi pilihannya adalah, iya atau tidak sama sekali.”, Sam menggeram, membuat Lily merasa sedikit terancam.


Akhirnya gadis itu mendesah lemah, menyerah. Dia menatap Sam, “Sebelum kukatakan, ceritakan padaku dulu tentang siapa Panglima Sam itu.”. Sam menatapnya sejenak, agak bingung, lalu tersenyum samar. Pemuda itu menatap langit, masih menggenggam pisau pemberian Ibunya itu.


“Dahulu kala, Raja Visius Yang Agung memiliki lima orang anak. Anak pertama bernama Alendril, yang menjadi sekutu kekuatan hitam. Anak kedua bernama Voctorius, Raja yang berhasil membangun Tanah Tan dengan megah. Anak ketiga bernama Jerrzen, yang kemudian pindah ke Tanah Kressia dan menetap di sana. Anak keempat bernama Ogius, meninggal saat masih bayi karena sakit. Dan anak kelima, seorang putri, bernama Tarren. Putri Tarren menikah dengan bangsawan dari tanah Kressia, dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Sam, oleh kakeknya, Raja Visius.”, Sam menghela nafas pelan, lalu melanjutkan,


“Raja Visius memilih nama itu, karena membaca ramalan kuno milik Pertapa Tan, Ayahnya. Dan berharap, Sam yang ternyata akan menjadi Panglima Perang serta Ksatria Yang Agung itu, seperti Sam yang akan muncul beratus tahun kemudian.”.


Lily mengerutkan keningnya, “Itu lucu sekali. Ayahmu menamaimu Sam karena terinspirasi oleh nama Panglima Sam yang dinamai karena terinspirasi oleh namamu yang masih ada di ramalan.”.


Sam tersenyum kecut padanya, “Mau kulanjutkan?”. Lily menyeringai, lalu mengangguk.


“Setelah cukup dewasa, Sam yang baru saja terpilih sebagai Panglima Perang Kerajaan kemudian melakukan perjalanan seorang diri untuk mengenal Tanah Tan ini. Dia tiba di sebuah desa yang berada di kaki Gunung Tannosi. Desa itu bersebelahan dengan Desa Oppresoi milik kaum Nefendril kala itu. Desa tersebut kini telah musnah, karena hancur akibat peperangan di masa Raja Voctorius itu.”,


“Sam bertemu dengan seorang gadis, mereka jatuh cinta dan menikah. Dia gadis desa itu, wanita biasa. Mereka kemudian memiliki satu orang anak, dan setelah kelahiran anak tersebut, perang itu terjadi.”. Sam diam.


Lily menatapnya, lalu bersuara, “Kau hafal sekali cerita ini.”.


Sam menangguk, “Ayah menceritakannya berulang kali padaku, saat aku masih kecil.”. Lily tersenyum.


“Dan setelah bertanya pada Teshra tadi, karena penasaran, aku mendapatkan tambahan cerita lebih lengkap.”, Sam bergumam, membuat Lily kembali menatapnya.


Sam menatapnya, ada senyum tipis di wajahnya, “Aku tak pernah tahu, karena tak pernah ada seseorangpun yang tahu namanya. Yah, siapa istri Panglima Sam itu. Karena dia hanyalah perempuan biasa, dari rakyat biasa, bukan bangsawan. Berbeda dengan kisah Pangeran Brian, yang kemudian naik tahta menjadi Raja Brian setelah menyelesaikan tugasnya sebagai Ksatria Yang Agung, dan menjadikan Perempuan Adilnya yang bernama Putri Floin, dari Kerajaan Cha, sebagai Ratunya.”.


Sam diam sebentar, tatapannya masih menuju ke kedua mata Lily. Gadis itu kebingungan, “Memang, siapa namanya?”, tanyanya.


Sam menghembuskan nafas pelan, lalu menatap pisau di tangannya, “Namanya…Lily.”. Seketika wajah Lily menengang. Ada sensasi hebat menyentak di dalam dadanya. Pipinya terasa panas dan kini dia seakan bisa mendengar degup jantungnya sendiri.


“Dengar…aku...”, Sam mendekat padanya.


Namun Lily langsung menjerit kecil, “Aku mengantuk. A…Aku tidur dulu…!”, lalu berlari masuk ke dalam gua, meninggalkan Sam yang masih bengong menatap kepergiannya.


Lily terus berlari, berusaha menghindar agar Sam tak melihat wajah merahnya yang bagai kepiting rebus. Sedangkan Sam kemudian menunduk menatap pisau di tangannya, “Bahkan dia melupakan pisau ini…”, mendesah dengan kesal dan segera ikut masuk ke dalam gua.



Jadze menatap tubuh seorang lelaki berusia 40-an tahun yang terbujur kaku di meja batu itu. Matanya berkilau penuh kebencian. Lalu dia mengangkat tombaknya, dan sebuah kilat keluar dari ujung tombak tersebut.


“Bangkitlah! Marahlah! Hancurkanlah!!!”, teriaknya. Petir menyambar-nyambar dari tombak itu, menuju tubuh Sang Lelaki. Menampilkan kilauan cahaya mengerikan dalam ruangan tersebut.


Para Orb dan Illio menatap pemandangan itu dengan ketakutan. Kemudian Sirina, Si Naga Merah, melolong kencang dengan lolongan mengerikan. Lelaki itu perlahan membuka mata beriris biru lautnya, lalu duduk dan menatap Jadze yang tersenyum bengis padanya.

__ADS_1


“Selamat datang kembali ke Dunia, Pangeran Alendril!”, sapanya.


__ADS_2