Hati Zamrud

Hati Zamrud
Tanah Perbatasan


__ADS_3

“Namaku adalah Teshra. Aku adalah makhluk penunggu Tanah Tan yang diperintahkan untuk menjaga tanah ini dari serangan sihir hitam yang begitu kuat berada di dalam inti Bumi. Kenapa tanah ini begitu istimewa padahal tandus? Karena tanah ini menyimpan kekuatan besar, yaitu sebuah batu mulia berwarna zamrud yang hanya dewa yang mampu merasakan keberadaannya. Batu itu awalnya berada dalam diriku, menjadi kekuatanku. Namun karena aku tertidur terlalu lama di dalam Bumi, akibat sihir jahat mulai kuat memberikan tiupan-tiupan tipuannya sehingga membuatku terlelap, maka batu itu juga terkubur dalam-dalam, bahkan aku pun tak lagi mampu merasakannya sekarang.”,


“Kini, demi menyegel kekuatan jahat itu agar tak semakin merusak Bumi, aku akan melepaskan sebagian kekuatanku itu, sehingga batu mulia itu bisa keluar, sebab dia memiliki sebagian kekuatanku. Namun karena dia adalah batu mulia yang menyimpan kekuatan gabungan antara diriku, Pertapa Tan, dan Dewi Nefrisa, maka tak sembarang orang bisa menemukannya, hanya dewa yang bisa merasakannya. Namun bahkan dewa sekalipun tak mampu menggenggamnya, karena….hanya perempuan terpilih, yang memiliki hati lembut dan cinta, yang mampu memberikan kasih sayang, serta melahirkan rasa nyaman pada Dia yang ditakdirkan menjaga kedamaian dan keselamatan tanah inilah yang mampu menggenggamnya.”,


“ Jika kau bertanya apa batu mulia ini berwujud? Dia sebenarnya tak berwujud di dunia nyata, namun dia bisa digenggam oleh sang Perempuan Terpilih, dalam Dunia Nefrisa, Dewi yang telah bersumpah setia menjaga tanah ini, yang membagi kekuatannya dengan Raja Tanah ini, serta pada keturunan Visius terpilih yang mampu membawa kekuatan Rohnya.”,


“Kelak, akan muncul kekuatan hitam jahat dengan wujud sempurnanya, seorang wanita dan naga merahnya, yang hanya bisa dikalahkan oleh Dia yang terpilih, Ksatria itu, bersamaku sebagai sekutu utamanya. Kami akan berperang untuk membinasakannya, hidup dan mati tergantung pada apakah Dia bisa membangkitkan batu mulia berwarna zamrud itu denganku dan Nefrisa sebagai kekuatan sempurna. Batu zamrud itu, hanya bisa ditemukan oleh perempuan itu. Jika kau ingin menemukan batu itu, mendapatkan kekuatan penuhku, temukan perempuan itu!”


Sam membuka matanya. Dia kemudian duduk. Keringat membanjir membasahi bajunya. Dia merasakan mimpi yang aneh. Dia berada di atas tebing yang tinggi kemudian suara menggelegar namun sangat berwibawa itu menceritakan kisah menakutkan tersebut kepadanya. Dia memegang kepalanya, mendadak pusing.


“Sam, kau tak apa-apa?”, Lisa berbisik di sampingnya, wajahnya sangat khawatir. Sam bisa melihatnya di keremangan suasana kamar. Lisa sudah duduk di sampingnya sejak tadi, berusaha membangunkan Sam yang sepertinya mengigau. Namun Sam tak kunjung bangun, sampai akhirnya mimpi itu selesai, dan Sam terlihat sangat kelelahan setelahnya.


“Lisa…”, Sam menggumamkan nama samaran Sang Putri. Wajahnya terlihat sangat tidak nyaman, seperti dia sangat kesakitan dengan beban berat yang ditanggungnya saat ini.


Lisa bergerak lebih dekat padanya, meraih tangan kanan pemuda itu dan menggenggamnya erat, “Apa kau merasakan sakit karena semua ini?”.


Mata Lisa terlihat redup karena sedih. Sam tersenyum padanya. Tangan kirinya yang bebas mengelus lembut pipi Lisa, menenangkannya, “Meskipun nyawaku harus melayang, aku akan melakukan apapun untuk melindungimu dan membawamu kembali ke Istana hidup-hidup.”.


Lisa tak mampu menahan air matanya, dipeluknya Sam dengan erat. Mereka berdua berpelukan, saling memberikan kenyamanan.


Lily yang melihat pemandangan itu dari balik selimutnya hanya bisa diam. Tak ingin bersuara, atau bergabung di antara mereka berdua. Ada yang mengganjal di hatinya melihat pemandangan itu. Daripada dia menebak-nebak mengapa dan apa ganjalan itu, dia memilih menarik selimutnya agar matanya tak melihat Sang Putri dan Ksatria Terpilih itu berpelukan.


 


Eriez memimpin ketiga temannya berjalan di depan. Sebagai Arkeolog, dia memiliki peta Tanah Tan ini, bahkan daerah-daerah perbatasannya. Dia telah berpetualang dari satu situs ke situs lain, sehingga dia paham betul mana jalan yang harusnya dilewati, lebih paham dari Sam yang hanya melakukan perjalanan tugas mengikuti perintah Ayahnya.


Namun, sepaham apapun Eriez, atau siapapun terhadap medan-medan di Tanah Tan dan perbatasan-perbatasannya, tak ada yang benar-benar tahu dimana Gua Nefrisa itu berada, kecuali mereka dituntun oleh Nefrisa sendiri. Nefrisa bisa muncul lewat panggilan Raja Penguasa Tan, atau dalam mimpi si Pemilik Kekuatan Roh Nefrisa, yang saat ini adalah Lisa alias Putri Eloys.


“Kau yakin ini jalannya? Ke arah barat?”, Lisa berjalan menyamakan langkah dengan Eriez karena merasa jalan yang mereka tuju agak berbeda dengan kata hatinya.


Eriez melihatnya, “Apa ada petunjuk dari Nefrisa? Kalau menurut peta Arkeolog-ku sih benar kemari…hmm, aku juga tak yakin. Tapi membaca sejarah kuno, Gua Nefrisa ada di tanah perbatasan antara desa Ressian dan desa Klob, milik Kerajaan Cha. Tepatnya di bawah Gunung Tannosi”, Eriez kemudian membuka petanya, mempelajarinya.


Lisa tertarik dan mendekat, “Boleh aku ikut bergabung?”. Eriez mempersilahkannya dengan senyum.


Lily berjalan dalam diam, kali ini tugasnya membawa tas ransel isi bahan makanan. Sedangkan Sam yang berada di belakangnya melihat gadis itu dengan heran. Pemuda itu lalu menyamakan langkah, berada di samping Lily.


“Kau sakit?”, mendengar suara Sam, Lily sedikit kaget dan melihat ke arahnya. Tiba-tiba bayangan Sam yang berpelukan dengan Lisa melesat di depan matanya.


Lily menggeleng mencoba menghilangkan bayangan itu, lalu menunduk, “Tidak.”, jawabnya singkat. Sam semakin heran dengan tingkah tak biasa gadis itu.


“Hei kalian berdua, sepertinya kita belok kanan saja. Sebab Lisa merasakan kita perlu berjalan ke sana, apa kalian setuju?”, Eriez melambai pada Lily dan Sam. Lily menatap Eriez, kemudian tatapan matanya bertemu dengan Lisa.


Lily segera mengalihkan tatapan matanya, “Baik.”, jawabnya sabil mempercepat langkah menuju Eriez, meninggalkan Sam.


“Kau agak pucat Lily, apa kau sakit?”, Lisa mengambil tangan kanan Lily dan menggenggamnya.


Lily yang kaget segera tersenyum padanya, “Tidak. Yang Mulia tak perlu mengkhawatirkan aku. Aku…aku mungkin hanya sedikit kurang tidur.”, jawabnya sambil perlahan-lahan melepaskan genggaman Lisa pada tangannya.


“Hei Eriez, aku ingin berbicara denganmu...izinkan aku berjalan bersama Eriez, Yang Mulia.”, tanpa menunggu jawaban Lisa, Lily segera meninggalkan Lisa dan menyamakan langkah dengan Eriez, sebentar kemudian mereka sudah terlihat asyik mengobrol bersama.


Lisa menatap Lily sejenak lalu mengalihkan pandangannya pada Sam yang melihat Lily dengan tatapan tak terbaca. Dahi Lisa berkerut.

__ADS_1


 


***


Raja Gareth meletakkan kembali tangan Raja Julius yang masih tak bernyawa itu dengan lembut. Tatapan matanya terlihat sendu. Keduanya bersahabat sejak kecil, pernah berperang bersama dalam peperangan penumpasan para pemberontak 20 tahun lalu. Kerajaan Cha banyak berhutang kepada Kerajaan Tan. Mulai dari bantuan tenaga ahli di bidang militer, pelatih perang yang terlatih, sampai bantuan bahan-bahan makanan dan pengamanan dari serangan pemberontak.


Tanah Cha sendiri sebenarnya masih bagian dari wilayah Tan, namun karena perjanjian Raja Oleus 100 tahun lalu kepada kedua putra kembarnya yang sempat berselisih, pangeran bungsu yang bernama Deffian kemudian mendapatkan kewenangan atas Tanah Cha, asalkan Kerajaan yang dibangunnya itu mampu menyokong kerajaan Tan di bawah kekuasaan sang Kakak, Leffian.


Hingga sekarang, Raja Cha turun temurun yang masih memiliki darah bangsawan Visius memiliki loyalitas yang tinggi pada Raja Tan turun temurun. Raja Gareth sendiri memiliki hutang nyawa secara pribadi pada Raja Julius yang telah menyelamatkannya dari tenggelam di lautan saat berperang 20 tahun lalu. Dia memiliki niat pribadi menikahkan Putra Mahkotanya, Theo, dengan Sang Putri Raja, Eloys.


Namun mengetahui Eloys lebih memilih Putra dari Perdana Menteri Tanah Tan, Sam, Pangeran Theo mengatakan pada Ayahnya untuk membatalkan lamaran tersebut. Sebab dia sendiri pernah berhutang nyawa pada Sam, saat pemuda itu menyelamatkannya dari serangan perampok 15 tahun lalu. Kala itu Sam mendapatkan tugas mengawal Pangeran Theo yang berkunjung dari Istana Tan kembali ke Istana Cha.


Tapi meskipun Pangeran Theo telah merelakan Putri Eloys melepaskan lamarannya, dia tetap tak bisa melepaskan rasa cintanya pada Putri tersebut, karena Putri Eloys adalah cinta pertamanya.


Raja Leon mempersilahkan Raja Gareth keluar dari kamar Raja Julius untuk bergabung dengannya bersama Ratu Marry dan Perdana Menteri Frank di ruangan pribadinya. Mereka akan membicarakan tentang keadaan Tanah Tan saat ini di bawah teror Jadze.


“Jadze mulai membumihanguskan sebagian wilayah desa Klob, saya baru mendapatkan kabarnya pagi ini sebelum perjalanan kemari.”, Raja Gareth membuka pertemuan tersebut dengan berita kurang mengenakkan.


“Dia mengirim pasukannya Para Orb, dan juga Para Illio (makhluk jelmaan pohon yang memiliki gerakan sangat gesit dan pengguna panah beracun yang tangguh). Saya dengar ada serangan Orb di dekat wilayah Ressian, namun sudah tertangani. Dan saya yakin mereka telah melewatinya.”, Frank menambahkan.


Raja Leon menatap Ratu Marry yang masih berwajah sendu, dia sangat mengkhawatirkan keadaan Putri Eloys. Raja Leon menggenggam tangannya, “Dia aman bersama Sam, Ibu.”, menenangkan perempuan berusia 50 tahun itu. Ratu Marry menatapnya, lalu menatap Frank, kemudian mengangguk lemah.


“Kemungkinan mereka saat ini sudah hampir mencapai tanah perbatasan. Kami masih belum bisa melacaknya tapi…saya dengar mereka membawa seorang arkeolog yang juga ahli memanah bersama rombongan mereka.”, Raja Gareth menatap Frank.


Frank sedikit terkejut, “Siapa?”, Raja Gareth menggeleng tak tahu. Frank diam, namun pikirannya tertuju pada anak bernama Eriez. Ada sedikit rasa tenang menjalar dalam hatinya, jika memang pemuda itu orangnya. Eriez adalah pemuda baik yang dapat dipercaya.


“Dan satu lagi…”, Frank menambahkan, “…gadis pelayan itu putri tunggal dari Remedy, Kepala Pelayan Kerajaan. Dia sangat pandai bela diri dan saya mendapatkan informasi dia juga memiliki pengetahuan yang baik terhadap ilmu pengobatan.”.


Raja Leon, Raja Gareth, dan Ratu Marry menatapnya dengan kaget. Frank tersenyum, “Jadze akan sedikit kewalahan dengan keempat pemuda-pemudi tangguh itu, saya yakin.”, suaranya mantap. Ratu Marry kemudian ikut tersenyum, wajahnya sedikit cerah.


Mata Frank menerawang ke langit-langit. Kemudian dia menjawab, “Jika terus berjalan menuju ke arah Gua Nefrisa, berarti mereka sudah menyadari bahwa salah satu di antara mereka adalah….Ksatria Terpilih…dan…”, Frank menatap lurus Raja Leon yang menatapnya terkejut, lalu melanjutkan, “…mereka sudah tahu apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.”. Ratu Marry membenamkan wajahnya di kedua tangganya, isak tangisnya mulai terdengar lirih.


“Yang Mulia Ratu, jika ternyata Putraku adalah Dia yang Terpilih, saya yakin dia akan mampu membawa kembali Putri Eloys pulang dengan selamat. Saya bisa merasakan, kekuatan Nefrisa yang besar telah bangkit dalam dirinya, itulah mengapa mungkin Yang Mulia Raja Leon tak bisa menemuinya saat ini karena…Roh Nefrisa telah bersatu di dalam hati Putri Eloys. Jika benar Putri Eloys adalah Perempuan Adil, mereka akan segera menemukan Raja Naga dan Hati Zamrud itu. Jadze tak akan mungkin menang.”, Frank meyakinkan dengan suara lembutnya. Raja Leon menatapnya, lalu mengangguk dengan perasaan lega.


***


 


Keempat anak muda itu memasuki wilayah tanah perbatasan yang adalah hutan belantara dengan suasana gelap meskipun matahari masih bersinar di langit cerah. Ada rasa takut yang menjalar di hati mereka berempat, namun langkah kaki mereka tak berhenti untuk melangkah.


“Jika kau lelah, aku akan menggendongmu.”, Sam berbisik pada Lisa, Lisa tersenyum dan menggeleng. Lily melirik mereka berdua, lalu mempercepat langkahnya. Melihat Lily yang agak aneh hari ini, Lisa menunduk, merasakan ketidaknyamanan itu.


“Aku merasa Lily agak menjauhiku.”, Lisa bergumam. Tapi gumaman itu didengar Sam. Sam tak menyahut, namun langsung menatap gadis berambut cokelat madu yang berjalan di depannya itu. Dia sendiri juga tak mengerti kenapa si Cerewet itu tiba-tiba berubah jadi agak pendiam.


“Di depan ada sungai, sepertinya berarus deras.”, Eriez memperingatkan ketiga temannya. Lisa kemudian merasakan sentakan yang hebat dalam dadanya, perutnya bergolak aneh. Roh Nefrisa!


“Mereka datang…!!!”, tiba-tiba Lisa  menjerit, telunjuknya mengarah ke arah timur. Sedetik kemudian suara deru seperti angin ribut muncul, dan pemandangan tak lazim berada di depan mata mereka. Sekumpulan makhluk seperti pohon membawa busur dan anak panah berlari kencang sekali seperti kilat ke arah mereka.


“Mereka Illio…!!”, Eriez segera menarik anak panah dan membidikkannya ke salah satu Illio, membuatnya tumbang.


“Lari..!!”, Eriez menarik tangan Lisa mengajaknya berlari menuju ke dalam sesemakan bersamaan dengan Para Illio itu menembakkan panah-panah beracun ke arah mereka.

__ADS_1


Salah satu anak panah itu melesat cepat tak terduga ke arah Lily yang tak memiliki cukup pertahanan, namun dengan segera Sam mendorongnya, mereka jatuh berguling di tanah bebatuan.


“Kau tak apa-apa?”, Sam membantunya duduk. Lily mengangguk, namun wajahnya berubah pucat melihat panah menancap di paha sebelah kanan pemuda itu. Lily memekik, dan Sam menyadari bahwa panah itu adalah panah beracun. Dia segera mencabutnya, dan darah berwarna hitam pekat mengucur deras.


Sebelum mereka sempat bergerak atau melakukan sesuatu setelah itu, tanah tempat mereka berdua berpijak bergoyang hebat dan roboh, membuat Lily dan Sam jatuh bebas ke sungai berarus deras di bawah mereka!


 


 


“Tetap di dekatku!”, Eriez berbisik kepada Lisa yang meringkuk ketakutan di belakang punggungnya. Mereka bersembunyi di balik sesemakan tinggi. Meskipun mereka lebih cepat dan gesit, namun penciuman mereka tak setajam Orb.


Lisa sempat mendengar teriakan Lily namun tak berani membayangkan apa yang terjadi padanya. Rasa mual mulai memenuhi isi kerongkongannya. Perutnya makin bergolak, namun dia tak bisa merasakan apapun, peringatan atau bahkan kehadiran Roh Nefrisa. Dia terlalu kalut, terlalu takut. Air matanya membanjir. Tanpa sadar dia meremas kuat bahu Eriez. Eriez yang merasakan cengkeraman kuat Lisa segera melihatnya, wajah Lisa pucat.


“Jumlah mereka terlalu banyak dan mereka terlalu gesit. Kita tak mampu melawannya.”, Eriez mendengus lemah. Lisa masih memejamkan matanya sambil meremas kuat-kuat bahu Eriez.


Melihat Lisa yang begitu ketakutan, Eriez merengkuh gadis itu dalam pelukannya, “Tenanglah! Aku tak akan pernah meninggalkanmu…”, bisiknya lembut, menenangkan.


 


Lily berhasil mengatasi arus deras sungai iblis itu dan membantu Sam yang tak berdaya berjalan keluar dari dalamnya. ‘Ayolah kumohon…kumohon jangan mati!’, Lily berteriak panik dalam hatinya. Dia memapah Sam yang wajahnya mulai memucat dan bernafas tak beraturan. Sepertinya, kesadaran pemuda itu juga mulai menurun. Mereka basah kuyup setelah berjuang melawan derasnya arus sungai, dan akhirnya mencapai daratan.


Ada gua kecil di depan sana, Lily mempercepat langkahnya. Dia melirik Sam yang semakin pucat, keringat gadis itu menetes semakin deras, bersatu dengan butiran air yang membasahi wajah manisnya.


“Ayolah…”, Lily mendesis, rasa ketakutannya semakin besar. Dia memapah Sam yang semakin lemah berjalan, dengan langkah lebih cepat. Mereka akhirnya sampai ke dalam mulut gua. Lily segera mendudukkan Sam dan menyandarkannya di dinding gua, melepas mantel pemuda itu dan mengambil pedang di punggungnya, meletakkan di tanah. Dia membuka dua kancing kemeja Sam, untuk membuat pernafasan pemuda itu agak longgar. Sam terengah-engah, nafasnya memburu. Kesadarannya sudah semakin menurun.


Lily meletakkan kedua tangannya di pipi Sam, merasakan sensasi dingin seperti es. Tiba-tiba dia terisak, “Kumohon…kumohon jangan mati…”, Lily berbisik dalam tangisnya. Lalu dia segera merogoh saku mantelnya dan mengambil pisau pemberian Sam, mengeluarkan dari sarungnya.


“Apa…yang?”, Sam bersuara lirih, matanya yang redup menatap iris jade Lily. Antara lega dan masih gemetar ketakutan, Lily memperpendek jarak antara mereka, “Aku akan mengeluarkan racun panah Illio dari kakimu, kumohon…kau bisa berteriak sekencang-kencangnya namun jangan bergerak, karena akan bisa semakin memperdalam lukamu…percayalah…aku tak akan membiarkanmu mati sekarang.”. Sam diam dan masih menatapnya.


Lily lalu menusukkan pisau itu, memperlebar luka di paha kanan Sam, membuat pemuda itu menjerit keras dan kedua tangannya meremas bebatuan di dekatnya. Lily lalu merobek ujung mantelnya, mengikatkan di bagian atas dan bawah luka tersebut, dengan tujuan menghentikan aliran darah agar racunnya tak menyebar semakin luas di dalam darah.


Lily menunduk dan menyedot darah hitam dari luka itu, lalu memuntahkannya. Dia melakukan berulang kali, sampai darah hitam pekat itu berubah warna menjadi merah darah lagi. Lily kemudian terengah-engah, dia segera mengambil air dari genangan di dekat mereka, berkumur dengan air tersebut beberapa kali, lalu kembali kepada Sam yang masih dengan lemah menatapnya.


Lily meletakkan lagi tangannya di kedua pipi Sam, dia merasakan kulit Sam mulai sedikit menghangat. Namun pandangan mata Sam mulai mengabur, nafasnya mulai melemah.


Lily mulai khawatir lagi, “Hei…hei sadarlah…”, gadis itu menepuk-nepuk pipi Sam. Sam tak mampu meresponnya dengan kata-kata, mulutnya seperti tak mampu bergerak, begitu berat, dan dia merasa ingin memejamkan mata karena begitu dahsyatnya sensasi menyakitkan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


“Hei…kumohon…kumohon Sam, jawab aku.. jawab aku!!! Jangan mati…!!”, Lily menjerit-jerit histeris, air matanya membanjir. Sam dengan sekuat tenaga menggerakkan tangan kanannya, menyentuh pipi Lily dengan lembut, sebelum dia akhirnya jatuh tak berdaya di pelukan gadis itu.


 


Udara berubah menjadi sangat dingin. Lisa masih meringkuk di dalam pelukan Eriez, air matanya telah mengering. Setengah jam lalu, kawanan Illio telah pergi setelah mereka tak melihat mangsanya dimanapun.


Melihat keadaan sudah mulai aman, Eriez berbisik ke telinga Lisa, “Kita bisa keluar dan mencari Lily serta Sam sekarang…”, namun Lisa mendesis lemah, semakin mengeratkan pelukannya pada Eriez, “Tidak! Jangan tinggalkan aku…”.


Eriez tersenyum, dia menyarungkan pedangnya lalu mengelus lembut bahu gadis itu, “Aku akan terus berada di sampingmu, Yang Mulia. Namun, kita harus beranjak dari sini. Setidaknya menuju tempat yang lebih aman.”, bujuknya.


Lisa diam sesaat, kemudian pelan-pelan melepaskan tubuhnya dari pelukan Eriez. Iris orchidnya memandang ke dalam iris biru laut Eriez, “Berjanjilah padaku, jangan pernah meninggalkan aku…”.


Eriez mengangguk, “Aku akan melindungimu dengan seluruh nyawaku, Yang Mulia…”, namun Lisa menggeleng, “Tidak Eriez…maksudku…”, kata-katanya terputus. Dia diam sejenak, Eriez menunggunya dengan sabar.

__ADS_1


Kemudian dengan wajah bersemu merah Lisa kembali menatapnya, “Teruslah berada di sisiku…selamanya.”, bisiknya.


Seketika ekspresi wajah Eriez berubah menegang karena terkejut.


__ADS_2