Hati Zamrud

Hati Zamrud
Pertemuan Kembali


__ADS_3

“Suamiku, jika suatu hari dengan umur fanaku yang sekarang ini, aku meninggalkan dunia terlebih dulu darimu, tolong jaga Elea dan Sam dengan baik. Elea adalah gadis yang lembut, dia pantas mendapatkan kehidupan dan suami yang baik. Sedangkan Sam adalah anak lelaki yang penuh ambisi dan impian yang besar, aku berharap dia mendapatkan istri yang akan mampu mendampingi dan memahaminya dengan baik serta sabar kelak. Pusaka Nefendril ini kuserahkan padamu. Kelak, jika kau membutuhkan mereka hadir, mereka akan menjawab panggilanmu, dan bersumpahlah setia sebagai sekutu mereka, maka mereka akan menjadi sekutu paling setia untukmu.”.


Frank memejamkan mata. Tetingat wajah cantik Yessa, istrinya, saat menyerahkan tombak perak dengan tiga permata itu, pada malam hari sebelum dirinya dan Elea ikut berangkat dengan rombongan Ibu Suri Ryte. Itu adalah malam terakhir mereka bersama. Karena esok harinya, Frank harus menghadapi kenyataan bahwa dia akan kehilangan Yessa, dan anak perempuannya Elea, selama-lamanya.


Frank kemudian menatap tombak perak tersebut, dia tahu bahwa suatu hari dia akan menggunakannya untuk memanggil saudara-saudari Yessa, meminta pertolongan mereka. Dia kemudian teringat tentang mimpi yang dialaminya kemarin.


Frank mendesah, “Aku akan menemui Remedy sekarang.”.



Teshra berjalan dengan anggun, kemudian membungkuk hormat pada Sam yang hanya setinggi pangkal kakinya. Sam membalasnya dengan hormat. Teshra kemudian mengangkat kepalanya dan menggeram dengan suara menggelegar yang anggun dan penuh wibawa.


Mata merahnya menyala, menatap semua Nefendril yang masih berlutut lalu dia memerintahkan mereka semua bangkit, “Bangkitlah! Dan saksikanlah Teshra bersama Ksatria Sam di hadapan kalian ini!”. Semua Nefendril bangun, Lily juga mengikuti mereka.


Teshra kemudian menunduk menatap Sam, “Kau pernah menunggang naga sebelumnya?”, tanyanya.


Sam tertawa hambar, lalu menggeleng, “Aku baru melihat naga pertama kali di pesta dansa malam itu, naga milik Jadze. Dan hari ini adalah kedua kalinya aku melihat naga.”. Mendengar jawaban polos pemuda itu, Teshra tertawa. Seluruh Nefendril ikut tersenyum, namun Lily tidak.


Lalu Teshra merunduk di depan Sam, “Naiklah ke punggungku. Aku akan melatihmu menunggangi naga.”.


Sam terbelalak kaget. ‘Menunggang naga? Terbang ke langit? Dan, bagaimana kalau dia tak mampu melakukannya…jatuh…lalu mati?’, wajah Sam memucat.


“Kau tak perlu takut. Aku akan mengajarimu. Apa yang kau pikirkan?”, Teshra mendengus.


Sam kebingungan, “Jika aku jatuh…bagaimana?’, tanyanya polos. Teshra kembali terbahak, dan seperti dikomando, semua Nefendril ikut terbahak juga. Sekali lagi, Lily masih diam saja.


“Jika kau jatuh, ya…kau bisa mati!”, jawab Teshra asal-asalan, ternyata naga itu bisa menyebalkan juga. Sam terperanjat kaget, keringat mulai mengalir dari pelipisnya.


“Dia masih terluka, kumohon izinkan dia istirahat dulu!”, tiba-tiba Lily mengeluarkan suaranya, yang lebih mirip seperti sedikit membentak.

__ADS_1


Akhirnya, untuk pertama kalinya Teshra menatap padanya. Agak lama, lalu bertanya kepada Frei, “Siapa dia?”. Frei yang ditanya kebingungan, menatap Lily yang masih melotot pada Teshra, lalu ke Luisa yang juga kebingungan, kemudian ke Sam yang terkejut dengan ulah temannya tersebut.


“Anu..”, Sam hendak menjawab, namun Lily memotong, “Aku orang tidak penting, hanya ingin berbagi informasi saja.”, wajah gadis itu masih kurang ramah pada si Naga. Teshra menatapnya lagi, lebih dalam.


Sam maju selangkah mendekat ke arah Teshra, “Teshra, jadi karena serangan Illio sebelumnya aku terluka di paha kananku, kau tahu, luka beracun. Kemudian dia menyelamatkan nyawaku, jadi ya…ini lukanya memang masih baru. Tapi…”, Sam kemudian menatap Lily, lalu mengalihkan pandangannya pada naga itu lagi, “…aku siap berlatih menunggang naga sekarang juga.”. Lily menatap Sam tak percaya, ‘dasar keras kepala!’, gumamnya dalam hati.


Teshra diam sebentar, kemudian menjawab, “Baiklah. Persiapkan dirimu dan segera naik ke punggungku.”. Sam mengangguk. Seluruh Nefendril terlihat saling mengobrol, obrolan kekaguman dan rasa penasaran melihat pemandangan langka yang akan mereka saksikan nanti. Sang Ksatria untuk pertama kalinya akan menunggangi Teshra.


Sebelum naik ke punggung Teshra, Sam berbalik dan mendatangi Lily yang hanya berjarak lima langkah di belakangnya. Ditatapnya gadis itu lekat-lekat, lalu tangan kanannya menyentuh lembut bahu gadis itu.


Sam tersenyum, “Jangan khawatir. Aku tak akan mati sekarang.”, dia mengedipkan satu mata padanya. Lily yang kaget dengan apa yang dilakukan Sam padanya tersebut langsung menunduk, wajahnya memerah. Sedangkan Frei dan Luisa lagi-lagi saling bertukar pandang. Sedangkan Teshra, dia melihat kedua anak manusia itu dari sudut matanya, dengan tatapan tak terbaca.


Lily mengangguk, lalu berbisik pelan, “Hati-hati.”.


“UUUUWWWOOOAAAAA…!!!!!!!”, Sam berteriak histeris seperti anak kecil yang baru pertama kali belajar naik kuda. Dia menutup mata dan mengeratkan pelukannya kepada leher Teshra se-erat yang dia mampu. Teshra sendiri malah terbahak dengan tingkah konyol sahabat barunya tersebut.


Kemudian Teshra terbang rendah dan pelan, membuat Sam berani pelan-pelan membuka matanya. Hamparan sabana yang luas membentang di depan matanya. Hewan-hewan pemakan rumput seperti kuda, sapi, dan rusa memandang takjub ke arah mereka, seakan menunduk memberi hormat. Teshra mengeluarkan dengkurannya yang anggun dan berwibawa.


Lalu naga hitam itu menaikkan lagi tubuhnya. Angin yang sejuk berdesir membelai pipi Sam. Mantelnya berkibar. Dia takjub dengan semua pemandangan di depan matanya kini. Sam sendiri tak sadar bahwa dia mulai menguasai diri di atas punggung Teshra, dan tak ketakutan lagi.


“Tanah ini dulunya adalah tanah subur tempat Para Nefendril hidup bahagia di zaman Raja Visius Yang Agung. Sebelum sebagian dari mereka terkutuk dan hina karena pemimpin mereka, Olexa, membangkitkan kekuatan hitam dan merusak perjanjian setia kepada Raja Tan dan Dewi Nefrisa, pada masa pemerintahan Raja Voctorius, penerus Raja Visius Yang Agung. Nefendril yang setia kemudian pindah ke Gua Nefrisa dan bersumpah setia melindungi Gua tersebut dan menjaga tidurku. Pemimpin baru mereka adalah Frei, sampai sekarang.”, Teshra mulai bercerita.


Sam menatap pucuk kepala naga itu, kemudian melihat ke bawah, ke hamparan sabana luas yang mulai mengering. Tak ada satu pun kehidupan di sana. Sam bisa membayangkan betapa indahnya tempat ini dulu, melihat cantiknya makhluk bernama Nefendril itu dan kepiawaian mereka dalam membangun tempat tinggal.


Teshra kemudian mengepakkan sayapnya lebih kuat dan mereka menembus awan, terbang lebih tinggi. Sam kali ini tak mampu melihat bawah lagi.


“Kita akan menuju Timur, ke arah Istana. Ada yang sedang menunggumu di sana.”, Teshra berbisik. Sam terkejut, namun dia mengangguk patuh. Daratan Tan yang luas seakan hanya berjarak beberapa langkah saja dengan kepakan sayap Teshra yang luar biasa besar. Beberapa menit kemudian, Istana yang memang terletak di tengah-tengah Tanah Tan mulai tampak.


“Kau lihat? Dia telah menunggumu…”, Teshra menukik ke bawah, ke bagian atas puncak menara paling selatan Istana. Frank dengan tombak peraknya telah berdiri di sana, bersama Remedy.

__ADS_1


Mata Sam berbinar bahagia melihat Sang Ayah yang langsung menghambur maju ke arah pinggir pagar puncak menara. Matanya semakin takjub karena Putranya kini ada di atas Teshra Yang Agung, Raja Naga Legendaris Tanah Tan.


Ketika Teshra terbang rendah dan menukik, berhenti dalam keadaan mengambang dan Sam masih di atas punggungnya, di depan puncak menara tersebut, Frank langsung berlutut memberi hormat. Remedy tergopoh-gopoh mendekat dan mengikuti apa yang dilakukan Tuannya tersebut.


“Selamat datang Teshra Yang Agung dan Kstaria Yang Agung..!”, ucap Frank penuh hormat.


Sam mengerutkan kening tak suka, dia bergumam, “Astaga! Kenapa Ayah memanggilku dengan panggilan aneh itu..”.


Teshra terbahak dan menjawabnya, “Kau memang anak yang polos.”, lalu berkata pada Frank, “Bangunlah Frank Putra Rennet, aku dan Ksatria Yang Agung akan berbicara sebentar denganmu!”. Frank langsung bangun dan kembali menatap patuh pada naga itu, Remedy mengikutinya.


“Ayah, dengar, aku tak bisa lama. Aku terpisah dari Yang Mulia Eloys dan aku harus mencarinya sebelum Jadze menemukannya terlebih dahulu. Kumohon sampaikan pesanku pada Yang Mulia Raja Leon. Aku membutuhkan pasukan yang besar. Lawan kita nanti adalah Para Orb dan Illio yang memiliki kecepatan dan kekuatan luar biasa mengerikan. Orb memiliki sisik dan penciuman tajam, sedangkan Illio memiliki panah beracun dan kegesitan seperti kilat. Aku membutuhkan bantuan Ayah, dengan pusaka itu, untuk membangun perjanjian setia dengan kaum Nefendril. Karena hanya Ayah yang bisa, meskipun aku bersama mereka, mereka hanya akan menjawab panggilan Ayah.”, Sam memberikan semua informasi dan instruksi yang langsung dimengerti oleh Ayahnya.


“Anakku, aku mendapat visualisasi dari mimpiku bahwa Jadze berada di wilayah selatan. Tepatnya di Gua Tryda. Dia membangun pasukan Orb dan Illio yang telah dibangkitkan dengan kekuatan gelap pada masa Raja Voctorius, untuk membantunya menghancurkan seluruh Tanah Tan. Mereka sempat tersegel saat kekuatan gelap kalah di masa perang besar melawan pasukan Raja Voctoirus, namun kini Jadze mampu menghidupkan mereka lagi.”,


“Saat ini, Putri Eloys baik-baik saja. Dia bersama teman lamamu itu, si Eriez, dan aku merasakan keberadaan satu sekutu baru yang bisa dijamin kesetiannya.”, Frank kemudian maju selangkah lagi. Teshra terbang lebih rendah agar tangan Frank mampu menjangkau ujung kepala Putranya, mengelusnya lembut, “Tolong jaga dirimu baik-baik, Nak. Kami dan seluruh rakyat Tan percaya padamu.”, bisik Frank dengan mata berkaca-kaca.


Sam sendiri merasakan matanya panas, namun berusaha menahan air mata sialan itu agar tak jatuh. Sam mengangguk mengerti. Lalu tatapan matanya beralih pada Remedy yang langsung membungkuk hormat pada pemuda itu.


Frank kemudian tersenyum, “Aku mengajaknya kesini untuk berbicara empat mata, namun kemudian aku merasakan kedatanganmu dan Teshra.”.


Sam menatap iris jade Remedy kemudian tersenyum, “Putri Anda aman, tak perlu khawatir. Dia bersama Para Nefendril sekarang. Selama saya ada di sampingnya, saya berjanji tak akan ada yang bisa mencelakainya.”, Sam berkata mantap dengan sorot mata tajam kepada Kepala Pelayan itu.


Remedy membungkuk semakin dalam kepada Sam dan mengucapkan terima kasih dengan haru. Sedangkan Frank menatap putranya tersebut saat membicarakan anak perempuan Remedy, ekspresi yang belum pernah dia lihat sebelumnya ada di wajah Sam. Frank tersenyum tipis.


“Ayah, aku harus segera pergi. Aku harus menemukan Yang Mulia Putri dan Eriez, kemudian bergabung segera bersama mereka untuk menemukan Hati Zamrud sebelum Jadze bergerak maju bersama pasukannya.”, Sam lalu mengkode Teshra yang kemudian segera mengepakkan sayapnya kuat-kuat untuk kembali membumbung tinggi ke angkasa, meninggalkan Frank dan Remedy yang menatap takjub pemandangan luar biasa indah itu.


Setelah Sam dan Teshra tak lagi terlihat di langit, Frank menatap Remedy, “Sebelum aku menemui Yang Mulia Raja untuk menyampaikan apa yang diamanahkan Sam tersebut, apakah kau tahu apa yang ingin kubicarakan denganmu, Remedy?”. Remedy menggeleng meminta maaf karena tidak tahu.


Frank tersenyum lalu mendekat dan menyentuh bahu kanan lelaki berusia 40 tahunan itu, “Ceritakan kepadaku tentang sosok putrimu.”.

__ADS_1


__ADS_2