
Pangeran Leon telah selesai mengadakan pertemuan darurat dengan Perdana Menteri Frank. Mereka membicarakan keadaan darurat munculnya penyihir hitam penunggang naga berwarna merah yang berniat menghancurkan keamanan dan kedamaian Kerajaan Tan.
Diputuskan bahwa esok hari Raja Julius akan mengadakan pertemuan resmi seluruh pejabat Istana dan para Bangsawan, mengumumkan bahwa Raja meminta maaf karena menjadi penyebab dari kekacauan ini dan juga menyampaikan berita palsu bahwa Putri telah meninggal dunia karena mengalami kecelakaan saat Ruang Pesta Dansa hancur akibat kedatangan sang Penyihir Hitam dan Naga Merahnya.
Berita itu diharapkan dapat menyebar pada seluruh warga Kerajaan Tan dan mencapai penjuru dunia, sehingga terdengar oleh Si Penyihir Hitam dan membuatnya percaya bahwa Putri Eloys telah meninggal. Untuk itu Pasukan Kerajaan dikerahkan maksimal menjaga setiap sudut Istana dan juga mengerahkan pengawal-pengawal terlatih untuk menjaga tiap tempat di seluruh wilayah Kerajaan demi keamanan Putri. Putri, Sam, dan si Pelayan bernama Lily akan diarahkan menuju utara, dimana mereka akan diterima oleh Kerajaan Cha, yang dipimpin oleh Raja Gareth.
Setelah Frank pergi, Pangeran Leon duduk di hadapan Raja Julius yang masih menunduk dengan raut kesedihan sangat dalam.
“Yang Mulia, silahkan.”, Pangeran Leon mengeluarkan suara beratnya, membuat Raja Julius menatap Putera Mahkotanya itu dengan sorot mata bersalah.
“Anakku, mungkin permintaan maaf ini tak mampu mengobati semua racun yang telah kutanam dalam kerajaan kita. Akulah sesungguhnya pelaku kejahatan itu, dan akulah yang harusnya dipenggal dihadapan seluruh rakyat. Kau tahu kan bahwa Ratu tiba-tiba saja memiliki masalah kesehatan saat mengandung Eloys? Namun dia bersikukuh mempertahankan kehamilannya daripada menggugurkan adikmu.”, Raja diam sejenak, “Kemudian saat akan melahirkan, kau ingat? Ratu mengalami kejang dan pendarahan, sata itulah, dimana Guiss mengatakan bahwa Ratu dan bayi tak bisa diselamatkan, aku berniat memanggil kekuatan Dewi Pelindung Nefrisa dalam mimpiku. Namun ternyata kekalutan hatiku menjadi celah kekuatan hitam masuk. Bukannya memanggil Nefrisa, justru aku mengundang kekuatan hitam itu masuk dalam mimpiku. Kekuatan hitam yang dikirim oleh Penyihir Hitam Jadze yang telah lama tersegel dalam Hati Zamrud milik Raja Naga, karena ketika Raja pemimpin Tan goyah sedikit saja, membuka celah melemahnya kekuatan Hati Zamrud.”.
Pangeran Leon mengerutkan kening, “Jadi benar Hati Zamrud itu ada?”. Raja mengangguk.
“Mendiang Ibuku pernah memilikinya karena dialah yang berhasil menyegel kekuatan hitam yang hendak merenggut nyawa Pangeran Sawn, adik bungsuku. Dan untuk menyegel kekuatan hitam itu, nyawa Ibu kami, Ratu Floin, menjadi bayarannya.”. Raja menundukkan kepalanya. Pangeran Leon menelan ludah dengan getir. Banyak rahasia Kerajaan Tan yang masih luput dari jangkauannya.
“Yang Mulia, katakan, apa yang harus kulakukan sekarang?”, mata Pangeran Leon terasa panas. Dia tak mampu membayangkan kehilangan adik tercintanya untuk selama-lamanya. Raja Julius menatap putranya itu agak lama, lalu meraih bahu kanannya,
“Hati Zamrud hanya bisa ditemukan oleh Perempuan Adil, dia adalah pemilik separuh hati Ksatria Terpilih yang bisa menggenggam Hati Zamrud, kemudian disatukan dengan kekuatan Ksatria Terpilih dan Raja Naga. Aku sendiri tak tahu siapa Ksatria Terpilih dan Perempuan Adil itu untuk menyegel kekuatan hitam dari Jadze saat ini. Kalau dahulu, Ksatria Terpilih itu adalah Raja Brian dan Perempuan Adil adalah Ratu Floin, kedua orangtuaku. Namun keadaan saat itu tak seperti sekarang, karena Raja tak membiarkan kekuatan itu mengambil keuntungan dari perjanjian, sedangkan saat ini kekuatan hitam sudah membentuk wujud sempurnanya menjadi Jadze dan Naga Merah. Oh tidak!”, Raja kembali menangis.
“Untuk itu, kau harus mengirimkan pesan segera kepada Sam agar mereka menemui Peramal Harold. Dia akan membantu mereka menemukan jalan keluar. Kumohon pastikan para pengawal mampu menjaga mereka tanpa diketahui siapapun. Agar mereka bisa membaur dengan rakyat, dan aman.”.
Pangeran Leon mengangguk, dan hendak memohon diri sebelum tiba-tiba Raja mencekal pergelangan tangannya, “Siapkan dirimu. Esok aku akan turun dari tahta, dan mengangkatmu sebagai Raja baru.”, kata Raja sambil menatap mata Pangeran Leon yang terperanjat kaget mendengar kata-kata tersebut.
***
Lily menguap, kantuk hebat melandanya. Jalannya sedikit terseok, menahan kantuk dan rasa berat di kakinya yang terluka. Sam menggendong Putri alias Lisa yang tertidur karena kelelahan di punggungnya.
“Kita cari penginapan.”, suara Sam membuyarkan kantuk Lily. Dalam keremangan cahaya bulan, pemuda itu menatap si Gadis Pelayan. Wajah gadis itu terlihat lelah, Sam sedikit iba padanya. Lily mengangguk dan membenarkan letak selempang tas bawaan mereka, berjalan lebih cepat mengimbangi langkah Sam.
“Di depan adalah pemukiman penduduk, desa bernama Jurg. Desa ini berisi para ksatria dan orang-orang cerdas. Konon disini dahulu tinggal Peramal bernama Harold, namun aku sendiri belum tahu bagaimana sosoknya. Kita akan membutuhkan lebih banyak uang untuk membayar penginapan karena harga penginapan di Jurg sangat mahal.”.
Mendengar penuturan Sam, Lily sedikit mendesah lalu merogoh tas kecil kesayangannya, mengeluarkan kantung uang lalu menghitungnya. “Apa 500 Peach cukup?”, tanyanya. Sam mengangguk.
“Ayo.”, Sam memimpin Lily mempercepat langkah saat mereka telah memasuki gerbang Jurg. Suasana malam menjelang pagi di Jurg sangat sunyi. Lampu-lampu jalan masih menyala, dan hampir semua pintu rumah masih tertutup. Mereka kemudian berbelok di sebuah penginapan yang masih memasang tulisan BUKA di bagian pintunya.
“Selamat pagi, kami butuh satu kamar besar dengan dua kasur.”, Sam menyapa si Penjaga Penginapan. Penjaga melihatnya sekilas lalu melirik Lisa dalam gendongannya, beralih kepada Lily yang kakinya terluka. “Baik.”, dia lalu menyerahkan kunci pada Lily, “Bayar di muka, 350 Peach, sedang ada promo.”. Wajah Lily cerah, segera menyerahkan uang dan mengambil kuncinya.
Sesampainya di kamar, dengan lembut dan hati-hati Sam merebahkan Lisa. Sedangkan Lily meletakkan barang-barang dan mulai melepas sepatunya. “Aku ingin mandi…”, gumamnya sedih. Sam kemudian melepas mantel kumalnya dan menarik pedang bersarung dari balik punggungnya. Menatapnya lama.
“Apa yang kau lakukan?”, Lily menatapnya bingung. Sam kemudian mengeluarkan pisau kecil dari saku celananya dan menarik keluar pedang dari sarungnya, tanpa menjawab pertanyaan Lily dia segera berlulut dan menggoreskan tanda Z di bagian atas pedang, dekat pegangannya, dengan pisau itu. Lily yang heran menghampirinya, menatap apa yang dilakukan pemuda berambut berantakan itu.
“Kau menggores pedangmu..”, Lily berkomentar lagi. Kali ini Sam mendongak dan menatapnya risih. Lalu dia bangun dan kembali menyarungkan pedangnya, mengembalikan pisau ke dalam saku celananya.
“Kau itu berisik sekali, Loli!”, gumamnya geram. Lily secara refleks meninju lengannya, mebuat Sam juga refleks mengaduh dan menjauhkan lengannya dari si Gadis.
“Hei! Namaku Lily! Apa perlu aku korek kupingmu dengan pulpen agar bisa mendengar kata-kata LILY dengan baik dan jelas haa???”, wajah Lily memerah karena kesal.
__ADS_1
Sam berbalik melotot padanya, “Hei dengar siapapun namamu!! Kau harus sopan karena aku ini pejabat istana!!!”.
Lily menjulurkan lidah padanya, “Masa bodoh! Aku hanya paham kata sopan untuk Raja, Ratu, Putra Mahkota, Putri Eloys, dan Ayahku!”, kemudian dia berbalik dan naik ke kasur, memunggungi Sam yang masih menahan marah menatapnya.
Lily kembali berbalik kepadanya, “Tidur di sofa sana!”, lalu memunggungi pemuda itu lagi.
“Oh bagus, aku dihina oleh pelayan…”, desahnya kesal.
Dalam tidurnya Putri Eloys merasakan berada di debuah ruangan berwarna putih tanpa batas. Dia bingung dan ketakutan. Memanggil-manggil nama Lily dan Sam, namun nihil. Keringatnya membanjir. Bibirnya mulai membiru ddan gemetar hebat, dia merasakan udara dingin di sekitarnya.
Sedetik kemudian, ada sebuah cahaya datang dari hadapannya, perlahan membesar dan membentuk sebuah sosok wanita cantik berambut perak panjang semata kaki. Putri menatapnya penuh kekaguman sekaligus bertanya-tanya siapa dia.
Wanita itu berjalan menghampirinya dan membuka kedua lengannya seperti hendak memeluk, namun Putri mundur selangkah.
“Jangan takut, aku bukan penjahat.”, suara wanita itu lembut seperti sebuah nyanyian penghantar tidur. Putri merasa nyaman mendengarnya, dan tanpa dia sadari dirinya telah ada dalam dekapan wanita itu. Nyaman.
“Eloys, aku adalah Nefrisa, Dewi Pelindung Tanah Tan yang telah berjanji kepada Pertapa Tan, leluhur kalian, untuk menjaga kalian semua. Maafkan aku tak mampu menjaga Raja untuk tetap kuat menghalau gangguan kekuatan hitam sehingga tanpa sengaja membuat perjanjian dengan kekuatan terkutuk itu dan membangkitkan Jadze dan Naga Merah.”
“Eloys, Jadze melihatmu memiliki kekuatan besar, maka dia menginginkanmu. Dia memakai cara licik dengan mengganggu kehamilan Ratu sehingga Raja tergiur melakukan perjanjian. Dan di usia 22 ini adalah masa matangnya kekuatanmu untuk membangkitkan kekuatan Keabadian Jadze, sehingga dia bisa menguasai Tan dan seluruh dunia.”.
“Kekuatan apa dalam diriku?”, Eloys mendongak menatap Nefrisa bingung.
Eloys menggigit bibirnya. Tiba-tiba dia menyadari, dia bisa berbicara. Dia menatap Nefrisa yang tahu tentang rasa terkejutnya itu, “Ya, di duniaku, kau bisa berbicara. Dan aku akan mengembalikan apa yang Jadze rampas darimu. Sebagai gantinya, aku akan tertidur. Untuk melawan Jadze, maka Ksatria Terpilih harus mampu menaklukkan Raja Naga dan membuatnya membuka gerbang Gua Nefrisa serta menemukan Hati Zamrud atas bantuan Perempuan Adil.”
Eloys mengerjap-erjapkan matanya bingung. Nefrisa dengan lembut membelai kepalanya, “Ksatria dan Perempuan Adil akan datang. Kau hanya perlu mengikuti kata hatimu, karena aku tertidur dalam hatimu dan akan menuntunmu menemukan mereka. Setelah Hati Zamrud ditemukan, pecahkan dia dengan pedang Ksatria di atas tubuh Jadze, maka selamanya tanah Tan akan terhindar dari usikan kekuatan jahat. Karena dalam ramalan kuno milik Pertapa Tan disebutkan bahwa akan muncul masa penyihir hitam penunggang naga merah yang berniat memporak-porandakan Tanah Tan, namun setelah itu jika Hati Zamrud berhasil dihancurkan dengan pedang Ksatria Terpilih maka kutukan kekuatan hitam akan hilang selamanya dari Tanah ini.”.
“Kau mengerti, Sayangku?”, Nefrisa melepaskan pelukannya dan menatap Eloys penuh rasa sayang. Eloys mengangguk lemah. Nefrisa tersenyum dan menyentuh kedua telinga Eloys dengan kedua tangannya. “Kembalilah pada mereka….”, bisiknya lembut.
“HAHHH!!!”, Lisa tersentak kaget dan mendapati dirinya terduduk dengan nafas terengah-engah, di atas kasur dalam sebuah kamar. Cahaya matahari mulai masuk dari celah-celah jendela yang masih tertutup.
Sam dan Lily buru-buru menghampirinya, selain khawatir dengan sang Putri yang kini bernama Lisa dalam penyamaran, juga karena rasa tidak percaya mereka mendengar suara keras keluar dari mulut gadis berambut hitam legam itu.
“Ya..Yang Mu..Yang Mulia?”, Lily bertanya takut-takut sambil menggenggam kedua tangannya. Lisa menatap iris jade gadis itu, dia membuka mulutnya, “A…Aku bisa mendengarmu..dan menjawabmu..Lily..”.
Lily sejenak terdiam, begitupun Sam yang emnatap pemandangan ini dengan tubuh kaku seperti batu. Lisa kemudian menangis dan segera meraih Lily dalam pelukannya, “Aku..Aku bisa memanggil namamu.. Lily..”, bisiknya di telinga sang Sahabat.
__ADS_1
Sam melipat kembali kertas berisi surat dari Pangeran Leon. Dia menyimpannya dalam saku celana, lalu kembali menatap kedua gadis yang sedang menyantap bubur mereka sambil asyik bertukar cerita. Sam mendesah, ‘Dasar wanita…’, gumamnya dalam hati.
Namun dia masih penasaran dengan cerita Lisa tentang pertemuannya dengan Dewi Nefrisa, dia merasa pernah mendengar atau membaca kisah itu sebelumnya. Sebuah cerita yang dianggapnya hanya mitos belaka. Namun dimana? Dia mencoba mengingat. Buburnya belum disentuh sama sekali.
Dia juga masih memikirkan tentang perintah Pangeran Leon untuknya, yaitu mencari Peramal Harold yang akan memberitahunya bagaimana cara bertemu dengan Ksatria Terpilih yang akan membantunya menaklukkan Raja Naga dan mendapatkan Hati Zamrud. Tugasnya sungguh berat, melindungi Putri, menemukan Ksatria Terpilih dan Hati zamrud serta…matanya menatap Lily, raut wajahnya berubah masam…harus berurusan dengan gadis menyebalkan yang selalu ingin tahu itu.
“Kalau kau tak butuh buburmu, aku siap menghabiskannya.”, Lily sudah berdiri di sampingnya, membawa dua mangkuk kosong miliknya dan Lisa.
Sam menatapnya sejenak, lalu tersenyum usil, “Silahkan. Tapi bubur ini sudah kumantari dengan mantra jatuh cinta padaku selama-lamanya. Kau mau?”, kemudian dia terbahak, membuat Lily mengeluarkan umpatan dan sumpah serapah padanya.
Lisa menatap mereka bedua dan tersenyum manis. Dia merasa bersyukur memiliki sahabat seperti mereka yang setia dan selalu melindunginya, segenap hati dan siap berkorban nyawa. Namun kemudian tangannya meremas kertas surat dari sang Kakak, Pangeran Leon. Ada yang emnggundahkan hatinya. Yaitu isi surat yang mengatakan bahwa hari ini Raja akan mengumumkan kematian palsu Putri Eloys, dirinya, dan keputusannya turun tahta digantikan Pangeran Leon.
Lisa menangis tanpa suara, tak ingin Sam yang masih berdebat dengan Lily melihatnya. Dia merasakan sakit luar biasa karena kejadian ini, dan kerinduan amat dalam kepada keluarganya di Istana. Dalam diamnya, dia memohon kepada Tuhan, semoga ini semua segera selesai. Dia ingin segera memeluk kedua orangtua dan Kakaknya, Leon.
***
“Kau sudah ingkar janji, Julius!”, Jadze mencekik leher Raja dengan kejamnya di dalam mimpi. Raja tak mampu mengeluarkan kata sepatahpun, bahkan suaranya pun tak mampu keluar. Dia merasakan kesakitan menjalari seluruh tubuhnya.
“Aku tak percaya Eloys mati semudah itu karena aku masih merasakan kekuatannya dalam genggaman tombakku. Aku tahu kau menyembunyikannya, dan aku pasti akan menemukannya! Untuk itu aku meminta nyawamu sebagai jaminannya sampai Eloys kutemukan, dan setelah Hati Zamrud yang dibangkitkan oleh kekuatan Eloys bisa membangkitkan Keabadianku, maka nyawamu akan kembali! Hahahaha….”, Jadze melemparkan tubuh Raja Julius.
Di dunia nyata, Raja Julius juga tiba-tiba kejang dan langsung tak sadarkan diri. Ratu Marry menjerit histeris, diiringi teriakan para pelayannya.
***
“Hei, apakah ada yang bisa kubantu?”, sapa seorang pemuda berambut cokelat keemasan dan bermata biru laut kepada Sam, Lisa, dan Lily yang terlihat kebingungan di tengah pasar. Sam menatapnya beberapa saat, lalu dengan wajah cerah bergegas memeluk pemuda itu.
“Eriez!!!”, teriaknya penuh semangat.
Sang Pemuda bernama Eriez membalas pelukannya tak kalah kuat, “Senang bertemu denganmu lagi, Kawan!”.
Lily dan Lisa saling berpandangan sesaat dengan bingung lalu menatap kedua pemuda yang terlihat seumuran itu. Sepertinya mereka berteman cukup akrab.
“Dengar, aku butuh bantuanmu, bawa kami ke rumahmu!”, Sam berbisik ke telinga Eriez. Eriez kemudian menatap Lisa, dia mengangguk hormat, sepertinya mengetahui kalau Lisa adalah Putri Eloys.
Lalu dia mengalihkan pandangan ke Lily, kemudian berbisik ke Sam, “Siapa?”.
Tanpa melihat Lily, Sam menjawabnya, “Gadis tidak penting.”. Mendengar itu Lily hendak melangkah untuk meninju lengan Sam, tapi Lisa segera menarik lengannya dan menggelengkan kepala melarangnya. Lily hanya bisa mendesah.
“Jadi, apakah kau bisa membawa kami ke Peramal Harold? Ini perintah langsung dari Yang Mulia Leon, Raja baru kita.”, Sam kembali bertanya pada Eriez, sambil meletakkan cangkir tehnya. Eriez menatap Lisa dengan sedih, lalu kembali menatap Sam.
“Sebelumnya aku akan mengabarkan berita duka, bahwa Jadze telah mengambil nyawa Raja. Untuk itu pagi ini, Raja tak bisa menyampaikan bahwa Putri Eloys meninggal dunia, Pangeran Leon naik tahta dan bahwa Kerajaan Tan dalam keadaan bahaya, karena beliau telah tiada…”. Suasana hening. Semua menatap Lisa dengan sedih.
Lisa meneteskan air matanya, lalu tersenyum, “Aku akan melakukan apapun agar Kerajaan Tan serta rakyat dan Ayahku bsia selamat.”, suaranya lembut namun mantap, “Eriez, mohon bantuannya.”, lanjutnya.
__ADS_1
Eriez tersenyum, iris biru lautnya menatap intens ke dalam iris orchid sang Putri, “Dengan seluruh nyawaku, Yang Mulia.”.