Hati Zamrud

Hati Zamrud
Alendril dan Tabir Kegelapan


__ADS_3

Pangeran Alendril menggenggam erat Joulathnya dan menyipitkan mata mencoba melihat dalam kegelapan yang melingkupinya. Dia merasakan sensasi dingin menusuk-nusuk kulitnya. Perlahan dia mengayunkan langkah ke depan untuk mencoba mencari tahu apa yang tiba-tiba terjadi.


“Ini adalah akibat jika dengan lancang kau menghancurkan potongan jiwaku yang ada di dalam Naga Amber!”, suara Teshra tanpa wujud, terdengar menggelegar.


“Teshra? Bukankah kau sedang sekarat? Dimana kau?”, Alendril menghunuskan Joulathnya di udara kosong, namun tak menemukan siapapun.


“Oh iya, aku lupa mengatakan bahwa kau kini berada dalam kekuatan gelap yang kau bangun sendiri, dan kau tak bisa menemukanku karena aku berada di luar tempatmu berada.”, Teshra tertawa, “Bagimana rasanya terbelenggu kekuatan yang kau puja-puja sendiri selama ratusan tahun itu? Takut? Atau justru nyaman di dalamnya?”, olok naga itu.


Alendril mendecih kesal, dia menurunkan Joulathnya, lalu berdiri pongah, “Kau tak bisa menipuku dengan tipuan murahan ini.”,


Teshra memotong, “Aku tak pernah menipu, karena aku bukan pembohong! Kenyataannya, kekuatan gelap itu telah menguasai tubuh dan jiwamu seutuhnya saat ini. Kau sendirian, kau kesepian, tanpa teman. Mungkin kau memang sudah menghancurkanku sekarang, membunuh orang-orang yang kau benci, namun kau tak memiliki apapun sekarang. Kau hanyalah sesosok makhluk hina. Meskipun darah yang mengalir dalam tubuhmu adalah darah mulia dari para Dewa, Elf, dan Sementy. Tapi kau kini hanya onggokan sampah!”.


Alendril berteriak keras, dia marah, dia merasa terluka dengan semua kata-kata Teshra padanya, “Kau benar-benar Naga Sialan, aku akan menghancurkanmu begitu aku keluar dari sini!!”. Namun dia kembali mendengar tawa menggelegar Teshra.


“Kau tak akan bisa keluar dari tempat yang telah kau bangun sendiri saat ini, Bodoh! Kecuali ada seseorang yang menjemputmu kembali pulang, dan menemukan lagi hatimu yang telah lama hilang, sehingga kau bisa membuka tabir gelap yang melingkupimu ini, dan hidup bahagia di alam sana.”,


“Tidak!”, Alendril menolak, “Aku akan menegakkan keadilan di Tanah Tan, menjadi penguasa di sini dan menyingkirkan Para Nefendril dan sekutu-sekutunya. Aku akan membangun dunia indah yang dirindukan Ibuku penuh dengan kedamaian..”,


Teshra memotong, “Duniamu itu dunia omong kosong! Kau selalu menggunakan Ibumu untuk membenarkan tindakanmu sendiri. Bahkan dengan tega menggunakan jasad suci Ibumu sebagai wadah kekuatan jahat. Kau benar-benar makhluk berhati iblis, Alendril!”,


Alendril berteriak frustasi, “Keluar kau, Teshra!!! Dan bertarunglah secara jantan denganku sekarang!”.


Teshra kembali tertawa keras, “Kau yang harusnya keluar, aku sudah di luar dari tadi. Kau yang bersembunyi seperti pengecut di tabir yang kau buat sendiri!”.


Alendril menggeretakkan giginya, kesabarannya sudah habis. Dia berjalan kesana-kemari mencari celah agar bisa keluar dari kegelapan itu. Matanya berusaha menembus kegelapan. Namun nihil.


“Kau itu pecundang yang hanya menggunakan alasan keadilan dan Ibumu untuk keinginanmu sendiri. Dunia yang ingin kau bangun itu bukan dunia yang diharapkan manusia dan semua makhluk di alam semesta ini. Kau telah jauh melangkah ke dalam kesesatan, dan kau tak mengakuinya meskipun kau menyadarinya.”, Teshra kembali bersuara.


Alendril diam saja, dia masih merasakan amarah hebat membuncah di dadanya. Ketika dia keluar dari tempat itu dia berjanji pada dirinya sendiri akan mencabik-cabik badan Teshra.


Tiba-tiba seberkas cahaya keluar dari Joulathnya, indah, dan berpendar kuat. Cahaya itu membumbung tinggi, membentuk sesosok manusia, dan muncullah seseorang yang membuat kedua mata Alendril membulat sempurna.


Raja Visius Yang Agung tengah menatapnya dengan tatapan iba. Alendril menjatuhkan Joulathnya karena tekejut dan melangkah mundur saat Ayahnya itu mulai berjalan maju menujunya.


“Tidak! Ini ilusi!”, dia menggeram. Namun Visius masih terus melangkah mencoba mendekatinya, tetap memandangnya dengan tatapan iba.


“Pergi!”, Alendril mengusir Visius di depannya, dia berusaha terus menjauh dengan mangambil langkah mundur sejauh mungkin. Namun Visius dengan cepat mengimbangi untuk kembali berada di depannya.


“Ini sudah cukup, Anakku. Pulanglah!”, bisik Visius sedih, tangan kanannya berusaha meraih tangan Alendril, namun lelaki itu mundur semakin jauh. Hingga dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


“Apa…apa-apaan ini?”, Alendril merasakan ketakutan tiba-tiba menyergap seluruh tubuhnya. Visius menunduk menatapnya. Dia kembali mengulurkan tangannya.


“Kemarilah, Nak…”, ajaknya lembut. Namun Alendril tetap diam, dan menatap takut ke arahnya.


“Aku akan mengajakmu keluar dari sini…dan kita kembali pulang. Bertemu Ibumu di alam sana.”, mendengar kata ‘Ibu’, Alendril langsung tersentak kaget.


“Ibu? Kemana? Dimana?”, tanyanya seperti orang gila. Visius berlutut di depannya dan dengan cepat meraih tangan kanan putranya itu.


“Dia menantimu…”, bisik Visius.


Selama sepersekian detik Alendril merasakan sensasi berputar di dalam perutnya lalu dia menyadari bahwa dirinya telah berputar di pusaran gelap yang kemudian melemparkannya ke dalam lubang hitam tanpa siapapun.


“Ayah?”, bisiknya dalam kehampaan. Tapi tak ada yang menjawab.


Tiba-tiba ada seseorang datang di depannya. Ratu Liya! Alendril hendak berdiri untuk menjauh darinya, namun dia menyadari bahwa perempuan itu tak melihat keberadaannya.


Ratu Liya berjalan kebingungan, lalu beberapa detik kemudian Voctorius kecil datang dengan wajah senang,


“Ibu…Ibu, Kakak sudah ketemu! Kakak ketiduran di dalam Perpustakaan Istana…”, lalu dia tertawa lega. Ratu Liya duduk sambil menghela nafas.


“Apakah Kakakmu baik-baik saja?”, tanya Ratu Liya. Voctorius kecil mengangguk.


“Pastikan kau menemaninya ya!”, suruh Ratu Liya, yang dijawab anggukan semangat oleh Voctorius kecil.


“Aku akan tidur di kamar Kakak malam ini…”, katanya riang sambil pergi meninggalkan Ibunya.


Alendril menatap pemandangan yang mulai mengabur dan kembali gelap di depan matanya itu. Dia masih bingung dengan apa yang terjadi.


Lalu tiba-tiba dia kembali mendengar langkah kaki mendekat, dan seseorang datang di depannya. Dirinya saat berusia 15 tahun!


“Apa ini?”, tanya Alendril gusar, dia tak paham kenapa dia bisa melihat apa yang terjadi di masa lalu.


Dirinya remaja itu kemudian duduk dalam keadaan lemah di atas kursi balok di halaman perpustakaan Istana. Dia terlihat pucat, namun memaksakan diri tetap belajar. Bahkan kue-kue dan air minum yang dibawanya tak disentuh sama sekali.


Setelah beberapa menit dalam keadaan berusaha menahan sakit, Alendril remaja jatuh pingsan. Para penjaga langsung datang dan membawanya pergi.


Kini Alendril melihat dirinya yang remaja tengah terbaring lemah di atas ranjang. Masih tak sadarkan diri. Ayah dan ketiga adiknya terlihat cemas menunggu di pinggir ranjang.


“Aku akan memanggil Tabib Istana untuk menanyakan keadaan Alendril, kalian tetap disini atau bagaimana?”, Raja Visius menanyai ketiga anaknya.


Jerzzen kecil berbisik pada Tarren kecil yang ada di sebelahnya, “Kita pergi saja, daripada nanti Kakak bangun dan tak suka melihat kita disini.”, Tarren mengangguk.


Raja Visius yang mendengarnya langsung menyahut, “Kalian tak boleh seperti itu. Bagaimanapun Alendril adalah Kakak kalian, kalian tak boleh takut padanya. Dia juga menyayangi kalian.”, senyumnya lembut.


“Tapi kami pergi saja, daripada mengganggu istirahat Kakak, Ayah.”, sahut si Kecil Tarren. Raja Visius lalu mengambil Tarren untuk digendongnya dan membimbing Jerzzen keluar bersamanya, “Kalau begitu kalian ikut Ayah mengunjungi Tabib.”.


“Baik!!!”, jawab kedua anak itu ceria.

__ADS_1


Voctorius menatap kepergian Ayah dan kedua adiknya lalu menunduk menatap Alendril yang masih belum sadar. Wajahnya sedih.


“Kakak…kau selalu saja memaksakan diri untuk belajar…”, gerutunya, sambil menyibakkan poni di kening Alendril remaja.


Alendril menatap wajah remajanya itu sambil menggigit bibir bawahnya. Dia lupa, dia tak ingat, bahwa dia pernah memiliki wajah setampan dan sepolos itu dulu.


Tiba-tiba dia kembali mendengar langkah kaki mendekat. Ratu Liya masuk ke kamarnya membawa baskom dan kain.


“Bagaimana keadaannya, Voctorius?”, tanya Sang Ratu, kemudian duduk di kasur, di samping tubuh tak sadar Alendril remaja.


“Kakak masih belum sadar. Ayah pergi menemui Tabib.”, jawab Voctorius.


Ratu Liya lalu mencelupkan kain itu ke dalam baskom. Ada uap yang keluar dari dalamnya. Sang Ratu kemudian memeras kain tersebut dan meletakkannya ke kening Alendril.


Dengan sayang, dielusnya pipi Alendril remaja yang pucat. Voctorius tersenyum melihatnya, “Ibu, Kakak akan senang jika tahu Ibu begitu menyayanginya…”, bisik anak itu.


Namun wajah Ratu Liya berubah sedih, tangannya berhenti mengelus pipi Alendril, “Kakakmu kesepian, Nak. Jangan tinggalkan dia, temani dia terus ya!”, senyum Ratu kepada Voctorius.


“Meskipun tak ada yang menyuruhku, aku akan terus menemani Kakak, Bu.”, jawab Voctorius mantap.


Lalu bayangan mereka menghilang dari hadapan Alendril dan berganti kembali menjadi kegelapan. Alendril menengok kesana-kemari, mulutnya terbuka memanggil sebuah nama tanpa sadar, “Ibunda Ratu…?”.


Tiba-tiba derap langkah terdengar sangat keras menuju ke arahnya, membuat Alendril menggeser mundur dari duduknya semula untuk menjauh dari serombongan gadis yang lewat dan langsung berjinjit mengintip dari balik jendela.


“Lihat…lihat…itu Pangeran Alendril!! Astaga dia tampan sekali..!!!”, jerit para Gadis Pelayan itu.


Alendril mengernyitkan keningnya, “Sejak kapan aku memiliki penggemar?”, gumamnya tanpa sadar.


Kemudian dia melihat dirinya sendiri yang masih remaja sedang berlatih pedang bersama Voctorius. Mereka berdua terlihat senang dan menikmati latihan itu, meskipun peluh telah membasahi rambut dan wajah mereka.


“Astagaaaaa!!! Lihat mata biru lautnya…!!! Dia benar-benar seperti malaikat…!!!”, para Gadis masih saja mengagumi dirinya yang remaja itu. Alendril menatap pemandangan itu dengan geli sekaligus jijik.


“Apa yang kalian lakukan disini?”, tiba-tiba Kepala Dapur datang dan membuat para Gadis buyar dengan ketakutan.


“Anu…kami hanya…”, seorang gadis berusaha menjawab dengan gugup. Kepala Dapur berkacak pinggang lalu melirik ke arah luar jendela.


“Astaga! Kalian mengintip Pangeran Alendril lagi. Sudah! Bubar sana!”, teriak Kepala Dapur dan membuat gadis-gadis itu berlari keluar dapur dengan ketakutan.


Suasana kembali gelap. Alendril meringis, “Apa-apaan yang tadi itu?”, tanyanya geli sendiri.


Lalu Alendril kembali merasakan pandangannya menatap seberkas cahaya di depan tubuhnya berada. Ratu Liya berdiri, menatap dirinya yang berusia 20 tahun tengah berjalan di lorong Istana sendirian.


“Apa Alendril sudah makan pagi ini?”, tanya Ratu Liya pada pengawal yang berdiri di sampingnya. Pengawal itu mengangguk, “Pengawal di kamarnya mengatakan demikian, Yang Mulia.”.


Ratu Liya tersenyum, “Pastikan dia tak lupa makan juga saat sedang belajar. Dia selalu seperti itu sejak kecil.”.


Namun Ratu Liya menggeleng, “Dia masih belum bisa menjaga kesehatannya dengan baik. Dan Voctorius yang kuminta untuk selalu mengingatkannya makan juga ternyata terlalu asyik sendiri bersama Kakaknya, hingga ikut-ikutan lupa makan.”, desahnya.


Alendril kembali menatap kekosongan di depannya. Dia bertanya-tanya kenapa selalu Ratu Liya yang banyak muncul dalam visualisasi di depannya itu.


Belum sempat dia bertanya-tanya lebih jauh lagi, seseorang kembali datang di depan matanya. Lagi-lagi Ratu Liya. Namun kali ini wajahnya menegang, menahan air mata.


“Yang Mulia, Anda tak seharusnya memarahi Alendril sekeras itu bahkan mengatakan egois kepadanya. Alendril sedang bersedih. Dia sangat menginginkan pengakuan dari Anda sejak kecil. Dia belajar keras, berlatih tanpa henti, agar kuat dan pintar seperti harapan Anda…tapi Anda justru mengangkat Voctorius yang jauh di bawahnya untuk menjadi Putra Mahkota…”, Ratu Liya menatap tajam suaminya.


Raja Visius membalas tatapan Istrinya itu, “Dengar, Ratu! Kau tak perlu terus-terusan membelanya, bahkan dia tak suka kepadamu.”,


Ratu memotong, “Suka atau tak suka, aku melahirkannya atau tidak, Alendril tetap anakku!”, wajah Ratu memerah marah.


Raja Visius mendesah, “Dengar! Aku harus mengambil sikap keras pada Alendril karena dia semakin keterlaluan. Dia mulai sering memperlakukan pengawal, pelayan, dan pasukannya dengan keras. Memaksa mereka menurut pada dirinya, kemauan dan kehendaknya. Jika tidak mau, Alendril tak ragu bersikap kasar pada mereka. Membentak, bahkan memukul. Apa itu jiwa seorang calon pewaris tahta kerajaan?”.


Ratu Liya terduduk diam di atas kasur, nafasnya tak beraturan, “Tapi, Alendril hanya kesepian…”,


Raja Visius memotong dengan kasar, “Omong kosong dengan kesepian! Dia selalu disayang oleh semua orang namun dia sendiri yang menjauh dari kita. Dia merasa dia yang paling sedih, paling merana, dan paling mengalami kepahitan hidup. Padahal ada banyak tangan yang siap menyambutnya jika dia mau membuka mata hatinya...”,


Ratu Liya menyahut, “Alendril kehilangan Ibunya karena Yang Mulia memasukkan dia ke penjara dengan alasan yang belum terbukti kebenarannya. Dan Yang Mulia mulai jauh darinya sejak Voctorius lahir…”.


Raja Visius terdiam, lalu berjalan pelan dan duduk di dekat Istrinya itu, “Ratu, Kristelle dipenjara tak hanya karena melanggar aturan Istana untuk tidak berlatih bela diri, dan keluar Istana seenak hatinya demi menemui dan melatih kaum Sementy-nya yang perempuan bela diri. Dia juga telah beberapa kali tanpa sengaja akan mencelakai Alendril dan keluarga di Istana ini saat marah. Kristelle adalah Elf, dia bukan Sementy, dan kau sudah tahu itu. Kau tahu betapa kuatnya kekuatan Elf dalam diri Kristelle, dan ketika dia marah atau dalam keadaan tak suka, dia bisa kehilangan kendali.”,


“Alendril hampir kehilangan nyawanya saat bayi, karena Kristelle yang belum terbiasa dengan tangisan bayi terganggu olehnya. Kristelle sudah kuperingatkan untuk melepaskan kekuatan itu agar dia bisa hidup nyaman di tengah-tengah manusia, namun dia menolak. Dia membangkangku dengan alasan membutuhkan kekuatan itu untuk pertahanan diri jika sewaktu-waktu terjadi penyerangan padanya.”,


“Tapi dengan kondisi tubuhnya yang telah menjadi tubuh fana karena pernikahan kami, dia tak akan mampu semakin lama menyimpan kekuatan Elf yang besar itu. Untuk menyimpan kekuatan Elf sebesar itu membutuhkan tubuh abadi.”,


Ratu Liya menyahut lagi, “Tapi Anda tak perlu meletakkannya di penjara gelap hingga dia…hingga dia…”, air matanya jatuh.


Raja Visius memeluknya, “Aku mencintai Kristelle, dan aku ingin kekuatan Elf yang besar itu bisa keluar darinya, jika memang dia tak mau melepaskannya secara cuma-cuma. Kekuatan Elf hanya lemah tehadap rasa keputus-asaan. Tanus mengatakan padaku selama hidup dengan Kristelle, dia selalu memasangkan benteng penyegelan padanya agar ketika Kristelle marah dia tak mengeluarkan kekuatana Elf-nya. Sedangkan di sini tak ada seorangpun yang mampu measangkan segel itu pada Kristelle. Aku hanya ingin dia berintrospeksi diri dalam penjara, sekaligus merasakan keputus-asaan layaknya manusia berumur fana, agar kekuatan besar itu keluar dan tak terus menggerogotinya. Namun mungkin aku salah…aku yang salah mengambil langkah. Caraku mungkin yang keliru.”.


Ratu Liya terkejut, “Tanus tahu semua yang ada pada diri Ratu Kristelle sejak dulu?”,


Raja mengangguk, “Tanus akhirnya tahu setelah dia menyelidikinya sendiri dari Kristelle saat Kristelle masih berada di kediaman mereka. Selain itu Nefrisa juga sudah memberitahuku, dan memintaku memberitahumu serta Kon, untuk penjagaan bagi Alendril.”.


Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Raja Visius mempersilahkannya masuk, dan Alendril datang dengan wajah memerah karena marah.


Alendril kembali menatap kehampaan di depannya. Dia kebingungan, “Apa yang terjadi? Apa yang tak aku ketahui tentang Ibuku? Ibuku…sempat hampir membunuhku…tanpa sengaja?”, gumamnya.


Namun kebingungannya terpecah oleh jeritan yang dikenalnya. Ratu Liya. Wanita itu berlari menghampiri tubuh Raja Visius yang sudah tak bernyawa di depannya. Dan dia yang berusia 35 tahun itu terlihat ikut terkejut dan ketakutan menatap Ayahnya.


Pegawal segera datang dan mengamankan Alendril yang segera memberontak, “Tidak! Aku tak membunuh Ayah! Aku tak membunuh Raja! Aku bahkan tak menyentuhnya!!”, lalu matanya menatap Ratu Liya yang tengah menunduk menatap Raja Visius sambil menangis.

__ADS_1


“Katakan..! Katakan pada mereka aku tak bersalah..!! Kumohon…kumohon, Ibunda Ratu!!!”, teriak Alendril memohon. Namun Ratu Liya tetap menunduk diam, sampai Alendril dibawa keluar dari kamar.


Sang Ratu bergumam sedih, “Maafkan aku, Anakku…”.


Alendril merasakan tubuhnya menegang setelah melihat visualisasi paling menyakitkan dalam hidupnya itu. Lalu keheningan kembali terpecah saat Ratu Liya mencekal lengan Kon, dengan tatapan memohon.


“Kon, kumohon…bantu Alendril…kau tahu kan Yang Mulia telah lama memiliki lemah jantung..kupikir…kupikir..”, air matanya mengalir.


Kon menatap iba Ratunya itu, “Yang Mulia, saya akan berjuang untuk membantu mendapatkan kebebasan Pangeran Alendril di mahkamah persidangan. Meskipun saya tak menyukai Para Sementy, tapi Pangeran Alendril tetap Tuan yang saya sayangi. Namun untuk Anda akan memberikan kesaksian bahwa penyakit tersebut yang menyebabkan kematian Raja Visius itu justru akan membuat Anda dikira bersekongkol dengan Pangeran Alendril dan itu gawat sekali!”.


Ratu Liya meremas sapu tangannya, “Aku…”, dia tak mampu melanjutkan kata-katanya.


“Pangeran Alendril belum mampu mengontrol kekuatan Elf yang ada dalam dirinya. Aku juga tak tahu kenapa kekuatan itu justru semakin besar padahal sebelumnya tak sebesar itu. Kekuatan Elf yang dimiliki Pangeran harusnya hanya sepertiga kekuatan saja yang mampu memasuki tubuhnya. Karena kekuatan itu hanya kekuatan turunan dari Ratu Kristelle. Entah bagaimana bisa sebesar itu sekarang…seperti semacam dia barus aja mendapat suntikan kekuatan baru.”, Kon berpikir sejenak.


“Apa maksudmu?”, tanya Ratu Liya bingung.


“Jika hanya dengan mengeluarkan kekuatan pengganggu pikiran karena emosi saja saya kira Raja Visius tak mungkin semudah itu meninggal. Kita tahu bagaimana perkasanya Raja Visius. Kecuali jika Pangeran Alendril tak sengaja mengeluarkan kekuatan penarik jiwa lewat pikiran Raja Visius yang sedang tak siap menerima serangan, sehingga membuat jiwa Raja langsung tercabut keluar dari tubuh…”, Kon diam sejenak,


“…dan kekuatan itu hanya mungkin dimiliki oleh Elf asli, bukan keturunan Elf. Bahkan kita keturunan kaum Nefendril dan Sementy tak bisa melakukannya. Sehingga kemungkinan Pangeran mencuri atau mendapatkan secara cuma-cuma suntikan kekuatan dari Elf asli”.


Alendril terpana. Dia kaget dengan kenyataan yang tak pernah diketahuinya itu. Apa yang sudah dilakukannya pada Raja Visius? Kekuatan penarik jiwa lewat pikiran? Bukankah itu kekuatan yang baru ia sadari bisa dilakukannya setelah membangkitkan jiwanya dalam tubuh Olexa? Dan hanya dilakukannya untuk menarik keluar jiwa Olexa serta para pengikutnya, dan Peramal Harold baru-baru ini?


Dalam ketermenungan, tiba-tiba dia dikejutkan dengan kehadiran lagi-lagi Ratu Liya yang menangis di depan Voctorius.


“Ibu sudah menyiapkan kuda, dan beberapa bekal. Jangan sampai siapapun tahu…”, wanita itu menyerahkan kunci pada Voctorius, “..bantulah Kakakmu pergi dari sini, dan biarkan dia hidup damai bersama Sementy.”.


Voctorius yang telah menjadi Raja itu menatap kunci tersebut, lalu ke Ibunya, “Ibu…Kakak telah diliputi amarah dan dendam, dia bisa saja melakukan pemberontakan pada kita saat sudah bebas nanti. Dan lagi…”, namun Ratu Liya menutup mulut anaknya yang telah menjadi Raja itu dengan telapak tangannya.


“Hal itu tak akan terjadi, aku percaya, aku tahu…Alendril tak menyukai pertumpahan darah…dia memiliki belas kasih yang besar.”, wanita itu mulai menangis.


Voctorius menatap Ibunya dengan pilu, “Kenapa semua harus berakhir seperti ini…”, gumamnya sedih.


Alendril kembali dikejutkan dengan visualisasi yang memperlihatkan seorang wanita cantik tengah mencium keningnya dan menyerahkan seluruh kekuatan Elf miliknya di hutan tengah malam itu.


“Joline…”, bisiknya. Tiba-tiba hatinya terjalari rasa sedih dan sakit menjadi satu saat teringat perempuan Elf itu.


Lalu matanya membulat sempurna, dia ingat kejadian ini adalah malam di mana Voctorius diangkat sebagai Putra Mahkota


Dia ingat ketika menolong Joline yang diburu empat penyihir. Dia melihat dalam visualisasi itu bagaimana Joline dan seluruh kekuatannya masuk ke tubuhnya.


Dan dia lupa akan malam itu, karena Joline membuatnya lupa semuanya. Dia bangkit dan kembali berkuda menuju Sementy.


Setelah puas mengadu kepada mereka dia pulang ke Istana, Ayahnya memarahinya, dia tersulut emosi, dan tanpa sadar mengeluarkan kekuatan besar yang baru saja disuntikkan Joline padanya malam itu.


Alendril mengerang dengan hati yang perih, “Kenapa…aku tak mengetahui hal ini???”.


“Karena kau selalu menutup mata hati dan dirimu dari kami, Nak.”, tiba-tiba suara Raja Visius terdengar dari belakangnya, membuat Alendril langsung berbalik. Raja Visius tersenyum lembut padanya.


“Katakan yang tadi itu semuanya bohong!”, teriak Alendril.


Raja Visius menggeleng, “Sayang sekali itu kenyataannya, Nak. Dan kau tak mengetahuinya karena setiap kami akan mendekatimu, berusaha mengajakmu bicara baik-baik, kau selalu menolak dan menjauh.”,


“Kau tak tahu betapa Ibu Tirimu sangat sayang padamu, seperti anaknya sendiri. Dia iba padamu dan ingin selalu melindungimu. Voctorius yang sangat mengagumimu. Jerzzen dan Tarren yang ingin sekali belajar dan bermain bersamamu. Para Gadis Pelayan yang selalu rajin mengintipmu karena mereka begitu mengidolakanmu. Tanus yang selalu menanyakan kabarmu. Bahkan Kon yang selalu mengawasi proses belajar dan berlatihmu. Dan Elf bernama Joline, saudara se-Kaum Ibumu, yang sangat mencintaimu. Semua mencintaimu, menyayangimu…”,


“Tidak!”, Alendril menggeleng, dia mundur saat Raja Visius hendak meraih tangannya.


“Berhenti bermain-main, Ayah…!!!”, dia mengangkat Joulathnya.


“Jika Ibumu melihat keadaanmu sekarang dia akan sedih..”, guman Raja Visius. Namun Alendril tak mengidnahkannya, dia mengayunkan Joulathnya menuju dada Ayahnya. Akan tetapi pedang itu ditahan oleh seseorang.


Joline! Perempuan itu menatap tajam ke arahnya.


“Aku selalu mengawasimu dari dalam jiwamu. Diam saat kau menerima kekuatan gelap dan bersekutu dengan mereka. Diam saat kau menggunakan tubuh Kristelle, saudariku, untuk inang kekuatan jahatmu. Diam saat kau menggunakan kekuatanku untuk melakukan pembantaian demi pembantaian. Dan diam sampai kau sejauh ini. Karena jauh dalam lubuk hatiku, aku tak mampu menghalangimu mencapai tujuan yang kau harapkan. Karena besarnya cintaku padamu, membuatku tak mampu menghalangimu. Meskipun aku ada dalam jiwamu.”,


“Tapi aku marah, tak tahan, saat kau menghancurkan batu suci berisi Hati Teshra Yang Agung, yang telah mengabdikan seluruh hidupnya menjaga tanah ini penuh cinta dan kasih sayang. Yang telah membangun kekuatan, persahabatan, dan kehangatan hubungan dengan Para Raja dan Kstaria tanah ini. Kau merampas Teshra dari mereka, dari tanah ini!”, Joline melempar dengan kasar tangan Alendril yang digenggamnya itu, membuat Joulathnya terjatuh.


Tatapan mata Alendril berubah nanar. Joline mendekat, menyentuh pipi kanan Alendril yang masih sedingin saat dia menyentuhnya beratus tahun lalu.


“Aku selalu diam, karena aku mencintaimu sangat dalam, Alendril. Meskipun kau tak pernah merasakan kehadiran atau cintaku ini. Aku yang dekat dalam hati dan jiwamu saja tak kau sadari kehadirannya, apalagi mereka. Ayahmu, Ibu Tirimu, Adik-adikmu, Tanus, Kon, semuanya…”, Joline menangis.


Alendril masih diam, menatap perempuan itu. Joline menyeka air matanya.


“Kristelle teramat sedih pastinya di alam sana. Melihatmu tersesat sejauh ini, terhina, terkutuk, tersingkirkan. Apalagi mengetahui jasadnya yang suci, yang begitu dirawat dengan baik oleh Tanus dan kaum Sementy, kau jadikan inang kekuatan gelapmu. Kau hancurkan Naga Amber dan kau buat Teshra harus pergi meninggalkan tanah ini selamanya. Serta yang paling menyakitkan adalah, kau gunakan kepercayaan kaum Sementy untuk mengorbankan dirinya padamu, menyerahkan jasad suci mereka untuk kau jadikan alat pembangkit makhluk-makhluk neraka terkutuk itu.”, Joline meremas lengan Alendril.


“Pulanglah, Nak. Mari kita pulang bersama-sama. Semua menunggumu…”, kini Raja Visius yang berbicara, mengulurkan tangannya pada Alendril.


“Aku…hanya ingin keadilan, Ayah..”, bisik Alendril. Air mata tiba-tiba jatuh membasahi pipinya.


Raja Visius tersenyum, lalu meraih kepala Alendril ke dalam bahunya yang besar dan hangat. Alendril mencium aroma yang telah lama dirindukannya, yang hampir hilang dari ingatannya. Aroma hangat tubuh Ayahnya.


“Kau sudah menegakkannya, Anakku. Kau sudah berjuang jauh menyadarkan kami. Membuat kami dan keturunan kami bahu membahu. Dari yang awalnya bermusuhan menjadi berkawan. Dari yang awalnya tak mengenal menjadi saling mencintai. Mereka bersatu melawan kekuatan gelap yang kau bawa. Dan itu adalah keadilan besar yang sudah kau bangun di tanah ini. Itu sudah cukup. Sangat cukup! Tanah ini mencintaimu, seperti cintamu padanya. Itulah mengapa tanah ini, alam semesta ini, masih menerima kehadiranmu. Maka hentikanlah, kembalilah menjadi seseorang yang penuh kasih sayang. Alendril yang lembut dan sopan. Karena selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa. Karena penyesalan selalu ada di akhir. Namun kesempatan masih bisa diraih, setelah penyesalan digantikan dengan kekuatan untuk berubah lebih baik. Yang sudah terjadi birlah berlalu, kini saatnya kau pulang bersama kami dan hidup dalam kedamaian”, bisik Ayahnya hangat.


Alendril merasakan matanya memanas. Dia tak mampu membendung lagi air matanya. Hatinya menghangat. Dia merasakan lagi kasih sayang yang dulu pernah hilang darinya, yang dirindukannya. Dia tak tahu sudah seberapa jauh dia melangkah dalam kegelapan sejak hari itu, hari dimana dia membenci semuanya, semua keluarganya, semua rakyat dan seluruh makhluk di Tanah Tan, bahkan dirinya sendiri.


Menyesal sekarang tak ada artinya. Akibat dendamnya, emosinya, ambisinya…dia telah menyebabkan kerusakan, kematian, kerugian, tangisan, peperangan, perpecahan, dan kesengsaraan. Dia tak berharap Alam Semesta memaafkannya, yang diinginkannya sekarang adalah kehangatan keluarga dan kasih sayang yang dulu sangat dirindukannya namun dengan bodoh dia acuhkan begitu saja.


Alendril membalas pelukan Ayahnya. Dia merasakan lelaki yang selalu dikaguminya itu memeluknya lebih erat lagi dan ada suara tangis tertahan keluar dari mulutnya.

__ADS_1


“Baik, Ayah…mari kita pulang.”, bisik Alendril pelan.


__ADS_2