
Dari makan malam hingga anak-anak bisa kembali berkumpul di auditorium lantai 2 hanya membutuhkan waktu tidak kurang dari 40 menit. Sudah sekitar 95 persen siswa yang masuk ruangan dan duduk di bangku yang sudah disiapkan. Beberapa diantaranya belum datang kembali setelah disuruh mengganti pakaian yang dianggap kurang sopan. Salah satu guru yang yang berjaga di pintu masuk tidak memperoleh siswa yang mengenakan baju tanpa kera masuk ke ruang auditorium.
"Jika ada pertemuan utamakan kemeja yang berkera, kecuali baju Koko. Itu sudah menjadi aturan tertulis. Pasti kalian belum membaca tata tertib yang sudah dibagikan saat lapor diri," tegur bapak guru yang berjaga dipintu dengan tegas.
"Kembali ke kamar. Ganti baju kalian," perintah pria itu lagi.
Braga, Bella dan Verra berjalan beriringan menuju pintu masuk. Tidak ada kendala bagi mereka bertiga karena dari segi pakaian yang mereka kenakan sudah sesuai dengan tata tertib yang berlaku.
Kini mereka duduk di bangku yang masih kosong, berjajar ke samping sebelah kiri pintu masuk.
"Mohon diperhatikan, siswa yang sudah masuk ruangan harap mengisi tempat duduk yang paling depan. Mohon segera diperhatikan agar acara bisa segera kita mulai," ujar suara yang terdengar dari podium.
Braga mengisi kursi yang masih kosong, persis di depan Bella dan Verra. Ia terpaksa pindah karena kursi yang ia tempati saat ini adalah satu-satunya kursi yang belum terisi.
Begitu juga dengan yang lainnya. Siswa yang duduk di belakang segera mungkin bergeser sesuai dengan instruksi. Dalam sekejap mereka sudah bisa menertibkan dirinya masing-masing.
"Mohon perhatian kembali. Siswa yang duduk di meja makan no. 7, 12, 16, 21, dan 36 harap kembali ke ruang makan. Perlu diperhatikan lagi, sesuai aturan yang sudah di tempel di beberapa sudut di ruang makan, jelas tertulis bahwa "setiap selesai makan harap membawa piring dan gelas ke tempat cucian piring". Kondisi meja harus bersih dan rapi seperti semula," sebuah panggilan dari podium setelah ada petugas dapur yang datang dan memberikan kertas kecil pada pak guru yang memegang pengeras suara.
Beberapa siswa saling memandang, mereka tidak memperhatikan duduk di meja nomer berapa saat makan tadi. Namun Braga bisa mengingat dengan jelas bahwa ia, Bella dan Verra duduk di bangku nomer 16.
"Waduh, peralatan makan aku belum di bawa ke tempat piring kotor," ujar Braga sembari menepuk keningnya.
Ia segera berpaling ke belakang.
"Saat kau pergi, gelasmu juga ga dibawa tadi," Braga mencoba mengingatkan Verra.
"Udah sih, Elo aja yang balik. Aku nitip gelas minumku sekalian," seru Verra
"Enak aja. Kesannya cuma aku yang ga terbit di meja makan," sahut Braga merasa keberatan.
"Dih peritungan sekali. Jadi laki-laki itu ga ada jeleknya berbaik hati sama perempuan," sahut Verra.
"Ini mah beda, baik dalam hal apa dulu dong. Masa yang begini ini laki-laki bisa dianggap sebagai pahlawan jika mau berkorban," sergah Braga tak mau kalah.
__ADS_1
"Ya udah, bareng. Kita balik lagi ke sana," usul Verra.
"Udah Si Ver, elo kan anak perempuan. Punyaku beresin sekalian. Noh lihat.... yang keluar semuanya anak cewek," ujar Braga berkelit.
"Dih, elo gimana sih? Gua nitip gelas satu aja elo ga mau. Lah ini malah semua perlengkapan makanmu minta aku yang beresin. Mau enaknya sendiri," protes Verra dengan suara yang sudah mulai meninggi. Beberapa siswa yang duduk di sekitar mereka sudah mulai mengalihkan pandangannya ke arah Braga dan Verra.
"Udah, ayo sama aku aja. Gitu aja kok jadi ribut," Bella mencoba menengahi keduanya. Ia bangkit dari tempat duduknya dan menarik tangan Verra.
"Ayo, inget ya. Cuma kali ini aku toleransi sama kamu. Besok-besok.... OGAH!" Ujar Verra dengan sedikit sengit
"Ih, yang bantuin aku kan Bella. Aku merasa tidak merugikanmu," Braga mencoba membela diri.
"Baik juga nih Bella. Ga ada salahnya kalo jadi temen deketnya," pikir Braga dalam hati yang melihat Bella sudah berdiri dan mengajak Verra lekas meninggalkan ruangan itu.
Verra tidak sempat membalas ucapan Braga karena tangannya sudah keburu di tarik oleh Bella. Namun ia sempat memandang kesal pada Braga. Ada rasa tidak puas terlihat dari raut wajah cewek yang berkulit hitam manis itu.
Mereka berdua bergegas meninggalkan ruang itu menuju ruang makan untuk membersihkan meja tempat mereka makan beberapa saat yang lalu. Bella khawatir akan terjadi keributan jika ia tidak segera manarik lengan Verra dan menyelesaikan tugasnya di ruang makan.
"Maafkan kami, Pak. Kami belum membaca aturan yang tertempel di sudut dinding itu. Tapi kami memang bersalah. Meskipun tanpa ada pengumuman seperti itu sudah seharusnya kita punya tanggung jawab untuk menjaga kebersihan dan merapikan kembali meja dan kursi yang dipakai. Maaf ya, Pak!" ucap Bella dengan begitu santun.
Karena sikap Bella yang begitu sopan dan sadar akan kesalahannya, membuat pria yang berkumis tebal dan berwajah sangar itu akhirnya tersenyum.
"Iya, ini baru pertama. Masih ada toleransi. Jika lain kali diulang kembali akan ada hukuman,"
"Baik pak. Maafkan kami," ucap Bela sekali lagi.
Verra begitu kesal melihat tingkah Bella yang berulang kali minta maaf atas sesuatu yang tidak ia perbuat. Meskipun ia merasa bersalah namun kedongkolannya pada lebih menjiwai hatinya daripada mengikuti Bella yang meminta maaf berulang kali.
"Awas aja tuh si banci. Lain kali akan aku buat kau menyesal," bisik Verra dalam hati dengan nada penuh kekesalan.
"Siapapun yang melanggar aturan, hukuman mencuci semua piring yang kotor," ujar pria itu lagi.
"Iya, Pak. Akan kami ingat baik-baik. Mohon maaf,"
__ADS_1
"Baiklah, silahkan," ujar pria itu akhirnya.
Bella dan Verra segera membereskan meja tempat mereka menghabiskan makan malamnya. Bella membawa piring kotor itu ke bagian belakang, sementara Verra membereskan meja dan kursi seperti susunan semula.
Setelah semuanya beres,tidak lupa keduanya pamit pada bapak petugas dan kembali ke ruang auditorium. Masih dengan sikap khasnya, Bella kembali minta maaf dan berulang kali menundukkan kepalanya sebelum mereka meninggalkan tempat itu.
Suasana di ruang auditorium sudah mulai hening. Di podium telah hadir beberapa orang dengan penampilan rapi, duduk sejajar menghadap para siswa.
Malam itu, semua yang ada di depan mengenakan pakaian santai namun tetap menjaga kesopanan. Sekilas bisa terlihat jika mereka adalah orang-orang yang dipentingkan di sekolah ini.
Bella dan Verra masuk lewat pintu tengah. Mereka bergabung dangan teman yang lainnya, duduk di kursi paling belakang karena tempat duduknya semula sudah ditempati orang lain.
Acara sudah dimulai, MC sudah membacakan susunan acara sekaligus memberikan waktu kepada masing-masing pejabat sekolah untuk memberikan sambutan. Di mulai dari wakil kepala sekolah bidang sarana prasarana, kesiswaan, humas, kurikulum dan terakhir sambutan dari kepala sekolah SMA Tunas Negara.
Selama acara berlangsung, tak ada anak-anak yang berani membuka suara. Entah karena belum saling mengenal atau karena masih takut dengan aturan yang diberlakukan di sekolah ini.
"Bisa jadi trauma karena ada panggilan siswa yang tidak membereskan peralatan makan mereka dengan suara yang tegas hingga mereka jadi begitu berhati-hati," bisik Bella dalam hati.
Karena Bella duduk paling belakang, ia bisa dengan bebas mengedarkan pandangannya pada semua peserta didik baru yang saat ini bersama dengan dirinya, mengikuti acara perkenalan.
Happy reading allπ
Jangan lupa sematkan
β Bintang 5
β Favoritkan
β Vote
β Komentar & Likenya yaπππ
Vote, like, & komentar yang kalian berikan membuat saya makin semangat untuk update π
__ADS_1