
Jadze tertawa terbahak-bahak. Dia kemudian menatap kedua mata bengis Naga Merahnya yang tengah mendengkur pelan kepadanya.
“Apa kau sudah tak sabar untuk segera bertemu dengan Teshra, Sirina?”, tanya Jadze yang dijawab oleh geraman Si Naga. Jadze kembali terbahak dengan tawanya yang menyeramkan.
“Dan aku juga tak sabar ingin segera menarik kekuatan Sang Putri dan menelan batu zamrud itu dalam tubuhku!”, desisnya.
Melihat Sam dan Eriez yang turun dari kuda, Putri Eloys segera berlari ke arah mereka berdua dan lengsung memeluknya bersamaan.
“Aku merindukanmu, Sam…oh Eriez, aku lega kau selamat…”, Putri menumpahkan air mata harunya. Lily, Luisa, dan Frei berjalan mendekati mereka.
Putri Eloys lalu melepaskan pelukannya. Sam menyentuh lembut pipi kanan Tuan Putrinya, berbisik pelan sambil tersenyum, “Aku juga merindukanmu, Yang Mulia.”.
Melihat Putri Eloys dan Sam saling menatap satu sama lain dengan penuh kerinduan, Lily segera mengalihkan tatapan matanya dari mereka dan berjalan menuju Eriez yang tersenyum padanya.
“Kau sedikit terluka.”, kata Lily.
Eriez tersenyum, “Ada pertempuran dengan Illio tadi. Tapi ini hanya luka kecil.”.
Lily membalas senyumnya, “Aku tak harus memelukmu kan?”, tanyanya iseng. Eriez tertawa kecil, lalu merentangkan kedua tangannya, dan Lily langsung menghambur ke dalam pelukannya.
“Yah, aku rasa aku yang ingin memelukmu.”, bisik Eriez usil.
Putri Eloys mendekati mereka berdua, “Dimana Merdy?”, tanyanya. Eriez melepaskan pelukan Lily, tatapan matanya terlihat sendu.
“Oh tidak!”, Putri Eloys menutup wajahnya yang langsung berlinang air mata dengan kedua tanganya. Belum sempat Eriez menuju Sang Putri untuk memeluknya, Sam sudah melakukannya terlebih dahulu.
“Dia sudah mendapatkan tempat terbaik disana…”, Sam berbisik lembut di telinga Sang Putri. Sedangkan kelima serigala itu, menunduk sedih, kehilangan Tuan mereka untuk selama-lamanya.
Eriez berlutut dan menatap mata kelima serigala itu satu per satu, “Tenang Kawan, aku akan merawat kalian dengan baik.”, senyumnya pada mereka.
Teshra terlihat kesal dengan keterlambatan keempat anak muda itu untuk menemuinya. Dia mendengus dan menatap Sam dengan tatapan menuduh. Sam balas memelototinya sambil berkacak pinggang, “Kau tak tahu apa artinya menumpahkan kerinduan kan?”, tanyanya sinis.
Teshra menguap, dengan suara yang menggelegar, lalu menjawab, “Oh aku malas meladenimu, Bocah Aneh!”, lalu tatapan matanya beralih ke Putri Eloys, dia menunduk anggun, “Selamat datang di kediaman kami, Yang Mulia.”.
Putri Eloys menatap naga bersisik hitam legam dengan mata semerah darah itu dengan tatapan terpesona, dia mengangguk dan tersenyum, “Senang bertemu denganmu, Teshra Yang Agung.”.
“Jadi, siapa pemuda gagah ini?”, Teshra melirik Eriez yang terlihat gugup, memainkan busur panahnya.
“Oh iya aku lupa memperkenalkannya. Dia temanku, seorang Arkeolog, cucu Peramal Harold. Namanya Eriez.”, Sam sudah dalam posisi duduk bersila, memperkenalkan Eriez.
Teshra meliriknya, padahal naga itu belum mempersilahkannya duduk. Namun dia sudah terbiasa dengan tingkah ‘tak biasa’ anak muda itu.
“Itu tadi perlawanan yang bagus. Kau gesit, bahkan Illio yang terkenal dengan kecepatan bagai kilatnya itu mampu kau tandingi.”, Teshra memuji Eriez, lalu menunduk dalam pada Sang Putri, “Saya ikut berduka atas meninggalnya sahabat Anda yang satunya.”. Wajah Putri langsung berubah sedih.
Lily mendekat padanya, “Siapa yang dimaksud Teshra, Yang Mulia?”, bisiknya.
“Aku akan menceritakannya, Putriku.”, suara Teshra menggelegar, dia bisa mendengar bisikan Lily pada Putri Eloys, “Namun sebelumnya, kalian bertiga duduklah dengan nyaman.”.
“Dahulu kala, ada sebagian kaum Nefendril yang dipimpin oleh pemimpin pertama mereka bernama Olexa, berkhianat pada kami dan Para Dewa, dengan bersekutu kepada kekuatan jahat. Mereka bersama dengan Pangeran Alendril membangkitkan kekuatan Naga Amber dan memusnahkan kaum Sementy, kerabat dekat kaum Nefendril, dan menjadikan tubuh mereka menjelma menjadi kawanan Orb dan Illio, yang diisi oleh jiwa jahat Pangeran Alendril yang dibelahnya menjadi dua. Jiwa yang satu lagi untuk menguasai tubuh Olexa. Perang besar pun terjadi di masa Raja Voctorius. Sam, Sang Ksatria, kemudian menyatukan kekuatannya denganku, disempurnakan oleh kekuatan Hati Zamrud yang digenggam dalam hati Istri Sam.”,
Teshra berhenti sebentar, dia menatap langit-langit, lalu melanjutkan, “Sisa dari kaum pengkhianat itu kemudian lari bersembunyi saat mereka kalah berperang dan mengetahui Olexa telah binasa. Mereka bersembunyi di dalam tanah, dan hidup dengan hina, serta penuh dendam kepada Tanah Tan. Kaum Nefendril yang setia, berusaha mencari mereka dan membunuh mereka jika bertemu. Dan pria tua tadi, adalah keturunan terakhir dari kaum tersebut. Namun aku bisa melihat kilauan kebaikan, dan ketulusan hati yang tak pernah dimiliki kaumnya, bersinar di wajahnya.”.
Putri menunduk sedih, dia sangat kehilangan Merdy yang telah begitu baik padanya, walau mereka hanya saling mengenal dalam waktu yang belum lama, “Dia…dia sangat baik dan lembut..”, desah Putri sedih. Lily mengambil tangan sahabatnya tersebut, dan menggenggamnya erat, memberikan ketengangan.
“Oh iya, ngomong-ngomong, tadi aku sempat mendengar Frei berbicara dengan Luisa tentang Pangeran Theo…”, Sam bersuara.
Teshra mengangguk, “Frei mendapat kabar dari Frank lewat koneksi ‘hubungan’ mereka, bahwa Pangeran Theo sudah sampai di Istana Tan dan tengah di rawat di sana.”. Keempat anak muda itu kemudian menarik nafas lega dan bersyukur.
“Bolehkah aku bertanya, Teshra?”, Putri tiba-tiba bersuara. Teshra menatapnya dengan tatapan mempersilahkan.
“Aku bertemu dengan Ayahku dalam dunia Nefrisa sebelum dia pergi untuk selama-lamanya…”,
__ADS_1
Sam memotong kata-kata Putri Eloys dengan wajah sedikit pucat, “Tunggu! Raja Julius…apa?”.
Putri menatapnya sendu, “Ayah membayar kesalahannya dengan nyawanya.”, dia berusaha tersenyum pada Sam. Lily mengencangkan genggaman tangannya pada Sang Putri.
“Jadi…sumpahmu pada Ayahku telah gugur, Sam.”, Putri menggodanya.
Sam mendengus, “Tak ada sumpah seperti apapun aku tetap akan melindungi dan menjagamu.”.
Wajah Putri Eloys terlihat memerah, dan Teshra lalu menegurnya kembali, “Yang Mulia masih ingin bertanya padaku atau tidak?”. Putri langsung mengangguk grogi.
“Yah jadi…yang aku heran. Ayahku bisa bertemu denganku di Dunia Nefrisa, dan bisa bertemu Kakakku juga di dunia tersebut, namun kenapa aku tak bisa bertemu dengan Kakakku?”.
Semua mata tertuju pada Teshra, meminta jawaban. Teshra berpikir sebentar, lalu menjawab, “Kemungkinan karena Yang Mulia Raja belum mampu membangkitkan sepenuhnya kekuatan Naga Amber.”.
Eriez bertanya, “Bagaimana bisa?”.
Teshra menatap pemuda itu, lalu mengalihkan tatapannya pada Putri Eloys, “Kemungkinan…dia belum yakin benar tentang posisinya sebagai Pemimpin Tanah Tan saat ini.”.
Jawaban Teshra membuat suasana hening. Terlebih Putri yang langsung tertunduk sedih. Lily mengelus bahunya lembut. Ya, Putri tahu karakter kakaknya seperti apa. Dia adalah orang yang cukup disiplin dan perfeksionis, sehingga naik tahta dalam kondisi yang menurutnya saat dia belum terlalu mengemban amanah tersebut mampu, adalah hal yang buruk baginya.
“Bagaimana aku bisa bertemu Kakakku? Aku ingin berbicara dengannya.”, Putri bertanya lemah pada Teshra.
“Hmmm…”, Teshra berdeham, “Mungkin kau bisa meminta tolong Frei.”.
Putri mengangguk, “Aku akan mencoba meminta tolong padanya nanti.”, wajahnya sedikit sumringah.
“Ngomong-ngomong, berarti saat ini kita tinggal menemukan dimana Hati Zamrud itu berada?”, Sam bersuara. Teshra mengangguk.
“Jangan melempariku pertanyaan bodoh lagi dimana benda itu berada!”, Teshra menatap sinis Sam yang langsung menghujaninya dengan bentakan, “Aku juga tak ingin kau menjawabnya dengan ‘Mana kutahu’ lagi, Naga Sialan!”. Mereka berdua mulai saling menatap dengan tatapan sengit.
“Astaga…”, Eriez tersenyum geli menyaksikan hubungan tak sesuai ekspektasi antara Raja Naga dan Ksatria Yang Terpilih itu.
“Jika…jika benda itu tak ditemukan…bagaimana?”, untuk pertama kalinya, Lily bertanya pada Teshra. Teshra akhirnya mengalihkan tatapan matanya pada gadis itu.
Sam memotong, “Bukankah kau bilang Hati Zamrud hanya bisa digenggam oleh Perempuan Apalah itu?”.
Teshra bersungut, “Dan kau menyebut Perempuan Yang Mulia itu ‘Apalah’? Bagaimana kalau nantinya dia adalah orang yang kau cintai, Bodoh??? Dia bisa sakit hati mendengarnya…!”.
Sam mengerucutkan bibirnya sebal, “Okelah, aku minta maaf. Tolong jelaskan!”.
Teshra mendesah, “Jadze itu memiliki kekuatan yang sama dengan kekuatan gabunganku dan Nefrisa. Batu mulia berwarna zamrud yang terpendam dalam tanah ini, adalah pengontrol kekuatan gelap dan terang. Jika kekuatan gelap semakin besar, maka Hati Zamrud kemudian berpindah ke Dunia Nefrisa untuk dilindungi, meskipun kami semua tak dapat mengetahui pasti keberadaannya sampai dia muncul dengan sendirinya. Tapi kami bisa melihatnya setelah keberadaannya diketahui. Dalam dunia kalian, Para Manusia, Hati Zamrud berwujud Perempuan Adil. Namun kali ini, dalam pertempuran akhir untuk menyegel Jadze dan seluruh kekuatan jahat selama-lamanya, kita butuh batu tersebut berbentuk nyata, dan membelahnya untuk mengirim Roh Jadze ke Neraka. Jadze bisa menelan kekuatan batu meskipun tanpa dapat menggenggamnya, karena kekuatan hitamnya saat ini sudah dalam kondisi sempurna. Namun sayang, karena batu tersebut belum ditemukan dimana letaknya maka Jadze pun masih mencarinya juga.”.
Semua terdiam sesaat, kemudian Sam bergumam lirih, “Jadi…mau bagaimana pun batu itu tetap harus kita temukan.”.
Lily menyisir rambut hitam panjang Putri Eloys yang halus seperti sutera dengan lembut, sambil bersenandung lirih. Hatinya begitu bahagia bisa berada di sekat sahabatnya itu lagi. Mereka sudah ada di kamar tempat Lily tidur di Gua Nefrisa ini. Selama menghimpun kekuatan dan menunggu perang tiba, mereka berempat dan Teshra telah sepakat menjadikan Gua Nefrisa sebagai tempat berkumpul dan membangun kekuatan.
Teshra akan terus berlatih bersama Sam agar mereka lebih kompak dalam berperang nanti. Eriez akan ikut bersama kaum Nefendril berlatih panah. Kaum Nefendril memiliki keahlian memanah yang luar biasa. Putri Eloys dan Lily akan dilatih oleh Frei langsung untuk menggunakan panah juga.
“Kau terlihat bahagia, Lily.”, Putri Eloys tersenyum menatap wajah Lily dari kaca yang ada di depannya.
Lily tersenyum dan menatap pantulan wajah Sang Putri di kaca, “Tentu saja, karena Yang Mulia ada di sini.”.
Putri terkikik geli, dia membiarkan sahabatnya itu mulai mengepang rambutnya, seperti kebiasaan mereka saat masih di Istana dulu. Di bawah eastern redbud kesayangan mereka.
“Aku turut berduka cita atas meninggalnya Yang Mulia Raja Julius dan sahabat Anda, Merdy, Yang Mulia…”, Lily bergumam lirih.
Putri Eloys tersenyum, mengangguk, “Aku sudah mengikhlaskan mereka. Mereka adalah orang-orang baik, aku yakin mereka akan mendapat pengampunan dan tempat yang baik di alam sana.”. Lily mengangguk setuju.
“Ngomong-ngomong, ada yang ingin kuceritakan padamu, Lily…”, wajah Putri memerah, menunduk, kemudian memainkan roknya. Lily menatap pantulan wajah Sang Putri di kaca dengan bingung.
Putri Eloys lalu menatap wajah Lily di kaca, tersenyum, “Ada orang yang kusukai…maksudku, akhirnya aku jatuh cinta…”, bisiknya. Wajah Lily menegang, entah kenapa hatinya sedikit bergolak, jantungnya seperti berhenti berdetak.
“Dia…orang yang luar biasa, kau tahu, aku yakin Kakakku pasti akan menyukainya…dan Ayahku juga sudah tau tentang ini. Aku menceritakannya saat kami bertemu terakhir kali di Dunia Nefrisa.”, wajah Putri semakin memerah. Lily masih diam saja menatapnya.
__ADS_1
“Aku ingin semua ini segera berakhir, dan hidup bahagia dengannya…selamanya.”, Putri kemudian menarik nafas, dan menghembuskannya pelan, “Meskipun aku belum tahu bagaimana perasaannya padaku…”.
“Eh?”, Lily akhirnya bersuara.
Putri berbalik dan menatapnya, “Ya. Dia masih belum memberikan jawaban ketika aku menyatakan perasaanku padanya.”. Putri lalu berdiri, dengan anggun dia berjalan menuju kasur, dan duduk di sana, menatap Lily sambil tersenyum,
“Yah, sejak pertama saat kita bertiga bertemu dengannya di Jurg itu…aku sudah merasakan kekaguman padanya. Aku tak menyangka ini akan menjadi perasaan yang lebih besar…”,
Lily tersentak kaget, tiba-tiba memotong, “Lho? Eriez?”, tanya Lily sambil menampilkan wajah bingungnya.
Kini giliran Putri yang merasa aneh, “Memang kau pikir siapa?”, balik bertanya pada Lily.
“Kupikir…kupikir…”, Lily tak melanjutkan perkataannya.
Putri terkikik geli, “Siapa? Sam lagi? Hihihi… Apa sepertinya perlu kujelaskan lagi bahwa kami sudah seperti saudara sejak kecil?”.
Lily kemudian berjalan dan duduk di samping Sang Putri, “Tapi dia sepertinya…”,
Putri memotongnya, “Apa? Menyukaiku? Itu asumsimu saja…aku tahu Sam seperti apa. Dan, dia memperlakukanku seperti memperlakukan mendiang kakak perempuannya, Elea, dulu.”.
Lily masih termenung, entah kenapa ada sesuatu yang sedikit hangat menjalar di hatinya. Dia juga tak tahu perasaan apa itu.
Putri menepuk bahunya, “Ayo kita tidur.”, sambil tersenyum.
Lily menatap sekelilingnya, semua menjadi ruangan putih tanpa sekat, tanpa batas. Dia merasakan kaki telanjangnya menyentuh lantai putih yang halus, namun agak dingin. Lily kebingungan menatap kesana-kemari, berusaha mencari Putri Eloys yang tadi tidur di sampingnya. Namun tak ada.
Tiba-tiba muncul sesosok wanita cantik dengan rambut panjang, wajah cantik, dan kulit putih mulus seperti porselen. Lily menatap wanita itu takjub, namun begitu sadar wanita itu melangkah semakin dekat padanya, dia sedikit ketakutan, dan mundur beberapa langkah.
Wanita itu tersenyum dan membentangkan kedua tangan padanya, “Jangan takut, Putriku, kemarilah…”, ajaknya. Namun Lily masih diam.
“Aku adalah Nefrisa, Dewi Penjaga Tanah Tan ini. Kau tak perlu takut.”, wanita itu berjalan semakin dekat.
Lily terkejut, “Tapi…bagaimana bisa?”, wajah gadis itu memucat.
Nefrisa tersenyum, “Kau berada di duniaku sekarang.”.
Lily menggeleng, “Maksudku bagaimana bisa aku…?”, dia masih tak percaya dengan apa yang dialaminya saat ini.
Nefrisa sudah berada di depannya, berbisik, “Berbaliklah ke belakang.”. Lily menatap Nefrisa sejenak, lalu menurut, dan berbalik.
Wajah Lily berubah sangat takjub, ada bongkahan cahaya hijau cerah, yang indah, dan sangat hangat kini ada di depan matanya. Nefrisa mendekat, dan berbisik di kupingnya, “Ambilah cahaya itu, pegang dengan kedua tanganmu.”.
Meskipun bingung dengan apa yang Nefrisa suruh, namun Lily tetap mengikutinya. Dia maju satu langkah, mengulurkan kedua tangannya, dan menangkap bongkahan cahaya itu, menariknya mendekat ke dadanya. Lily merasakan ada benda padat yang hangat dan terasa halus di dalam dekapan tangannya tersebut.
“Kau bisa merasakan benda itu?”, Nefrisa tersenyum padanya, Lily mengangguk.
Lalu Nefrisa berputar dan berada tepat di depannya, “Buka tanganmu.”. Lily menurut dan membuka tangannya, dia terkejut.
Kini sebuah batu indah, dengan wujud seperti kristal berwarna hijau zamrud, tengah berada dalam genggaman dua tangannya.
Nefrisa mengelus pucuk kepalanya dengan lembut, “Itulah Hati Zamrud. Kini dia berada di dalam hatimu yang paling dalam. Berikan itu pada Ksatriamu. Dan jangan sampai Jadze mengetahuinya.”.
Lily bangun, nafasnya terengah-engah. Dia kemudian menarik kedua tangannya mendekat ke dadanya yang masih merasakan sensasi hangat dan nyaman, membuka kedua tangan tersebut, namun tak menemukan benda yang ada dalam mimpinya.
Putri Eloys bangun dan menatapnya, “Kau bermimpi, Lily?”, tanyanya khawatir. Lily menatap wajah sahabatnya itu, dia diam sejenak, lalu mengangguk.
“Kau mimpi apa?”, tanya Putri Eloys. Lily membuka mulut hendak menceritakan mimpinya, namun dia mengurungkan niat tersebut. Dia takut Putri tak mempercayai ceritanya dan mengiranya berbohong.
Jika dipikir secara logis, mimpi itu seperti sesuatu yang aneh. Lily bukan seorang bangsawan, dan dalam dirinya tak mengalir sama sekali darah bangsawan Visius. Dia manusia biasa, rakyat biasa, dan tak memiliki kekuatan apapun. Sedangkan Nefrisa hanya bisa ditemui oleh mereka yang memiliki kekuatan pemanggil Roh Nefrisa, seperti Putri Eloys, atau Raja Tan yang memiliki Naga Amber, atau mereka-mereka para pemilik darah bangsawan Visius, dan tentu saja kaum Nefendril yang menjaga Gua ini.
Lily menggeleng, “Hanya mimpi biasa saja, Yang Mulia. Mungkin karena kelelahan.”, Lily merebahkan tubuhnya lagi. Putri masih menatapnya khawatir.
“Mari tidur lagi.”, Lily tersenyum pada Putri Eloys, yang masih merasakan keanehan pada sahabatnya tersebut.
__ADS_1