
Seperti halnya di gedung B, suasana di gedung A juga tak kalah ramai. Beberapa wali murid juga ada yang menemani anaknya hingga selesai membereskan barang-barang bawaannya. Canda tawa, haru biru suara yang terdengar dari pintu-pintu kamar yang masih dibiarkan terbuka oleh penghuninya.
Tidak bedanya dengan Bella, ketika sampai di kamarnya dan Abinya juga sudah melihat keadaan ruangan yang akan ditempati oleh anak gadisnya itu, justru ia meminta agar Abinya segera pulang.
Ia tahu, matahari sudah mukai meninggi dan sebebtar lagi Abi akan menutup tokonya. Tiga karyawan yang bekerja pada menerea di toko juga akan pulang setelah mereka membantu melayani pembeli mulai jam 08.00 pagi hingga jam 16.00.
Menjelang tokonya akan ditutup pasti mereka harus beres-beres dulu dan ada administrasi yang harus di selesaikan oleh Abi. Untuk itu, Bella mengingatkan bahwa ia bisa menangani semuanya sendiri agar Abi bisa pulang dengan tenang.
"Tinggal aja, Bi. Bella bisa beres-beres sendiri. Lagian juga sudah tidak ada yang perlu diurus lagi,"
"Bener nih bisa Abi tingal. Temen yang lain masih pada ditungguin,"
"Abi, mah... Itu beda. Bella sudah biasa mengerjakan yang seperti ini. Udah tinggal aja. Kasian sama karyawan yang di toko. Mereka nungguin Abi untuk nutup toko,"
"Ok, baiklah kalau begitu. Abi tinggal, ya. Telpon jika ada sesuatu yang diperlukan,"
"Baik, Bi. Terimakasih sudah nganterin Bella,"
"Kamu ini, sesibuk apapun pasti Abi usahakan untuk nganterin anaknya yang mau ke asrama," ujar Abi sembari memencet hidung putrinya itu.
"Bunda lagi sibuk, karena ga ada yang jaga toko. Jadi kain kali kami pasti akan ke sini lagi jengukin anak Abi yang cantik ini,"
"Iya, Bi. Bella tau kok Bunda memang lagi sibuk. Lagian setiap akhir pekan Bella kan pulang, kok jadi Baper begini,"
Mendengar ucapan putrinya itu, Abi jadi tertawa. Ia baru sadar jika asrama putrinya ini cukup dekat dengan tempat tinggalnya. Masih di kota yang sama dan setiap akhir pekan mereka diizinkan pulang.
Setelah Bella mencuim tangan dan diakhiri pelukan hangat Abi pada putri sulungnya itu, akhirnya Abi meninggalkan Bella bersama teman-teman barunya.
Dua cewek yang tengah sibuk membereskan barangnya di kamar segera beranjak dan memberi salam kepada laki-laki paro baya yang ketampanan tidak perlu di sanksikan lagi.
"Om pulang dulu ya, titip Bella. Semoga kalian cocok dan bisa menjadi teman belajar yang saling melengkapi,"
"Siap ,Om," sahut keduanya.
"Siap,Om. Eh...siap Om.... siap Om yang ganteng," seru Sella keceplosan. Kata yang sama diulang-ulang.
__ADS_1
Aby tertawa seketika itu juga melihat teman putrinya yang lucu ini. Namun rona mukanya sempat bersemu merah jambu karena disebut om ganteng oleh teman anaknya itu.
Kemudian mereka bertiga melangkah dan berdiri di depan pintu melepas kepergian orang tua Bella hingga tubuh Abi yang tinggi tegap itu tidak terlihat lagi, tenggelam dengan sendirinya ketika menuruni anak tangga.
Mereka segera menutup pintu dan kembali ke kamar. Kini saatnya untuk membereskan barang-barang yang mereka bawa agar ruangan ini tidak penuh oleh tumpukan tas yang terserak di lantai.
"Kamu dari SMP mana?" tanya Bella pada Sella, teman satu kamarnya saat mereka tengah membereskan barang-barangnya sambil bertanya satu sama lainnya.
"Dari SMP 707, ada tiga orang yang diterima di sini. Tapi hanya aku yang milih IPS," sahut Sella.
"Oh, SMP pavoritkan itu. Banyak juga yang keterima di sini. Aku cuma sendirian. Enak juga kalau ada temannya di sini. Tapi kenapa ga minta satu kamar?" ujar Bella.
"Mereka cowok, Bella. Yang satu di kelas IPA 1 anaknya wali kota Seberang Timur. Satu kelas sama kamu. Yang satunya IPA 2,"
"Oh, ya. Siapa namanya?"
"Braga. Dia atlet Nasional kebanggaan sekolah kami. Anaknya guanteng banget. Hem.....andai aku bisa jadian sama dia, aku ga bakal selingkuh hingga akhir hayat," ujar Sella sembari berkhayal.
"Ganteng banget, ya? Jadi penasaran. Seperti apa sih orangnya?" tanya Bella penasaran.
"Tau Si Won, kan? Dia satu level di atasnya, Bell, pokoknya Mas Si Won tak ada lawan. Eh...Mas Si Won ganteng," seru Sella lagi.
"Please, deh. Tolong jangan dilanjutkan pembahasan ini sekarang. Bisa-bisa aku pengen segera rebahan dan memeluk guling kesayangan. Aku jadi pengen mager dan terbang sejauh mungkin kalo inget senyumnya yang begitu manis, lesung pipinya bikin meleleh nih hati," tambah Sella makin mabok kepayang.
"Wow keren dong," seru Bella lagi.
"Iya, aku pernah liat orangnya waktu turnamen di Senayan bulan lalu. Ganteng juga, sih," sahut Verra biasa-biasa saja.
"Jadi penasaran, tadi kita belum sempat kenalan satu sama lain. Tar malem bakal aku intip, yang mana orangnya?" ujar Bella bersemangat.
"Bell, jangan coba-coba PDKT sama dia, ya! Inget...istri mas Si Won pasti ga akan memaafkanmu. Eh...Sella istri Mas Si Won," ancam Sella dengan nada bercanda.
"Hah, istri Si Won?" Bella pura-pura tidak faham maksud ucapan temannya itu.
"Ini woi...yang ini! perkenalkan ya. Mulai hari ini, gua istri Mas Si Won yang sah," seru Sella sembari menunjuk pada dirinya sendiri dan membusungkan dadanya.
__ADS_1
"Waduh, belum juga sejam jadi anak SMA unggulan udah edan aja nih anak. Apa salah minum obat lu?" Ujar Verra melihat kekonyolan Sella.
Mendengar ucapan Verra ketiganya tertawa seketika itu juga.
"Kidding, mana mungkin doi mau sama gembel macam aku. Orang kaya mah cari pacar yang sekelas," kini suara Sella berubah menjadi lirih.
"Emang kamu pernah di tolak dia?" tanya Bella penasaran.
"Enggak," sahutnya begitu bersemangat sembari geleng- geleng kepala.
"Wah makin kacau nih, anak. Bener-bener mabok. Ngomongnya udah ngaco aja," ceplos Verra lagi.
"Braga itu anak wali kota, sedang aku hanya anak pedagang kali lima. Mana mungkin cinta kami bersatu? Pasti bapak ibunya tidak restu," kicau Sella lagi dengan nada bicara bak alunan syair tembang tempo dulu.
"Ha...ha...ha..... Kacau lu, Sel," seru Bella makin geli dengan tingkah temannya yang begitu konyol.
Bella, Salsa, dan Verra baru kenal beberapa saat yang lalu. Mereka bertiga menempati kamar yang sama, yaitu kamar dengan nomer pintu 301a.
Meski baru kenal beberapa saat, ketiganya terlihat sudah begitu akrab. Mungkin karena sifat Sella yang ambyar dan tidak terkontrol itu menyebabkan suasana menjadi senang dan asik Belum lagi bawaan yang suka lata, kerap mengulang kata-kata yang sudah diucapkan. Tawa Bella dan Verra sering pecah karena ulah Sella.
Happy reading all 😍
Jangan lupa sematkan
✓ Bintang 5
✓ Favoritkan
✓ Vote
✓ Komentar & Likenya ya🙏🙏🙏
Vote, like, & komentar yang kalian berikan membuat saya makin semangat untuk update 😊
__ADS_1
**Terimakasih** 🙏🙏🙏