
Semua siswa sudah harus berkumpul di lapangan sebelum jam 06.00 wib, karena pas jam enam mereka harus siap dibarisan masing-masing untuk pengarahan.
Fadlan sudah datang jam 05.40 wib. Berasa abis ngeronda belum balik ke rumah karena hari benar-benar masih gelap. Ia dengan gayanya yang stay cool menunggu teman-teman kelasnya untuk membagikan nametag.
Fadlan duduk di bawah tiang bendera ditemani Roy yang sudah lebih dulu mengalungkan nametag baru hasil kerja Fadlan di lehernya. Mereka berdua terlihat ngobrol dengan asiknya sesekali diikuti canda tawa keduanya.
Di bagian lapangan yabg lain, Sang ketua OSIS juga sudah nampak batang hidungnya. Rajin banget gadis cantik ini, sudah layaknya pelari nasional, ia lari-lari mengitari lapangan dan dilanjutkan dengan push up.
"Pantes body tuh cewek semlehoy banget. Ternyata ia rajin olahraga begitu," komentar Roy yang sejak tadi pandangannya tak lepas dari aktivitas sang ketua.
"Ah, gua ga percaya. Paling juga pencitraan doang. Hari-hari biasa gua ga yakin dia melakukan hal yang sama," sahut Fadlan.
"Iya juga sih. Tapi kalo liat bodynya sih aku yakin dia memang rajin olahraga,"
"Entah. Lagian ngapain juga kita bahas tuh cewek. Ga penting juga buat kita," timpal Fadlan lagi.
"Pagi begini udara masih segar, mending cuci mata dari pandangan yang lain," lanjut Fadlan lagi.
"Bukannya kemarin kau begitu kagum sama tuh cewek? Kenapa mendadak sentimen begitu," tanya Roy menyelidik
"Gua tarik rasa kagum gua. Ga suka dengan gayanya. Terlalu ke- aku-an banget,"
"Oh, gara-gara itu. Tapi ia memang super banget kok,"
"Terserah kalau loe kagum ma dia, tapi jangan bicara di depan gua. Mual,"
"Dih, segitunya banget. Hati-hati loh,"
Satu persatu anggota kelas X IPA 1 sudah mengambil nametag mereka. Yang tersisa tinggal punya Braga, Bella, Adi, dan Dara.
"Kemana nih anak? Sudah jam segini belum nongol juga?"
Belum juga kering lidah Fadlan menanyakan keberadaan mereka, Bella muncul dari arah mushola dengan nafas tersengal-segal bersama Sella, Verra dan Braga.
"Eh, abis ngapain? Ada anjing yang ngejer kalian?" tanya Fadlan dengan wajah paniknya.
"Lari pagi, lah. Loe kira ada anjing berkeliaran di sekolah apa?" sahut Braga dengan ketus.
"What, rajin amat. Segitu dibelain lari pagi ampe nafas diujung leher begitu,"
"Biar sehat, tau....dan yang paling penting biar ga gembul," kali ini Sella yang ikut menimpali. Ia dengan memancing emosi Fadlan sepagi itu.
"Diem loe panci rombeng, gua kan ga ngomong ama elo," sewot Fadlan.
"Tapi gua jadi bagian yang ikut tersinggung karena ucapanmu. Faham....eh faham kan loe. Tuh perut dikempesin," cerocos Sella. Ia segera lari ke barisan kelasnya sebelum mendapat serangan balik dari Fadlan.
"Awas loe, ya!" ancam Fadlan dengan nada geram sambil mengikuti arah gadis itu berlari.
Pas jam 06.00 Wib, semua disuruh baris di lapangan.
__ADS_1
Mereka mendapat pengarahan dari kakak OSIS tentang jangan sampe telat dan salah kostum, tentang budaya salam kalo ketemu seluruh warga sekolah serta disiplin dan senantiasa kompak sebagai calon satu angkatan.
Pokoknya apa yang Osis sampaikan ke adek kelasnya itu sama sekali nggak ada kekerasan ataupun bullying gitu melainkan mereka tegas biar kita bisa lebih baik.
Setelahnya,semua sudah ada di barisan masing-masing sesuai komando. Tutup barisan, semua cowok harus selalu ada di pinggir depan dan belakang buat melindungi anak cewek.
Sebagai pemanasan, mereka semua lari pagi, rute keliling lapangan sebanyak tiga kali.
"Kalo lari bareng gini paling enak kalo aku yang ada di depan," ujar Fadlan sedikit keras agar suaranya terdengar oleh Braga yang ada di belakangnya.
"Emang kenapa?" tanya Braga yang tetap menjaga posisi agar barisan tetap rapi.
"Aku bisa menyelamatkan tenaga kalian. Dengan tetap santai, barisan tetap rapi. Yang lain juga tidak harus nyusul buat rapetin barisan. Aku kan larinya ga kenceng,"
"Coba kalo elo yang di depan, temen-temen harus lari buat nyusul. bengek - bengek deh,"
Baru selesai ngomong begitu, terdengar suara sang ketua OSIS yang begitu nyaring berteriak.
"Yang paling depan tambah kecepatannya. Jangan kayak siput ga kuat lari karena berat membawa rumahnya,"
Ger.......suara tawa yang ada di barisan meledak seketika. Sebetulnya mereka ingin protes sejak tadi karena Fadlan yang memimpin barisan larinya terlalu pelan. Namun niat itu diurungkannya karena khawatir protes mereka akan diabaikan oleh kakak OSIS yang mendampingi.
Akhirnya lari sedikit dipercepat, tiga putaran bisa diselesaikan dalam waktu 20 menit.
******
Selesai pemanasan, siswa kembali ke barisan seperti semula. Namun ketua OSIS meminta khusus kelas X IPA 1 memisahkan diri dari barisan yang lain.
"Ada apa ini," pikir Braga dalam hati.
"Sepertinya ada yang ga beres," bathin Bella
Fadlan yang berada di barisan paling kiri, atas komando ketua regu segera bergeser secara teratur, dikuti temannya yang lain.
Selesainya kita dikasih teh manis.
Sementara kelas yang lain diperbolehkan untuk duduk dan merenggangkan kakinya, kelas IPA 1 masih harus bersabar, tetap berdiri tegap meskipun kaki sudah pegal-pegal.
"Kalian tau kenapa dibariskan terpisah dari yang lain?" tanya Adelia dengan tegas.
Tidak ada yang menjawab, satu sama lain saling menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memperoleh jawaban. Tidak ada yang bisa menjawab, kenapa sepagi ini mereka sudah membuat ketua OSIS yang cantik itu naik pitam.
"Bagus, jika tidak ada yang menyadari kesalahan yang kalian perbuat, silahkan berdiri di sini hingga tengah hari nanti,"
"Yah...," Keluh semua anak IPA 1 nyaris bersamaan.
"Saya tidak mengizinkan kalian mengeluh. Saya minta kalian berpikir,"
"Periksa kelengkapan atribut kalian, apa yang berbeda dengan yang lain,"
__ADS_1
Semua diam. Mereka hanya bisa memeriksa kostum yang dipakai dari sepatu hingga pakaian. Semua sudah sesuai dengan ketentuan sekolah. Untuk sementara mereka mengenakan kaos olahraga dari sekolah asal .
"Tidak ada yang di langgar. Siap... Kami sudah mengenakan kostum sesuai aturan," Braga mencoba memberikan penjelasan pada sang Ketua.
"Ah, rewel sekali wanita ini. Kenapa juga sikapnya jadi bertele-tele begini. Tinggal kasih tau salahnya apa, beri sanksi. Gitu aja kok di ributkan. Gua gendong juga nih kalo tetep rewel," gerutu Fadlan. Ia masih ngos-ngosan karena berusaha kuat menyelesaikan tiga putaran. Ketika yang lain sudah steatching
mereka malah masih siap dalam barisan.
"Bikin emosi nih cewek," umpat Fadlan makin kesal.
Atas permintaan ketus Osis, kak Rafa membawa satu siswa kelas IPA 2, berdiri tegap di depan barisan IPA 1.
"Coba amati, bandingkan, temukan kesalahan kalian,"
JEDAAAARRR.......seketika itu juga Braga memukul keningnya dengan tangan kanannya. Cukup keras hingga ia meringis menahan sakit.
"Tamatlah kita semua," seru Shira yang segera sadar begitu melihat contoh yang ada di depan.
"Alamat lari sepuluh putaran lagi, nih," keluh Witri yang menjadi lemas seketika itu juga.
Fadlan yang berdiri di depan dan bisa mendengar dengan jelas saat Braga bergumam cukup keras, namun ia belum faham. Ia masih belum menyadari kesalahannya hingga teman satu kelas kena sanksi semua.
"Siapa yang punya ide menyesatkan ini," tanya ketua degan nada yang cukup tinggi.
"Nametag kalian memang lebih keren dan elegant, terliat hasil editan Photoshop yang sempurna berpadu dengan gaya huruf yang artistik. Namun kalian lupa, kalian tidak punya tanggung jawab terhadap diri sendiri. Bukankah sudah dijelaskan, buat sesuai aturan kelas. Nama dan tanggal lahir di tulis tangan,"
"Ini apa, sudah salah berjamaah lagi. Warna biru itu milik IPA 2 bukan IPA 1," bentak wanita itu lagi.
"Ya Tuhan, ternyata ini toh masalahnya," pekik Fadlan dalam hati.
Ia memberanikan diri melirik Braga yang ada di samping kiri. Wajah teman sekamarnya itu cukup santai, sepertinya ia bisa menerima kesalahan ini sebagai tanggung jawab bersama.
"Bagaimana yang lain. Coklat dan susu bisa meraka ambil lagi kalau begini,"
"Tidak usah saling menyalahkan. Semua salah. Setelah barisan saya bubarkan, silahkan kalian menyebar, satu anak memungut sepuluh sampah daun. Daun menjari. INGAT Ya...Daun yang berbentuk menjari. Jangan kembali jika jumlahnya belum mencukupi,"
"Catatan keras! yang kalian ambil daun yang sudah gugur. Jangat coba-coba memetik dari pohon," Kak Adelia mengingatkan kembali.
"Sepagi ini harus menemukan sepuluh daun, secara lapangan baru saja di sapu. Ya Tuhan," pekik Shira jengkel.
"Maaf, Kak. Ini murni kesalahan saya. Saya yang punya ide mengkoordinir ini karena teman-teman belum semuanya membawa laptop dan printer. Mengenai warna, saya pikir itu memang sudah tepat. Warna ungu. Sekali lagi saya minta maaf, seharusnya saya minta pendapat teman yang lain sebelum di cetak karena saya menderita buta warna parsial, saya sangat kesulitan membedakan warna ungu dengan warna biru. Saya melupakan hal itu. Saya minta maaf. Jadi ijinkan saya yang bertanggung jawab atas kesalahan ini. Biar saya yang menjalani hukuman, biarkan mereka melanjutkan kegiatan bersama kelas yang lain," Fadlan bicara panjang lebar agar seniornya itu bisa memaafkan teman-temannya.
"Siapa kamu? Siapa yang mengizinkan kamu memberi pembelaan. Sudah saya katakan, ini kesalahan berjamaah. Semua harus menanggung sanksinya,"
Merasa keputusan seniornya itu sudah final, tidak ada pilihan lain bagi kelas IPA 1 kecuali melaksanakan sanksi bersamaan.
Tidak ada yang menyalakan Fadlan atas semua ini, mereka seharusnya memahami aturan yang dijelaskan oleh pendamping mereka kemarin siang. Begitu barisan di bubarkan, mereka segera menyebar ke berbagai arah, menuju ke pohon yang mempunyai daun berbentuk menjari kemudian memungut jika ada daunnya yang gugur.
"Angin, bertuiplah. Gugurkan daun-daun ini sebanyak mungkin," Bella yang sudah bergelosoran di bawah pohon merasa putus asa. Begitu rindang pohon yang ada di atasnya, namun ia hanya menemukan satu daun yang ada di bawahnya.
__ADS_1
Happy reading all, jangan lupa VOTE dan KOMENTARNYA 😊😊😊😊