
Raja Leon membelalakkan matanya. Dia sekarang terhampar di sebuah tempat yang tak berujung. Ruangan putih dan dan sangat terang. Dia memandang ke seluruh penjuru tempat namun tak menemukan siapapun. Dia merasakan aura yang sedikit tidak membuatnya nyawan, yaitu udara dingin dan kesendirian tanpa siapapun.
Tiba-tiba dia merasakan kehadiran seseorang. Raja Julius! Ayahnya itu terduduk dengan wajah tegang menatap dirinya. Segera ia berlari dan membantu Ayahnya berdiri, “Oh Yang Mulia…Yang Mulia, Anda hidup..”, Raja Leon memapah Raja Julian.
Tubuh Raja Julian lemah dan sangat dingin, “Anakku. Dimana ini?”, tanyanya. Raja Leon menggeleng.
Saat mereka berjalan mencari pintu keluar, sesosok makhluk hadir kembali di belakang mereka. Saat mereka menengok, mereka menemukan seorang lelaki gagah dengan usia sekitar 40 tahunan, rambut hitam legam, mata semerah darah, dan jubah beludru sangat besar dan anggun.
Lelaki itu mendekat kepada Raja Leon dan Raja Julius, “Aku adalah salah satu wujud kekuatan Teshra, yaitu kekuatan pelepasan kutukan jahat.”, ujarnya. Mata Raja Julius membulat sempurna, sedangkan Raja Leon masih kurang memahaminya.
“Yang Mulia, aku telah melepaskanmu dari kutukan Jadze. Namun….”, lelaki itu membungkuk, “…ternyata itu membutuhkan harga yang sebanding.”. Raja Julius gemetar, dia melihat ke arah anak lelakinya yang masih bingung dengan apa yang terjadi disini.
“Teshra kumohon…ambil saja nyawaku dan serahkan pada Langit, namun jangan…jangan kau ambil nyawa anakku atau siapapun yang kucintai.”, Raja Julius mencengkeram erat lengan Raja Leon. Raja Leon baru pertama kali ini melihat Ayahnya begitu rapuh, selama hidupnya.
Lelaki yang dipanggil Teshra itu mendekat, lalu menyentuh pipi Raja Julius, “Yang Mulia, kenapa Anda menerima uluran tangan Jadze?”, wajahnya terlihat sendu.
Mendengar pertanyaan itu, Raja Julius langsung merosot dan terduduk dengan wajah menunduk, air matanya mulai mengalir, “Ampuni aku…ampuni aku yang lemah ini, oh istriku…anak-anakku…rakyatku…negeriku…”, isaknya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Raja Leon menatap Ayahnya dan Teshra bergantian, “Apa kalian akan membiarkan hanya aku yang tidak paham dengan apa yang kalian bicarakan?”, tanyanya.
Teshra kemudian mengalihkan tatapannya kepada pemuda itu, “Yang Mulia, Raja Julius Ayah Anda, kehilangan kekuatan Naga Amber setelah menerima bujukan kekuatan sihir hitam yang hampir membentuk wujud sempurnanya bersamaan dengan kelahiran adik Anda. Mereka mengadakan perjanjian, Ratu Marry terhindar dari maut namun harga yang harus dibayar adalah kesempurnaan wujud Jadze dan Naga Merah, serta kondisi Putri Eloys saat itu yang tuli dan bisu. Untuk mengembalikan lagi pendengaran dan suara Putri Eloys, yang akan menjadi hal sangat berguna untuk membantu Ksatria menemukan kekuatan saya dan Hati Zamrud, maka Dewi Nefrisa mengerahkan sebagian kekuatan rohnya untuk melepaskan segel hitam Jadze yang membelenggu suara dan pendengaran Putri, namun harga yang dibayarnya adalah dia akan tertidur di dalam hati Sang Putri.”,
“Hanya Putri yang dapat membangkitkannya, meskipun Anda yang baru naik tahta mengembalikan lagi kekuatan Naga Amber, namun Anda tak dapat memanggil Nefrisa karena Nafrisa telah kehilangan sebagian kekuatan rohnya. Sebagian roh Nefrisa itu akan kembali lagi setelah Perempuan Adil hadir, dan berhasil menggenggam Hati Zamrud.”, Teshra menjelaskan kepada Raja Leon yang wajahnya langsung berubah dari penuh dengan rasa penasaran menjadi sedikit lega.
“Jadi…adikku kini, sudah bisa mendengar…dan berbicara?”, tanya Raja Leon dengan binar di matanya. Teshra mengangguk.
Raja Leon lalu duduk memeluk Ayahnya, “Lihat Ayah, Eloys telah menjadi gadis sempurna..dia..”, Raja Julius memotongnya masih dalam isakan, “Tidak Anakku! Bagaimanapun, harga yang harus kalian bayar atas nafsu yang tak mampu kukendalikan terlalu besar..”. Teshra mendekat, berlutut dan menatap kedua Ayah dan Anak itu,
__ADS_1
“Yang Mulia Julius, Anda tak sepenuhnya menjadi penyebab sempurnanya wujud Jadze dan Naga Merah sekarang, karena meskipun kekuatan Naga Amber Anda tak melemah, sihir hitam akan terus membelenggu dan menghantui, berusaha merenggut kedamaian Tanah Tan Yang Mulia, sampai Dia yang Ditakdirkan muncul. Karena Dia, yang memiliki darah Bangsawan Visius, setengah dewa setengah manusia, dan Nefendril, setengah peri setengah dewa, dalam dirinya, satu-satunya yang akan benar-benar mampu menusuk Jadze dan Naga Merah tepat di jantungnya, dan Tanah Tan akan terlepas dari belenggu teror sihir hitam selama-lamanya.”, Teshra tersenyum.
Raja Julius dan Raja Leon menatap Teshra, “Dan siapakan Dia itu?”, Raja Leon bertanya.
Teshra berdiri, membantu mereka ikut berdiri, “Dia adalah Sang Ksatria Terpilih, yang namanya sudah tercatat dalam ramalan kuno Pertapa Tan. Dia adalah Sam…Putra Frank.”.
Raja Leon membuka matanya. Dia duduk dan sedikit terengah-engah. Keringatnya menetes di pelipis. Dia kemudian bangkit dan menuju meja, menuang air putih dari kendi emas ke dalam cangkirnya, lalu meneguk habis air itu.
“Sam…”, gumamnya.
Jadze menggeram dan melemparkan semua benda yang ada di sekitar singgasananya ke lantai dengan amarah yang memuncak.
“Teshra sialan! Dia mampu melepaskan segelku dari nyawa Julius!!!”, dia mengumpat dan memaki, dengan amarah yang semakin tak terkontrol. Matanya berkilau bengis.
Lalu dia menatap Naga Merahnya, “Kita tak akan kalah! Kita sudah sejauh ini mendekat dalam keabadian! Sampai aku dapat menyeret Teshra dan semua sekutunya ke dalam neraka, aku tak akan tinggal diam!”, lalu dia menatap ke pemimpin Illio yang berada di bawah singgasananya, “Kalian yang telah dikhianati oleh manusia, bunuh semuanya yang kalian benci, sisakan Putri Raja dan Pemuda Terpilih itu!”. Pemimpin Illio itu langsung melesat pergi, setelah mendengar perintah Tuannya tersebut.
Sam dan Lily berdecak kagum dengan pemandangan yang ada di depan mereka. Gua kecil yang mereka datangi dalam pelarian menghindari kejaran Para Illio, ternyata memiliki bagian dalam luar biasa luas. Dengan pahatan-pahatan indah, langit-langit yang penuh dengan ruangan-ruangan. Penerangan dari kristal-kristal yang melayang. Bau harum yang menenangkan. Serta sekumpulan Nefendril yang memiliki tubuh serta wajah yang menawan, sedang menatap ke arah mereka.
Salah satu Nefendril yang membawa tombak perak dengan mahkota kecil di kepalanya berjalan maju, membungkuk hormat kepada Sam, “Selamat datang, Putraku.”, dia tersenyum sangat hangat. Sam yang sedikit gugup lalu balas membungkuk hormat padanya, Lily mengikuti apa yang dilakukannya.
“Namaku adalah Frei, aku adalah pemimpin kaum Nefendril yang telah mengikat janji dan sumpah setia kepada Dewi Nefrisa, Teshra, dan Pertapa Tan untuk melindungi Tanah Tan ini.”, Frei kemudian menatap Lily yang langsung menunduk menatap tanah. Frei tersenyum, lalu menatap Sam lagi yang masih diam tak tahu harus berbuat atau berkata apa.
“Mari saya tunjukkan jalan menuju kamar Teshra Yang Agung.”, Frei mengajak Sam mengikutinya. Sam menurut, dia yang masih berjalan dengan agak terpincang kemudian mengikuti Frei.
__ADS_1
Namun Frei berhenti dan berbalik, dia menatap Lily yang masih diam membisu, “Silahkan ikut kami juga, Putriku.”, ajaknya hangat. Lily terkejut, dia menatap Frei kemudian ke arah Sam, Sam menggerakkan matanya mengisyaratkan ‘ayo’ padanya. Lalu gadis itu mengangguk dan berjalan mengikuti mereka berdua.
Saat mereka bertiga berjalan, semua Nefendril membungkuk hormat dengan anggun pada mereka. Rambut dan wajah Para Nefendril itu berkilauan tertimpa cahaya kristal. Lily takjub dengan pemandangan ini. Dengan suasana indah di dalam Gua Nefrisa yang bagai berada di dalam istana megah bertahtakan emas dan kristal cantik memesona, serta Para Nefendril yang begitu sopan dan hormat pada mereka. Wajahnya memerah, dia tak pernah seumur hidupnya merasakan rasa takjub sehebat ini. Merasakan sensasi seperti Putri Raja yang mendapatkan penghormatan. Atau bertemu dengan makhluk seindah itu.
Para Nefendril itu kemudian mengikuti mereka, menuju ke dalam kamar Teshra Yang Agung.
Saat matahari mulai meninggi, Frank telah berada di dalam ruang kerja utama Raja Leon, membungkuk hormat kemudian menyerahkan sepucuk surat padanya, “Utusan Putra Mahkota Kerajaan Cha telah datang dengan menunggang kuda dari arah barat, menyerahkan surat ini untuk Anda Yang Mulia. Surat ini ditulis oleh Yang Mulia Putri Eloys.”.
Raja Leon langsung berdiri, dengan wajah berbinar dia mengambil surat tersebut dan menatap Frank, “Pangeran Theo telah bertemu adikku?”, tanyanya.
Frank mengangguk, namun wajahnya berubah sedikit sedih, “Namun utusan Putra Mahkota Kerajaan Cha mengatakan bahwa Tuan Putri tidak bersama Sam dan Sang Gadis Pelayan. Yang Mulia Eloys hanya berdua bersama Eriez, pemuda Arkeolog yang disebutkan Raja Gareth kepada kita waktu itu. Dia teman Sam yang tinggal di Desa Jurg.”.
Raja Leon mengerutkan dahinya, “Eriez?”.
Frank mengangguk, “Mereka berempat berjalan bersama sampai di Tanah Perbatasan untuk menemukan Gua Nefrisa, namun kawanan Illio suruhan Jadze berhasil menemukan dan menyerang mereka, membuat mereka terpisah. Yang Mulia Eloys bersama pemuda Arkeolog itu, dan kemungkinan besar Sam bersama si Gadis Pelayan.”.
Raja Leon terlihat cemas, keringat mengalir turun dari pelipisnya, “Bagaimana ini Frank? Bagaimana yang akan terjadi jika adikku terpisah dari Sam? Sedangkan Roh Nefrisa yang ada dalam dirinya bisa membantu Sam untuk menjadi penunjuk jalan, dan Sam pasti membutuhkan Eloys ada disampingnya. Bukankah dia membutuhkan Perempuan Adilnya?”, Raja Leon menatap Frank.
Frank terdiam sebentar, “Yang Mulia, maksud Anda Roh Nefrisa dalam diri Yang Mulia Tuan Putri dan Perempuan Adil itu apa?”, tanyanya bingung.
Raja Leon lalu kembali duduk di singgasana kerjanya. Dia meletakkan surat dari Putri Eloys di meja, belum membukanya, “Frank, semalam aku bermimpi bertemu Ayahku dan Teshra dalam wujud manusia. Teshra mengatakan bahwa adikku telah membangkitkan kekuatan Roh Nefrisa, namun demi melepaskan segel hitam pada suara dan pendengaran adikku, Nefrisa kehilangan separuh kekuatan rohnya, sehingga dia tertidur dalam hati Eloys. Itulah mengapa meskipun aku telah mampu membangkitkan kembali kekuatan Naga Amber, aku tetap tak mampu memanggil Nefrisa dalam mimpiku. Adikku kini telah bisa mendengar dan berbicara. Dan dengan adanya Roh Nefrisa dalam hati adikku, adikku mampu menjadi penunjuk jalan dan memiliki kekuatan spiritual untuk memandu pergerakan Sam dalam persiapannya menuju pertempuran melawan Penyihir Hitam Jadze.”.
Raja Leon lalu menarik nafas dan kembali melanjutkan, “Jika adikku adalah Perempuan Adil, maka Hati Zamrud akan mudah untuk segera ditemukan bukan?”, tanyanya.
Frank diam, dia memikirkan sesuatu. Sesuatu yang dalam, tentang segala kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi.
“Frank?”, Raja Leon membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
Frank membungkuk meminta maaf, lalu menjawab, “Mohon ampun Yang Mulia. Saya sedang berpikir bahwa…”, Frank terdiam lagi. Raja Leon menunggunya sambil mengobservasi ekspresi wajah Perdana Menterinya tersebut.
Frank kemudian menatap Rajanya itu dengan tatapan sedikit tak terbaca dan melanjutkan, “…bahwa…Putri Eloys kemungkinan bukanlah Perempuan Adil yang diramalkan.”.