
Lisa mengeratkan genggaman tangannya pada Eriez. Mereka berjalan beriringan mencari ujung dari hutan di tanah perbatasan itu. Tiba-tiba hatinya terasa sakit, mengingat Lily dan Sam yang tak tahu dimana rimbanya. Air matanya kembali jatuh.
Eriez berbisik menenangkan, “Selama mereka berdua bersama, aku yakin mereka dalam keadaan aman…kita tinggal mencarinya sekarang…”, Lisa memotong, “Tapi bagaimana jika mereka terpisah?”.
Eriez menatap Lisa sejenak, lalu tersenyum lembut, “Perasaanku mengatakan, mereka bersama saat ini.”.
Senyuman Eriez menghangatkan hati Lisa. Sejak pertama bertemu pemuda itu, dia sudah merasakan perasaan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Tapi dia berusaha mengabaikannya, dia mengira itu perasaan kagum biasa, saat menatap senyum manis dan iris biru laut pemuda sopan itu.
Namun seiring berjalannya waktu, selama beberapa hari ini mereka melewati perjalanan bersama, saling melindungi dan menghadapi bahaya, Lisa menyadari…ini pertama kalinya dia merasakan jatuh cinta. Ya, dia merasakan perasaan yang dalam kepada pemuda Arkeolog itu. Putri Eloys akhirnya menemukan belahan hatinya.
Tiba-tiba mereka mendengar derap kaki kuda dalam jumlah cukup banyak mendekat. Eriez spontan menarik Lisa mendekat kepadanya, Lisa sendiri tak merasakan ada peringatan Nefrisa dalam dirinya, berarti kemungkinan kawanan yang mendekati mereka berdua itu bukanlah kawanan orang atau makhluk jahat.
Mereka berdua menunggu, sampai kemudian rombongan pria yang menaiki kuda, berjumlah sekitar 20 orang dengan masing-masing membawa obor dan pedang di pinggang, berada di hadapan mereka.
Seorang pemuda berusia sekitar 25 tahunan dengan kulit putih, dengan rambut hitam kecokelatan dan bermata hitam legam maju turun dari kuda, melangkah maju menuju Sang Putri yang langsung mengenali siapa dia. Pangeran Theo.
***
Jadze melempar lelaki tua ceking berambut gimbal itu ke tanah dengan amarah memuncak. Wajah cantik namun culasnya terlihat memerah karena marah. Naga merah kesayangannya juga menggeram, mengancam ke si Lelaki tua bernama Merdy itu.
Si Merdy kemudian merayap dan meringkuk di bawah kaki si Penyihir. Jadze dengan matanya yang buas menatapnya dengan pandangan mengintimidasi, “Aku tak mau tahu. Bagaimanapun caranya, bawa Eloys dan pemuda bernama Sam itu hidup-hidup ke hadapanku secepatnya. Terserah mau kau apakan kedua temannya. Atau jika tidak….seluruh wilayah tempat tinggal keluargamu akan kubumihanguskan!”.
Merdy bergidik ngeri lalu mengendus ujung kaki Penyihir Hitam itu, “Mohon ampun Yang Mulia Jadze, mohon jangan memporak-porandakan tanah saya. Saya tidak mau, keluarga saya dikutuk lagi sampai kiamat kelak. Saya…saya berjanji akan membawa Yang Mulia Putri dan pemuda itu ke hadapan Anda secepatnya…mohon beri saya waktu..”, pria tua itu mencicit memelas.
Jadze mengibaskan kakinya dan berbalik menuju singgasana batu pualam hitam tempatnya sehari-hari menikmati kekejaman yang dilakukannya sejak kekuatan hitamnya bangkit beberapa minggu ini.
“Aku beri kau waktu seminggu, jika tidak…kau tahu sendiri akibatnya!”, Jadze mengibaskan mantelnya dan kembali duduk dengan angkuh di singgasana tersebut. Matanya berkilat bengis.
***
Lisa menatap Pangeran Theo, kemudian membalas anggukannya, mereka saling memberikan hormat dan simpati. Pangeran Theo segera menggerak-gerakkan jarinya, ‘Saya bersyukur menemukan Anda disini Yang Mulia.’, Pangeran berwajah rupawan itu memberikan senyuman padanya, lalu tatapan matanya beralih pada Eriez.
Lisa ikut menatap Eriez sebentar lalu kembali mengalihkan pandangannya kepada Pangeran Theo, “Yang Mulia, dia bernama Eriez, cucu dari Peramal Harold, seorang Arkeolog dan Ahli Memanah yang ikut bersama rombongan kami. Dia…dia adalah penyelamat saya.”, wajah Lisa memerah. Pangeran Theo kaget mendengar suara Sang Putri dan kenyataan dia sudah tak bisu dan tuli lagi.
Lisa tersenyum, “Saya akan menceritakannya nanti.”. Pangeran Theo kemudian mengangguk.
“Baiklah. Sebaiknya kalian berdua segera ikut kami. Kami akan memberikan tempat istirahat yang layak pada kalian malam ini, dan esok kita akan kembali mencari dua teman kalian yang hilang. Mari…”, Pangeran Theo mempersilahkan Lisa dan Eriez berjalan bersamanya. Eriez mulanya ragu, namun ketika Lisa menarik tangannya dan tersenyum penuh keyakinan, Eriez kemudian mengangguk setuju.
__ADS_1
Pangeran Theo memandang mereka dengan tatapan penuh arti.
“Astaga!! Syukurlah kau akhirnya membuka matamu…”, Lily menghambur ke dada Sam. Dimana Sam yang masih dalam posisi telentang di tanah mulai merasa kesakitan dan berat dengan tubuh Lily yang menimpa tubuhnya. Dia bisa mendengar gadis itu mulai sesenggukan dalam tangis harunya.
Tangan kanan Sam menyentuh lembut bahu Lily dan dia kemudian berbisik, “Berat…”. Lily yang mendengar bisikan itu langsung bangun dengan wajah memerah. Untunglah suasana gua yang sudah mulai gelap karena hari telah malam, sedikit mengaburkan rona merah di pipinya tersebut dari pandangan Sam. Lily lalu membantu pemuda itu bangun dan duduk bersandar di dinding gua.
“Dimana kita dan dimana mereka?”, tanya Sam lemah. Lily menunduk sedih, dia teringat sahabatnya, Putri Eloys. Air matanya mulai mengalir. Dia takut terjadi sesuatu dengan Putri Eloys. Dia akan merasa menyesal seumur hidup jika dia sampai kehilangan sahabatnya itu selama-lamanya.
“Hei, kenapa menangis?”, Sam memergoki air mata Lily yang berkilau terkena cahaya bulan.
Lily dengan segera mengusapnya, lalu menatap Sam, “Aku…aku tak tahu dimana Yang Mulia..dan Eriez..”, dia menunduk, bermain dengan pisaunya, “…aku tak tahu mereka masih hidup atau…”, dia tak melanjutkan lagi kata-katanya. Hatinya terlalu perih teringat wajah Putri Eloys.
Sam dengan sedikit tertatih menggeser duduknya lebih dekat ke Lily, membuat gadis itu menatapnya. Sam lalu mengambil pedangnya, mengeluarkan dari sarungnya. Pedang itu berkilau tertimpa cahaya bulan. Indah.
“Aku akan menjawab pertanyaanmu kala itu.”, Sam tersenyum kepada Lily. Lily merasakan sensasi tak jelas di dadanya hanya dengan menatap senyuman pemuda itu, namun dia segera mengalihkan kegugupannya dengan bertanya, “Pertanyaan yang mana?”.
Sam lalu menunjuk tanda Z di ujung pedangnya dekat gagang, “Kau ingat kan saat aku menggoreskan tanda ini dengan pisau yang kuberikan padamu itu?”. Lily mengangguk. “Itu adalah sebuah tanda kehormatan, yang menjadi tradisi dari semua pasukan perang istana, saat mereka akan menuju perang hidup dan mati.”, Sam kemudian memasukkan kembali pedang itu ke dalam sarungnya.
“Tanda kehormatan? Perang hidup dan mati? Maksudnya?”, Lily masih tak mengerti. Sam kemudian menatap keluar gua, ke arah rembulan separuh bulat di langit.
“Dahulu kala, di masa Raja Voctorius, penggati Raja Visius, Tanah Tan diserang oleh para pemberontak yang terdiri dari manusia, Orb, Illio, dan sebagian dari makhluk setengah peri bernama Nefendril. Mereka terpedaya oleh kekuatan hitam yang terlepas karena melemahnya kekuatan Naga Amber yang dicuri dari Raja Voctorius saat itu. Sang Panglima Perang Kerajaan bernama Sam saat memimpin perang melawan pasukan berkekuatan sihir jahat itu memerintahkan seluruh anak buahnya menggoreskan lambang Z pada masing-masing pedang mereka, karena mereka akan menuju dalam perang hidup dan mati. Perang terbesar yang pernah dilalui Kerajaan Tan ini.”,
“Ayahku sangat mencintai Tanah Tan ini, dia berharap dapat mengabdikan hidup dan matinya demi membela Kerajaan dari segala bentuk kejahatan dan kerusakan. Dia dididik ilmu perang sejak kecil oleh Kakekku, Pangeran Rennet. Dia tumbuh menjadi pemuda tangguh dan kariernya dalam kerajaan semakin menanjak, dari Wakil Panglima Perang Kerajaan hingga sekarang menjadi Perdana Menteri. Dia sangat mengidolakan Panglima Sam, Panglima Perang Kerajaan di zaman Raja Voctorius itu. Dia gigih, kuat, dan cerdas. Maka ketika aku lahir, dia menamakanku Sam, berharap aku bisa seperti atau lebih dari Panglima Sam tersebut.”.
Mereka terdiam sejenak. Kemudian Lily membuka mulutnya, “Dan kau, ingin menjadi Panglima Perang karena ingin membanggakan Ayahmu?”.
Sam menatapnya, lalu menggeleng, “Tidak. Aku menginginkannya untuk diriku sendiri. Karena aku sama seperti Ayahku, ingin melindungi tanah kelahiran dan dimana aku dibesarkan ini dengan segenap nyawaku. Aku ingin mati di tanah ini, dan…”, Sam kembali menatap bulan, “…suatu hari bisa membangun keluargaku, menghabiskan waktuku bersama mereka di tanah ini juga.”.
Lily ikut memandang langit. Bulan separuh itu bersinar lembut. Meskipun tanpa bintang-bintang di sekelilingnya, karena awan tebal belum mau beranjak dari langit. Lily tiba-tiba merasakan kerinduan yang hebat pada Ayahnya. Ingin segera dia pulang ke rumah.
“Meskipun sebelumnya aku pernah berada dalam medan pertempuran tapi…aku tak pernah setakut ini menghadapi kematian. Sehingga kuputuskan menggoreskan tanda Z itu. Jikalau aku mati maka…”, Lily memotong perkataan Sam dengan sedikit berteriak, “Tidak! Kau tak akan mati! Siapapun tak akan mati! Putri akan tetap hidup, kita akan melindunginya bersama-sama, dengan Eriez juga. Putri akan kembali menemaniku duduk di bawah eastern redbud kami, Eriez akan kembali berpetualang meneliti situs-situs kuno, dan kau…dan kau akan menjadi Panglima Perang Kerajaan.”, matanya membulat sempurna.
Sam menatapnya sejenak karena kaget dengan kepercayaan diri yang begitu tinggi pada gadis itu, lalu dia tersenyum.
“Kalau begitu, kau tak perlu menangis saat memikirkan Yang Mulia Eloys saat ini. Aku yakin Eriez telah menjaganya dengan baik. Seperti…”, Sam tiba-tiba meraih Lily dalam pelukannya, “…kau yang menjagaku dengan baik. Terima kasih telah menyelamatkan nyawaku, dan membuatku merasa tenang.”, bisiknya. Lily merasakan seluruh badannya menegang dan pipinya memanas dengan pelukan tiba-tiba Sam itu.
“Tuan, Anda bisa beristirahat di tenda sebelah sana. Jika Anda membutuhkan sesuatu, katakan pada saya, saya akan menyiapkannya segera.”, pelayan itu membungkuk di depan Eriez.
Eriez tersenyum, “Terima kasih. Tapi sekarang aku ingin berbincang dulu dengan Yang Mulia Putri.”. Pelayan itu mengangguk, lalu pamit undur diri.
Lisa atau Putri Eloys itu lalu mengambil kedua tangan Eriez dan meletakkan di pangkuannya, menggenggamnya erat, “Besok kita akan segera pergi, untuk menemukan Lily dan Sam.”, bisiknya.
__ADS_1
Eriez mengerutkan kening, “Kau yakin tak mau menerima bantuan mereka?”. Lisa menggeleng.
“Dalam buku itu, tak ditulis keempat pemuda menerima bala bantuan. Aku hanya takut mereka akan menemui kesusahan atau justru kehilangan nyawa karena kita, kau mengerti kan maksudku?”.
Eriez semakin terkejut, “Buku?”. Lisa mengangguk, “Buku legenda yang ditulis Kakek Harold, yang dimiliki Sam, buku itu sekarang bersamaku.”, Lisa mengambil buku bersampul merah marun itu, menyodorkannya kepada Eriez, “Aku meminjamnya dari Sam, karena penasaran dengan isinya.”.
Eriez membuka buku itu, melihat lembaran demi lembarannya, lalu mendongak ke Lisa, “Kau sudah membacanya sampai selesai?”, tanyanya.
Lisa menggeleng, “Yang sudah selesai membacanya sepertinya cuma Lily. Sam mengatakan padaku masih belum menyelesaikannya juga karena dia tak terlalu suka dengan buku-buku dongeng seperti itu. Aku baru membacanya sampai kepada Tanah Perbatasan.”. Eriez membuka lembaran Bab Tanah Perbatasan.
“Jadi, Gua Nefrisa berada di Tanah Perbatasan ya? Buku ini semacam seperti petunjuk, namun tak terlalu lengkap.”, Eriez membaca beberapa kata yang tertulis di bagian Bab tersebut.
“Ksatria menemukan Gua yang menjadi tempat terlelapnya Naga itu. Namun saat Ksatria mencarinya dia tak menemukan Naga yang tertidur, tapi kawanan sekutu. Mereka adalah makhluk setengah peri yang akan menjadi sekutu terkuat melawan kegelapan. Mereka hanya bisa ‘dipanggil’ oleh Orang yang memiliki darah yang sama dengan mereka. Yang memiliki kekuatan pemanggil dengan pusaka kaum mereka.”, Eriez selesai membaca akhir Bab tersebut, lalu menatap Lisa dengan wajah penuh penyesalan, “Jika aku menemukan bacaan seperti ini, maka aku akan menanyakannya pada Kakek kala itu…astaga harusnya aku juga membaca buku ini bukan?”.
Lisa kembali meraih tangannya, “Eriez, entah kenapa hatiku merasakan dengan kuat bahwa saat ini Sam telah dekat dengan Gua Nefrisa. Dan aku yakin dia bersama dengan Lily saat ini. Bukankah itu sebuah keuntungan? Karena hanya Lily yang telah membaca habis buku legenda ini. Dan lagi, aku jadi sedikit lega, tak lagi menyesal karena tak bisa membantu Sam saat ini dengan kekuatan Roh Nefrisaku.”. Eriez tersenyum lalu mengangguk setuju.
Baiklah. Sekarang kita berdua harus istirahat. Besok pagi buta kita harus segera meninggalkan tempat ini dan mencari Sam serta Lily. Aku akan kembali ke tendaku.”, Eriez beranjak dari duduknya, namun langkahnya terhenti karena Lisa menarik ujung mantelnya.
“Aku…masih ingin bicara sesuatu lagi. Sebentar saja…”, bisiknya lirih.
“Kau yakin akan berangkat sekarang? Ini masih terlalu dini hari kau tahu, matahari belum waktunya muncul juga. Masih gelap di luar sana…”, Lily agak bersungut dengan ide Sam yang mengajaknya segera pergi mencari Lisa dan Eriez.
“Aku sudah bersumpah menjaga Putri Eloys kepada Raja Julian dan Raja Leon, dengan nyawaku. Jika dia mati dan aku tak ada bersamanya, aku akan dipenggal juga kau tahu? Dan arwahku akan menjadi arwah penasaran karena tak bisa memenuhi janji kepada Raja Tanah Tan.”, Sam menggerutu, dia meraih pedang dan menyandangnya di punggung, lalu meraih mantelnya, hendak berdiri tapi masih kesulitan.
“Astaga kau memang keras kepala!”, Lily segera membantunya. Setelah Sam berdiri sambil berpegangan dinding gua, Lily membantunya memakai mantel. Sam melihat rambut gadis itu terurai tak beraturan dan kusut, basah, serta sedikit bau lumpur.
“Kau tak berniat menguncir rambutmu? Agar gerakanmu lebih mudah kau tahu...”, Sam tiba-tiba memberikan ide pada Lily untuk mengatur rambut sebahunya itu lebih baik.
Lily menatapnya, lalu mengangguk, “Terima kasih atas idenya.”, dia lalu merobek lagi ujung mantelnya, menjadikannya ikat rambut yang kuat, meninggalkan dua juntai anak rambut di sisi kanan dan kiri pelipisnya. Sam tersenyum melihatnya.
“Aku berhutang nyawa padamu. Aku akan bersikap lebih manis mulai sekarang. Kau lebih dari sekedar pelayan, kau tahu, kau pantas disebut seorang Pejuang.”, Sam menatap Lily sambil masih tersenyum.
Lily mengakui senyum pemuda itu sangatlah manis, mungkin lebih manis daripada satu toples gula. Sayang sekali, dia jarang tersenyum, sehingga bisa dikatakan momen Sam tersenyum adalah kejadian langka yang ibaratnya hanya bisa ditemukan 1000 tahun sekali.
“Berhentilah memujiku. Kita impas sekarang. Karena kau juga sudah berulang kali menyelamatkan nyawaku. Ayo kubantu…”, Lily meraih lengan Sam dan membantunya berjalan.
Baru beberapa langkah mereka berjalan hendak keluar gua, tiba-tiba ada hembusan angin yang sangat lembut namun kuat dan terasa hangat berasal dari dalam gua, menyentuh mereka. Lily dan Sam spontan berbalik dan melihat ke dalam gua yang gelap. Mereka lalu saling bertukar pandang. Sam merasakan tangan Lily meremas lengannya kuat sekali, dia bisa tahu bahwa gadis itu agak ketakutan.
Sam lalu menatap Lily dengan tatapan ‘jangan takut’. Lily berbisik padanya, “Kita tetap keluar, atau melihat apa yang ada di dalam?”. Sam berpikir sebentar, entah kenapa hatinya lebih condong memilih untuk masuk ke dalam.
Belum sampai mereka menemukan keputusan terbaik untuk keluar gua saja atau masuk ke dalam, sesosok makhluk yang amat indah, dengan rambut panjang menjuntai hingga mata kaki, berwarna perak halus dan wangi, bermata auburn seperti mata Sam dan berkulit putih seperti porselen, muncul di hadapan mereka dengan membawa obor.
Dia tersenyum sangat manis, “Selamat datang, Ksatria.”, sapanya kepada Sam.
__ADS_1