Hati Zamrud

Hati Zamrud
Pisau Yessa


__ADS_3

Setelah Kenneth, Panglima Perang Kerajaan Tan sebelumnya, pensiun, memang posisi itu rencananya akan diisi oleh Sam. Tapi sebelum Sam dilantik, kejadian terror oleh Jadze ini terjadi. Selama Sam tak ada, memang Kenneth yang sudah mulai tua kembali memegang posisi Panglima itu kembali. Namun dengan hadirnya Pangeran Theo di Kerajaan Tan sekarang, Raja Leon menyerahkan posisi itu untuk dipegang oleh Putera Mahkota Kerajaan Cha tersebut.


Raja Leon sendiri, menatap Naga Amber di tangannya, saat berada di tribun tempatnya mengawasi latihan pasukan perang di bawah komando Pangeran Theo. Ratu Marry yang ada di sampingnya kemudian meliriknya dengan sedih. Dia tahu bahwa sampai detik ini putranya masih kehilangan sosok Raja Julius, sama seperti dirinya, dan juga belum mampu benar-benar menghadapi kenyataan bahwa kini Kerajaan Tan ada di bawah kepemimpinannya.


Ratu Marry mengelus bahu Raja Leon yang langsung menatap Ibunya tersebut dengan tatapan kaget. Ratu Marry tersenyum, “Semua orang mengatakan bahwa dari segi fisik, kau hampir seperti aku. Namun nyatanya, dalam masalah sifat, kau jauh lebih mirip dengan Raja Julius.”.


Raja Leon masih menatap Ibunya, tangannya menggenggam Naga Amber dengan erat. Ratu Marry lalu menatap langit, “Yang Mulia Julius adalah orang yang sangat sabar dan setia kawan. Dia juga sangat mencintai keluarga. Namun dia orang yang sedikit rendah dalam hal kepercayaan diri.”,


“Dulu, Raja Julius sempat bercerita padaku saat baru beberapa hari dia naik tahta menggantikan Raja Brian yang telah wafat. Ternyata Raja Brian sempat ragu mengangkatnya sebagai Putra Mahkota karena sifat rendah diri Raja Julius tersebut. Raja Brian sempat akan mengangkat putra keduanya, mendiang Pangeran Theodorus, untuk menjadi Putra Mahkotanya karena dia lebih berani dan lebih percaya diri dibanding kakaknya. Sedangkan adik terakhir mereka, Pangeran Sawn, setelah Ratu Floin meninggal, dipindahkan ke Tanah Kressia sampai sekarang, dan kau tahu itu.”,


“Namun atas saran dan dorongan Pangeran Theodorus yang berhati lembut, Raja Julius yang memiliki kepercayaan diri rendah kala itu, berhasil membuktikan kepada Ayahnya yang memiliki kepribadian sangat kuat dan cenderung keras, bahwa dia mampu memegang tahta Kerajaan Tan selanjutnya, dengan menjadi Putra Mahkota. Dia juga dengan gagah berani memimpin perang melawan pemberontak bersama Raja Gareth, meskipun harus kehilangan Pangeran Theodorus di medan perang kala itu.”,


Ratu Marry diam sejenak, lalu mendesah pelan, “Sebelum Jadze mengambil nyawanya malam itu, Raja Julius sempat menangis di pangkuanku dan meminta maaf atas kekhilafannya yang gegabah tergiur tipuan jahat Jadze. Dia sangat mencintai keluarganya, dan tak tahu bahwa itu akan mengantarkan hal serumit ini untuk Kerajaan bahkan bumi ini. Dia begitu sakit saat kehilangan Ratu Floin beserta adiknya yang ada dalam kandungan di usianya yang masih kecil, kemudian kematian Raja Brian, dan Pangeran Theodorus. Aku yang awalnya kecewa dan marah padanya, menjadi iba, karena aku tahu bahwa dia melakukan itu untuk melindungi orang-orang yang dicintainya, tak ingin kehilangan mereka lagi, meskipun caranya salah.”,


Ratu Marry menitikkan air matanya, “Lalu dia berpesan padaku, jika nanti kau telah naik tahta, aku harus mampu mendampingi dan menguatkanmu agar tak berada dalam kondisi lemah, tidak percaya diri, dan gegabah sepertinya dahulu.”, kemudian Sang Ratu memeluk Raja Leon dengan lembut, membuat Sang Raja merasakan panas di kedua matanya.


“Di depanmu ada rakyat, pasukan, dan orang-orang yang percaya serta setia padamu. Di luar sana ada adik perempuanmu, calon Panglima Perangmu, pemuda yang dicintai adikmu, dan pelayan setia adikmu yang tengah berjuang menghadapi bahaya demi membantumu mengembalikan kembali kedamaian negeri ini. Apakah kau masih ragu dengan apa yang sedang kau hadapi sekarang, Putraku?”, bisik Ratu lembut.


Air mata akhirnya mengalir di pipi Raja Leon, pelukan lembut Sang Ibu menghangatkannya. Dia telah lama tak pernah merasakan sensasi kegundahan dan kesedihan seperti ini, setelah sebelumnya sempat mengalaminya, saat dia kehilangan perempuan yang dicintainya, Elea Putri Frank, dan kemudian Ayahnya Raja Julius, selama-lamanya.


Dia tak ingin lagi kehilangan orang-orang yang dicintainya, seperti dia kehilangan Elea dan Ayahnya. Dia ingin melindungi Ibunya, adiknya, rakyatnya, pasukannya, semuanya.


Naga Amber di dalam genggamannya itu kemudian berpendar kuat dan indah, memperlihatkan kekuatan hati Sang Raja yang telah bangkit.



Lily yang berjalan beriringan dengan Putri Eloys menuju kamar setelah makan malam, sedikit terkejut, melihat Sam sudah berdiri di depan kamarnya. Dia kemudian bertukar pandang dengan Putri Eloys. Menyadari kehadiran kedua gadis itu, Sam langsung menghampiri mereka.


“Boleh bicara sebentar?”, tanyanya pada Lily. Lily melihat ke arah Sang Putri yang mengangguk sambil tersenyum padanya. Sam lalu mengangguk hormat pada Putri, dan segera berjalan menuju pintu gerbang, diikuti oleh Lily.

__ADS_1


Mereka berdua berjalan, melewati kelima serigala Eriez yang sudah tertidur pulas di depan pintu gerbang Gua Nefrisa, dan terus berjalan melewati lorong menuju mulut gua. Sam berhenti, kemudian duduk dan melepaskan pedang yang dari tadi digenggamnya untuk diletakkan di tanah.


Dia menatap Lily, “Aku tak akan pakai ancaman dan kekerasan malam ini, jadi duduklah dengan nyaman!”, perintahnya. Lily masih diam, namun menurut saja dan duduk di samping pemuda itu.


Angin malam berhembus menggoyangkan pepohonan, rumput, dan rambut kedua anak muda di mulut gua itu. Bulan purnama bersinar cerah, kali ini ditemani bintang-bintang sebab langit sedang tak berawan.


Setelah saling diam cukup lama, Sam kemudian menyodorkan pisau milik Ibunya kepada Lily. Lily kaget, menatap Sam sejenak, lalu kembali menunduk menatap pisau itu. Mengetahui Lily tak segera mengambil benda tersebut, Sam yang gusar langsung meraih tangan kanan Lily dan meletakkan pisau itu ke atas telapak tangan si Gadis.


“Aku sudah memberikannya padamu, jadi jangan kembalikan lagi padaku!”, gerutu Sam.


Lily langsung menjawabnya sewot, “Kau sendiri yang merebutnya dari saku mantelku!”, protesnya. Mereka saling menatap dengan sengit. Lalu sebentar kemudian memalingkan muka.


“Aku minta maaf…”, gumam Sam pelan. Lily masih diam.


“Aku…yah, tak seharusnya memperlakukanmu kasar setiap kali kita bersama. Aku sudah berusaha, kau tahu…bersikap baik. Tapi bagaimana ya…aku memang seperti ini.”, Sam menggaruk kepalanya yang tak gatal. Lily menarik kedua lutut dan memeluknya.


“Tapi kau selalu lembut pada Putri Eloys…”, gumam Lily sangat pelan, namun Sam bisa mendengarnya. Dia diam sejenak, menatap bulan purnama.


Sam lalu menatap pucuk kepala gadis itu dan tersenyum samar, “Aku rasa, di awal aku sedikit merasa terancam dengan kehadiranmu. Sehingga aku selalu berlaku tak baik padamu, padahal…itu bukan keinginanku.”. Lily mendongak, menatap Sam, kedua mata mereka bertemu.


Sam tersenyum, “Namun, aku tak pernah menemukan seseorang seberani dirimu, yang mampu membuatku kesal, marah, dan juga muak dalam satu waktu. Bahkan Putri dan Eriez, memperlakukanku dengan lembut. Namun kau…”, Sam mendekatkan bahunya ke bahu Lily, “…kau tidak! Aku benci itu.”.


Kini mereka berdua hanya berjarak beberapa inci. Lily bisa menatap iris auburn Sam yang melembut saat menatapnya. Hatinya semakin tak karuan dan jantungnya seakan hampir melompat dari dalam tubuhnya. Namun gadis itu berusaha tetap tenang dan diam, menunggu Sam selesai berbicara.


“Pisau ini, barang berharga milik Ibuku, Yessa. Ayah membawakannya sebagai hadiah ulangtahun pernikahan mereka. Awalnya Ibu kaget kenapa Ayah memberi senjata ini. Namun ternyata, Ayah telah lama tahu bahwa Ibu berlatih bela diri diam-diam.”,


“Sebelum Ibu berangkat dengan rombongan Ibu Suri Ryte, dia memberikan ini padaku. Sepertinya Ibu tahu bahwa dia akan pergi untuk selama-lamanya, meninggalkanku dan Ayah. Dia berpesan, untuk menjaga pisau itu, dan menjaga selalu Ayahku dengan baik.”.


Sam diam sejenak, masih menatap iris jade Lily, “Kurasa, saat aku memberikannya padamu dulu, itu adalah awal dimana aku merasakan sesuatu yang tak biasa dalam diriku. Yah, aku tak pernah memberikan barangku kepada siapapun…bahkan kepada Putri Eloys atau Ayahku.”.

__ADS_1


Sam lalu memegang kedua bahu Lily, membuat kedua pipi gadis itu memerah. Sam bisa melihat semburat merah di wajah Lily, dan dia tersenyum, “Yang Mulia Raja Leon pernah memiliki perasaan spesial kepada Kakakku, Elea. Namun, menurut cerita Putri Eloys, belum sempat Raja Leon menyampaikan isi hatinya, Kakakku sudah tiada. Dan…”, Sam terdiam sebentar, kali ini tatapan matanya menuju tanah, namun kedua tangannya masih di bahu Lily.


Lily sendiri berpikir tentang kisah Raja Leon dan Elea, Kakak Perempuan Sam itu. Ya, Putri Eloys dulu pernah menceritakan itu padanya, mungkin itu yang membuat Putri Eloys berani menyampaikan perasaannya pada Eriez, sebab Sang Putri pasti tak mau kehilangan atau meninggalkan orang yang dicintainya selama-lamanya sebelum menyampaikan perasaannya tersebut.


“…Raja Brian pun menyesal, menyadari dia begitu mencintai Ratu Floin, setelah Sang Ratu tiada.”, Sam melanjutkan kata-katanya, kali ini dengan lirih.


“Dengar, aku hanya akan mengatakannya satu kali…”, Sam menatap lagi iris jade Lily, genggaman tangannya di bahu gadis itu mengerat. Lily masih diam membisu, namun detak jantungnya semakin tak karuan.


“Aku…”, Sam berusaha mengeluarkan kata-katanya, namun dia terlihat kesulitan. Dia menarik dan menghembuskan nafas dengan gugup. Hingga kemudian kedua tangannya di bahu Lily terangkat, menyentuh kedua pipi gadis itu. Membuat jantung Lily serasa berhenti, dan merasakan bumi yang dipijaknya seakan ikut berhenti berputar.


Sam tersenyum, “…aku…tak mau menyesalinya jadi…aku akan katakan…”, dia mendekat, menempelkan dahinya ke dahi Lily. Mata mereka saling menatap dengan jarak yang sangat dekat.


“…aku mencintaimu.”, bisik Sam, yang akhirnya membuat air mata Lily mengalir.



Sirina, dengan Pangeran Alendril di atas punggungnya, menyemburkan api yang langsung menghanguskan desa tempat tinggal keluarga terakhir Merdy. Setelah kehidupan di sana tak bersisa lagi, naga merah itu terbang meninggi dan menuju Bukit Vixy. Dari atas sana, Sang Naga kembali menyemburkan api, dan meluluhlantakkan hutan di sekitar bukit, yang kemudian merambat turun, sampai ke hutan-hutan yang ada di kaki Gunung Tannosi. Desa Klob telah kosong tanpa penghuni, segera saja ikut hangus dan terbakar.


Sirina kemudian memekik kencang, menggelegar seakan membelah langit malam. Sedangkan Pangeran Alendril mengangkat pedang yang diberikan Jadze padanya, sambil tertawa penuh kepongahan.



Frank terbangun dan langsung berdiri menuju jendela, menatap Gunung Tannosi yang membara dan langit malam yang awalnya cerah langsung gelap karena tertutup awan hitam.


Raja Leon di kamarnya, memandang pemandangan itu dengan geram. Naga Amber di genggaman tangannya berpendar semakin kuat.


Teshra menegakkan kepalanya menatap langit, sedangkan Frei yang ada di sampingnya menggenggam tombak peraknya yang bersinar, dengan sangat kuat.


Putri Eloys keluar kamar dan menemukan Eriez tengah berdiri menatap luar pintu gerbang, bersama kelima serigalanya. Putri langsung menghambur ke pelukan pemuda itu. Kelima serigala tersebut melolong keras, membangunkan Para Nefendril yang terlelap.

__ADS_1


Dan Sam, langsung mengambil kembali pedangnya, menarik Lily berdiri bersamanya dan memeluk gadis itu erat. Mereka berdua menatap langit yang semakin menggelap, menyembunyikan bulan dan bintang-bintang. Lalu kobaran api di Gunung Tannosi mulai terlihat membesar. Lily meremas mantel Sam kuat-kuat, dia terlihat ketakutan.


Sam menunduk menatapnya, pandangan mereka bertemu, “Tak apa-apa. Aku disini bersamamu.”. Lily tersenyum, dan mengangguk.


__ADS_2