
Lapangan parkir yang seyogyanya dapat menampung 40 kendaraan roda empat itu sudah full, padahal jumlah mobil yang ada belum mencapai segitu. Beberapa kendaraan yang masuk lebih dulu tidak memarkirkan kendaraan dengan benar, akibatnya ke kendaraan lainnya terpaksa harus mengalah. Parkir di pinggir jalan, satu jalur di sisi kiri jalan.
Fortuner putih yang dikendarai oleh pria keturunan Arab itu terpaksa harus memindahkan kendaraannya karena CRV merah yang baru saja datang tidak mau mengalah
"Maaf, Bu. Terlalu mepet ke sini. Saya tidak bisa membuka pintu," ujar pria yang mengemudikan Fortuner putih itu
"Saya juga ga bisa geser lagi. Ini sudah mepet pembatas. Kalau dipaksain justru mobil yang lain ga bisa keluar masuk," ibu muda yang masih di belakang kemudi CRV merah itu memberikan alasan.
"Bapak dong yang geser ke sana lagi. Tuh mobil yang disampingnya terlalu makan tempat," ujar wanita itu menambahkan.
"Percuma Bu. Pengemudi sudah tidak ada," pria itu menjawab dengan nada yang mulai kesal. Bagaimana ia mau menggeser mobilnya ke kiri jika mobil yang sudah terparkir lebih dulu sudah ditinggal pemiliknya.
"Ya sudah, ibu saja yang di sini. Saya mau keluar. Tolong di geser dulu mobilnya," ujar pria itu segera mengambil jalan tengah. Ia merasa malu jika harus berdebat dengan ibu-ibu.
"Ga akan ada bebernya," keluh pria itu dalam hati.
"Udah si, kita aja yang parkir di luar. Mobil itu kan sudah parkir duluan. Kita saja yang terlalu maksain hingga mereka tidak bisa keluar," ujar Braga pada Mamanya. Ia cukup gerah melihat mamanya yang lebih rela bersih tegang dengan pengguna parkir lainnya dari pada memilih tempat parkir yang lain.
"Emang mau parkir dimana? Kalo di luar bisa lecet-lecet mobil kita," sahut mama tak kalah sewot.
Setelah berbelok sedikit dan menggeser mobilnya ke kanan, akhirnya mobil Fortuner itu bisa mundur dengan pelan dan keluar dari lapangan parkir. Kini ia mencari lokasi di pinggiran jalan yang masih bisa untuk memarkirkan mobilnya.
"Kita di sini saja. Tak apa jalan lebih jauh daripada harus ribut sama orang," ujar Abi begitu ia bisa memarkirkan kendaraannya.
"Iya, Bi. Ga apa kok. Barang yang dibawa juga ga begitu berat," sahut Bella.
"Kamu turun aja dulu. Segera kumpul di lapangan, sepertinya akan ada pengarahan lebih dulu. Biar Abi yang bawa kopernya,"
Bella segera turun dari mobilnya, berlari kecil menuju lapangan dimana sumber suara terdengar. Ia meninggalkan Abi yang tengah merapatkan kembali mobilnya agar tidak menggangu mobil yang ingin melintas atau parkir di dekatnya. Abi memang orang yang teliti dan penuh kehati-hatian sebelum melakukan sesuatu.
Begitu sampai di lapangan yang ada di tengah-tengah bangunan itu, Bella segera berkumpul dengan teman yang lainnya. Ia bergabung di barisan IPA 1 sesuai dengan pembagian kelas yang telah ditentukan sebelumnya.
Bella berdiri di barisan yang paling belakang, ia tidak melihat kanan kirinya lagi. Langsung saja ia menyimak intruksi dari ketua barisan untuk segera merapikan barisannya karena upacara penyambutan akan segera di mulai.
"Mundur lagi dong, tutup barisan," terdengar suara dari belakangnya disertai colekan di bahu kanan Bella.
Bella menoleh ke belakang, ternyata ada dua orang yang sudah berbaris rapi di samping kanan dan kirinya. Pantas saja dia diminta untuk mundur. Tanpa bersuara, Bella mundur dua langkah dan posisinya kini sudah sejajar dengan samping kanan dan kirinya.
Matahari masih begitu terik meskipun hari sudah menunjukkan pukul 14.00 wib. Mengingat mereka berbaris menghadap matahari terbenam, jadi sinarnya begitu membakar wajah-wajah baru yang penuh semangat untuk memulai studinya di SMA Tunas Negara.
__ADS_1
Beberapa kali Bella mengeryitkan keningnya karena menahan sinar matahari yang begitu tumpah di mukanya.
"Lupa bawa topi, kenapa ga kepikiran, ya?" keluhnya dalam hati.
Ia mengedarkan pandangan ke depan, beberapa murid yang berbaris mengenakan topi sekolah asal mereka. Melihat hal itu, Bella semakin menyesali diri.
"Nih, pake aja," pria yang ada di sisi kanannya, mengulurkan topi yang tadi dikenakannya. Cowok yang bertubuh sedikit berisi itu dengan senyum yang datar mengulurkan topinya pada Bella.
"Terimakasih," dengan sedikit menundukkan kepalanya, Bella mengucapkan terimakasih kepada teman yang sudah berbaik hati padanya. Mengiklaskan topi yang ia kenakan untuk Bella.
Tak lama kemudian upacara penyambutan siswa baru di mulai. Setelah beberapa sambutan dari pihak sekolah selesai di sampaikan, kini tiba pada acara puncaknya.
Pengarahan sekaligus penjelasan tata tertib penghuni asrama.
Ibu Linda selaku ibu asrama membacakan tata tertib tersebut dengan suara yang tegas dan lantang.
"Waduh, dari nada suaranya ini orang pasti cerewet luar biasa," gumam pria yang berdiri di sisi kiri Bella.
Meski suaranya begitu pelan, namun Bella bisa menangkap suara itu dengan jelas. Bella melirik ke arah pria itu. Dari sudut matanya, ia bisa menangkap sesosok tubuh yang tinggi tegap, berkulit putih bersih, dan dilihat dari stylenya anak orang berada.
Menyadari dirinya sedang diperhatikan, pria itu memalingkan wajahnya ke arah Bella, ia sempat tersenyum dan mengedipkan matanya sebelum kembali memandang ke arah ibu asrama yang masih memberikan penjelasan.
"Ih ...," Seru Bella dalam hati.
Namun ia cukup penasaran, kali ini ia lirik lagi pria itu. Ingin memastikan penilaiannya terhadap teman sekelasnya yang ia anggap cukup aneh. Namun sial bagi Bella, pria itu mengedipkan matanya kembali. Kali ini posisinya sedikit menunduk dan berpaling ke arah Bella.
Melihat tingkah Bella yang malu-malu, Braga tersenyum geli.
"Lucu juga orang ini. Pura-pura polos tapi curi-curi pandang terus," bisiknya sambil tersenyum
Bella tidak berani mengulangi perbuatannya lagi. Ia kembali fokus mendengarkan arahan hingga acara selesai. Sementara Braga masih terlihat cengar-cengir sendiri sejak tadi. Entah apa yang dipikirkannya?
Setelah seremonial yang berlangsung sekitar setengah jam itu selesai, para peserta didik baru membubarkan diri secara tertib. Kini mereka menghampiri orang tuanya yang masih menunggu untuk mengambil barang-barang mereka dan segera menuju ke asrama.
Bella melihat Abinya berdiri di dekat koridor pintu masuk. Ia menghampiri pria yang sejak tadi sudah menyambut kedatangan dengan senyum.
"Kita langsung ke kamarmu. Di sebelah sini, kan?" kata pria itu pada putrinya sembari menunjuk ke arah kanan.
"Iya, kelas 10 kamarnya dilantai 3," sahut Bella
__ADS_1
Bella berjalan mengiringi langkah Abi yang sudah menarik koper bajunya itu.
Selang beberapa langkah, Bella melintasi pria yang tadi baris di sisinya. Pria itu masih tertegun memperhatikan wanita yang ada di depannya, yang tengah berbincang-bincang dengan ibu-ibu yang ada di samping kanan kirinya.
Pandangan mereka bertemu sesaat sebelum akhirnya Bella mengalah dan beralih ke tumpukan tas yang ada di depan pria itu. Kini Bella yang tersenyum geli, ia melihat satu koper dengan ukuran yang lebih besar dari kopernya, satu tas besar yang sesak hampir tidak bisa di letsleting, belum lagi tas ransel, godybag, dan satu tas besar dan berukuran panjang.
"Mau pindah rumah, nih orang," gumam Bella setengah berbisik persis saat ia melintas di depan pria itu.
Bella tidak peduli dengan ekpresi orang yang dimaksud, namun Abinya sempat menyapa salah satu diantara mereka.
"Abi kenal dengan mereka?" tanya Bella
"Tidak, tadi cuma basa-basi aja. Melewati orang dalam lingkungan yang sama kita harus membiasakan bertegur sapa, paling tidak permisi,"
Bella hanya menanggapi ucapan Abinya dengan tersenyum dan mengangguk pelan. Mereka berdua segera meneruskan langkah menuju kamar yang sudah di bagi oleh ibu pimpinan.
Β
**Ilustrasi SMA Tunas Negara**
Β
Happy reading allπ
Jangan lupa sematkan
β Bintang 5
β Favoritkan
β Vote
β Komentar & Likenya yaπππ
Vote, like, & komentar yang kalian berikan membuat saya makin semangat untuk update π
Terimakasih!
__ADS_1