I Am Feeling Blue

I Am Feeling Blue
Banyak Nyamuk


__ADS_3

Braga sudah merebahkan dirinya di kasurnya yang empuk. Di atas kasur busa single yang dibalut seprey berwarna putih motif Doraemon.


"He..he... Mama bisa aja. Beli seprey motifnya begini amat. Dikira aku masih anak TK apa?" pikir Braga yang baru menyadari betapa lucunya tempat tidurnya itu.


Sepasang bantal dan guling juga dibalut kain yang serupa, kecuali bantal yang ia bawa dari rumah. Sarungnya beda, motif LV coklat, warna favorit si mama.


Sudah hampir sepuluh menit ia terbaring, matanya belum terpejam juga. Bunyi nyamuk yang mondar- mandir di ruang kamarnya begitu berisik, cukup menganggu pendengarannya.


"Ya, Allah. Kenapa aku tidak membawa lotion anti nyamuk. Mama juga sepertinya melupakan barang yang satu itu," keluh Braga. Sudah dicek berulang kali isinya, namun ia tidak menemukan benda yang dimaksud di dalamnya.


Satu dua nyamuk yang sudah gemuk karena menghisap darahnya, berhasil ia tangkap.


"Jika sudah segendut ini aja baru bisa ketangkep" gerutunya. Berkali-kali nyamuk yang berhasil ditangkap selalu saya yang sudah kenyang menghisap darah segarnya.


"Pok....pok," bunyi tepokan tangan yang cukup keras dilakukan Braga berulang-ulang.


Nyamuk-nyamuk yang sudah mati itu, ia kumpulkan di sisi tempat tidurnya. Puluhan nyamuk yang sudah tidak bernyawa itu selalu dihitung oleh Braga ketika ada penambahan jumlahnya.


Ia menengok ke bawah, di lihatnya Fadlan tengah mengaji. Duduk bersila di karpet kecil yang terbentang di tengah kamar. Suaranya lirih, mungkin ia tidak mau mengganggu keberadaan orang lain di kamar itu.


Cukup lama ia mengamati temannya itu. Braga tidak ingin memotong lantunan ayat suci Alquran yang begitu merdu itu dengan pertanyaan. Braga bertahan hingga Fadlan menyelesaikan membaca ayat suci Alquran dan menutupnya dengan doa.


"Kamu belum tidur," tanya Braga.


"Aku selalu ngaji sebelum tidur. Sudah jadi kebiasaan sejak kecil,"


"Banyak Nyamuk, Fad. Kamu bawa lotion, ga?" tanya Braga.


"Enggak. Mana kepikiran bawa yang seperti itu,"sahut Fadlan. Ia mengembalikan Al-Qur'an-nya ke rak buku dan segera melangkah ke arah tempat tidur. Ia merebahkan dirinya di kasur yang paling bawah setelah mencopot kain sarung dan melipatnya kembali dengan rapi.


Tepukan demi tepukan terdengar dari arah atas. Fadlan hanya menahan senyum atas kelakuan teman sekamarnya itu.


"Dasar anak mama, menahan serangan nyamuk saja brisiknya minta ampun," gerutu Fadlan dalam hati.


"Tutup seluruh tubuhmu dengan selimut. Beres, kan?" seru Fadlan memberi saran.


"Mana bisa aku tidur dalam kondisi seperti itu. Menutup bagian tubuhku dengan selimut pun aku tak pernah, kecuali jika sedang kurang sehat," sahut Braga sedikit kencang karena ia khawatir suaranya tidak terdengar oleh Fadlan yang ada di bawah.


Tidak ada sahutan, suasana begitu hening. Braga curiga temannya itu sudah tertidur dengan sendirinya hingga tidak mendengar apa yang diucapkannya tadi.


"Ah, sialan tuh anak. Cepet sekali ia tidur. Dasar *****," gerutu Braga karena belum selesai ia berpikir, tiba-tiba terdengar suara orang mendengkur.


"Nyamuknya banyak plus suara dengkuran. Ya Tuhan....lengkap sudah penderitaanku," gerutu Braga lagi.

__ADS_1


Braga menyalakan kembali HP-nya yang sudah ia matikan sebelum membaringkan tubuhnya. Setelah beberapa saat, ia melakukan panggilan. Lama tidak ada jawaban.


"Apa dia sudah tidur, ya?" tanya Braga lirih.


"Nelpon siapa lu, udah malem begini. Emang lu kira sekarang jam berapa? Orangnya sudah tidur," tegur Fadlan karena ia mendengar beberapa kali nada panggilan dari ponsel Braga terabaikan.


"Ku kira kau sudah tidur, Fad," Braga tidak menjawab pertanyaan Fadlan. Justru ia kaget, ternyata Fadlan bisa mendengar apa yang dia lakukan.


"Meskipun sudah tidur, aku bisa mendengar jarum yang jatuh ke lantai. Entah kenapa, begitu faktanya," sahut Fadlan menjelaskan.


"Hah ..ada aja orang yang begitu. Matanya terpejam tapi kupingnya bisa menangkap bunyi di sekitarnya," ujar Braga.


"Biasanya aku tidur dalam kondisi gelap dan tanpa bunyi-bunyian apapun,"


"Oh, maaf. Aku ga tau kalau kau tidak bisa tidur jika ada sinar lampu,"


"Ga apa, dalam situasi begini. Aku bisa tidur dengan menutup kepalaku dengan selimut. Never mine. Kita harus bisa bersosialisasi dengan kondisi sekitar,"


"BTW siapa yang kau telpon?" tanya Fadlan penasaran.


"Sella," sahut Braga singkat.


"Cewek cempreng yang di kamar seberang?" tanya Fadlan lagi.


"Udah malem Bro. Dia pasti sudah tidur,"


"Belum. Dia masih online kok. Belagu sekali dia, berani menolak panggilan telponku," Braga mulai menggerutu.


"Apa kau terbiasa menelpon dia pada jam segini?"


"Iya, kalau ada PR aku suka nanya ke dia. Biasanya cepat diangkat kalau ada telpon dariku,"


"Mungkin dia tidak mau mengganggu temannya yang lain,"


"Aku nanya dia punya lotion apa enggak, cuma di read doang," seru Braga makin kesal.


"Dia kan bisa bales lewat pesan, ga harus angkat panggilan," omelnya lagi.


"Ha..ha...," terdengar suara tawa Fadlan.


Braga melakukan panggilan lagi karena ia melihat Sella masih online. Namun panggilan itu malah dialihkan olehnya.


Merasa jengkel atas perlakuan teman SMP-nya itu, Braga beranjak turun dari tempat tidurnya. Ia ingin mendatangi Sella yang sudah begitu keterlaluan padanya.

__ADS_1


"Mau kemana? Pintu gerbang sudah di tutup. Lo ga bakal bisa keluar nyamperin dia. Kecuali jika elo bisa melompat ke kamarnya," ujar Fadlan.


"Hah.....parah sekali. Gimana aku bisa tidur kalo begini,"


Braga membuka pintu. Ia ingin memastikan apa yang diucapkan oleh Fadlan. Ternyata memang benar. Dari kejauhan terlihat gembok berukuran besar tergantung di pintu pagar asrama lantai 3. Suasana begitu sepi, tidak satupun kamar laki-laki yang terbuka. Begitu juga kamar putri yang ada di seberang.


Braga akhirnya hanya bisa mondar-mandir di teras depan kamarnya dengan langkah gontai.


"Ah, bisa begadang sepanjang malam kalau begini ini," ucapnya dalam hati sembari menarik nafas yang panjang dan melepaskan dengan terpaksa.


Braga menghentikan langkahnya tepat di depan kamar. Ia berdiri, menyadarkan perutnya pada dinding pembatas teras. Ia memandang kamar Sella dan teman-temannya yang berada tepat di seberang kamarnya.


"Ada yang ganjal, nih. Apa yang muncul di antara kaca dan hordeng itu?" tanya Braga penasaran.


Ia menajamkan pandangan agar bisa melihat dengan jelas apa yang ia lihat itu. Karena kamar Sella dan kawan-kawannya tanpa penerangan, Braga cukup kesulitan mengenalinya. Namun dari pantulan lampu depan yang cukup terang, Braga sepertinya melihat kepala yang tersembul dari bagian mata ke atas.


"Siapa itu. Apa dia sengaja mengintai atau memang ada penampakan?"


Memikirkan itu tiba-tiba Braga menjadi bergidik. Ada perasaan takut pada dirinya karena suasana sepi, waktu juga sudah merambat mendekati tengah malam.


Braga tidak berani berlama-lama berdiri di situ apalagi benda hitam menyerupai rambut dengan setengah kepala manusia itu tidak bergeser sedikitpun dari tempatnya.


Meskipun bulu kuduknya mulai berdiri, ada rasa gengsi yang sempat terlintas di kepalanya.


"Bagaimana jika itu adalah kepala dari salah satu penghuni kamar itu. Bisa - bisa jadi bahan tertawaan jika aku lari tunggang langgang," pikir Braga.


Akhirnya dengan memilih tetap santai dan tenang, ia pura-pura tidak menyangkap apa yang dilihatnya itu sebagai sesuatu yang aneh. Mulutnya tak henti-hentinya istiqfar untuk menghilangkan rasa takutnya.


Setelah meregangkan kepala dan kedua tangannya, Braga membalikkan tubuhnya. Membuka pintu dan segera masuk ke ruangan.


Sesegera mungkin pintu itu ia kunci dan ia naik ke tempat tidurnya.


Terimakasih sudah mampir dan membaca novel saya😍


Jangan lupa sematkan


✓ Bintang 5


✓ Favoritkan


✓ Vote


✓ ikut akunnya

__ADS_1


✓ Komentar & Likenya ya🙏🙏🙏


__ADS_2