I Am Feeling Blue

I Am Feeling Blue
Hujan Air Mata


__ADS_3

Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan yang mengambil alih acara, segera melanjutkan kegiatan agar amanah dari kepala sekolah bisa dilaksanakan tepat waktu.


Tanpa menunggu lagi, ia minta seluruh siswa baru berangkat dari tempat duduknya. Melipat kursi yang mereka duduki, membawa dan menyusunnya dengan rapi di bagian belakang ruang auditorium.


Setelah itu, mereka diminta berbaris sesuai dengan kelasnya masing-masing, menghadap ke podium. Satu kelas dua baris ke ke belakang.


Dalam sekejap, empat kelas sudah membentuk barisan yang memanjang ke belakang, rapi dan tertib seketika itu juga. Kini saatnya masing-masing wali kelas menghampiri siswanya dan melanjutkan kegiatan hingga pukul sembilan malam.


Dengan langkahnya yang santai, Mr. Yun menuju ke barisan yang paling kiri. Kini ia sudah berdiri tegap di depan siswa kelas X IPA 1. Dengan senyum yang begitu mempesona dan sedikit menundukkan kepalanya, ia menyapa anak-anak "Selamat malam semuanya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu. Selamat datang di SMA Tunas Negara,"


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarokatu. Selamat malam, Mr," sahut mereka kompak. Tidak lupa, masing-masing siswa memberikan senyum termanisnya.


Cukup simpel. Mr. Yun hanya memberikan tiga kata kunci yang harus diungkapkan oleh siswa saat memperkenalkan diri, yaitu kemampuan, keadaan, dan tujuan (harapan).


Ia memberikan kata kunci tersebut dengan alasan karena seluruh siswa yang diterima di sekolah ini adalah mereka yang terpilih. Jadi sekolah hanya memfasilitasi mereka agar mencapai tujuannya selama tiga tahun di sekolah. Setelah menjelaskan teknisnya, pak guru tampan nan mempesona itu menggiring pasukannya ke luar gedung.


Kelas IPA 1 yang mengambil posisi berkumpul di taman, depan ruang auditorium bisa lebih leluasa mengungkapkan isi hatinya. Cukup anggota kelasnya yang tau tetang siapa pribadi mereka sesungguhnya karena soyogyanya anggota kelas sama halnya dengan anggota keluarga dan wali kelas adalah orang tua mereka selama ada di dilingkungan sekolah.


Seharusnya ada 30 siswa yang terdaftar di kelas IPA 1, namun saat itu hanya 29 orang yang hadir. Menurut Mr. Yun, siswa yang berhalangan hadir, saat ini hingga dua hari ke depan masih ada urusan di Jerman. Ia mewakili pelajar Indonesia dalam pameran kesenian dan budaya Indonesia. Jadi sekolah memberikan dispensasi atas ketidakhadirannya tersebut.

__ADS_1


Satu persatu siswa maju ke depan, duduk di sisi Mr. Yun untuk memperkenalkan diri. Sementara yang lainnya duduk lesehan membentuk tiga perempat lingkaran.


Tiba giliran Braga, giliran yang paking akhir, semua temannya tanpa diminta serta merta bertepuk tangan. Mereka secara tidak langsung telah mengenal Braga saat ia maju ke podium tadi. Kini mereka duduk dengan khidmat, siap menyimak apa yang akan di sampaikan oleh atlet nasional itu.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu. Selamat malam teman-temanku semuanya. Ijinkan saya, Braga Sutan Gumilang akan menyampaikan sedikit informasi tentang siapa saya? Oh ya, panggilan sayang saya cukup Braga saja, he..he.." Ucapnya berusaha melawak. Ia terhenti sesaat. Mengambil nafas dengan pelan sebelum melanjutkan kata-katanya.


"Saya anak ketiga dari tiga bersaudara. Kedua kakak perempuan saya sudah bisa dikatakan sukses menuju impiannya. Kakak tertua saya dokter anak, saat ini sudah menyelesaikan S2 dan bekerja di rumah sakit ternama milik pemerintah sebagai pegawai negeri sipil. Sedangkan kakak kedua saat ini sedang mengikuti program pertukaran mahasiswa di Jepang, dikirim oleh kampusnya, Teknik Komunikasi ITB,"


"Berkiblat dari keberhasilan kedua anaknya itulah, orang tua saya memberlakukan hal yang sama kepada saya. Tanpa melihat kemampuan yang saya miliki mereka menghendaki saya bisa mempunyai prestasi seperti kedua anaknya yang lain,"


"Entah mereka yang tidak mau tahu atau mereka memaksa menutup mata bahwa sejak kecil saya tidak mempunyai prestasi akademik yang membanggakan. Jujur saja, saya sangat sulit untuk memahami pelajaran eksakta meskipun berbagai tempat les yang bagus sudah dicoba bahkan orang tua saya sempat memanggil guru privat dengan bayaran yang cukup tinggi. Mereka tidak bisa terima jika kemampuan saya tidak di sana. Entah itu suatu keberuntungan atau apa, nilai UN saya untuk matematika lumayan bagus hingga saya selalu diterima di sekolah pavorit. Faktanya, saya cukup tersiksa. Hasil belajar dan kemampuan akademis saya sangat bertolak belakang dan saya menganggap semua ini adalah bentuk dari kebohongan. Lebih tepatnya membodohi diri sendiri,"


"Secara ekonomi keluarga saya berkecukupan. Ayah saya punya jabatan penting di pemerintahan namun saya merasa kedua orang tua saya menganggap saya sebagai mesin, yang bisa disetting sesuai dengan keinginan mereka. Sebetulnya saya sempat menolak keinginan mereka yang memilih sekolah ini untuk saya karena saya faham kemampuan akademis saya tidak bisa menjangkau untuk itu. Namun mereka bersih keras saya harus di sini. Mereka sudah punya rencana sendiri atas masa depan saya,"


"Siapalah saya, tidak lebih dari sebuah boneka. Jika boleh jujur saya lebih ingin meneruskan pendidikan saya di SMA atelit atau jika menang harus di sini saya milih jurusan IPS. Bukan berarti IPS sebagai pelajaran yang gampang, namun saya lebih percaya diri, passion saya memang ada di situ,"


"Mr. Yun dan teman-teman semua, maafkan saya. Jangan kaget jika dikemudian hari kalian baru menyadari kemampuan yang saya milikinya begitu tidak mencerminkan karakter siswa yang seharusnya ada di sini. Keberadaan saya bisa jadi akan membuat nama sekolah ini menjadi jelek, untuk itu saya mohon maaf. Saya hanya manusia yang berusaha untuk mengikuti kemauan orang tua karena memang tidak ada pilihan lain. Untuk itu, mohon bantuannya. Jangan marah jika suatu saat saya pasti banyak bertanya dan belajar pada kalian semua agar apa yang dicita-citakan oleh orang tua saya bisa saya capai dengan baik,"


Braga mengakhiri pembicaraannya dengan berkali-kali meminta maaf dan menundukkan kepalanya. Mr. Yun yang ada disampingnya segera merangkul bahu Braga dan memberi kekuatan pada siswanya itu. Terlihat, berkali-kali ia menepuk-nepuk bahu Braga, kemudian membawanya dalam pelukan.

__ADS_1


Terlihat mata Braga yang mulai berkaca-kaca, namun sebagai lelaki ia berhasil menahan air matanya agar tidak tumpah.


Tidak hanya Mr. Yun yang terbawa dalam suasana kesedihan, beberapa siswa juga sempat terharu dan menyembunyikan kesedihannya. Tidak terkecuali Bella dan Fadlan. Air mata mereka akhirnya mengalir dengan sendirinya. Meski tidak terisak, terlihat beberapa kali Bella dan Fadlan menyeka air matanya.


Sebelum mereka membubarkan diri, Mr. Yun memberikan sedikit wejangan atas penampilan anak didiknya. Ia begitu mengapresiasi kejujuran mereka yang mau berbagi siapa sejatinya dirinya, bagaimana kondisi diri dan lingkungannya serta apa tujuan yang akan dicapai. Dari sini mereka bisa membuat peta konsep agar tujuannya bisa tercapai dengan mudah.


👇👇👇👇👇👇👇


Terimakasih sudah mampir dan membaca novel saya😍


Jangan lupa sematkan


✓ Bintang 5


✓ Favoritkan


✓ Vote


✓ ikut akunnya

__ADS_1


✓ Komentar & Likenya ya🙏🙏🙏


__ADS_2