Hesitate

Hesitate
Berubah


__ADS_3

~HAPPY READING ~


Karin dan Asta berpamitan pada Dewi, dan Raka. Karin memesan Taksi online untuk mereka pulang ke rumah.


"Gue anterin lo pulang dulu, nanti baru gue yang pulang,"ujar Asta, Karin menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Karin melihat keluar jendela, matanya mulai mengantuk, ia menguap tiba-tiba, rasanya ingin cepat-cepat pulang lalu tidur.


Asta yang melihat Karin mengantuk, refleks dia menarik bahu Karin, lalu menyenderkan kepala Karin ke bahunya. Karin salah tingkah, matanya yang tadi mengantuk, tiba-tiba rasa ngantuk itu langsung hilang entah kemana.


Karin langsung menegakkan tubuhnya, Karin melirik kearah Asta, Asta pun tak kalah terkejut dari Karin.


"Ekhmm.."Asta berdehem untuk menghilangkan rasa gugup nya lalu sedikit menggeser tubuhnya dari Karin.


Karin memegangi pipinya yang merah, tindakan Asta yang tiba-tiba tidak baik untuk jantungnya. Karin kembali melirik ke arah Jendela,


"Ehh ada Karnaval,"ucap Karin senang, saat Karin melihat keluar jendela ternyata ada Karnaval di jalan yang mereka lewati.


"Pak Berhenti."Asta tiba-tiba menyuruh supirnya berhenti dan menyuruhnya untuk memutar balik.


Asta dan Karin turun dari Taksi itu, Karin bergeming ditempat, ia masih belum percaya atas tindakan Asta tadi.


"Ayo masuk,"ajak Asta, yang menyadarkan Karin dari lamunannya.


Karin pun mengangguk dan beriringan masuk bersama Asta. Rasanya, rasa lelah yang ada dalam dirinya menghilang begitu saja.


Karin mengajak Asta untuk naik wahana komedi putar yang ada di atas.


"Ini malem nggak boleh naik gituan,"ujar Asta, Karin mengerutkan keningnya tidak mengerti apa hubungannya.


"_Itu banyak yang naik, emang kenapa kalo malem naik komedi puter."


"Gelap."jawab Asta, sembari terus melangkah ke arah pedagang gulali.


"Emang kenapa kalo gelap, kan ada lampunya."


"Mas gulali satu,"pesan Asta menghiraukan Karin yang terus berbicara di samping nya.


Setelah membeli gulali, Karin tak kunjung diam merayu Asta untuk menaiki wahana yang dia mau.


"Asta..


Hupp


Asta menyumpal mulut Karin dengan gulali yang manis, lalu setelah itu Asta menggenggam tangan Karin untuk keluar dari kerumunan itu.

__ADS_1


"Udah kita pulang."ucap Asta menarik Karin keluar dari Karnaval


"Hah."Karin langsung menghentikan langkahnya.


"Pulang Rin,"ajak Asta, Karin menggelengkan kepalanya seperti anak kecil.


"Udah malem."Asta menarik tangan Karin dengan lembut.


*****


"Huffttt...."Karin menghela nafas, sesaat setelah mereka berada di dalam mobil.


Padahal kan Karin masih ingin jalan-jalan, waktunya pun masih belum terlalu malam. Karin melirik kearah Asta, yang sekarang dia tampak lelah, Asta menyenderkan tubuhnya di kursi mobil dengan mata terpejam.


Karin mengeluarkan ponselnya lalu memotret wajah Asta, dia seperti bayi.


Lalu Karin melirik kembali keluar jendela.


Mobilnya terhenti di rumah Karin, dan Asta sama sekali tidak bangun. Kasihan pasti dia sangat lelah.


Karin menitipkan Asta kepada supir taksi untuk mengantarkan nya ke rumah.


Walaupun hari ini tidak jadi menaiki wahana komedi putar tapi Karin sangat senang, karena sifat Asta yang mulai perhatian, bahkan tadi saat di Karnaval Asta terus-terusan memegang tangannya.


"AAHHH...."Karin teriak lalu melompat ke arah ranjang. Karin merebahkan dirinya di kasur sembari terus memegangi tangannya.


*******


"Gimana Mamanya si Raka Ta,"tanya Dion penasaran.


"Perempuan."_jawab Asta santai sembari melangkah ke meja belajar nya,


"Gue tahu, maksud gue gimana sifat Mamanya, galak apa nggak?"


"Nggak."jawab Asta singkat lalu merebahkan. Dirinya di kasur, Asta melihat ke arah langit-langit kamarnya.


"Yon, gimana kalo gue pacaran beneran sama Karin."


Dion yang tadinya akan menutup matanya, kembali membuka matanya dengan sempurna dan langsung menegakkan tubuh nya.


"Tuh kan, lo suka sama Karin."


"Nggak, gue cuman.."


"Cinta?"sahut Dion

__ADS_1


Asta tidak menjawab dia malah memejamkan matanya, menghiraukan teriakan Dion di telinganya. Dion bahkan menggoyang badan Asta.


"Woii ASTAGA...."


"Anjim malah tidur."Dion sering sekali menginap di rumah Asta, tidak ada masalah dalam rumahnya tapi memang dia hanya ingin leluasa saja main gamenya. Karena kalo di rumah Dion kesal selalu di suruh untuk menjaga adiknya yang nakalnya tidak ketulungan.


Akhirnya langit mulai berubah warna, dan matahari pagi sudah mulai terlihat walaupun masih malu-malu.


Asta sudah rapi memakai seragam sekolah, sedangkan Dion masih tertidur di balik selimut.


"Dion bangun,"Asta mengguncang tubuh Dion, Dion menggeliat lalu menarik selimut nya sampai kepala.


"Gue duluan, lo berangkat sekolah sendiri soalnya gue mau bareng sama Karin."ujar Asta sembari menyampirkan tasnya, lalu menenteng kameranya keluar dari kamar.


Dion menegakan tubuhnya sembari mengucek matanya, tangannya meraba-raba meja naskah dengan ranjang, akhirnya benda yang dia cari ketemu yaitu kacamata, Dion memakai kacamata nya.


"ASTAGAAA....TUNGGUIN GUE..."teriak Dion menggelegar didalam kamar Asta, tapi hal itu percuma karena Asta sudah menghilang dibalik pintu.


"Bahaya kalo si Asta udah jatuh cinta lagi,"ujar Dion sembari turun dari ranjang.


*******


Asta menunggu Karin keluar dari rumah, ia sudah mengirim pesan semalam pada Karin bahwa ia akan menjemput nya sekolah.


Asta menunggu Karin sembari menyenderkan tubuhnya di samping motor, tangannya menari-nari di layar ponsel, Asta sedang membalas pesan Dion.


"Karinn dengerin Mama dulu.."teriak seorang Wanita paruh baya, Karin keluar dengan wajah yang marah.


"Ayo Asta,"Karin langsung menyambar helm yang Asta sodorkan, Asta bingung tapi ia sudah menyalakan motornya.


"Karin dengerin Mama dulu Nak."


"Jalan Asta.."suruh Karin sembari menepuk pundak Asta, Asta pun menjalankan motornya. Dan meninggalkan Mama Karin yang terus-terusan memanggil namanya.


Sepanjang perjalanan tidak ada yang membuka pembicaraan, Asta ingin sekali menanyakan ada masalah apa Karin dengan Mamanya. Tapi saat di pikir-pikir lagi hal itu lancang karena Asta bukan siapa-siapa Karin.


Saat sudah sampai di parkiran, Karin turun dari motor Asta, dan langsung menyodorkan helm Asta sebelum menerima helm Karin, terlebih dahulu Asta menaruh helmnya ke spion.


Lalu Asta mengambil helm Karin.


"Mama gue mau nikah lagi,"tiba-tiba saja Karin bersuara, Asta bingung harus menanggapi apa, jadi sebelum itu Asta menaruh helmnya terlebih dahulu di jok motor.


"Hiks...hiks..."tiba-tiba saja Karin terisak.


"Karin, hey kenapa nangis,"_Asta melihat sekelilingnya, mulai banyak Siswa yang memperhatikan mereka, tapi Karin semakin terisak, refleks Asta memeluk Karin dan menenggelamkan Karin di dadanya, lalu tangannya mengusap-usap kepala Karin.

__ADS_1


TBC.


Sorry Typo:')


__ADS_2