
Pangeran Alendril melihat dari atas punggung Sirina, bagaimana kawanan Orb dan Illio dibawah komando Jadze mulai bergerak keluar dari persembunyian mereka, Gua Tryda, menuju arah Istana. Jadze sendiri menaiki Orb raksasa yang terbang beriringan dengan Sirina. Sang Pangeran melirik ke arah wanita berjubah merah beludru itu, wajahnya tetap cantik, karena wajah itu adalah wajah wanita yang telah melahirkannya.
“Jangan lengah, Pangeran!”, seru Jadze, “Meskipun kaum Nefendril adalah kaum immortal, tapi jumlah mereka sedikit. Sedangkan pasukan Raja Leon meskipun banyak, mereka tak sebanding dengan kekuatan Orb dan Illio kita yang sangat gesit. Namun, jangan lupakan bahwa di antara mereka ada Teshra, Sam yang terkenal cerdas dengan taktik perangnya, Raja Leon sendiri dengan kemampuan berpedang yang luar biasa, serta Putri Eloys yang mampu membangkitkan kekuatan Roh Nefrisa untuk mengendalikan pikiran lawan.”.
Pangeran Alendril tertarik, “Yang bagian terakhir, apakah gadis itu tahu tentang kekuatan yang dia miliki bisa sebesar itu?”, tanyanya.
Jadze menatap lelaki itu dengan tatapan licik, “Dia tak tahu. Namun dia akan tahu jika Nefrisa terdesak. Tapi aku tak yakin dia bisa menguasai dalam waktu singkat apalagi di tengah peperangan. Setidaknya, tak ada salahnya kita waspada.”.
Pangeran Alendril mengangguk, lalu tersenyum, “Oh aku senang sekali kau menemaniku saat ini, Ibukku. Setidaknya, aku tak merasa kesepian.”.
Jadze balas mengangguk kepadanya.
Kabut pagi itu membungkus Tanah Tan. Membuat pepohonan dan semua yang ada di dalamnya menjadi tak terlihat. Semua serba putih, lembab, dingin, dan mencekam. Tak ada seorang pun yang berani keluar. Semua warga yang dikumpulkan di camp pengungsian telah diinstruksikan untuk tidak keluar dari wilayah, dengan penjagaan yang ketat dari pasukan Istana dan dibantu beberapa Nefendril.
Raja Leon menunggang kuda kesayangan Ayahnya, Tress. Kuda berwarna hitam berusia 3 tahun itu seakan telah siap juga menjemput kematian bersama penunggangnya. Dengan pakaian perang lengkap beserta pedang Visius di punggungnya, Raja Leon terlihat sangat gagah.
Sebelum berangkat ke medan perang, dia telah menangis di pangkuan Ibunya, Ratu Marry. Mengatakan bahwa dia sangat mencintai perempuan itu, dan berharap dia bisa kembali dan memeluk Ibunya lagi, melihat Putri Eloys menikah dengan kekasihnya, dan melihat kehidupan yang damai dan tenteram di Tanah ini, tanpa adanya gangguan kekuatan jahat manapun lagi.
Ratu Marry melepasnya, memberikan ciuman lembut di kedua pipinya, dan mengatakan bahwa dia sangat bangga pada Putranya tersebut. Namanya akan harum sepanjang masa, sebagai Raja dan Ksatria yang berjuang di garis depan, memimpin pasukan dan perwira luar biasa setia demi tanah ini, dan juga demi kemanusiaan.
Naga Amber berpendar kuat, nyalanya terang bagai lampu yang menuntun pasukan berkuda itu terus berjalan menuju lereng Gunung Tannosi, tempat mereka akan menghadang lawan.
Di beberapa bukit di sekitar lereng, pasukan pemanah terlatih telah disiapkan. Mereka akan dipimpin langsung oleh Pangeran Theo. Sang Pangeran sendiri telah siap dengan busur dan anak panahnya. Pedangnya juga telah bertengger di pinggang. Dia telah siap menghadapi kematian di depannya, membalaskan semua yang telah dilakukan musuh terhadap Ayah dan keluarganya di Kerajaan Cha.
Ada satu harapan yang dia inginkan jika perang ini berakhir dengan kemenangan di pihak mereka dan dia masih hidup. Dia ingin menikah dengan perempuan yang dipilihkan oleh Ratu Marry atau Putri Eloys padanya, kemudian mengabdikan dirinya kepada Tanah Tan, alih-alih membangun ulang Kerajaan Cha.
Siapapun perempuan itu, dari kalangan bangsawan atau rakyat biasa, dia tak mempermasalahkannya. Karena dia ingin bisa semakin kuat mengikhlaskan hati Putri Eloys yang dicintainya, dengan berusaha membuka hatinya untuk orang lain.
Jauh di dalam Istana. Frank telah menyiapkan pasukan benteng yang kuat lengkap dengan segala pertahanannya. Pasukan pemanah dan berpedang yang siap melindungi Istana dan seisinya. Kenneth bersamanya juga. Sedangkan seluruh penghuni Istana dikumpulkan di ruang utama, diberikan penjagaan yang ketat.
Remedy sendiri masuk dalam salah satu pasukan berpedang. Dengan pedang warisan mendiang Ayahnya, serta ilmu bela diri yang dikuasainya, dia siap berperang membela Tanah Tan walau harus kehilangan nyawanya.
Sedangkan di dalam Gua Nefrisa, seluruh Nefendril telah berkumpul. Sam, Teshra, Frei, Eriez, Putri Eloys, dan Lily ada di tengah-tengah mereka. Sam membuka kertas yang bergambar peta tempat peperangan dan telah ditambahi dengan titik-titik posisi serta garis-garis penghubung. Itu adalah peta peperangan yang dibuatnya kemarin malam.
“Dengar, nantinya sebagian pasukan pemanah Nefendril akan keluar bersama Frei, tugas mereka adalah bersembunyi, dan membuyarkan konsentrasi serta serangan kawanan Illio pada pasukan Raja Leon. Tempat mereka di sini.”, Sam menunjuk sebuah tanah yang penuh sesemakan di bawah bukit, dan menatap Frei, “Kawanan Illio lemah dalam hal penciuman, jadi selama kalian tak terlihat, mereka tak akan mengetahui keberadaan kalian. Dan bukit ini adalah tempat para pasukan pemanah Raja Leon berada.”, Sam menunjuk bukit di atas lokasi yang ditunjuk sebelumnya.
“Lalu Eriez dan kelima serigala memimpin pasukan pemanah yang sebagian lagi menuju ke sini.”, Sam menunjuk ke sebuah lokasi yang cukup jauh berada di sebelah barat, “Di sini adalah lokasi yang paling mungkin dijadikan oleh kawanan Orb akan menyerang dari udara, karena lokasi ini tak ada pepohonan dan semak-semak. Orb memiliki penciuman yang tajam, meskipun penglihatannya tak setajam Illio. Jadi kalian tak perlu sembunyi. Selama di udara, mereka tak bisa menyerang. Mereka hanya bisa menyerang saat mereka berwujud manusia buruk rupa di tanah, gerakan mereka gesit. Dan kelemahan mereka adalah pemimpin kelompoknya. Mereka menyerang secara berkelompok. Eriez sudah berpengalaman menangani kawanan merepotkan ini.”,
Sam menyeringai pada sahabatnya itu, “Jadi aku yakin tugas ini tak akan sulit baginya. Dia bisa memanah dan juga berpedang. Dan di bukit dekat kelompok Eriez berada…”, Sam menunjuk bukit di dekat wilayah landai tempat dia sebelumnya menunjuk, “..adalah wilayah yang paling mungkin dijadikan tempat pasukan pemanah khusus yang dipimpin oleh Pangeran Theo.”,
Teshra memotong, “Dari mana kau bisa mengira bahwa Raja Leon akan meletakkan mereka di sana dan di sini?”, tanya naga itu sambil menunjuk dengan tatapan matanya tempat-tempat yang ditunjuk Sam tadi. Sam merengut sedikit tak suka karena kesannya naga itu meremehkannya.
“Ayahku adalah guru terbaik milih Istana untuk pelajaran taktik peperangan, dan Raja Leon adalah teman seangkatanku di Sekolah Militer Istana meskipun umur kita terpaut 5 tahun. Kami belajar bersama bertahun-tahun tentang ini. Jadi jangan salahkan jika aku menghapal bagaimana taktik perang klasik milik mereka.”, jawabnya bersungut-sungut, membuat Teshra tertawa.
“Oke aku lanjutkan.”, Sam kembali menatap kertas itu, meskipun hatinya masih dongkol karena ulah Teshra.
“Kemudian pasukan berpedang yang dipimpin Luisa, membawa serta Putri Eloys dan Lily (Sam sedikit menghela nafas saat menyebut nama kekasihnya itu), langsung bergabung dengan pasukan Raja Leon, melindungi mereka, dan berada dalam perlindungan mereka. Lawan mereka kemungkinan nanti adalah kawanan Orb yang telah menjelma menjadi manusia buruk rupa di tanah. Mereka ahli bela diri dan sisik mereka sangat tebal dan tajam. Kita beruntung bahwa pasukan Illio memiliki jumlah lebih sedikit dari pasukan Orb. Karena pasukan Illio lebih mengerikan, secara pergerakan mereka lebih gesit, dan panah mereka beracun semua.”,
Sam menatap Luisa, dia adalah satu-satunya Nefendril wanita yang akan ikut berperang, ilmu bela dirinya sangat luar biasa, “Apa kau siap?”, tanyanya. Luisa mengangguk, lalu menggenggam pedangnya kuat-kuat. Wajahnya yang cantik memancarkan aura semangat yang menggebu-gebu.
“Lily (Sam menghela nafas lagi) telah membuat ramuan penawar racun panah Illio, anggaplah dia tim medis kalian, jadi jangan sampai Lily (Sam menghela nafas lagi) luput dari pengamanan. Pasukan medis kerajaan biasanya diletakkan di bagian tengah, jadi Lily (Sam mendesah pelan) dan Putri Eloys nanti berada di dekat mereka.”,
Teshra memotong lagi, “Kau selalu mendesah setiap menyebut namanya.”, membuat Sam meliriknya dengan lirikan maut. Lily terkikik geli, namun pipinya memerah.
“Yah, aku masih berusaha agar lebih terbiasa…”, gumam Sam, “Baik kulanjutkan lagi.”, sedikit grogi, Sam kembali fokus ke kertasnya, membuat Putri Eloys dan Eriez saling pandang dengan senyum geli di wajah masing-masing.
“Pangeran Alendril kemungkinan ada di barisan berpedang mereka, tak ada yang menyangsikan kemampuan berpedang dan bela diri Putra Pertama Visius Yang Agung itu. Bahkan Raja Voctorius masih setingkat di bawahnya. Jangan lupakan bahwa dia memiliki sebagian kekuatan Naga Amber dalam jiwanya. Jadi dia agak sulit untuk dikalahkan…yah bukan agak sih, tapi memang sangat sulit.”, Sam menggaruk rambutnya yang memang selalu berantakan itu.
“Lalu aku dan kau,”, Sam menatap Teshra, “Kita terbang menjauh dan bernegosiasi dengan Jadze dan naganya. Aku yakin mereka juga akan mengajukan negosiasi agar perang antar naga dan penunggangnya tak mencampuri perang di atas tanah. Kita sebaiknya menyetujui itu, karena jika kita tak setuju dan ikut campur dengan perang di atas tanah, Jadze dan naganya bisa menjadikan kesempatan itu untuk menyerang camp pengungsian yang harus kita jaga agar tak mendapat imbas dari perang ini. Disana banyak kehidupan tak berdosa.”. Teshra mengangguk setuju.
“Kemudian,”, Sam termenung sebentar, “Kawanan Orb yang lain kemungkinan akan menuju Istana, sebisa mungkin sebelum mereka mencapai sana, kita sudah kalahkan mereka semua di medan pertempuran. Meskipun di sana ada Ayahku dan Tuan Kenneth, tapi mereka sudah tak layak untuk berperang karena usia mereka.”.
Sam menghela nafas, lalu menatap Teshra lagi, “Kuharap kejadian di Istana Cha tak terulang lagi.”. Dan sekali lagi Teshra mengangguk mantap.
“Para Nefendril yang lain akan menjaga gua. Kemungkinan meskipun kecil, akan ada gangguan juga disini, namun itu akan merugikan mereka sebab kaum Nefendril adalah kaum immortal yang akan sulit untuk mereka kalahkan.”, Sam melipat kertasnya.
“Apa sudah waktunya?”, tanya Teshra. Sam mengangguk.
“Kalau begitu pakai mantelmu, dan naiklah. Aku tunggu di sana.”, Teshra berjalan menuju ruangan di bawah pintu atap gua.
Sam menatap Frei dan Eriez, kemudian memeluk mereka berdua bersamaan, “Aku berharap besar pada kalian.”, bisiknya, lalu melepas pelukannya. Dia menatap Eriez, “Tetaplah hidup dan bertanggungjawablah terhadap hati Yang Mulia Eloys yang telah kau curi.”.
Eriez tertawa, “Siap, Panglima! Dan aku tunggu kau di Tanah Jurg setelah perang, kita minum teh bersama lagi.”, mereka lalu menautkan kepalan tangan mereka dengan kuat.
Eriez kemudian berjalan bersama Frei dan kelima serigala menuju kawanan pasukan pemanah. Putri Eloys dan Lily mengikuti untuk melepas mereka.
“Aku mencintaimu.”, bisik Putri Eloys di telinga Eriez saat mereka berpelukan.
__ADS_1
Eriez melepaskan pelukan mereka, dan menatap kekasihnya itu dalam-dalam, “Dengar Eloys, aku akan menceritakan ini dengan singkat saja.”, dia diam sejenak, lalu melanjutkan lagi, “Aku pernah berkencan dengan seorang gadis waktu usiaku 17 tahun, dia dua tahun lebih tua dariku. Aku tak pernah mencintainya namun hanya mencoba membuka hati sebab dia yang meminta. Setelah setahun membuang waktu untuk membersamainya, dia justru meninggalkanku untuk menikah dengan lelaki lain. Aku berpikir bahwa perempuan itu merepotkan dan cinta itu menyebalkan. Tapi semua berubah setelah aku bertemu dan mengenalmu, kemudian merasakan cinta padamu. Sekarang aku bertanya,”, Eriez memegang kedua pipi Putri Eloys, “…apakah kau memaafkanku karena aku pernah memiliki kekasih sebelum kau, dan apakah jika perang ini berakhir, kita menang, dan kita masih hidup, maka kau akan mendampingiku selamanya dalam keadaan suka dan duka?”.
Mata Putri Eloys berkaca-kaca, “Apa kau sedang mengakui dosa kemudian melamarku?”.
Eriez mengangguk, “Maukah kau menikah denganku, nantinya?”, tanyanya.
Putri Eloys menggenggam erat kedua tangan Eriez di pipinya, air mata telah membasahi wajah cantiknya, dia mengangguk, “Tentu saja aku memaafkanmu, karena itu masa lalu. Dan masa sekarang serta masa depanmu adalah aku. Kita akan menikah. Aku janji.”, mereka lalu berpelukan lagi.
“Ehm..”, Lily berdeham ringan, membuat kedua sahabatnya tersebut segera melepaskan diri dengan malu-malu. Lily membuka kedua tangannya, dan Eriez langsung datang ke pelukan gadis itu.
“Jangan mati! Jika kau mati maka aku akan membuat rohmu tak tenang sebab meninggalkan Yang Mulia disini sendiri kesepian tanpamu.”, bisik Lily mengancam.
Eriez tertawa kecil lalu melepaskan pelukannya dan menepuk pucuk kepala gadis itu, “Aku tak akan mati semudah itu, Nona.”.
Frei mengisyaratkan Eriez untuk segera berangkat, setelah mengecup kening Putri Eloys, Eriez naik kuda cokelatnya, dan Frei serta kelima serigala berjalan di sampingnya. Kawanan pasukan pemanah berjalan mengikuti mereka keluar gerbang.
“Saatnya kita berangkat.”, Luisa mendatangi Lily dan Putri Eloys. Pasukan berpedang sudah siap di belakang Nefendril itu. Lily menatap Sam yang berjalan ke arahnya.
“Kalian akan baik-baik saja.”, kata Sam sambil menatap kedua gadis bergantian. Putri Eloys berjalan maju dan memeluk Sam, “Aku menyanyangimu, Sam. Jaga dirimu baik-baik.”, bisiknya.
Sam mengangguk lalu melepaskan pelukan Putri, “Aku akan tetap menjaga sumpah dan janjiku, karena aku disini untuk menepatinya. Yaitu menjaga dan mengantarkan Yang Mulia kembali pulang ke Istana dengan selamat.”. Putri Eloys tersenyum padanya dan mengangguk.
Sam lalu menatap Lily. Putri Eloys berbisik pada Lily, “Aku tunggu disana.”, kemudian berjalan dengan Luisa serta pasukan berpedang menuju gerbang.
Sam menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Lily menatapnya, menunggu apa yang akan dikatakan pemuda itu.
“Jadi…”, Sam membuka mulutnya dengan sedikit gugup, “…jika kita tak mati, dan menang, maka kau harus hidup bersamaku!”, katanya setengah berteriak. Lily kaget, namun wajahnya langsung memerah.
“Apa…apa kau sedang melamarku? Maksudku..untuk..untuk menikah?”, tanya Lily ragu-ragu. Sam menatap iris jade kekasihnya itu, lalu melangkah maju lebih dekat padanya.
“Tidak. Aku memerintahkanmu!”, jawabnya, dengan seringai.
Lily memutar bola matanya jengah, “Jika aku tak mau?”, tanyanya.
“Maka kau akan dapat hukuman.”, jawab Sam usil.
Lily mendengus, “Apa itu?”.
Sam mengetuk kening gadis itu pelan, “Melahirkan anak-anakku.”, lalu menatap wajahnya yang masih bersemu merah.
“Dan untuk melahirkan anak-anakku kau harus menikah denganku. Ini perintah, sekaligus paksaan.”, kata Sam sambil menyelipkan anak rambut Lily ke belakang telinga gadis itu. Lily tersenyum kemudian melingkarkan lengannya ke tubuh Sam, meletakkan kepalanya di dada pemuda itu.
“OOOIIII….!!!”, Teshra berteriak kesal menatap Sam dan Lily, membuat pasangan itu segera memisahkan diri karena kaget. Sam mendengus, sedangkan Lily melambaikan tangan ke Teshra meminta maaf.
“Aku berangkat.”, kata Lily sambil berjalan menuju Putri Eloys dan Luisa yang telah menunggunya bersama pasukan berpedang di pintu gerbang. Sam mengangguk, lalu berbalik, berjalan menuju Teshra dengan bersungut-sungut.
“Apa? Kau marah?”, tanya naga itu kasar. Sam mengambil pedangnya yang ada di samping si Naga dan menyandangnya di punggung, lalu memakai mantelnya.
“Kau tak pernah jatuh cinta, itulah mengapa kau menyebalkan!”, gerutu Sam sambil naik ke punggung Teshra.
Teshra mendengus, “Astaga! Kini kau berusaha mengguruiku. Baiklah…”, sambil mengembangkan sayap, dan menyentakkan kaki untuk terbang dengan kasar, membuat Sam berteriak histeris karena kaget.
“Aku berpikir apakah Sam akan baik-baik saja nantinya?”, bisik Putri Eloys yang duduk di depan Lily, setelah mendengar teriakan histeris Sam di atas punggung Teshra. Mereka sudah di atas kuda hitam milik Sang Putri yang mulai berjalan keluar menuju mulut gua. Luisa dan pasukan berpedang mengikuti di belakang mereka.
Lily tertawa kecil, “Aku yakin, mereka adalah partner yang sangat ideal.”, bisiknya.
Putri Eloys tersenyum lega, lalu menarik tali kekang kudanya, membuat kuda itu berlari kencang, diikuti para Nefendril di belakang mereka. Kaum Nefendril tak hanya pemanah dan petarung ulung, namun mereka juga pelari yang cepat. Sama seperti saudara jauh mereka, kaum Sementy.
Matahari mulai muncul di atas garis cakrawala. Udara yang mulanya lembab akibat kabut tebal pagi hari, mulai sedikit menghangat. Tak ada suara burung yang berkicau, seolah mereka tahu akan ada hal mengerikan yang terjadi di tanah ini, sehingga kemungkinan mereka bersembunyi atau pergi dari tempat tersebut.
Angin berdesir menggoyangkan rambut para Ksatria berkuda milik Kerajaan Tan yang telah tiba di lereng Gunung Tannosi. Meskipun udara mulai menghangat, tak membuat keheningan yang mencekam di tempat tersebut mampu menusuk kulit dan membuat jantung berdegup kencang.
Raja Leon berdiri di bagian depan, bersama dengan beberapa perwira perang kepercayaannya dan perwira-perwira perang andalan para bangsawan Tanah Kressia, yang berdiri di samping kanan dan kirinya.
Raja Leon mampu merasakan keberadaan bala tentara sekutu yang telah tiba terlebih dahulu dan langsung mengambil posisi bersembunyi di wilayah-wilayah vital. Mereka adalah pasukan pemanah Nefendril yang dipimpin oleh Frei. Sedangkan pasukan pemanah yang dipimpin Eriez telah sampai di lokasi bawah bukit tempat pasukan pemanah Kerajaan Tan berada.
Pasukan Nefendril datang lebih dahulu meskipun mereka berangkat setelah pasukan Kerajaan telah bergerak, karena jarak Gua Nefrisa yang lebih dekat dengan lereng Gunung Tannosi, serta kecepatan kaum Nefendril yang melebihi kecepatan kuda mampu membuat mereka sampai di lokasi dalam waktu singkat.
Pangeran Theo menatap Eriez yang telah bersembunyi di sesemakan tinggi bersama pasukannya. Eriez sendiri telah memberikan tanda kedatangan dan kesiap-siagaannya untuk bekerja sama dengan pasukan Kerajaan begitu dia sampai lokasi.
Pangeran Theo tersenyum. Dia kagum pada pemuda itu. Pemuda dari garis keturunan rakyat biasa, namun pasti dia memiliki sesuatu yang luar biasa dalam dirinya sampai Putri Eloys memalingkan diri darinya yang berdarah bangsawan, pewaris kerajaan, dan juga berwajah rupawan, untuk memilih pemuda itu.
Eriez memang tak setampan Pangeran Theo, dan dia juga tak segagah Putra Mahkota Kerajaan Cha tersebut. Namun dia memiliki kesederhanaan diri serta perhatian yang besar kepada kawannya, dan itu yang membuat Putri Eloys jatuh hati padanya.
Raja Leon mendengar derap langkah kaki dan suara seekor kuda berlari, menuju ke arah pasukannya. Setelah matanya mampu menangkap kedatangan si pemilik suara itu, Raja Leon tersenyum. Adiknya, Putri Eloys, berkuda dengan anggun bersama si Gadis Pelayan Setianya, Lily, diikuti para Nefendril yang telah siap dengan tombak dan pedang terhunus mereka.
__ADS_1
“Hormat kami untuk Yang Mulia Raja Leon, kami pasukan berpedang kaum Nefendril, bersama Yang Mulia Putri Eloys dan Nona Lily siap untuk bergabung bersama dengan pasukan berpedang Kerajaan Tan.”, Luisa melangkah maju dan menunduk hormat kepada Raja Leon.
Sang Raja menatapnya dari atas kuda, seorang Nefendril wanita yang amat cantik, berpakaian perang dan lengkap dengan pedang serta tombak Neolathnya.
“Kau…perempuan?”, Raja Leon sedikit terkejut. Kuda hitam Putri Eloys mendekat, Sang Putri tersenyum menatap Kakaknya.
“Aku merindukanmu, Kakak. Senang sekali ada disini berjuang bersamamu. Dia adalah Luisa, pemimpin Pasukan Berpedang kami. Dan di belakangku adalah Lily, kami berdua akan bergabung dengan tim medis pasukan Kerajaan.”.
Raja Leon membalas senyumnya, melirik ke Lily yang menunduk hormat kepadanya, lalu membalas anggukan kepada Lily, dan kembali menatap Luisa, “Kurasa, jika kita semua masih hidup dan mendapat kemenangan, aku perlu memintamu pergi ke Istana untuk melatih para Perempuan disana agar bisa bela diri dan menggunakan senjata.”.
Wajah Luisa memerah, namun dia langsung mengangguk hormat. Putri Eloys dan Lily saling pandang dan ikut tersenyum. Ada secercah harapan, bahwa dalam kepemimpinan Raja Leon nanti, jika mereka mendapatkan kemenangan, maka larangan kaum perempuan untuk menguasai bela diri dan ilmu berperang akan dihapuskan.
Putri Eloys sangat memahami ini, karena dia tahu bahwa Kakaknya memiliki pemikiran yang maju dan jauh berbeda dengan Raja-Raja terdahulu, bahkan dengan Ayah mereka. Secara karakter, Kakaknya hampir sama keras kepalanya dengan Sam, namun mereka juga sama-sama cerdas dan berpikiran maju. Bedanya, Sam jauh lebih percaya diri dibanding Raja Leon.
Teshra menukik pelan. Sam menyipitkan matanya untuk menatap ke bawah, saat naga itu membawanya turun dan mendekat ke arah pasukan berkuda Kerajaan yang telah bergabung dengan pasukan berpedang Nefendril.
“Hormat saya untuk Yang Mulia Raja Tan, Leon Putra Julius. Saya adalah Teshra, Raja Naga yang akan mendampingi Anda dan para Ksatria berjuang mengembalikan kedamaian dan menyegel kekuatan jahat selamanya dari Tanah Tan tercinta kita ini.”, suara Teshra menggelegar, bersamaan dengan naga itu terbang merendah di atas pasukan Raja.
Semua mata menatap kagum kepada naga hitam itu, dan Sam dengan gagah tersenyum di atas punggungnya. Raja Leon mengangguk hormat, kemudian menghunus pedangnya, mengacungkannya ke atas.
“Hidup dan Mati Demi Tanah Tan Yang Mulia!”, teriaknya. Membuat pasukan langsung mengangkat pedang dan tombak, ikut berteriak seperti teriakan Raja tersebut.
“Senang berjuang bersamamu, Teshra Yang Agung. Kami berharap besar kepadamu dan Sam. Semoga ini semua segera berakhir dan kita bisa membebaskan Tanah Tan ini selamanya dari mimpi buruk.”, Raja Leon tersenyum.
Tiba-tiba terdengar pekikan naga yang sangat keras, bersamaan dengan itu, munculah Sirina, si Naga Merah, dengan Alendril di atas punggungnya. Pasukan Orb dalam bentuk manusia buruk rupa datang dari depan mereka, dengan derap kaki yang sangat keras dan dalam menghantam tanah. Mereka terlihat mengerikan dengan postur tinggi besar. Mereka dipersenjatai dengan pedang-pedang panjang dan tajam, serta sisik berduri mereka terlihat berkilat mengerikan di bawah sinar matahari.
Dari arah langit, di belakang Sirina, sosok Orb raksasa dengan Jadze di atas punggungnya turun dan terbang rendah di depan pasukan Orb. Senyum bengisnya terkembang.
Baik Teshra maupun Sam terkejut. Ternyata dugaan mereka keliru, yang menunggang Sirina bukan Jadze, namun Alendril!
“Bagaimana ini?”, bisik Teshra. Sam diam, menatap pemandangan di depan matanya. Ternyata Alendril jauh lebih cerdas dari dugaannya. Namun dia juga heran. Dia yakin Alendril pasti tahu bahwa kekuatan Jadze akan sempurna dan menjadi semakin kuat jika bersama Sirina, tapi mengapa dia sengaja memisahkan Sirina dari Jadze?
Jika alasannya adalah agar dia terhindar dari Raja Leon dan Naga Amber yang mampu melumpuhkannya jika mereka bertarung di darat, maka dia bisa saja menunggang Orb raksasa itu bukan? Tapi kenyataannya, dia justru memilih menunggang Sirina dan tentunya dia juga memilih Sam dan Teshra sebagai lawannya di udara.
Itu akan menyulitkan Sam, sebab dia awalnya telah memiliki rencana untuk berperang dengan Jadze, sehingga jika wanita itu kalah dia bisa langsung menusuk jantung dan menyegelnya di Hati Zamrud miliknya.
Tapi jika keadaannya seperti ini, karena akan ada negosiasi pemisahan wilayah perang di darat dan udara, dia akan kesulitan mencampuri perang di darat dan tentunya menahan aksesnya menyerang Jadze. Pun untuk melemahkan kekuatan Alendril, Raja Leon dengan Naga Ambernya juga tak akan mampu melakukannya karena Alendril berperang di udara melawan Sam.
Eriez dan Frei menatap Sam yang berada di atas punggung Teshra dari balik persembunyian masing-masing. Mereka bisa melihat ada sedikit rasa cemas dan kaget tergambar dalam diri pemuda itu. Namun mereka tetap akan menjalankan rencana sesuai perintah Sam di awal, selama Panglima Perang mereka itu belum memerintahkan untuk menjalankan rencana lain.
Putri Eloys berbisik pada Lily, “Ini gawat, Lily!”, sambil meremas mantelnya sendiri. Dia sedikit ketakutan.
Namun Lily mengelus bahunya lembut, “Aku yakin kita akan baik-baik saja selama tetap menuruti komando Sam, Yang Mulia.”, bisik sahabatnya itu menenangkan.
Sam mengela nafas, lalu berbisik pada Teshra, “Kita ikuti ritmenya dulu agar pasukan kita tak kebingungan. Jika ada celah, aku akan masuk untuk mengobrak-abrik pertahanan mereka.”. Teshra menganggukkan kepalanya pelan. Dia sangat percaya pada pemuda di atas punggungnya tersebut.
Pangeran Alendril dan Sirina berada tepat di depan Teshra dan Sam. Lelaki itu tersenyum sangat ramah, menunduk hormat pada Sam, lalu menatap ke bawah, dimana tatapan matanya bertemu dengan milik Raja Leon.
“Suatu kebanggaan bisa berada di sini dengan kalian. Saya harap kita bisa menyelesaikan ini dengan sempurna.”, suara Alendril terdengar dari atas langit. Meskipun dengan nada lembut, namun ada kengerian tak nampak yang tersembunyi di dalamnya. Membuat pasukan Manusia dan Nefendril sempat merasakan takut dan cemas walau sesaat.
Sam sendiri menatap lawannya itu dengan tatapan tajam. Dia bukan lawan sembarangan, dia ahli berpedang, taktik perang, dan sangat cerdas. Sam tahu bahwa mungkin kemampuannya berperang dan taktik perang sangat jauh di bawah lelaki itu. Namun dia terus menguatkan diri. Sebagai Panglima, dia tak ingin ketakutan membuatnya lemah sehingga ikut melemahkan kesolidan dan kekuatan pasukannya.
“Apa kita bisa memulai negosiasi?”, tanya Alendril, dia masih tersenyum. Sirina terbang mendekat tepat di depan Teshra. Kedua naga itu saling menatap tajam. Raja Naga Yang Agung dan Naga Wujud Dari Kekuatan Gelap.
Sam mengangguk, “Apa kau memiliki permintaan negosiasi?”, Sam bertanya meskipun dia tahu apa permintaan yang akan diucapkan lawannya.
Alendril tersenyum, “Permintaan klasik. Bahwa perang di udara harus terpisah dari perang darat. Atau konsekuensi yang telah ditentukan akan diterima.”.
Sam diam sesaat. Raja Leon menatap pemuda itu dari bawah. Meskipun dia Raja, dan Pangeran Theo adalah Panglima Perang Kerajaan, namun di peperangan kali ini Sam adalah Panglima mereka.
Kemudian Sam mengangguk, “Setuju. Dan aku juga memiliki permintaan.”, balasnya. Alendril terlihat tertarik.
“Jika penunggang naga jatuh ke tanah maka dia terhitung masuk dalam peperangan wilayah darat, selama dia tak kembali menaiki naganya. Namun naga tidak diperbolehkan menaikkan siapapun selain penunggang untuk naik di punggungnya, jika penunggangnya jatuh ke tanah.”.
Pangeran Alendril terlihat berpikir, dia merasakan bahwa Sam memiliki suatu rencana, namun dia belum bisa membaca apa yang dipikirkan pemuda itu. Akan sedikit merepotkan sebenarnya jika dia menyetujui itu, karena rencananya untuk menyatukan Jadze dan Sirina di tengah pertarungan akan gagal. Namun pada akhirnya dia mengangguk setuju.
Jadze mengangkat tombaknya, lalu Orb yang dinaikinya terbang turun ke bawah dan ketika wanita itu telah meloncat dari punggungnya menuju ke tanah, Orb itu berubah menjadi manusia buruk rupa.
“Hidup Alendril Putra Visius!”, teriak Jadze, dan bersamaan dengan itu kawanan Orb berlari menuju pasukan berkuda Kerajaan dan berpedang Nefendril yang juga telah siap menyerang. Raja Leon memacu kudanya bersamaan dengan pasukannya, pedangnya terhunus dan mengkilat tertimpa cahaya matahari.
Eriez dan Frei masing-masing memberi aba-aba pasukannya, dan mereka menarik anak panah di busur bersamaan, untuk kemudian secara menembak kawanan Illio yang mulai mendekat.
Pangeran Theo menarik nafas, mengangkat tangannya, lalu memberikan aba-aba pasukannya untuk segera menembakkan anak panah menuju langit, menyerang Orb di udara agar gagal turun ke tanah.
Lily berpegangan ke pinggang Putri Eloys dengan erat saat kuda hitam mereka berderap beriringan dengan kuda-kuda pasukan medis Kerajaan mencari lokasi yang aman dan mampu dijangkau pasukan yang terluka nantinya, untuk menyembuhkan mereka. Dia tak menyangka akan tiba hari ini. Berada di dalam pasukan perang, berperang bersama mereka, dan siap menjemput maut di depan mata.
Air matanya mengalir, dia telah ikhlas jika ternyata impian untuk kembali bertemu Ayahnya, menikmati kenyamanan rumahnya di dalam istana, atau menikah dan hidup bahagia bersama Sam tak terwujud karena dia mati dalam peperangan ini.
__ADS_1
Setidaknya, kematiannya tak sia-sia. Demi perjuangan meraih kedamaian dan kemakmuran kembali kehidupan di Tanah Tan, dan Bumi ini.