
”Ksatria kemudian berlutut di depan Putri, mengatakan bahwa dia sangat mencintai Putri setulus hatinya. Air mata Putri turun dengan lembut, membasahi kedua pipinya. Dia kemudian mengeluarkan sebuah permata berwarna ametist dari dalam kantung bagian dalam gaunnya, menyerahkan pada Sang Ksatria, ‘Inilah permata yang akan menjadi saksi cinta sekaligus pelindung keturunan kita.’. Mereka berdua kemudian berpelukan. Seakan dunia tak mampu memisahkan mereka.”.
Lily masih terngiang-ngiang potongan isi buku legenda tersebut, langkah kakinya sedikit melambat, membiarkan ketiga temannya berjalan lebih dulu darinya. Ditatapnya Lisa yang masih asyik bercanda dengan Sam, membahas masa-masa sekolah mereka di Sekolah Istana dulu, dan Eriez ikut tertawa mendengarnya. Lily tak mampu membayangkan, entah mengapa, bagaimana, atau harus seperti apa dia kepada Putri Eloys, setelah Putri Eloys…menikah dengan Sam nanti.
Namun, dia kembali menunduk, memikirkan apakah dia akan bisa kembali ke Istana lagi, ke rumah mungilnya di sudut bagian barat Istana, bertemu Ayahnya, membaca buku bersama Putri Eloys lagi, atau dia akan mati di perjalanan ini, jika misi mereka gagal.
Dia kemudian beralih menatap Sam, pemuda yang setahun lebih tua darinya itu. Anak pejabat istana yang adalah Perdana Menteri sekaligus masih memiliki darah Kerajaan, dan calon Panglima Perang Kerajaan. Rambut cokelat tanahnya yang berantakan, emosinya yang naik turun, namun kesetiannya yang tinggi pada keluarga kerajaan terlebih pada Putri Eloys, membuatnya merasa sedikit lega jika memang dialah yang akan menjadi pendamping masa depan sahabatnya.
“Kau tak apa-apa kan?”, Eriez tiba-tiba sudah ada di sampingnya. Iris biru lautnya mencoba mengobservasi ke dalam iris jade Lily.
Lily kaget, lalu menggeleng, “Aku..hanya sedikit lelah.”.
Lisa menatapnya khawatir, lalu menghampirinya dan menggenggam kedua tangannya, “Apakah kita perlu istirahat?”, dia menengok ke Sam. Sam menatap Lily, Lily tak berani melihatnya, masih merasa tak enak dengan kejadian buku legenda antara mereka berdua.
“Seharusnya aku setuju saat Kakek Harold menawari kita tinggal di pondoknya malam ini..”, Sam bergumam.
Eriez kemudian meyahut, “Tidak! Kita tak bisa menyia-nyiakan waktu dengan tinggal di pondok bukan? Lihat, kita sudah hampir mendekati desa Ressian, kita bisa menginap sebentar di sana. Setidaknya, Gua Nefrisa sudah mulai dekat dalam jangkauan kita.”.
Lisa mengangguk, menatap Sam dengan pandangan ‘tak perlu menyesalinya’. Lily menunduk, merasa bersalah karena dia yang paling kelelahan di antara mereka.
“Aku akan membantumu berjalan, Lily. Tinggal di depan sana, dan saat matahari terbenam kita sudah sampai gerbang desa Ressian…oh tidak!”, Lisa melepaskan genggamannya pada tangan Lily. Dia meremas dadanya erat, tatapan matanya tajam menuju ke arah matahari yang terbenam.
“Ada apa Yang Mulia?”, Lily menatapnya khawatir. Eriez dan Sam kemudian mengikuti arah pandang Sang Putri yang gemetar, “A…Ada bahaya…menuju kita!”, Lisa menjawab, dan merasakan hatinya berdesir hebat. Peringatan dari Roh Nefrisa!
***
Pangeran Leon tersenyum saat Frank masuk ke dalam kamar Raja Julius. Mereka berdua di sana, menatap Sang Raja yang terbaring tak berdaya, seperti sedang tertidur. Frank melihat mata Pangeran Leon begitu redup, dia pasti sedih dan merasa berat dengan bebannya saat ini.
“Frank, apa yang harus kulakukan, setelah mahkota raja kupakai nanti?”, Pangeran Leon menanyai Frank, namun tatapan matanya masih tertuju pada Sang Ayah. Frank mengambil beberapa langkah hingga sejajar dengan Sang Putra Mahkota. Dia menatap pemuda berusia 28 tahun itu, sedikit iba.
“Yang Mulia bisa langsung mengumumkan ‘kematian’ Putri Eloys, memerintahkan rakyat waspada dengan kehadiran kekuatan hitam yang bisa menyerang sewaktu-waktu, serta…”, Pangeran memotong, “Bisakah aku bertemu adikku lagi? Aku merindukannya, dan juga…”, dia mengambil Naga Amber dari dalam jubahnya, “…menanyakan apakah Nefrisa sudah tersegel dalam hatinya sehingga aku tak mampu mengaktifkan kekuatanku, sebagai…sebagai pemegang Naga Amber yang baru.”.
Frank menyentuh bahunya, “Apakah Anda bersedih, Yang Mulia?”. Pangeran Leon menatap Perdana Menterinya itu, dia mengangguk.
Raja lalu meraih tangan Ayahnya, menciumnya lembut, “Aku sedih, dan takut…jika aku tak mampu menjadi Raja yang baik, adil, dan tangguh seperti Ayahku, untuk Tanah Tan. Aku…”, air matanya mulai menetes, “…aku lebih baik menggantikan Ayahku yang terbujur kaku disini, daripada menjadi Raja. Karena..aku merasa tak mampu..”, Frank memotongnya, “Anda sudah terpilih, Yang Mulia.”. Pangeran Leon menatapnya, mencoba meminta penjelasan.
Frank tersenyum, menunjuk Naga Amber dengan matanya, “Naga Amber tak akan berpendar secerah itu…jika dipegang oleh Raja yang salah.”. Pangeran Leon menatap batu berwarna amber di tangannya tersebut, pendarnya cerah, cerah sekali, dan sangat indah.
***
Jumlah mereka sangat banyak, gagak-gagak hitam dengan mata merah darah, terbang bagai kilat menuju ke arah mereka. Sam dan Eriez segera mengambil posisi di depan para Gadis. Sam telah menghunus pedangnya, dan Eriez bersiap dengan busur dan anak panahnya.
“Tetap di dekat kami!”, Sam menggeram memperingatkan para Gadis yang gemetar menatap pemandangan mengerikan itu.
“Mereka Orb..!”, Eriez melepaskan anak panahnya. Anak panah itu melesat cepat dan menancap di dada salah satu gagak, yang kemudian terjatuh ke tanah, dalam bentuk manusia buruk rupa!
“Sialan!”, Sam mengumpat sambil menebaskan pedangnya, memenggal leher makhluk jadi-jadian yang ketika di udara berbentuk gagak hitam dan di darat berbentuk manusia buruk rupa tanpa hidung itu.
Pertarungan sengit terjadi. Jumlah mereka sangat banyak, namun Sam dan Eriez bukanlah pemuda sembarangan, mereka terlatih sejak kecil. Eriez mulai sedikit kewalahan dengan gerakan para Orb yang sangat cepat, dia mengambil pedangnya dan mulai memainkannya mengimbangi gerakan Sam.
Lisa merepet ke belakang punggung Eriez yang terus berusaha menghalanginya dari jangkauan para Orb. Sedangkan Sam telah melesat maju menerjang kawanan Orb yang menyerbu dari langit ke tanah dimana mereka berada, bagaikan hujan deras yang tak mampu dihalau bahkan oleh payung tebal sekalipun. Dalam sekejap pandangan mereka telah tertutup warna hitam kelam, warna para Orb yang ganas berusaha menyerang, mencabik mereka berempat.
Sam mengayunkan pedangnya dengan gesit, sekali tebas dia bisa memenggal 10-an Orb. Dia terus melesak maju tanpa takut, tanpa ampun mengoyak satu kelompok sekaligus para Orb itu. Eriez mulai merasakan keringat di pelipisnya membanjir, dia agak kewalahan dengan jumlah Orb yang makin tak terkendali. Hingga kemudian saat sesosok Orb hendak menarik lengan Lisa, dia berputar mengayunkan pedang memenggal kepala Orb itu, namun Orb yang lain melompat hendak menyerang kepalanya hingga sesosok bayangan menendang kuat Orb itu sampai jatuh tak bernyawa. Lily!
Lily berdiri dengan kuda-kudanya, wajahnya berubah sangat menakutkan dalam mode bertarung jarak dekat. Lengannya sedikit tergores, berdarah, kemungkinan bergesekan dengan sisik Orb yang agak keras. Lily telah berlatih bela diri dari Ayahnya, Remedy, sejak berusia 12 tahun. Tentu saja itu latihan terlarang, seorang wanita tak boleh memiliki keahlian berperang layaknya laki-laki di Tanah Tan ini. Namun siapa peduli?
Eriez tersenyum padanya, berterimakasih, dan melirik Lisa. Lisa mencengkeram erat dadanya sambil memejamkan matanya erat.
‘Nefrisa…Nefrisa…Nefrisa..’, dia mulai memanggil Roh Nefrisa dalam hatinya. Mencoba meminta pertolongan. ‘Apa yang harus kami perbuat?’.
Eriez menarik lengannya, membuat Sang Putri membuka matanya, “Tetap di dekatku!”. Lisa menatap ke dalam iris biru laut Eriez kemudian merasakan sentakan hebat dari perutnya. Pandangannya mendadak memutih semua, dan kemudian ada pekikan tajam di telinganya. Hatinya berdesir kuat.
“Eriez, bidik yang satu itu dengan panahmu!”, Lisa menunjuk ke langit. Eriez langsung melihat ke arah dimana Lisa menunjuk. Sosok gagak paling besar, paling gelap, dengan mata merah membara. Dia berputar di atas, tak berniat turun, seperti hanya memberi komando saja pada Orb lainnya.
__ADS_1
“Jika kau berhasil membunuhnya maka mereka semua akan mati dalam sekejap. Jantung Para Orb ada padanya…”, Lisa menatap Eriez meyakinkan. Eriez mengangguk lalu menyarungkan pedangnya. Dia mengambil anak panah dan melepaskannya ke Gagak itu. Gagal. “Cih!”, umpatnya sambil mengambil satu anak panah lagi.
Sam melihat Eriez berusaha memanah ke arah Gagak paling besar itu, dia segera membantu mengalihkan perhatian Orb lain agar tak melihat usaha Eriez untuk membidik mati pemimpin mereka. Namun tanpa disadarinya, sesosok Orb yang dikiranya sudah mati bangkit lagi, mencengkeram kakinya. Sam jatuh dan tiga Orb melompat padanya, bersamaan dengan Lily yang langsung melayangkan tinjuan pada ketiganya sekaligus.
“KAAAKKKKK…!!!”, Eriez berhasil membidik mati pemimpin Orb itu. Dalam sekejap semua Orb memekik keras, membuat suasana bagai berada di dalam neraka, riuh dan menyakitkan. Mereka berempat menutup telinga, dan melihat pemandangan mengerikan dimana para Orb baik yang masih hidup atau sudah mati terbakar oleh api dari dalam diri mereka, hangus, dan tertiup angin, tanpa sisa.
Lily terengah-engah, dia mengusap keringat yang membanjiri keningnya, lalu menatap Sam yang masih terduduk di tanah, yang juga melihatnya dengan sedikit terkejut. Lily mengulurkan tangannya, Sam menatapnya sejenak, lalu menerima tangan Lily yang membantunya berdiri.
“Itu tadi…bela diri yang indah sekali.”, Sam tersenyum padanya. Untuk pertama kali, Lily menerima senyuman Sam.
Lily membalas dengan senyuman juga, “Tak perlu memuji, tak perlu mengucapkan terima kasih juga. Kau pernah menyelamatkan nyawaku sebelumnya. Kita impas.”, lalu dia berjalan ke arah Lisa yang masih terduduk gemetar dalam pelukan Eriez yang berusaha menenangkannya.
Sam memandang punggung Lily semakin menjauh, lalu menyarungkan kembali pedangnya.
Lisa masih sedikit shock dengan kejadian serangan ratusan Orb tadi, sekaligus lelah hebat karena telah menggunakan kekuatan pemanggil Nefrisa dalam waktu sekejap tanpa persiapan. Kini dia tertidur lemas di punggung Sam yang menggendongnya, seperti biasa.
“Itu gerbang desa Ressian. Desa miskin yang memiliki penduduk sangat tidak ramah. Semoga ada penginapan yang masih buka…maksudku, mereka jarang mau menerima tamu.”, wajah Eriez berubah masam. Lily merogoh tas kecilnya, mengeluarkan kantung uang mereka.
“Apa 100 Peach cukup?”, tanya Lily pada Eriez.
Eriez lalu merogoh tasnya, mengeluarkan kantung uang juga, “Biar aku yang membayar.”, dia tersenyum. Lily membalas senyumnya dengan lega.
Desa Ressian malam hari sangat mencekam, tak banyak rumah penduduk, bahkan pencahayaan pun kurang. Beberapa anjing dan kucing yang mereka temui berbadan kurus dan terlihat kelaparan. Bau sampah dimana-mana. Lily mendengus, dalam hati dia mengutuk desa ini.
“Ada penginapan! Kesini!”, Eriez membimbing mereka. Sam yang menggendong Lisa, dan Lily mengikutinya.
Penginapan itu terlihat kumuh sekali, kayunya telah lapuk dan berlumut. Bau sampah membuat hidung mereka sedikit sakit. Namun, mereka tetap memilih masuk, daripada tidur di luar dan mengundang kejahatan lagi datang pada mereka. Apalagi kondisi kelelahan yang menimpa mereka setelah bertarung dengan ratusan makhluk Iblis itu.
“Apakah masih ada kamar?”, Eriez bertanya pada pemilik penginapan yang berwajah suram.
Orang tua itu mengangguk lalu menengadahkan tangannya, “Satu kamar dengan satu tempat tidur, 100 Peach. Besok pagi harus langsung keluar!”.
Mereka berempat memasuki kamar itu. Satu-satunya kasur berukuran kecil diputuskan menjadi tempat tidur Lisa yang masih belum membuka matanya karena lelah. Sam dengan lembut dan pelan menidurkan Putri tersebut.
“Kau tidur sofa itu, aku dan Sam akan bergantian berjaga dan tidur di lantai saja.”, Eriez menunjuk sofa kepada Lily, lalu menggelar mantelnya sebagai alas tidur. Kemudian dia menatap Sam yang masih belum melepas mantelnya, “Kau yang berjaga dulu atau…”, Sam menjawab, “Ya. Aku giliran pertama.”, dia menarik pedangnya dari pinggang dan menentengnya, berjalan menuju balkon.
“Selamat tidur, Lily.”, Eriez tersenyum padanya, lalu meringkuk dan tertidur. Lily merebahkan tubuhnya yang terasa sangat kaku setelah berkelahi, di atas sofa. Dia tak bisa membayangkan betapa mengerikannya suasana pertarungan tadi. Ratusan Orb, makhluk kegelapan yang selama ini hanya dia dengar ceritanya dari buku-buku dongeng datang menyerang mereka, dan dia yang telah lama tak menggunakan tubuhnya untuk bela diri harus berjuang mati-matian kali ini. Dia merasakan perih di lengan kirinya, bekas gesekan sisik Orb yang tajam. Dia sudah mengolesinya dengan salep obat miliknya, namun masih terasa perih. Meskipun dia cukup menguasai ilmu pengobatan herbal, itu tak membuatnya senang karena harus mengobati lukanya sendiri.
Lily berusaha memejamkan matanya, namun bukannya tertidur, dia justru terbayang wajah Ayahnya. Lelaki berusia 40-an tahun yang sangat murah senyum, dengan rambut hitam sebahu yang selalu digerai dan berjenggot tipis. Tiap pagi Ayah akan membangunkannya, membuatkan sarapan dan segelas susu hangat yang menurutnya sangat lezat tak ada tandingannya. Ketika dia sedih, atau sedang gundah, dia akan memeluk Ayahnya erat. Pelukan Ayah sangat menenangkannya, apalagi ketika Sang Ayah mengelus lembut bahunya sambil berbisik, “Lily adalah gadis yang tangguh.”.
Lily meneteskan air matanya, dia rindu Ayahnya, rindu rumah kecilnya di sudut barat istana. Rindu sarapan pagi dan susu hangat buatan Ayahnya. Dia ingin pulang, ingin kembali ke kehidupannya yang damai dulu. Lalu dia memiringkan tubuhnya, menatap tubuh kurus Lisa. Air matanya mengalir semakin deras. Dia merasa iba dengan sahabat sekaligus majikannya itu. Dia bertekad akan selalu menjaga dan melindungi Lisa, dengan segenap nyawanya.
Angin dingin menusuk kulit, masuk lewat celah-celah jendela. Membuat Lily tak nyaman, lalu memutuskan bangun dan berjalan keluar menuju balkon.
***
Pangeran Leon masuk ke dalam ruangan kerja Raja, diikuti Ratu Marry dan Perdana Menteri Frank. Pelantikan kenaikan tahta dan pengumuman ‘kematian’ Putri Eloys telah selesai, kini Pangeran Leon resmi menjadi Raja Leon. Dia duduk di kursi beludru, singgasana yang dulu menjadi tempat Ayahnya berada.
“Yang Mulia, apa yang Anda butuhkan saat ini?”, Frank menanyainya. Raja Leon menatapnya, lalu menjawab, “Temui Kepala Pelayan, sampaikan padanya untuk menyampaikan kepada seluruh pelayan untuk mempersiapkan kedatangan Raja Gareth esok, kita akan merundingkan kondisi darurat ini sekaligus menerima bantuan pengamanan dari mereka jika Eloys dan Sam telah masuk ke wilayah mereka.”, Frank mengangguk, namun sebelum dia pergi Ratu Marry memanggilnya. Frank membungkuk di depannya, siap menerima perintah lagi. Ratu Marry mendatanginya, wajahnya terlihat sedikit cerah.
“Semoga ini semua segera berakhir, dan aku ingin segera melihat Eloys hidup bahagia dengan Sam.”, Ratu Marry tersenyum pada Frank, yang langsung disambut anggukan dari Sang Perdana Menteri itu. Siapa yang tak merestui anak semata wayangnya yang akan menjadi Panglima Perang Kerajaan, menjadi suami dari Putri Kerajaan Tan bukan? Apalagi mereka memiliki darah bangsawan yang sama, darah bangsawan Visius, keturunan dewa.
Frank memanggil Remedy yang menghampirinya lalu membungkuk siap menerima perintah. “Raja Leon memintaku untuk memberikan perintah padamu, menyiapkan seluruh pelayan bekerja, menyambut kedatangan Raja Gareth dari Kerajaan Cha esok. Ada pertemuan penting dan darurat yang harus dibicarakan. Jangan mengecewakan Yang Mulia Leon. Mengerti?”, Frank menatap Remedy yang mengangguk paham.
Sang Kepala Pelayan hendak berbalik kembali ke tempatnya, namun Frank memanggilnya lagi. Remedy menatapnya dengan tatapan tanya. Frank maju selangkah lebih dekat padanya, lalu berbisik lirih, “Putrimu, apa dia memiliki kemampuan bela diri?”.
Remedy terlihat sangat kaget, bingung darimana Frank mengetahuinya. Wajahnya pucat. Dia merasa gelisah dan takut Lily kelak akan mendapat hukuman karena menguasai apa yang tak seharusnya perempuan kuasai di Tanah Tan ini.
__ADS_1
Tiba-tiba Frank menepuk bahunya, wajahnya menyunggingkan senyum menenangkan, “Aku pernah melihatnya berlatih 5 tahun lalu. Dan aku teringat mendiang istriku, yang juga berlatih bela diri diam-diam karena mendapat larangan dari orangtuanya. Tak apa, itu sangat berguna untuk membantu Sam melindungi Yang Mulia Eloys saat ini.”.
Remedy menatap Frank takjub. Takjub dan merasa hangat akan kebaikan dan kelembutan hati Perdana Menteri itu. Dia selama ini tak terlalu banyak berkomunikasi dengannya, hanya tahu bahwa sosoknya sangat tegas, irit bicara, dan jarang tersenyum. Sehingga mengetahui bahwa Frank memiliki hati yang lembut, membuatnya sangat kagum dan merasa hangat.
“Semoga Lily bisa membantu Tuan Muda Sam melindungi Putri Eloys dan kembali ke Istana dengan selamat.”, jawab Remedy sambil mengangguk, dan kemudian membalas senyuman Frank padanya.
***
Lily menemukan Sam duduk di balkon bersandar pada dinding menatap langit malam yang mendung. Pedangnya tergeletak di samping. Menyadari langkah kaki mendekat, Sam memalingkan wajahnya ke arah Lily yang berjalan di dekatnya.
Lily menunduk menatapnya, “Boleh aku bergabung?”, tanyanya. Sam mengangguk, mengambil pedangnya, memberikan tempat gadis beriris jade itu duduk.
Angin malam terasa menusuk kulit. Suasana di desa Ressian benar-benar seperti tanpa kehidupan, sepi, dan mencekam. Lily merapatkan mantelnya, lalu menggosok pelan lengan kirinya.
“Kau sudah mengobatinya?”, Sam bertanya, tanpa menengok pada Lily. Lily menatapnya heran, darimana pemuda itu tahu dia terluka.
Namun dia mengangguk, “Sudah.”, jawabnya. Suasana kembali hening.
“Aku minta maaf atas sikapku selama ini, yang tak sopan sebagai seorang pelayan.”, Lily tiba-tiba berkata lirih. Namun Sam masih diam tak menanggapi, matanya tetap menatap langit malam dan ekspresinya tak terbaca.
Lily menatap pemuda itu, mengobservasinya. Dia baru menyadari bahwa wajah Sam menjadi lebih kotor, berdebu, dan kusam dibandingkan saat masih di Istana dulu. Dia selalu mendengar beberapa pelayan memuji ketampanan putra tunggal Perdana Menteri Frank itu, namun Lily tak pernah menemukan sisi tampan itu ada di mana. Mau bagaimana pun, memang standar ketampanan tiap gadis pada lelaki itu memang berbeda-beda.
Saat ini yang dia temukan adalah wajah lelah yang memprihatinkan. Pasti bebannya berat sekali. Menyadari dirinya adalah Ksatria Terpilih, harus menemukan Perempuan Adil dalam waktu dekat sedangkan masalah hati dan cinta juga tak bisa dipaksa bukan? Lalu dia harus melindungi Putri Eloys karena amanah langsung dari Raja Julius padanya, dan juga dengan tangannya harus menyegel Jadze selamanya. Sugguh tugas yang teramat sangat berat. Lily bisa merasakan beban itu saat menatap mata pemuda tersebut.
“Jangan terlalu lama menatapku seperti itu. Kau bisa benar-benar jatuh cinta padaku.”, Sam menggoda Lily, dengan cengiran usilnya, namun tatapannya masih tak beralih dari langit.
Lily kaget mendengar perkataan pemuda itu, pipinya berubah merah lalu dia bangkit berdiri dan sedikit membentaknya, “Dasar mesum!”.
Sam kemudian tertarik melihat ke arahnya, dia ikut berdiri, “Aku tidak menyentuhmu, dan tidak memikirkan hal tak senonoh padamu. Bagaimana aku bisa mesum?”, Sam melotot padanya.
Lily mendengus, “Kau mengatakan itu tadi!”, dia tak mau kalah.
Sam mendesah malas, “Dasar anak kecil! Mana ada perkataan tentang jatuh cinta menjadi hal mesum? Kecuali kalau otakmu sendiri yang berfantasi aneh-aneh!”, dia kembali mengeluarkan cengiran usilnya, menggoda Lily yang makin tersulut emosi.
“Aku kesini ingin berteman ya, jangan pancing permusuhan lagi!”, Lily semakin sewot.
Sam terbahak, dia mengambil pedangnya, maju satu langkah ke depan Lily, “Hei Bocah Pelayan, aku tak pernah memancing permusuhan denganmu, kau saja yang terlalu sensitif selama ini. Dan lagi…”, dia menjentikkan jarinya ke kening Lily, membuat Lily merasakan sakit dan mengaduh, “…kau itu terlalu polos dan naif.”, sambung pemuda itu. Kali ini dia tak tersenyum, “Melihatmu membuatku jadi teringat mendiang Ibuku.”, Sam menatap langit.
Lily terdiam, dalam hati dia sempat terkejut. Namun melihat sorot mata Sam yang agak meredup, dia tahu, pemuda itu pasti merindukan Ibunya.
“Ibuku juga polos, naif, namun sangat pandai bela diri. Dia mandiri, dan memiliki kepercayaan diri yang kuat. Sayang dia meninggal saat aku berusia 10 tahun. Bersama kakak perempuanku, dalam sebuah kecelakaan saat mereka ikut mengawal Yang Mulia Ibu Suri Ryte, Nenek Raja Julius, bersama 10 pelayan pribadi Ibu Suri lainnya.”.
Lily ingat kisah itu. Kisah yang membuat seluruh istana bahkan kerajaan Tan berduka. Kecelakaan karena ada badai yang membuat 10 pelayan pribadi Ibu Suri Ryte dalam satu kereta kuda terbalik dan terjatuh ke jurang. Lily bisa merasakan kesedihan itu pada mata Sam, meskipun dia tak pernah mengenal Ibunya sejak lahir karena telah meninggal setelah melahirkannya, Lily juga merasakan kehilangan amat besar pada sosok perempuan tersebut. Sehingga dia mengerti, bagaimana kesedihan yang dirasakan Sam saat ini.
“Astaga! Aku terlalu banyak bicara sepertinya…”, Sam mendesah, lalu mengambil sesuatu dari kantung celananya. Pisau. Dia menyodorkannya pada Lily.
“Apa ini?”, Lily menatap pisau itu, namun tak segera menerimanya.
“Kau buta atau bagaimana? Ini jelas-jelas pisau!”, Sam kembali mengejeknya.
Lily merengut, “Aku tahu, tapi apa maksudnya?”.
Sam mendesah, “Aku lihat bela dirimu bagus. Ini akan membantumu, selain tendangan dan tinju pamungkasmu saat melawan musuh. Ambilah!”, Sam menyodorkan semakin dekat pisau itu. Lily mengambilnya, menariknya dari sarung pisaunya. Sebuah pisau berkilat tajam, dengan goresan emas bertuliskan nama ‘Sam Putra Frank’ di bagian ujung dekat gagangnya kini memukau penglihatannya.
“Itu pemberian Ibuku.”, Sam merapatkan mantelnya dan hendak berjalan masuk ke dalam kamar, namun Lily bertanya, “Kenapa kau pinjamkan padaku? Kau tak membutuhkannya?”.
Sam menatapnya, dengan ekspresi tak terbaca, lalu menjawab, “Kurasa kau lebih membutuhkannya. Dan…”, iris auburnnya menatap tajam ke dalam iris jade Lily, “…kau tak perlu mengembalikannya.”.
Sam kemudian melangkah masuk, menenteng pedangnya menuju kamar. Lily masih bengong, menatap punggung pemuda itu. Tiba-tiba Sam berbalik kepadanya, “Aku akan membangunkan Eriez untuk berganti jaga. Kau mau tidur atau mau menemaninya berjaga?”.
Lily tersenyum, lalu mengikuti pemuda itu masuk ke dalam kamar. Tentu saja dia ingin tidur. Entah mengapa hatinya sedikit menghangat, sehingga gadis itu yakin dia bisa segera terlelap setelah tubuhnya menyentuh sofa nanti.
__ADS_1