
Hari ini adalah hari yang ditunggu Asta karena hari ini tepat ia akan melakukan perlombaan,seperti tahun yang dulu.
Karena Asta sudah biasa mengikuti perlombaan dan hasilnya tidak pernah mengecewakan ia selalu dapat juara di setiap perlombaan apalagi tentang Seni.
Asta menghela nafas dan tak lupa ia berdoa,lalu keluar dari kamarnya pagi ini ia hanya membawa Kamera yang digantung dilehernya seperti biasa,ia tidak membawa peralatan melukis karena sudah di siapkan nanti di tempat lombanya.
"Cepet sini nak,sarapan dulu."Asta mengangguk dan duduk di kursinya tapi ada kursi yang kosong.
"Papa kemana ma?"Tanya Asta pada Mama yang sedang meletakan nasi goreng ke piring nya.
"Sudah berangkat,katanya ada kerjaan yang belum beres"
Asta hanya mengangguk saja dan melanjutkan sarapannya.
"Oh iyah nanti Asta akan pulang telat",
"Kata Dion kamu hari ini mau lomba yah."
"Uhkk"Asta tiba-tiba tersedak
"Pelan-pelan dong Ta"Lita sembari memberikan minuman kepada Asta,dan Asta langsung menerimanya.
"Iyah"jawab Asta yang sudah minum
"Kamu nggak pernah cerita ke mama".
"Lupa! Udah telat Asta pamit,"Pamit Asta dan tak lupa ia mencium tangan mama nya.
__ADS_1
🖌🖌🖌🖌
Asta sudah datang sampai ke sekolah kedatangannya langsung disambut oleh Dion dan Karin.
Karin,bukannya harusnya Bu Shinta.
"Lama lo Ta,"ucap Dion sembari memukul kepala Asta.
"Bu Shinta mana?"tanya Asta,bahkan i tidak marah kepalanya di pukul oleh Dion.
"Bu Shinta nggak ikut,"jawab Dion,lalu Dion menggeser Karin ke sebelah Asta"jadi yang gantiin Bu Shinta pacar lo."ujar Dion tanpa beban.Asta dengan wajah datar nya langsung membuang wajahnya.Sedangkan Karin langsung melotot kaget bahkan wajahnya sudah merah.
Si rahmat berengsek dia kan tahu kalo itu cuman boongan.Asta lagi kenapa gitu.
"Hmm.."Asta berdeham sejenak untuk mengembalikan suasana,"kan yang jadi pembimbing harus guru bukan murid."
"Nggak masalah Ta udah ayo cepetan nanti lo terlambat gue juga yang diomelin.."_Dion sembari menarik Asta masuk kedalam mobilnya dan langsung menuju ke perlombaan.
Sedari tadi otak Asta seketika ngebleng ia tidak bisa berpikir dengan normal,padahal kan tadi di rumah ia sudah menyiapkan apa yang akan ia lukis.mungkin juga karena tempatnya yang outdoor bahkan di tonton langsung oleh puluhan orang,bukan hanya itu suara dari penonton membuat kepala Asta pusing.ini seperti bukan perlombaan Sastra tapi sepak bola terlalu ribut.
"Hah....."Asta menghela nafas panjang ia mulai memejamkan mata nya dan setelah itu Asta membuka matanya dan yang pertama kali mata Asta tangkap adalah keberadaan Karin,dengan rambut Karin yang pendek dan terurai bebas estetik nya lagi rambutnya terbawa oleh angin.
Setelah itu Asta langsung menggerakkan kuas nya dan mulai melukis dengan tenang,mengabaikan suara yang bising.
Gerakan tangan Asta yang telaten dan wajah nya yang tenang saat melukis memberi kesan yang dewasa.bahkan ketenangan dan wajah Asta mengganggu gadis yang melukis di samping nya,dia seperti salah tingkah karena bersebelahan dengan Asta bahkan matanya sesekali mencuri pandang kearah Asta.
Sedangkan di bangku penonton Karin sangat serius memperhatikan lelaki pujaan nya yang sedang melukis dengan tenang.
__ADS_1
Dion melambaikan tangannya ke wajah Karin yang membuat Karin kesal.
"Woy Rin serius amat,"
"Apan sih lo,"sahut Karin cemberut.
Emang kalo ada si rahmat nggak akan tenang.batin karin
"Lo suka yah sama Asta?"tanya Dion tiba-tiba daKarin
buat wajah Karin yang cemberut tiba-tiba bersemu merah.
"Ap_a Suk..a ng..gak lah.."jawab Karin gugup.
"Masa..."
"Iya nggak.."
"Masa sih.."goda Dion yang membuat pipi Karin bertambah merah
"Iya bener gue NGGAK SUKAA..."teriak Karin,yang membuat semua orang melirik nya tajam
"Lo si rahmat.."ucap Karin sambil menjambak rambut Dion.
"Aw aw aw..maaf Karin Maaf Rin.."kata Dion sambil merapihkan kacamata nya yang melorot.
"Rasain,lo si nyebelin.."tukas Karin
__ADS_1
~~~~ TBC ~~~~