
Ribuan Orb pada akhirnya berhasil ditumbangkan, saat Pemimpin Orb mati terbunuh oleh panah yang ditembakkan oleh Raja Leon. Raja Leon terduduk dengan lemah, masih memegang busurnya. Naga Amber yang menggantung di dadanya berpendar sangat kuat.
Dia mengetahui kelemahan Orb, dan berhasil mengenali Pemimpinnya, berkat tuntunan kekuatan dari batu Amber itu. Pangeran Theo tergopoh menghampirinya, membantunya berdiri.
“Apa ada korban jiwa?”, tanya Raja Leon.
Pangeran Theo menggeleng, “Hanya beberapa pasukan terluka, namun tidak parah. Kita beruntung, Perdana Menteri memberitahukan jauh lebih awal tentang serangan ini. Jika tidak…”, Pangeran Theo menutup matanya, bayangan kehancuran Istana Cha, dan Ayahnya yang telah tiada kembali hadir di benaknya.
Raja Leon menepuk bahunya, “Kita harus bersiap.”, bisiknya.
Pangeran Alendril menatap langit yang kembali menggelap. Senyum terkembang di wajahnya yang rupawan. Dia kembali menutup kepalanya dengan tudung mantel, dan melangkah mendekat ke pondok kayu yang berada 10 langkah di depannya tersebut.
“Jadi Orb-orb itu berhasil ditumbangkan? Tak masalah. Toh tujuanku mengalihkan fokus mereka saat ini telah berhasil.”, gumamnya. Dia kini telah berada di depan pintu pondok itu, mengetuknya pelan.
Seorang kakek tua membuka pintu, dan menatap siapa tamunya itu dengan terkejut, serta sedikit ketakutan.
Pangeran Alendril mengangguk hormat, dengan sopan dia menyapa, “Selamat malam, Tuan Harold.”.
Suara ketukan terdengar di luar, membuat Lily dan Sam segera melepaskan diri dari pelukan dan saling pandang.
“Biar kubuka.”, bisik Lily. Gadis itu lalu berjalan menuju pintu, membukanya, dan menemukan Eriez ada di hadapannya. Sejenak menatap Lily, kemudian matanya mengobservasi dalam kamar, menemukan Sam yang juga tengah menatapnya.
“Kita perlu bicara.”, kata Eriez. Sam mendengus, dia terlihat malas, namun akhirnya bangkit juga mengikuti Eriez.
“Ada serangan Orb di Istana.”, Eriez memulai percakapan saat mereka berjalan bersama menuju ruang utama. Sam yang berjalan di belakangnya terlihat sedikit kaget, namun kembali menunduk, menatap kedua kakinya yang melangkah di atas lantai.
“Aku tak tahu apa yang terjadi sebelumnya, tapi kami semua membutuhkanmu.”, Eriez kembali melanjutkan, tanpa menghentikan langkah maupun berbalik menatap kawannya tersebut.
“Kita sudah melangkah terlalu jauh, kita sudah hampir menuju puncak dari apa yang selama ini telah lama menunggu kita. Banyak yang berada di barisan ini. Mulai dari Raja dan seluruh pasukannya, para Nefendril, Raja Naga, teman-temanmu ini, para Serigala, dan rakyat tak berdosa. Kami semua ingin mengakhiri hal ini. Membebaskan Tanah Tan dari kutukan kebencian kekuatan gelap selama-lamanya.”,
Eriez menghentikan langkahnya, kali ini dia berbalik untuk menatap Sam, “Sekali lagi aku mungkin tak memahami apa masalahmu saat ini. Tapi seberat apapun masalah kita, kita tidak sedang berjuang sendiri. Apalagi kau. Kau harapan mereka, harapan kami. Kau berjuang bukan untuk dirimu sendiri atau orang yang kau cintai saja, namun juga untuk tanah ini, dan untuk nyawa yang tak berdosa.”.
Sam menatap iris biru laut sahabatnya itu. Ada hal yang berbeda dari diri Eriez yang selama ini dikenalnya. Dia merasa, pemuda itu telah berubah menjadi sosok yang jauh lebih kuat, bahkan darinya. Dia pernah berpikir, bahwa Eriez satu tingkat di bawahnya dari segi semangat, kelihaian berpedang, dan tak-tik peperangan. Namun sekarang, Eriez yang ada di hadapannya jauh lebih berkembang. Dalam latihan terakhir mereka, Sam menyadari bahwa semangat Eriez untuk menghadapi peperangan, serta kemampuannya berpedang telah hampir menyamainya. Dan kini, ketika semangatnya tercabik-cabik oleh kenyataan yang baru saja diketahuinya dari Alendril tadi, membuatnya semakin sadar bahwa dia sudah jauh tertinggal dari sahabatnya itu.
Sam tersenyum, lalu menunduk sedih, “Maafkan aku. Aku butuh waktu. Aku janji, setelah aku tenang, aku akan segera bergabung lagi.”. Eriez menatapnya, mereka diam cukup lama.
Lily yang ada di belakang Sam kemudian maju dan menatap Eriez, “Aku yang akan menjaminnya sendiri, bahwa pemuda ini akan segera kembali. Kalau tidak, maka aku akan membawa kepalanya untuk kalian.”.
Mendengar kata-kata Lily tadi, Eriez langsung terbahak. Pemuda itu menepuk bahu Sam, “Baiklah. Aku akan mengatakan pada mereka kau sudah tidur karena kelelahan.”, lalu menatap Lily, “Tak perlu membawa kepalanya, kalau seluruh tubuh dan hatinya sudah bisa kau bawa.”, sambil mengedipkan satu matanya. Wajah Lily langsung memerah, dan Eriez masih terbahak meninggalkan mereka tanpa dosa.
“Dia benar-benar berubah, kau tahu?”, Sam berbisik pelan. Lily menatapnya, melihat senyum kecil di wajah kekasihnya itu.
Sam lalu membalas tatapannya, “Aku pertama mengenalnya saat aku dan Ayah mengunjungi Jurg untuk menjadi guru tamu di tempat dia mengajar panahan. Kami sempat mengira bahwa kami tak cocok. Dia sangat ramah dan kupikir dia itu naif, sedangkan aku sangat tidak bersahabat dan dia pikir aku sombong. Selama sebulan kami bersama, akhirnya kami merasakan kecocokan. Kami memiliki semangat untuk terus berkembang, belajar, dan menginginkan masa depan yang baik untuk Tanah Tan ini.”,
“Dia pernah sekali berkencan dengan seorang gadis di Jurg, dan dia merasa sangat menyesal karena hal tersebut. Gadis itu memaksanya berkencan, karena dia sangat tergila-gila kepada Eriez. Eriez diminta menemaninya belajar dan kemanapun, namun justru kemudian dia meninggalkan Eriez untuk menikah dengan seorang saudagar dari Kressia.”, Sam tersenyum.
“Kupikir itulah yang membuatnya merasa bahwa urusan perempuan itu hanya merepotkan saja, sama sepertiku. Bedanya…”, Sam melirik Lily, “…kalau aku sih karena tak pernah mengenal perempuan sepertimu sebelumnya, jadi aku tak tahu bahwa jatuh cinta itu ternyata mengasyikkan.”, senyum usilnya mulai berkembang.
Lily mengerucutkan bibirnya lalu meninju pelan bahu Sam, “Kau sepertinya memang butuh istirahat, otakmu bergeser dari porosnya.”, dan menarik lengan pemuda itu untuk kembali ke kamar Teshra.
Peramal Harold mempersilahkan tamunya duduk, ada kecemasan dan ketakutan di wajahnya melihat lelaki dengan perawakan usia 47 tahun tersebut. Dia sudah tau siapa lelaki di depannya itu. Alendril tersenyum lembut menatapnya, lalu mengucapkan terima kasih dan duduk di kursi beludru.
“Mohon maaf atas gangguan kecilku, Tuan Harold. Aku kesini karena ingin membicarakan sesuatu.”, Alendril melepaskan mantelnya, senyum manis masih menghiasi wajahnya.
__ADS_1
Peramal Harold teringat sebuah kisah kuno yang dibacanya, bahwa Pangeran Alendril adalah sosok lelaki tampan dengan kesopanan yang tak bisa ditandingi siapapun. Dia cerdas dan sangat lihai dalam masalah bela diri dan seni berperang lainnya. Meskipun dia senang menyendiri dan tak menyukai bergaul dengan siapapun kecuali adiknya, Voctorius.
“Bagaimana Yang Mulia bisa ada di masa ini?”, tanya Peramal Harold.
Alendril tersenyum, “Oh, ini pertanyaan hanya untuk berbasa-basi kan? Kukira kau sudah bisa meramalkannya, Tuan Peramal.”. Peramal Harold menelan ludahnya.
Alendril tertawa kecil, “Kumohon bersantailah, Tuan, aku ke sini hanya untuk mengobrol, kau tak perlu setakut itu padaku. Aku juga tak membawa senjata apapun.”, Alendril membuka kedua tangannya, tak terlihat dia membawa pedang atau semacamnya. Namun itu tak membuat Peramal Harold kehilangan ketakutannya, dia bisa merasakan aura kegelapan yang sangat pekat di sekitar dan dalam diri putra pertama Raja Visius Yang Agung tersebut.
“Aku hanya ingin bertanya saja, bagaimana kabar cucumu…”, Alendril mencondongkan tubuhnya mendekat, iris biru lautnya menatap iris kelabu Kakek Harold, “…yang memiliki mata secerah diriku?”. Kakek tua itu merasakan jantungnya mulai berdegup tak beraturan, keringat dingin membanjiri tubuhnya.
“Sudah kukatakan, kau tak perlu takut, aku hanya bertanya.”, Pangeran Alendril menarik tubuhnya lagi dan duduk tegak.
“Tolong…jangan sakiti dia. Dia tak tahu apapun.”, desis Peramal Harold.
“Oh…kalau begitu dia harus tahu…”,
“Jangan! Kumohon, Yang Mulia…”, Peramal Harold berdiri dan membungkuk dalam-dalam, memohon pada lelaki di depannya itu.
“Kenapa? Dia memiliki darah yang sama dengan darah yang mengalir padaku. Tak bolehkah aku mengajaknya reuni?”.
Peramal Harold menggigit bibir bawahnya, ‘ini buruk’ pikirnya.
Pangeran Alendril lalu bangkit, berjalan menuju rak buku kayu milik Kakek itu, mengambil satu buku yang bersampul hitam beludru, dan membuka halaman demi halamannya.
“Menurut ramalan, akan ada 4 orang anak muda yang berjalan bersama. Dua orang berdarah bangsawan Visius, dan orang lagi tidak. Satu memiliki kekuatan Roh Nefrisa, yang bisa memanggil dan membangkitkannya. Satu orang lagi adalah Sang Penunggang Raja Naga. Dua yang lainnya, bukan orang sembarangan. Karena yang satu orang adalah wujud dari Hati Zamrud Yang Mulia, dan satu lagi…”, Pangeran Alendril menatap Peramal Harold, “…keturunan terakhir dari Kaum yang Telah Dimusnahkan.”, dia tersenyum.
Lelaki itu lalu mengembalikan buku tersebut ke rak, kemudian mengambil satu buku lain yang bersampul hijau tebal, membolak-balik halamannya lagi.
“Kaum Sementy adalah Kaum yang Terkutuk, karena menjadi sekutu kekuatan gelap yang dipimpin oleh Pangeran yang Dikutuk oleh Alam Semesta. Kaum Sementy tak akan pernah bisa bersatu dengan Kaum Nefendril yang sangat setia kepada Tanah Tan, karena mereka memiliki ikatan yang kuat dengan kaumnya. Jika ada satu keturunan Sementy yang dihina atau disakiti, mereka rela mengkhianati tanah ini demi membelanya. Berbeda dengan Kaum Nefendril yang akan tetap setia berada di sisi kesetiaan pada tanah ini, meskipun keturunannya dihinakan atau disakiti sekalipun.”,
“Pertapa Tan tahu tentang kasih sayang kaum Sementy pada sesamanya, itulah mengapa dia jatuh hati pada Clement, Nenek kami. Dan begitupun dengan Yang Mulia Visius, dia menikahi Ibuku, Kristelle, karena jatuh cinta pada kelembutan hatinya.”,
Pangeran Alendril meletakkan buku bersampul hijau itu, berjalan menuju Peramal Harold, tersenyum, “Tapi, sudah menjadi jalannya bahwa keturunan bangsawan Visius bersama dengan darah Sementy akan kembali memimpin Tanah ini ke depannya.”.
Peramal Harold bingung, “Apa maksud Anda?”.
Pangeran Alendril tertawa kecil, “Meskipun perang ini berakhir, dan aku kalah, aku tak akan mempermasalahkannya. Karena tujuanku bukan hanya untuk menguasai Hati Zamrud saja, atau untuk mewujudkan keabadian Jadze saja, atau untuk menguasai Negeri ini jika aku memenangkan perang. Namun lebih dari itu, aku ingin menciptakan penderitaan sesudahnya pada mereka Yang Terkutuk, terutama keturunan kaum Nefendril.”,
“Adikku di masa lalu, dan Raja kalian di masa kini tak akan menikah, karena dia memang tak ditakdirkan menikah. Dia akan mati bersamaku di perang nanti, dan yang akan memegang tahta adalah saudaranya. Saudaranya perempuan, dan perempuan terlarang di tanah ini untuk menjadi pemimpin, maka yang akan memimpin adalah suaminya atau anak lelakinya.”,
Pangeran Alendril menatap langit-langit dengan wajah puas, “Tak ada yang lebih dicintai oleh Putri tanah ini, adik dari Yang Mulia Raja kalian, selain pemuda itu, cucumu, Eriez Putra Tanus, bukan?”.
Peramal Harold terbelalak kaget, ada serangan yang seketika seperti menarik jantungnya keluar dari tubuh, membuatnya terduduk lemas.
“Darimana Anda…”, desis Kakek itu pelan.
“Oh kau lupa? Bangsa Sementy adalah bangsa dengan otak lebih cerdas dibanding manusia maupun Nefendril, itulah mengapa mereka memiliki kekuatan meramal yang lebih baik dari kedua bangsa tersebut. Dan lagi, saat itu aku berpikir Tanus tak ada bersama kaumnya mungkin ingin menenangkan diri. Namun setelah aku berada di medan perang lagi, aku sadar, bahwa kesetiaan Tanus pada Pertapa Tan dan Tanah ini lebih kuat daripada kecintaannya pada kaumnya sendiri. Aku sengaja tak mencarinya. Karena membiarkan dia seorang diri tak akan berdampak apapun padaku, tak ada dia dalam pasukanku pun tak masalah. Lagipula mencarinya hanya membuang-buang waktuku saja.”,
“Itulah mengapa aku tak heran jika dia memutuskan melarikan diri, dalam kehidupannya yang abadi, dia sampai beratus-ratus tahun menyendiri, dan entah bagaimana caranya bertemu dengan Putrimu yang cantik jelita, menikah dan melahirkan pemuda itu.”,
“Tak ada yang memiliki mata sebening Eriez, kecuali Bangsa Sementy.”, bisik Pangeran Alendril di telinga Peramal Harold.
“Yang Mulia, apakah Anda tidak lelah?”, tanya Kakek itu lemah, “Anda telah menanamkan kebencian dan dendam dalam diri Anda begitu lama, menghabiskan kaum Ibu Anda untuk membangkitkan kebencian lebih dalam, bangkit lagi di masa kini untuk kembali menebarkan kebencian tersebut, apakah tak sekalipun Anda ingat betapa bahagianya saat Anda memandang tanah ini penuh dengan kedamaian?”.
Alendril menatap lelaki tua tersebut, lalu tersenyum, “Aku adalah Sang Terkutuk, Tuan Harold. Alam Semesta telah mengutukku, menghinakanku. Karena aku telah membangkitkan kekuatan hitam, mencuri kekuatan Naga Amber yang suci, menghabisi salah satu Bangsa Suci milik Para Dewa, dan memberikan kutukan kegelapan pada ketiga ksatria yang menjaga kedamaian tanah ini.”,
“Aku hanya ingin menjalani apa yang sudah menjadi jalanku. Kembali mengulang kejadian masa lalu, mengulangnya lagi, lagi, dan lagi. Karena bagaimana pun aku kelak tetap akan pergi ke Neraka. Tak akan lagi bisa bersama dengan Ibuku, atau Adikku Voctorius.”.
Peramal Harold menatap Pangeran Alendril, ada sedikit rasa iba yang menjalar dalam hatinya, “Setahu saya, Anda bukanlah orang yang menyukai peperangan dan pertumpahan darah.”.
__ADS_1
Sang Pangeran menatapnya, mengangguk, “Benar. Aku benci melihat banyak mayat bergelimpangan, meskipun aku menyukai seni bela diri dan menggunakan senjata. Namun, aku lebih benci pada ketidakadilan. Sehingga ketika ketidakadilan berada pada negeri ini, dimana perempuan yang adalah Ratu dihinakan dengan tuduhan makar, atau seorang Pangeran yang dituduh sebagai pembunuh Ayahnya sendiri, atau bahkan suatu kaum yang dibiarkan musnah karena dituduh tak setia sebab membela sang Terhina, maka aku lebih memilih berada dalam peperangan dan pertumpahan darah demi mengembalikan keadilan tersebut.”.
Peramal Harold memotong, “Tapi itu sudah lama, Yang Mulia..”,
“Dan karena dalih kejadian lama itulah, sejarah Tanah Tan telah dibelokkan terlalu jauh. Tak ada yang mengenal Ratu Kristelle yang telah jatuh bangun membersamai Visius Yang Agung di masa lalu untuk membangun negeri ini sampai naik tahta. Tak ada yang mengenal Kaum Sementy dengan kecerdasannya yang mampu menyumbangkan banyak ilmu pengetahuan bagi rakyat tanah ini. Tak masalah jika tak ada yang mengenalku, karena aku hanya bayangan di belakang Voctorius. Bukan masalah tahta saja yang membuatku murka, namun mereka yang telah merenggut kebahagiaan orang lain adalah sesuatu yang paling membuatku murka.”.
Suasana kembali hening, angin dingin masuk perlahan melalui celah-celah jendela. Pangeran Alendril tersenyum menatap Peramal Harold, “Bagaimanapun, kaum Sementy dan Nefendril memang ditakdirkan bertemu. Terutama dalam hal perselisihan.”, lelaki itu lalu menepuk bahu Sang Kakek. Iris biru lautnya menatap tajam ke dalam iris kelabu Peramal Harol, membuat Kakek itu merasakan sensasi seperti diikat kuat oleh tali yang membuatnya tak bisa bernapas.
“Kau sudah terlalu banyak tahu, dan sudah saatnya juga kau beristirahat dari tugasmu. Selamat tinggal, Tuan Peramal.”, dan dengan sekali sentakan yang berasal dari tatapan mata itu, nyawa Peramal Harold lepas dari tubuhnya, membuatnya terkulai lemah di tanah.
“Oh aku paling malas jika harus melakukan ini, karena meskipun aku mempengaruhi anak itu seklaipun aku tetap tahu dia akan berada di sisi mana. Tapi mau bagaimana lagi ya, si Tua ini sudah tak berguna sih…”, gumam Sang Pangeran santai, sambil memakai lagi mantelnya.
Putri Eloys menatap pemandangan serba putih di sekitarnya. Aroma harum dan sensasi hangat juga ikut membelai tubuhnya. Dia sadar dimana dia sekarang. Dunia Nefrisa.
Putri Eloys membalikkan tubuhnya, dan menemukan Nefrisa sedang tersenyum padanya, “Aku telah bangun, karena Hati Zamrud sudah bergabung dengan kekuatan Ksatria Terpilih dan Raja Naga Teshra.”, Nefrisa mendekat, kemudian membelai rambut hitam Putri Eloys.
“Maafkan aku tidak banyak membantumu, Sayang. Setelah ini kita akan bersama-sama menyatukan kekuatan dengan Hati Zamrud, Teshra, dan Sam Putra Frank. Apa kau siap?”.
Putri Eloys mengangguk, “Apakah peperangan sudah di depan mata?”, tanyanya. Nefrisa mengangguk.
“Kita pasti akan menang, Sayang. Namun…”, Nefrisa terlihat sedih.
“Apa?”, tanya Putri Eloys.
Nefrisa masih diam, kemudian menyentuh pipi gadis itu dengan lembut, “Ada yang ingin kusampaikan, ini berita buruk, dan satu lagi adalah hal yang harus kau ketahui.”.
Dada Putri Eloys seketika terasa sesak, perkataan Nefrisa tentang sesuatu yang buruk membuatnya sedikit trauma. Apakah ini tentang kehilangan seseorang yang sangat dicintainya lagi?
“Katakan. Aku siap.”, bisik Putri Eloys lemah.
Nefrisa mengangguk, lalu meraih Putri dalam dekapannya, “Pertama, aku turut berduka cita atas meninggalnya Peramal Harold…”,
Putri Eloys terkejut, matanya seketika langsung berair, dia mendongak menatap Dewi itu.
“Ka..Kakek?”,
“Iya, Kakeknya Eriez… Pangeran Alendril mendatanginya baru saja.”.
Putri Eloys menangis tersedu, menutup wajahnya dnegan kedua tangan. Meskipun baru sekali bertemu dengannya, namun dia merasa sangat kehilangan. Selain kebaikan Peramal Harold, juga karena dia adalah kakek Eriez, kekasihnya.
“Ba..bagaimana dengan Eriez?”, tanya Putri. Nefrisa menatapnya dengan lembut,
“Teshra akan segera memberitahunya dan siapa yang menyebabkannya meninggal, karena…”, Nefrisa menatap iris orchid Putri Eloys lekat-lekat, “…itu akan membuatnya yakin bahwa dia berada di sisi yang benar.”.
Putri Eloys bingung, “Maksudnya?”.
“Pangeran Alendril mungkin akan berusaha mempengaruhi Eriez karena mereka sedarah.”,
“SEDARAH???”, Putri berteriak.
Nefrisa mengangguk, melepaskan pelukannya, “Ini adalah rahasia yang harusnya hanya kami yang tahu…namun pada akhirnya ini semua harus disampaikan sebelum menimbulkan kesalahpahaman.”,
Nefrisa memegang kedua bahu Putri, “Dengar, Sayangku… Eriez kekasihmu, adalah keturunan dari Sementy terakhir, yang beratus tahun hidup bersama Nefendril, setelah dia melarikan diri dari pasukan milik Alendril.”.
Putri Eloys membuka mata. Nafasnya terengah-engah. Dia meremas dadanya dengan kuat, merasakan sesak yang tak biasa.
Lily ikut terbangun dan menatapnya dengan khawatir, “Ada apa, Yang Mulia?”.
__ADS_1
Putri Eloys menatap sahabatnya itu, lalu dengan pelan berkata, “Aku harus menemui Eriez sekarang!”.