I Am Feeling Blue

I Am Feeling Blue
Shira


__ADS_3

Pergelaran seni dan kebudayaan Indonesia yang di selenggarakan secara terbuka di Pasar Seni Hamburg selama dua hari ini selesai. Tidak disangka, acara ini mendapatkan sambutan yang sangat baik dari warga Indonesia yang bermukim di Jerman maupun penduduk setempat.


Kegiatan yang terselenggara atas kerjasama sama antara menteri pendidikan nasional dan kedutaan Jerman ini baru pertama kalinya diselenggarakan. Kegiatan ini merupakan pergelaran seni yang rencananya akan dilakukan setiap tahun dan melibatkan banyak pelajar dari berbagai daerah, dengan potensi seni yang mereka miliki.


Pengunjung yang datang khusus ingin menikmati pergelaran seni yang ditampilkan, ada pameran lukisan, pentas teater, pergelaran tari tradisional dan pameran buku-buku tentang sejarah Nusantara.


Sebagai pelengkap dari pergelaran itu, pengunjung juga dimanjakan dengan sajian kuliner Nusantara yang digelar oleh mahasiswa Indonesia yang sedang menyelesaikan pendidikannya di Jerman. Decak kagum selalu terungkap dari mimik setiap pengunjung atas penampilan para pelajar yang tergabung dalam kelompok pecinta seni Indonesia itu dan juga cita rasa kuliner Nusantara yang berhasil memanjakan lidah mereka.


Tidak sedikit diantara mereka memesan beberapa menu yang dijual untuk keluarga tercinta dan pulang dengan membawakan hasil karya pelajar. Mereka menilai usaha para pelajar Indonesia dalam memperkenalkan budayanya ke pasar Eropa harus mendapatkan apresiasi yang tinggi.


Di usianya yang masih muda mereka sudah mempunyai pemikiran yang begitu brilian untuk melestarikan budaya negerinya.


"Kamu hebat, sayang. Lukisanmu dibeli dengan harga yang cukup tinggi. Mama bangga denganmu, bakat seni dari Kakekmu ternyata mengalir begitu kentalnya di tubuhmu," Decak kagum Mama tak henti-hentinya ditujukan pada Shira karena dalam dua hari pameran, kelima lukisannya terjual. Dibeli pengunjung kebangsaan Eropa dengan harga yang cukup tinggi.


"Iya, Ma. Tadinya aku kurang yakin kalau lukisan aku itu akan dihargai oleh penikmat seni," sahut Shira yang tak kalah senangnya.


"Rasanya seperti mimpi. Aku merasa punya energi yang baru untuk menghasilkan karya yang lebih banyak lagi," sahutnya dengan antusias.


"Itulah yang disebut hobby, sayang. Engkau melukis berangkat dari kecintaanmu pada seni sehingga apa yang tergores dalam kanvas itu adalah bentuk kecintaan yang tulus. Di situ nilai itu terlihat," lanjut Mama yang masih mengembangkan senyum kebanggaan itu.


"Terimakasih, Ma. Semua berkat dukungan mama dan keluarga,"


"Kami hanya memberikan kebebasan kepada kalian untuk memilih jalan hidup masing-masing masing dengan mengembangkan potensi yang sudah kalian miliki. Dengan begitu kalian akan menjalani segala sesuatunya dengan senang hati dan hasilnya pun akan bisa membanggakan. Mama yakin itu!"


"Menurut buku yang pernah mama baca,


daya kerja otak manusia selalu meningkat secara eksponensial untuk masa sekarang. Satu hal yang perlu diketahui adalah konsep neuroplastisitas yaitu kemampuan otak untuk membentuk kembali dirinya sendiri dan membentuk koneksi neuron baru saat kita menyerap informasi baru. Salah satu cara terbaik untuk meningkatkan neuroplastisitas adalah dengan berpikir kreatif dan menggunakan berbagai cara berfikir yang lebih baik untuk melakukannya, seperti berlatih instrumen, melukis gambar, atau belajar gerakan tarian baru. Untuk itu, bentuk kesenian-kesenian tersebut perlu dimanfaatkan dan dilakukan untuk membentuk otak kita agar lebih aktif," jelas Mama sembari mengingat isi buku tentang perkembangan otak manusia dan daya imajinasi yang pernah ia baca.

__ADS_1


"Jadi kamu faham kan, kenapa sejak dulu di keluarga kita tubuh seniman-seniman baru dan birokrat yang handal," tegas Mama lagi.


"Iya, Ma. Terimakasih untuk semuanya," kali ini Shira menuju ke arah Mamanya lebih dekat lagi dan memeluk perempuan yang sudah mendampinginya di Jerman selama dua hari ini. Tidak lupa satu kecupan hangat juga mendarat di pipi kanan dan kiri sang ibu.


"Sekarang kita siap-siap. Masih ada waktu untuk istirahat di hotel. Duh, cuaca kok begitu panas. Mandi dan rebahan sebentar bisa bikin rileks,nih,"


Shira dan Mama terlihat sedang berkemas, seperti halnya yang dilakukan oleh rombongan yang lainnya. Masing-masing membereskan barang pribadinya yang mereka bawa dari tabah air.


"Summer, Mah. Apalagi di Jakarta coba? Pertengahan Juli memang sudah menjadi bagian sang surya memuntahkan amarahnya. Kita cuma bisa pasrah, tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menerima amukannya,"


"Kita sudah begitu tamak menguliti bumi hingga sulit sekali menemukan pori-pori mereka di kota-kota besar seperti ini. Apalagi di ibukota kita tercinta,"


"Ah bahasamu puistis sekali. Apa sudah punya rencana menulis kumpulan puisi, nih?" tanya Mama dengan nada menyelidik.


"Enggak, kok. Aku cuma membiasakan diri untuk menggunakan bahasa perumahan yang kedengarannya lebih halus saja kok,"


"Nih...Semua sudah beres. Sudah masuk dalam koper. Ayo!" Ajak Shira dengan koper yang berisi perlengkapan lukis di tangannya.


Mereka berdua segera meninggalkan pasar seni setelah say hello dengan peserta yang lainnya. Untuk beberapa saat mereka masih bisa memanjakan diri di kamar sebelum berkumpul lagi pukul 20.00 waktu setempat dan melanjutkan penerbangan ke Jakarta.


"Ma, apa kita tidak membeli oleh-oleh untuk sekolah. Aku ga ikut MPLS dua hari. Ga enak rasanya meninggalkan kewajiban?" tanya Shira ketika mereka sudah berjalan beriringan menuju taxi yang akan membawanya ke hotel.


"Mama juga sempet mikir begitu sayang, namun nanti disalah artikan sebagai bentuk sogokan. Posisi kita cukup sulit, kalo tidak membawa apapun malah dibilang pelit,"


"Iya, sih. Tapi insya Allah tidak sampai seperti itu. Yang dikatakan sogokan itu jika kita memberi ada niat ingin memperoleh sesuatu, tapi ini kan tidak. Kita memberi karena memang ingin mereka ikut merasakan kegembiraan atas sebuah perjalanan yang sudah kita lakukan bersama," Shira coba memberi alasan pada Mamanya.


"Baiklah jika maunya seperti itu. Nanti Mama akan pesankan cinderamata sejumlah guru dan karyawan di sekolahmu pada ketua panitia. Mereka yang lebih berpengalaman mencari benda-benda itu di sini. Kita istirahat saja,"

__ADS_1


Begitulah Shira, meskipun lahir dan tumbuh di tengah keluarga terhormat dan berkecukupan namun ia punya kepedulian yang tinggi terhadap orang-orang di sekelilingnya.


"Senin, Papa menjadi pembina upacara di sekolahmu. Suatu kebetulan saja, pihak protokoler yang menyusun jadwal. Sudah jadi rutinitas setiap tahunnya, jika hari pertama sekolah papa anak melakukan kunjungan kerja di sekolah dan memimpin upacara di tempat tersebut," Mama mulai membuka pembicaraan ketika taxi yang membawa mereka sudah melaju dengan kecepatan sedang.


"Ih, kok begitu sih? Semoga tidak ada yang menghubung-hubungkan kunjungan papa karena ada putrinya di sekolah itu," harap Shira sedikit cemas. Hal yang paling tidak disukai dalam hidupnya jika apapun yang dilakukannya kerap dihubungkan dengan keberadaan orang tua. Ia ingin menjadi dirinya sendiri, seperti anak remaja pada umumnya.


"Itu mah sudah pasti. Kebanyakan orang pasti berpikir begitu. Sudah biasa. Anggap saja itu sudah menjadi bagian dari hidupmu, sekarang tugasmu tinggal membuktikan pada mereka jika kamu mampu berdiri karena kemampuan yang kamu miliki,"


"Perkara itu masih disangkut pautkan atau tidak, anggap saja itu bonus. Bonus karena kamu memang anak petinggi yang tidak lepas dari bidikan orang-orang di sekitarmu,"


Shira hanya mampu menghela nafas. Apa yang diucapkan oleh Mama memang benar, sangat sulit melepaskan diri dari bayang-bayang orang tua.


Ketika ia mencapai prestasi akademik tertinggi di sekolahnya, mengkaitkan prestasinya itu dengan posisi orang tuanya. Ketika ia berhasil ikut seleksi karya seni pelajar yang menghantarkan ke Jerman, dicurigai ada campur tangan orang tuanya.


"Hemmm...." Shira menarik nafasnya dengan panjang sembari memandang ke luar kaca. Sore itu jalanan di sepanjang kota Hamburg mulai dipadati pejalan kaki.


Terimakasih sudah mampir dan membaca novel saya😍


Jangan lupa sematkan


✓ Bintang 5


✓ Favoritkan


✓ Vote


✓ ikut akunnya

__ADS_1


✓ Komentar & Likenya ya🙏🙏🙏


__ADS_2