
Gedung berlantai 5 yang megah ini lebih dikenal dengan asrama daripada fungsinya yang lain meskipun tidak semua ruang yang ada dibangunan itu diperuntukkan untuk tempat tinggal siswa.
Lantai dasar sisi kanan gedung ini diperuntukkan untuk dapur umum dan ruang makan dengan kapasitas 500 orang. Semua anak mendapatkan makan dan minum gratis dan tidak boleh di bawa ke kamar. Untuk itu disediakan aula yang luas lebih menyerupai restoran sebagai tempat siswa untuk menikmati makanannya.
Sisi kirinya diperuntukkan sebagai koperasi atau bengkel ekonomi bagi anak-anak kelas IPS. Manajemen di koperasi yang lebih cocok disebut sebagai minimarket ini diurus sepenuhnya oleh anak-anak kelas ekonomi. Begitu juga dengan SDM yang difungsikan di sana. Tidak heran jika dalam setiap harinya ada anak-anak yang mendapat tugas piket sebagai petugas kasir, pelayanan, maupun stokies. Jam operasional koperasi ini dari jam enam pagi hingga jam sembilan malam, tiga shift.
Mereka menjalankan tugasnya dibawah bimbingan dan pengawasan guru yang ditugaskan sebagai kepala bengkel ekonomi. Pusat perbelanjaan ini juga dilengkapi dengan mesin ATM dan layanan rental dan fotokopi. Semua yang menunjang kebutuhan anak-anak tersedia di sini.
Lantai dua difungsikan untuk perpustakaan, laboratorium IPA, auditorium, ruang organisasi siswa seperti ruang OSIS, Pramuka, P3k, layanan BP dll.
Lantai 3,4, dan 5 baru diperuntukkan sebagai tempat istirahat atau asrama. Susunan nya urut tingkatan. Lantai 3 untuk kelas 10, lantai 4 untuk kelas 11 dan lantai 5 untuk kelas 12.
Agar lebih tertib, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan membatasi privasi anak-anak, disediakan tangga pada sisi kanan, kiri, dan tengah bangunan.
Tangga sisi kanan untuk lalu lintas murid laki-laki menuju ke kamarnya, tangga kiri untuk siswa perempuan, dan tangga tengah hanya untuk mobilitas menuju ruang yang ada di lantai 2.
Β
**Ilustrasi Asrama**
Β
Braga sudah berada di kamar yang akan ditempatinya selama tiga tahun ke depan, yaitu kamar dengan nomer pintu 301b. Ruang yang berukuran 3x4 M 2 itu sudah dilengkapi dengan ranjang tingkat 3 dari bahan kayu berikut kasurnya, rak buku sekaligus tempat pakaian, dan perlengkapan lainnya, seperti meja belajar, kursi, dll.
Ruang yang diperuntukkan untuk 3 hingga 4 siswa juga dilengkapi dengan kamar mandi dan pendingin ruangan. Fasilitas yang bisa dikatakan mewah ini tidak dipungut biaya apapun, gratis. Semua ditanggung oleh pemerintah sebagai sarana dan prasarana penunjang pendidikan.
Mama yang lebih dulu masuk kamar meletakkan tas yang yang berisi barang-barang anaknya di atas ubin, di tengah ruangan. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang itu. Sesekali jarinya yang putih bersih itu ia sapukan di atas benda yang ada di dekatnya.
"Lumayan bersih, bebas debu," gumam ibu.
Kemudian ia melangkah menuju kamar mandi, memeriksa keadaan kebersihan ruang itu. Ekspresinya sedikit bergidik, namun ia tidak memberikan komentar apapun. Mama segera menutup pintunya dan kembali ke sisi tempat tidur.
"Sudah tidak ada yang tertinggal, kan?" tanya Mama pada Braga yang tengah mengecek keadaan lemari pakaiannya.
"Sudah," sahut Braga singkat.
"Lemari pakaiannya kecil, tidak bisa untuk menggantung baju. Nanti Mama bawakan rak gantung besi agar bisa menggantung pakaianmu,"
"Terserah, mama aja. Apa boleh menambah barang? Nanti justru membuat yang lain tidak nyaman?"
__ADS_1
"Gampang lah, nanti Mama yang urus,"
Saat mereka tengah berbincang-bincang, terdengar suara orang memberi salam. Braga dan Mama seketika itu mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
"Waalaikum salam," sahut mereka nyaris bersamaan.
Berdiri di depan pintu dengan senyum yang mengembang, seorang pria berperawakan tinggi dengan tubuh yang sedikit subur. Tangan kanannya masih memegang koper dengan motif LV serta tas punggung yang masih bergelayut di bahu kirinya.
"Permisi, Bu. Saya menghuni kamar ini," serunya masih dengan senyum dan suaranya yang bernada ramah.
"Oh, silahkan. Berarti kamu satu kamar dengan anak saya," sahut mama.
"Saya Fadlan, Bu," pria itu memperkenalkan diri. Ia mengulurkan tangannya ke arah Mama, kemudian bergantian ke arah Braga.
"Braga, kita juga satu kelas kan?" ujar Braga saat menjabat tangan pria itu.
"Iya, saya di kelas IPA 1" sahut Fadlan lagi.
"Ada berapa orang yang di kamar ini, ya?" tanya Mama pada Fadlan.
"Kalau yang saya lihat di daftar pembagian kamar ada 3 orang Tante. Mungkin lagi OTW," jawab Fadlan.
"Oh," Mama menganggukkan kepalanya sembari menatap ranjang yang ada di depannya.
"Saya terserah aja, Tante. Dimana aja boleh,"
Braga melirik ke arah mamanya. Ia mulai tidak suka dengan sikap wanita itu yang mulai mengatur. Jika dibiarkan bisa-bisa ruang ini dikuasai atas maunya sendiri.
"Braga bisa dibawah atau ditengah. Ga masalah kok, Ma"
"Udah, ga usah dibahas lagi. Fadlan sudah setuju kok. Tinggal dia bikin kesepakatan dengan teman yang satunya," buru-buru mama memotong perkataan Braga.
Cukup lama Mama Braga berada di kamar itu, ia membantu putranya beres-beres hingga seluruh barang yang dibawanya tadi tersusun di tempatnya dengan rapi. Sementara Braga dan Mamanya beres-beres, Fadlan juga melakukan hal yang sama. Namun ia melakukannya seorang diri.
"Kamu sendirian," tanya Mama pada Fadlan karena sejak tadi tidak melihat satupun keluarga yang datang menemani.
"Iya, Tante. Om dan Tante saya masih kerja. Malam mereka baru bisa ke sini. Lagian rumah saya deket kok,"
"Kamu tinggal dimana?" tanya Mama Braga lagi.
"Di komplek beacukai depan depan situ, Tante,"
__ADS_1
"Oh, orang tuamu kerja di beacukai?"
"Bukan. Saya tinggal sama om dan Tante saya. Kalau orang tua saya ada di luar daerah,"
Mama Braga mengangguk-anggukkan kepala tanda sudah faham dengan kondisi teman satu kamar putranya itu. Ia tidak melanjutkan pertanyaannya lagi hingga selesai membereskan pekerjaannya.
Setelah semuanya rapi dan sepertinya wali murid yang mengantarkan anak-anaknya juga sudah sepi, Mama Braga akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah. Tidak lupa, sebelum pamit dari ruang itu ribuan pesan ia sampaikan pada Fadlan dan Braga. Braga hanya bisa menahan malu melihat kelakuan mamanya yang super protektif itu.
"Udah, Ma. Katanya mau ada arisan. Nanti Mama terlambat, loh," Ujar Braga mencoba mengingat mamanya agar temannya segera bebas dari wejangan mamanya.
Braga akhirnya mengandeng tangan namanya agar buru-buru meninggalkan kamar, ia khawatir teman yang belum dikenalnya secara dekat itu merasa terganggu oleh wejangan-wejangan sang mama.
Braga mengantarkan mamanya hingga ke tempat parkir karena tadi ia lupa membawa bantal yang sudah disiapkan mama untuknya. Sepanjang perjalanan, ia masih saja mengingatkan hal-hal yang sebetulnya sudah difahami oleh putranya itu.
"Inget ya, bantalnya jangan sampai dipake temanmu. Mama sengaja memilih kasur yang paling atas agar kedua temanmu tidak sembarangan tidur di kasurmu,"
"Iya, ma. Mama sudah mengulangi omongan ini berkali-kali. Braga sudah bisa mengingatnya dengan sangat baik," sahut Braga menahan senyum.
Ia segera menutup pintu mobil Mamanya, agar wanita itu segera pergi. Kupingnya berasa begitu pengang mendengar petuah-petuah yang tidak pernah selesai dan sudah seperti rekaman kaset yang diputar berulang-ulang.
Braga mencium tangan ibunya sebelum wanita itu menutup kaca mobilnya dan segera melambaikan tangan ketika mobil yang dikendarai mamanya bergerak meninggalkan parkiran.
Β
**Ilustrasi** **kamar, asrama bagian dalam**
Β
**Happy reading allπ
Jangan lupa sematkan
β Bintang 5
β Favoritkan
β Vote
β Komentar & Likenya yaπππ
__ADS_1
Vote, like, & komentar yang kalian berikan membuat saya makin semangat untuk update π
Terimakasih**!