
"Hore.......Mr. Yun datang," teriak anak-anak yang sudah menunggu di kelas. Meskipun belum ada guru yang datang, masing-masing tetap duduk di bangkunya.
"Pagi, Mister," seru mereka lagi begitu Mr. Yun sudah masuk ke dalam kelas. Duduk manis di meja guru.
"Selamat pagi semuanya," pria itu menjawab dengan senyum yang begitu mengembang. Senyum yang teramat manis dengan lekukan di kedua pipinya.
"Apa kabar semuanya," serunya pria itu dengan nada yang bersemangat.
"Sehat dan bahagia," teriak mereka begitu kompak. Tentu saja tidak kalah semangat dengan wali kelasnya itu.
Mr. Yun yang mengenakan kemeja warna navy berpadu dengan dasi merah itu berdiri dari tempat duduknya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Menatap satu persatu siswa yang akan didampinginya dalam kurun waktu satu tahun ke depan.
"Saya senang. Senyum kalian mengisyaratkan bahwa hari ini kalian begitu bahagia. Wajah-wajah lelah yang saya dapati ketika penutupan MPLS kemaren sudah tidak saya temui," ia menghentikan ucapannya sebentar. Berjalan ke tengah ruangan yang menjadi batas antara sisi kanan dan kiri tempat duduk siswa.
"Saya harap senyum ini tetap saya temui setiap kali saya masuk ruangan ini. Wajah yang begitu polos, wajah yang iklas dan siap berjuang untuk mencapai impian di masa mendatang,"
"Apa kalian bisa melakukannya?" tanya pria itu dengan sengat.
"Bisa, Mister. Insya Allah kami bisa," sahut mereka kompak.
Ah, walikelas dan siswanya memang begitu menggemaskan. Meskipun baru kali ini mereka tatap muka di kelas dengan Mr. Yun tapi mereka sudah mempunyai hubungan kedekatan yang luar biasa.
"Kalian sudah berjanji pada diri sendiri, bukan pada saya. Jadi, jika diantara kalian ada yang tidak konsisten dengan ucapannya berarti kalian sudah berhianat pada diri sendiri. Dan Allah tidak menyukai orang seperti itu,"
"Janji....harus di tepati! Sanggup!"
"Sanggup Mister," jawaban yang konsisten dan kompak meskipun mereka sedang tidak belajar paduan suara.
"Baiklah, itu sudah cukup. Saya sudah bisa percaya untuk yang satu ini,"
"Karena hari ini adalah hari pertama KBM, saya minta izin pada kalian semua. Hari ini saya belum memberikan materi sesuai jadwal, waktu ini akan saya pergunakan untuk membentuk pengurus keras. Boleh?"
"Boleh!"
__ADS_1
"Dengan senang hati, mister,"
"Silahkan, Mister,"
Aneka ragam jawaban sudah mulai terlihat. Itu berarti mereka sudah mempunyai warna dalam berpendapat. Pria itu lagi-lagi mengembangkan senyumnya.
"Oh, My God! Aku bisa terhipnotis jika ia terus tersenyum seperti itu," bisik Witri yang sejak tadi tidak melepaskannya pandangannya dari wali kelasnya yang super ganteng ini.
"Jawaban kalian sudah bervariasi, tapi intinya tetap sama. Kalian menghendaki waktu ini kita nikmati untuk membentuk kepengurusan agar proses KBM bisa berjalan lancar. Saya lagi-lagi sangat senang, kalian sudah bisa membuktikan bahwa kompak tidak harus dinyatakan dengan satu suara yang sama. Kompak juga membutuhkan seni dan gaya bahasa yang mencerminkan karakter pemakaian. Tepuk tangan untuk kita semua," seru pria itu dengan memberi contoh tepukan yang begitu bersemangat.
"Ok, saya kira basa-basinya sudah cukup. Kita mulai saja untuk membentuk pengurus kelas. Saya tidak mau menunjuk seseorang untuk bisa menjadi ketua kelas, wakil dan sebagainya. Tapi saya memberikan kesempatan pada kalian semua, siapa yang mau menjabat posisi itu? Saya kasih waktu lima menit untuk mempertimbangkannya. Jangan takut jika kalian belum berpengalaman atau merasa tidak mampu, kita ada di sini untuk belajar,"
Satu menit lewat.....dua menit belum juga ada yang menjawab.....tiga menit berikutnya satu orang mengangkat tangannya dengan penuh percaya diri.
"Saya, Mister. Tapi saya cukup wakil saja sembari belajar. Untuk jadi ketua saya belum punya kemampuan,"
"Bagus, Bella. Kamu cukup sportif. Bisa membaca kemampuan diri sendiri. Ok, sementara kita tampung dulu, ya, Mr. Yun mengambil spidol yang ada di kotak, di sisi white board. Kemudian menuliskan nama Bella sebagai kandidat ketua kelas dengan nomer urut satu.
"Saya, Mister," kali ini suara datang dari belakang. Persis di belakang tempat duduk Bella.
Setelah ada dua orang yang mendahului, akhirnya ada empat orang berikutnya yang ikut unjuk tangan. Pas dimenit ke lima, sudah ada 6 orang yang siap menjadi pengurus kelas.
"Ok, nomer 3 ada Dara, Ke empat ada Ibnu, lima Bagus dan yang terakhir nomer enam ada Witri," Mr. Yun mengeja nama itu satu persatu dan menuliskannya di papan tulis.
"Sudah ada enam kandidat, agar lebih adil dan tidak menimbulkan kecurigaan diantara kita, sekarang kita voting. Suara terbanyak sebagai ketua kelas, kedua terbanyak berikutnya wakil, kemudian berurutan menepati posisi sebagai sekretaris dan wakilnya serta bendahara dan wakil. Setuju?"
"Ok. mister,"
"Kompak. Saya suka sekali gaya kalian," pria itu kembali tersenyum dan mengacungkan jempol ke arah anak didiknya.
Mr. Yun minta bantuan Fadlan yang duduk di depan meja guru untuk mengedarkan kertas kosong yang sudah ia siapkan sebelumnya. Satu orang hanya mendapatkan satu kertas dengan ukuran 5x5 cm itu.
"Cukup kalian tulis nomer urutnya saja. Jangan cantumkan nama kandidat. Ingat, yang mencantumkan nama berarti pilihannya kita diskualifikasi. Faham!
__ADS_1
"Faham, Mister......," teriak mereka lagi. Kompak.
"Good. Saya kasih waktu 5 menit dan dimulai dari sekarang,"
Mr. Yun memberikan kesempatan pada semua siswa untuk memilih calon yang mereka unggulkan. Tidak ada yang menang atau kalah, semua yang mengajukan diri sudah pasti mendapatkan jabatan meskipun bukan sebagai ketua kelas.
Setelah perhitungan suara yang cukup membuat tegang seisi kelas, akhirnya terpilih Braga sebagai ketua kelas, Bella sebagai wakil, Bagus dan Dara sebagai bendahara dan wakilnya, serta Ibnu dan Witri sebagai sekretaris dan wakilnya.
"Apapun hasilnya, ini sudah menjadi keputusan bersama. Kalian adalah orang-orang yang sudah dipilih oleh teman-temanmu untuk mewakili mereka berkoordinasi dengan guru maupun pihak sekolah,"
"Mohon jangan disalah artikan, adanya bendahara berarti ada pungutan di sekolah ini. Sekolah kita bebas pungutan, semua fasilitas KBM bisa kalian nikmati tanpa harus membayar sepeserpun. Fungsi bendahara di sini sifatnya temporer jika sewaktu-waktu sekolah kita ada iuaran PMR, bansos, bakti sosial, atau kegiatan kemanusiaan lainnya. Nah tugas bendahara mengakomodir keuangan di kelas ini," jelas Mr. Yun.
"Tugas sekretaris apa, Mister? tanya Witri. Selama ini ia punya pandangan bahwa seketaris itu identik sama tukang catet.
"Oh, ya. Sekolah tidak membenarkan guru minta bantuan siswa untuk mencatat materi di papan tulis. Tidak! Hilang prasangka itu. Di sekolah ini semua guru sudah menggunakan IT. Semua materi sudah disiapkan dalam media yang sangat bervariasi. Tidak ada sistem CBSA (catat buku sampai abis" atau apalah itu,"
"Tugas sekretaris cukup simple, membantu teman-teman merapikan absen, tugas, dll dalam file yang tersedia. Lebih simpel nya merapikan administrasi kelas, gitu lah,"
Anak-anak cukup lega mendengar penjelasan dari wali kelasnya ini. Mereka memang tidak salah pilih sekolah, selain fasilitanya lengkap mereka akan mendapatkan ilmu dari guru-guru yang hebat.
\*
Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungan. Mohon untuk tinggalkan
✓ LIKE
✓ KOMENTAR
✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏
__ADS_1
Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊