
Raja Julius berjalan mendekat ke arah Putri Eloys yang langsung menghambur ke ayahnya itu dengan berurai air mata. Mereka berpelukan, melepaskan semua kerinduan, amarah, dan segala perasaan yang membuncah di antara mereka.
Raja Julius melepaskan pelukan putrinya lalu mengecup dahi gadis itu penuh sayang, sedangkan Sang Putri menatap ayahnya dengan perasaan begitu iba.
“Ayahku, Yang Mulia Raja Julius, apakah ini nyata?”, bisik Putri.
Raja Julius menatapnya dengan sedih kemudian menggeleng, “Kita berada di Dunia Nefrisa, Anakku. Roh Nefrisa yang ada pada dirimu menjemputku. Jiwaku berhasil dibebaskan dari segel hitam Jadze oleh sebagian kekuatan Teshra. Kini Teshra sudah bangun dan dia sedang menyatukan hati dengan Ksatria Yang Agung untuk mempersiapkan perang besar kita melawan kekuatan hitam Jadze.”.
Putri Eloys berbinar, “Itu berarti Ayah akan ‘hidup’ lagi?”.
Namun Raja Julius menunduk sedih. Dia menghela nafas, lalu beberapa menit setelah dian, dia membuka mulutnya lagi, “Sayangnya, dengan membiarkan diriku terbuai oleh bujukan Jadze sehingga menerima kontrak perjanjian hitam dengannya 22 tahun lalu membuat Para Dewa murka. Sehingga aku tak bisa berada di dunia ini lagi, Anakku. Itulah harga setimpal yang harus kubayar. Meskipun itu tak sebanding dengan meninggalkan kalian di sini untuk melawan wanita bengis itu. Mohon maafkan Ayahmu yang hina ini, Putriku. Mohonlah pengampunan untukku..”, Raja Julius tersedu dan memeluk Putri Eloys lagi dengan lebih kencang.
Hati Sang Putri begitu sakit, seperti ribuan pisau secara bersamaan menghujamnya. Air matanya telah membanjir. Namun dia tak bisa memprotes semua ini, bagaimanapun Ayahnya tetap salah, dan ikut memegang andil atas sebab kebangkitan wujud sempurna Jadze.
“Sebelum Ayah pergi, ini terakhir kalinya Ayah bisa menemuimu. Sebelumnya Ayah telah menemui Kakakmu. Kumohon, Anakku. Bantu Ksatria Yang Agung untuk bisa memusnahkan kekuatan jahat itu dan agar Tanah Tan ini terbebas dari sihir hitam selama-lamanya. Setelah semua berakhir, bantulah Kakakmu membangun kembali Negeri ini, kembalilah ke Istana dan menikahlah dengan Sam, seperti harapanku dan Ibumu.”, Raja Julius membelai lembut pucuk kepala Putri Eloys.
Seketika wajah Sang Putri berubah sedikit menyesal, dia menunduk sebentar untuk berpikir, kemudian menatap lagi Ayahnya dengan senyum yang sangat manis, dan tatapan mata yang mantap, “Untuk permintaan Ayah, dimana aku harus membantu Ksatria Yang Agung membinasakan kekuatan jahat dari Tanah Tan, aku akan melakukannya dengan seluruh jiawaku. Namun, untuk dua permintaan setelahnya…mohon maaf Ayah…aku..aku tak bisa…”.
Mata Raja Julius melebar tak percaya, “Kenapa??”, desisnya.
Putri Eloys tersenyum, “Ada lelaki yang sangat kucintai saat ini, dan sayang sekali dia bukan Sam. Ayah dan Ibu tahu bukan bahwa aku dan Sam sudah seperti saudara sejak kecil? Sulit rasanya menumbuhkan perasaan lebih dari persaudaraan di antara kami. Dia menyayangiku seperti adiknya, pun aku menyayanginya seperti kakakku. Dan, lelaki yang kucintai ini, sayangnya lagi bukan pejabat atau penghuni Istana. Dia lelaki biasa, penduduk desa, bahkan telah yatim piatu sejak kecil, yang senang berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk meneliti situs-situ kuno, mempelajari sejarah serta peradaban lama Bumi ini.”.
Putri Eloys kemudian memeluk Ayahnya, berbisik, “Jika aku dan lelaki ini berjodoh, izinkan aku mengikutinya kemanapun dia pergi, Ayah. Itulah kebahagiaan yang ingin kuraih saat ini.”.
Raja Julius merasakan sentakan kuat dalam hatinya. Batinnya bergolak. Dia tak mampu membayangkan betapa kecewanya Ratu Marry, istrinya, karena dia tahu bahwa Sang Istri begitu berharap Sam-lah yang akan menjadi suami Putri Kecil mereka ini. Namun, melihat binar-binar cerah Putri Eloys di wajahnya, yang tak pernah dia lihat sebelumnya, Raja Julius yakin bahwa putrinya pasti sangat mencintai dan bahagia bersama pemuda beruntung itu.
“Bolehkah Ayah tahu namanya? Ayah akan memohonkan kebaikan untuk kalian berdua di alam sana.”, Raja Julius melepaskan pelukan putrinya.
Sang Putri mengangguk, “Namanya Eriez, dia Cucu Peramal Harold.”.
Raja Julius tersenyum dan mengelus lembut kedua bahu putrinya tersebut, “Jika dia cucu dari Peramal Legendaris itu, pastilah dia lelaki yang cerdas. Dan jika sampai putriku seyakin ini atasnya, mencintainya sedalam ini, pasti dia adalah pemuda yang baik. Ayah merestuimu, Anakku. Bersabarlah dalam menemaninya berjalan, jangan sampai kau dan dia saling menyakiti. Ayah akan selalu mencintaimu.”.
Putri Eloys membuka matanya, merasakan degupan jantung yang tak beraturan. Lalu sejurus kemudian hatinya perih, dia meremas dadanya kuat-kuat, air matanya jatuh. Ayahnya telah tiada.
Eriez yang sedang berjaga, melihat Sang Putri yang tengah menangis tersiksa seperti itu, langsung mendekat, “Ada apa, Yang Mulia?”, bisiknya.
Melihat Eriez ada di sampingnya, Putri Eloys langsung memeluknya erat tanpa mengatakan suatu kata apapun. Hanya isakan demi isakan yang keluar dari mulutnya. Sedangkan Merdy, dengan posisi masih meringkuk di antara kelima serigalanya, melihat pemandangan itu dengan hati yang ikut bersedih.
__ADS_1
Guiss, Sang Tabib Tua, meletakkan lagi tangan kanan Raja Julius yang lemah dan pucat. Lalu menatap Perdana Menteri Frank, kemudian dia menggeleng sedih. Ratu Marry langsung menjerit histeris, dan merosot hampir jatuh ke lantai, namun Raja Leon langsung menangkap dan memeluknya.
“Maafkan saya….Raja Julius, tak akan kembali kepada kita lagi…”, bisik Guiss, membuat Raja Leon dan Frank langsung pucat pasi.
Jadze mengibaskan jubah beludrunya kemudian duduk lagi di singgasana dengan wajah bengis. Dia menatap pimpinan Illio yang terlihat membungkuk di hadapannya.
“Jadi si Tua Bangka itu sudah menjadi sekutu Tuan Putri? Hohohoho… dia rupanya sedang menabuh genderang perang kepadaku.”, desisnya, lalu matanya yang menyeramkan menatap tajam Pimpinan Illio itu, “Penggal kepala Merdy, bunuh juga lainnya, sisakan Sang Putri hidup-hidup untukku!”, teriaknya menggelegar.
“Dan kalian…”, Jadze menunjuk para Orb yang mulai menunduk hormat padanya, “…kalian telah lama disakiti, dipandang makhluk rendahan oleh manusia, balaslah dendam kalian dan musnahkan Istana Kerajaan Cha dalam sekejap!!”.
Lalu penyihir hitam itu menjilat bibir bawahnya, “Selamat datang di Neraka, Ksatria.”, desisnya.
Pangeran Theo sedang menemani Sang Ayah yang berduka, baru saja menerima kabar dari utusan Kerajaan Tan bahwa Raja Julius telah meninggal dunia. Air mata masih membasahi pipi Raja Gareth, dan Pangeran Theo hendak mengambilkannya segelas air ketika kemudian dia merasakan lantai yang diinjaknya bergoyang seperti ada gempa bumi.
Dari luar jendela ruang pribadi Ayahnya, Pangeran Theo melihat langit malam yang kelam menjadi semakin kelam dan mengeluarkan aura aneh. Aura yang tak biasa, aura jahat!
Pangeran Theo langsung menghunus pedangnya, menarik Sang Ayah untuk berada di belakangnya, dan berteriak kepada penjaga untuk segera memberikan informasi pada para Pasukan Perang Istana, bahwa Raja dan Istana sedang diserang.
Darah mengalir dimana-mana, panah-panah beterbangan di langit, teriakan-teriakan menyayat hati terdengar meminta tolong, dan mayat-mayat mulai bergelimpangan.
Raja Gareth dengan tubuhnya yang penuh luka menyentuh pipi Putra Mahkotanya yang basah oleh keringat, air mata, dan darah, kemudian berbisik padanya, “Lari. Kau tak mampu melawannya sendiri.. lari, pergilah temui..temui Raja Leon atau Ksatria Yang Agung…”, lalu Raja Gareth terkulai lemah, tak bernyawa. Menyisakan Pangeran Theo dengan air matanya yang membanjir.
Zaman dulu kala, saat Raja Agung, Visius Putra Tan, memerintah di Tanah Tan ini, semua hidup bahagia. Kaum manusia bersahabat dengan para Keturunan Peri, Elf, yang terbagi menjadi dua, yaitu Nefendril, kaum setengah peri setengah dewa, dan kaum Sementy yang adalah setengah peri setengah manusia. Mereka hidup bersama-sama di Tanah Oppresoi, dengan dipimpin seorang pemimpin pada masing-masing kaum, Olexa Sang Nefendril dan Tanus Sang Sementy.
Namun menjelang akhir hayatnya, Raja Visius justru mengangkat putra keduanya, Pangeran Voctorius yang lebih berwibawa dan cerdas, daripada Putra Mahkotanya, Pangeran Alendril yang meskipun sangat pandai dalam hal taktik perang namun memiliki hati yang keras dan ambisi yang besar.
Raja Visius atas nasehat Nefrisa mendapatkan visualisasi masa depan Tanah Tan bisa hancur karena besarnya ambisi Pangeran Alendril jika dia menjadi Raja Tan. Karena sakit hati yang mendalam sebab kalah dari Sang Adik yang akhirnya naik tahta, Pangeran Alendril melarikan diri dari Istana, setelah membunuh Raja Visius.
Dia mencuri Naga Amber setelah perang pertama dengan Kerajaan, dan membangkitkan kekuatan hitam dari dasar bumi bersama dengan Olexa, Pemimpin Nefendril yang berkhianat dan bersekutu padanya.
Hal itu membuat Para Dewa murka dan mengutuk Olexa serta para pengikutnya menjadi kaum hina dengan tubuh sangat buruk rupa. Desa Oppresoi yang indah dan subur diluluhlantakkan oleh Teshra karena kemarahannya. Dan kaum Nefendril yang masih setia mengikuti Nefrisa ke Gua Nefrisa untuk tinggal disana, menjaga Teshra dan kekuatan Hati Zamrud.
Pangeran Alendril kemudian menyuruh Olexa untuk memimpin para Nefendril yang terhinakan itu untuk mengikuti Para Nefendril sebelum mereka mencapai Gua Nefrisa, dengan segala tipu muslihat dari kekuatan hitam yang dibangkitkan oleh Naga Amber yang ternodai, sebagian Nefendril berbelok berkhianat kepada Nefrisa dan menjadi pengikut Pangeran Alendril.
__ADS_1
Pangeran Voctorius berniat merebut kembali Naga Amber. Karena Naga Amber ternodai, maka Roh Nefrisa terkunci, tak dapat keluar dan membantu Raja Voctorius melindungi Tanah Tan. Sam, Sang Panglima Perang Kerajaan akhirnya berhasil merebut kembali Naga Amber dari dalam Gua Tryda di Tanah Oppresoi, ternyata Pangeran Alendril menghabisi kaum Sementy atas kehendaknya, menjadikan tubuh mereka menjadi makhluk-makhluk iblis baru berwujud gagak hitam raksasa bernama Orb, dan yang berwujud monster pohon bernama Illio. Pangeran Alendril membelah jiwanya menjadi dua, satu untuk menghidupkan Orb dan Illio dalam dendam yang kuat atas kekecewaan dan sakit hatinya pada Tanah Tan dan semua pelindungnya, dan satu jiwa lagi untuk menguasai tubuh Olexa.
Perang terjadi selama sehari penuh. Itu adalah perang terbesar dalam sejarah Kerajaan Tan. Kerajaan mulai kehabisan pasukan, dan Raja Voctorius sempat terluka parah. Teshra membutuhkan kekuatan penuhnya, dan meminta Raja Voctorius segera menemukan Hati Zamrud untuk menggabungkan kekuatan mereka. Mereka kemudian mundur dan kembali ke Istana untuk menghimpun kekuatan. Pasukan kegelapan sengaja tak mengejar karena mereka sendiri juga mulai kewalahan dan ingin menghimpun kekuatan baru.
Hati Zamrud tak kunjung ditemukan, sebab sosok Perempuan Adil tak diketahui siapa orangnya. Karena lukanya yang parah, Raja Voctorius meminta Teshra membawa Panglima Perang Sam ke Gua Nefrisa untuk menemui Para Nefendril yang masih ketakutan dengan kejadian yang menimpa kaumnya, memintanya membujuk mereka agar mau menjadi sekutu.
Sebelum berangkat, Istri Sam bermimpi didatangi oleh Nefrisa yang menunjukkannya sebuah batu mulia bercahaya warna zamrud cerah, untuk digenggamnya. Itulah Hati Zamrud yang mereka cari, dan ternyata Perempuan Adil itu adalah istri dari Panglima Perang Kerajaan tersebut.
Dengan menggabungkan kekuatan Panglima Sam, Teshra, dan Hati Zamrud, mereka berhasil mengalahkan Olexa di perang selanjutnya yang berlangsung dua hari. Membunuh Olexa, dan menyegel kawanan Orb serta Illio. Kemudian para Nefendril yang berkhianat dihukum oleh Nefrisa, diserahkan di peradilan Para Dewa.
Kerajaan Tan kembali damai dan hidup tenteram. Teshra pamit untuk kembali ke Gua Nefrisa, bersama dengan para Nefendril yang setia. Hati Zamrud yang tak pernah berwujud di dunia nyata, tak diketahui rimbanya. Para Orb dan Illio masih tersegel di inti bumi, dan hanya bisa dilepaskan oleh kekuatan hitam saat Naga Amber melemah.
Lily membuka matanya. Dia seperti baru saja mendengar seseorang membacakan dongeng klasik tentang perang besar pertama Tanah Tan kepadanya. Namun dongeng ini lebih lengkap. Dia tak tahu jika ternyata yang memegang andil besar dalam kemenangan Kerajaan Tan melawan kekuatan hitam itu adalah Sang Panglima, Sam. Dan Hati Zamrud serta Perempuan Adil itu benar-benar ada.
Masih memikirkan tentang suara yang menceritakannya dongeng dalam suasana mimpi tadi, tiba-tiba Lily mendengar ketukan kuat di pintu kamarnya. Lily segera bangun dari kasur dan membuka pintu. Sam berdiri di depannya dengan wajah yang sangat tegang.
Lily melihat semua Nefendril sangat ribut dan cemas akan sesuatu, sedangkan Sang Raja Naga telah berdiri di tengah ruangan.
“Istana Cha dihancurkan jutaan Orb dalam semalam. Aku dan Teshra akan terbang kesana, semoga masih ada kehidupan yang tersisa.”, Sam berbisik padanya.
Wajah Lily berubah pucat, dengan gemetar mulutnya terbuka, “Ba…bagaimana bisa?”.
Sam melirik Frei, “Dia mendapat kabar dari Dunia Nefrisa.”.
“Apa Nefrisa ada…”, kata-kata Lily dipotong Sam.
“Tidak. Dia masih bersama Putri Eloys. Namun Frei dapat menembus Dunia Nefrisa dengan kekuatan setengah dewanya. Frei dapat merasakan visualisasi tentang itu di Dunia Nefrisa meskipun tak bertemu dengan Nefrisa di sana.”, Sam menghela nafas, “Dengar, aku harus pergi sekarang. Kau tetap disini, mereka akan menjagamu dengan baik.”, Sam memegang kedua bahu Lily dengan erat. Lily menatap iris auburn Sam, ada ganjalan dalam hatinya.
“Tidak…”, bisik gadis itu, membuat Sam menatapnya terkejut.
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi!”, Lily mengeraskan suaranya, menatap tajam mata pemuda di hadapannya tersebut.
Sam menghela nafas, lalu dia berbisik lirih meyakinkan gadis itu, “Dengar, aku tak akan mati sekarang. Aku janji. Aku akan kembali.”. Namun Lily masih menatapnya dengan tatapan tak setuju.
“Apa kalian sudah selesai? Matahari sudah makin meninggi…”, suara Teshra yang menggelegar bertanya pada Sam, mengisyaratkan mereka untuk segera berangkat. Sontak semua Nefendril menatap mereka.
Mengetahui tatapan Para Nefendril mengarah padanya juga, Lily kemudian menunduk. Dia tak punya pilihan. Siapa juga dia yang berani melarang Ksatria Agung milik Tanah Tan ini untuk tetap tinggal agar tak mati di medan perang bukan?
Lagipula, Sam dipilih sebagai Ksatria penyelamat Tanah Tan memang untuk berperang, bukan untuk terus ada di sampingnya. Entah bagaimana, air mata pelan-pelan jatuh dari mata Lily. Namun gadis itu tetap diam, tak berniat menghapusnya.
__ADS_1
Sam yang menyadari Lily menangis untuknya itu, membuat hatinya ikut terluka. Dia berkata pelan, “Kemarilah…”, dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. “Aku janji, aku akan kembali.”, bisik Sam, yang membuat Lily semakin terisak.