Hati Zamrud

Hati Zamrud
Ramalan


__ADS_3

Pangeran Leon terengah-engah bangun dari tidurnya, Ratu Marry menatapnya cemas, sedangkan Perdana Menteri Frank segera menyerahkan secawan air madu padanya.


“Aku…Aku tidak bisa…aku..aku tersesat..Nefrisa tidak muncul..”, kata Pangeran Leon sedih. Air mata Ratu Marry jatuh dan dia segera memeluk erat Putra Mahkotanya tersebut. Hari ini, pengumuman tentang kenaikan tahta Pangeran Leon dan ‘meninggalnya’ Putri Eloys ditunda karena ‘kematian’ mendadak Raja Julius akibat ulah Jadze semalam.


Perdana Menteri Frank yang juga memiliki kekuatan sebagai ahli spiritual itu berusaha membantu Pangeran Leon terhubung dengan dunia Nefrisa. Bagaimanapun, sebagai Raja Tan kelak, dia harus mampu memanggil Nefrisa dalam mimpinya, yaitu dengan masuk ke Dunia Nefrisa.


Namun mencoba beberapa kali hari ini, Pangeran Leon tetap saja gagal. Frank tak mengerti apa alasannya, padahal syarat utama dapat terhubung dengan dunia Nefrisa sebagai seorang Raja Tan adalah dengan memakai liontin Naga Amber yang akan mengikat roh Raja Tan untuk mengantarkannya memasuki dunia tersebut. Namun, meskipun telah memakai Naga Amber, Pangeran Leon tetap gagal.


“Kemungkinan pertama, Jadze telah menyegel kekuatan Pangeran Leon. Namun rasanya nihil, karena dengan memakai Naga Amber, kekuatan hitam manapun tak akan mampu menyegelnya untuk bisa masuk Dunia Nefrisa. Kecuali kekuatan tersebut hanya menyusup saja, seperti yang terjadi saat Raja Julius tengah gundah. Namun saat ini Pangeran Leon telah berada di kekuatan batin tertingginya. Jadze tak akan mampu menembus dan menyegelnya.”, Frank kemudian berpikir sambil mengelus jenggot pendeknya, “Atau…Nafrisa sedang tertidur dalam hati Putri Eloys. Sehingga dia tak berada dalam dunianya…”. Pangeran Leon dan Ratu Marry terperanjat.


“Apa maksudnya??”, tanya Pangeran Leon.


Frank menatap Sang Pangeran dengan sinar mata sedikit cerah, “Itu artinya Putri Eloys telah mampu membangkitkan kekuatan pemanggil Nefrisa yang ada pada dirinya. Dia telah bersatu dengan Roh Nefrisa, dan mampu mendapatkan jalan untuk bertemu Ksatria Terpilih dan Perempuan Adil, dimana kekuatan itulah yang diincar Jadze untuk mendapatkan keabadiannya.”, Frank kemudian menatap lekat-lekat iris orchid Raja Leon, “Akan tetapi, jika Putri ternyata adalah Sang Perempuan Adil, maka dia tak hanya akan mampu membangkitkan kekuatan Roh Nefrisa dalam dirinya, tapi juga mampu langsung menyegel kekuatan hitam Jadze.”. Ratu Marry menjerit tertahan mendengarnya.


“Ja..jadi….”, Ratu Marry meremas kuat bahu Pangeran Leon, Sang Pangeran segera mengelus bahunya lembut.


“Ya. Putri Eloys bisa saja menjadi Perempuan Adil dan mampu membangkitkan kekuatan Roh Nefrisa sekaligus melenyapkan kekuatan hitam Jadze selama-lamanya, tanpa perlu menghancurkan Hati Zamrud sebagai segel. Itu hanya berlaku, jika Perempuan Adil adalah si Pemilik Kekuatan Nefrisa. Jika tidak, maka penyegelan harus tetap dengan menghancurkan Hati Zamrud di atas tubuh Jadze.”, tutup Frank.


***


“Kau? Peramal Harold? Apa???”, Sam tergagap dan menatap tak percaya teman beriris biru laut di depannya. Yang ditanya masih tersenyum-senyum tanpa dosa.


Lily mendesah, “Hei, kau itu tuli kah? Apa kau tak mendengar apa katanya barusan?”. Sam tak menggubrisnya.


“Kau tak pernah mengatakan sebelumnya!”, Sam masih memprotes Eriez, tak percaya dengan pernyataan temannya baru saja. Eriez sendiri masih tersenyum.


Lisa menatap Eriez, “Benarkah kau cucu Peramal Harold?”, dia juga masih kurang percaya.


Lily lelah melihat mereka berdua. Dia sendiri percaya-percaya saja, karena memang tak begitu paham sepenting apa seorang Peramal Harold tersebut.


Eriez tersenyum, “Maafkan aku Sam. Selama ini tak pernah mengatakannya padamu karena kurasa juga kau tak ingin tahu…”, Sam memotongnya gusar, “Aku sudah lama ingin bertemu dia tahu! Aku mencarinya kemanapun…dan hei, kau disini, kau yang adalah teman belajarku di Jurg, ternyata…cucunya! Oh astaga aku pikir aku telah gila…”, Sam menepuk jidatnya lalu mengacak-acak rambut cokelatnya yang memang sudah selalu berantakan.


“Untuk ukuran calon Panglima Perang, kau terlalu berantakan….”, Lily menggumam tak jelas sambil menuang teh dalam cangkirnya.


Rupanya Sam mendengar gumamannya dan langsung naik pitam menunjuk hidung Lily dengan telunjuknya, “Aku tak butuh penilaian tak pentingmu!”. Mereka mulai saling melotot dan akhirnya berdebat. Lagi.


“Apa mereka berdua sering seperti ini?”, Eriez berbisik pada Lisa yang menatap kedua sahabatnya itu dengan senyum geli.


Lisa menatap Eriez, “Sebenarnya baru dua hari ini, sejak pesta dansa sampai hari ini. Karena waktu kecil mereka hanya bertemu sekali, tak ada kontak juga antara mereka.”.


Eriez berpikir sejenak, lalu menatap Lisa lagi, “Kau tak merasa aneh dengan tingkah mereka?”.


Lisa menggeleng, “Ah tidak. Aku sangat nyaman bersama mereka…”, dia tersenyum manis. Eriez menatapnya sejenak, lalu ikut tersenyum.


 


Eriez pertama bertemu dengan Sam saat mereka berusia 15 tahun. Mereka seumuran. Eriez yang yatim piatu, dengan Ayah yang tidak diketahui siapa orangnya itu, menjadi salah satu guru memanah di Sekolah Calon Kstaria Jurg. Eriez sendiri memiliki otak yang jenius dan menyukai dunia arkeologi, sehingga dia selain menjadi guru pemanah dengan keahlian memanahnya yang diakui seluruh Jurg, juga seorang Arkeolog yang memiliki banyak proyek dalam pencarian situs-situs kuno di Tanah Tan.


Perkenalannya dengan Sam terjadi saat Sam mendapat perintah dari Ayahnya, Frank, untuk menjadi guru tamu di sekolah tersebut, melatih berkuda dan berpedang. Mereka rupanya cepat nyaman satu sama lain, dimana Sam yang agak temperamental dan memiliki semangat serta kepercayaan diri tinggi, mampu menjadi pelengkap sosok Eriez yang lemah lembut dan sedikit tertutup.


Sam tak pernah tahu jika Peramal Harold adalah kakek Eriez dari jalur Ibunya, karena Eriez juga tak pernah mengunjunginya. Siapapun juga tak tahu hal tersebut. Eriez memilih tak dikenal sebagai cucu Sang Peramal Terkenal, karena ia ingin orang-orang mengenalnya sebagai seorang Eriez Sang Arkeolog dan Pemanah saja.


“Apa masih jauh?”, Lily mengusap keringat di dahinya, bertanya pada Eriez yang berada satu langkah di belakangnya.

__ADS_1


Eriez yang membantu Lisa berjalan melewati bebatuan terjal di lereng pegunungan Vorge, pemisah desa Jurg dengan desa Ressian, itu menggeleng, “Sekitar 200 meter lagi.”. Lily mendesah, dia sangat kelelahan dan ingin pingsan rasanya.


Tiba-tiba dia menginjak batu runcing dan menjadi sedikit oleng karena kesakitan, mulutnya mengeluarkan jeritan tertahan. Sam segera meraih pergelangan tangan gadis itu dan menarik tubuhnya sehingga tubuh mereka saling bertemu. Iris jade Lily mampu menatap iris auburn Sam sangat dekat, beberapa inci di depannya.


Lisa dan Eriez menatap pemandangan itu dengan mulut membentuk huruf a. Lily kemudian segera memisahkan diri dari Sam, pipinya memerah, sambil memalingkan muka dia menggumam lirih, “Te..terima kasih..”.


Sam dengan wajah tanpa senyum khasnya, menatap gadis itu sejenak, mencoba mengobservasi ekspresi si Gadis, lalu berbalik dan kembali melangkah, “Ayo jalan lagi.”.


Lisa dan Eriez saling bertukar pandang.


 


Eriez mengetuk sekali lagi pintu kayu pondok kakeknya tersebut. Sedetik kemudian, sosok berusia sekitar 70 tahunan dengan rambut abu-abu panjang dikuncir longgar di bagian tengah panjang rambut keluar, senyumnya merekah. Eriez membungkuk, diikuti ketiga temannya.


“Masuklah, aku sudah menanti kedatangan kalian.”, Pria tua itu mempersilahkan mereka duduk di 4 kursi beludru yang sudah disiapkannya. Saat Sam melepas mantel dan mengambil pedang dari punggungnya, Peramal Harold menatapnya sejenak. Sam yang merasakan tatapan itu segera menatap balik si Kakek, namun yang ditatap balik langsung tersenyum dan mempersilahkannya duduk. Sam bingung, namun menurut.


“Jadi, apa Kakek sudah bisa meramal kedatangan kami?”, Eriez membuka suara. Kakeknya tersenyum dan mengangguk. Sambil menuang teh ke masing-masing cangkir tamunya, dia mulai berbicara,


“Aku telah mendapatkan ramalannya sejak 30 tahun lalu.”, dia terdiam sejenak, memberikan ruang kekagetan pada keempat tamu mudanya, “Bahwa akan ada dua pemuda dan dua gadis pilihan yang akan berjalan bersama menemukan Hati Zamrud, memerangi kekuatan hitam dan berusaha menyelamatkan Tanah Tan dari teror kegelapan selama-lamanya.”.


Peramal Harold lalu menatap Sam, “Seorang Ksatria telah duduk di depanku sekarang.”.


Sam terbelalak kaget, “Ap..Apa yang..?”, dia tak mampu melanjutkan kata-katanya.


Eriez mengambil kesempatan bertanya, “Maksud Kakek, Sam adalah Ksatria yang Diramalkan?”.


Peramal Harold mengangguk, “Pedang Bertahta Batu Zamrud yang dibawanya menjadi senjata sang Ksatria.”, Sam memotong, “Itu…saya hanya mendapatkannya dari kakek saya saat masih berusia…”, Peramal Harold menyergahnya, “..10 tahun. Setelah berhasil lulus dari sekolah berpedang di Istana. Bukan begitu?”. Sam masih menatapnya tak percaya.


Peramal Harold menatapnya, terdiam cukup lama, lalu menjawab, “Perempuan Adil selalu tak bisa diramalkan, karena…”, semua diam menunggu, sang Kakek tersenyum melanjutkan, “…itu dipilih oleh hati Sang Ksatria.”.


Sam sedikit berteriak membuat semua menatapnya, “Apa-apaan itu?!”. Suasana sedikit menjadi tegang. “Jadi aku mendapat tambahan tugas menemukan Perempuan apalah itu, dan bagaimana caranya?”, tanyanya pada Peramal Harold.


Sang Kakek mengambil cangkir dan menyesap habis seluruh isinya, “Kau tak perlu cara, karena hatimu yang akan menuntunnya. Jujur, sehebat apapun peramal di dunia ini, Perempuan Adil tak akan pernah bisa terbaca dalam ramalannya. Bahkan Pertapa Tan sekalipun…tak mampu meramalkan kehadiarnnya. Itulah mengapa, hanya dia yang mampu menggenggam Hati Zamrud, dan menyerahkannya pada Ksatria Terpilih untuk menjadi kekuatan melawan sihir hitam. Hanya dia, tak ada satupun yang mampu menggenggam erat Hati Zamrud itu, bahkan Nefrisa dan Raja Naga sekalipun.”.


Lily yang dari tadi hanya diam mendengarkan, teringat kisah di Buku Legenda milik Sam yang berada dalam tas kecilnya. Dia telah membaca habis seluruh isi buku tersebut saat pesta dansa berlangsung sebelum si Jahat Jadze muncul merusak segalanya.


Diceritakan bahwa Sang Ksatria akan bersatu dengan Raja Naga dan bertarung kekuatan melawan kekuatan gelap, kemudian Putri Raja membantunya dengan menyerahkan liontin ametistnya kepada Ksatria, memberinya kekuatan lebih dan mampu menyegel kekuatan penyihir selama-lamanya. Mereka akhirnya menikah dan kerajaan hidup sejahtera di bawah kepemimpinan Ksatria yang akhirnya naik tahta menjadi Raja.


“Kau masih menyimpannya kan? Sudah saatnya kau kembalikan kepada pemiliknya…”, Peramal Harold membuyarkan lamunan Lily, iris kelabu si Kakek menatap dalam ke iris jade-nya, namun penuh kelembutan dan kasih sayang.


Lily menatapnya bingung, kemudian paham kemana arah pembicaraan si Kakek. Tangannya meremas erat tas kecilnya yang berisi Buku Legenda Ksatria Penakluk Naga, barang yang dimaksud si Kakek untuk segera dikembalikan ke pemiliknya, Sam. Lily mengangguk.


Ketiga temannya menatap Lily dan Kakek Harold, lalu si Kakek berkata lagi, mencairkan suasana yang sedikit kaku, “Aku akan menceritakan kepada kalian tentang Pertapa Tan…dan Buku Legenda Kuno.”.


 


Dahulu kala, seorang anak dewa memutuskan untuk turun ke Bumi dan menjadi manusia biasa, dalam rangka memprotes kebijakan Raja Dewa yang akan menghancurkan sebuah tanah tandus di wilayah tengah Bumi. Si Anak Dewa bernama Tan itu dalam mimpinya sering melihat bahwa dalam tanah itu ada sebuah batu zamrud indah yang akan menjadi awal dari munculnya sebuah negara besar yang melahirkan Ksatria-ksatria hebat pelindung Bumi. Karena percaya bahwa tanah tandus itu tak layak dihancurkan sebab menyimpan potensi hebat di masa depannya.


Karena memiliki darah dewa, meskipun telah menjadi manusia, Tan mampu mendapatkan kembali kekuatannya setelah melakukan pertapaan selama 1000 hari. Itulah mengapa dia dijuluki sebagai Seorang Pertapa. Dia kemudian berhasil membangkitkan Roh Nefrisa dari dalam bumi, dan mengikatnya dalam perjanjian melindungi Tanah Tan selamanya. Pertapa Tan menyerahkan liontin Naga Ambernya pada putra tunggalnya, Visius, yang kemudian menjadi Raja Pertama Tan.


Naga Amber itulah yang mampu menghubungkan dunia manusia dengan dunia Nefrisa, sehingga Raja-raja di Tan mampu berkomunikasi dengan Nefrisa, si Dewi Pelindung Tanah Tan.


Selain Nefrisa, ada juga seekor Naga berwarna hitam kelam dengan mata semerah darah yang merupakan penunggu Tanah Tan ini. Naga itu memperkenalkan diri sebagai Raja Naga saat Pertapa Tan datang. Pertapa Tan, Nefrisa, dan Raja Naga kemudian menggabungkan kekuatan dengan Hati Zamrud yang ada di dasar bumi untuk membuat perlindungan maksimal kepada tanah ini.

__ADS_1


Namun, Raja Visius tak mampu menggenggamnya karena batu tersebut langsung menghilang. Raja Naga mengatakan bahwa Hati Zamrud itu hanya disembunyikan oleh Bumi, agar tak ada kekuatan apapun yang mampu memilikinya. Raja Naga kemudian meminta Raja Visius menemukan perempuan yang dia cintai dan menikahinya, menjadikannya Ratu untuk Kerajaan Tan yang dibangunnya, karena hanya perempuan itu yang mampu menemukan dimana Hati Zamrud berada, dan menyerahkannya pada Raja Visius sang Ksatria untuk menyegel kekuatan sihir hitam di dasar bumi.


Tapi, batu zamrud itu tak kunjung muncul. Dan ternyata muncul saat terjadi pergolakan besar di masa Raja Voctorius, Raja Kedua setelah Raja Visius, memerintah. Pergolakan itu merupakan perang terbesar Tanah Tan karena adanya pemberontakan yang dipimpin oleh Pangeran Alendril, Kakak Raja Voctorius, yang ingin merebut tahta. Sang Pangeran membangkitkan kekuatan gelap dan membangun pasukan-pasukan Iblis untuk menyerang Kerajaan.


Batu Hati Zamrud muncul bukan kepada Ratu, namun kepada Istri Sang Panglima Perang, yang adalah Ksatria Terpilih. Dia kemudian menyatukan kekuatan dengan batu tersebut, Nefrisa, dan Raja Naga untuk bisa menyegel kekuatan hitam itu. Namun sebelum kekuatan hitam tersegel sepenuhnya, perang berakhir dengan kekalahan dari pihak musuh.


Sehingga kekuatan hitam masih terus menghantui tanah ini. Selama dia belum disegel dengan batu Hati Zamrud secara utuh. Yaitu dimana batu itu dapat berwujud nyata di dunia manusia, karena selama ini batu tersebut hanya terlihat di Dunia Nefrisa.


Batu tersebut muncul lagi di masa Raja Brian, Ayah Raja Julius, memerintah untuk pertama kalinya. Setelah berhasil menyegel kekuatan hitam masuk ke dalam Hati Zamrud yang ditemukan oleh Ratu Floin, Istri Raja Brian, di Dunia Nefrisa, ternyata kekuatan hitam masih berusaha mengganggu jiwa Putra Raja Brian. Sehingga Ratu Floin mengorbankan nyawanya demi menyegel lagi kekuatan hitam itu, dan sekaligus menarik keluar seluruh kekuatan Roh Nefrisa yang dimiliki putranya.


 


“Jadi…”, Lily bersuara pelan, semua menatapnya, termasuk Peramal Harold, “…Perempuan Adil…adalah dia yang…dicintai oleh Sang Ksatria?”, lanjutnya.


Peramal Harold mengangguk, masih dengan senyum manisnya. Sam gusar, “Omong kosong macam apa ini?! Kenapa aku harus jatuh cinta? Kenapa harus di saat genting seperti ini?? Dalam keadaan santai saja aku lebih mencintai waktuku bersama buku daripada dengan wanita…”, Sam menggerutu.


Peramal Harold menatapnya, lalu mengelus lembut bahunya sambil berkata, “Perempuan Adil adalah perempuan yang memiliki separuh hati Sang Ksatria. Jika Sang Ksatria yang diramalkan telah muncul, maka Perempuan Adil akan hadir sebentar lagi. Ingat Anakku, hati manusia itu adalah hal yang tak pernah bisa diduga. Itulah mengapa siapapun tak mampu meramalkan kehadiran Perempuan Adil…”, Eriez dengan usil menyahut, “Karena kau sendiri yang akan menemukannya. Hei, bukankah hebat, Sam, kau akan jatuh cinta…lalu menikah.”. Sam langsung melotot padanya.


Peramal Harold melanjutkan, “Lagipula ada dua gadis manis di sini…”, dia menatap Lily dan Lisa bergantian, keduanya langsung bersemu merah. Sam menggeleng kuat-kuat, membayangkan seorang Putri yang sangat ingin dijaganya karena dasar kesetiaan seorang abdi kerajaan pada majikannya dan seorang gadis pelayan menyebalkan yang selalu membuat moodnya tidak bagus. Mana ada cerita seperti itu, sanggahnya dalam hati. Dia masih meragukannya. Terlebih meragukan tentang dirinya yang adalah Ksatria Terpilih itu.


Rupanya Peramal Harold tahu kegusaran hatinya, dia kemudian menuangkan teh lagi ke dalam cangkir Si Pemuda, dan kembali berbicara dengan nada lembutnya, “Aku tahu kegundahan hatimu. Kau pasti merasa tak pantas. Namun, kau tetaplah membawa darah Visius, atau darah Pertapa Tan dalam dirimu.”. Semua langsung menatap Kakek itu tak percaya. Sam terbata, “Bagaimana…bisa?”.


“Tiga puluh tahun lalu saat ramalan itu datang padaku, aku segera menulis sebuah kisah legenda yang kusamarkan menjadi bacaan seperti dongeng sebelum tidur, yang aslinya berisi tentang isi ramalanku tentang kejadian hari ini. Sang Ksatria, Penyihir Hitam, Naga Merah, Perempuan Adil, Hati Zamrud atau batu mulia itu. Namun, akhir kisah di buku itu kubuat bahagia, sebagai bentuk harapanku. Karena dalam ramalanku tak terlihat apakah Ksatria mampu menang melawan penyihir jahat atau tidak. Karena…”, Peramal Harold menarik nafas berat, Lily mengeratkan remasannya pada tas kecil berisi Buku Legenda tersebut, “…aku tak bisa merasakan dalam ramalanku itu, Sang Ksatria mampu menemukan Perempuan Adil-nya atau tidak, sehingga Hati Zamrud akan sangat sulit ditemukan.”.


Sam menunduk, menatap kedua kakinya. Peramal Harold menatapnya sejenak, lalu memandang lurus ke langit-langit pondok tuanya, “Aku bertemu sahabatku, Pangeran Brian setelah dia naik tahta dan menikah dengan Perempuan Adil-nya. Aku menyerahkan buku itu kepadanya, berharap dia menyerahkan kepada putra bungsunya yang baru lahir, Sawn, yang memiliki kekuatan Roh Nefrisa seperti Putri Eloys saat ini. Saat berusia tiga tahun, Sawn pernah hampir kehilangan nyawa karena kekuatan sihir hitam hendak mengambil kekuatannya itu. Sawn yang telah dikabarkan meninggal pada rakyat, ternyata di sembunyikan di suatu tempat oleh Raja Brian demi keamanannya. Sekarang dia telah hidup bahagia dengan keluarganya bukan?”, Peramal Harold melirik Lisa, Lisa mengangguk, mengetahui pamannya telah hidup bahagia di suatu tempat sekarang, sebagai rakyat biasa.


“Namun ternyata kekuatan itu hilang dari Sawn setelah mendiang Ratu Floin mengorbankan nyawanya demi menyegel kekuatan hitam yang akan mencelakai Pangeran Sawn. Dan aku kemudian mendapatkan ramalan baru bahwa buku itu harus tetap berada di tangan keturunan Visius. Raja Brian mengatakan bahwa adik tirinya, Pangeran Rennet yang lahir dari selir Ayahnya, baru saja merayakan kelahiran anak lelakinya. Anak lelaki itu bernama Frank. Ayahmu.”, Kakek Harold menatap Sam, Sam diam. Dia paham benar silsilah keluarganya. Siapa Ayahnya, siapa Kakeknya. Kakeknya adalah Pangeran Rennet, putra dari Selir terakhir Raja Leffian yang adalah kakak kembar dari Raja Deffian, Pendiri Kerajaan Cha. Raja Leffian adalah satu-satunya Raja Tan dalam sejarah yang pernah beristri lebih dari satu.


“Kau tahu kan buku itu?”, Kakek Harold menanyai Sam, Sam mengangguk, “Tapi aku kehilangannya…”, dia menunduk, menyesal. Si Kakek lalu tersenyum menatap Lily yang sedikit ketakutan.


Si Gadis kemudian mengeluarkan buku tebal bersampul merah marun itu, menyodorkannya pada Sam, “A…aku tak sengaja menemukannya.. dan..”,


Sam terlihat sedikit marah menatap Lily, “Kau?! Kau mencurinya..!!”.


Lily tak terima, dia langsung berdiri, tubuhnya gemetar, “Aku..Aku hanya membawanya…kemudian membacanya..kau..kau keterlaluan!!!”.


Suasana kembali menjadi sedikit tegang. Eriez berdiri dan mengelus lembut bahu Lily, memintanya kembali duduk. Mata Lily bertemu Lisa, yang menatapnya khawatir. Lily lalu mendesah dan duduk.


“Aku…hanya tertarik membacanya..”, dia mencoba menjelaskan dalam gumaman pelannya, “…maafkan..kelancanganku.”, tutupnya.


Sam diam sejenak, menarik nafas, dan meraih buku itu, memasukkan dalam tas ranselnya. Dia masih diam membeku, mencoba mengatur kembali emosinya.


“Ngomong-ngomong, apa rencanamu setelah ini, Cucuku?”, Peramal Harold memecahkan keheningan dengan bertanya kepada Eriez.


Eriez menatap iris kelabu Kakeknya sejenak, lalu sambil tersenyum menjawab, “Sebenarnya, di awal aku hendak kembali ke Jurg setelah mengantar mereka bertiga kesini, namun…”, dia menatap Sam, “…sepertinya aku harus memastikan Sang Ksatria segera bertemu Perempuan Adil-nya sebelum mencapai Gua Nefrisa, karena sepertinya Sang Ksatria masih awam dengan perasaan yang begitu-begitu…lagipula…”,


Sam merengut padanya, memotong, “Apa yang begitu-begitu itu?”, Lisa terkikik melihat ekspresi sahabatnya itu, dia kemudian bersuara, “Selama mengenalmu, aku tak pernah tahu kau berkencan dengan siapapun kecuali dengan buku-buku. Hihihi..”, Sam melotot menatapnya, jika saja dia bukan Putri Raja mungkin dia sudah mencekik leher perempuan itu.


Eriez di sela tawanya, melanjutkan, “..hei aku belum selesai berbicara. Lagipula…”, dia menatap Kakeknya, menghentikan tawanya, “…dalam ramalan kakek ada 4 orang yang akan mencapai Gua Nefrisa bukan?”.


Peramal Harold mengangguk dan tersenyum cerah. Sam menepuk bahu Eriez, dan berkata mantap, “Sungguh suatu kehormatan besar jika Sang Arkeolog dengan keahlian memanahnya yang tak terbantahkan ini bisa menemani perjalanan kami.”. Mereka berdua kemudian terbahak.


Sedangkan Lily, dia masih diam. Tatapan matanya tertuju pada Lisa. Jika memang buku bersampul marun itu benar hasil ramalan Kakek Harold, maka sang Ksatria akan menikah dengan Putri Raja. Lalu Sam, Sang Ksatria akan menikah dengan Perempuan Adilnya, yang mungkinkah dia adalah…Lisa alias Putri Eloys?

__ADS_1


__ADS_2