I Am Feeling Blue

I Am Feeling Blue
Foam Rolling


__ADS_3

"Bell, kakinya udah sembuh belum," pesan WA yang di ketik Braga.


Ia ragu ingin mengirim pesan itu. Kemudian dihapusnya kembali. Hp diletakkan di sisi meja.


"WA ga ya? Kalau aku WA ntar dia kira aku ada apa-apanya. Kalo ga WA ntar dibilang cuek. Ngambek lagi tuh anak. Besok-besok ga mau bantuin aku lagi," pikir Braga. Ia masih bingung antara mau berkirim pesan atau tidak ke Bella.


Braga melepas kaos kaki dan pakaian olah raga yang sudah basah oleh keringat. Usai kegiatan hari ini, ia segera kembali ke kamar karena benar-benar lelah. Sejak pukul 05.20 ia sudah keluar kamar, mulai dengan lari pagi hingga mengikuti kegiatan MPLS yang baru selesai pukul 16.00 WIB.


"Seger," serunya lirih. Kini ia hanya mengenakan boxer dan bertelanjang dada, berdiam diri menikmati dinginnya AC yang dinyalakan dengan suhu maksimal cool.


Pandangannya kembali lagi ke HP. Ia raih benda yang sudah menjadi bagian dari nyawanya itu. Cukup lama berpikir, akhirnya ia mengetik pesan yang sama, ditujukan pada orang yang sama.


"Kirim.... tidak. Kirim... tidak?" Braga masih menimbang-nimbang antara dua keputusan.


"Eh, anaknya online, Braga kaget begitu ia sedang menimbang antara ya dan tidak, orang yang dimaksud malah on-line.


"Jangan-jangan dia tau kalo gua sedang ngetik sesuatu," pikirnya dengan sok tau.


"Udahlah. Kirim aja,"


Tanpa pikir-pikir lagi, segera tekan tombol panah pada sisi kanan yang berwarna hijau.


Seketika itu juga pesan terkirim. Langsung centang dua dan berwarna biru.


"Eh, langsung di baca,"


"Ih, langsung di balas," Braga begitu girang melihat Bella terlihat sedang mengetik sesuatu.


"Belum. Cuma sudah jauh lebih baik," jawab Bella disertai emoticon sad.


"Sakit, ya?"


"Iya, kalo buat jalan,"


"Aku bawa foam rolling dari rumah. Mau make ga?"


"Apa itu?"


"Tar ya. Aku fotoin bendanya,"


Braga bergegas menarik tas perlengkapan atlet yang ia letakkan di bawah rak buku. Ia mengeluarkan satu benda yang mirip pipa namun dasarnya berserat kasar. Di foto, kemudian dikirim ke Bella.


"Oh. Ga tau cara makenya,"


"Taro roller persis di bawah sendi lutut terus gerakkan keatas dan kebawah, pijat sepanjang betis sebanyak 3 sampai 4 kali. Fokus aja ke bagian-bagian yang tegang. Cukup selama 1 sampai 2 menit, baru boleh menggerakkan roller ke seluruh otot betis atau bagian kaki lainnya,"


"Ada tutorialnya kok, searching di google banyak," lanjut Braga.

__ADS_1


"Mau, ga?" tanya Braga lagi karena cukup lama Bella tidak memberi jawaban.


"Foam roller ini bisa membantu meregangkan otot-otot dan tendon yang tegang"


"Kalo otot betis aku terasa sakit abis latihan, selalu pake ini. Lumayan, seluruh betis dan tendon achilles cepet normal lagi,"


"Boleh, aku coba dulu, deh!" Akhirnya Bella mau mengikuti saran Braga setelah ia bersusah payah memberi penjelasan bak sales alat kesehatan.


"Aku turun ya, minta tolong Sella yang ambil,"


"Aku aja, Sella belum balik ke kamar,"


"Oh, ya udah. Katanya sakit buat jalan?"


"Pelan-pelan mah bisa. Sekarang nih?"


"Sekarang apanya?" tanya Braga bingung.


"Katanya mau turun?"


"Oh, iya. Sekarang,"


Braga bergegas mencari kaos karena tidak mungkin dia keluar kamar dengan telanjang dada.


Tak lama, dengan menjinjing roller miliknya, Braga keluar dari kamar. Di depan pintu ia melihat Bella juga melakukan hal yang sama.


"Iya, aku pinjem dulu,"


"Ok," keduanya menyusuri beranda, menunju ke anak tangga.


"Mau ke mana loe?" tanya Fadlan yang sedang menapaki anak tangga menuju ke lantai 3.


"Mau kasih ini ke Bella,"


"Oh," Fadlan memonyongkan bibirnya. Pandangannya tertuju pada benda yang ada di tangan kanan Braga.


"Apaan?"


"Foam roller. Buat betis dia yang sakit,"


"Oh, iya. Tadi katanya kakinya kram. Kasian sepanjang hari nahan sakit," Fadlan menjelaskan. Ia ingin memberitahukan pada Braga jika ia lebih faham atas kondisinya Bella.


"Makanya aku tawarin ini. Siapa tau bisa jadi solusi,"


"Bawa dari rumah?"


"Iya. Alat andalan, lumayan buat streaching,"

__ADS_1


Fadlan mengangguk-angguk. Melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga. Begitu juga dengan Braga, ia bergegas menemui Bella yang sudah lebih dulu menunggunya di depan ruang makan.


"Cari muka tuh anak. Pake nawarin pinjaman alat begituan segala," gerutu Fadlan


Fadlan tidak kelas basuk begitu ia tiba di depan kamar. Berpura-pura membuka sepatu, ia mengutip keberadaan Bella dan Braga yang terlihat jelas dari arahnya berjongkok.


"Berat juga," ujar Bella begitu ia sudah menerima alat dari Braga.


"Lumayan. Pake aja dulu. Pastiin kakinya sampai bener-bener sembuh,"


"Ma kasih,ya. Maaf sudah merepotkan," Bella menundukkan kepala sejurus di hadapan Braga.


"Kebetulan ada, ga ngerepotin kok. Nyantai aja,"


"Iya, Terimakasih," ucap Bella masih dengan bahasa tubuh yang sama.


"Kamu lucu,Bell. Selalu berterima kasih untuk hal-hal yang tidak penting,"


"Begitu, ya?"


Braga mengangkat kedua bahunya dan tersenyum simpul. Sikap Bella yang demikian memang me


Buatnya semakin gemes. Ingin sekali ia mengacak-acak rambut gadis itu, yang dibiarkan terurai dalam keadaan kusut bak disapu badai.


"Berapa tahun nih anak ga nyisir rambutnya?" bathin Braga.


Tak mau terbawa emosi, Braga segera pamit. Ia meninggalkan Bella yang masih mengamati dan menimang-nimang roller darinya.


"Udah, ya. Aku belum sholat. Selamat berlatih. Lakukan dengan benar biar ga tambah sakit,"


"Iya, terimakasih ya!" sahut Bella dengan nada yang sedikit keras karena Braga sudah menaiki anak tangga kembali.


"Ya," Braga melambaikan tangan ke arah Bella dan memberikan senyum termanisnya pada teman satu kelasnya itu.


Fadlan menangkap ekspresi Bella yang teramat bahagia karena bertemu Braga. Apalagi Suparman kesiangan itu pake bawa-bawa bala bantuan segala.


"Sumpah demi apapun, receh banget tuh gaya mereka. Barang cuma dikasih pinjem begituan aja pake saling tatap menatap segala," gerutu Fadlan. ingin sekali ia melempar sepatunya yang sudah satu semester ga di cuci itu ke muka Braga.


"Cih....ga penting banget gua emosi sama ya g begituan," hibur Fadlan untuk menenangkan dirinya sendiri.


"Hemmm..... sudah...sudah...tahan emosi," gumam Fadlan. Ia bergegas masuk begitu melihat Kepala Braga sudah menyembul dari anak tangga. Ia tak ingin Braga tau jika dirinya sedang mengamati mereka di bawah.


Happy reading all


Jangan lupa VOTE dan KOMENTARNYA


😊😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2