
Sam terkejut menatap makhluk itu. Nefendril, pikirnya. Nefendril adalah sekutu setia Raja Naga Teshra, makhluk setengah peri setengah manusia yang menjaga Gua Nefrisa. Jika dia ada di sini berarti gua ini adalah…
Sam melepaskan lengannya dari Lily dan melangkah maju dengan sedikit terpincang, “Kau…Nefendril?”, tanyanya pelan.
Nefendril perempuan itu mengangguk sopan, “Namaku Luisa. Salam hormat untuk Anda, anak dari saudara jauhku, Frank Putra Rennet.”.
Sam diam masih menatap Luisa, sedangkan Lily yang terkejut mendengar nama Ayah Sam disebut langsung maju dan menyejajarkan diri dengan Sam, “Hei, itu nama Ayahmu kan?”.
Sam menatapnya, lalu menatap Luisa lagi, “Iya. Aku adalah setengah Nefendril. Ibuku adalah Nefendril yang menyerahkan umur abadinya, bernama Yessa.”.
Lily terbelalak kaget.
***
Frank terduduk dengan keringat membanjir di pelipis-pelipisnya. Matanya menatap jauh dengan tatapan takut, khawatir, dan sebagainya. Dia segera bangun dari tempat tidurnya dan mengambil mantel, hendak menemui Raja Leon.
Sesampainya di depan ruangan pribadi Raja Leon, Frank meminta izin mengganggu tidur Yang Mulia Raja dan dia mengizinkan Perdana Menteri itu masuk.
“Saya mohon ampun telah mengganggu kenyamanan Anda, Yang Mulia…tapi saya harus mengatakan ini sekarang. Saya…saya merasakan visualisasi yang dahsyat dalam mimpi saya tadi malam. Pedang Ksatria yang mengkilat tertimpa cahaya bulan, Nefendril, dan hembusan nafas Raja Naga.”, Frank membungkuk di hadapan Raja Leon yang langsung melangkah mendekatinya, “Apa maksudnya itu, Frank?”, tanyanya penasaran.
Frank menatap pemuda itu, “Ksatria akan segera bertemu dengan Raja Naga.”, jawabnya.
***
Merdy mengumpat kesal dalam perjalanannya di dalam hutan bersama kelima serigala peliharaannya. Dia menyesal telah menyetujui bergabung bersama pasukan Jadze yang begitu kejam. Namun dia tak punya pilihan lain. Dia tak ingin perempuan jahat itu mengamuk dan membuat keluarganya yang bersembunyi di pedalaman hutan di bawah Gunung Tannosi binasa karena ulahnya.
Dulunya mereka tinggal di Desa Opressoi, sebuah desa yang teramat subur di kaki Gunung Tannosi, Gunung terbesar di Tanah Tan. Desa Opressoi adalah desa tempat keturunan kaum Peri, Elf, hidup bahagia pada zaman Raja Visius. Nefendril adalah salah satu kaum keturunan Elf.
Namun karena Olexa, pemimpin Kaum Nefendril kala itu, yang membangkitkan kekuatan gelap dari dalam tanah, akhirnya membuat Teshra murka sehingga meluluh-lantakkan Desa Opressoi.
Raja Dewa kemudian mengutuk mereka yang menjadi sekutu kekuatan hitam berubah menjadi tua dan buruk rupa, dan mengambil mereka yang setia kepada Tanah Tan untuk menjaga Gua Nefrisa. Kaum yang terkutuk lari ke dalam hutan dalam keabadian yang hina, dengan dendam kepada Raja-Raja Tan dan juga Raja Naga, Teshra.
__ADS_1
Merdy adalah salah satu keturunan terakhir kaum itu, karena Nefendril yang setia telah membinasakan mereka pelan-pelan, sejak mereka sempat berkhianat pada masa Raja Voctorius atas hasutan kaum pengkhianat keturunan Olexa itu. Sebagai bentuk penyesalan, mereka berjanji akan menjaga Gua Nefrisa dan menghabisi sekutu Olexa sampai habis.
Merdy sendiri ingin hidup bahagia bersama rakyat Tanah Tan. Entah kenapa, dia telah lelah dengan semua hasutan kebencian dari keluarganya yang terkutuk kepada seluruh makhluk di Tanah Tan. Dia ingin mendapatkan kehidupan yang baik, di tengah-tengah mereka. Namun, dia tak tahu bagaimana caranya…dan justru semakin masuk ke da;am kegelapan.
“Aku harus menuju gua itu segera, dan mendapatkan si Ksatria untuk Jadze.”, Merdy mempercepat langkahnya.
***
Eriez menatap langit malam yang kelam. Bulan separuh yang sempat terlihat bersinar cantik, telah hilang dibalik awan. Dia tak bisa tidur, memikirkan obrolan terakhirnya dengan Lisa tadi malam.
Lisa menatapnya, melepaskan ujung mantel Eriez yang digenggamnya dan mempersilahkan pemuda itu duduk lagi.
“Ada apa, Yang Mulia?”, Eriez bertanya kepada gadis beriris orchid yang memandangnya dengan tatapan lembut itu.
Bukannya menjawab, Lisa justru memeluknya erat, “Jika ini semua telah berakhir, aku harap kita bisa terus bersama. Tak peduli apakah kau akan bersamaku di Istana, atau kau memintaku mengikutimu pulang ke Jurg atau kemanapun kau pergi, aku akan melakukannya. Asal bersamamu.”, Lisa melepaskan pelukannya dan meletakkan kedua tangannya ke pipi Eriez yang diam tak mampu menjawab atau mengeluarkan sepatah kata pun.
“Aku mencintaimu, Eriez. Aku akan menyesal jika aku mati tapi belum mengatakan ini padamu.”, Lisa tersenyum manis padanya.
Seorang Putri Raja yang sangat cantik, yang telah menolak pinangan Putera Mahkota Kerajaan Tetangga yang amat tampan, dan seorang Putri yang ditakdirkan memiliki kekuatan Roh Nefrisa, dengan memiliki hati lembut dan sangat keibuan kini ada di depannya, menyatakkan cinta padanya, yang hanyalah pemuda desa biasa, tak memiliki banyak harta, bahkan wajahnya juga tak begitu tampan.
“Aku tahu. Aku akan menunggu jawabanmu.”, Lisa mengecup lembut pipi Eriez.
Eriez memegang pipi kanannya yang dicium oleh Lisa, wajahnya sedikit memerah. Antara malu dan merasa bodoh.
Dia menggerutu, “Oh ayolah Eriez, dasar bodoh! Jadilah lelaki sejati dan jangan membuat wanita menunggu!”, sambil menampari kedua pipinya sendiri.
Dia tak menyadari apa yang dilakukannya itu dilihat oleh seseorang dari balik tenda. Pangeran Theo.
Namun, sang Pangeran justru tersenyum penuh arti.
“Mari ikut saya. Saya akan menunjukkan jalan menuju tempat tidur Teshra.”, Luisa berbalik dan melangkah, menuntun Sam yang kemudian bertukar pandang dengan Lily.
“Tunggu!”, teriak Lily tiba-tiba. Luisa menatapnya, Sam pun demikian.
__ADS_1
Lily menatap Nafandril Perempuan itu lalu bertanya, “Jika Teshra ada disini berarti ini…?”.
Luisa tersenyum dan mengangguk, “Selamat datang di Gua Nefrisa.”.
Sam kemudian berbisik kepada Lily, “Kau tahu nama Raja Naga itu?”.
Lily mengangguk, “Aku telah selesai membaca seluruh isi buku itu. Aku hafal seluruh isinya.”.
Sam tersenyum usil, “Bagus. Aku tak menyesal kau mencurinya dariku.”.
Lily merengut lalu berkacak pinggang padanya, “Sudah kubilang aku hanya meminjam! Meskipun tak meminta izin dulu sih…”. Sam tertawa kecil melihat tingkahnya.
Luisa yang sedari tadi melihat mereka berdua kemudian bertanya, “Apa kalian sudah selesai? Teshra sudah menunggu.”.
Sam dan Lily lalu dengan wajah memerah segera menjawab, “Iya. Ayo!”, dan mereka berjalan mengikuti Luisa masuk ke dalam gua, menemui Teshra, Si Raja Naga.
Pangeran Theo memanggil pelayannya yang kemudian membawa dua kuda berwarna cokelat dan hitam mendekat. Dia kemudian tersenyum pada Lisa alias Putri Eloys, “Saya sangat sedih sebenarnya, ketika Yang Mulia menolak bantuan kami. Namun kami tak ingin membuat Yang Mulia dan teman Yang Mulia kesulitan dalam perjalanan, maka mohon terimalah dua kuda ini sebagai teman perjalanan kalian nanti. Semoga kedua hewan pintar ini bisa membantu kalian.”.
Putri Eloys tersenyum dan membungkuk anggun di depan Pangeran Theo, “Anda sudah terlalu baik mau membantu dan menampung kami untuk bermalam di tempat yang layak, Yang Mulia. Namun kami tak ingin membuat Yang Mulia dan pasukan istimewa Anda ini menghadapi bahaya karena membantu kami. Kami akan segera menemukan dua teman kami dan kami akan segera mengakhiri ini tanpa ada pertumpahan darah lagi.”.
Pangeran Theo mengangguk mengerti dan memahami keputusan gadis yang masih dicintainya itu. Lalu dia menatap Eriez, yang langsung mengangguk hormat padanya. Pangeran Theo berjalan padanya dan menatap iris biru lautnya, “Kau adalah pemuda yang hebat dan sangat beruntung. Tolong jaga Yang Mulia Putri dengan baik.”, bisiknya.
Eriez sedikit terkejut dengan kata-kata Sang Pangeran, namun kemudian dia tersenyum dan mengangguk, “Dengan seluruh nyawa saya, Yang Mulia.”.
Pangeran Theo lalu membantu Putri Eloys naik ke kuda hitam dan Eriez segera naik ke kuda cokelat. Namun sebelum mereka berangkat, Putri Eloys menyerahkan sepucuk surat pada Pangeran Theo, “Kumohon, sampaikan ini pada kakakku.”. Pangeran Theo menerima surat itu dan mengangguk.
Luisa, Sam, dan Lily berjalan menyusuri jalan bebatuan dalam gua dengan penerangan obor yang dibawa Luisa. Umumnya, suasana gua akan beraroma menakutkan, gelap, dingin, dan mencekam. Namun alih-alih memiliki suasana gelap, Gua Nefrisa ini justru memberikan sensasi hangat dan nyaman pada mereka. Mereka bisa mencium bau wangi lembut yang berpadu denga kesegaran aroma air.
“Apakah dia masih memegang pusaka itu?”, Luisa tiba-tiba bertanya kepada Sam. Sam mengerti pusaka apa yang dimaksud Nefendril tersebut. Lalu dia mengangguk.
Luisa kemudian melihat ke arah Lily yang menatap mereka dengan penasaran, lalu dia mulai menjelaskan kepada gadis itu dengan sebuah cerita yang mengalun bersama suara indahnya, “Ayahnya adalah manusia yang menikah dengan salah satu dari kami. Itu adalah hal yang sebenarnya tidak dilarang, namun cukup kami hindari secara pribadi. Kami adalah makhluk keturunan bangsa peri, Elf. Tepatnya kami adalah setengah peri dan setengah dewa yang memiliki hidup abadi kecuali Para Dewa meminta kami menghentikan umur kami sendiri dan pergi ke langit bergabung dengan Mereka. Namun keabadian kami ini bisa hilang, menjadi umur yang fana seperti manusia dalam keadaan dua hal. Yang pertama adalah jika kami bersekutu dengan kekuatan sihir hitam sehingga kami akan menjadi makhluk terkutuk yang hina. Dan yang kedua adalah jika kami menikah dengan manusia.”. Lily kemudian menatap Sam. Sam balas menatapnya.
“Saudara kami bernama Yessa bertemu Ayahnya saat Ayah pemuda ini terluka setelah menemani Raja Julius dan Raja Gareth dalam pertempuran melawan Para Pemberontak 30 tahun lalu. Mereka kemudian saling jatuh cinta dan memutuskan menikah. Setiap Nefendril memiliki pusaka yang bernama Neolath. Pusaka itu akan menjadi kekuatan keabadian kami. Namun jika Nefendril bersekutu dengan kekuatan sihir hitam, Neolath akan hancur dan hilang tanpa bekas. Sedangkan jika Nefendril menikah dengan manusia maka pusaka itu menjadi milik manusia yang menikahinya, yang berarti manusia itu telah bersumpah setia menjadi sekutu kami, akan melindungi kami.”, Luisa kemudian menatap Sam, “Dan sebagai gantinya, kami akan menjawab panggilannya, untuk menjadi sekutunya juga.”, lanjutnya.
“Jadi…”, Lily tak melanjutkan kata-katanya, namun dia tersenyum menatap Sam, “Aku tahu sekarang darimana kau mendapatkan iris mata berwarna langka itu.”. Sam mendengus.
__ADS_1
“Nah, setelah pintu itu, kita akan menemui Teshra…dan saudara-saudari saya.”, Luisa menunjuk pintu bagian dalam gua yang bertahtakan batu-batu alam sangat indah. Di balik pintu itu ada sebuah ruangan besar dan bercahaya sangat terang. Sam dan Lily tersenyum pada Luisa dan mengangguk.