
Eriez melihat ke arah Merdy yang berjalan mengiringi kuda hitam dimana Lisa berada di atasnya tersebut dengan tatapan masih sedikit curiga. Dia lalu melihat ke arah lima serigala di belakang lelaki tua itu, sepertinya mereka agak kelaparan. Karena takut serigala itu akan menyakiti Tuan Putrinya, Eriez memiliki ide untuk mereka istirahat sebentar di hamparan padang rumput tak jauh dari mereka di depan sana. Dia bisa menangkap dua rusa dan berbagi dagingnya dengan serigala-serigala itu, memasak yang lainnya untuk dimakan bertiga bersama Lisa dan Merdy. Lagipula matahari mulai bergerak turun di ufuk barat, menandakan hari akan gelap.
“Yang Mulia, bagaimana jika kita istirahat sebentar dan saya akan berburu rusa?”, Eriez menyamakan langkah kuda cokelatnya dengan kuda hitam Lisa.
Lisa menatapnya kemudian tersenyum dan mengalihkan tatapan ke Merdy, “Kita istirahat sebentar Merdy.”, ajaknya. Merdy mengangguk hormat.
Mereka lalu berhenti di pinggiran padang rumput, di tempat rindang dan Eriez segera turun dengan menenteng busur dan anak panahnya. Merdy membantu Lisa turun dari kudanya.
“Aku pergi tak jauh, jika satu gores saja ada luka di tubuh Yang Mulia Putri, aku akan tahu, jadi jangan macam-macam!”, Eriez berkata dengan sedikit menggeram pada Merdy. Dua serigala Merdy mengikuti Eriez, menemaninya berburu. Sementara tiga yang lain menjaga Merdy dan Sang Putri. Merdy menatap Lisa yang menatap punggung Eriez dengan senyum manisnya.
“Dia masih belum percaya pada saya, Yang Mulia. Namun kenapa Anda begitu yakin pada saya yang hina ini?”, Merdy bersimpuh di depan Lisa.
Lisa mengalihkan tatapan matanya pada lelaki tua itu, “Entahlah. Hatiku dan Roh Nefrisa mengatakan kau orang yang baik. Kami bisa merasakan ketulusan hatimu.”.
Merdy merasakan kehangatan yang begitu hebat menjalar dalam hatinya. Masa bodoh dengan melayangnya nyawa yang dimilikinya saat bertemu Jadze nanti, karena dia ingin melindungi Tuannya yang baru ini dengan seluruh jiwa raganya.
“Mohon maafkan Eriez…dia sebenarnya pemuda yang baik.”, Lisa bergumam dengan wajahnya yang memerah.
Merdy tersenyum, “Kalian sepertinya saling mencintai.”.
Kata-kata Merdy membuat Lisa menatapnya kaget, “Yang benar aku mencintainya, Merdy. Dia…dia belum tentu membalas perasaanku.”, Lisa menunduk, suaranya sedikit bergetar.
Merdy tersenyum dan menyentuh tangan Lisa lembut, membuat gadis itu menatapnya. “Jika dia tak mencintai Anda, dia tak akan melakukan sejauh ini untuk Anda. Dia hanya masih belum menyadari perasaannya sendiri saja. Kadang, lelaki memang butuh waktu untuk bisa memahami sesuatu, Yang Mulia.”, Merdy tersenyum penuh arti padanya.
Lisa merasakan hatinya menghangat, lalu menggenggam tangan Merdy, “Terima kasih, Merdy.”.
Saat melewati bagian utara, Sam bertemu dengan beberapa camar, ketika Teshra terbang rendah. Sam kemudian bertanya pada naga itu, “Apa di sebelah sana itu Laut Elbony?”, tunjuknya ke arah yang lebih utara.
Teshra mengangguk, “Kau ingin kesana? Dengan pemandangan matahari terbenam itu, laut akan terlihat sangat cantik. Laut Elbony adalah laut tertua dan terbesar di Tanah Tan, pemisah antara daratan Tan dan daratan Kressia yang jauh di seberang sana.”.
“Ya, aku ingin melihat, tapi…”, Sam menghentikan kata-katanya, dia terlihat berpikir sebentar.
“Apa?”, tanya Teshra.
Dengan gugup Sam menjawab, “Bi..bisakah kita kembali sebentar ke Gua? Letak Gua tak jauh dari sini bukan?”.
Teshra sedikit bingung dengan permintaan sahabat barunya itu, “Untuk apa?”. Namun yang ditanya kembali diam.
“Dengar, Pemuda Aneh. Kita tak punya banyak waktu. Kita harus mencari Putri Eloys segera sebelum Jadze menangkapnya terlebih dulu. Roh Nefrisa ada di dalam hati Putri Eloys. Dan lagi…”,
Sam memotong kata-kata Teshra, “Hei, baru beberapa menit lalu kau memanggilku Ksatria Yang Agung sekarang kau memanggilku Pemuda Aneh?”, protesnya.
Teshra mendengus, “Mau se-Agung apapun, kau tetap anak kecil yang aneh.”.
Sam menggerutu, dia tak menyangka Naga yang Diagung-agungkan dalam legenda itu semenyebalkan ini.
“Jadi bagaimana? Aku tak mau meliuk-liuk seperti naga mabuk di atas sini.”, Teshra bertanya lagi kepada Sam.
Sam kemudian menghela nafas dan meminta, “Kembali ke Gua, aku ingin…yah kau tahu, melihat laut bersama…nya.”, wajah Sam yang memerah tertimpa cahaya matahari yang hampir terbenam.
“Hohoho…gadis itu? Kau tak menyebut namanya. Apa dia benar-benar orang tak penting?”, Teshra menggoda Sam, membuat pipi pemuda itu makin terasa panas karena malu.
“Dia punya nama kau tahu! Dan dia…dia orang yang sangat penting bagi kami…”,
“Oh dan siapa namanya?”, Teshra memotong, liukan tubuhnya meninggi merendah, menggoda Sam.
“Namanya…”, entah mengapa Sam merasa aneh hendak menyebut nama Lily. Dia juga baru sadar, dimana pertama kali bertemu gadis itu waktu kecil dulu, kemudian bertemu lagi di depan Istana Putri Eloys saat menjemput Sang Putri berangkat pesta dansa, sampai menjalani perjalanan hidup dan mati bersama saat ini, dia belum pernah memanggil namanya.
“Ada dua alasan kenapa kau sulit menyebut namanya. Yang pertama kau terlalu membencinya, dan yang kedua kau mencin-”,
“Hentikan perkiraan bodohmu, Naga Aneh! Namanya Lily. LILY!”, Sam berteriak keras dengan penuh kekesalan pada Teshra.
Tawa Teshra menggelegar, “Kau memanggilku Naga Aneh…Astaga…Baiklah, kita ke Gua. Pegangan yang benar!”, Teshra lalu terbang menanjak secara mendadak, membuat Sam berteriak histeris lagi.
__ADS_1
Semua Nefendril bersorak-sorai menatap Teshra yang menukik turun di hadapan mereka. Lily menatap Sam, dan wajahnya yang menegang karena khawatir langsung berubah lega. Sam sudah pergi hampir dua jam lamanya, Lily entah mengapa merasakan kekhawatiran yang sangat tak wajar.
“Selamat datang Teshra Yang Agung dan Ksatria Yang Agung, kami sudah menyiapkan tempat beristirahat untuk kalian jika…”, kata-kata Frei terpotong oleh desahan Teshra yang menggelegar, “Frei, dia belum selesai berwisata menikmati keindahan alam, kau tahu kami cuma mampir sebentar untuk kemudian terbang lagi.”. Sam turun dari punggung Teshra lalu memelototi naga itu.
“Mohon maaf?”, Frei mengerutkan keningnya, bingung.
“Oh ayolah Frei, Ksatria kalian ini masih anak-anak, jadi pahamilah!”, Teshra mendengus kesal. Dan Frei langsung bertukar pandang dengan Luisa.
“Anu…”, Sam sudah berada di depan Lily, wajahnya agak memerah. Lily menatapnya bingung. Sam diam, belum bisa melanjutkan kata-katanya.
“Dengar Putriku, daripada menunggunya dan itu akan memakan waktu lama, kemarilah dan segera naik ke punggungku. Anak itu benar-benar menyebalkan!”, Teshra menggerutu sambil menatap ke Lily, membuat Lily kaget dan seluruh Nefendril menatapnya.
“Aku? Naik kemana?”, Lily tergagap.
Sam melemparkan pandangan teror pada Teshra dan mengumpatinya, “Oh ayolah….dasar Naga Aneh…”, lalu dia mendesah dan menatap Lily, “Ayo ikut aku. Kita akan terbang bersamanya…”.
Lily menjerit, “HAAAAA???? UNTUK APA???”. Sam mengucek kupingnya jengah, mau bagaimanapun Lily masih tetap menyebalkan.
Teshra terbahak, “Sudah kubilang, kalian membuang waktu. Ayo!”. Dengan sedikit memaksa, Sam menarik pergelangan tangan Lily untuk berjalan menuju Teshra. Lalu pemuda itu membantu Lily naik ke punggung naga tersebut. Lily yang tak nyaman dengan tatapan semua Nefendril hanya bisa diam membisu.
Saat merasakan Sam naik dan duduk di belakangnya, Lily protes, “Kenapa tak duduk di depanku saja?”.
Sam menggerutu, “Aku tak mau kau memelukku dari belakang saat kita terbang nanti. Karena naga ini agak mabuk saat di atas sana. Merasakan pelukan dari belakang itu menggelikan.”.
“Lebih menggelikan lagi ada kau di atas punggungku, Pemuda Aneh.”, Teshra mendengus sebal lalu mengepakkan sayapnya kuat-kuat dan terbang secara mendadak. Membuat Sam dan Lily berteriak histeris seperti orang gila.
Luisa mendekat ke arah Frei dan berbisik, “Bukankah belum ada yang pernah diizinkan oleh Teshra untuk naik ke punggungnya selain Ksatria Terpilih?”.
Frei hanya diam saja, menatap bayangan Teshra yang mulai menghilang di langit.
Lily mulai merasakan hembusan angin senja yang lembut membelai pipinya. Bau harum rerumputan bercampur bunga dan sedikit sentuhan bau air kini menyentuh penciumannya.
“Kau bisa membuka matamu sekarang, aku akan terus memegangimu, tak perlu takut jatuh.”, bisik Sam di telinganya. Suara Sam yang begitu dekat membuat tubuhnya sedikit merinding, dia tak pernah berjarak sedekat itu dengan Sam, apalagi kini mereka berada di ketinggian.
Lily membuka matanya perlahan. Hamparan sabana hijau, lengkap dengan hewan-hewan herbivora yang menunduk hormat saat mereka lewat, memesona matanya.
“Dan kau perlu berterima kasih pada pemuda aneh di belakangmu itu.”, lanjut Sang Naga. Sam mendengus.
Lily menengok ke belakang untuk menatap Sam, lalu tersenyum padanya. Sam menatapnya sedikit grogi, “Tak perlu. Yah, ini juga ucapan terima kasih karena sudah merawat lukaku.”. Lily mengangguk, lalu kembali melihat ke depan.
“Oke, bersiaplah!!”, Teshra mendadak menukik dan sedikit memiringkan tubuhnya. Membuat kedua anak muda itu berteriak histeris karena kaget. Lily merasakan kedua tangan Sam memegang erat kedua bahunya, melindungi gadis itu agar tetap seimbang.
Selanjutnya, mereka menemukan pemandangan bak surga. Laut Elbony yang membentang luas dengan latar matahari terbenam. Burung-burung camar terbang riuh rendah dengan anggunnya, sedangkan kawanan lumba-lumba melompat-lompat dari dalam air sambil bercicit kegirangan. Seakan mereka menyambut datangnya Teshra bersama kedua anak manusia itu di punggungnya.
“Laut…!”, Lily memekik takjub.
“Kau belum pernah melihat laut?”, tanya Sam.
Lily menggeleng, lalu bergumam lirih, “Terima kasih telah mengajakku ke sini…”.
Teshra lalu terbang rendah, kedua kakinya menyentuh air laut. Kemudian dia agak memiringkan tubuhnya, memberikan kesempatan pada Lily dan Sam untuk juga dapat menyentuh air laut dengan tangan mereka. Lily memekik kegirangan saat kawanan lumba-lumba berenang dengan ceria ke arah mereka.
Melihat wajah Lily yang begitu manis saat tertawa, membuat Sam tak sadar tersenyum sendiri.
Ratu Marry masih duduk tanpa mengeluarkan sepatah katapun di dalam ruangan pribadi Raja Leon. Sudah berjam-jam sejak dia membaca surat yang dikirim putrinya itu, Sang Ratu masih saja menunjukkan wajah gundahnya. Surat dari Sang Putri masih ada dalam genggamannya.
Raja Leon sengaja membiarkan Ibunya itu tanpa mengajaknya bicara sama sekali. Memberikan ruang pada Ibunya untuk memikirkan apapun yang perlu untuk dipikirkan. Matahari semakin tenggelam dan senja telah tiba.
Tiba-tiba ada suara pengawal yang meminta izin Raja Leon untuk mempersilahkan Frank Sang Perdana Menteri masuk. Mendengar nama Frank disebut, Ratu Marry langsung mendongakkan kepalanya.
Frank masuk, membungkuk hormat pada Raja Leon, lalu Ratu Marry, “Saya kesini membawa pesan dari Ksatria Yang Agung untuk Anda, Yang Mulia.”.
__ADS_1
Raja Leon mengangkat kedua alisnya, “Ksatria? Maksudmu Sam?”, dan Ratu Marry ikut bertanya, “Dia kemari? Bersama siapa?”.
Frank mengangguk hormat, “Putraku kemari tadi siang bersama Sang Naga Agung, Teshra.”.
Raja Leon menghembuskan nafas lega, ‘Sam telah membangunkan Raja Naga’, pikirnya. “Apa pesannya?”, tanyanya kemudian.
Frank lalu menyampaikan semua informasi dan permintaan Sam. Raja Leon setuju untuk Frank segera menyiapkan pasukan terlatih bersama dengan Panglima Kerajaan yang masih menjabat saat ini, Kenneth.
Sebelum undur diri dari hadapan kedua orang penting di Tanah Tan tersbeut, Frank mendengar Ratu Marry memanggil namanya. Frank menatapnya, lalu mengangguk hormat, mempersilahkan Sang Ratu maju satu langkah untuk berbicara padanya.
“Apa…Apa Sam menyebutkan tentang Putriku?”, tanya Sang Ratu. Raja Leon menatap Ibunya.
“Maksudku selain…selain bahwa Putri Eloys baik-baik saja dan saat ini kebetulan sedang bersama pemuda Arkeolog itu dan mereka terpisah. Dan selain bahwa Sam akan segera menemukannya…apa…apa ada hal lain?”, Ratu terlihat sangat gugup. Dia ingin menanyakan sesuatu namun rasanya terlalu malu untuk memperjelas pertanyaannya tersebut. Frank dan Raja Leon tahu kemana arah pertanyaan Sang Ratu.
Frank menggeleng. Ratu terlihat kecewa, namun kembali bertanya, “Dia…apa dia hanya bersama Teshra saja di Gua Nefrisa?”.
Frank melirik Raja Leon, kemudian kembali menatap Sang Ratu. Tatapannya sedikit merasa bersalah, “Tidak, Yang Mulia. Putraku di Gua Nefrisa bersama Teshra, Para Nefendril, dan…Lily, putri semata wayang Remedy.”.
Remedy menatap bulan yang hampir membulat sempurna itu dari balik kaca kamarnya. Dia merindukan Lily, sangat merindukannya. Dia berharap putri semata wayangnya itu baik-baik saja. Kemudian dia teringat wajah Sam, putra Perdana Menteri Frank siang tadi. Sam adalah pemuda yang selalu dibangga-banggakan semua orang di dalam istana.
Para gadis membicarakan ketampanannya. Para orangtua membicarakan kepintarannya. Para pejabat Istana membicarakan kepiawaiannya dalam bela diri dan seni berperang. Serta, keluarga inti kerajaan membanggakan keloyalannya. Dia sendiri pun selalu takjub menatap pemuda itu sehari-harinya. Tatapan matanya yang tajam dan tubuhnya yang tegap, membuatnya benar-benar pantas menjadi Ksatria Terpilih yang diramalkan itu.
Hanya satu orang yang selama ini tak pernah menyinggung nama atau sosoknya sama sekali. Yaitu putrinya sendiri. Putrinya selalu asyik dengan Putri Eloys dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Sang Putri. Bahkan Remedy sempat khawatir, jangan-jangan putrinya itu menyukai sesama jenis.
Namun, obrolannya tadi siang dengan Frank serta petemuannya dengan Sam, membuatnya tak bisa berhenti memikirkan Lily, dan masa depannya. Remedy memejamkan mata, dia terbayang kata-kata Frank tadi,
“Aku tak pernah tahu, seumur hidup putraku, selama aku mendampinginya dari lahir sampai saat ini, ada yang membuat matanya begitu bersinar dan terlihat penuh dengan semangat, selain buku-buku di dalam genggaman tangannya. Dia mencintai buku, dia senang menghabiskan waktunya membaca buku.
Namun, aku terkejut saat melihat sorot matanya sewaktu dia membicarakan tentang putrimu tadi. Sorot mata yang begitu bersinar, lebih cerah dibandingkan saat dia bersama buku-buku tercintanya.
Remedy, jika kau bisa menjamin putrimu adalah gadis yang baik, maka aku yakin, batu mulia itu akan segera bisa mereka temukan dan kita akan segera bertemu dengan pertempuran paling dahsyat sepanjang sejarah Tanah Tan.
Aku berharap besar pada putrimu. Semoga dia tak menyia-nyiakan waktu, dan segera menyadari apa yang tersembunyi di dalam hatinya.”.
Remedy menarik nafas, lalu menghembuskannya pelan. Dia menunduk sedih, dalam hatinya ada banyak kekhawatiran tentang Lily. Dan dia tak mau putrinya itu terluka, baik fisik…maupun hatinya.
Lily menatap kagum kamar dengan tempat tidur berkanopi dan bertirai sutera itu. Luisa menyalakan satu obor lagi di dekat tempat tidur dan mempersilahkan Lily untuk naik ke ranjang. Lily belum pernah tidur di tempat tidur dan kamar semewah ini. Dia lalu mengangguk, saat Luisa pamit untuk meninggalkannya. Dengan semangat Lily naik ke atas kasur dan langsung terlelap, tanpa melepas sepatunya.
Sedangkan Sam masih duduk berhadapan dengan Tehsra. Wajah pemuda itu merengut menatap Sang Naga.
“Oh astaga, kau masih tak percaya padaku?”, tanya Teshra. Mereka ada di dalam kamar Sang Naga, hanya berdua.
“Aku sudah bilang berapa kali, aku sendiri pun tak tahu dimana letak benda itu. Meskipun batu itu menyimpan separuh dari kekuatanku, namun separuhnya lagi adalah kekuatan Pertapa Tan dan Nefrisa. Jadi aku tak menguasainya penuh.”.
Sam mengernyitkan dahinya bingung. Teshra mendesah, lalu menjelaskan, “Jadi, dahulu kala saat sebelum Pertapa Tan turun ke bumi, batu zamrud itu sudah ada. Dia adalah batu mulia yang mengontrol kekuatan terang dan gelap di bumi ini. Kebetulan Tanah Tan adalah pusatnya. Namun karena tanah ini tandus dan berpotensi menyebabkan perang besar di bumi, Raja Dewa hendak memusnahkannya. Kemudian Pertapa Tan turun ke sini, lalu saling mengucap janji sumpah setia bersamaku dan Dewi Nefrisa untuk menjaga dan membangun Tanah ini. Demi menyempurnakan kekuatan batu itu, aku mengerahkan separuh kekuatanku, Pertapa Tan menyerahkan umurnya yang abadi sehingga umurnya menjadi fana, serta Dewi Nefrisa membagi kekuatan Rohnya.”
“Namun akibat kekuatan kami yang terlampau besar, justru batu tersebut menarik kekuatan terang menjadi lebih besar dan membuat kekuatan gelap semakin tertanam, seolah sengaja disingkirkan. Apalagi aku kemudian tertidur karena sebagian kekuatanku hilang setelah membagi kekuatanku dengan batu itu. Akhirnya, kekuatan gelap berusaha menguasai batu zamrud tersebut untuk menciptakan keabadian Bumi dalam kekuasaannya.”,
“Aku terbangun saat Ksatria Terpilih di masa perang besar saat pemerintahan Raja Voctorius. Namun kembali tertidur karena kelelahan setelah menggunakan kekuatan batu itu bersama Ksatria dan Nefrisa. Bangun lagi saat di masa Raja Brian, dan setelah selesai menggunakan kekuatan batu itu aku akan tidur lagi, untuk kembali mendapatkan kekuatan baru. Jadi intinya, setiap Hati Zamrud itu telah selesai menyegel kekuatan jahat dengan separuh kekuatanku di dalamnya, aku akan tertidur lagi. Namun…”,
Teshra menatap intens ke dalam iris auburn Sam, “…sepertinya untuk yang sekarang, menghadapi roh jahat yang telah berwujud sempurna menjadi Jadze, batu zamrud itu perlu diwujudkan secara nyata kemudian dihancurkan agar tak lagi menarik roh jahat selama-lamanya.”.
Sam bingung, “Apa maksudmu dengan diwujudkan sempurna?”.
“Selama ini Hati Zamrud hanya digengam oleh Perempuan Adil dalam dunia Nefrisa, yaitu di dalam mimpinya. Dia tak bisa berwujud di dunia nyata. Kenapa hanya Perempuan Adil yang bisa menggenggamnya? Karena Perempuan Adil adalah wujud di dunia nyata dari batu itu sendiri. Hatinya yang lembut dan penuh cinta akan mampu membangkitkan kekuatan Hati Zamrud di dalam tubuh Sang Ksatria.”, jawab Teshra. Sam masih bingung, dia mengacak-acak rambutnya yang memang sudah acak-acakan.
Teshra mendesah, dia tak menyangka bahwa Ksatria yang namanya telah diramalkan di ramalan kuno Pertapa Tan itu jauh lebih lamban dalam memahami penjelasannya, dibandingkan Ksatria-ksatria sebelumnya. Padahal, dari segi kekuatan, Teshra bisa merasakan ada ledakan besar dan benar-benar luar biasa dalam diri pemuda tersebut.
“Perempuan Adil yang saat ini masih kau cari keberadaannya, memiliki kekuatan untuk mewujudkan batu itu dalam bentuk nyata. Akan menjadi kekuatan besar jika batu itu dibelah dua, satu kau pakai dan satu dia pakai. Dimana batu yang kau pakai yang akan digunakan untuk menyegel kekuatan gelap berwujud Jadze dan Naga Merahnya saat ini, dan batu yang satu lagi untuk mengikat kekuatan kita.”, Teshra menutup pembicaraan mereka, dan mengambil posisi tidur, seakan tak mau diganggu dengan pertanyaan atau obrolan apapun lagi.
__ADS_1
Dia bisa mendengar pemuda di depannya itu menggerutu, “Dan kemudian ketika aku bertanya dimana perempuan sial itu, maka semua akan menjawab, hanya aku yang tahu…oh sudahlah!”, lalu Sam meringkuk, dan mulai tertidur.
Teshra mendengus dalam hati, ‘Padahal dia di dekatmu sepanjang waktu. Dasar bodoh!’.