Hati Zamrud

Hati Zamrud
Hidup dan Mati


__ADS_3

Teshra yang membawa Sam di punggungnya terbang menanjak menembus awan, dimana Sirina dengan Alendril mengikuti dengan cepat di belakangnya. Mereka kini saling membuntuti. Teshra membelok dengan cepat dan ketika menemukan moncong Sirina berada tak jauh dari pandangan matanya, naga hitam itu segera membuka mulut dan untuk kedua kalinya Sam melihat semburan api merah kejinggaan yang sangat besar keluar darinya.


Sirina berhasil menghindar dengan menukik kencang, lalu berbelok untuk berusaha meraih tempat di belakang Teshra. Namun Raja Naga itu dengan gesit kembali memutar tubuhnya dan kini baik dia maupun Sirina saling mengeluarkan semburan api dan membuatnya bertumbukan hingga menimbulkan ledakan seperti kembang api di atas awan.


Sam menyipitkan mata, dan melihat Alendril menatap tajam padanya. Tangan lelaki itu menggengganm erat Joulath yang berpendar terang di tangannya. Ketika Teshra dan Sirina berkesempatan ada dalam posisi bersisihan, Sam langsung mengayunkan pedangnya untuk berusaha melukai Alendril. Namun lelaki itu segera menangkis pedang Sam dengan Joulathnya secara gesit.


Sirina memekik keras dan mengibaskan ekornya ke arah Teshra, tepat ketika Teshra juga mengibaskan ekornya ke naga merah itu. Sehingga terdengar bunyi ‘gedebum’ tubrukan kedua ekor naga tersebut.


Sirina terlihat agak oleng karena kehilangan keseimbangan. Dia memilih menukik tajam dan hilang di bawah awan. Teshra tak kenal iba padanya, segera menukik tajam juga mengejarnya. Sama berpegangan erat pada leher naga itu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang erat pedang.


Jadze menusukkan tombaknya kepada satu per satu pasukan kerajaan yang berusaha melukainya. Kemudian dia mengambil pedang salah satu pasukan kerajaan yang telah tewas, menggunakannya bersamaan dengan tombak miliknya untuk membunuh semakin banyak manusia di depan matanya.


Raja Leon yang telah turun dari Tress, mengayunkan pedangnya dengan gesit, menendang dan menyikut dengan kasar Orb yang berusaha menghalangi jalannya menuju Jadze. Dimana Luisa berada di sisinya dengan Neolathnya, membantu Sang Raja mendapatkan jalan.


Jadze akhirnya berhadapan dengan Raja Leon. Mata Jadze berbinar dan terlihat makin bengis di wajah cantiknya. Dengan secepat kilat dia mengayunkan pedang di tangan kanannya untuk menyerang bagian kiri Raja Leon, namun Sang Raja berhasil menangkisnya dengan pedang Visisus miliknya.


Tak berhenti di situ, Jadze segera mengambil kesempatan di bagian kanan Raja dengan mengayunkan tombak di posisi tersebut. Raja Leon terlihat kaget dan tak sempat menghindar namun Luisa dengan cepat menangkis serangan tombak itu dengan Neolathnya, membuat Penyihir Hitam itu murka dan mengayunkan pedang di tangan kanannya ke Nefendril tersebut, namun Luisa dapat menghindar. Momen itu dimanfaatkan Raja Leon untuk menendang perut Jadze, mengakibatkan wanita itu jatuh tersungkur ke tanah.


Raja Leon segera berlari hendak menikamnya, namun Jadze dengan gesit meraih pedangnya yang sempat terjatuh, mengayunkannya ke depan hendak melukai dada Raja Leon, namun Luisa segera menangkis lagi dengan Neolathnya.


Jadze kembali bangun dan kini beradu tombak dengan Luisa, sedangkan Raja Leon diserang lima Orb yang berusaha melindungi Jadze.


Lily dan Putri Eloys di atas kuda hitam mereka berada di tengah-tengah tim medis. Di depan mereka para ksatria dan pejuang sedang berjuang. Ingin sekali mereka membantu, namun itu belum saatnya.


Tiba-tiba beberapa pasukan yang terluka mendatangi mereka. Kedua gadis itu segera mengajak mereka mundur untuk membantu menyembuhkan luka-luka di tubuh mereka.


Eriez dan pasukan pemanah Nefendril bersama menembakkan ratusan anak panah kepada kawanan Illio yang bergerak cepat ke arah bukit menuju pasukan pemanah Kerajaan. Sementara Pangeran Theo dan pasukan pemanah Kerajaan menembak ke arah langit, dimana Orb terbang turun menuju tanah, dan sebagian lagi membantu pasukan Eriez menembak ke arah Illio yang semakin mendekat.


Frei sendiri di bagian timur beserta pasukan pemanahnya terus melangkah mundur dalam posisi jongkok tetap di belakang sesemakan, sambil terus menembakkan anak panah-anak panah pada kawanan Illio yang semakin merangsek maju mencoba mencapai mereka.


Anak panah kawanan Illio mulai mengenai beberapa pasukan pemanah Kerajaan, ada yang langsung membunuh mereka dan ada yang membunuh perlahan dengan racun yang ada di anak panah tersebut.


Melihat keadaan sedikit gawat, Eriez menatap ke bukit dimana tatapan matanya bertemu Pangeran Theo. Sang Pangeran mengangguk mengerti saat Eriez mengisyaratkannya untuk memerintahkan semua pasukannya turun dan bergabung dengan pasukan Eriez.


Kelima Serigala segera berlari membantu mengamankan Sang Pangeran dari serangan Orb yang telah mencapai darat. Mereka mencabik dan mencakar para Orb dengan buas, membuat badan mereka tercabik dan terpisah-pisah secara mengerikan.


Setelah bergabung, Pangeran Theo, Eriez, dan pasukan mereka membagi penyerangan untuk kawanan Orb di udara dan Illio di tanah. Namun jumlah Orb yang tak kunjung habis membuat mereka kewalahan.


Salah satu serigala tiba-tiba tergigit sesosok Orb dan menyebabkan hewan itu jatuh tersungkur. Eriez yang emosi melihat pemandangan itu segera menarik pedang di pinggangnya dan menebas kepala Orb tersebut.


“Kau tak apa-apa?”, tanya Eriez panik sambil mengelus kepala serigala yang merintih pelan itu. Tiba-tiba sesosok Orb datang lagi dari udara menuju Eriez, namun secepat kilat Pangeran Theo menebas kepala Orb itu.


“Bawa dia ke tim medis!”, Eriez berdiri dan menyuruh salah satu serigalanya yang lain membawa serigala terluka itu mundur ke belakang. Secepat kilat, serigala itu menggendong temannya yang terluka dan berlari mundur.


Eriez menarik anak panah dan berhasil menembak mati sesosok Illio yang hendak menembakkan panah beracunnya ke Pangeran Theo. Dan Sang Pangeran dengan sigap menebaskan pedangnya ke Orb yang turun dari langit hendak menerkam Eriez.


Setelah selesai mengobati luka seorang pasukan akibat panah Illio, mata Lily menatap ke langit dan melihat Sirina menubruk Teshra dengan kepalanya tepat di bagian perut naga hitam itu, membuat Teshra limbung dan hampir menjatuhkan Sam. Lily memekik tertahan.


Teshra berhasil menyeimbangkan lagi tubuhnya, “Kau tak apa-apa?”, tanyanya pada Sam.


“Masih hidup.”, jawab Sam sekenanya.


Teshra terbang menukik menuju Bukit Vixy dan Sirina terbang cepat pula mengejarnya. Ada kilat keluar dari Joulath Alendril dan mengarah ke Sam, namun Teshra yang menyadarinya langsung berbelok ke kiri sehingga kilat itu menghantam udara kosong.


“Dia menggunakan kekuatan sihir senjata itu, dan aku tak punya sihir apapun!”, Sam berteriak agak gugup. Teshra diam dan masih berusaha terbang membelok ke kanan dan kiri menghindari kilatan Joulath Alendril yang mengarah ke Sam.


“Gunakan otakmu!”, tiba-tiba Sang Raja Naga berteriak agak kesal ke penunggangnya. Sam bersungut-sungut, karena dia juga bingung harus melakukan apa.


‘SAM! SAM!’, tiba-tiba terdengar suara di kepalanya. Sam secepat kilat menutup matanya, dimana Putri Eloys ada di dalam visualisasinya. Sang Putri memeluknya dan berbisik di telinganya, ‘Jatuhkan Sirina ke Bukit Vixy, dan ikuti mereka ke sana.’.


Sam membuka matanya dan menepuk keras punggung Teshra, “Kau dengar apa katanya kan?”.


Teshra mendengus, “Aku tidak tuli.”, lalu menukik tajam menuju Bukit Vixy dan membuat Sirina tergiring mengikutinya juga. Saat Sirina berada di posisi sangat dekat di belakang mereka, Teshra tiba-tiba berbalik dengan secepat kilat dan ekornya dikibaskan ke arah perut naga merah itu, membuatnya terpelanting dan jatuh berdebam di tanah Bukit Vixy. Alendril terlempar tak jauh darinya.


“Pegangan yang benar!”, Teshra menukik, membuat Sam refleks mempererat tangan kirinya di leher naga hitam itu. Dengan kasar Teshra ikut mendarat di tanah, dan Sam segera turun dari punggung naga itu, berlari menuju ke arah Alendril yang tengah berusaha berdiri dengan lengan kirinya yang terluka.


“Kita di tanah, Yang Mulia.”, Sam mengacungkan pedang pada Alendril, dimana Pangeran itu langsung mendecih pelan dan sambil tersenyum menjawab, “Kau benar-benar cerdas.”.


Secepat kilat Alendril berlari menebaskan pedangnya ke leher Sam, namun pemuda itu segera menangkisnya. Pedang mereka saling bertemu, dan masih dalam posisi saling menahan selama beberapa detik.


Teshra segera kembali terbang meninggalkan Bukit Vixy, memancing Sirina menjauh dari Sam dan Alendril. Naga merah itu memang tak punya otak sehingga dia mengandalkan nafsunya saja dan mengikuti Teshra, melupakan Alendril yang memaki padanya dengan kesal.


“Fokus, Yang Mulia!”, Sam mengayunkan pedangnya, hampir melukai lengan kanan Alendril, namun kilatan Joulath lelaki itu menghantam dada kiri Sam dan membuat pemuda itu terlempar jauh, jatuh ke tanah dengan keras sambil merindtih kesakitan. Darah keluar dari sudut bibir kanannya.


Alendril berlari menghampirinya, hendak menubruk pemuda itu dengan Joulathnya, namun Sam dengan gesit berdiri dan menendang perutnya. Alendril jatuh meringkuk. Sam mengambil kesempatan untuk mengayunkan pedang ke arahnya, tapi Alendril segera berguling membuat serangan Sam luput.


Lily kaget menatap Putri Eloys yang terdiam sambil menutup matanya, dia pasti tengah menggunakan kekuatan Nefrisa. Benar. Putri itu berkomunikasi dengan Sam, menuntun pemuda itu untuk membuat Alendril semakin turun dari bukit dan mendekat ke arah dimana Jadze berada.


Lily melihat sesosok Orb yang berhasil lolos dari pasukan pemanah terbang cepat hendak menerkam Putri di tanah. Secepat kilat gadis itu meraih busur dan anak panah salah seorang pasukan pemanah yang terluka di sampingnya, membidik Orb itu, yang langsung jatuh dan mati hangus terbakar.


Putri Eloys membuka matanya menatap Lily yang berlari ke arahnya, “Aku harus membantu Sam!”, teriak Putri Eloys. Lily mengangguk, lalu menyerahkan lima botol penawar racun Illio pada salah satu anggota pasukan medis, dan menyisakan tiga botol lain di kantungnya.


“Kita ke medan peperangan!”, Lily segera menaiki kuda hitam Putri Eloys dan mengulurkan tangan kepadanya untuk membantu Sang Putri naik. Mereka segera memacu kuda tersebut dengan kencang menuju medan peperangan yang semakin mengganas.


Pasukan Frei yang semakin terdesak membuat kawanan Illio mulai menyerang pasukan berkuda Raja Leon. Raja Leon sendiri segera menaiki kembali Tress dan memacu kuda itu untuk mengejar Jadze yang semakin bengis dan gesit membunuhi pasukannya.


Sesosok Illio membidikkan anak panahnya dan berhasil mengenai lengan kiri Eriez. Pemuda itu kaget dan langsung merasakan sakit bercampur panas luar biasa. Busur di tangan kirinya terjatuh bersamaan dengan kedua lututnya yang melemas.


Pangeran Theo panik dan segera membuang pedangnya untuk meraih satu anak panah dan membidikkannya ke Illio tersebut. Mati.


“Kau tak apa-apa?”, Pangeran Theo menyangga badan Eriez. Keringat dingin telah membanjir di wajah Eriez.


“Bantu saya, Yang Mulia, ikat bagian atas…bagian atas lengan saya dengan apapun…racun ini akan menyebar…”, Eriez mulai kelelahan dan wajahnya memucat. Pangeran Theo segera menyobek ujung mantelnya, mengikatkannya dengan kencang ke bagian atas lengan Eriez.


“Bagaimana? Katakan bagaimana keadaannmu???”, Pangeran Theo berteriak panik. Eriez merasakan pandangannya mengabur, nafasnya mulai berat.


“Kumohon Eriez, jangan mati!”, Pangeran Theo berteriak makin panik. Ketiga serigala mendekat dengan khawatir kepada tuannya yang sekarat. Salah satu serigala tiba-tiba mengeluskan moncongnya ke pipi Eriez yang mulai sedingin es.


Ada sengatan hangat akibat sentuhan serigala itu. Eriez merasakan badannya berputar, dan tiba-tiba dia merasa ada dalam ruangan serba putih, dan melihat Merdy ada di depannya.


“Sudah kukatakan mereka bukan serigala sembarangan, Tuan. Mereka mencintaimu seperti cintamu pada mereka.”, Merdy mendekat, lalu meraih tangan Eriez yang masih kebingungan. Merdy lalu mengelus lengan Eriez yang terluka.


“Mereka adalah lima serigala peliharaan Sementy terakhir, yaitu Ayahmu, Tanus. Karena mereka serigala milik kaum Peri, maka mereka berumur panjang selama kematian akibat serangan tak melukai mereka. Selain itu, lima serigala itu memiliki kekuatan penyembuh khusus untuk Tuan mereka.”,


“Mereka kutemukan saat aku berburu, dalam keadaan lapar. Aku memelihara mereka dengan sayang, dan dalam mimpiku mereka menemuiku, kemudian dapat berkomunikasi denganku dalam bahasa kita, untuk menceritakan siapa dan kekuatan yang dilimiki mereka. Mereka mencintaimu, karena mereka tahu kau adalah keturunan Sementy yang masih hidup dan anak dari Tuan mereka, Tanus.”.

__ADS_1


Ereiz membuka mata dan melihat Pangeran Theo masih berteriak-teriak panik memanggil namanya. Pandangannya perlahan mulai kembali terlihat terang. Dia masih merasakan berat namun tak sesakit seperti di awal saat terkena panah tersebut.


Para pasukan pemanah Kerajaan maupun Nefendril bertarung di sekitar mereka, berusaha melindungi kedua pemimpin mereka dan ketiga serigala.


“Eriez katakan sesuatu!!!”, Pangeran Theo mengguncang tubuhnya, keringat mulai membasahi wajah tampannya. Eriez tersenyum, lalu memalingkan wajahnya ke serigala di sampingnya yang menatap sendu ke arahnya. Tangan kanan Eriez bergerak naik membelai kepala serigala itu, “Terima kasih.”, bisiknya.


“Kau tak apa-apa?”, Pangeran Theo terlihat lega dan membantu Eriez duduk tegak. Eriez menatap lengan kirinya. Lengan bagian bawahnya sampai ke jari-jari mulai menghitam dan mati rasa. Pemuda itu menggigit bibir bawahnya dengan perasan perih dalam hati.


“Yang Mulia bantu saya…”, Eriez menatap Pangeran Theo yang langsung mengangguk siap, “Tolong potong lengan saya pada batas bagian yang menghitam, lalu balut dengan potongan mantel agar darahnya dapat dihentikan.”.


Pangeran Theo terbelalak kaget, “Apa? Tapi.. tapi..”, dia melihat lengan bagian bawah Eriez yang telah semakin menghitam.


Eriez tersenyum, “Meskipun kupertahankan juga dia sudah tak berguna, malah justru akan mengganggu bagian lainnya. Kumohon!”, desisnya. Pangeran Theo masih terdiam.


Tiba-tiba salah satu serigala Eriez maju dan menyundul lengan Pangeran Theo, mengisyaratkan Sang Pangeran untuk segera melakukan permintaan Eriez tersebut. Pangeran Theo menelan ludahnya dengan berat, ada rasa sakit ikut merayap dalam hatinya.


Eriez adalah pemuda yang berani. Sangat berani. Bahkan keberaniannya yang telah bertahun-tahun ditempa di bawah kekuatan militer Kerajaan Cha masih jauh dibanding keberanian pemuda desa itu. Pangeran Theo tersenyum, dia kini tahu satu alasan lain kenapa Putri Eloys begitu mudah jatuh hati pada Eriez.


Sang Pangeran kemudian meraih pedangnya, berlutut dan mulai mengayunkan pedang ke lengan Eriez yang telah merentang di depannya. Dengan sekali tebas, lengan menghitam itu jatuh ke tanah. Darah segar mengucur deras dari lengan Eriez yang telah terpisah. Pangeran Theo segera menyobek lagi mantelnya dengan sobekan lebih besar untuk membalutkannya ke bagian lengan itu, mencegah darahnya terus mengalir.


“Tanpa lengan kiri yang utuh pun, aku yakin Yang Mulia Eloys tak akan kehilangan cintanya padamu.”, Pangeran Theo membantu Eriez berdiri, “Bahkan mungkin rasa cintanya akan semakin bertambah besar.”, dia tersenyum pada Eriez.


Eriez membalas senyum Sang Pangeran, kemudian menggenggam pedang di tangan kanannya dengan erat, “Tapi saya tak akan lagi bisa memanah, sehingga julukan Eriez Si Pemanah telah berakhir hari ini.”, gumamnya.


Frei mencabuti anak panah-anak panah milik Illio di tubuh immortalnya. Dia segera memerintahkan anak buahnya untuk berlari menuju ke pasukan berkuda Kerajaan dan membentuk benteng pertahanan yang akan melindungi pasukan itu dari serangan panah Illio. Sedangkan sebagian pasukan Nefendril yang lain berlari maju menerjang kawanan Illio itu. Meskipun jumlah mereka tak sebanding, setidaknya mereka mampu memecah fokus kawanan makhluk kegelapan tersebut.


Raja Leon berhasil menyusul Jadze dan menebaskan pedangnya ke arah wanita itu, namun dua Orb berhasil menangkisnya. Dengan gesit Sang Raja mengayunkan pedang Visiusnya lagi dan memenggal kepala dua Orb itu sekaligus.


Jadze yang menyadari kehadiran Sang Raja segera mengayunkan pedangnya ke arah Tress namun kuda hitam dari arah belakang menendang tubuh wanita kejam itu hingga terjungkal ke depan. Kuda hitam dengan Putri Eloys dan Lily di punggungnya.


“Kenapa kalian kemari???”, Raja Leon berteriak sedikit marah bercampur khawatir. Dengan cuek Lily turun dari kuda dan langsung menarik pisau Yessanya dan berlari menuju Jadze yang telah bangun dari jatuhnya.


Sementara Putri Eloys meneriaki Kakaknya dari atas kuda, “Bantu Sam, Kakak! Pergilah ke sana!”, tunjuknya ke arah perut bukit, dimana Sam dan Alendril tengah beradu pedang dengan sengit. Raja Leon menatap adiknya sebentar, lalu menemukan Luisa tak jauh dari mereka.


Dia segera memacu kudanya menuju Nefendril perempuan itu, “Lindungi mereka!”, teriaknya pada Luisa. Begitu Luisa mengangguk, Raja Leon segera memacu kudanya dengan cepat menuju tempat Sam dan Alendril berada.


Jadze menendang perut Lily dengan keras, menyebabkan gadis itu gagal menusukkan pisaunya ke jantung Jadze dan jatuh terpental ke tanah. Lily merintih saat menyadari lengan dan punggungnya sakit.


Jadze mengangkat tombak dan hendak menusukkannya ke Putri Eloys yang berada di atas kuda, sambil berteriak, “Kurasa aku tak berminat padamu lagi, Putri!”,


Namun Luisa dengan secepat kilat menangkis dengan Neolathnya. Luisa dan Jadze langsung terlibat adu tombak dengan sengit.


Sirina menatap Jadze di bawah, dia merasakan bahwa Jadze yang adalah sebagian dari dirinya sedang dalam keadaan terpojok, namun dia tak bisa turun ke bawah karena adanya perjanjian itu. Teshra kembali menukik padanya dan mengeluarkan semburan api merah kejinggaan. Sirina dengan gesit berhasil menghindar. Ada kilat kemarahan di matanya yang tiba-tiba terlihat bersinar kebiruan.


Tiba-tiba naga merah itu berteriak kencang dan mengeluarkan bola api biru yang besar dan dengan cepat menembakkannya ke arah Teshra. Teshra yang sempat kaget agak lamban menghindar, membuat sayap kanannya terluka karena terkena cipratan api biru.


“Sialan!”, umpat Teshra lalu dia terbang meninggi menembus awan. Sirina mengikutinya.


‘TESHRA! TESHRA!’, suara Nefrisa memanggilnya. Teshra menutup mata dan Nefrisa muncul di dalam visualisasinya.


“Eloys akan menggunakan kekuatannya…”, kata Nefrisa sambil memeluk Teshra dalam wujud manusia.


“APA?! Tapi dia belum terlalu kuat mengendalikan…”,


Naga hitam itu membuka matanya. Sirina terbang dengan cepat menuju arahnya, namun penglihatannya kini menjadi lebih tajam dan langsung mengarah ke mata biru naga merah itu.


Sirina merasakan panas di kedua mata dan menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia diam mematung dengan kaku secara tiba-tiba. Dalam visualisasinya, naga merah itu merasakan jutaan kilat menyambar dan mengikat keempat kakinya dengan kuat. Pikirannya telah diambil alih oleh kekuatan Nefrisa.


“Sekarang!”, Teshra membuka mulutnya dan gumpalan api berwarna hitam dengan semburat hijau zamrud menyembur kuat mengghantam tubuh Sirina. Sirina memekik dengan keras, membuat awan putih tiba-tiba jadi menghitam dan tiba-tiba petir menyambar dari awan-awan tersebut.


Alendril mendorong pedang Sam dengan kuat, membuat pemuda itu jatuh tersungkur ke tanah. Sang Pangeran menatap ke langit, dimana Sirina menggeliat-geliat terpanggang dalm api berkekuatan Hati Zamrud itu. Dia mendecih kesal.


Sementara Jadze merintih kesakitan memegang dadanya, tombak terjatuh dari tangannya dan dia duduk berlutut dengan kedua kakinya.


Sedangkan Putri Eloys yang telah kehilangan banyak tenaganya langsung jatuh lemas dari atas kudanya, namun dengan sigap Luisa dan Lily segera menangkap tubuh gadis itu.


Raja Leon tak mau menghabiskan waktu dengan pemandangan Sirina yang terpanggang, dia segera turun dari kudanya begitu mencapai Pangeran Alendril dan mengayunkan pedangnya ke punggung lelaki itu.


Namun bukan Alendril Putra Visius jika dia dengan mudah bisa terkena tebasan. Lelaki tersebut segera berbalik dan menangkis pedang Raja Leon dengan senyum di wajahnya.


“Akhirnya kita bertemu, Leon Putra Julius.”, Alendril mendorong pedang Raja Leon, membuat pemuda itu terdorong ke belakang beberapa langkah.


Sam segera berlari dan berusaha menebas punggung Alendril, namun lelaki itu kembali berbalik ke arahnya dan menangkis pedangnya, mendorongnya hingga menyebabkan Sam terdorong mundur beberapa langkah pula.


“Baiklah. Kita akan kembali mengulang kejadian masa lalu dengan bertarung bertiga di tempat ini. Tempat yang sama.”, Alendril mengeluarkan kilat besar dari Joulathnya, menyambar ke arah Sam dan Raja Leon, namun kedua pemuda itu berhasil menghindarinya dengan cepat.


“Tidak! Saya tak tertarik berlama-lama dengan Anda, Yang Mulia. Selamat tinggal!”, Sam berlari dan segera naik ke punggung Tress, “Kami berharap pada Anda, Yang Mulia Leon!”, lalu memacu kuda itu turun ke arah Jadze berada.


Alendril memaki Sam dan mengayunkan Joulathnya ke arah leher Raja Leon, namun Sang Raja mampu menangkisnya, “Anda terlalu meremehkan kecerdasan Panglima kami…”, Raja Leon mendorong Joulath Alendril, menyebabkan lelaki itu terdorong mundur, “…dia sepertinya jauh lebih pintar dari Anda. Dan lagi…”, Raja Leon kembali menangkis ayunan Joulath Alendril yang mengarah ke dadanya, “…Sam yang Anda temui dulu dan Sam yang sekarang bukanlah orang yang sama. Mungkin secara fisik mereka memiliki kesamaan tapi tidak dengan hati mereka.”.


Joulath Alendril kembali berayun menuju leher Raja Leon, sambil menangkis Raja Leon melanjutkan, “Begitupun dengan saya dan Adik Anda. Kami bukan orang yang sama dan kami tak pernah merasa terkena kutukan!”, lalu menendang perut Alendril dengan keras. Alendril terpental dan jatuh ke tanah dengan keras, kesakitan.


Sam menatap langit dimana Teshra terbang rendah ke arahnya yang berkuda dengan kencang menuju Jadze, “Pergilah ke arah Orb yang terbang ke Utara. Kemungkinan mereka akan menyerang istana, bakar mereka semua!”, teriaknya.


Teshra melenguh tanda mengerti, lalu memutar badannya dan terbang mengejar ribuan Orb yang dengan gesitnya terbang menuju arah Istana.


Sam melihat Jadze bangkit dan mengambil tombaknya, melemparkannya ke arah Lily, namun Luisa dengan sigap menangkis dengan tombaknya. Lily yang kaget segera memeluk Putri Eloys yang pingsan dalam pelukannya.


Di sekitar mereka pasukan Kerajaan dan Nefendril masih keras berjuang melawan Orb darat dan kawanan Illio. Sam memacu Tress dengan lebih kencang.


Setelah kawanan Illio di bagian bukit barat habis terbunuh, pasukan Eriez dan Pangeran Theo segera menuju ke bukit dan menaikinya. Mereka akan membantu menembakkan anak panah-anak panah ke arah Orb darat yang berusaha menyudutkan pasukan Kerajaan dan Nefendril yang berpedang.


Pangeran Theo memapah Eriez menuju tim medis yang dilndungi Para Nefendril, menyerahkan Eriez kepada ketiga serigalanya, “Kau tetap disini. Ini akan segera berakhir dengan cepat.”, senyumnya.


Eriez menatap Sang Pangeran, “Berjanjilah tak akan mati.”, gumamnya pelan.


Pangeran Theo mengangguk, “Senang berjuang bersamamu, Eriez.”, lalu menatap ketiga serigala, “Jaga dia dengan baik.”, perintahnya.


Pangeran Theo menenteng busur di tangan kiri dan pedang di tangan kanannya, berlari dengan kencang ke atas bukit untuk bergabung dengan pasukan pemanahnya.


Teshra terbang dengan cepat memburu para Orb itu. Matanya terbelalak kaget, ternyata Orb-orb itu tak menuju Istana tapi mereka menuju ke camp pengungisan warga.


“Alendril benar-benar sulit dibaca!”, gerutunya. Teshra memejamkan mata dan mengirimkan pesan lewat visualisasi kepada Nefrisa.


“Eloys kehilangan tenaganya. Dia lemah. Aku tak bisa membantumu.”, Nefrisa menangis sedih menatap Teshra wujud manusia.

__ADS_1


Teshra membuka mata dan mendecih sebal, “Sudah kuduga kan!”. Dia lalu terbang merendah dan mengeluarkan api hitam zamrudnya ke arah ribuan Orb itu. Beberapa Orb terkena api itu dan hangus terbakar, namun sebagian kecil berhasil turun.


Beruntungnya, ada Nefendril yang ditugaskan membantu mengamankan camp. Bersama dengan pasukan pengaman dari Kerajaan, 10 Nefendril itu menembakkan anak panah-anak panah api ke arah kawanan Orb.


Teshra memutar tubuhnya dan mengayunkan ekornya, melempar sekumpulan Orb ke tanah, yang kemudian mati terbakar. Mata naga itu menangkap sosok Orb paling besar dengan mata semerah darah. Lalu dia segera mengeluarkan lagi api hitam zamrudnya dan membakar Orb raksasa itu.


Sejurus kemudian semua Orb yang terbang memutar di atas camp maupun yang telah merendah hampir sampai di atas tanah camp, terbakar hangus tak berbekas.


Teshra memutar tubuhnya lagi dan mengepakkan sayap dengan kuat, mengejar kawanan Orb lain yang terbang menuju arah Istana, memburunya dengan cepat.


Kawanan Illio telah berhasil dihabiskan oleh Frei dan pasukannya, kini mereka membantu pasukan Kerajaan menghabisi Orb-Orb darat dengan beberapa dari mereka membentuk benteng di sekitar Luisa, Lily, dan Putri Eloys. Jadze ada dalam benteng itu. Dia masih terlibat adu tombak sengit dengan Luisa.


Sam turun dari Tress dan berlari menembus kawanan Orb, menebas mereka dengan tebasan-tebasan kasar demi bisa segera mencapai tempat Jadze berada. Frei melihat Sam yang tengah memerangi Orb-Orb darat, segera berlari menuju pemuda itu dengan Neolath yang berpendar hebat.


Neolath itu mengeluarkan kilatan cerah dan membakar kawanan Orb di depan Sam. Sam menatap Frei dengan tatapan terima kasih lalu segera menuju ke arah Jadze.


Jadze mengayunkan tombaknya ke Luisa, namun Sam segera menangkis dengan pedangnya. Jadze menyipitkan matanya menatap pemuda dengan Hati Zamrud berpendar kuat di dadanya itu.


“Aku lawanmu!”, seru Sam dengan seringaian lebarnya. Jadze mendecih dan mengayunkan tombaknya pada Sam. Sam berhasil menangkis lagi dengan pedangnya. Luisa mundur dan menuju ke Putri Eloys serta Lily.


“Bawa Yang Mulia ke tim medis, aku akan membantu Sam!”, Lily memohon pada Luisa. Luisa terlihat ragu, namun akhirnya dia mengangguk. Mengangkat tubuh lemah Putri Eloys untuk dinaikkan ke kuda, kemudian dia sendiri naik di belakang Putri dan memacu kuda hitam itu kencang, menjauhi arena peperangan. Beberapa Nefendril yang melihat kuda hitam itu berlari menuju tim medis segera membantu melindunginya dengan menghadang para Orb yang mencoba menyerang.


Jadze melompat hendak melakukan terkaman pada Sam, namun Lily segera meraih anak panah dan membidikkannya ke Jadze. Anak panah itu meleset, hanya memotong beberapa helai rambut hitam wanita itu.


Sam kaget dan berbalik menatap Lily, “Kenapa masih disini, Bodoh?!”, tanyanya kasar.


Lily menatapnya marah, berjalan ke arahnya, “Untuk membantumu, Idiot!”, balasnya sambil berteriak.


Jadze tak memberikan kesempatan pada pasangan kekasih itu untuk terus mengobrol. Dia segera meraih kembali pedang yang diambilnya dari pasukan Kerajaan yang dibunuhnya tadi, kemudian mengayunkan ke arah Sam.


Sam yang sadar segera berbalik dan menangkisnya dengan cepat. Jadze mengayunkan tombak di tangan kanannya ke arah kepala pemuda itu, namun Sam segera menangkisnya lagi dengan cepat. Melihat Jadze sedikit kewalahan, Sam segera mencuri kesempatan lengah wanita itu dengan meninju pipinya. Membuat Jadze jatuh tersungkur. Tombaknya terpental.


Lily dengan sigap menjatuhkan busurnya dan mengambil tombak itu. Jadze terlihat sangat marah melihat gadis itu mencuri tombaknya. Dia segera bangkit dan mengangkat pedangnya sambil berlari menuju Lily.


Sam segera meloncat menghadangnya, matanya memancarkan aura kemarahan yang besar, “Sudah kukatakan, AKU LAWANMU!”, teriaknya. Jadze berdecih dan segera mengayunkan pedangnya ke arah pemuda itu. Sam berhasil menangkisnya.


Mereka berdua terlibat aksi saling dorong dengan pedang. Jadze benar-benar tangguh, Sam mulai sedikit merasa kewalahan. Lily yang melihat Sam agak terdesak segera maju dengan tombak di tangannya hendak mencelakai Jadze.


Namun wanita itu dengan gesit menemukan celah untuk menjegal kaki Sam. Ketika Sam terjatuh dia mengayunkan pedangnya tepat saat Lily berada di depannya. Pedang Jadze membelah tombak yang dibawa gadis itu, sekaligus melukai wajahnya!


Lily jatuh tersungkur, kedua tangannya menutupi wajahnya yang bersimbah darah. Rasa sakit dan panas yang teramat kuat menjalari seluruh wajahnya. Sam bangkit dan dengan marah mengayunkan pedang ke Jadze namun segera bisa ditangkis wanita itu, mendorongnya, hingga membuat Sam terdorong mundur dan jatuh di dekat Lily. Sam kehilangan fokusnya karena melihat Lily bersimbah darah.


Pemuda itu lalu beringsut mendekati kekasihnya yang masih mengerang kesakitan itu, “Kau tak apa-apa?”, tanyanya sambil meraih Lily ke pelukannya. Lily membuka kedua tangannya, ada luka melintang dari pelipis kanan ke pipi sampai di dekat sudut bibirnya yang masih basah dengan darah.


“AWAS!!!”, Lily berteriak kencang saat melihat Jadze melompat ke arah mereka. Namun belum sempat Sam bereaksi apapun, Jadze kembali jatuh ke tanah. Kali ini dia mengerang, dan setelah menyadari apa yang melukai lengan kanannya, dia segera menarik anak panah sialan milik Frei tersebut dan membuangnya ke tanah.


Tak mempedulikan Frei yang berlari ke arahnya mencoba menghadang, Jadze kembali bangkit dan mengayunkan pedangnya ke Sam. Sam yang telah kembali pada fokusnya segera meraih pedangnya di tanah, dan dalam keadaan masih memeluk Lily, dia menahan serangan pedang wanita jahat itu.


Lily yang melihat kejadian itu segera meraih pisau pemberian Sam dari dalam saku mantelnya dan sekuat tenaga bangkit dari pelukan Sam untuk mengambil kesempatan dan menusukkan benda tajam itu tepat di jantung Jadze!


Jadze memekik keras. Pekikannya memecah hiruk-pikuk suasana perang. Semua pergerakan terhenti dan setiap pasang mata menatap padanya. Jadze meraung-raung kesakitan, menarik pisau itu dan membuangnya ke tanah. Dia ingin mengayunkan pedangnya lagi untuk membunuh kedua anak muda di depannya itu namun dia tak mampu melakukannya. Dia tersungkur ke tanah.


Semua Orb ikut memekik mengerikan. Suasana tiba-tiba berubah seperti di neraka. Langit menjadi gelap karena tertutup awan hitam. Petir menyambar-nyambar.


“Sekarang, Sam!!!!”, Lily menyadarkan Sam yang masih ternganga menatap Jadze dengan erangan di ujung mautnya. Sam segera menarik Hati Zamrud di dadanya, melemparkannya ke tubuh Jadze yang tengah sekarat. Saat batu itu jatuh di tubuh Jadze, muncul ledakan bercahaya warna hijau zamrud dengan suara keras, membuat semua Orb terbakar dalam api berwarna hitam zamrud seperti milik Teshra.


Sam segera mengangkat pedangnya ke arah tubuh Jadze di bawahnya, “Kembalilah ke neraka!”, pekiknya. Lalu dia menusuk batu itu sekaligus menembus tubuh Jadze.


Petir menyambar-nyambar dari langit. Semua Orb musnah terbakar tak berbekas. Jadze hangus tanpa sisa, begitupun batu zamrud milik Sam.


Hujan turun dengan deras, membasahi Tanah Tan. Petir yang mulanya menyambar-nyambar dengan mengerikan berganti dengan hujan yang menyejukkan. Sam terduduk kelelahan, nafasnya tak beraturan. Badannya basah kuyup.


Semua pasukan Kerajaan yang masih hidup, Pangeran Theo, Frei, dan Pasukan Nefendril yang masih hidup langsung bersorak kegirangan.


Sam teringat Lily, dia segera bangkit dan kembali menghampiri gadis itu. Lily masih bersimbah darah di wajahnya, dia terlihat sangat lemas. Pisaunya tergeletak di tanah, di dekatnya.


“Kenapa kau bandel sekali???”, tanya Sam, sambil memeluk Lily. Air matanya mengalir, menjadi satu dengan air hujan yang membasahi wajahnya. Lily membalas pelukannya erat.


“Karena aku bukan perempuan yang akan selalu taat aturan.”, jawab Lily lembut. Sam melepaskan pelukannya, menatap luka panjang di wajah Lily. Hatinya sakit. Luka itu pasti akan terus membekas di wajahnya, karena menggores sangat dalam ke daging.


“Apa kau akan tetap mencintaiku dengan adanya ini?”, tanya Lily, nadanya terdengar sedih. Sam tertawa kecil, lalu menempelkan dahinya ke dahi Lily.


“Justru aku merasakan cintaku padamu jauh lebih besar sekarang.”, jawabnya mantap.


Teshra menatap langit. Hujan turun membasahi tubuhnya. Ribuan Orb di depannya yang menuju Istana juga tiba-tiba hangus terbakar dengan api zamrud. Hatinya bergejolak penuh kegirangan. Dia segera memutar tubuhnya untuk terbang kembali ke medan perang.


“Kerja bagus, Sam!”, pekiknya pada udara kosong.


Frank dan Kenneth menurunkan lagi busur mereka, diikuti oleh pasukan Istana lainnya. Ribuan Orb yang mulanya mereka lihat di atas langit tiba-tiba habis terbakar.


“Apa artinya ini, Frank?”, tanya Kenneth. Frank masih menatap langit, yang mengguyurkan hujan dengan sangat deras. Lalu tersenyum, dan menatap sahabatnya itu.


“Kekuatan hitam berhasil disegel untuk selamanya.”, jawabnya. Kenneth terlihat sangat kegirangan.


“Apakah itu berarti kita menang?”, tanya mantan Panglima Perang Kerajaan itu.


Frank menggeleng, “Belum.”, jawabnya, kembali menatap langit.


Luisa menghampiri Pangeran Theo yang terluka di bagian pahanya oleh sisik Orb dan membantunya duduk untuk mendapatkan perawatan pasukan medis. Pangeran Theo menatap Nefendril itu.


“Kau…perempuan?”, tanya Sang Pangeran. Luisa menatap ke iris hitam pemuda itu, lalu mengangguk. Pangeran Theo tersenyum.


“Aku pikir kau laki-laki saat melihatmu berperang dari atas sana.”, Pangeran Theo menunjuk ke atas bukit tempatnya bertarung tadi, “Karena kau luar biasa hebat dan tangguh. Aku kagum.”, lanjutnya sambil tersenyum manis.


Luisa langsung menunduk menatap tanah, wajahnya memerah menerima pujian dari Pangeran Theo.


“Eloys…Eloys..”, Eriez meraih Putri Eloys dalam pelukannya dan mengguncangnya pelan. Putri Eloys membuka matanya lemah.


“Oh syukurlah, kupikir aku akan kehilanganmu…”, Eriz memeluknya dengan erat. Putri Eloys membalas pelukan kekasihnya itu. Namun dia terkejut saat menyadari bahwa lengan kiri Eriez tak ada.


“Lenganmu…”, Putri menutup mulutnya dengan tangan, tak mampu melanjutkan kata-katanya. Air matanya mulai jatuh. Eriez tersenyum.


“Apa kau keberatan?”, tanya pemuda itu. Putri Eloys menggeleng, lalu memeluk Eriez lagi, kali ini lebih erat.


“Tentu tidak. Tidak sama sekali! Aku bangga padamu!!”, bisiknya.

__ADS_1


__ADS_2