Hati Zamrud

Hati Zamrud
Pedang Visius dan Hati Zamrud


__ADS_3

Cahaya matahari dengan lembut menerobos celah-celah jendela di rumah kayu sederhana itu. Membuat Lily terganggu dan membuka matanya dengan kesal. Dia miring ke arah lain, berusaha menutup mata lagi. Namun gagal.


Dengan kasar dia bangun dan termenung di atas ranjang mungilnya. Rambut cokelat madunya berantakan dan wajahnya merengut kesal.


“Astaga….cepat sekali pagi ini datang…!”, gerutunya, sambil menyibakkan selimut dan bangkit dari kasur. Dia menyeret langkahnya menuju cermin dan menatap dirinya sendiri yang terlihat sangat berantakan pagi ini. Dia kembali menggerutukan kekesalannya karena kekurangan tidur akhir-akhir ini sebab Para Pelayan disibukkan dengan persiapan acara Pesta Dansa yang akan dilaksanakan besok malam. Acara tersebut diselenggarakan untuk memperingati hari ulang tahun Ratu Marry yang ke-51. Selain itu juga akan ada penghargaan yang diberikan Kerajaan kepada Para Pejuang yang ikut berperang di Peperangan Besar melawan kekuatan hitam dan para sekutunya sebulan lalu.


Lily mendesah saat iris jadenya bertemu dengan goresan luka memanjang di pipi kirinya. Tiba-tiba dia teringat Sam. Dia merindukan pemuda itu, bahkan untuk sekedar bertengkar dengannya.


Sejak mereka kembali ke Istana, dirinya dan Sam jadi sulit bertemu karena memang mereka sudah kembali fokus pada tugas masing-masing. Lily masih sering bertemu dengan Putri Eloys karena dia adalah salah satu dari lima pelayan pribadi Sang Putri.


Namun laki-laki dan perempuan yang belum resmi menjadi suami dan istri dilarang bertemu berduaan di dalam Istana. Apalagi Sam dua minggu lalu sudah resmi dilantik sebagai Panglima Perang Kerajaan yang baru. Dia mulai sibuk membangun pasukan militernya, berlatih bersama mereka, dan pekerjaan lainnya yang berurusan dengan posisi barunya tersebut.


Lily sendiri juga sudah mulai sibuk dengan pekerjaan pelayan. Menemani Putri Eloys, bekerja di Dapur Istana, dan mengerjakan pekerjaan rumahnya sendiri karena Ayahnya selalu pulang malam dan berangkat lagi pagi buta.


Eriez sempat berada di Istana, tepatnya di Mansion Perdana Menteri bersama Sam, selama seminggu setelah perang, dalam masa penyembuhan. Namun setelah lukanya membaik dia segera kembali ke Jurg dan mengatakan akan mengadakan perjalanan Arkeologinya selama dua minggu. Dia berjanji akan datang di Pesta Dansa besok malam. Dan tentu saja, selama Eriez tak ada di sampingnya, Putri Eloys selalu merasa sedih dan kesepian. Sehingga dia dan Lily hanya bisa saling menghibur satu sama lain.


“Ah aku lapar…”, gumam Lily, lalu berjalan menuju dapur untuk membuat sarapan.


Lily tengah asyik mengaduk adonan kuenya, saat Rie dan Huin datang mendekat ke arahnya.


Rie berbisik sambil mencolek pinggangnya, “Aku melihat kekasihmu pagi ini.”. Lily spontan menghentikan pekerjaannya dan melihat ke arah Rie yang tersenyum usil padanya.


“Nah kan benar, Lily pacaran dengannya!”, Huin terlihat tertarik.


Wajah Lily memerah, “A..Apa…? Maksudku, siapa maksud kalian?”, tanyanya gugup. Kedua temannya itu tertawa.


“Tuan Panglima yang tampan dan gagah tentu saja…”, goda Rie. Pipi Lily semakin memerah, dia segera memalingkan wajahnya dan kembali mengaduk adonan kuenya.


“Ayolah mengaku saja, Lily…kalian menjalani perjalanan panjang bersama, tentu itu hal yang wajar.”, Rie kembali mencolek pinggangnya.


“Oh kau sungguh beruntung, Lily. Aku iri..!!”, Huin menjerit dengan genit. Dia tertawa bersama Rie dengan keras. Lily menatap mereka dengan malas.


“Semua pelayan wanita tahu tentang kalian kau tahu….”, tiba-tiba Huin berbisik. Membuat Lily kembali menatapnya.


“Tentang apa???”, tanya Lily agak gugup, dia merasa tak pernah menceritakan atau memamerkan hubungannya dengan Sam kepada siapapun.


“Kau lupa? Kau bertemu dengannya di taman depan Istana Yang Mulia Putri dan kalian saling menatap mesra. Kami tak sengaja melihat itu. Oh astaga….!!!”, Rie memegang kedua pipinya dan menjerit dengan jeritan menjijikkan.


Lily termenung, mencoba mengingat kejadian yang dimaksud teman pelayannya itu. Dan ketika dia ingat kejadian tersebut, dia segera menepuk jidatnya sendiri dengan geli. Kejadian yang sebenarnya terjadi lima hari lalu itu, sesungguhnya bukan momen yang bisa dikatakan romantis diantara dirinya dan Sam.


Lily kaget saat menemani Putri Eloys berjalan menuju taman dan menemukan Sam bersama dua pengawalnya di sana. Sam sendiri juga kaget menatap gadis itu. Putri Eloys tersenyum geli menatap kedua sahabatnya itu.


“Kenapa kau ada di sini?”, tanya Sam.


Lily merengut, “Aku pelayan pribadi Putri Eloys dan ini tugasku. Kau yang harusnya kutanya kenapa ada di taman ini?”.


Sam menatap Putri Eloys, “Yang Mulia sengaja mengajaknya kesini dan membiarkan kami bertemu seakan pertemuan tak sengaja bukan?”, selidik Sam.


Putri Eloys mengangguk senang karena rencananya berhasil, sambil bertanya balik, “Apa kau keberatan, Sam?”.


Wajah Sam memerah, lalu menggeleng. Lily sendiri merasa sebal kenapa pemuda itu seakan kurang suka kehadirannya. Sedangkan kedua pengawal Sam hanya diam saja menatap pemandangan yang ada di depan mereka itu.


“Jadi, apa yang akan kau sampaikan? Sampai-sampai mengirim pesan ke pengawalku untuk bertemu di sini denganku.”, Putri Eloys bertanya. Sam menatap Sang Putri, lalu ke arah Lily. Dia mendesah.


“Karena aku tak kunjung menemukan pasangan dansa untuk pesta minggu depan, maka Yang Mulia Ratu memintaku mengajakmu untuk yah…menjadi pasangan dansaku, Yang Mulia.”, Sam terlihat tak nyaman. Sedangkan Putri Eloys terkejut, lalu menatap Lily. Lily sendiri segera mengalihkan pandangan ke arah lain.


“Apa maksudnya? Kau tak mengajak Lily???”, Putri Eloys bertanya dengan gusar.


Sam menggerutu, “Tanya saja padanya!”, sambil menunjuk Lily dengan dagunya.


“Lily??”, Putri Eloys membalikkan tubuh Lily hingga menatap ke arahnya.


Lily tersenyum polos lalu menggeleng, “Aku tak bisa berdansa, Yang Mulia…”.


“Omong kosong apa itu?! Kau bisa berlatih dengan Sam!”, Putri Eloys memotong kata-katanya. Lily menelan ludahnya, dia tak menyangka sahabatnya itu terlihat sedikit emosi. Sam meliriknya dengan seringai puas.


“Tidak, Yang Mulia. Aku tak mau mempermalukan diri…”, Lily menunduk mecoba merajuk agar Sang Putri menerima alasannya.


“Malu? Kenapa malu?? Kau salah satu orang penting di Tanah Tan dan semua menghormatimu!”, Putri Eloys masih tak menerima alasan Lily. Sedangkan Sam bersiul-siul kecil penuh kemenangan, membuat Lily menggeram kesal padanya.


“Yang Mulia…”, Lily meraih kedua tangan sahabatnya itu sambil merajuk, “…aku ini hanya pelayan, dan lagi…aku tak yakin berlatih dansa hanya dalam waktu beberapa minggu bisa membuatku tak terjatuh karena tersandung gaunku sendiri.”, lalu menatap Sam dengan kesal, “Kecuali kalau dia sengaja ingin mempermalukanku!”, Lily menunjuk pemuda itu dengan telunjuknya sambil merengut.


Sam kaget, “Hei!!”, dia kesal karena Lily tak sopan padanya.


Putri Eloys mendesah malas, “Sudah…sudah…! Astaga! Kalian benar-benar tak berubah. Sekarang silahkan kalian bicarakan sekali lagi. Jika ternyata Lily tetap tak mau berdansa dengan Sam, dan Sam sudah putus asa, maka aku bersedia menjadi pasangan Sam di pesta dansa minggu depan.”, lalu menatap ke kedua pengawal Sam, “Kalian ikut aku pergi dari sini sekarang!”.


Kedua pengawal terkejut, lalu saling pandang. Putri Eloys mengerti mereka berdua ragu meninggalkan Sam dan Lily sendiri karena peraturan ketat Istana tak boleh ada laki-laki dan perempuan yang bukan pasangan suami istri berduaan di lingkungan Istana, meskipun mereka sepasang kekasih.


“Aku sendiri yang akan menjamin mereka tak akan melakukan hal aneh-aneh!”, lalu berjalan pergi. Dan akhirnya kedua pengawal meninggalkan Sam dan Lily, mengikuti Sang Putri pergi.


Lily menyilangkan lengannya di dada dan menatap Sam sengit. Sam berjalan mendekat padanya, masih dengan raut kesal.


“Jadi kau masih tak mau?”, tanyanya. Lily menggeleng.


“Kau itu keras kepala!”, Sam menggerutu.


Lily meninju lengan Sam pelan, “Aku hanya tak mau mempermalukan diriku sendiri dan dirimu, Sam!”, dia masih berdalih.


“Ayolah, Lily…aku tak bisa memeluk gadis lain selainmu walaupun itu hanya untuk berdansa.”, Sam mencoba merayu. Hal itu membuat kedua pipi Lily memerah.


“Sam, mengertilah! Aku pelayan, aku harus tahu posisiku di sini. Kecuali jika kita telah menikah. Selain itu, aku tak mungkin bisa belajar berdansa dalam waktu singkat. Belum lagi…”, Lily menyentuh luka pipinya dengan sedih, “…luka ini.”. Sam menatap gadis itu, lalu mendesah. Dia menyerah.


“Baiklah. Tapi bagaimana jika aku berdansa dengan perempuan lain? Meskipun itu sahabatmu sendiri?”, Sam bertanya. Matanya menatap iris jade Lily dengan tajam. Lily membalas tatapan Sam dengan senyuman yang lembut.


“Tak masalah. Asalkan hatimu tetap terisi penuh oleh diriku.”, bisiknya.


Sam terkekeh, namun wajahnya sedikit memerah, “Jadi boleh aku memelukmu sekarang?”, tanyanya kemudian. Lily kaget, lalu melihat ke sekeliling dengan gugup.


“Tidak! Dan jangan bicara aneh-aneh!”, larangnya. Dia mundur menjauh dari Sam, seakan pemuda itu akan menerkamnya.


Sam kembali menggerutu kesal. Apalagi saat Lily langsung berjalan pergi meninggalkannya tanpa pamit.


Lily tertawa kecil mengenang kejadian itu. Dia lalu kembali melanjutkan kegiatannya mengaduk adonan kue sambil bersiul-siul riang. Membuat Rie dan Huin menatapnya dengan heran.


Lily membuka matanya di sebuah tempat serba putih, hangat, dan harum yang sudah sangat dikenalinya. Dunia Nefrisa. Tapi, kenapa dia kembali ada di sini? Bukankah semua sudah berakhir?


Matanya mengerjap bingung dan kemudian menengok ke arah pemuda yang ada di sebelah kanannya, pemuda itu juga menatap Lily dengan tatapan bingung.


“Kenapa kita di sini?”, tanya Sam. Lily mengangkat bahu.


“Oh kalian sudah datang…”, suara Nefrisa mengagetkan mereka berdua. Lily dan Sam langsung berbalik dan menemukan Nefrisa tengah berjalan mendekat.


“Ada apa ini?”, tanya Sam gusar. Lily juga menunggu jawaban dari Sang Dewi. Nefrisa tertawa kecil. Lalu saat dirinya sudah berada di depan kedua anak muda itu, dia menangkupkan tangan, dan membukanya kembali, sehingga cahaya hijau zamrud yang sudah sangat mereka kenali itu bersinar dengan kuat di hadapan mereka.


“Hati Zamrud…”, Lily berbisik lirih.


“Iya benar. Kau merindukannya?”, tanya Nefrisa pada gadis itu.


“Tapi bagaimana dia bisa ada di sini?”, Sam bertanya bingung.


“Bukankah tak ada yang mengatakan batu ini telah hancur? Dia hanya kembali ke tempat asalnya yang tak diketahui siapapun. Namun Raja Dewa memutuskan untuk memanggilnya, dan memintaku mengantarkannya pada kalian.”,


“Untuk apa?”, potong Sam. Lily menyikut lengannya, dia selalu tak suka dengan kebiasaan Sam yang hobi memotong perkataan orang lain.

__ADS_1


Nefrisa tersenyum, “Peganglah, hanya kau yang bisa menggenggam benda ini. Aku hanya mengantarnya saja sesuai perintah Raja Dewa.”, lalu menyodorkan cahaya itu ke Lily.


Seperti biasanya, Lily dapat merasakan sesuatu yang padat, halus, dan dingin menyejukkan di tangannya ketika menggenggam cahaya itu.


“Raja Dewa menghadiahkannya untuk kalian, pecahan batu mulia itu. Dia akan masuk ke dalam hati kalian dan mengikatnya dengan kuat.”, Nefrisa tersenyum.


Sam mendengus, “Apa dia tak akan merepotkan kami nantinya?”. Lily menatap tajam kekasihnya itu, mengisyaratkan padanya untuk tak bicara seenaknya sendiri.


Nefrisa menepuk lembut bahu Sam, “Justru dia akan menjaga kalian dengan baik. Ini hadiah. Maka kalian bisa menggunakannya jika diperlukan dan terimalah dengan tangan terbuka. Dan lagi…”, Nefrisa mendorong mereka berdua menjauh, “…jangan katakan pada siapapun tentang hal ini dan pertemuan kita.”.


Lalu Lily dan Sam berputar, mereka berdua kaget dan secara refleks berusaha saling menggapai tangan dan meneriakkan nama dengan panik.


“SAM!”, Lily terduduk dengan keringat membanjir di wajahnya. Putri Eloys menatapnya dengan wajah khawatir.


“Kau bermimpi buruk?”, tanya Sang Putri, kemudian duduk di sampingnya. Lily menyadari dirinya baru saja tertidur di sofa beludru di kamar Putri Eloys saat mereka telah selesai mencoba-coba baju yang akan dipakai di pesta dansa malam ini. Putri menjahit dan mendesainnya sendiri karena memang sejak kecil dia suka dengan hal-hal demikian, untuk menghabiskan waktu dan menghibur diri.


“Aku melihatmu kelelahan dan tertidur di sini, sehingga aku memutuskan untuk tidak mengganggumu. Namun setelah mendengar teriakanmu aku kemari dan menemukanmu sudah terbangun dari mimpi. Apa mimpi yang mengganggumu itu?”, Putri Eloys bertanya dengan cemas.


Lily menatap sahabatnya tersebut, mulutnya terbuka hendak menjawab, namun tiba-tiba ia ingat dengan larangan Nefrisa untuk memberitahukan pertemuan mereka bertiga dan apa yang terjadi tadi kepada siapapun. Berarti juga kepada Putri Eloys, meskipun dia pernah memiliki kekuatan Roh Nefrisa. Namun bagaimanapun kekuatan tersebut sudah hilang dari diri sahabatnya itu.


Lily menggeleng lalu tersenyum, “Bukan mimpi buruk, Yang Mulia.”, jawabnya. Putri Eloys masih terlihat cemas, namun melihat wajah Lily menjadi lebih rileks, dia akhirnya ikut tersenyum.


“Kau meneriakkan nama Sam…”, goda Putri. Membuat Lily langsung kaget, dan menunduk malu.


“Yah aku mengerti bagaimana rasanya...”, Putri tersenyum, “Hmm, daripada membahas perasaan menyakitkan itu, bagaimana jika kau melihat gaun warna jade yang sudah kubuatkan khusus untuk kau pakai malam ini?”, Putri Eloys mengedipkan satu mata padanya. Lily kaget.


“Eh? Gaun khusus untukku?”, tanyanya. Putri mengangguk, “Aku juga membuat untuk Rie, Huin, Olive, dan Fuzyne. Tapi desain dan warna gaun mereka berbeda denganmu.”.


Lily terlihat agak tidak nyaman, “Tapi, Yang Mulia…aku tidak enak jika terlihat berbeda dari mereka berempat.”. Putri terkikik dan menepuk bahunya.


“Lily, malam ini kau juga akan dianugerahi penghargaan, tak mungkin aku membiarkanmu memakai pakaian yang sama dengan pelayan bukan?”, tanya Sang Putri. Lily berpikir sejenak, namun akhirnya mengangguk menurut.


“Nah, sekarang ayo ikut aku! Kita coba bersama pakaian kita. Mereka berempat sudah menunggu kita di kamar ganti.”, Putri Eloys menarik tangan Lily, dan mereka berjalan bersama sambil bergandengan tangan menuju ruang ganti.


“LILY!!!”, Sam terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya masih berada di perpustakaan pribadi Ayahnya, dengan posisi duduk di kursi dan buku-buku berantakan di atas meja yang ada di depannya.


“Mimpi buruk?”, tanya suara yang tak asing, di dekat kupingnya. Sam yang kaget langsung menengok ke samping dan mendapati Ayahnya, Frank, menatap cemas padanya.


“Ah…eh…tidak juga…”, Sam gelagapan, dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Frank masih menatapnya khawatir. Namun melihat wajah putranya itu lebih rileks dan mulai memberesi buku-buku, dia tersenyum.


“Apa kau merindukannya?”, tanya Frank lembut. Sam kembali kaget dan menatap Frank kebingungan.


Frank menepuk bahu putranya dengan lembut, “Sebaiknya kau segera menikahinya saja.”, bisiknya.


“EH?!”, Sam kembali kaget, namun wajahnya memerah.


Frank tertawa kecil, “Sudahlah, segera beresi bukumu dan ikut aku ke ruang tamu. Eriez menunggumu.”, katanya sambil mulai beranjak pergi meninggalkan Sam.


“Eriez sudah datang, Ayah???”, tanya Sam semangat. Wajahnya cerah. Frank berbalik lagi menatapnya, tersenyum dan mengangguk.



Lily menatap dirinya di cermin dengan pipi memerah. Dia belum pernah mengenakan gaun sebagus dan semahal itu. Gaun berwarna senada dengan iris matanya, jade. Berbahan sutra. Dengan desain cantik berupa dress lurus sepanjang lutut dan lengan pendek. Putri Eloys juga menata sendiri rambut Lily dengan menguncirnya tinggi, serta meninggalkan dua juntai anak rambut di samping kiri dan kanan poninya. Pita warna senada pakaiannya mengikat rambut cokelat madu itu.


“Kau terlihat sangat cantik, Lily.”, Putri Eloys datang sambil tersenyum padanya. Dia memakai gaun warna merah marun panjang hingga menyentuh lantai, dengan pita merah muda di sekeliling perutnya. Warna gaun Putri disamakan dengan warna pakaian Sam, karena mereka berdua akan berdansa nanti malam. Rambut hitam sepinggang Sang Putri tergerai, dan dipercantik dengan mahkota kecil di bagian kepalanya.


“Kita berangkat sekarang, Yang Mulia?”, Lily bertanya. Putri Eloys mengangguk, lalu meraih tangannya. Mereka berdua keluar kamar ganti dan disambut keempat pelayan yang juga telah tampil cantik dengan gaun warna merah muda mereka.


Pengawal mengantar mereka keluar dan membukakan pintu, dimana mereka menemukan Sam tengah bersandar di tiang sambil membaca buku, keempat pengawal berdiri di dekatnya. Wajah Lily memerah saat melihat Sam. Pemuda itu memakai pakaian resmi Pejabat Istana dengan warna senada gaun Putri Eloys, dilengkapi dengan celana panjang warna putih. Tak lupa pedangnya berada di pinggang. Menambah kegagahannya.


Namun Lily langsung merengut saat melihat rambut cokelat tanah Sam yang masih sulit diatur. Selalu berantakan. Entah karena dia yang malas menata rambutnya atau memang pemuda itu sudah terkena kutukan ‘rambut berantakan’ sejak dilahirkan.


“Selamat malam, Tuan Panglima.”, Putri Eloys berjalan mendekati Sam, kelima gadis pelayan mengikuti di belakangnya. Sam terkejut melihat kedatangan Sang Putri dan langsung menunduk hormat padanya, tangannya masih membawa buku.


“Eh, ma..maaf..”, Sam yang masih gugup langsung menunduk untuk mengambil bukunya. Jantungnya berdegup tak beraturan, baru kali ini dia melihat Lily secantik itu. Yah, mungkin dia sudah pernah melihatnya namun tak menyadari kecantikan kekasihnya itu.


“Apa kau mau menggandengku berjalan, Sam?”, Putri Eloys menyodorkan tangan kanannya sambil masih berusaha menahan tawa. Lily menunduk saja, wajahnya masih terasa memanas karena sangat malu. Dia mengacuhkan Rie yang dari tadi menggodanya dengan mencoleki pinggangnya.


Sam mengangguk lalu meraih tangan Putri dan menggandengnya. Mereka berjalan dan kelima gadis pelayan mengikuti di belakang. Lily menatap mereka berdua dan merasa ada yang aneh. Lalu dia memutar bola matanya karena kesal melihat Sam masih membawa bukunya.


Lily mempercepat langkahnya dan mendekat ke belakang Sam sambil berbisik, “Kau tak akan berdansa sambil membaca buku bukan?”. Sam yang kaget mendengar suara Lily di belakangnya langsung berhenti, membuat Putri Eloys juga berhenti untuk menatap mereka berdua.


Lily mengulurkan tangannya, “Aku akan membawakannya untukmu.”. Sam tersenyum dan menyerahkan buku itu, dimana Lily langsung memasukkannya ke dalam tas kecil kesayangannya.


“Aku akan mengambilnya langsung padamu setelah acara, jangan menitipkannya pada siapapun atau aku akan membunuhmu!”, bisik Sam di telinga Lily, membuat pipi gadis itu bersemu merah. Putri Eloys kembali terkikik geli menatap kedua sahabatnya itu.


“Mari, Yang Mulia.”, Sam kembali meraih tangan Putri Eloys dan mereka kembali berjalan.


Dalam perjalanan tiba-tiba Sam berbisik ke telinga Putri, “Eriez menunggumu di balkon selepas acara pesta nanti. Jangan biarkan dia terlalu lama menunggu.”, dan membuat Putri Eloys langsung menatapnya kaget dengan pipi memerah.


Gedung Utama Istana sudah ramai dengan para tamu undangan. Pangeran Theo tampil dengan sangat menawan dengan Luisa yang menggandeng lengannya. Nefendril itu terlihat sangat cantik dengan gaun indah berwarna senada dengan pakaian Pangeran Theo. Hampir semua mata menatap mereka saat keduanya kemudian berdansa dengan anggun di antara para tamu yang lain.


Entah sejak kapan, tapi sepertinya Pangeran Theo dan Luisa memang mulai dekat setelah perang berakhir. Meskipun Luisa telah kembali ke Gua Nefrisa namun mereka sering berkirim surat. Bisik-bisik para tamu mulai membicarakan pasangan yang sangat serasi itu, Pangeran yang tampan dan Nefendril bermata auburn yang sangat cantik memesona.


Sam dan Putri Eloys masuk ruangan. Membuat semua mata langsung tertuju pada mereka. Para tamu yang berdansa langsung berhenti, begitupun musik yang mengalun di ruangan itu. Lily yang berjalan di belakang Sam melihat Eriez berdiri di bagian timur ruangan, bersama dengan Frei dan Frank. Pemuda itu tersenyum padanya, Lily membalasnya.


Eriez tampil menawan malam ini. Dengan pakaian berwarna krem berlengan panjang, dan celana berwarna cokelat tua. Rambutnya selalu rapi dan mata biru lautnya bersinar cerah. Dia tetap terlihat gagah meskipun tak memiliki lengan kiri yang utuh.


Raja Leon didampingi Ibunya, Ratu Marry, turun dari bagian panggung dan berjalan menuju tengah ruangan. Pencahayaan meredup dan hanya fokus pada tengah. Lily dan keempat temannya berjalan ke bagian pinggir. Meninggalkan Sam dan Putri Eloys, serta Raja Leon dan Ratu Marry di tengah ruangan.


Musik kembali mengalun dan mereka berempat mulai berdansa dengan lembut mengikuti alunan musik. Lily mendengar bisik-bisik beberapa tamu di dekatnya yang mengatakan kekaguman mereka pada Putri Eloys dan Sam yang snagat serasi. Lily tersenyum kecil, lalu merogoh tasnya, dan mengambil buku Sam. Gadis itu menatap judul buku bersampul biru tua tersebut.


MEMBANGUN MILITANSI DALAM SENI BERPERANG PASUKAN KERAJAAN


Lily kembali tersenyum saat membaca nama ‘Sam Putra Frank’ tertulis di bagian pojok kanan atas halaman pertama. Dia menutup buku itu dan memasukkannya lagi ke dalam tas.


“Sepertinya kau tak tertarik membacanya.”, suara berbisik di sampingnya membuat Lily kaget dan langsung menatap siapa pemiliknya. Eriez berdiri di sampingnya sambil tersenyum, di sebelah pemuda itu ada Pangeran Theo, Luisa, dan Frei yang menunduk hormat padanya.


“Eriez..!!”, Lily sudah dalam posisi hendak memeluk, namun Eriez segera mengisyaratkannya untuk menahan diri. Lily menunduk malu dan langsung tersenyum geli.


“Apa kabar, Anakku?”, Frei mendekat.


Lily mengangguk dan menjabat tangannya, “Aku baik-baik saja, Frei. Apa kabar teman-teman di sana? Dan hei…Luisa kau harus menceritakan semuanya padaku nanti!”, Lily menatap Luisa yang wajahnya memerah, lalu tersenyum menggoda ke Pangeran Theo yang terlihat salah tingkah.


“Sudahlah, jangan menggoda mereka…”, Eriez berbisik.


Lily tertawa dan kembali menatap pemuda itu, “Serigala-serigalamu sehat?”, tanyanya.


Eriez mengangguk, “Mereka menemaniku berpetualang. Dan aku bersyukur kini memiliki empat teman yang menyenangkan dalam perjalanku.”. Lily terlihat senang mendengarnya.


“Kau kembali lagi ke Jurg?”, tanya Lily.


Eriez menggeleng, “Sesekali aku akan ke sana, tapi aku sekarang tinggal di pondok kayu Kakekku. Nyaman sekali di sana.”.


Lily tersenyum, “Aku merindukan tempat itu.”, dan Eriez langsung menepuk pucuk kepalanya, “Yah, kau harus ke sana lagi kapan-kapan.”.


Raja Leon berdiri di podium dengan gagah. Dia mengenakan jubah beludru hitam resmi milik Raja Tan, dengan pakaian warna biru tua serta celana panjang warna putih di baliknya. Rambut hitamnya tersisir rapi, ditambah mahkota emas yang berkilau ditimpa cahaya lampu yang menawan di atas kepalanya.


“Suatu kehormatan bagi saya, selaku Pemimpin Tanah Tan Yang Mulia, dapat menjamu langsung tamu-tamu istimewa yang menghadiri pesta ulang tahun Ratu Marry, Ibu Kerajaan kami, sekaligus malam pemberian penghargaan kepada para pejuang dan Ksatria Perang kami yang gagah dan telah membawa kemenangan bagi Tanah Tan Yang Mulia ini.”,


“Malam ini sekaligus, secara langsung saya akan memberikan penghormatan kepada para pasukan, pejuang, dan perwira yang telah gugur di medan peperangan. Dimana nama mereka tak bisa saya sebutkan satu per satu, namun telah diukir dengan tinta perak di batu pualam yang terletak di pemakaman mereka.”,


“Para pejuang Agung yang juga telah rela gugur membela Tanah Tan meskipun mereka tak berada di medan perang bersama kami. Merdy sekutu setia kami.”, Raja Leon menatap Putri Eloys yang matanya mulai berkaca-kaca teringat sahabatnya itu, “Peramal Harold, peramal setia Tanah Tan yang juga sahabat Ksatria sekaligus Raja mulia kami, Yang Mulia Raja Brian.”, lalu menatap Eriez yang tersenyum padanya, “Dan, Yang Mulia Pangeran Alendril Putra Visius atas dedikasi dan cintanya yang tinggi pada Tanah Tan.”, Raja Leon diam sejenak, dia mendengar ruangan sedikit berisik dengan bisik-bisik para tamu mendengar nama Pangeran yang secara tak langsung menjadi dalang terjadinya perang besar di Tan itu disebut dalam penghargaan Raja. Namun Raja Leon tak mempedulikannya dan kembali melanjutkan pidatonya.

__ADS_1


“Saya akan memberikan penghargaan atas jasa Ksatria-Ksatria tangguh Tanah Tan yang telah berjuang dengan gagah berani di medan perang menumpas kekuatan gelap dari tanah ini untuk selama-lamanya. Dimana penghargaan ini adalah penghormatan tertinggi saya atas jasa mereka, dan menjadikan mereka bagian dari sejarah tak terlupakan Tanah Tan, selama-lamanya.”.


Raja Leon lalu turun dari podium, beberapa pengawal mengikuti, membawakan benda-benda yang akan dianugerahkan kepada para Ksatria.


Raja Leon kembali membuka mulutnya dengan suara yang lantang, “Dengan hormat saya mengundang kalian Para Ksatria untuk berdiri bersama saya di sini.”, lalu turun menuju bawah panggung. Ratu Marry mendatanginya untuk mendampingi.


“Sam Putra Frank!”, tepuk tangan hadirin menggema, Sam tersenyum pada Putri Eloys saat meninggalkannya untuk maju ke depan Raja Leon.


“Lily Putri Remedy!”, Lily kaget, namun langsung menyesuaikan diri dan pamit kepada keempat teman pelayannya, serta Eriez, Frei, Pangeran Theo, dan Luisa.


Sam menatap Lily di sampingnya, dimana si Gadis malah menunduk karena malu. Sam tersenyum geli melihatnya.


“Eriez Putra Tanus!”, Eriez dengan pedang di punggungnya berjalan menuju ke samping Lily.


“Yang Mulia Putri Eloys Putri Yang Mulia Raja Julius!”, Putri Eloys mengangkat gaunnya, dan berjalan menuju samping Eriez. Mata mereka bertemu. Ingin rasanya Putri melompat dan memeluk pemuda itu, namun Eriez mengangguk padanya, mengisyaratkan pada gadis itu untuk menahan diri dulu.


“Tuan Frei, pemimpin Kaum Nefendril Yang Mulia!”, Frei berjalan dengan anggun membawa Neolathnya. Frank tersenyum menatapnya.


“Yang Mulia Pangeran Theo Putra Yang Mulia Raja Gareth dari Kerajaan Cha!”, Pangeran Theo tersenyum pada Luisa dan berjalan menuju samping Frei.


“Luisa, Panglima Nefendril Yang Mulia!”, Luisa mengangkat gaunnya dan berjalan di samping Pangeran Theo. Iris auburnnya bertemu dengan iris orchid Raja Leon. Raja Leon menatapnya dan tersenyum. Luisa langsung menunduk.


“Serta…”, Raja Leon terdiam sebentar, “…Teshra, Raja Naga Yang Agung, yang akan selalu hidup di hati kami semua!”.


Suasana berubah hening. Sam menunduk sedih. Entah mengapa dia menginginkan kehadiran naga itu di sampingnya, saat ini. Lily menatap Sam diam-diam, dan ikut merasakan kesedihan pemuda itu.


Raja Leon mengambil Pedang Visius dan berjalan ke depan Sam, “Kuanugerahkan pedang pusaka Kerajaan Tan, pedang kebanggaan, lambang kehormatan Tanah Tan ini, kepadamu!”, sambil menyerahkan pedang itu pada Sam. Tentu saja pemuda itu kaget, namun dia segera menguasai diri dan mengangguk hormat kemudian menerima pedang itu. Tepuk tangan riuh menggema di seluruh ruangan. Sam melirik Lily, dan gadis itu tersenyum bangga padanya.


Raja Leon kemudian menganugerahkan pada Lily, Eriez, Putri Eloys, Frei, Luisa, dan Pangeran Theo lencana kehormatan yang dipasang di dada mereka masing-masing. Setelahnya, dia meminta semua hadirin mengheningkan cipta untuk mengenang dan mendoakan para Pejuang, Ksatria, Pahlawan, Merdy, Pangeran Alendril, Peramal Harold, dan Teshra yang telah kembali ke alam sana.


“Apa kau menunggu lama?”, Putri Eloys muncul di pintu, dekat balkon. Eriez yang sedari tadi menatap langit malam dengan bintang-bintangnya, langsung kaget dan berbalik. Dia terkesima melihat kecantikan kekasihnya itu. Kelima gadis pelayan di belakangnya mundur dan pamit.


“Aku akan menemui kalian kalau sudah selesai.”, bisik Putri pada mereka, yang langsung mengangguk patuh.


Putri Eloys berjalan anggun, mendekati Eriez. Mata mereka bertemu. Eriez tersenyum dan membuka lengan kanannya yang utuh, dimana Sang Putri langsung melompat masuk ke dalam pelukan itu.


“Aku merindukanmu.”, bisik Eriez di telinga Putri Eloys.


“Aku juga. Dan rasanya sangat menyakitkan.”, balas Sang Putri.


Mereka berpelukan sangat lama, melepaskan kerinduan yang teramat dalam di antara mereka. Ratu Marry yang berjalan dengan Raja Leon setelah menyapa tamu para Bangsawan dari Tanah Kressia tak sengaja lewat dan melihat kedua anak muda yang sedang kasmaran itu.


Ratu Marry tersenyum, lalu menatap Putranya, “Mereka terlihat bahagia bukan?”, tanyanya. Raja Leon menatap mereka, lalu mengangguk.


“Kau tak ingin menikah, Anakku?”, tanya Ratu Marry, membuat Raja Leon kaget, lalu menunduk menatap Ibunya itu.


Raja tersenyum, menggandeng tangan Ratu untuk kembali berjalan, “Setidaknya setelah aku memastikan Eloys menikah dan hidup bahagia dengan Eriez setelah ini”, bisiknya.


Ratu Marry tersenyum, “Yang Mulia Julius pasti sangat bangga dengan kalian saat ini.”, balasnya sambil mengangguk.


Pangeran Theo merogoh saku celananya dan mengeluarkan cincin emas dengan intan merah berkilau di bagian tengahnya. Luisa menatap benda itu kaget, lalu menatap Pangeran Theo dengan bingung.


Pangeran Theo salah tingkah, menggaruk tengkuknya, “Ini milik mendiang Ibuku…yah jika kau tak keberatan menerimanya…”, gumamnya.


Luisa semakin kaget, wajahnya memerah, “Maksud, Yang Mulia?”, tanya Nefendril itu.


Pangeran Theo makin salah tingkah, mereka diam untuk beberapa saat. Lalu setelah berhasil mengatasi rasa gugupnya, Pangeran tampan itu menatap kedua iris auburn Luisa.


“Jika kau tak keberatan mendampingiku, maksudku…menikah denganku.”, kata Pangeran Theo,  lalu menunduk. Wajahnya memerah.


Luisa menutup mulutnya dengan tangan kanan karena kaget. Air bening sudah berada di ujung kedua matanya.


Sam menatap ke arah lima gadis pelayan pribadi Putri Eloys. Frank yang sedang bersamanya dan dua Bangsawan Kressia, menatap anak laki-laki semata wayangnya itu sambil tersenyum.


“Pergilah!”, bisik Frank. Sam menoleh kaget. Frank mengangguk meyakinkannya. Setelah mendapat izin Sang Ayah, Sam segera berjalan dengan cepat sambil menenteng Pedang Visius. Pedangnya sendiri masih bertengger anggun di pinggangnya.


“Aku mau mengambil bukuku.”, Sam sudah berada di belakang Lily. Membuat Lily berbalik kaget saat menatapnya. Keempat teman pelayannya berbisik-bisik tertarik.


Lily menatap keempat temannya, salah tingkah. Rie langsung mendorongnya, “Pergilah ke tempat yang sepi!”, suruhnya sambil tertawa menggoda.


Wajah Lily memerah, namun dia segera berjalan pergi dan Sam hendak mengikutinya. Sebelum pergi, Sam tersenyum pada keempat gadis pelayan itu. Dan apa yang dilakukannya itu berhasil membuat mereka berempat menjerit kegirangan, “Astaga! Dia tampan sekaliii…!”.


Sam terus berjalan di belakang Lily sampai mereka berhenti di taman dekat rumah Lily. Tak ada siapapun di sana. Lily berhenti, membuka tas dan merogohnya. Kemudian mengambil buku dan berbalik untuk menyerahkan benda itu ke Sam.


Sam berjalan mendekat, mengambil bukunya dengan tangan kiri. Tangan kanannya masih memegang Pedang Visius. Lily tersenyum menatap pedang itu.


“Pedang yang gagah bukan?”, Sam mengangkatnya, membuat pedang bersarung hitam pekat itu berkilau ditimpa cahaya. Lily mengangguk.


“Apa kau mau menyimpannya untukku?”, tanya Sam.


Lily kaget, “EH?”, tanyanya. Sam berjalan lebih dekat, lalu menyodorkan benda itu pada Lily. Lily masih bingung.


“Aku tak memiliki cincin atau semacamnya, kau tahu…”, Sam menggumam pelan.


Lily masih bingung, tak mengerti maksud kekasihnya itu. Sam mendesah pelan, lalu menatap tajam iris jade Lily.


“MENIKAHLAHDENGANKUBODOH!”, teriak Sam tiba-tiba. Membuat Lily hampir terjungkal jatuh karena kaget, dan juga dia bingung karena teriakan Sam itu tidak terdengar dengan jelas bahasanya.


“Hei! Bicara yang benar!”, Lily merengut sambil memukulkan tangannya ke lengan Sam. Sam mendesah, dia diam sejenak.


“Terima dulu saja pedang ini. Simpan untukku!”, katanya.


“Tapi untuk apa?”, tanya Lily masih bingung.


“Sudah simpan saja…”, Sam menyodorkan paksa pedang itu, dan Lily menerimanya dengan masih kebingungan.


“…menikahlah denganku…!”, bisik pemuda itu pelan.


Lily masih berusaha menangkap apa yang dikatakan pemuda itu dengan baik. Setelah sadar bahwa Sam melamarnya, wajah Lily langsung memerah dan dia menunduk malu.


“A…aku…”, Lily tak mampu meneruskan kata-katanya. Sam menatap pucuk kepala gadis itu, lalu meraihnya ke dalam pelukan.


“Ini perintah. Tak boleh ada penolakan.”, bisik Sam pelan.


Lily tersenyum, dan membalas pelukan Sam, dan menggenggam Pedang Visius erat-erat.


“Jadi kau sudah memintanya?”, suara menggelegar mengagetkan Sam. Sam menyadari dirinya ada di Dunia Nefrisa dan berbalik ke arah asal suara.


Sesosok naga dengan sisik amber emasnya tersenyum pongah padanya. Sam membalas senyum itu dengan seringai.


“Kau merindukanku?”, tanya Sam sambil berjalan mendekatinya.


Teshra tertawa keras, “Aku hanya khawatir mulutmu tak dapat mengeluarkan kata-kata yang baik saat melamarnya.”, elak Teshra. Sam menatapnya kecut sambil berkacak pinggang.


“Yah, semacam mengatainya ‘bodoh’, ‘idiot’…padahal kau sangat mencintainya.”, Teshra menunduk dan menggoda Sam.


Sam tertawa, “Aku akan membunuhmu saat kita bertemu kelak di alam sana, Naga Bodoh!”.


Teshra kembali terbahak, “Tentu saja aku yang akan menginjakmu sampai mati terlebih dahulu sebelum kau mampu melakukannya, Anak Bodoh!”.


Sam terbangun, dia duduk di atas kasurnya. Sebelum acara pesta dansa selesai, dia merasakan badannya sangat kelelahan sehingga setelah melamar Lily dia langsung pulang, tanpa ingat kembali lagi ke Gedung Utama, dan memutuskan tidur tanpa berganti pakaian terlebih dulu. Hasilnya, dia mendapati dirinya bermimpi dan bangun masih berpakaian lengkap seperti di pesta tadi.


Sam tersenyum, lalu menatap bulan purnama dari balik jendela kaca kamarnya itu.

__ADS_1


“Akhirnya…”, bisiknya pelan.


__ADS_2